Pair : NaruSasu

Declaimer © Masashi Kishimoto

Warning : Shounen-Ai, Typo, OOC, Alur cepat etc


Blonde Allergic


.

Naruto memperhatikan sekeliling ruangan tamu serta perabotan yang ada di rumah Sasuke. Sebenarnya itu ia lakukan untuk mengurangi kekahawatirannya pada pemuda raven yang kini sedang diperiksa oleh dokter di kamarnya.

"Terima kasih sudah menolong adikku."

Naruto membalikan tubuhnya saat mendengar sebuah suara dari arah tangga. Kakak Sasuke rupanya sedang menuruni tangga bersama seorang dokter yang sejak tadi memeriksa Sasuke, ia tersenyum sekilas begitu dokter tersebut menundukan kepalanya guna meminta izin untuk pergi.

"Ti-tidak perlu berterima kasih, lagi pula aku sering membuat kesal Sasuke selama ini."

Naruto mengalihkan pandangannya, seakan tak ingin kakak Sasuke menyadari raut penyesalan yang ia coba sembunyikan.

Sebenarnya Itachi cukup terkejut saat mendengar Sasuke dihukum di lapangan dan pingsan. Beruntung saat itu Itachi memang berada di sekolah Sasuke untuk membawakan buku yang tertinggal milik adiknya. Namun yang membuat Itachi sedikit tak bisa mempercayai apa yang dilihatnya tadi yaitu ketika pemuda blonde yang mengaku bernama Uzumaki Naruto tersebut menunggui adiknya yang pingsan dengan tangan yang menggenggam erat tangan adiknya. Sejenak Itachi sempat berpikir mungkin dia adalah teman dekat Sasuke, namun mengingat penyakit adiknya yang benci dengan segala sesuatu berbau(?) kuning, mana mungkin Sasuke bisa akrab dengannya.

"Oh ya, kau mau minum teh atau kopi, Naruto?"

Naruto tampak berpikir sebentar, seharusnya ia sudah pulang dan kembali ke sekolah sejak tadi, tapi entah kenapa dia merasa enggan untuk beranjak dari sana. Naruto tidak akan tenang sebelum mengetahui apa yang terjadi pada Sasuke. Apalagi Itachi sampai memanggil dokter untuk memeriksanya, bukankah itu berarti Sasuke tidak mengalami pingsan yang biasa?

"Aku rasa teh lebih baik."

Itachi tersenyum mendengar jawaban Naruto, iapun segera beranjak dari ruang tamu menuju ke dapur untuk membuat minuman yang dipesan teman adiknya tersebut.

Kini dua pemuda yang berbeda usia tersebut termenung dengan pikirannya masing-masing. Naruto yang bingung ingin memulai percakapan dari mana, dan Itachi yang masih heran adiknya bisa mempunyai teman blonde seperti pemuda di depannya.

"Emm, Itachi-nii, bolehkah aku tahu ada apa dengan Sasuke?"

Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibirnya. Naruto tak peduli jika Itachi menganggapnya kurang sopan karena bertanya tentang sesuatu yang mungkin tak seharusnya diberitahukan pada orang asing sepertinya, namun apa boleh buat? Rasa khawatir benar-benar menyelimuti perasaan serta pikirannya.

"Apa kau menyadari hal yang aneh dari Sasuke?" tanya Itachi tanpa ada niatan menjawab pertanyaan Naruto tadi. Itachi ingin memastikan sejauh mana pemuda blonde tersebut mengenal adiknya.

"Entah ini disebut aneh atau tidak. Tapi Sasuke selalu memakai kaca mata hitam saat ada di dekatku, dia bahkan pernah memuntahi bajuku saat kaca matanya terjatuh di depanku."

Naruto sedikit berbohong diakhir ucapannya. Lagi pula ia tak mau dilumat Itachi hidup-hidup saat ia mengatakan jika dirinya pernah menjahili Sasuke dan mencoba menciumnya dua kali.

Itachi menautkan alisnya saat menyadari ternyata pemuda dihadapannya belum tahu kondisi Sasuke yang sebenarnya.

"Sasuke mempunyai alergi terhadap hal-hal berwarna kuning."

Naruto seketika tersenyum lebar, ia hampir saja tertawa terbahak-bahak jika saja ia tak segera menutup mulutnya karena lelucon Itachi yang terdengar konyol itu.

"Itachi-nii jangan bercanda, mana ada penyakit seperti itu." Ucapnya begitu berhasil menahan tawanya. Naruto sedikit sangsi saat melihat tatapan Itachi yang siap menelanjanginya kapan saja.

"Aku juga sebenarnya tak percaya. Bahkan dokter yang merawatnya sejak kecil baru mengetahui ada penyakit seperti itu."

Wajah Naruto mengeras begitu melihat raut keseriusan dari wajah yang mirip Sasuke tersebut. Jangan bilang ucapan Kiba waktu itu berhubungan dengannya. Bukankah ia pernah bilang Sasuke mulai memakai kaca mata hitamnya di dalam kelas sejak hari pertama dia bersekolah disana?

"Mungkin ini semua salahku karena tak bisa menolong Oka-san waktu itu!" lirihnya. Naruto menautkan kedua alisnya tak mengerti.

"Bisa dibilang penyakit Sasuke merupakan bawaan sejak dia masih dalam kandungan." Lanjutnya yang masih dijawab dengan raut ketidak mengertian dari pemuda blonde tersebut.

.


.

Enam belas tahun yang lalu mungkin merupakan sebuah tahun dimana terjadi sebuah tragedy yang tak pernah bisa Itachi lupakan. Saat itu dirinya masih berumur delapan tahun. Ia masih tak mengerti dengan apa yang dialami ibunya yang tiba-tiba mengurung diri di dalam kamar.

"Oka-chan buka pintunya! Oka-chan belum makan sejak pagi."

"Pergi Itachi! Pergi dari sana!" teriak Mikoto.

Hampir seminggu Itachi berusaha membujuk ibunya yang saat itu mengurung diri tanpa alasan yang jelas. Itachi khawatir terjadi sesuatu pada ibunya, karena calon adik kecilnya akan segera lahir.

Mikoto seakan tak peduli dengan teriakan anak sulungnya, ia bahkan tak mempedulikan kondisi bayi dalam kandungannya. Dirinya cukup terpuruk dengan informasi yang didapatnya minggu lalu. Bahkan ia mencoba tak mempercayainya, namun setelah melihat dengan matanya sendiri, saat itulah raga Mikoto seakan pergi.

Mikoto kecewa pada suaminya, Fugaku. Bagaimana bisa ia berselingkuh disaat dirinya sedang mengandung anak keduanya? Bahkan hanya menunggu dua bulan lagi ia akan melahirkan calon adiknya Itachi. Namun yang semakin membuat hati Mikoto hancur ialah saat ia tahu betul siapa selingkuhan suaminya.

Namikaze Minato, sahabat baiknya sejak SMA sekaligus teman kuliah Fugaku saat kuliah. Mikoto tak menyangka setelah sekian lama, bahkan disaat mereka berdua telah sama-sama berkeluarga mereka tega berselingkuh dibelakangnya.

Sejak saat itu Mikoto berubah. Ia lebih suka mengurung diri di kamar, mengabaikan makanan yang diberikan untuknya, serta meringkuk di sudut kamar dalam keadaan gelap. Mikoto selalu memarahi siapapun yang berani menyalakan lampu kamarnya. Bahkan ia menutup jendela kamarnya dengan papan kayu agar tidak bisa dibuka sama sekali.

Fugaku sudah berusaha membujuk Mikoto waktu itu, namun Mikoto yang sudah terlanjur terluka tak mau menerima penjelasannya sama sekali. Hingga suatu malam ia mendapat kabar jika Fugaku kecelakaan dan meninggal di lokasi kejadian. Mikoto benar-benar seperti mayat hidup setelahnya. Ia tak mau bicara dan suka menangis dan berteriak-teriak sendiri. Hingga Itachi menemukan kondisi ibunya yang dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Mikoto mencoba bunuh diri. Beruntung waktu itu Sasuke bisa dilahirkan dengan selamat meski lahir secara prematur, meski kehadirannya haruslah dibalas dengan kematian sang bunda.

Itachi yang masih kecil begitu terpuruk dengan kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu yang begitu singkat disaat yang bersamaan. Namun begitu melihat wajah adiknya yang ia beri nama Uchiha Sasuke, barulah ia tersadar jika ia harus bertahan hidup untuk membahagiakan adik satu-satunya yang akan tumbuh tanpa kehadiran orang tua.

Saat Itachi beranjak remaja, secara tak sengaja ia menemukan sebuah kotak yang tersimpan dikamar ibunya. Ia hendak membuang kotak kayu tersebut tapi ia urungkan. Dan saat itulah Itachi mengetahui semuanya. Dalam kotak tersebut ibunya menuliskan betapa terpuruknya dia saat mengetahui ayahnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Apalagi ayahnya telah berbohong jika selama ini dia ternyata 'menyimpang'. Itachi juga menemukan beberapa foto pemuda pirang yang dicoret-coret pada bagian wajahnya serta pisau lipat disana.

Dan sejak itulah Itachi paham tentang keanehan yang dialami adiknya.

.


.

"Ja-jadi penyakit aneh yang diderita Sasuke berasal dari ibunya?"

Naruto begitu terkejut mendengar sejarah kelam keluarga Uchiha. Ia paham sekarang kenapa Sasuke tak bisa melihat sinar matahari ataupun benda-benda berwarna kuning lainnya. Rasa kebencian yang ditanam oleh Ibu Sasuke saat Sasuke masih dalam kandunganlah penyebabnya. Belum lagi perasaan terkhianati, dibohongi, serta tersakiti begitu dalam membuat ibu Sasuke depresi hingga ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Sasuke yang masih dalam kandungan mungkin sedikit bisa merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya saat itu.

Itachi mengangguk menanggapi ucapan Naruto."Dan mungkin gen dari Kaa-san terlalu kuat hingga mewariskan ketidak normalannya padaku."

Naruto menatap Itachi seolah bertanya 'Maksudmu?'

"Aku sama seperti Tou-san. Aku menyimpang, dan kebetulan kekasihku mempunyai rambut pirang sepertimu. Terakhir kali dia kuajak kemari ketika Sasuke memuntahi pakaiannya, sejak saat itu dia selalu kularang bermain kesini jika ada Sasuke di rumah."

Naruto mengangguk mengerti. Jadi kakak Sasuke juga menyukai pemuda blonde sepertinya. Bolehkah Naruto berharap jika mendiang kepala keluarga Uchiha tesebut juga menurunkan ketidak normalannya pada Sasuke? Siapa tahu dengan begitu Sasuke berbalik menyukainya dan penyakit anehnya itu sembuh dengan kehadirannya. Setidaknya Naruto masih percaya kekuatan cinta bisa menyembuhkan sebuah penyakit aneh yang bahkan tak ada obatnya di dunia. So cheesy? Itulah sebenarnya sifat Naruto.

.


Blonde Allergic


.

Absennya Sasuke selama dua hari di sekolah sama sekali tak merubah apapun. Semua masih sama. Ia harus tetap memakai kaca mata hitam dikelasnya namun ada hal yang terlihat sungguh tak biasa terjadi. Naruto kini tak sebangku lagi dengannya. Ia bertukar bangku dengan Hinata, sehingga kini Hinata menjadi teman sebangku barunya.

"Se-selamat pa-pagi Sa-Sasuke-san." Sapa gadis berponi tersebut hingga membuat Sasuke tersadar dari lamunannya. Sasuke tak menjawab sapaan Hinata, ia hanya melangkah melewatinya dan duduk di kursi miliknya.

Selama seharian ini Sasuke semakin dibuat bingung oleh perubahan drastis Naruto. Terakhir kali ia bertatap muka dengannya, dia baik-baik saja. Sasuke merasa ada yang kurang saat ini, karena dirinya sudah terbiasa diganggu oleh pemuda blonde itu. Tunggu, jangan bilang Sasuke merindukan kejahilan Naruto padanya?

"Kau baik-baik saja Sasuke?" tanya Neji saat melihat temannya menggelengkan kepalanya tanpa sebab yang jelas. Ia jadi khawatir jika Sasuke masih belum sembuh dengan benar.

"Aku tak apa." Jawabnya seraya menyeruput ramen yang ada dihadapannya.

Kini mereka berdua sedang beristirahat di kantin. Itachi tak sempat memasak tadi pagi, sehingga Sasuke terpaksa membeli makan siangnya di kantin sekolah. Berbicara tentang makanan, ia tak sadar kenapa tiba-tiba memesan ramen, seharusnya ia tak memesan makanan tak sehat tersebut, terlebih lagi ramen adalah makanan kesukaan pemuda blonde idiot mantan teman sebangkunya.

Sasuke mengangkat kepalanya begitu pemuda dengan rambut noraknya memasuki kantin. Tak lupa juga kaca mata sakral yang harus dipakainya jika dia tak ingin memuntahi makanannya saat ini. Sasuke buru-buru mengalihkan pandangannya saat matanya bertatapan dengan mata sewarna langit tersebut. Ah, sepertinya dia tertular si dobe itu. Dia memakai kaca mata hitam saat ini, jadi untuk apa takut Naruto menyadari jika kini dia sedang memperhatikannya. Tapi tetap saja Sasuke salah tingkah, karena kini pemuda tersebut berdiri mematung di ujung sana dengan pandangan yang terpusat ke arahnya. Atau bolehkah ia berpikir seperti itu?

Sasuke semakin tak nyaman dalam duduknya saat melirik sekilas jika kini pemuda itu berjalan mendekatinya. Tenang saja, dia mungkin saja menghampiri Kiba yang duduk di belakangnya. Lagi pula sejak kapan kau menjadi salah tingkah begini saat Naruto mendekatimu, Sasuke? Batinnya sendiri.

Sebenarnya Sasuke juga tidak tahu dengan apa yang terjadi pada dirinya. Sejak Itachi menceritakan jika Narutolah yang menolongnya bahkan sangat mengkhawatirkannya waktu itu, tiba-tiba saja Sasuke terserang perasaan asing yang tiba-tiba menyapa hatinya.

"Sasuke!"

DEG

Benar apa dugaannya. Kini Naruto berdiri disampingnya. Neji yang melihat tamu yang tak diundang itu hanya bisa menatap tajam seolah mengatakan 'Mau apa kau?'

"Aku ingin meminjam Sasuke sebentar." Ucap Naruto tanpa melihat ke arah Neji sama sekali. Matanya masih fokus menatap pemuda raven dihadapannya.

"Apa kau tak melihat dia sedang makan siang?" sahut Neji dengan nada 'selembut' mungkin.

Naruto tak peduli dengan ucapan Neji. Ia mencekal tangan Sasuke yang akan menyumpit ramennya. Menariknya hingga membuat Sasuke berdiri dan menyeretnya keluar dari sana. Neji yang sejak tadi hanya menjadi penonton tidak bisa berbuat apapun karena Sasuke sendiri diam saja saat diperlakukan seperti itu oleh Naruto.

"Kau membawa aku kemana brengsek?" maki Sasuke dengan menghentakan tangannya saat berada di koridor sekolah yang tak begitu ramai.

"Jangan dekati dia." Sasuke menautkan kedua alisnya tak mengerti. Si dobe itu mengucapkannya terlalu lirih, sehingga ia tak bisa dengan jelas mendengarnya.

"Jauhi Hyuuga Neji." Dan Sasuke semakin dibuat kesal dengan ucapan tak jelas pemuda blonde di hadapannya.

"Kau tak berhak melarangku!" ucapnya sedikit keras. Sasuke memalingkan wajahnya karena suaranya berhasil menarik perhatian beberapa siswa yang melewati mereka berdua. Sasuke merasa percuma meladeni(?) orang seperti Naruto, ia membalik tubuhnya berniat untuk kembali ke kantin.

Grab

Sasuke terkejut begitu tangannya ditarik secara kuat hingga membuat tubuhnya berbalik, tak sampai disitu saja. Sasuke dipaksa sport jantung begitu bibirnya dilecehkan oleh pemuda kuning menyebalkan itu. Naruto mencuri ciuman pertamanya? Sasuke tak bisa menyangka jika ciuman pertamanya akan dilakukan dengan seorang laki-laki setelah dua kali percobaan namun berakhir gagal.

Naruto sendiri tak mau melepaskan ciumannya saat ini. Ia ingin memberitahu pemuda raven tersebut tentang perasaannya, jika ia tak main-main dengan ucapannya.

"Aku menyukaimu, Sasuke." Ucapnya lirih setelah melepas ciumannya. Naruto tak berani melumat bibir tipis pemuda raven tersebut, meskipun ia sangat ingin sekali. Namun ia ingat tujuannya, ia tak mau Sasuke menganggap jika dirinya hanya bernafsu saja.

Sasuke terhenyak mendengarnya. Si sialan kuning itu bilang menyukainya? Pasti kepalanya telah terbentur sesuatu hingga membuat otaknya tak bisa lagi bekerja secara normal. Tapi melihat mata biru itu, mata sewarna langit yang tak mampu ia pandangi itu menunjukan keseriusan. Bahkan Sasuke bisa merasakan melalu cengkeraman kedua tangan sewarna tan dipundaknya yang begitu kuat seolah memberi tahu jika dirinya sama sekali tak bercanda sedikitpun.

"Lepaskan aku!" Sasuke sekali lagi menyentak kedua tangan Naruto. Jantungnya berkali-kali lipat berdetak lebih cepat saat onyx nya bertatapan secara langsung dalam jarak sedekat ini. "Jangan ganggu hidupku lagi." Lanjutnya seraya membenarkan letak kaca mata yang sedikit turun dari hidung mancungnya akibat tarikan kasar Naruto. Iapun segera beranjak dari sana sebelum Naruto menyadari semburat kemerahan yang tiba-tiba muncul di kedua pipinya.

"AKU SERIUS SASUKE! AKU TAK AKAN BERHENTI MENGGANGGUMU SEBELUM KAU MAU MENERIMAKU" teriak Naruto berharap Sasuke bisa mendengarnya.

.


Blonde Allergic


.

Hari-hari Sasuke selanjutnya di sekolah harus dijalaninya lebih berat dari pada sebelumnya. Naruto selalu gencar menyatakan cintanya hampir setiap hari, mengandalkan segala cara untuk menjauhkannya dari Neji, serta menyebarkan gossip tentang dirinya yang pernah berciuman dengannya. Well—itu tidak sepenuhnya gossip, itu memang fakta. Tapi hei, Sasuke tak pernah bilang jika dia menyetujuinya. Itu bukanlah sebuah ciuman karena Naruto telah mengambil ciumannya dengan paksa, itu lebih tepatnya sebuah pencurian.

Sasuke merutuki kesialannya hari ini. Memikirkan tentang perbuatan Naruto kepadanya membuatnya lupa dimana menaruh buku tugas yang harus dikumpulkannya hari ini. Padahal ia ingat betul jika tadi pagi ia sudah memasukannya ke dalam tas sekolahnya.

"Sial! Dimana buku itu?" ucapnya gelisah. Itu adalah buku tugas yang diberikan Ibiki sensei untuk mengisi nilainya yang kosong karena ketidakhadirannya minggu lalu. Jika sampai Sasuke meninggalkan buku tugasnya saat ini, bisa dipastikan bukan hanya hukuman yang didapatnya, tapi juga nilainya yang terancam merah untuk mata pelajaran Fisika.

"Kau kenapa?" tanya Naruto. Kini dirinya kembali duduk sebangku dengan Sasuke setelah kemarin Neji meminta Hinata untuk bertukar tempat duduk dengannya. Ia tak mau Sasuke menjadi dekat dengan Neji, sehingga ia meminta kembali Hinata untuk bertukar tempat duduk. Hinata yang memang menjadi salah satu fans Narutopun menurutinya dengan senang hati.

Sasuke tak menjawab. Lagi pula pertanyaan Naruto sama sekali tak penting baginya, karena yang terpenting saat ini adalah menemukan buku sialan itu yang tiba-tiba saja menghilang.

"Uchiha-san dan Uzumaki-san, silahkan kumpulkan tugas kalian!" perintah Ibiki. Selain terkenal dengan guru paling tegas, dia juga memiliki daya ingat yang begitu kuat. Jadi tak heran jika ia bisa mengingat setiap tugas yang diberikan olehnya meski itu sudah seminggu lalu lamanya.

"Ini—" Sasuke menautkan alisnya tak mengerti saat melihat Naruto menyodorkan buku miliknya."—Kau tak membawa buku tugasmu 'kan? Ambillah buku tugasku biar kau tak dihukum olehnya. Kau tenang saja, aku sudah mengerjakannya meski aku tak yakin dengan jawabanku sendiri. Setidaknya itu lebih baik daripada tidak mengerjakan sama sekali." Lanjutnya seraya menggaruk tengkuknya sendiri.

Senyuman dibibir Naruto pudar saat melihat Sasuke justru memalingkan wajahnya hingga menghadap ke depan kembali. Sepertinya pemuda raven itu tak mau menerima bantuan darinya.

"Maaf sensei ak—"

"Ini sensei buku tugas Sasuke!" ucapan Sasuke terpotong begitu saja oleh suara Naruto yang entah bagaimana bisa sudah berada di depan menyerahkan buku tugasnya pada Ibiki sensei.

"Sasuke malas berjalan, jadi aku yang menyerahkannya." Naruto segera bersuara kembali saat mengetahui Sasuke hendak menyelanya.

"Lalu mana buku tugasmu Uzumaki?" Naruto menggaruk tengkuknya diiringi senyuman lebar sebelum menjawab pertanyaan dari gurunya. "Maaf, aku lupa mengerjakannya." Cengirnya tanpa dosa.

Sasuke hanya bisa diam di tempat saat melihat Naruto kini dihukum berdiri di depan kelas setelah disuruh push up 100 kali, ditambah lagi besok Naruto harus menyuruh orang tuanya ke sekolah untuk menghadap gurunya karena berani membolos dan mengabaikan tugas dari Ibiki sensei.

Sasuke sebenarnya tak tega melihat Naruto yang menjalani hukuman yang harusnya diterima olehnya. Sasuke tahu betul jika minggu lalu naruto tak berniat untuk membolos, karena memang si dobe itu menolong dirinya dan ikut ke rumahnya tanpa mau kembali ke sekolah. Sehingga ketidak hadirannya dianggap membolos meski sebenarnya ia tengah menemani dirinya yang sakit karena alergi sialannya waktu itu. Sementara Sasuke tentunya sudah tercatat jika ketidakhadirannya disebabkannya karena sakit, karena besoknya Itachi langsung mengirimkan surat dokter ke sekolah. Itachi tak mau penyakit Sasuke menghalangi adiknya untuk berprestasi di sekolah.

Teett—

"Ingat! Jangan berani menurunkan kakimu serta kembali duduk sebelum aku memperbolehkan." Ucap Ibiki sebelum keluar kelas. Mata pelajarannya harus dihentikan karena sudah waktunya bel istirahat, namun ia masih mempunyai jam pelajaran sesudah bel istirahat nanti. Sehingga bisa dipastikan hukuman Naruto menjadi semakin lama, apalagi ia tak bisa beristirahat bersama teman-temannya kini.

"Semangat bro~" ucap Kiba menepuk pundak Naruto sebelum pergi menuju kantin.

"Mendokusai!" lirih Shikamaru saat melewatinya. Naruto hanya tersenyum menanggapi gerutuannya.

"Apa kau ingin aku membelikanmu makanan?" kini Chouji menawarkan. Naruto menggeleng, ia sudah tahu sikap Chouji yang hilang akal saat melihat makanan, jadi bisa dipastikan jam istirahat sepenuhnya adalah milik dirinya. Mungkin Chouji akan membawakan makanan untuknya begitu bel masuk tiba.

"Tidak perlu! Do'akan saja cintaku diterima Sasuke." Kerlingnya nakal kepada ketiga sahabatnya. Kiba dan Shikamaru memutar bola matanya malas. Sepertinya cinta benar-benar membuat pemuda blasteran Amerika itu benar-benar gila.

"Tentu saja, bahkan aku akan mendo'akanmu supaya bisa menikahi Sasuke. Karena dengan begitu, aku bisa makan sepuasnya dipesta pernikahanmu nanti." Naruto tersenyum mendengarnya. Dalam hati dia mengamini do'a Chouji.

"Hentikan ucapan bodohmu itu, lebih baik kita ke kantin sebelum jam istirahat habis." Ucap Kiba seraya menarik Chouji keluar dari kelas. Shikamaru bahkan sudah menghilang dari sana.

Kelas nampak sepi, kini tinggal Naruto dan Sasuke yang hanya berada disana. Sasuke beranjak dari kursinya. Kepalanya tertunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah mendengar percakapan Chouji dan Naruto. Saat melewati Naruto yang masih berdiri dengan satu kaki di depan papan tulis kelas, Sasuke menghentikan langkahnya.

"Kau tak istirahat Sasuke?" tanya Naruto tersenyum lebar melihat pemuda raven itu mendekatinya.

Sasuke sedikit merasa bersalah, bagaimana bisa dia istirahat sementara Naruto menjalani hukumannya? Bahkan ia menolak ajakan Neji untuk makan bersama di kantin tadi.

"Terima kasih." Ucapnya hampir tak terdengar jika saja kelas tidak sesepi ini.

"Haha, tak perlu berterima kasih. Lagi pula aku senang jika aku berguna untukmu. Aku tahu kau kesal karena tingkah lakuku yang selalu mengganggumu." Naruto tertawa hambar. Ia menjadi salah tingkah jika dihadapkan dengan Sasuke yang seperti sekarang.

Sasuke sudah memikirkan. Sebenarnya ia tak membenci pemuda blonde itu, hanya saja ia tak suka dengan tingkah konyol dan bodohnya saat berusaha mendekatinya. Dan melihat pengorbanan Naruto hari ini membuatnya sedikit menyadari jika Naruto tidak seburuk yang dipikirkannya selama ini.

"Naruto—" panggilnya pelan.

"Ya?" jawab Naruto bersemangat. Baru kali ini namanya dilafalkan oleh pemuda yang disukainya tanpa embel-embel idiot maupun bodoh.

"—Aku mempertimbangkan pernyataanmu waktu itu."

"APA? JADI KAU MENERIMAKU SASUKE? BENARKAH? AKU SENANG SEKALI!" teriaknya seperti memenangkan sebuah lotre. Bahkan pemuda raven dihadapannya memalingkan muka melihat tingkah bodoh Naruto. Apa keputusannya ini benar?

"Asal kau bisa membuatku tak alergi saat di dekatmu." Seketika Naruto menghentikan aksi loncat-loncat bodohnya di dalam kelas.

"Ap-apa?" Naruto cukup terkejut dengan syarat yang diberikan Sasuke. Tapi ia kembali tersenyum seolah itu hal yang mudah baginya. "KAU TENANG SAJA, SERAHKAN ITU PADAKU! AKU JANJI AKU BISA MENCIUMMU TANPA MEMAKAI KACA MATAMU ITU." Ucapnya dengan suara yang begitu lantang seolah kini dirinya telah mengucapkan sebuah janji suci pada calon kekasihnya nanti.

Sasuke tak terlalu menghiraukan pemuda blonde tersebut. Ia meninggalkan kelas setelah berkata. "Baiklah, aku pergi dulu."

"Sasuke!" baru sampai di depan pintu, Naruto kembali memanggil namanya kembali. Sasuke berhenti, tapi ia tak berniat membalik tubuhnya sama sekali. "Kau sangat cantik dengan kaca mata itu. Terima kasih karena kau tak membuangnya."

Sasuke tak mengerti dengan kalimat terakhir Naruto. Namun mendengar kata cantik membuatnya sedikit kesal dan segera melanjutkan langkahnya pergi dari sana. Sementara Naruto hanya bisa tersenyum semakin lebar memandangi punggung Sasuke sampai menghilang dari balik koridor sekolah.

Saat tak ada siapapun di kelas. Naruto menyingkap bajunya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah buku bersampul biru tanpa nama diciumnya seperti orang gila. "Yes! Aku berhasil!"

.


Blonde Allergic


.

Keesokan harinya Sasuke tak melihat kehadiran Naruto di kelas. Mungkin ia tidak masuk hari ini karena sampai jam istirahat ia tak melihat batang hidungnya. Namun saat membawa buku Kakashi sensei yang tertinggal di kelas, ia melihat guru Ibiki sensei tengah berbicara dengan dua orang dewasa. Wanita berambut merah dan lelaki bermata biru berambut kuning mirip seperti Naruto. Sepertinya ia kedua orang tua Naruto.

"Sasuke!"

Sasuke menoleh saat namanya dipanggil oleh sebuah suara asing, ia menautkan alisnya saat menyadari si pemanggil namanya yang tak ia kenal. "Aku Uzumaki Khusina dan dia suamiku Minato, aku tadi bertanya namamu pada Ibiki-san saat melihatmu masuk ke ruang guru."

Sasuke merubah wajahnya menjadi datar seperti biasanya saat mendengar penjelasan dari wanita yang ia yakini ibu dari Naruto.

"Ternyata kau sangat manis sekali seperti yang diceritakan Naruto."

Belum sempat Sasuke mengucapkan salamnya, ia dikejutkan oleh tingkah tak terduga wanita bernama Kushina tersebut. "Aku jadi tak tahan melihatmu datang ke rumah kami. Semoga Naruto berhasil mendapatkanmu karena sudah lama aku menginginkan menantu sepertimu." Ucap Kushina tanpa melepas tarikannya pada kedua pipi Sasuke.

Sasuke bernafas lega saat ayah Naruto menghentikan tingkah konyol istrinya. "Maafkan istriku. Kami harus pergi dulu." Ucapnya seraya menarik wanita berambut merah yang kini mencoba menarik pipinya kembali. Beruntung pria duplikat Naruto itu segera menarik tangan istrinya dan menariknya pergi dari sana. Sedangkan Sasuke sendiri kini berusaha tak memandang warna rambut suami wanita berambut merah tersebut saat perutnya mulai bereaksi kembali.

"Kau harus berjanji menerima Naruto ne, Sasu-chan!" Teriaknya dari balik pundak suaminya. Sasuke hanya bisa mematung di posisinya kini. Sekarang ia tahu darimana sifat konyol si dobe itu diturunkan. Berbicara tentang Naruto, ia lupa bertanya kenapa si blonde itu tak masuk hari ini pada orang tuanya.

Setelah mengembalikan buku Kakashi, Sasuke tak berselera untuk beristirahat di kantin. Ia memutuskan untuk kembali ke kelas dan membaca buku dibangkunya. Tapi begitu melihat sebuah kertas yang berada di mejanya, Sasuke tertarik untuk membaca isi kertas tersebut.

—Aku tunggu di atap sekolah jam istirahat ini—

—Calon Kekasihmu, Uzumaki Naruto—

Bodoh! Bahkan jam istirahat kurang lima menit lagi habis. Dengan cepat Sasuke mengambil kaca matanya dan bergegas menuju atap sekolah. Ia bersumpah akan menghajar wajah yang ditumbuhi tanda lahir seperti kumis kucing di wajahnya karena berani membuatnya tak fokus dalam pelajaran hanya karena memikirkan si idiot seperti dirinya.

Brakk

Sasuke membuka pintu atap sekolah kasar, ia menumpuhkan sebagian berat tubuhnya di dinding seraya menetralkan nafasnya yang memburu karena berlarian seperti tadi. Ia saja tak pernah mengikuti pelajaran olahraga, tapi demi si dobe itu dirinya rela berlarian seperti ini.

"Wo-wow tak perlu terburu-buru seperti itu Sasuke!"

Sasuke segera mengangkat wajahnya—tak lupa memakai kaca mata hitamnya—yang sejak tadi menunduk begitu mendengar suara cempreng yang sedikit tak disukainya. Sasuke berniat membentak si pemilik suara yang berani membuatnya berkeringat seperti ini, sebelum—

"Hai Sasuke?" Sapa Naruto mendekati Sasuke.

Sasuke mengernyitkan dahinya saat menyadari ada yang salah dengan matanya kali ini, ataukah kaca mata hitamnyalah yang bermasalah? Sasuke tak tahu pasti karena ia juga tak bisa memastikan sendiri.

"Aku menyanggupi syaratmu, sehingga kau tak perlu memakai kaca mata ini." Naruto menarik Sasuke untuk mendekat ke tubuhnya, mau tak mau membuat tubuh Sasuke berdiri sempurna dengan kedua tangan yang menahan dada Naruto agar tak terlalu menempel dengan tubuhnya sendiri.

Sasuke hendak menahan tangan Naruto yang akan melepas kaca matanya sebelum sebuah bisikan lirih terdengar tepat ditelinganya. "Percayalah.."

Tubuh Sasuke menegang merasakan deru nafas Naruto di lehernya. Apalagi kini salah satu tangan Naruto menarik pinggangnya untuk semakin mendekat pada tubuh tegap dihadapannya. Sasuke memejamkan matanya begitu kaca mata yang membingkai paras tampannya terlepas. Sasuke bisa merasakan jika kini Naruto seperti mengendus bau lehernya. "Buka matamu Sasu-chan." Bisiknya seduktif.

Sasuke yang memang penasaran dengan penampilan Naruto yang sekarang, akhirnya memilih untuk membuka matanya. Dan saat matanya terbuka sempurna, ia sukses mendorong tubuh Naruto hingga tangan Naruto yang ada di pinggangnya terlepas.

"Ka-kau mewarnai rambutmu?" ucap Sasuke tak percaya.

"Apa boleh buat? Bahkan kau suruh aku mengoperasi wajahkupun aku rela asal aku bisa mendapatkanmu." Naruto menarik tubuh Sasuke kembali. Kini tubuh mereka berhasil menempel sempurna dan dengan tenaga yang jauh lebih kuat dari sebelumnya, sehingga Sasuke kesulitan untuk melepas pelukan Naruto saat ini.

"Sekarang penuhi janjimu Sasu-chan." Jantung Sasuke terpompa lebih cepat melihat wajah Naruto sedekat ini tanpa kaca mata hitamnya, apalagi ia kini bisa dengan muda memandang warna mata Naruto yang begitu indah baginya. Seolah Tuhan juga merestui hubungan mereka, kini bahkan sebuah awan menutupi sinar matahari hingga ia bisa melihat warna langit siang selain warna hitam yang selalu ia nikmati dikala malam.

"Bolehkah?" taya Naruto lirih. Sasuke mengangguk mengiyakan. Kali ini ia rela memberikan ciumannya, serta dengan senang hati memberikan seluruh hatinya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi Sasuke meraup bibir tipis kekasih barunya. Tangan kanannya menekan tengkuk Sasuke dengan tangan kiri yang sudah bertengger di pinggangnya. Sasuke juga mengalungkan kedua tangannya di leher Naruto. Merekapun berciuman, saling melumat bibir masing-masing. Sasuke sadar jantungnya berdetak tak normal setiap berada di dekat Naruto karena ia juga menyukai pemuda blonde ini—opps, sepertinya salah karena kini Naruto mewarnai rambutnya hitam sama sepertinya.

Mereka terus berciuman seolah tak mendengar jika bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit lalu. Naruto yang seakan dibutakan kabut nafsu tak ingin melepas ciuman panas mereka. Dengan pelan ia mendorong tubuh Sasuke hingga bersandar pada dinding di belakangnya, ia semakin menghimpit tubuh si raven sampai tak menyadari jika kini awan yang menghalangi sinar kuning yang dibenci kekasihnya tengah menyinari tubuh mereka berdua.

Sasuke yang sejak tadi terpejam kini membuka matanya, seketika itu pula ia merasa perutnya seperti diaduk saat matanya menyapa langsung sinar kuning yang belum pernah sekalipun ia rasakan kehangatannya.

"Narumpptt—" Naruto seolah tuli dengan panggilnya. Dia tetap melumat bibir Sasuke serta bermain lidah di mulut kekasihnya tanpa tahu sesuatu akan keluar dari sana.

"Hoekk—"

Dan berakhirlah ciuman panas tersebut dengan aksi muntahan si raven yang kini mengotori wajah serta baju Naruto.

The End


Selalu saja chapter terakhir kepanjangan -_-

Sampai jumpa mina-san ^_^