Love is Silent.
Chapter 3
By: AkinaYuki Nyo
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance/General
Warning AU,OOC dan OC.
"Itadakimasu!"
Pagi ini ruang makan di rumah Sasuke terlihat lebih 'hidup' dengan kehadiran seorang gadis berambut pink akibat ulah seorang Uchiha yang ingin membantu adiknya untuk menyatakan cinta. Namun kini, seorang Uchiha itu justru di serang dengan glare death adiknya secara bertubi-tubi sejak dia pulang dari acara kencannya seharian penuh.
Yah.. seorang Uchiha itu adalah Itachi, seorang kakak yang mengunci adiknya dengan seorang gadis di rumah yang sudah penuh perangkapnya. Dan kini, dia harus rela dimarahi oleh adiknya yang sangat sinis.
"Ano.. maaf Itachi-san, hari ini aku masuk sekolah dan.." belum selesai Sakura menyelesaikan kalimatnya, Itachi mengambil sesuatu dari bungkusan yang terlihat berada di sampingnya.
"Tenang saja, aku sudah menyiapkannya kok!" kata Itachi tersenyum sambil menunjukkan seragam sekolah cewek di depan Sakura dan Sasuke.
"Tapi.. bagaimana bisa Itachi-san memiliki seragam siswi seperti itu? Apa jangan-jangan.." Sakura menatap Itachi dengan tatapan terkejut dan pikirannya sudah terbang kemana-mana.
"Eh.. aku bukan seorang maniak seperti bayanganmu Sakura! Aku hanya berjaga-jaga saja, mengingat akan terjadi hujan badai waktu itu jadi aku pikir mungkin kau akan bermalam di tempat kami. Itu saja!" kata Itachi menjelaskan sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.
"Dia memang sengaja menyiapkannya" sahut Sasuke sinis sambil meminum tehnya, namun ekor matanya yang setajam pisau itu tetap tertancap di sosok sang kakak.
"Oh… lalu bagaimana dengan kencanmu Itachi-san? Apa menyenangkan?" tanya Sakura tersenyum sedikit canggung akibat aura kelam Sasuke yang duduk di sebelahnya.
"Yah.. sangat menyenangkan!" jawab Itachi tersenyum senang. Bahkan Sakura dan Sasuke dapat melihat gigi Itachi berjejer rapi di mulutnya itu.
"Cih.. benarkah?" tanya Sasuke melirik kakaknya tajam.
"Tentu saja Sasuke" Itachi hanya tersenyum tanpa dosa meski dia mengetahui maksud dari pertanyaan Sasuke. "Dan bagaimana dengan kalian? Apa melakukan hal yang menyenangkan bersama?" Itachi balik bertanya.
"Ten.."
"Sangat menyenangkan!" tiba-tiba Sasuke menyela Sakura dengan penekanan yang sangat kuat pada kata 'menyenangkan'. "Kau tahu kak? Kami seperti semut buta yang kelaparan."
"Wah.. apa itu permainan yang sedang ngetren saat ini?" balas Itachi yang masih dalam akting-nya, Sakura hanya mengangkat satu alisnya menandakan dia tidak mengerti dengan perkataan dari kakak beradik itu. Sepertinya ada yang tidak beres.
"Itu adalah permainan yang dilakukan oleh seorang kakak yang tidak tahu diri" kata Sasuke dengan death glare-nya.
"Oh.. benarkah? Sepertinya itu permainan yang sangat menarik.." Itachi semakin tersenyum mendengar perkataan adiknya. Namun yang didapatkannya hanya death glare mematikan secara terus menerus.
Menyadari bahwa situasi saat itu sedang bergemuruh bagai hujan badai yang terjadi kemarin. Sakura dengan cepat menyela percakapan yang dapat menurunkan mental seseorang bila melihatnya secara langsung. Untung saja mental Sakura seperti baja, bahkan dia pernah dijuluki muka badak akibat keberaniannya yang tidak takut akan malu.
"Gochizosama deshita! Hum.. Sebaiknya aku bergegas memakai seragam, bisa-bisa kita akan terlambat Sasuke-kun" kata Sakura berdiri dari tempat duduknya kemudian mengambil seragam-nya dan dengan cepat pergi ke kamar di lantai atas.
"Jadi.. Apa maksudmu dengan mengunciku dengan Sakura seharian di rumah!" kata Sasuke terus terang setelah sosok Sakura telah menghilang dari pandangannya.
"Tidak ada, hanya ingin membuatmu lebih dekat dengannya saja" jawab Itachi sambil meminum kopinya.
"Lalu kenapa kau tidak membayar tagihan telepon rumah?" tanya Sasuke lagi.
"Ops.. aku lupa" kata Itachi menepuk jidatnya sendiri.
"Sejak kapan kau menjadi pelupa seperti itu?" tanya Sasuke sinis, dia sangat mengetahui bahwa kakaknya sedang bersandiwara dengan semua aktingnya itu.
"Namanya juga sudah tua.. mohon dimaklumi" Itachi tersenyum lagi.
"Lalu kenapa kau menyembunyikan handphoneku dan lilin?"
"Aku tidak menyembunyikannya kok, mungkin kau lupa tempatnya saja" jawab Itachi mengibas-ngibaskan tangannya.
"Tidak mungkin! Aku sangat ingat kalau aku menaruh Handphone di atas meja ruang tamu dan kebiasaanmu menyimpan lilin di rak dapur paling atas nomor dua dari kiri itu!" bantah Sasuke tidak mau kalah. Dia yakin bahwa kakaknya adalah biang keladi dari semua peristiwa ganjil yang menimpanya kemarin.
"Benarkah? Berarti aku lupa membeli persediaan lilin dan.. " Itachi merogoh sesuatu di dalam tas kerjanya. "Handphonemu tidak sengaja terselip di dalam buku-ku, maaf" kata Itachi memberikan sebuah Handphone berwarna hitam ke Sasuke.
" … " Sasuke hanya mendengus kesal sambil memberikan tatapan mematikan kearah kakaknya.
"Hei, jangan memandangku seperti itu terus menerus. Apa matamu tidak capek melotot dari tadi? Hahahaha."
"Bukan urusanmu!" jawab Sasuke dengan sinis.
"Oh iya.. lalu apa kau berhasil mengatakannya Sasuke?" tanya Itachi memajukan wajahnya sambil memasang ekspresi penasaran.
"Sudah kuduga itu tujuanmu!" Sasuke menyandarkan badannya di kursi makan sambil menghela nafas panjang.
"Hehehehe.. lalu bagaimana??" tanya Itachi lagi semakin tidak sabar menunggu jawaban dari adiknya tercinta. Namun Sasuke hanya menaikan bahunya sambil menggeleng pelan.
"Belum."
"Ahhh.. sayang sekali!!" kata Itachi dengan nada kecewa sambil menjauhkan wajahnya dari Sasuke. Ternyata rencananya berakhir sia-sia tanpa membuahkan hasil yang dapat membahagiakan siapapun. Meskipun sebenarnya dia masih senang karena dapat bermesraan berdua dengan Hana-chan tersayangnya seharian penuh, namun karena dia kakak yang sangat perhatian terhadap adiknya atau bilang saja Itachi adalah penderita 'Brother complex akut' diapun ikut merasakan kesedihan dari adiknya yang tidak berhasil menyatakan cintanya.
Sebenarnya Itachi sangat yakin bahwa cinta Sasuke tidak bertepuk sebelah tangan. Hey.. siapa yang tidak terpikat dengan adiknya tersayang itu? Tampan, kaya, cool, jenius, dan sebenarnya lebih baik dari dirinya. Well, anggap saja Itachi tidak pernah mengakui bahwa Sasuke lebih baik dari dirinya tapi meski begitu adiknya itu sangat dan sangat termasuk dalam kategori pria idaman para wanita yang sangat tidak mungkin menyandang status jomblo, kecuali dia adalah seorang gay.
"Kenapa memandangku dengan tatapan seperti itu?" tanya Sasuke menyadari Itachi sedang melihatnya dengan tatapan mesum. "Aku tidak bernafsu dengan mu!" kata Sasuke lagi sambil menjitak jidat kakaknya.
"Aw~ iya aku tahu itu" kata Itachi sambil mengelus-ngelus jidatnya yang telah berwarna kemerahan itu.
Jadi.. sebenarnya apa yang ditakutkan oleh adiknya itu hingga tidak dapat menyatakan cinta? Apa ada alasan bagi Sakura untuk menolak adiknya itu? Oke.. Sakura memang cantik dan manis, berbakat, pintar, dan bisa masuk dalam tipe cewek idaman meski dia tidak kaya. Mungkin banyak pria yang mengejarnya, tapi apa pria-pria yang mengejarnya itu sekatagori dengan Sasuke? Selama ini Itachi hanya melihat Sakura sering bersama Naruto dan Sai, dan menurutnya adiknya masih 'lebih' dibanding mereka berdua.
Atau jangan-jangan Sakura itu seorang lesbi?
"Sekarang kenapa menatapku seperti itu!?" tanya Sasuke melirik tajam kearah Itachi yang saat itu memasang wajah 'turut berduka' ke Sasuke.
"Sasuke kakak turut perihatin, kakak tidak pernah menyangka kalau Sakura itu.." Itachi memegang kedua tangan Sasuke dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ter-ternyata apa?"
"Menyukai sesama jenis~" kata Itachi dengan suara pelan, dan beberapa detik kemudian dia kembali duduk dengan tenang tanpa berpikiran yang aneh-aneh karena mendapatkan benjolan 3 tingkat akibat tabokan dari adiknya.
"Singkirkan pikiran kotormu itu jauh-jauh!!" kata Sasuke kembali meminum tehnya. Beberapa saat kemudian Sakura datang dengan penampilan yang jauh lebih rapi dan tentunya memakai seragam kewajiban sekolahnya.
"Maaf lama menunggu" kata Sakura tersenyum kearah Sasuke dan Itachi.
"Hn.. ayo berangkat" Sasuke berdiri dari tempat duduknya dan membersihkan jas sekolahnya, siapa tahu ada kotoran yang melekat dan membuat penampilannya tidak sempurna.
"Baik, Itachi-san kami.. eh? Itachi-san.. kenapa kepalamu benjol seperti itu?" tanya Sakura yang heran melihat gundukan triple yang bertengger di kepala Itachi.
"Oh.. tadi terbentur meja, hahahaha."
"Hah? Kok bisa??"
"Karma" jawab Sasuke singkat kemudian berjalan keluar rumah tanpa menunggu Sakura.
"Heh? Apa maksudnya dengan 'karma' yang diucapkan Sasuke-kun?"
"Sudahlah Sakura, Sasuke sedang Sensitif hari ini. Berhati-hatilah! Hahahaha" kata Itachi sambil mengedipkan sebelah matanya kemudian tertawa tidak jelas.
"Oh.. kalau begitu kami berangkat dulu Itachi-san!" kata Sakura sambil membungkukkan sedikit badannya di depan Itachi.
"Tidak usah sungkan-sungkan seperti itu, hati-hati di jalan ya!" kata Itachi tersenyum.
"Iya, kami pergi!" kata Sakura kemudian berlari mengejar Sasuke yang sudah menghidupkan mobilnya di garasi.
"Dasar.. anak muda memang selalu bersemangat" guma Itachi kemudian membereskan meja makan.
***
"Terima kasih ya Sasuke-kun!" kata Sakura tersenyum manis sambil berjalan memasuki koridor sekolah bersama Sasuke.
"Hn?" Sasuke menaikkan satu alisnya karena tidak mengerti kenapa Sakura mengucapkan terima kasih kepadanya.
"Membolehkanku numpang di mobilmu sampai sekolah!" jawab Sakura melemparkan senyumannya lagi.
"Tidak masalah" balas Sasuke dengan sikap coolnya namun terlihat rona merah di pipinya akibat menerima serangan senyuman manis dari pujaan hatinya.
"KYAAA~ Sasuke-kun. Prince ice kami!!!" teriak para fans-fans Sasuke yang sudah siap sedia berbaris rapi di pinggir koridor ketika melihat idola mereka datang.
"Mereka lagi" kata Sasuke dengan nada dingin melihat kearah mahkluk-mahkluk yang sangat berisik dan mengganggu baginya. Apa mereka tidak punya kegiatan lain?
"Wah.. sepertinya fansmu bertambah banyak Sasuke-kun! Pasti kau bahagia sekali! Ckckckck" Sakura hanya tersenyum geli melihat ekspresi muka Sasuke yang mengatakan 'apa kau gila?' kearah Sakura.
"Sudahlah.. sekali-kali ladeni saja mereka, sebentar lagi kau lulus kan? Hitung-hitung buat amal dengan memberikan kenangan indah kepada mereka!" kata Sakura sambil mendorong Sasuke ke dalam gerombolan para fans-fans maniaknya. Kalau di ibaratkan, Sakura sedang memberikan sepotong daging segar kepada gerombolan anjing-anjing liar yang kelaparan dan terkena rabies, sungguh.. perumpamaan yang mengerikan ups.. maksudnya sungguh kondisi yang mengerikan.
Lebih baik tidak usah membayangkan apa yang terjadi oleh Sasuke, dan apa yang diperbuat oleh para fans-fans maniaknya karena itu hanya menambah pemandangan mengerikan dalam hidup setiap insan manusia.
"Ohayo Sakura-chan!" sapa Naruto menepuk punggung Sakura dari belakang.
"Ohayo Naruto-kun!" balas Sakura berbalik melihat Naruto yang berdiri di belakangnya.
"Pagi ini ramai sekali ya?" tanya Naruto melirik kearah Sasuke yang sedang dikerumuni oleh para fans-fansnya.
"Iya, gara-gara tuan pelit kata tuh!" jawab Sakura menunjuk Sasuke.
"Memang si teme itu selalu mengundang perhatian!" Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hahaha, kau juga Naruto-kun! Fansmu juga tidak sedikit bukan? Termasuk anak perempuan dari keluarga Hyuuga yang terhormat itu!" kata Sakura sambil menyenggol-nyenggol pundak Naruto.
"Hehehe.. Sakura-chan bisa saja!" Naruto hanya menunjukkan cengiran khasnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sementara itu Sasuke sudah sangat menahan emosinya meladeni para fans-fansnya yang tidak berhenti berteriak atau berceloteh ria seperti ibu-ibu tukang gosip. Dan kini emosinya sudah mencapai taraf maksimal saat dia melihat Sakura sedang tertawa dengan Naruto.
Selain dia kesal karena mereka berdua sedang tertawa di atas penderitaannya, dia juga kesal melihat Naruto yang berduaan dengan Sakura-nya.
Hn? Sejak kapan Sakura menjadi miliknya? Ralat, maksudnya dengan Sakura Haruno gadis idamannya.
Dengan langkah yang berat akibat ulah para fans-fansnya yang lengket dengan dirinya bagai perangko yang di lem permanen, Sasuke mendekat ke Sakura dan Naruto.
"Ehem.. ehem.."
"Oi Teme! Ohayou!" sapa Naruto ketika menyadari kehadiran Sasuke lewat suara 'ehem-ehem' itu.
"Hn.. Ohayou" balas Sasuke dengan sinisnya.
"Sepertinya fansmu tambah banyak ya teme? Tak kusangka hahahaha" kata Naruto tertawa senang melihat penderitaan Sasuke semakin bertambah.
"Bukan urusanmu" kata Sasuke sinis.
"Kyaaaa!! Sasuke-kun memang keren!!" teriak para fans Sasuke yang berbaris rapi di belakangnya.
"Diam" perintah Sasuke sambil melirik tajam kearah para fansnya, tapi dasarnya fans Sasuke itu rata-rata manusia muka tembok semua. Bukannya diam mereka malah tambah berisik dengan teriakan-teriakan tak bernada itu.
"Berisik" perintah Sasuke lagi, namun hal yang sama tetap terjadi.
"Sudah, sudah! Lebih baik kita pergi saja dari sini!" kata Sakura sambil menarik Naruto dan Sasuke pergi dari tempat itu, tentu saja meninggalkan fans-fans Sasuke yang langsung menangis dan kecewa.
"Hei teme! Ternyata kau kalah telak dengan para fansmu itu! Hahahaha" ejek Naruto berjalan memasuki kelasnya.
"Diam kau dobe" balas Sasuke menyusul Naruto masuk ke dalam kelas, kemudian dia menaruh tasnya di bangkunya dan duduk dengan tenang sambil melihat keadaan sekitarnya. Semuanya nampak normal, Shikamaru sedang tidur dengan pulas di atas bangkunya, Chouji yang sibuk mengunyah kripik kentang favoritnya, Sai yang berkutat dengan buku sketsa dan pensil 'ajaib'nya, dan Kakashi sensei yang selalu terpaku membaca buku pornonya.
Hn? Sejak kapan Kakashi sensei ada di depan kelas? Dan semuanya seperti tidak menghiraukannya. Well, tentu saja tidak akan ada yang memperhatikan guru yang selalu datang terlambat dan akhirnya hanya memberikan tugas untuk mengulur waktu sampai dia puas membaca novel yang berjudul Icha-icha Paradise hasil karya dari bos mesum kakaknya, Jiraiya.
Oke, sepertinya tidak penting menjelaskan mengenai orang-orang yang hanya menjadi pemeran figuran di cerita ini. Dari tadi Sasuke mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas namun dimana Sakura?
"Hei Teme, kau lihat Sakura?" tanya Naruto yang menyadari hal yang sama dengan Sasuke.
"Tidak" jawab Sasuke dengan ekspresi biasanya, padahal tanda tanya besar muncul di kepalanya.
"Kemana dia? Aku kira dia mengikuti kita dari belakang setelah menarik kita dari gerombolan fansmu itu!" kata Naruto menggaruk-garuk rambut kuningnya itu.
"Hn.." Sasuke juga berpikiran hal yang sama dengan Naruto, tapi kenapa Sakura belum berada di kelas juga?
"Ehm.. akhirnya selesai juga~" kata Kakashi tiba-tiba hingga membuat semua murid memusatkan perhatian mereka kearah guru sosiologi mereka yang satu itu. "Yosh, ayo kita mulai bersenang-senang" Kakashi menaruh novel kesayangannya di atas meja dengan hati-hati kemudian menulis sesuatu di papan.
'Pesan terakhir'
"Apa maksudnya Kakashi sensei?" tanya Ten-ten tidak mengerti dengan maksud tulisan dari guru-nya.
"Hum, aku tahu kalian sudah di sekolah ini selama 6 tahun dan pasti mempunyai banyak kenangan bersama dengan semua orang yang ada di lingkungan sekolah ini" jawab Kakashi tersenyum ke arah murid-muridnya yang masih memandangnya dengan tatapan bingung.
"Kenangan itu membuat kita akan mengenang orang tersebut dalam waktu yang lama. Tugas kalian adalah menuliskan sebuah surat yang berisikan pesan terakhir mengingat kelulusan kalian 5 hari lagi."
"Pesan terakhir? Seperti mau mati saja!" teriak Naruto mencibir.
"Hahaha.. kau akan tahu maksud dari tugas ini Naruto, dan ingat! Pesan terakhir ini harus ditujukan kepada orang yang menurut kalian akan kalian ingat dalam waktu yang lama, mengerti?" tanya Kakashi duduk kembali di bangkunya.
"Mengerti!!" jawab murid-murid dengan sangat kompak. Mereka langsung sibuk mengeluarkan buku dan alat tulis masing-masing dan mulai menuliskan pesan-pesan mereka di atas kertas itu. Namun, di tengah kesibukan itu Sasuke justru terdiam dan tidak menuliskan apapun.
Dia hanya menatap kertas putih di hadapannya dengan tatapan kosong dan tampak tangan kanannya sedang memainkan pulpen, bahkan dia tidak menyadari kalau Kakashi telah berdiri di sampingnya dan melihat kearah kertasnya yang masih kosong itu.
"Sepertinya kau suka warna putih, tuan Uchiha Sasuke" canda Kakashi.
" … " Sasuke hanya diam tanpa melihat kearah gurunya, dia tetap melanjutkan kegiatannya yang sama sekali bukan disebut sebagai suatu kegiatan.
"Apa kau tahu maksud dari tugas ini?" tanya Kakashi.
"Tidak" jawab Sasuke singkat.
"Sebenarnya tugas ini sama sekali tidak ada maksudnya" Kakashi tersenyum melihat ekspresi heran Sasuke.
"Kau masih bingung? Sebaiknya kau tulis sesuatu di kertas itu, anggap saja kau tidak akan pernah bertemu dengan orang itu setelah lulus nanti, baru kau akan menemukan sesuatu dari tugas ini" kata Kakashi lagi kemudian berjalan melihat murid-muridnya yang lain.
Anggap tidak akan pernah bertemu dengan orang itu setelah lulus nanti…
Kreek~
"Permisi! Maaf saya terlambat Kakashi sensei!" kata Sakura dengan cepat menghampiri Kakashi sambil membungkukkan badannya.
"Tidak apa-apa, aku tahu kau ada urusan tadi" kata Kakashi mempersilahkan Sakura menuju tempat duduknya. "Dan.. jangan lupa mengerjakan tugas" Kakashi menunjuk kearah papan tulis yang berada di depan kelas.
"Arigatou gozaimasu!" balas Sakura kemudian berjalan menuju tempat duduknya. "Tadi aku ada urusan" kata Sakura menjelaskan saat Sasuke alias penunggu bangku dibelakangnya menatapnya penuh tanda tanya.
"Hn.."
Tanpa membayangkanpun, dia akan tetap pergi jauh..
"Sasuke-kun.." panggil Sakura sambil membalikkan badannya sebentar menghadap Sasuke.
"Hn?"
"Terima kasih banyak!"
"Untuk?"
"Semua hal yang telah kau berikan padaku!" kata Sakura tersenyum kemudian dia kembali ke posisi semula. Sasuke hanya memandang punggung Sakura selama beberapa menit, semakin lama dia melihat punggung itu semakin sakit yang dirasakannya dan semakin ingin dia melihat sosok itu lebih lama lagi meski itu tidak mungkin.
Sakura, apa kita akan bertemu kembali?
"Yosh~ Waktunya habis! Silahkan lipat dengan rapi kemudian masukkan surat kalian ke dalam amplop yang sudah aku sediakan di depan. Kemudian kumpulkan menjadi satu, aku akan membagikannya saat kelulusan kalian nanti" kata Kakashi menunjuk tumpukan amplop putih yang ada di atas mejanya. "Oh iya, jangan lupa untuk menuliskan nama orang yang akan diberikan surat itu di pojok kiri atas amplop!"
"Baik" sahut murid-murid kompak kemudian maju ke depan secara berurutan untuk membungkus surat mereka dengan amplop dari Kakashi dan mengumpulkannya dengan rapi.
"Sepertinya tugas ini membuat semua-nya memasang wajah sedih" kata Kakashi ketika melihat murid-muridnya terdiam memasang wajah sedih setelah mereka mengumpulkan tugas itu. "Apa kalian sedih karena akan meninggalkan teman-teman kalian?"
"Tentu saja! Tugas dari Kakashi sensei membuat kami berpikiran kalau kami tidak dapat bertemu dengan teman-teman setelah lulus nanti!" jawab Ten-ten disusul dengan anggukkan dari yang lain.
"Hahaha.. maaf, aku rasa meski kalian akan berpisah nanti itu tidak akan membuat kalian tidak dapat berkomukasi dengan teman-teman bukan?" Kakashi tersenyum, "Dengan menyimpan kenangan kalian bersama orang-orang yang berharga itu sudah cukup untuk terhubung dengan mereka!" tambah Kakashi lagi. Semua murid hanya diam mendengarkan perkataan Kakashi.
"Tapi kita tidak dapat melihat wajah mereka!" Sahut Naruto.
"Kita bisa melihat di foto" jawab Kakashi.
"Tidak bisa mendengar suara mereka!"
"Kan ada telepon" jawab Kakashi lagi.
"Tapi…"
"Sudahlah, pasti akan bertemu! Dunia ini begitu kecil anak-anak, kemanapun kalian pergi dan melangkah pasti akan kembali ke tempat awal. Tempat untuk pulang dimana ada orang-orang yang menyayangimu" Kakashi berdiri dari tempat duduknya dan mengambil surat-surat karya murid-muridnya, "Yosh, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa" kata Kakashi melambaikan tangannya pelan kemudian berjalan pergi meninggalkan kelas itu.
"Sasuke-kun!" panggil Sakura setelah Kakashi menghilang dari kelas.
"Hn?"
"Kau tulis surat untuk siapa?" tanya Sakura penasaran.
"Bukan urusanmu" jawab Sasuke singkat.
"Dia tidak menulis apapun Sakura-chan!" sahut Naruto tiba-tiba. Dia menarik bangkunya mendekati bangku Sakura dan Sasuke.
"Hah? Masa?" tanya Sakura lagi menatap heran kepada Sasuke. Sasuke hanya membalasnya dengan tatapan 'Memangnya kenapa?' kearah Sakura kemudian dia mengeluarkan CD playernya untuk mendengarkan musik-musik kesukaannya.
"Kalau kau Naruto-kun?" Sakura berbalik menatap Naruto.
"Tentu saja untuk Sakura-chan, Teme dan semua orang yang ada di kelas ini! Hahahaha" kata Naruto sambil menunjukkan cengiran khasnya. Sakura tersenyum mendengar jawaban Naruto, ternyata Naruto memang menyayangi semua teman-temannya. Pasti sangat capek menulis surat untuk 40 orang apalagi mengingat Naruto itu sangat suka berbicara atau mengoceh sepanjang waktu.
"Pasti semua sindiran dipersembahkan untuk Sasuke-kun!" kata Sakura tersenyum jahil.
"Hahahaha, kau benar Sakura-chan. Hum? Aku lupa! Guy sensei menyuruhku menghadap setelah jam ke 1-2! Gomen Sakura-chan!" kata Naruto terkejut melihat jam dinding di kelasnya kemudian dia berlari keluar kelas meninggalkan Sasuke dan Sakura berdua.
"Sasuke-kun?" panggil Sakura melihat Sasuke sedang menutup matanya sambil mendengar CD playernya. Namun Sasuke tidak bereaksi apapun, sepertinya dia mendengarkan dengan volume penuh.
"Sasuke-kun… Tadi ibuku datang ke Sekolah makanya aku terlambat masuk kelas" kata Sakura lagi, namun Sasuke tetap tidak membuka matanya sesekali dia hanya menganggukkan kepalanya perlahan menandakan dia sedang menikmati muski yang didengarnya.
"Dia akan pergi terlebih dahulu ke Kumo city, lalu… aku akan menyusulnya sebelum pesta kelulusan" lanjut Sakura menundukkan kepalanya, "Aku.. benar-benar murid yang nakal bukan? Tidak mengikuti acara kelulusan sekolah! Hahahaha" tawa Sakura namun wajahnya menunjukkan kalau dia sedang bersedih.
"Bahkan disaat-saat kelulusan aku tidak bisa bersamamu, Sasuke-kun" kata Sakura pelan, matanya mulai berair dan nada bicara mulai bergetar menahan sedih yang luar biasa di hatinya.
"Selama ini kau telah menjadi orang yang sangat penting bagiku. Selalu membantuku di saat aku sedang kesusahan, benar-benar seperti pangeran berkuda putih. Meski aku terkadang sebal melihatmu membelaku di depan semua orang dan membuatku terlihat lemah… sungguh, aku sangat menyukai sosokmu yang berdiri di depanku. Aku benar-benar akan merindukan sosok itu, Arigatou Sasuke-kun" Sakura tersenyum, namun air matanya mengalir pelan dari kedua pelupuk matanya. Kemudian dengan cepat dia pergi dari kelas itu untuk menghapus air matanya atau mungkin untuk menangis lebih keras di suatu tempat.
Tanpa diketahui oleh Sakura, Sasuke membuka matanya setelah Sakura meninggalkan kelas itu. Dia hanya diam dan menatap tempat duduk Sakura, tempat dimana dia sering melihat sosok Sakura sedang belajar, membaca buku, memperhatikan guru dengan serius, tertawa dengan teman-temannya bahkan tempatnya tertidur disaat semuanya pulang. Dan kini tempat itu akan ditinggalkan sosok itu beberapa hari lagi. Pergi ke tempat yang jauh.
"Hoi, Teme! Mana Sakura-chan?" tanya Naruto yang telah berdiri di samping Sasuke.
" … " Sasuke hanya diam kemudian berdiri dari bangkunya.
"Eh mau kemana?"
"Bukan urusanmu" jawab Sasuke singkat, kemudian dia memberikan CD playernya ke Naruto dan pergi meninggalkan kelas.
"Dasar orang aneh! Tapi lumayan dapat pinjaman CD player!" cengir Naruto melihat CD player milik Sasuke berada di tangannya. "Eh? Kok tidak ada kasetnya?" kata Naruto menyadari bahwa CD player itu kosong. "Jadi dari tadi dia tidak mendengarkan apapun? Dasar kurang kerjaan!" Naruto mendengus kesal kemudian menaruh CD player Sasuke di dalam tasnya.
TBC
A/N: NyOooo!! Akhirnya update juga nih^^", tapi chap yang ini lebih pendek dari yang sebelumnya soalnya chap berikutnya adalah final chap! yeah!!_/
Oke.. mau bales review dulu nyOo!!^^
Arigatou Gozaimasu for:
Lawra-chan : Merinding berkali-kali? waduh.. padahal ini bukan fic Horror! hahahahaha~
Gina Sakamoto : Memang kurang jelas karna Itachi juga kurang jelas!-diamaterasu-
Lauselle 'Cake' E. Granzchesta : Waduh~ belum ada rencan buat yaoi nih -padahal udah mau buat nafsu-
Fatwan : Arigatou ne NyoO!^^
Rye Hikaru : Yo! Mari kita sama-sama mendukung Sasuke! Go!+bw pom-pom+
Hanaruppi : Sudah lewat puasanya, mari lemon beraksi Hyahahaha~ KakaSaku Angst? Waduh.. kayaknya Aki buat yang gak angst nih ^^"
Michishige Asuka : Yup! Yang baru kayaknya blum Aki review ya?
Sakura Haruno 1995 : Aki juga berterimakasih Haruno udah mau baca fic Aki! tapi maaf ya, kayaknya Sasuke ma Sakura blum bisa jadian di chapter ini.
Caca : Trus gimana dengan Itachimu hah? wkwkwk
AKira-chan : Walah.. Hue.. kenapa Michael Jakson harus mati sih! _ Eh.. justru menurut nee-san tuh yang mirip dia si Orochi ntuh! XDD
OKe!! Buat semua yang sudah membaca fic ini, arigatou ne!!
Jangan lupa buat review ya nYOo! w
