Tubuhnya gemetar dengan mata perak yang melebar, menatap ngeri pada sosok seorang gadis yang kini terbaring di lantai toilet. Rambut pirang pendek gadis yang terbaring itu telah terciprat darah merah yang mengalir membasahi lantai putih di toilet itu. Pemandangan yang membuatnya kembali teringat pada karpet putih kesukaannya yang menjadi merah karena darah Ayahnya sendiri saat dia masih kecil.

Tangannya terangkat, seolah ingin meraih tubuh itu dan mendekapnya dengan erat. Tiba-tiba saja sosok seorang gadis yang terbaring itu berubah menjadi bayangan Ayahnya yang masih jelas ia ingat dalam memory kepalanya.

Tap tap, "Hinata!" Naruto segera meraih tubuh gemetar gadis yang ada di hadapannya ketika dia sampai, membuat tangan Hinata yang terulur kembali turun ke sisi tubuhnya. "Kau baik-baik saja? Kau gemetar."

Hinata mendongakkan kepalanya dengan tatapan nanar penuh ketakutan. Mulutnya tak bergerak untuk mengeluarkan suara apapun, hanya tatapannya yang seolah menceritakan segala hal yang baru saja ia alami.

Sesuatu yang terjadi ketika dia ingin pergi ke toilet pagi itu dan melihat seorang pria yang memasuki toilet lebih dulu dengan sebuah pisau di tangan. Hinata terkaku di tempat dan segera bersembunyi di balik dinding. Samar dia mendengar jeritan tertahan seorang gadis sebelum suara sesuatu yang jatuh dengan keras menyusul, kemudian sang pria berkata 'Dasar gadis dungu. Kau pikir bisa membalaskan dendam Ayahmu? Sekarang lebih baik kau menyusul Hiashi dengan segala penyesalanmu.'

Ya, benar! Itulah yang pria itu katakan. Sesuatu yang membuat Hinata tersadar jika sebenarnya dialah yang menjadi target dari pembunuhan itu.

Saat pria itu pergi, dengan langkah gemetar dan berat, Hinata keluar dari persembunyiannya dan menatap sosok gadis yang ia kenali bernama Ryuzuka Meirin, gadis pemalu yang selalu di bully. Seorang gadis dengan rambut pirang pendeknya yang entah kenapa tiba-tiba saja mengingatkan dirinya jika sedang menyamar ketika dia membalaskan dendam Ayahnya.

Hinata menundukkan kepalanya saat tak kunjung ada suara yang keluar dari mulutnya, membuat Naruto mendekapnya erat, dan sedetik kemudian Hinata dapat merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya.

Saat dia kembali mendongakkan kepalanya, mereka berdua sudah berada di taman samping kantin sekolah mereka. Suasana yang sepi di taman itu dan juga udara pagi yang sejuk cukup membuat Hinata takjub, bagaimana bisa pria pirang itu membawanya pindah tempat hanya dalam sekejab.

"Dengar Hinata," suara itu mengalihkan perhatiannya, "Kau tidak melihat apa-apa dan tidak mendengar apa-apa. Kau mengerti? Jangan bertindak sembarangan dan tetap diam seolah tak tahu apa-apa."

Inginnya Hinata menuruti perkataan itu, tapi saat mata peraknya melihat sedikit bayangan mobil hitam yang melaju keluar dari area parkir, tangannya terkepal. Rasa amarah dan emosi tiba-tiba membuatnya ingin mengejar mobil itu dan membunuh pria yang ada di dalamnya, pria yang telah membunuh gadis di toilet tadi.

Tap.. langkahnya terhenti ketika tubuhnya di tahan oleh Naruto. "Lepaskan aku!" suaranya tertahan dan mengancam.

Naruto menarik nafasnya dan menghadapkan tubuh gadis itu padanya. "Aku yang akan membereskannya. Sekarang lebih baik kau pergi ke kantin dan minumlah sesuatu yang hangat. Jangan pergi kemanapun sampai ada orang yang menemukan mayat di toilet itu. Berpura-puralah tidak tahu dan jangan memperdulikan apapun."

"Tap –"

"Dengarkan aku!" suara Naruto menjadi lebih kuat. "Tak ada penolakan dan lakukan seperti apa yang ku perintahkan. Mengerti?"

Dan hanya anggukan yang bisa gadis itu berikan.

.

.

.

Pria itu menyetir mobil dengan pandangan datar, jemarinya mengetikkan pesan kepada sang atasan jika tugas yang diberikan padanya telah ia laksanakan dengan baik tanpa hambatan. Sesekali matanya melirik jalanan di depannya yang tampak lebih sepi dari jalan yang ia lewati sebelumnya. Jalan itu adalah jalan yang menuju kediamannya yang sedikit lebih jauh dari kota, mungkin karena dia lebih suka tempat yang sepi.

Setelah mengirimkan pesan tersebut, dia menaruh ponselnya di dashbor mobil lalu kembali focus pada jalan di depannya.

Semua akan tampak biasa saja jika ia tidak merasa merinding tiba-tiba. Entah kenapa dia merasa jika ada seseorang yang menatapnya tajam. Sesekali matanya melirik kaca spion di depannya untuk memastikan jika dia sendirian di dalam mobil itu. Sesekali pula matanya melirik ke spion samping untuk memastikan jika tidak ada yang mengikutinya.

Saat perasaannya semakin memburuk, kakinya menginjak gas lebih dalam dan membelokkan setir saat dilihatnya tikungan di depan jalan. Daerah yang sepi dan jalanan yang berada di atas jurang, jalanan yang biasa ia lalui untuk pulang ke rumahnya. Tapi kali itu, sesuatu yang benar-benar buruk dapat ia rasakan.

"Hai.."

Dan saat sebuah suara menyapa telinganya dari jarak dekat, nafasnya tercekat. Udara yang tiba-tiba terasa sangat dingin membuatnya gemetar, laju mobilnya mulai melambat dan tak lagi berjalan lurus.

"Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?"

Lagi suara itu terdengar, sesuatu yang seolah mencekik lehernya mulai pria itu rasakan. Seolah membuatnya akan tercekik tanpa bisa mengeluarkan suara sedikitpun.

"Aku tidak perduli apapun itu, tapi hal yang kau lakukan telah membuat seseorang yang penting bagiku gemetar ketakutan. Jadi…" suara itu terhenti ketika cekikan di leher sang pria semakin menguat. Tangan pria itu terlepas dari setir untuk menahan dan menarik tangan yang mencekiknya, walau sia-sia. "..kau harus merasakan ketakutan yang sama di detik terakhirmu hidup di dunia ini."

Ckiiittt…..

Suara mobil yang berputar tiba-tiba di jalan dan melaju menuju jurang menjadi sesuatu yang akan membuat seseorang kehilangannya nyawanya.

Tepat sebelum mobil itu jatuh ke jurang, sekilas bayangan orange melintas dengan cepat keluar dari mobil dan terbang melayang di udara.

Duuuaaarrr… meninggalkan mobil tadi yang terbakar di dasar jurang, menyimpan mayat seorang pria yang tak di kenal.

.

.

.

Tangan itu gemetar, tidak cukup kuat namun masih dapat menggoyangkan air di dalam gelas yang ia pegang. Sesekali ia meneguk minuman hangat itu hanya sekedar untuk mengalihkan rasa takutnya. Perasaan takut yang seharusnya tak lagi muncul padanya yang sudah membunuh beberapa orang tanpa belas kasihan. Tapi… hanya dengan melihat sesuatu yang mengingatkannya akan kematian sang Ayah, dia sudah gemetar ketakutan seperti itu.

Hah…

Dia menghembus nafas berkali-kali, mencoba menenangkan dirinya. Beberapa orang mulai terlihat di kantin sekolah pagi itu. Ingin membuatnya pergi ke tempat lain, tapi sampai sekarang, sepertinya belum ada yang melihat atau menemukan mayat di toilet, dan dia tidak boleh berangkat dari sana, sesuai yang dikatakan seseorang padanya.

"Aaaaaaaa…"

Amethyst itu terpejam saat teriakan seseorang terdengar begitu nyaring, dan selang beberapa detik para siswa yang mulai ramai sudah mulai berlari untuk melihat apa yang terjadi. Pegangannya pada gelas di depannya semakin menguat seiring dengan pejaman matanya yang semakin mengerat.

Set… hah?

Matanya terbuka, menatap bingung saat ada seseorang yang menarik gelasnya. Ketika kepalanya menoleh, dia mendapati seorang pemuda yang dengan santai meneguk minumannya. Entah kenapa, dia tenang dan gelisah secara bersamaan.

"Apa ada sesuatu di wajahku?" pemuda itu menoleh dan bertanya dengan santai setelah menaruh kembali gelasnya. Pemuda itu tersenyum, tapi sesuatu yang terpancar di mata sapphire pemuda itu membuat sesuatu terasa berbeda.

Hinata, gadis yang merasakan ketakutan dan kegelisahan itu tak mengerti kenapa dia seolah melihat sesuatu di pancaran mata sapphire itu, sesuatu yang membuatnya ketakutan. "Kau…" suaranya tercekat mengecil. "…membunuhnya?!"

Untuk dua detik, sapphire biru itu berubah menjadi merah dengan garis lurus di tengahnya, menampilkan senyum yang sangat sesuai dengan mata merah itu, akan cukup untuk membuat siapapun ketakutan.

Itulah yang dirasakan Hinata sekarang, dia pernah… ya pernah sekali melihat mata itu, tapi dia hanya menganggapnya angin lalu.. tapi sekarang itu terasa berbeda. Aura yang di keluarkan pemuda disampingnya, sangat berbeda dengan aura yang dia rasakan disaat dia ingin membunuh musuhnya. Pemuda di sampingnya mengeluarkan aura yang benar-benar mampu membuat siapapun merasa tertekan dan terpaku bersamaan.

"Jangan memandangku seperti itu, Hinata." Pemuda itu tersenyum miring sembari menggerakkan tangannya membelai helai indigo di balik telinga itu. Sapphire birunya yang telah kembali berkilat sejenak saat dia memperhatikan dengan seksama wajah cantik di sampingnya. Wajah yang mampu membuat hasratnya meningkat, sesuatu yang sungguh selalu berhasil menariknya untuk bisa melakukan apapun kepada wajah dan tubuh itu. Sesuatu yang akan terpuaskan hanya dengan menyentuh gadis itu.

Kepalanya mendekat, menempatkan bibirnya di depan telinga Hinata sebelum berbisik dengan suara yang menggoda namun menakutkan. "Aku hanya melakukan apa yang sering kau lakukan." Cuph… sebuah kecupan dia berikan di telinga mungil yang menarik perhatiannya. Hasratnya, sungguh sulit untuk dikendalikan.

Hinata yang membeku di tempat, sempat tersentak saat pemuda itu meraih tangannya dan berdiri. "Ayo! Kita harus mencaritahu kenapa suasana di sekolah ini sangat ribut sekarang." Lagi –pemuda itu melemparkan senyumnya yang penuh akan makna. Dan tanpa banyak protesan, Hinata mengikutinya.

.

"Yamada.."

Seorang pemuda bersurai hitam pendek menoleh ketika namanya di panggil. "Naruto." Sebutnya nama seseorang yang memanggilnya. Dia hanya melirik sekilas kehadiran Hinata yang berada di samping Naruto.

"Sepertinya ada rebut-ribut di arah toilet, apa ada sesuatu yang terjadi?"

Yamada menoleh singkat sebelum mendekat dan mengecilkan suaranya untuk berbicara. "Siswi kelas satu menemukan mayat di toilet."

"Oh astaga!" gumaman pelan Naruto terdengar meyakinkan. Tangannya segera merangkul Hinata yang tak mengalihkan amethyst-nya dari lantai.

Yamada yang melihat gerakan itu menghela nafas pelan lalu menatap Naruto penuh arti, "Sebaiknya kau bawa dia ke tempat lain." Sebuah nasehat yang dilontarkan sebagai wujud rasa perhatian dan kepedulian terhadap teman. Nasehat yang dijawab dengan anggukan dari Naruto. Tanpa Yamada sadari jika apa yang dia khawatirkan sama sekali tidak perlu.

.

.

.

Dalam suatu ruangan yang luas, seorang pria tampak tersenyum puas saat pesan elektronik dari bawahannya dia terima tadi pagi. Merasa puas dan lega dengan laporan itu. Dia meraih minumannya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, tersenyum menang karena merasa telah mengalahkan musuhnya tanpa perang.

"Kau tidak akan bisa membunuhku, Hiashi." Ucapnya penuh dengan rasa bangga. "Bahkan aku dengan baiknya mengirimkan anakmu yang tidak tahu diri itu. Heh, gadis kecil seperti itu tidak akan bisa membunuhku."

Suara tawa terdengar darinya yang meraih remot dan menyalakan televise ruangan. Terserah dengan pekerjaan kantor, sekarang saatnya untuk bersantai.

'Seorang gadis ditemukan tewas di sebuah toilet di SMU Miyamatsu pagi ini. Kondisi korban dalam keadaan parah telah tergeletak selama kurang lebih 30 menit saat mayat di temukan. Tak ada satupun saksi yang mengatakan tentang adanya sesuatu yang aneh pagi itu, juga tak di temukan apapun yang bisa dijadikan sebagai bukti ataupun petunjuk. Siswi kelas 2 yang pertama kali menemukan mayat itu sekarang masih berada dalam ketakutan dan tidak mengatakan apa-apa saat ditanya oleh pihak polisi. Jenazah saat ini telah di bawa ke rumah sakit terdekat guna –'

Pria itu tersenyum semakin lebar ketika berita siang itu menampilkan gambaran dari apa yang telah dia bayangkan sebelumnya. Bukankah indah melihat berita tentang kematian seorang siswa di sekolahnya sendiri secara mengenaskan? Pria itu terkekeh sendiri sembari terus menikmati minumannya. Matanya tak lepas dari tv yang menayangkan berita siang itu.

'Di daerah perbatasan Konoha, ditemukan sebuah mobil yang terjatuh ke dalam jurang pada ketinggian 30 meter, menurut laporan dari saksi mata yang melewati daerah tersebut, mobil itu tampak berjalan oleng beberapa saat sebelum terus melaju menuju jurang dan langsung meledak seketika. Saat ini evakuasi masih dilakukan untuk memeriksa mayat korban dan juga identitasnya. Diduga rem mobil tersebut tidak berfungsi hingga –'

Berita tersebut masih terdengar menjelaskan saat sang pria yang menontonnya telah tidak lagi perduli. Senyum lebarnya yang tadi menghilang seketika setelah melihat gambaran mobil yang tersisa dari ledakan itu, mobil yang dia ingat sebagai mobil bawahannya yang dia perintahkan untuk membunuh seorang gadis pagi itu.

Dengan tangan bergetar, dia segera meraih ponselnya dan menghubungi ponsel bawahannya tersebut, tapi pemberitahuan jika nomor yang dituju diluar jangkauan membuat pria itu lebih terdiam tanpa suara. Matanya melirik tajam sebuah foto seorang gadis berambut pirang pendek dengan mata hitam yang berada di atas meja kerjanya. Gadis yang dia yakin sudah mati, entah kenapa membuatnya berpikir sesuatu yang lain.

Ia sangat yakin jika kematian bawahannya bukanlah sekedar kecelakaan biasa, dan entah darimana dia merasa jika gadis itulah yang membuat bawahannya meninggal. Hanya saja… apa mungkin orang yang sudah mati balas dendam dengan segera?

Tangannya mulai terkepal kuat, rasa takut mulai dia rasakan saat menyadari jika musuhnya masih ada. Atau jika memang musuhnya telah mati sesuai perintahnya, maka berarti ada orang lain yang berada disisi musuhnya yang siap membalaskan dendam gadis itu. Dengan kata lain, posisinya masih sama terancam seperti sebelumya.

"Tidak," dia mulai membuka suara dan berbicara dengan dirinya sendiri. "Tidak akan. Aku tidak akan mati seperti Toyama, Sakimura, dan Kihara. Mereka mungkin memang bodoh sampai bisa terbunuh dengan mudahnya, tapi aku tidak akan mati semudah itu." Kepalanya menggeleng dengan rahang mengeras, sebisa mungkin seolah menyembunyikan ketakutannya yang terdalam.

"Hiashi… aku tidak akan membiarkan kau mengambil nyawaku seperti aku mengambil nyawamu!"

.

.

.

Helaan nafas terdengar dari Naruto yang berjalan santai dengan wajah yang menatap langit. Sesekali mata sapphire itu melirik gadis yang berjalan di sampingnya tanpa ekspresi. "Hari ini sekolah dipulangkan lebih cepat. Hinata, bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat dan bersenang-senang?"

Ya. Setelah apa yang terjadi di sekolah, dan setelah bentuk pemeriksaan dan evakuasi yang cukup lama, akhirnya seluruh kegiatan sekolah di bubarkan lebih cepat hari itu, dan itulah yang membuat dua orang itu kini berada di luar sekolah dan menuju apartemen Hinata.

"Hinata-chan."

Panggilan itu sama sekali tidak di perdulikan oleh Hinata. Bukan berarti dia tidak mendengar ataupun melamun, tapi karena dia memang sedang tidak ingin meladeni panggilan itu.

Sejujurnya, dia masih merasa bingung atas perasaannya saat itu. Ketakutan dari apa yang dia alami tadi pagi masih terus terbayang di kepalanya. Dimana saat dia ingin ke toilet, dia mendengar dan melihat orang itu yang berjalan masuk ke toilet perempuan, tapi bukannya mencegah atau melakukan sesuatu, Hinata justru dengan cepat menyembunyikan dirinya di balik dinding belokan samping toilet.

Setelah suara teriakan tertahan dan suara orang yang terjatuh terdengar, Hinata segera keluar dari persembunyiannya dan melihat apa yang terjadi begitu dia berpikir kalau keadaan sudah aman, dan apa yang dia lihat? Seorang gadis yang dia kenal sebagai Ryuzuka Meirin, siswi pendiam yang sering menjadi target bully siswi lainnya telah tergolek tak bernyawa di antara genangan darahnya sendiri diatas putihnya lantai toilet itu. Gambaran yang mengingatkannya akan sosok Ayahnya waktu itu.

Bayangan yang sungguh membuat Hinata ingin jatuh seketika jika saja Naruto tidak segera datang dan membawanya pergi.

Orang itu pasti salah mengira Meirin adalah dia karena penyamarannya yang mirip dengan sosok asli Meirin.

Hinata sama sekali tidak menggunakan penyamaran yang mirip dengan gadis pendiam itu, dia menggunakan wig pirang pendek sebagai penyamaran, itu jelas berbeda dengan rambut pirang panjang gadis itu yang Hinata ketahui. Tapi… karena sesuatu yang terjadi, Meirin yang memotong rambutnya menjadi pendek memang sangat mirip dengan sosok penyamarannya. Dan pria itu datang disaat yang salah dengan kesalapahaman yang fatal.

Kesalahan yang membuat orang tak bersalah terbunuh begitu saja.

Itulah yang membuat Hinata menjadi lebih ketakutan saat ini. Berpikir jika semua itu juga bagian dari kesalahannya, dan gambaran kematian Meirin mengingatkannya pada kematian sang Ayah.

Tapi hal yang lebih membuat Hinata takut dan gelisah saat ini adalah…

"Hinata?"

…pemuda yang kini berjalan di sampingnya.

Uzumaki Naruto yang dia kenal sebagai seseorang yang selalu mengganggu dan mengikutinya, seseorang yang Hinata kenal bukan sebagai manusia. Seseorang yang selalu menunjukkan senyum dan tingkah konyol, untuk pertama kalinya mengeluarkan aura yang membuat Hinata tidak mengerti kenapa dia ketakutan.

Tidak! Bukan ketakutan yang biasanya, mungkin… hanya seperti sebuah perasaan kaget saat mendapati aura yang berbeda dari orang yang selama ini dikenalnya. Bukan hanya sekali Hinata melihat Naruto menghajar orang lain, tapi dia tidak pernah merasakan aura membunuh yang kentara dari pemuda itu.

Hinata hanya selalu merasakan aura yang tenang jika pemuda itu sedang bersikap biasa. Hinata akan merasakan kekesalan biasa jika pemuda itu sedang melawan para musuhnya. Dan Hinata lebih sering merasakan aura yang seolah menariknya ingin mendekat kepada pemuda itu jika pemuda itu menatapnya tanpa henti.

Tapi aura yang Naruto keluarkan saat tadi dia kembali,, entah kenapa membuat Hinata gelisah.

Tap

Hinata menghentikan langkahnya saat Naruto sudah berdiri di depannya menghalangi jalannya. Dia mendongakkan kepalanya yang menunduk untuk dapat melihat wajah serius Naruto yang menatapnya. Dan lagi-lagi Hinata merasakan penarikan itu. Sebuah aroma dan aura yang seolah menariknya untuk lebih mendekat kepada pemuda itu. Hanya dengan tatapan dari sapphire biru itu, Hinata bisa merasakan hal itu.

"Apa yang kau pikirkan?" itu adalah pertanyaan pertama yang Naruto lontarkan. "Jika dugaanku benar, kau masih memikirkan aku yang membunuh pria tadi?" Hinata tidak menjawab dan juga tidak mengalihkan pandangannya dari Naruto, membuat Naruto berdecak pelan. "Ayolah, Hinata! Kau tahu siapa aku, apa kau pikir itu pembunuhan pertama yang ku lakukan? Kau juga sudah melakukannya beberapa kali. Jangan memandangku seolah aku adalah penjahat terjahat di dunia!"

Suara yang sedikit naik dari volume biasa itu membuat Hinata menghela nafasnya pelan. Dia mengalihkan tatapannya sejenak hanya untuk melihat daerah sekitar yang sedikit sepi. Mungkin karena itu masih terhitung jam sibuk. "Aku hanya tidak mengerti kenapa aku merasa ketakutan sa –tidak, aku tidak mengerti kenapa kau membunuhnya."

Naruto berkedip dua kali dengan raut wajah polos yang bingung, "Aku membunuhnya untuk menggantikanmu. Bukankah kau ingin membunuhnya?"

Hinata menarik nafas dan mengangguk. "Iya, aku ingin membunuhnya karena telah membunuh Ryuzuka-san. Tapi…" dia kembali mempertemukan pandangan mereka berdua. "…aku merasakan emosi yang berlebih darimu saat kau kembali dari membunuhnya. Seolah kau membunuhnya bukan sekedar untuk menggantikanku, tapi kau membunuhnya karena kau marah… sangat marah. Dan aura kemarahanmu itulah yang mungkin… membuatku sedikit takut."

Setelah menghembuskan nafasnya singkat, tangan tan itu naik dan memegang kedua bahu Hinata untuk menatap lebih dalam ke amethyst itu. "Dari semalam, aku gelisah. Aku takut kau melakukan sesuatu yang tidak kuharapkan. Dan pagi tadi, aku pergi lebih pagi karena aku ingin segera memastikanmu baik-baik saja. Tidakkah kau tahu betapa khawatirnya aku disepanjang jalanan menuju sekolah? Dan yang kutemukan adalah kau yang berdiri di depan toilet itu dengan pandangan kosong ketakutan menatap kearah mayat yang tergeletak itu.

"Tubuhmu gemetar dan aku bisa dengan jelas merasakan ketakutan dan kemaharan terpendammu. Aku bahkan bisa merasakan apa yang kau rasakan lebih dari kau yang juga bisa merasakan apa yang aku rasakan. Percayalah jika kita terhubung satu sama lain, dan itu yang membuatku mengerti bagaimana perasaanmu.

"Saat kau ingin berlari dan mengejar pria itu, aku bisa merasakan kemarahanmu. Aku tidak ingin kau berbuat nekat, dari itu aku menyuruhmu untuk tetap tenang dan menunggu di sekolah selagi aku yang membereskan pria itu."

Pegangan itu mengerat seiring dengan Naruto yang mendekatkan wajahnya untuk menatap mata perak itu lebih jelas, mengabaikan segala ekspresi Hinata yang sudah bisa di tebak dengan jelas oleh Naruto.

"Apa itu salah?" suara itu mengecil penuh pertanyaan. "Apa salah jika aku juga merasakan kemarahanmu dan menggantikan keinginanmu untuk membunuhnya? Di samping hal itu, aku lebih tidak bisa mengendalikan emosiku kepada orang yang telah membuatmu bergetar ketakutan. Aku bersumpah aku bisa membunuh siapapun yang telah menyakiti dan menakutimu, Hinata. Aku bersumpah."

"Naruto.."

"Jadi jangan pandang aku seperti itu. Jangan takut padaku dan jangan menghindariku," tangan itu naik menangkup dan merangkum wajah cantik itu dengan lembut, "Aku tidak akan menyakitimu, Hinata. Tidak akan pernah."

Dan sentuhan kedua bibir itu menjadi penutup pembicaraan mereka di pinggir jalan siang itu. Ciuman yang begitu lembut dan menuntut tanpa terburu-buru dan tanpa paksaan. Begitu manis dengan hembusan angin siang hari di pinggir jalan itu.

.

.

.

Dalam ruangan disebuah rumah yang cukup mewah, suasana dingin dan menegangkan terasa sangat menusuk hingga membuat tubuhnya gemetar. Didalam lemari yang berada disudut ruangan, ia menutup mulutnya agar tak menimbulkan suara ditengah isak tangisnya yang menggetarkan jiwa. Pandangannya yang kabur karena air mata, seolah masih bisa dengan jelas menangkap siluet sang Ayah yang kini telah terbaring ditengah ruangan itu. Ruangan yang biasanya menjadi tempatnya bermain bersama sang Ayah, kini menjadi ruangan yang dipenuhi dengan aroma darah yang menyengat milik Ayahnya.

Ingin ia keluar dari persembunyiannya dan berlari menuju Ayahnya, namun keberadaan orang-orang yang telah merenggut nyawa Ayahnya masih disana.

"Kau tahu, Hiashi… salahmu sendiri yang terlalu baik." Pria yang baru saja menembakkan beberapa peluru kepada Ayahnya berbicara dengan nada yang sangat menjijikkan baginya. Apa maksud pria itu Ayahnya di bunuh karena terlalu baik? Yang benar saja?

Ia masih bertahan di posisinya meski darahnya terasa mendidih karena emosi, dia tidak mengerti kenapa dirinya terasa terbakar karena tidak bisa melakukan apa-apa. Dalam sekejap, semua orang dan segala hal yang terjadi saat itu terekam jelas di kepalanya dan seolah membuat penyimpanan yang akan selalu ada tak terhapus seumur hidupnya. Dia tidak akan melupakan kejadian ini dan akan bersumpah akan membalas dendam kepada empat orang yang ada disana, terutama seseorang yang telah merenggut nyawa Ayahnya.

Dalam kegelapan dan kesedihan, tubuhnya bergetar penuh kemarahan.

"Sttt…"

"?" dia terdiam seketika saat sebuah suara terdengar berasal dari sampingnya. Saat sebuah tangan membelai lembut kepalanya, dia menoleh dan semakin terdiam saat seorang pemuda tersenyum hangat padanya.

"Tenanglah Hinata, tenanglah!" suara itu begitu lembut dan menenangkan, mampu membuat getaran tubuhnya terhenti. "Tenanglah." Tangan itu berpindah, menutup matanya dengan lembut hingga tak ada yang mampu ia lihat selain kegelapan.

.

Saat dia membuka matanya, kegelapan itu masih terasa. Dengan perlahan dia menyingkirkan tangan yang terasa hangat menutupi matanya, perlahan dia dapat menangkap dengan jelas gambaran sang pemuda berambut pirang yang kini berada didepannya, menatapnya tersenyum dan begitu hangat. "Kau sudah bangun?"

Pertanyaan itu menyadarkannya jika apa yang baru saja ia alami adalah sebuah mimpi buruk dari masa lalunya, dia memejamkan kembali matanya dan baru ia rasakan matanya yang basah mungkin karena air mata. Mencoba mengingat dengan jelas sosok yang muncul dimimpinya. Jika saja, jika saja sosok itu benar datang dalam kondisinya yang terjepit dulu, mungkin… mungkin…

"Hk.." dia menutup wajahnya yang mulai terisak oleh pemikirannya sendiri. Pemikiran bodoh yang tidak mungkin bisa terjadi.

"Hinata?" tubuh gemetar yang menahan isakan itu segera masuk dalam pelukan erat sang pemuda yang mencoba membagi kehangatannya, berharap dapat membuat gadis itu lebih tenang dan merasa lebih baik. "Tenanglah, Hinata. Semua baik-baik saja."

Suara itu… suara itu sungguh menenangkan, begitu ia inginkan untuk bisa selalu di sisinya. Seandainya saja sosok itu berada disisinya sedari dulu… mungkin dia masih bisa bersama Ayahnya saat ini, atau dia tidak perlu bersembunyi saat Ayahnya terbunuh dan bisa langsung membalaskan dendamnya.

"Tenanglah, atau jika dengan menangis bisa membuatmu lebih tenang, maka menangislah. Aku akan memelukmu dan menutupi wajahmu jika kau tidak ingin orang lain melihatnya. Aku akan berpura-pura tidak melihat air matamu jika itu maumu," sosok itu merenggangkan pelukannya dan membawa wajah yang basah penuh air mata itu menatapnya, "Walau sulit bagiku untuk mengabaikan air matamu yang berharga."

Amethyst Itu terpejam kala ciuman lembut terasa di kelopak matanya. Membuatnya lebih deras meneteskan air mata disaat yang bersamaan membuatnya lebih tenang dari segala emosi yang menyerbunya.

.

Dikamar kecil yang merupakan satu bagian dari apartemen kecil itu, dua insan masih saling berpelukan dengan tenang. Tak ada lagi isakan dan kata-kata manis menenangkan, cukup dengan belaian dan pelukan hangat keduanya telah merasa terbebas dari segala emosi.

Jika saja memang itu yang diinginkan keduanya.

Nyatanya, satu diantara mereka tidak ingin terlalu terlarut dalam kenyamanan itu. Lihatlah, dia mulai mendudukan dirinya dan melepaskan diri dari pelukan hangat yang menenangkan itu. Sesungguhnya, dia tidak ingin lagi lepas dari kehangatan itu, jika bisa ia ingin selalu dan selalu berada dalam kehangatan dan kenyamanan itu tanpa harus terjun lagi dalam kejamnya dunia yang ia tinggali saat itu. Tapi tetap saja, bayangan Ayahnya tak mengijinkannya untuk menyerah dalam balas dendam itu. Dia harus tetap menyelesaikan hal itu. Dan agar dia bisa menyelesaikan hal itu, dia harus kuat berdiri dengan kakinya sendiri tanpa terlena dengan kehangatan dan kenyamanan yang ada.

"Kau mau kemana?"

Hinata menurunkan kakinya dari ranjang tanpa berdiri dari sana, mata sembabnya membuat gadis itu tak ingin menoleh dan menatap orang yang ada di belakangnya. "Aku ingin cuci muka." Dia berdiri dan mulai melangkah menuju pintu. "Hm, kapan kau datang?" langkah itu terhenti saat satu pertanyaan keluar dari mulutnya.

"Belum lama, aku datang dan melihatmu sedang tidur siang. Aku tidak melakukan apapun kok, hanya saja saat wajahmu mulai tidak tenang aku baru mendekat. Hanya itu."

"Hm." Respon singkat sebelum Hinata keluar dari kamar itu. Dia benar-benar tidak ingin memperlihatkan wajahnya saat itu. Sejak ciuman di pinggir jalan dua hari yang lalu, sulit bagi Hinata untuk menunjukkan hal memalukan di hadapan pemuda itu. Jika dulu dia tidak perduli, maka sekarang segalanya lebih terasa merepotkan.

.

.

.

\\\

Monster Charmant

Disclaimer Naruto belong to Kishimoto Masasi

U. Naruto x H. Hinata

Fantasy and Romance

.

.

.

Summary : Monster Charmant? Aku tak perduli akan hal itu meski hidupku setidaknya juga berasal dari legenda bodoh itu. Aku melindunginya bukan karena takdir konyol yang memberiku kesempatan di dunia ini, aku melindunginya memang karena aku menginginkannya.

\\\

.

.

.

Bersambung

/

Thanks to :

Aerogel; ameyukio2; ArmyNHL; Xindrat; Mitsuko Kei; Musasi; himechan tea; Fahzi Luchifer; uum; nomnom; rifak.

.

Maaf update fic ini lama banget,, aku tak akan cari alasan, jadi aku Cuma bisa bilang maaf.

Makasih untuk yang tetap menunggu fic ini. Maaf kalau banyak typo, nggak terlalu dibaca ulang sih.. hehe…

Bye minna…