AUTHOR: D'Kyungiesooie
TITLE : Reset And Return
Main Cast: Kaisoo slight Chansoo
Rated: T
Genre: Hurt, romance.
"it's just Fiction Story"
Maaf banyak Typo dan Tidak sesuai dengan EYD. Semoga Bisa Menghibur
HAPPY READING
GUYS
.|.
.|.
.|.
=Chapter 2=
Di sebuah ruangan luas yg diisi berbagai furniture mewah nan elegan, di mulai dari meja kerja kayu yg terletak di dekat jendela yg membelakangi pemandangan di luar sana, lalu sebuah set sofa berwarna hitam terletak di tengah ruangan, lemari berukuran kecil tapi berukiran klasik berdiri kokoh di sudut ruangan yg di lengkapi berbagai buku. Dekorasi interior ruangan yg glamor menandakan bahwa tempat ini bukanlah tempat orang biasa. Di meja kerja terlihat seorang lelaki paruh baya yg duduk di kursi kebesarannya. Sebuah kacamata baca bertengger gagah di hidungnya, di tangannya terdapat lembaran kertas. Ekspresinya terlihat tidak suka ketika membaca rentetan kata dalam berkas tersebut. lelaki itu menghela nafas dan menekan tombol telepon yg berada di atas meja.
"Panggilkan semua tim yg terlibat dalam persiapan debut para trainee." Perintahnya pada pihak sekretarisnya yg berada di luar ruangannya.
"Ne sajangnim." Setelah sang sekretaris menjawab, dia pun segera memutus sambungan telepon itu.
Tidak lama kemudian, beberapa orang memasuki ruangan.
"Anja!" Ujarnya sambil bangkit menuju sofa.
"Ada apa sajangnim memanggil kami?" tanya sosok lelaki berjas biru, Produser Jang.
"Saya sudah membaca rekaman hasil evaluasi para trainee dan hasilnya benar-benar mengecewakan." Mulai Bae Sajangnim, 4 orang yg duduk di depannya hanya bisa menunduk.
"Apakah kita tidak memiliki trainee yg lebih baik di bandingkan ini?" Bae sajangnim melempar berkas rekaman hasil evaluasi para trainee ke atas meja.
"Cwhaesonghamnida, sajangnim." Salah satunya wanita dalam ruangan itu menanggapi dengan sesal, So sonsaengnim seorang guru vocal.
"Kalian tahu bukan jika tahun ini kita harus mendebutkan girlgroup atau boygroup?" ke- 4 orang itu mengangguk.
"Tapi dengan kemampuan para trainee yg seperti ini mustahil itu akan terwujud. Sebenarnya bagaimana kalian mengurus anak didik kalian, huh?" keluh Bae sajangnim.
"Cwhaesonghamnida, sajangnim. Kami akan bekerja lebih keras lagi." Ujar Jung Seongsaengnim yg merupakan seorang koreografer.
Bae sajangnim menghela nafas
"Satu lagi, aku ingin konsep debut yg berbeda. Dewan direksi banyak yg mengeluh dengan konsep debut yg kalian tawarkan, itu terlalu membosankan. Jadi, tolong perbaiki kembali!" Bae sajangnim lantas meletakkan map hitam yg berisi berkas konsep debut yang langsung di ambil oleh manajer Kim.
"Baiklah, kalian bisa keluar."
"Ne, sajangnim."
Ke-4 orang itu pun bangkit dan meninggalkan ruangan petinggi SM Entertainment.
.
.
.
.
.
"Appa!"
"Appa!"
Kai langsung membuka matanya dan terduduk di atas tempat tidur dengan nafas terengah-engah. Keringat dingin membasahi raga tan itu. Wajahnya sangat pucat hampir menyerupai mayat. Kai mengusak wajahnya kasar saat mimpi itu kembali mengusiknya. Kai menghela nafas kasar dan terdiam beberapa waktu dengan tatapan kosong. Dia lantas menoleh ke arah meja nakas, di sana tertera jam kecil yg menununjukkan pukul 9 pagi. Dia pun turun dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi setelah mengambil sesuatu dari laci meja nakas.
Sekitar 20 menit kemudian, Kai keluar dari kamarnya menuju dapur. Di sana sudah ada Suho yg sedang menyiapkan makanan.
"Oh, Kai, kau sudah bangun ternyata. Ayo makan!" ujar Suho pada Kai yg sedang minum di depan kulkas.
"Kau memasak, Hyung?" tanya Kai sambil menghampiri Suho, matanya menatap aneka makanan yg tertata di atas meja makan.
"Hahaha… tidak, tadi manajer Hyung yg mengantarnya. Kau tahu sendiri aku tidak bisa memasak." Suho tertawa kecil yg hanya diangguki oleh Kai. Lelaki tan itu hendak pergi dari sana, namun Suho menahannya.
"Makanlah dulu! Aku tahu dari kemarin kau belum makan, maka dari itu aku meminta manajer Hyung membawa makanan kesukaanmu." Ujar Suho sambil menarik lengan Kai, hingga rekannya itu terduduk di kursi.
"Aku tidak bisa, Hyung. Aku tidak nafsu." Bantah Kai yg kembali ingin bangkit, namun Suho menekan tubuhnya agar tetap duduk.
"Aku tahu kau tidak nafsu, tapi setidaknya kau harus memaksa dirimu makan. Lihat wajahmu sangat pucat, itu karena kau jarang makan!" omel Suho yg membuat Kai menghela nafas lemah.
"Ayo makan, jangan hanya dilihat saja!" tegur Suho pada Kai yg hanya diam saja menatap meja makan.
Kai menatap Suho sejenak, dan menghela nafas untuk sekian kalinya ketika Suho menatapnya antusias. Kai pun lantas meraih sumpit dan menjejalkan nasi ke dalam mulutnya. Suho tersenyum puas melihatnya.
"Makan ini juga, jangan hanya nasi!" Suho menyimpan olahan daging ayam di atas nasi Kai.
"Kau tidak makan, Hyung?" Tanya Kai
"Aku sudah." Jawab Suho sambil menuangkan air putih ke dalam gelas, lalu menyimpannya di depan Kai.
"Aku selesai, Hyung!" Ujar Kai setelah menenggak air putih pemberian Suho.
"Apa? Kau bercanda! Nasimu bahkan masih banyak, Yak... Kai!" Suho berteriak kesal saat Kai beranjak pergi.
"Aish anak itu, benar-benar.." Suho menggelengkan kepala lantas bergerak cepat membereskan meja makan.
Setelah meninggalkan Suho di meja makan, Kai menuju ruang santai dan menyalakan televisi. Onix tajamnya mengamati isi dorm yg nampak sepi. Biasanya, Tao dan Chen sudah berteriak, memperdebatkan berbagai hal. Lalu Sehun akan ikut serta dengan menjahili keduanya yg pada akhirnya akan mendapat amukan dari Kris karena keributan mereka. Tapi hari ini, Kai tidak mendapatkan itu lagi.
"Mereka sudah pergi 2 jam yg lalu. Mendapat libur membuat mereka menjadi liar." Suho yg entah sejak kapan ada di sana berujar ketika melihat gelagat Kai, lelaki tan itu pun lantas menatap Suho yg duduk di sampingnya.
"Lalu kenapa Hyung masih ada di sini?" heran Kai.
"Kau mengusirku?" ekspresi wajah Suho berubah tidak enak saat menatap Kai.
"Tidak... ahh.. terserah Hyung saja." Kai memilih menyerah, membuat Suho mendengus padahal dia ingin berdebat dengan Kai tapi rekannya itu terlalu acuh.
Suho pun bangkit dan meninggalkan Kai di ruang santai. Kai hanya melirik sekilas dan kembali menatap lurus televisi yg menyala. Kai pikir Suho benar-benar akan meninggalkannya sendirian, apalagi saat lelaki itu menghampirinya dengan pakaian yg berbeda. Suho terlihat mengenakan jaket kulit berwarna navy, lalu kacamata hitam bertengger di hidungnya. Tapi tunggu... di tangan Suho ada jaket miliknya. Kai mulai merasakan sesuatu yg ganjil
"Pakai ini!" Suho menyerahkan jaket hitam milik Kai itu pada orangnya. Kai mengerutkan kening dan mengambil jaket itu, ternyata bukan hanya jaket tetapi masker, kaca mata dan topi juga ada di balik jaket itu.
"Apa yg akan Hyung lakukan dengan ini?" tanya Kai sambil menunjukkan semua benda-benda itu.
"Sudah pakai saja. Jangan banyak bertanya!" keluh Suho yg membuat Kai menghela nafas dan memakai benda-benda itu ditubuhnya. Suho pun terseyum puas lantas memakai masker dan juga topinya.
Dan di sinilah mereka sekarang, berakhir di sungai Han dengan berjalan kaki di area jogging track. Sejak tadi Kai tidak pernah berhenti menghela nafas, karena mereka menjadi pusat perhatian dengan pakaian mencolok. Mereka sudah seperti penjahat dengan pakaian gelap tertutup.
"Hahhh... Hyung ayo kembali!" ujar Kai pada Suho di sampingnya
"Wae? Kita baru saja sampai!" protes Suho membuat Kai mengumpati lelaki itu di dalam hati.
"Yak, Kai! Lihat di sana!" Kai dengan malas mengikuti arah telunjuk Suho dan menangkap kerumunan orang di pinggir sungai Han. Kai sudah memiliki firasat buruk tentang ini.
"Ayo kita ke sana!" Ujar Suho antusias
"Hyung, sudahlah!"
Percuma saja dia memprotes, Suho tidak ingin mendengarnya justru lelaki yg lebih tua darinya itu menyeretnya ke arah kerumunan.
Hi Pororo
hello friends,
hello my best friends
lets play together with playful pororo
hello friends,
hello my best friends
lets jump together
pong pong pororong
pong pong porororong
Prok.. Prok.. Prok
Tepuk tangan menggema saat pertunjukan sederhana itu berakhir. Chanyeol yg mendengar itu terkejut, baru menyadari bahwa sedari tadi banyak orang yg berkerumunan di sekitarnya. Padahal dia dan Yoo Reum hanya bernyanyi biasa, tidak bermaksud mengundang atensi khalayak ramai, mengingat Kyungsoo belum ada. Dia hanya berniat menghibur Yeo Reum yg nampak murung menunggu kedatangan sang ibu.
Sebenarnya, hal ini sudah tidak asing lagi terjadi karena hampir semua orang mengenal dirinya, Kyungsoo dan juga Yeo Reum, karena mereka cukup sering melakukan pertunjukan jalanan di berbagai tempat. Pekerjaan mereka sebagai musisi jalanan yg mencari uang dengan cara bernyanyi menghibur penonton, membuat ketiga orang itu setiap hari berhadapan dengan khalayak ramai. Chanyeol tidak ingin takabur, tapi dia dan Kyungsoo memiliki penggemar yg cukup banyak meskipun tidak bisa menandingi para idol korea.
"Bukankah suara lelaki itu cukup bagus, Kai? Bagaimana menurutmu?!" tanya Suho sambil melihat interaksi antara Chanyeol dengan Yeo Reum.
"Eumm..." gumam Kai, matanya terfokus pada sosok gadis kecil yg berada di pangkuan lelaki yg memegang gitar.
"Sayang sekali dia sudah memiliki anak, andai saja tidak. Lelaki itu bisa menjadi idol!"
Entah kenapa saat mendengar kata 'anak' hati Kai menjadi sesak. Matanya terlihat bergetar samar, Ada getaran sakit dalam dadanya saat melihat interaksi -yg Kai ketahui- pasangan ayah anak itu. Andai saja dulu dia tidak melakukan kesalahan, mungkinkah dia juga merasakan perasaan yg sama seperti lelaki di depannya itu?
"Kai..."
"Kai, Hei."
"YAK! KIM JONGIN!"
Teriakan itu membuat Kai tersadar, di tatapnya Suho yg menatapnya kesal. Kai menghela nafas, melirik sejenak pasangan ayah anak itu sebelum beranjak pergi meninggalkan Suho yg nampak bingung melihat tingkahnya.
"Hahh... hahh... maaf menunggu lama, tadi ada sedikit masalah!" Ucap Kyungsoo yg baru saja datang dari toilet.
"Eomma, lama sekali!" rajuk Yeo Reum sambil pindah ke pangkuan sang ibu.
"Maafkan eomma ya, sayang. Perut eomma tadi sangat sakit jadi eomma lama." Sesal Kyungsoo dengan tangan membelai lembut surai halus putrinya.
"Apa noona baik-baik saja? Apa sebaiknya hari ini kita tidak perlu bekerja? Noona terlihat pucat!" Khawatir Chanyeol. Kyungsoo menatap lelaki itu dan menggeleng.
"Gwaenchana. Oh ya, Apa kalian sudah mulai? Aku lihat dari kejauhan, ada kerumunan di sini!" ujar Kyungsoo penasaran.
"Tidak, Noona. Tadi aku hanya bernyanyi untuk menghibur Yeo Reum yg nampak murung menunggu kedatangan noona dan mengenai kerumunan itu, aku tidak menyadarinya!" Kyungsoo mengangguk mengerti.
"Jadi bisakah kita mulai sekarang?!" tanya Kyungsoo yg di balas petikan gitar dari Chanyeol.
Setelah menyelesaikan beberapa lagu dan menghibur penonton, Kyungsoo dan Chanyeol pun berbenah untuk meninggalkan area sungai Han. Hari ini mereka sangat bersyukur karena pendapatan mereka sudah terbilang cukup banyak, jadi mereka langsung memutuskan untuk pulang ke rumah saja tanpa harus menjelajahi tempat lain.
"Apa sudah siap?!" tanya Kyungsoo pada Chanyeol yg nampak kesusahan membawa peralatan yg memang selalu mereka bawa ketika bekerja.
Kyungsoo terkadang meminta Chanyeol agar tas gitar lelaki itu dia saja yg membawanya, namun lelaki yg lebih muda darinya itu membantah. Menurutnya
Kyungsoo sudah sangat kesusahan dengan Yeo Reum yg ada di gendongannya.
"Sudah Noona!" Chanyeol mengangguk. Ketika hendak meninggalkan area itu, tiba-tiba seorang lelaki berumur datang menghampiri mereka.
"Maaf, apa kalian memiliki waktu untuk berbicara dengan saya sebentar?!" tanya Lelaki berumur 30-an itu. Kyungsoo dan Chanyeol terdiam dan melakukan eye contact.
"Ahh... saya Jang Geun Suk, seorang produser music!"
Lelaki yg memperkenalkan diri sebagai Jang Geun Suk itu menyerahkan kartu nama yg di terima Chanyeol dengan ragu. Di tatapnya kartu itu dan matanya membelalak kaget saat melihat sebuah nama agency terkenal tertera di sana. Kyungsoo yg melihat ekspresi Chanyeol, menatap kartu nama itu. Wanita itu terkejut melihat tulisan
'SM ENTERTAINMENT'
"Saya tadi melihat pertunjukan musical kalian dan sungguh saya benar-benar tertarik. Maka dari itu saya bermaksud untuk merekrut anda berdua untuk menjadi salah satu anak didik saya. Apakah kalian berminat?!"
Belum usai keterkejutan mereka dengan kartu nama itu, mereka kembali dikejutkan dengan perkataan lelaki itu. Mata Kyungsoo membola layaknya kelereng, sama halnya dengan Chanyeol.
"Anda bercanda! Tidak mungkin kami-" Seru Chanyeol tidak percaya, kalimatnya tertelan begitu saja.
"Saya tidak bercanda. Saat melihat pertunjukkan kalian tadi, saya menemukan nilai pesona yg kuat. Permainan kalian sungguh estetik." Ungkap Geun Suk membuat kedua orang dewasa di depannya itu tidak dapat berkata-kata.
"Saya tidak bisa berlama-lama, jika kalian berminat bergabung kalian bisa menemukan saya di gedung SM atau menghubungi saya. Saya akan dengan senang hati menyambutnya. Saya harap kalian mempertimbangkan tawaran ini! Kalau begitu saya permisi!"
Geun Suk membungkukkan badannya sejenak sebelum meninggalkan ketiga orang tersebut.
.
.
.
.
.
~Tok... ~Tok.. ~Tok..
"Masuk!"
Mendapat persetujuan dari seseorang yg berada di dalam membuat lelaki berjas yg berdiri di depan pintu memasuki ruangan tersebut.
"Sajangnim, saya ingin membicarakan sesuatu jika anda tidak sibuk!" Ujar Lelaki yg baru saja masuk itu kepada lelaki yg sedang duduk memeriksa beberapa dokumen mendongak menatapnya.
"Oh, Produser Jang! Silahkan duduk!"
Keduanya berpindah ke sofa yg ada di ruangan itu.
"Jadi, apa yg ingin kau bicarakan?" Tanya Bae Sajangnim sambil membuka satu kancing jasnya.
"Sajangnim, aku menemukan seseorang yg cocok untuk kita debutkan tahun ini!"
perkataan itu membuat Bae sajangnim menegakkan bahunya refleks.
"Apa? Siapa? Apa dia salah satu trainee kita?!" tanya Bae sajangnim penasaran.
Produser Jang menggeleng.
"Bukan sajangnim, mereka bukan trainee! Saya bahkan baru bertemu tadi!"
"Mwo? Lalu siapa mereka?!"
"Mereka seorang musisi jalanan tapi Sajangnim tenang saja, kemampuan mereka melebihi para trainee kita!"
"Musisi jalanan? Siapa mereka?!" Bae Sajangnim nampak sangat persuasif dengan perkataan Produser Jang.
"Saya lupa menanyakan nama mereka, Sajangnim." Produser Jang meringis sambil menggaruk tengkuknya yg tidak gatal.
"Mwo? Kau tidak tahu namanya, tapi berani mempromosikan mereka kepadaku!" kesal Bae sajangnim membuat Produser Jang terkekeh.
"Tenang sajangnim, saya sudah memberikan kartu nama saya pada mereka. Ahh... saya lupa, saya juga memiliki rekaman video pertunjukan mereka."
Produser Jang terlihat mengotak-atik ponselnya. Setelah menemukan apa yg dicarinya, dia langsung menghadapkan layar ponselnya pada Bae Sajangnim. Bae Sajangnim memajukan wajahnya untuk lebih jelas melihat video itu. Matanya yg terlindungi kacamata terlihat menyipit. Diraihnya ponsel itu dan diperhatikannya dengan saksama objek dalam rekaman itu.
"Dia-" Mulutnya terbuka, nampak terkejut. Melihat reaksi pemimpin SM itu membuat Produser Jang senang.
"Bagaimana menurut, Sajangnim?!" Tanya Produser Jang cepat setelah rekaman video itu berakhir.
"Dari mana kau bertemu dengan mereka, Geun Suk-ah?!" Balas Bae Sajangnim dengan pertanyaan.
"Saat itu saya sedang jalan- jalan di Sungai Han dan tanpa sengaja melihat pertunjukan mereka. Bagaimana menurut, Sajangnim? Mereka cocok bukan menjadi Rookies kita tahun ini?!" tanya Produser Jang antusias.
"Sangat cocok. Aku tidak ingin tahu, intinya mereka harus bergabung di management kita. Undang mereka untuk ke kantorku besok, mereka akan segera menandatangani kontrak!"
Pernyataan Bae Sajangnim membuat Produser Jang terkejut setengah mati. Apakah begitu tertariknya Sajangnim kepada 2 orang itu hingga langsung menginginkan tanda tangan kontrak? Pikirnya tidak percaya.
"Yong Joon Hyung, kau serius? Langsung tanda tangan kontrak, tanpa ada pertimbangan?!" tanyanya
"Apa aku terlihat bercanda sekarang?!" Produser Jang menggeleng, Bae Sajangnim serius ternyata.
"Tapi sajangnim, saya tidak tahu bagaimana menghubungi mereka. Waktu itu saya hanya memberi kartu nama saja, dan tidak mengambil kontak mereka. Akan sulit untuk mengatur pertemuan dengan mereka besok!" tutur Produser Jang.
"Aku tidak peduli. Bagaimanapun caranya, mereka harus bergabung bersama kita! Kalau perlu kerahkan semua bawahanmu untuk mencari keberadaan mereka!" Nada Suara pemimpin SM itu sedikit tinggi.
"B-Baik Sajangnim. Saya akan melakukannya. Kalau begitu, saya undur diri."
Produser Jang membungkukkan badannya sejenak sebelum meninggalkan ruangan itu.
Sepeninggal Produser Jang, Bae Sajangnim terdiam cukup lama di ruangannya.
"Apa aku salah lihat? Tapi di video itu terlihat jelas bahwa dia Do Kyungsoo. Aku masih mengingat wajahnya, dia tidak banyak berubah!" Monolognya pelan sambil membuka kacamatanya.
"Setelah sekian lama menghilang dari dunia entertain, akhirnya dia kembali."
"Ini berita besar, kembalinya Do Kyungsoo akan membuat geger agency korea. Aku harus segera menemukan dia, sebelum agency lain menemukannya!" Gumamnya sambil beranjak dari sofa dan berjalan menuju meja kerjanya.
"Telusuri kota Seoul dan sekitarnya, temukan Do Kyungsoo. Dia ada di dekat kita!" perintahnya pada orang kepercayaannya melalui telepon, lalu memutus sambungan.
.
.
.
.
.
Ketika malam menghampiri bumi. Bulan bersinar memberikan cahayanya pada penghuni bumi, tidak terkecuali pada sebuah flat kecil yg terbangun di rooftop bangunan minimarket. Beragam jenis tanaman berjejer rapi di tembok pembatas rooftop. Lalu 2 tiang kayu saling terhubung dengan tali yg mengikat masing-masing ujungnya yg digunakan untuk menjemur pakaian. Kemudian tidak jauh dari itu, ada sebuah meja kayu berbentuk persegi yg diperkirakan dapat menampung 6 orang. Di atas meja kayu itu, terdapat seorang lelaki tampan yg sedang duduk merenung. Seorang wanita keluar dari pintu flat dan berjalan mendekati lelaki tampan itu
"Apa yg sedang kau lamunkan, ~Channie?!" tegurnya membuat Chanyeol menatapnya.
"Noona!" balasnya, wanita itu mendudukkan dirinya di samping Chanyeol.
"Kau tidak menjawab pertanyaan noona, eum?!"
Kyungsoo -Wanita itu- menatap Chanyeol dengan tatapan teduh. Melihat tatapan itu, Chanyeol menghela nafas.
"Aku memikirkan tentang tawaran lelaki yg tadi noona!" ungkapnya sambil memberikan kartu nama yg sedari tadi di tatapnya kepada Kyungsoo.
Kyungsoo menerima kartu nama itu dan menatapnya lama
"Apa yg membuatmu ragu, ~Channie? Bukankah mimpimu sedari dulu, ingin bernyanyi di atas panggung yg besar, eum?!" tanya Kyungsoo lembut membuat Chanyeol menghembuskan nafas pelan.
"Jika aku menerimanya, apa noona bersedia ikut bersamaku?!" balas Chanyeol dengan pertanyaan, kepalanya menengadah menatap langit.
"Haha.. tentu saja noona ikut bersamamu, ~Channie!" Kyungsoo tertawa kecil, Chanyeol menatap wanita cantik itu.
"Bukan itu maksudku noona!" bantah Chanyeol yg menghasilkan tatapan tidak mengerti dari Kyungsoo.
"Noona masih ingat bukan, apa yg dikatakan lelaki itu?"
Kyungsoo mengerutkan keningnya bingung.
"Lelaki itu menginginkan kita melakukannya bersama, bukan hanya aku. Noona mengerti bukan, maksudku?!" Kyungsoo mengangguk kaku.
"Jadi apa noona bersedia melakukannya bersamaku? Maukah noona berdiri mendampingiku di atas panggung? Bernyanyi bersama, bersediakah noona melakukannya?!" tanya Chanyeol serius sambil menatap dalam mata bulat yg bersinar teduh itu. Kyungsoo memalingkan wajahnya dan menatap ke atas langit.
"Kau tahu jawabanku, ~Channie! Noona tidak bisa melakukannya. Usia noona tidak muda lagi untuk terjun ke dunia entertain. Lagipula noona memiliki Yeo Reum!" tutur Kyungsoo sendu. Mendengar hal itu, Chanyeol menghela nafas pelan.
"Maafkan noona, ~Channie!" lanjut Kyungsoo sambil menatap lelaki itu sesal.
"Gwaenchana, noona. Aku mengerti." jawabnya disertai senyum tipis meski sebenarnya sedikit kecewa dengan penolakan Kyungsoo, tapi dia berusaha tidak menunjukkannya.
"Kau bisa melakukannya tanpa noona, ~Channie. Noona akan selalu mendukungmu. Jangan karena noona, kau menyerah pada mimpimu." nasihat Kyungsoo
"Tidak noona, aku sudah memutuskan untuk menolak tawaran itu. Aku tidak mungkin melakukannya tanpa noona." tolak Chanyeol sambil menggeleng.
"Apa? Jangan seperti ini, ~Channie! Kau membuat noona merasa bersalah. Jangan sia-siakan kesempatan itu karena noona. Ku mohon!" pinta Kyungsoo sambil memegang tangan kanan Chanyeol.
"Aku tidak bisa noona. Aku tidak bisa tanpa noona, ku mohon mengertilah!" lirih Chanyeol dan semakin mengeratkan genggaman tangan itu.
Air mata Kyungsoo seketika menetes, dia menggeleng tidak terima dengan perkataan Chanyeol. Dia merasa bersalah, karena dirinya Chanyeol menyerah pada mimpinya. Sebenarnya Kyungsoo bisa saja mengabulkan permintaan lelaki tampan itu, tapi Kyungsoo memiliki masa lalu yg buruk dengan dunia yg diimpikan Chanyeol. Lima tahun lalu, ketika dia memutuskan untuk pergi dari dunia itu, Kyungsoo sudah bertekad untuk melupakan semuanya, melepas mimpinya dan memilih hidup seperti saat ini. Kyungsoo tidak ingin kembali lagi ke dunia itu dan membuatnya bertemu kembali dengan masa lalunya.
Kyungsoo tersentak saat merasakan tangan hangat membelai pipinya dan menghapus air matanya. Air mata Kyungsoo kembali berjatuhan melihat tatapan teduh Chanyeol. Lelaki itu sudah banyak berkorban untuknya, dan kali ini lelaki itu kembali mengorbankan mimpinya karena dirinya.
"Ssstt... jangan menangis, noona. Aku baik-baik saja." Ujar Chanyeol dengan tangan yg tidak berhenti menghapus air mata wanita cantik itu.
"Hiksss... maafkan noona, ~Channie. Maafkan noona hikss!" isak Kyungsoo
"Aku baik-baik saja noona, jadi berhentilah merasa bersalah dan hentikan air mata noona!"
Chanyeol tersenyum teduh membuat rasa bersalah Kyungsoo semakin menjadi. Wanita itu menatap dalam mata Chanyeol, berusaha menemukan sesuatu dari tatapan itu.
"Ayo!" tiba-tiba saja Kyungsoo mengatakan sesuatu yg ambigu membuat Chanyeol menatapnya tidak mengerti.
"Ayo kita lakukan bersama, noona akan mendampingimu di atas panggung!"
Pernyataan Kyungsoo sontak membuat Chanyeol membolakan matanya.
"N-noona!" responnya terkejut.
"Noona akan menemanimu, ~Channie. Jadi, ayo wujudkan mimpimu bersama noona!"
Mendengar itu, Chanyeol langsung menarik tubuh Kyungsoo ke dalam pelukannya.
"Noona, kau serius?!" tanya Chanyeol, Kyungsoo mengangguk dalam dekapan lelaki itu. Chanyeol yg merasakannya, tidak dapat menahan tangisnya
"Hikss... noona hikss... gomawo hikkss... cheongmal gomawo noona hikss..."
Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Kyungsoo. Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya pelan dan mengusap surai Chanyeol. Mata Kyungsoo terpejam, memikirkan keputusan yg diambilnya. Setelah ini, Kyungsoo tidak akan bisa lagi menghindar dan Kyungsoo yakin perlahan masa lalunya akan melumpuhkannya. Kyungsoo tahu itu, namun kali ini dia tidak ingin mengorbankan Chanyeol hanya karena masa lalunya. Lelaki dalam pelukannya itu harus bahagia, karena dengan cara itulah Kyungsoo bisa membalas budi.
"~Channie, bisakah besok kita mengunjungi mereka?!" Tanya Kyungsoo sesaat setelah pelukan mereka terlepas.
"Noona merindukannya?!" balas Chanyeol yg diangguki wanita bermata bulat itu.
"Noona juga ingin meminta restu dari mereka." katanya Chanyeol mengangguk
"Baiklah, noona."
Kyungsoo tersenyum lembut dan kembali memeluk Chanyeol.
T.B.C
