Disclaimer
Gintama © Soraichi Hideaki
Kiheitai's Daily Life © Akane Ukitake
Warning
Typo, alur tidak jelas, garing, OOC, EYD tidak diperhatikan, hint BanTaka, hati- hati genre menipu!
Happy Reading!
1. Crossword puzzle
Takasugi mengetuk-ngetukan pensil di atas meja yang berada di hadapannya kini. Tidak seperti biasanya, raut leader Kiheitai itu terlihat bingung. Bansai yang berada di dekatnya merasa kalau raut wajah itu bukan pertanda hal baik. (Jika mood Takasugi sedang tidak bagus. Semua anggota Kiheitai bisa terkena imbasnya)
"Bansai," panggil pria bersurai keunguan tersebut.
Tuh benar bukan. Badai pasti akan datang sebentar lagi.
.
.
.
" 9 huruf mendatar. Kota tempat diselenggarakannya SEA Games tahun 2013?"
'Jadi ia hanya sedang bingung memikirkan jawaban teka teki silang?!' Wakil Kiheitai itu langsung bersweetdrop ria saat mengetahui kenyataannya.
"Aa—kurasa Naypyidaw," jawab Bansai.
"Aa. Sou. Lalu 9 huruf menurun. Permaisuri utama Fir'aun, ratu Mesir yang terkenal dengan kecantikannya?"
"Nefertiti."
"Huruf depan T, 5 huruf. Olahraga yang digeluti Rafael Nadal?"
"Tenis."
"7 menurun. Nama ratu Thailand?"
"Sirikit."
"Diawali dengan huruf depan B, 3 huruf. Nama senjata peledak?"
"Bom."
Setelah menjawab semua itu, bukannya mendapat ucapan terima kasih, Bansai malah mendapat tatapan heran dari Takasugi.
"Kenapa kau bisa menjawab semuanya?" tanya sang atasan. Masih dengan tatapan heran yang terlihat jelas.
"Bukankah itu pengetahuan umum?" ujar Bansai santai. Ia hanya mengingat kembali dari buku-buku yang sempat ia baca, jadi menurutnya menjawab pertanyaan tadi bukanlah hal yang harusnya dianggap aneh bagi Takasugi.
"Pengetahuan umum?"
.
.
.
Esoknya.
Bansai menggeser pintu ruangan sang atasan dengan sedikit tergesa-gesa. Bukan tanpa alasan, ada surat pembelian senjata yang harus segera ditandatangani oleh ketua Kiheitai tersebut.
"Shinsuke, bisakah kau menandatangani surat pembelian ini?" Dan Bansai menemukan sang atasan sedang asyik membaca sebuah buku.
Buku pengetahuan umum.
'Apa aku tidak sengaja menyinggungnya kemarin?'
Entah mengapa Bansai merasa bersalah. Tepat saat itu juga.
2. Kitchen.
Mimura baru saja masuk dalam keanggotaan Kiheitai sejak sebulan lalu. Beberapa seniornya sudah menjelaskan bagaimana mereka harus bertindak dan ruangan apa saja yang mereka perlu ingat dalam kapal yang menjadi markas mereka kali ini. Namun, ada satu ruangan yang menjadi perhatian Mimura, dan itu adalah dapur.
Bukan karena dapur adalah tempat penyimpanan makanan sehingga ia harus mengingatnya. Tapi karena penjagaan ketat yang ada. 2 – 3 orang bertugas disana secara bergantian. Bahkan penjagaannya makin ketat saat memasuki jam makan siang.
Apa dapur sangat penting bagi kelangsungan Kiheitai? Apa di dapur terdapat sebuah ruangan rahasia? Kenapa penjagaannya sangat ketat?
Pikiran itu terus berputar-putar dalam kepala Mimura, hingga suatu hari ia tidak sengaja berpapasan dengan sang ketua, Takasugi Shinsuke.
Semua anggota Kiheitai tahu jika leader mereka memiliki aura yang sangat menyeramkan sehingga mereka memilih untuk tidak berurusan dengannya. Mimura pun merasakan hal yang sama, namun rasa ingin tahunya akan kebenaran yang ada membuatnya menepis segala perasaan tidak enak yang ia rasakan sekarang.
"Takasugi-sama, apa aku boleh bertanya sesuatu?"
Pertanyaan Mimura membuat langkah Takasugi terhenti dan membalas dengan pandangan dingin pada salah satu bawahannya tersebut.
"Tentu."
Mimura cukup terkejut karena sang atasan cukup meresponnya dengan baik.
"Ah. Begini, aku melihat penjagaan yang sangat ketat di depan dapur. Mengapa hal tersebut perlu dilakukan?"
Takasugi menghisap kiseru yang ia bawa, kemudian menghembuskan asapnya dengan santai sebelum menanggapi pertanyaan Mimura.
"Untuk mencegah penyusup."
"Penyusup?" Ia masih tetap belum mengerti. Mengapa para penyusup mengincar dapur Kiheitai?
"Jam berapa sekarang?" tanya Takasugi.
"Kurasa tepat tengah hari," jawab Mimura.
"Jam makan siang. Penyusup itu sudah kembali. Kau akan tahu apa yang kumaksudkan tadi," ujar Takasugi sambil berlalu. Meninggalkan Mimura yang masih memikirkan apa maksud Takasugi sebenarnya.
"Oh. Jika kau dengar ribut-ribut dari arah dapur, segera beritahu Bansai. Ia bisa mengatasinya," lanjut Takasugi yang belum pergi terlalu jauh darinya.
Dan Mimura memutuskan untuk mengecek keadaan dapur . Melihat dengan mata kepalanya sendiri siapa yang Takasugi maksud dengan 'penyusup'.
"Kamui-dono! Takasugi-sama melarang anda untuk masuk tempat ini!"
"Kenapa? Aku hanya ingin mengambil sedikit makanan kok." Pria berambut merah dengan ahoge yang bergerak tanpa henti itu sangat familiar sekali bagi Mimura. Walau belum pernah bertemu sebelumnya, berdasarkan cerita para seniornya, Mimura langsung tahu jika itu pasti Kamui. Ketua Divisi 7 Harusame yang menjadi aliansi Kiheitai saat ini.
"Oleh karena itu Takasugi-sama melarang anda." Para penjaga hanya bisa bersabar menghadapi Kamui kali ini. Berharap pria itu mengerti dan berbalik pulang.
"Heh. Begitu ya. Jadi bisakah kalian menyingkir?"
"Sudah kukatakan anda tidak boleh masuk kesini Kamui-dono!" seru salah satu penjaga.
"Jika kalian melarangku, kalian bisa kehilangan nafas saat ini juga lho," ujar pria berahoge itu dengan santai. Candaan atau ancaman terlihat sangat beda tipis saat ia mengatakan hal tersebut.
Mimura langsung pergi dari tempat itu, berniat mencari sang wakil komandan, Kawakami Bansai. Ia harus cepat atau teman-temannya akan mati (dengan tidak elitnya) hanya karena menjaga sebuah dapur.
3. Bald.
Tumpukan tugas-tugas yang Abuto kerjakan sekarang seperti tidak ada habisnya. Pria berumur 30-an itu mengumpat beberapa kali mengingat mengapa ia harus mengerjakan semua ini. Tidak masalah jika ia hanya mengerjakan bagiannya (ia memang dibayar oleh Kamui untuk itu). Namun ia sama sekali tidak menerima gaji lebih untuk bagian Kamui yang juga ia selesaikan. Dan Kamui seenaknya saja menginggalkannya dengan tumpukan pekerjaan setinggi gunung Himalaya tersebut. Lama-lama ia bisa saja botak seperti ayah sang atasan karena sibuk mengurusi ini itu untuk kelangsungan kelompoknya sendiri.
"Abuto-san, Kawakami Bansai dari Kiheitai ingin bertemu dengan anda." Salah satu bawahannya memberitahukan lewat intercom.
Ini lagi. Satu hal lagi yang membuatnya botak saat itu juga.
Abuto menghela nafas panjang sebelum membalas pesan tersebut, "Biarkan dia masuk."
5 menit kemudian, pintu ruangannya diketuk oleh seseorang dan Abuto tahu jika Bansai sudah berada di depan ruangannya. Pria itu beranjak dari kursinya dan membukakan pintu untuk sang tamu.
"Ah. Bansai-kun lama tidak berjumpa! Silahkan masuk." Abuto menjadi seramah mungkin pada tangan kanan Takasugi tersebut.
"Aku datang untuk—" Belum selesai Bansai berbicara, pria itu sudah didorong (paksa) oleh Abuto untuk duduk di kursi tamu yang memang tersedia di ruangan tersebut.
"Kau ingin minum sesuatu? Kopi? Jus? Atau mungkin teh?" tawar Abuto.
"Sebenarnya—"
"Ah! Kopi pilihan yang bagus!" Lagi-lagi Abuto memotong pembicaraan Bansai. Ia juga terlihat buru-buru menghubungi bawahannya lewat intercom untuk membawakan kopi.
"Hari ini aku datang—"
"Ahahahaha! Bisa kau tunggu sebentar? Mereka bekerja sangat lambat. Kurasa kopinya akan datang sebentar lagi."
"Tidak masalah dengan kopinya. Aku ingin—" Bansai tetap mencoba untuk mendapatkan kesempatan bicara kali ini.
"Kopi dicuaca seperti ini memang sangat baik bukan?" sela Abuto.
Walau disela beberapa kali, Bansai tetap tenang. "Kita berada diluar angkasa Abuto-dono. Cuaca tidak berpengaruh apapun."
Wakil Ketua Divisi 7 Harusame itu langsung gugup. Ia mengutuk dirinya sendiri karena dengan bodohnya mengambil pembicaraan soal cuaca, ini bukan talk show murahan seperti yang ia sering lihat di televisi!
Bansai yang melihat Abuto keki saat itu juga langsung mengambil kesempatan berbicara dan beranjak bangun dari kursinya untuk menyerahkan beberapa hal.
"5 jendela pecah. 10 pintu rusak, ah, itu termasuk pintu ruanganku dan ruangan Shinsuke. 1 kulkas rusak serta 5 kg roti sebagai persediaan selama sebulan habis. Kuharap Divisi 7 Harusame bisa melunasi semuanya sebelum bulan depan karena kami harus menyusun anggaran belanja. Harusame tidak akan menghindar dari hal ini karena kita berdua masih sama-sama memiliki kepentingan bukan?" Bansai tersenyum penuh arti. Namun itu sama sekali tidak membuat Abuto merasa senang.
"Kalau begitu aku undur diri sekarang." Saat Bansai mengatakan hal tersebut dan meninggalkannya, Abuto tidak merespon dan membiarkan pria itu pergi begitu saja.
Salah satu bawahan Abuto datang membawa kopi dengan tergesa-gesa. "Ah, Bansai-san? Bagaimana dengan kopinya?"
"Berikan itu pada Abuto-dono, kurasa ia lebih membutuhkan hal itu sekarang."
.
.
.
Abuto hendak merapikan rambutnya. Berharap hal itu bisa membuatnya berpikir lebih jernih untuk menemukan penyelesaian bagaimana membayar semua kerusakan di Kiheitai yang ditimbulkan oleh Kamui. Namun itu tidak serta merta dapat membuat pikirannya lebih baik.
Beberapa helai rambut terlihat di sela-sela jari yang ia gunakan untuk merapikan rambut.
"Ini tidak baik. Aku harus pensiun dari pekerjaan ini secepatnya atau aku akan berakhir seperti Umibouzu."
4. Final.
Matako menghela nafas panjang. Diam – diam ia merasa bodoh karena mengikuti rencana salah satu senpainya tersebut. Harusnya ia sadar sejak awal jika ia bersama Takechi, hal- hal aneh saja yang terus berdatangan.
"Senpai, kau seorang penyusun strategi bukan?"
"Benar. Mengapa kau bertanya kembali?"
"Tentu saja aku bertanya kembali! Kau penyusun strategi bukan? Buat rencana yang lebih baik dari ini!" protes Matako.
"Matako-san, sebaiknya kau tenang atau rencana kita akan berantakan." Takechi menanggapi dengan kalem. Tidak peduli seberapa kesal wanita itu padanya sekarang.
"Tapi tidak dengan begini juga! Kukira kau punya rencana yang lebih baik! Bahkan anak sekolah dasar pun dapat memikirkan ini, Takechi-hentai!" Matako berniat untuk menghajar pria yang berada di sampingnya kini. Namun karena gerakannya terbatas ia sama sekali tidak bisa melakukannya.
"Hentai janai!" Takechi tidak terima dipanggil seperti itu. Berapa kali ia harus mengingatkan kouhainya ini untuk memanggilnya dengan nama yang baik dan benar? "Ini rencana sempurna yang telah kupikirkan berkali-kali," lanjutnya.
"Dan kau pikir bersembunyi di dalam boks besar di depan pintu ruangan Bansai-senpai adalah rencana yang sempurna?!"
"Hanya orang bodoh yang menganggap rencana ini tidak sempurna," balas Takechi tidak kalah sarkastis.
"Kau yang bodoh, dasar lolicon!"
"Sudah kubilang aku seorang feminist! Dengan rencana ini kita akan dapat menangkap Bansai-san dengan cepat dan tepat."
Mendengar hal itu Matako hanya memberikan tatapan mengejek, "Aku tidak mengerti mengapa rencana murahan seperti ini bisa membuat seorang hitokiri seperti Bansai-senpai dapat tertangkap."
"Karena itu kukatakan hanya orang bodoh saja yang menggangap rencana ini tidak sempurna."
"Ingatkan aku untuk membunuhmu nanti, Takechi-hentai. Bersiaplah!"
Takechi tidak terlalu peduli saat Matako mengancamnya seperti itu dan pria itu tetap melanjutkan penjelasannya, "Rencananya begini, Bansai-san akan datang kembali dari urusannya di Edo hari ini. Tentu saja ia akan kembali ke dalam ruangannya untuk beristirahat sejenak dan saat ia masuk, ia akan sadar jika ada sebuah boks besar dengan pesan 'Hadiah untuk Tsunpo-san' – Otsu. Dengan begitu, ia akan menjadi penasaran dan mendekati boks ini. Saat ia mendekat, kita akan menangkap pria itu dan mengungkap rahasianya!"
"Tidak perlu kau jelaskan pun aku sudah tahu!" Matako merasa sia-sia mendengar semua penjelasan itu dari Takechi. "Aku akan pergi, rencana ini tidak akan berhasil!" Matako berniat untuk beranjak dari posisinya di dalam boks tersebut namun Takechi buru-buru menahannya.
"Sst! Seseorang datang kemari."
"Eh, Bansai-senpai datang secepat ini?!" Sesaat setelah kekagetannya tersebut. Matako langsung menutup mulutnya karena sadar ia telah berbicara terlalu keras. Dan benar, suara langkah kaki seseorang terdengar dari luar ruangan.
"Kau akan terlihat sangat mencurigakan jika keluar sekarang."
"Lalu apa yang harus kulakukan?" Tanpa sadar Matako menjadi panik. Harusnya ia keluar sejak tadi tanpa berdebat dengan pria lolicon di sampingnya ini. Tapi yang namanya penyesalan memang selalu datang diakhir.
"Diam dan lakukan saja seperti apa yang kukatakan tadi," ujar Takechi.
"Kau serius?!"
"Sst!"
Langkah kaki itu semakin dekat dan pintu ruangan sang produser musik itu pun terdengar bergeser pelan.
Dan langkah kaki yang mendekati boks penyamaran Takechi dan Matako juga semakin terdengar jelas. Target penangkapan mereka saat ini sudah berada di depan mata!
"Sekarang!" seru Takechi memberi aba-aba dan mereka menyerang dengan cepat. Sama sekali tidak membiarkan target mereka untuk kabur.
"Tertangkap kau sekarang Bansai-senpai! Kali ini aku akan mengungkap rahasia itu! " seru Matako.
.
.
.
"Apa yang kalian maksud dengan rahasia?"
Target mereka, Kawakami Bansai, sedang berdiri dengan keadaan baik-baik saja di depan pintu. Dengan raut pokerfacenya, Bansai menatap Matako dan Takechi yang kelihatan keki.
"Bisakah kalian berhenti melakukan hal-hal bodoh?" Pria yang mereka tangkap kini terlihat geram. Rambut dan pakaiannya tampak berantakan karena aksi yang ia anggap kurang ajar tadi.
.
.
.
"SHINSUKE-SAMA?!"
Aura ruangan itu langsung menggelap. Takasugi sudah bersiap – siap untuk menghunus pedang yang sempat ia bawa tadi.
"Seppuku. Sekarang."
"Ano, Shinsuke. Kurasa itu line milik Hijikata-san." Bansai mengingatkan kembali agar Takasugi tidak terlalu out of character dalam fanfic ini.
"Aku tidak peduli! SEPPUKU!"
"HIIII!"
Satu hari yang menyeramkan (lagi) bagi ketiga anggota Kiheitai di bawah pimpinan Takasugi Shinsuke.
Fin.
Note :
Sebenarnya saya berharap fic ini bisa sampai 5 chapter atau lebih tapi nyatanya Tuhan berkata lain /plak/. Karena saya harus memulai hiatus saya untuk 6 bulan ke depan lebih cepat :")
Dan sebenarnya (lagi) ini bukan true ending dari fic ini. True endingnya lebih kompleks dan sebenarnya saya masih ragu-ragu untuk menulisnya karena takut malah jadi out of character. Jadi berhubung penyelidikan Matako sudah selesai chapter ini. Kita anggap saja fic ini End ya /tabok berjamaah/
Dan fic ini just for fun kok. Saya cuman ingin mendekatkan kalian pada Mas Taka, Abang Bansai, Neng Matako, Om Lolicon, Om Abuto sama Mas Kamui karena mereka sendiri jarang dapat screentime di manga dan animenya (Dan mereka baru comeback tahun ini). Jika ada character kesayangan kalian yang OOC banget disini saya mohon maaf *bow*. Tapi saya membuatnya dengan sepenuh hati (eaaaa) dan semoga 3 chap ini bisa menghibur kalian. ( Gak yakin sih juga karena 3 chapter ini semuanya garing pake banget )
Oke. Sekarang waktunya sapa tamu-tamu kita yang sudah mengisi kotak review!
1. Anon-san
Taka kebelet pengin tinggi :v / kena tebas/
Terima kasih sudah membaca chapter 1 dan 2, Anon-san!
2. Ernykim-san
Sebenarnya Bansai cuman pengin ngegodain Takasugi aja kok /eaaa/ Pengin lihat reaksinya si doi waktu harus gendong Matako /lol/
Terima kasih sudah membaca chapter 1 dan 2, Ernykim-san! Semoga chapter 3 bisa menghibur kembali!
3. Karikazuka-san
Kiheitai bisa bangkrut kalau perawatan Takasugi tiap bulan begitu /lol/ Seperti yang dikatakan oleh Anon-san, Bansai cuman lagi pengin jahil /plak/
Fic ini masih lanjut hingga chap 3! Terima kasih sebelumnya sudah membaca chapter 1 dan 2! Semoga chapter 3 bisa menghibur Karikazuka-san!
4. Kuroiji Kazuha-san
AAAAA! (scream) /plak/
Sini, sini! Saya juga penggemar BanTaka! Yey! *tabor confenti*
Saya juga author baru disini kok jadi, ayo kita belajar bareng! Ayo kita juga tebarkan virus BanTaka lewat fanfic! *evil smile* /tabok/
Saya menanti fanfic Kazuha-san! ( Kalau bisa fanficnya BanTaka ya /tampar/)
Terima kasih sudah membaca chapter 1 dan 2! Semoga chapter 3 bisa menghibur Kazuha-san!
Dan juga terima kasih untuk kalian yang sudah sempat membaca kembali namun tidak sempat memberi review! *bow*
Walaupun ini chapter terakhir, tetap tinggalkan review agar selanjutnya saya bisa memberikan fanfic berkualitas untuk kalian baca :)
Warm Regard
Akane Ukitake.
P.S : True endingnya akan jadi oneshot setelah saya balik hiatus :)
P.S.S : Dan kemungkinan besar menjurus ke BanTaka, walau skenario awalnya tetap melibatkan semua anggota Kiheitai.
THANK YOU!
