Yeay, sudah chapter ketiga.. terimakasih lagi untuk BeibiEXOl...
Plagiator not allowed! Go away please! This my fanfic.
.
.
.
Tepat ketika Alyssa keluar dari kamar mandi, smartphonenya di ranjang berdering. Gadis itu meliriknya, tercantum nomor yang tidak ia kenal disana. Alyssa mengabaikannya, ia berdiri di depan cermin sembari mengeringkan rambutnya.
Dari beberapa menit kemudian, handphone pintarnya tetap tidak berhenti berbunyi. Gadis itu meraihnya, ia menyentuh layarnya dan segera mendengar suara pemanggil keras kepala itu.
"Hallo alyss?". Gadis itu melirik bosan nomor di handphonenya, ia menghela nafas mengetahui siapa pemilik nomor itu. "Bukan berarti aku memberimu nomor telponku kau bisa dengan seenaknya menelponku alex".
Pemuda diseberang tertawa ringan, namun suara tawa itu segera enyah ketika Alyssa mematikan sambungannya. Gadis itu menyeringai kemudian melempar handphonenya di ranjang. Perempuan akan benci ketika masa dirinya bersantai untuk merilekskan tubuh pegal-pegalnya dengan wewangian bau mandi dan lotion beserta perawatan kecantikan lainnya. Gadis itu akan mengenakan baju atasnya namun terhenti karena dering handphonenya kembali. Dengan cepat gadis itu menyambar handphonenya tanpa melihat siapa pemanggilnya kali ini.
"Mau apa lagi?". Tidak ada jawaban, Alyssa mengerutkan kening kemudian ia melirik handphoenya. Ada nama Paman Bobby disana.
"Ah hallo paman, apa kabar?". Cicitnya malu. "Apa kau seperti diganggu seseorang? Di teror?".
Gadis itu duduk di ranjang, ia melihat tampilan dirinya di cermin meja tempat kosmetiknya. "Hanya temanku yang berbuat iseng paman".
Pria tua disana menghela nafas, dari suaranya terdengar jelas bahwa pamannya itu benar-benar sedang lelah. "Baiklah, aku percaya padamu. Bagaimana kabarmu disana? Maaf kami tidak menghubungimu ketika sudah berada di Sydney".
Alyssa tersenyum, senang karena ia mendapat kabar pamannya yang baik-baik saja. Ia merindukan paman dan bibinya sangat, setiap hari gadis itu memikirkan keadaan kedua orang tersebut yang belum juga memberinya kabar. "Tidak apa-apa paman, aku baik saja. Bagaimana dengan paman? Bibi?".
"Kami baik-baik saja, ah sebentar paman sedang ada perlu". Alyssa akan menjawab namun sambungan dimatikan. Gadis itu mengeriyit khawatir namun ia berpikir positif. Setelah meletakkan handphonenya kembali, Alyssa memakai baju atasnya dan berlenggang mendekat ke kaca bersiap untuk kuliah malam. Ia menilai penampilannya, kemeja biru dengan celana jeans dan rambut yang ia ikat. Sepatu allstar-nya tidak ketinggalan, seperti biasa.
Malam ini ada kuliah dengan dosennya yang menyebalkan. namun gadis itu tidak pernah mempermasalahkannya, dan lagi ia menyukai udara malam maka tidak ada alasan untuk membolos. Ketika pintu flatnya ia buka sebuah kejutan ada disana. Zoe—penguntit di market kemarin lusa tersenyum dengan bajunya yang terlihat lebih baik dari pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya.
Pemuda itu tanpa permisi masuk melewati Alyssa dan duduk di sofa ruang tamu. "Kau ingin berdiri terus disana? Kemarilah, aku ingin berbicara denganmu". Tidak ada tindakan lain lagi selain menuruti permintaan pemuda itu dan segera mengusirnya.
"Aku akan kuliah, lebih baik cepat keluar". Zoe meliriknya kecewa, pemuda itu berdiri dan mendekat ke Alyss. "Padahal aku ingin berbicara denganmu". Pemuda itu menghela nafas sedih namun detik kemudian ia tersenyum. "Tapi baiklah aku akan mengantarmu".
Alyssa tidak dalam posisi yang baik untuk menolak, ia hanya diam ketika pemuda itu menyeret lengannya. Tidak ada waktu berdebat karena beberapa menit lagi dosennya akan segera mengajar.
Mengantar dalam artian ditemani berjalan ke kampus, itu adalah kamus Zoe. Alyssa bukan gadis pecinta uang atau bahkan kemewahan yang berharap diantar kemana-mana dengan mobil. Ia justru lebih menyukai berjalan kaki, lagipula jarak kampusnya tidak jauh. Buat apa buang-buang uang, pemandangan kota sayang dilewatkan apalagi udara malam seperti ini. Namun yang sangat ia sayangkan adalah sekarang, berjalan seperti ini dengan Zoe akan menambah ketelatan dirinya masuk ke kelas. Kelas telah dimulai 10 menit yang lalu dan jarak ke kampusnya masih beberapa meter lagi.
"Zoe, bagaimana kalau sampai disini saja? Aku akan telat masuk kelas". Pemuda itu meliriknya, raut wajahnya terlihat cemas namun kemudian ia tersenyum. "Baiklah, berjalanlah lebih dulu, aku akan berjalan dibelakangmu". Gadis itu menghela nafas, ia menendang-nendang kecil kerikil di jalan. Alyssa seorang dari jurusan psikolog oke, ia tau ada sesuatu yang ingin Zoe katakan. Maka gadis itu akan merelakan mata kuliahnya kali ini untuk Zoe.
"Alyssa?". Dan gadis itu benar-benar merelakan membolos untuk kali ini.
.
.
########
.
.
Alyssa diam mengaduk minumannya, sebenarnya ia tidak mengerti kenapa ia merelakan membolos demi kedua pemuda yang duduk di depannya ini. Jika gadis itu bisa, ia akan mengabaikan mereka dan sekarang telah berada di kelasnya. Namun entah, ada sesuatu dari kedua pemuda itu yang menarik perhatiannya.
"Jadi kau siapa?". Zoe melirik pemuda disebelahnya, pemuda itu menyeringai dan tersenyum meremehkan. "Kenalkan aku Alex".
Zoe hanya mengangguk, ia melirik Alyssa sekilas yang mengaduk minumannya dengan diam kemudian kembali menatap Alex. "Apa hubunganmu dengan Alyss?"
Alex menghendikan bahu, pemuda itu menyentuh tangan Alyss untuk berhenti mengaduk minumannya. "Jangan diaduk, minumlah". Alyssa tidak mengindahkannya, gadis itu melirik tajam pada Alex. "Sekarang apa yang ingin kalian katakan? Aku akan mendengar, cepatlah. Atau aku akan pulang".
Kedua pemuda itu terdiam, sebenarnya mereka juga tidak mengerti apa yang akan mereka katakan. Mereka hanya ingin bertemu Alyssa mungkin.
"Aku lupa apa yang akan kusampaikan, mungkin lain waktu". Zoe berdiri dari duduknya, pemuda itu dari awal sudah merasa tidak nyaman dengan kehadiran Alex yang seperti ingin... bersaing?. Apapun itu moodnya menjadi buruk. Maka ia mengusap pipi Alyss sebagai perpisahan sebelum pemuda itu menghilang di kegelapan.
Alyssa juga akan berdiri namun Alex kembali mendudukannya kembali dikursinya. "Dia pacarmu?". Gadis itu menggeleng, "Bukan, dia seorang teman sepertimu".
"Tapi kenapa kau hanya diam ketika dia mengusap pipimu?".
Alyssa meliriknya dengan marah, "Apa urusanmu? Bahkan kau pernah menciumku tiga kali". Dan skak mat. Alex tersenyum kikuk di kursinya.
"Jadi apa yang ingin kau katakan alex?". Alyssa telah mengontrol kembali emosinya, gadis itu menyender pada kursinya menatap Alex yang kini duduk tenang.
"Sebenarnya tidak ada yang ingin kukatakan, hanya saja aku tidak menyukai pemuda itu".
Alyssa mengeriyit, Zoe? Ada apa dengan pemuda itu memang. Tidak ada alasan untuk membencinya kecuali satu. "Apa kau tau dia adalah pencuri?".
Alex menghendikan bahu, pemuda itu menyesap cappucinonya. "Ya, yang namanya pencuri tetaplah pencuri sebaik apapun dia".
"Aku tau, tapi dia berbeda".
Alex menatapnya tajam, ia adalah tipe pria tidak suka dibantah. "Apa yang berbeda? Jangan melihat tampilan luarnya, dia mungkin merencanakan sesuatu dibelakangmu".
"Bagaimana denganmu? Bukankah kau sama saja? Sama-sama merencanakan sesuatu". Alyssa menatapnya tajam, gadis itu tidak akan jera hanya dengan tatapan tajam macam itu. Ia sudah biasa diperlakukan mengintimidasi oleh pamannya sejak kecil.
"Ya, aku memang merencanakan sesuatu tapi itu sesuatu yang baik bukan seperti—"
Alyssa berdiri dari duduknya, ia menyambar tasnya cepat. "Aku tidak menyukai orang yang menjelek-jelekan orang lain didepanku, biarkan aku tau sendiri apa yang terjadi".
Alex hanya terpaku diam, pemuda itu menghela nafas lelah. Ia merenggangkan badannya kemudian menatap kepergian Alyss. "Wanita berbeda memang sulit didekati". Lirihnya dengan menyeringai.
.
.
#########
.
.
Dikamarnya yang gelap, Alyssa mengeratkan selimutnya. Udara dari jendela yang ia buka benar-benar membawa dampak dingin, apalagi dari lantai 8. Gadis itu masih membuka matanya. Ia me-repeat ingatannya tentang kejadian pertama dimana dirinya bertemu Alex dan Zoe hingga saat ini. Dari itu semua ternyata penuh dengan kejutan-kejutan yang tak pernah ia bayangkan. Yang ia herankan bagaimana dengan mudah dan santai ketika tidak ada perlawanan dari dirinya saat Alex menciumnya dan saat Zoe berbuat seenaknya sendiri.
Alyssa hanya berpikir bahwa itu semua kebetulan dan mengabaikannya, namun ia salah. Pertemanan mereka berlanjut hingga sekarang. Ia tidak mempunyai alasan untuk menolak ataupun menghindar dari mereka. Ia justru menyukai dimana dirinya mendapatkan sesuatu yang menantang seperti sekarang. Dengan begitu ia akan bertambah dewasa.
Gadis itu tidak terlalu memikirkannya, matanya telah sayu dan ia kemudian tertidur.
.
.
.
Di dalam rumahnya, Alex sudah biasa dengan kesunyian. Pemuda ini bukanlah pemuda yang menyukai berteman berlebihan. Yang ia lakukan selama masa hidupnya adalah bermain dengan uang, bermain perempuan dan hal-hal lain seperti itu.
Pukul dua dini hari ia belum terlelap, ia akan mendengarkan musik dengan headphonenya hingga pagi menjelang. Barulah ketika pagi ia akan tertidur. Ia tidak menyukai membolos ketika kuliah. Yang perlu menjadi catatan penting adalah Alex seorang pemuda cerdas dan pintar. Walaupun ia hanya tidur dua jam sekalipun itu ia tidak tidur, ia akan tetap kuliah. Karena kuliah dari dulu adalah prioritas utamanya.
Ketukan dipintunya membuatnya melepaskan headphonenya, ia menoleh dan menemukan kepala asisten rumah tangga berdiri di pintu. "Tuan, nyonya memberi kabar bahwa ia tidak akan pulang selama beberapa bulan". Alex mengangguk, "Tolong beritahu ibukku, jaga kesehatan".
Paman Dani mengangguk kemudian undur diri dengan pintu yang kembali tertutup.
Alex menghela nafas, ia melempar tubuhnya ke ranjang. Matanya menatap langit-langit atap, ia sudah hafal ibunya akan seperti itu.
.
.
Tbc
.
.
Review tolong, saya membutuhkan kejujuran kalian. Pembaca yang baik adalah pembaca dengan pendapatnya.
