a/n: hello, im back with chapter 3 buat kalian yang menunggu*emang ada?* disini mungkin bakal agak gimana-gitu ceritanya hehe, tapi semoga kalian bisa mengerti dan suka ya. enjoy!


A DEAL

by

daikota-akira

chapter three

"Dasar percaya diri."gumam Hermione. Draco terkekeh. Hermione tanpa basa-basi lagi menyerahkan undangan itu kepada Draco. Draco membukanya sejenak lalu membaca sekilas. "Si Potter akan menikahi si Ginny dari keluarga miskin itu?"tanya Malfoy tak acuh sambil meminum vodka ringan nya. "Ginny Weasley, idiot."

"Aku tahu. Kau pikir aku tidak bisa membaca?"katanya, menatap Hermione dengan tatapan menantang. Hermione berdecak, "Kalau kau tahu, kenapa tetap memanggilnya seperti itu?"

"Hanya suka,"

"Apa?"

"Mengerjaimu."

Hermione menyilangkan kedua tangannya didepan dada. "Sebaiknya kau berhati-hati dengan perkataan mu super payah itu."

"Kenapa?"

"Nanti kau akan benar-benar suka,"

Draco tersenyum mengejek, "Aku memang suka mengerjaimu sejak dulu, Granger."

Hermione menatap Draco yang juga menatapnya balik, ia tidak yakin mengapa ia pernyataan super konyol ini terlontar dari mulutnya.

"Maksudku, dengan ku, Malfoy."kata Hermione. Dan ia juga tahu, respon berikutnya yang ia dapatkan adalah cemohan hina dari si darah murni dengan rambut pirang platina itu. "Sebaiknya kau yang hati-hati, Granger. Aku bisa membuat mu jatuh cinta dengan ku dengan mudah." Kini giliran Hermione yang tersenyum tipis. Jantung nya sedikit terpacu saat ia memikirkan sederet kalimat yang mungkin akan membuat si pirang ini memberikan respon yang terduga.

"Berarti kau juga pandai membuat seorang pria jatuh cinta dengan mu?"

"Aku benar-benar akan membuatmu jatuh cinta dengan ku malam ini juga kalau kau mengucapkan hal itu sekali lagi."katanya dengan suara dalam, tatapannya lurus kedepan, hingga Hermione tidak dapat menangkap raut wajahnya. "Kalau begitu jangan, tidak terimakasih. Aku akan pergi sekarang. Harry bilang ia mengundang seluruh angkatan kita. Disana kau mungkin akan bertemu dengan teman-teman Slytherin mu."katanya sambil bangkit dari duduknya.

"Kau sendiri, apa kau datang?"tanya Draco yang membuat Hermione terhenti dan memikirkan pertanyaan barusan, "Belum tahu."kata Hermione kembali terduduk diatas kursi bartender itu. Hermione memang belum tahu apa keputusannya. Memikirkannya untuk barang sedetik tidak pernah terlintas di otaknya lagi untuk kembali kedunia sihir. Meskipun selama tujuh tahun ia bersekolah di Hogwarts, bertemu Harry, Ron, dan keluarga Weasley adalah suatu pengalaman dan anugerah yang tak terbayarkan baginya, dan menjadi penyihir sendiri Hermione tidak pernah sekalipun menyesali jati dirinya. Tapi Hermione juga tahu, sekeras apapun Hermione tidak memikirkan untuk kembali ke dunia sihir, saat-saat seperti ini pasti akan datang juga, dimana ia ditempatkan di suatu situasi saat ia harus kembali kedunianya sebagai penyihir suatu hari nanti. Orang tuanya menjadi faktor utama Hermione menolak keras pemikiran bahwa ia harus kembali ke dunia sihir. Kedua, adalah Hermione merasa bersalah atas kematian penyihir-penyihir saat masa perang 10 tahun yang lalu, padahal ia sadar betul itu bukan salahnya. Dan kini keinginannya untuk tidak kembali ke dunia sihir makin diperkuat dengan berita bahwa Ron dan Lavender berpacaran. Ia tidak bisa membayangkan akan secanggung apa nantinya. Percayalah, Hermione bukan orang yang tidak percaya diri. Tapi untuk hal ini Hermione seperti dilanda krisis kepercayaan diri. Hermione Granger ini terlalu takut untuk menghadapi apa yang akan ia hadapi nanti bila ia bertemu dengan Ron. Apakah ia harus menyapa Ron? Meminta maaf? Atau berterimakasih? Percayalah pertanyaan barusan kerap menyerang otaknya bak udara yang memenuhi ruangan tanpa batas, sampai Hermione pusing sendiri memikirkannya.

"Apa karena si miskin satunya itu?"seringai Draco mulai mengerjai Hermione. Hermione mendengus tidak suka.

"Siapa maksudmu?"katanya ketus.

"Ronaldo, Ronia, Ronaldi-atau siapalah itu,"

"Namanya Ronald, bodoh."

"Ah.. jadi karena dia,"kata Draco mengusap dagunya sendiri, merasa puas. "Aku tidak bilang karena dia."sergah Hermione

"Terserah." Kekosongan menyelinap masuk diantara mereka berdua, nyatanya diskotik itu masih sangat berisik. "Apakah ini pertama kalinya pergi kesana bagimu sejak rezim voldemort jatuh?"tanya Draco. "Sebenarnya, ya."aku Hermione. "Kau juga, kan?"

Draco mengangguk, "Well, tidak ada alasan lagi untuk pergi kesana. Disini lebih menyenangkan. Tak kusangka, teknologi muggle luar biasa, dan minuman mereka tidak buruk. Ngomong-ngomong, Granger, kau adalah orang itu kan?"tanya Draco penasaran. Hermione mengerjapkan matanya, menoleh menatap Draco. Belum menangkap maksud pembicaraannya.

"Maksudmu?"

"Kau adalah si CEO sekaligus designer misterius itu kan?"

Hermione menunggu dengan penuh selidik, menatap baik-baik raut wajah Draco. Apakah Malfoy tau? "Aku sudah tahu, Granger. Sejak brand supermahal H&G itu keluar di produk pasaran, aku tahu itu milikmu, dan kau yang membuatnya, kan?" Draco menatap Hermione yang terlihat gusar. Hermione sendiri tahu, tidak akan ada gunanya ia mengelak. Malfoy terlalu pintar untuk itu.

"Kau tidak berniat membeberkan identitas ku pada media, bukan?"

"Itu yang menjadi pertimbanganku, informasi mu di media massa di seluruh dunia sangat mahal, kau tahu."kata Draco sambil menyilangkan tangannya didepan dada, menatap Hermione balik dengan senyum licik.

"Malfoy, jangan bermain-main dengan ku,"

"Kenapa, Granger? Apa yang kau sembunyikan? Seluruh dunia mencari informasi wanita dibalik pemilik merk misterius H&G, kau tahu kudengar brand lain hampir bangkrut karena brand mu itu sangat populer belakangan ini, dan kurasa aku beruntung mendapatkan informasi ini."

"Malfoy, berjanjilah dengan ku kau tidak akan memberitahu siapapun atau-"

"Atau apa? Kau akan meninju ku tepat di hidung seperti diwaktu kita kelas 3 di Hogwarts?" Hermione terdiam, ia tahu ini bukan saatnya untuk marah-marah ataupun mengancam kepada Malfoy. Mengancam Malfoy sama saja bunuh diri baginya diposisi ini. Klan Malfoy selalu licik. Yang bisa ia lakukan kini hanyalah membujuk ferret ini untuk menutup mulutnya.

"Kenapa, Granger? Kenapa kau menyembunyikan identitasmu?"tanya Draco penuh selidik.

Hermione mendengus tidak suka sambil menoleh kearah lain. Tidak suka dengan Malfoy yang berusaha untuk mengetahui kehidupan pribadinya. Faktanya, lelaki disamping nya ini adalah orang asing baginya. "Aku akan melakukan apapun, asal kau tidak mempertanyakan ataupun membeberkan hal itu,"ucap Hermione, berusaha untuk bernegoisasi dengan Malfoy yang terkenal licik dalam bernegoisasi. Dan dirinya sendiri, padahal payah dalam bernego. Draco Malfoy tersenyum licik. Bak menangkap tikus dalam perangkap, ia seperti menggenggam dunia mendengar tawaran Hermione barusan.

Granger, kau mungkin memang pintar, tapi aku lebih pintar dari mu.

000

"Apa? Kenapa kau menandatangani kontrak kerja sama dengan Malfoy Corps itu?"tanya Hermione gusar, matanya menelusuri sebuah dokumen ditangannya, sambil ia membolak-balik berkas yang telah ia tandatangani atas nama Draco dan H&G Fashion Company, perusahaan dibidang fashion yang telah ia bangun selama 5 tahun.

"Maaf, Miss-"

"Kenapa kau tidak bertanya pada ku dulu sebelum aku menandatanganinya pagi tadi?"potong Hermione gusar, ia pusing sekali rasanya kepala ini mau meledak.

Sekertaris yang telah bekerja dengannya selama 5 tahun itu hanya menunjukan ekspresi bersalah. "Tadi pagi aku sudah menjelaskan sejelas-jelasnya, tapi sepertinya kau tidak fokus," Hermione menutup dokumen itu, kemudian menatap assisten nya sedikit merasa bersalah, "Apa kerjasama ini benar-benar tidak dapat di cabut?"

Wanita muda bersurai hitam itu menggeleng pasrah, "Aku sudah mengirimkannya kembali ke Malfoy Corps. Bila kita mencabut kerjasama ini, kita akan dituntut dan dikenai denda. Malfoy Corps bukan perusahaan yang main-main, Miss." Hermione mengangguk sebelum ia benar-benar menghela nafas berat. "Maaf Miss, tapi sejauh ini menurut aku, tidak ada ruginya dengan kerja sama ini, Malfoy Corps salah satu dari 10 besar perusahaan terbaik di dunia sejauh ini. Maka dari itu, keputusan untuk bekerja sama dengannya bukanlah hal yang buruk, terlebih brand Miss. Granger sedang hangat-hangatnya di dunia fashion. Dan juga CEO Malfoy memiliki relasi yang sangat luas dengan media, public, maupun perindustrian, bisa meningkatkan pamor perusahaan, beliau memiliki impact yang luar biasa."

"Oke, aku tahu tujuan mu baik, terimakasih Evelyn."

Evelyn mengangguk, "Lagipula Miss, Mr. Malfoy sangatlah tampan, demi tuhan." Hermione memutar bola matanya, jangan bilang-jangan bilang asistennya pun juga memuja si berang-berang itu. Hermione kembali menatap kertas perjanjian yang telah ia tandatangani pagi hari tanpa ia lihat isinya terlebih dahulu, kemudian memejamkan mata dan bersandar pada kursi kerjanya. Memikirkan kembali permintaan Malfoy semalam.

"Granger, bekerja sama lah dengan perusahaan ku."

Hermione tidak menjawab ya ataupun tidak. Hermione bilang ia akan memikirkannya.

"Pikirkan tentang identitas mu yang berharga itu juga, Granger."

Terjemahannya adalah:

"Kau harus mau bekerja sama dengan perusahaan ku kalau kau tidak mau identitasmu ku beberkan."

Dan pagi tadi, Evelyn, asistennya menyodorkan dokumen yang perlu ia tandatangani, dan langsung ia tandatangani tanpa melihat lagi. Tak disangka isinya adalah ia menyetujui kerjasama dengan Malfoy Corps.

000

Hermione tengah serius mencari-cari informasi selengkapnya di internet tentang Malfoy Corps melalui laptopnya, dengan emosi yang meletup-letup, dan saking serius nya, sampai-sampai ia tidak mendengar satu ketukan, dua ketukan, suara panggilan. Terakhir, ketukan tidak sabar sekaligus panggilan akan tingkat kegusaran seseorang yang makin menghilang.

"Granger, buka pintu kerjamu atau aku akan membombardanya!"

Hermione tersentak. Ia bangkit seraya menggebrak meja. Hal yang dari dulu Hermione tidak sukai sejak di Hogwarts, apabila seseorang mengganggu waktu nya yang berharga. Ia berjalan cepat menuju pintu kayu yang terletak 4,5 meter dari meja kerjanya yang berantakan, suara ketukan antara lantai dan heels nya yang setinggi 6 centi itu terasa memekakan telinganya sendiri. Ia memegang gagang pintu, lalu menariknya dengan tenaga yang dirasa tidak perlu dikeluarkan sebesar itu.

Draco Malfoy menyeringai puas telah berhasil membangunkan singa dari tidurnya, melihat ekspresi Hermione yang tengah menatapnya tajam, yang siap membunuhnya saat itu juga membuat Draco puas dengan caranya tersendiri. Ia siap menerima serentetan kalimat makian yang akan keluar lancar dari mulut Hermione.

"Tidak kah kau memiliki tata krama yang diajarkan oleh keluarga darah murni mu itu untuk sekedar mengetuk sebelum masuk kesebuah ruangan kerja seseorang?"tanya nya tanpa jeda sambil berbalik masuk tanpa menghiraukan Draco yang ikut memasuki ruang kerjanya juga.

"Well, jadi ini ruang kerja seorang Golden Gryffindor? Aku tidak menyangka kau rela melepaskan dunia yang selama tujuh tahun menjadi nafas mu dan kini kau menempati ruang kerja seperti ini."komentar Draco pedas, sembari menempatakan dirinya duduk disofa mewah dan melihat isi ruangan yang rata-rata bernuansa krem ini.

"Kita akan bercakap seputar kerjaan saja oke."kata Hermione duduk dihadapan Draco.

"Kenapa kau menolak tawaranku untuk diadakan meeting?"tanya Draco. Hermione menatapnya malas, "Ah, ya. CEO misterius yang identitasnya paling dicari didunia ini."

"Kenapa kau datang?"

"Aku ingin melihat keseriusan rekan ku dalam menjalin kerjasama dengan perusahaan ku, Granger."ujar Draco dengan suara yang dalam.

"Kau benar-benar mau atau tidak?"tanya Draco tegas. Tanpa basa-basi.

Hermione terdiam. Ia berpikir, Hermione tahu selama 10 tahun belakangan ini tentang sepak terjang Malfoy Corps. Ya, Malfoy teman sekolahnya dulu di Hogwarts ini ternyata pintar berbisnis didunia muggle. Seluruh perusahaan di dunia ini selalu menggila memohon kerjasama dengan Malfoy Corps karena akan selalu membawa keuntungan. Perusahaan Malfoy itu benar-benar gila. Bergerak di bidang real estate, perhotelan, pertambangan, dan minyak sebagai pusatnya. Sisanya, yang masih ada banyak lagi anak perusahaan yang bergerak dibidang lain, seperti jam tangan, mobil, sepatu, setelan lelaki, ponsel pintar dan lainnya adalah anak perusahaan yang tersebar diseluruh dunia dibawah naungan Malfoy Corps raksasa.

Bisa dibilang, Malfoy Corps membawa pengaruh sangat besar dalam roda perekonomian di Inggris, bahkan mungkin lima tahun kedepan akan sangat berpengaruh di perekonomian dunia muggle ini. Hermione tidak tahu kalau Malfoy bisa secerdas ini mengatur hidupnya di dunia muggle. Malfoy itu brilian, meskipun Hermione benci untuk mengatakannya, ia tidak tahu apakah Malfoy menyempatkan untuk sekolah bisnis atau tidak, tapi sepak terjang perusahaannya sangat pesat. Dan kerja sama yang ditawarkan Malfoy terdengar sangat menguntungkan bagi H&G Fashion Company, terlebih merk fashion miliknya sedang naik-naiknya, dan ia membutuhkan support sebesar ini. Mengapa juga Malfoy menawarkan kerja sama sebesar ini pada perusahaannya yang masih anyar dalam dunia bisnis?

"Kenapa, Malfoy?"tanya Hermione penuh selidik.

"Apa?"

"Kenapa kau tertarik dengan kerja sama ini? Kau kaya raya, dan punya segalanya. Kenapa kau mau menanam saham di perusahaan ku yang masih baru ini? Apa yang kuinginkan dari ku? Kau bukan tipeku, Malfoy."rentetan pertanyaan Hermione tanpa jeda. Malfoy tertawa mengejek pelan. Hampir terbahak keras, kemudian tersenyum miring dengan tatapannya yang menyebalkan itu.

"Kau tidak berfikir kalau aku mendekatimu secara emosional, bukan?"

"Lantas? Tindakanmu terdengar tidak logis menurutku,"

"Dari sisi mana?"

"Mana-mana,"

Malfoy tertawa lagi, sementara Granger makin merenyit tidak suka melihat pria seumurannya yang menertawakannya secara tidak terhormat itu.

"Granger, aku ini pebisnis."

Hermione mengangguk, "Aku tahu,"

"Kau kehilangan otak pintar mu atau bagaimana? Kemana Granger brilian The Brighest Witch In Our Age yang dulu bersaing nilai NEWT denganku waktu dulu?"

"Malfoy…"

"Aku tahu, aku memang miliyarder, punya segalanya di anak perusahaanku. Semakin kau kaya raya, semakin banyak orang yang ingin menjatuhkan mu, Granger. Itu lah bisnis. Dan kau harus membangun relasi seluas mungkin untuk meminimalisir musuh yang ingin menjatuhkan mu. Bekerja sama dengan perusahaan mu adalah keuntungan juga bagiku, kedudukan Malfoy Corps akan menguat, terlebih lagi di bidang Fashion, perusahaan ku belum terlalu menonjol di bidang itu."

"Kenapa kau tidak membuat anak perusahaan lain yang bergerak dibidang fashion, kalau begitu?"tanya Hermione masih tidak mengerti.

"Kemudian bersaing dengan brand mu ini? Dan menutupnya? Tidak, Granger. Aku ini pebisnis, bukan designer seperti mu. Kau tidak tahu seberapa besar pengaruh brand H&G milikmu di dunia fashion ini, Granger?"

Hermione nampak berpikir, "Perusahaan ku belum sebaik itu,"

"Jangan berkecil hati begitu. Kemana jiwa Gryffindor mu yang percaya diri itu? Sekarang, brand milikmu adalah kiblat fashion dunia muggle ini. Bekerja sama dengan perusahaan mu adalah keputusan terbaik yang kubuat. Dengar, kita bisa menguasai pasar fashion di dunia dengan perusahaan ku yang mengelola brand lelaki dan kau perempuan, jadi kutanya lagi. Kau mau atau tidak?"

Hermione terdiam, ia tahu jawabannya adalah ya. Ia tidak punya pilihan. "Diam, kuanggap ya. Wanita selalu seperti itu, merepotkan."cibir Draco. Keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa detik. Hermione sibuk dengan membaca dokumen kerja sama mereka, dan Draco dengan ponselnya. Hingga Draco kembali berujar memecah keheningan.

"Granger, tinggal seminggu lagi."

Hermione mengerjap, apalagi yang si ferret ini bicarakan, "Apa?"

"Pernikahan si Pot Heads,"

"Harry, maksudmu?"

"Tentu. Yang pasti bukan pernikahan kau dan aku,"

Hermione memutar bola matanya malas, memandang rendah si miliyarder menyebalkan ini. Ini sedikit membuatnya nostalgia, saat dimana ia dan Malfoy belajar bersama di asrama yang sama, dan Malfoy sering mengganggunya dengan kata-kata tidak penting.

"Aku telah memikirkannya. Dan memutuskannya."

"Apa?"

"Ayo kedunia sihir bersama."

.

.

to be continued


Oke chapter ini aku jelasin dikit ya. Disini karakter Hermione meluncurkan brand ternama di dunia fashion namanya H&G, brandnya itu langsung populer di masyarakat peminat fashion sejak peluncuran pertamanya, dan brandnya itu kira-kira seterkenal dan sekelas Gucci dan Channel gitu wkwk. Dan untuk Draco, dia punya Malfoy Corps, perusahaan yang gede banget di dunia yang bergerak di bidang macam-macam. Dan kerjasama mereka ini kerja sama di bidang fashion, kira-kira seperti itu lah :V

Anyways, terimakasih yang sudah baca dan memberikan review di chapter kemarin, aku tersenyum-senyum sendiri baca reviewnya . Semoga suka chapter ini ya. You guys are amazinggggg!