.
.
.
WHEN THE TRUST SAYS THE TRUTH
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Cerita ini hanya untuk hiburan semata. Tidak ada keuntungan komersial yang kami dapat dari membuat cerita ini.
Genre : romance, tragedy/hurt/comfort, School life
Rated : T
Here you go! Enjoy!
.
.
.
Hari telah berganti, terlihat sosok gadis bermahkota pink masih terbaring di tempat tidurnya dengan sangat lelap, seorang pemuda yang membuka pintu kamar gadis itu melihat ada sebuah bingkai foto yang terpajang di meja belajar. Terlihat 3 orang di foto, satu gadis yang berambut pink dengan senyumannya yang paling manis sedang merangkul pria yang kini tengah memegang bingkai foto itu, dan satu lagi laki-laki yang sedikit lebih tinggi di antara mereka berdua, memegang pucuk kepala sang gadis.
"Engh~"
"Hei, bangun atau kutinggal lagi," ucap pria yang kini merendahkan tubuhnya sambil mengacak-acak pemilik rambut pink tersebut.
"Ehhmm, Sai~ 5 menit lagi~," gumam Sakura nama si pemilik rambut pink itu.
Tidak heran kalau Sai bisa memasuki kamar Sakura sesuka hatinya, karena Sai sudah sangat dekat dengan keluarga Haruno. Memang masih terlalu pagi Sai satang untuk membangunkan Sakura. Dihempaskan dirinya disamping Sakura yang sedang tidur. Kini Sai duduk di samping Sakura, ditatapnya wajah damai Sakura yang tengah mendengkur pelan.
Sepintas, Sai teringat kejadian dulu dimana Sakura mengalami masa-masa depresinya dan menangis-nangis, bahkan tidak mau keluar kamar. Sekalinya dia bisa membujuk Sakura keluar kamar, wajah Sakura begitu suram tanpa ekspresi, seperti boneka. Sampai pada akhirnya, Sai bisa membuat Sakura kembali seperti semula. Terlukis senyuman kecil di bibir Sai saat melihat Sakura menggeliat pelan dan membuka matanya pelan-pelan.
"Masih ada waktu 20 menit lagi, teruskan tidurmu, nanti aku bangunkan lagi," ucap Sai sambil mengelus kepala Sakura dengan lembut.
"Engh~ aku mau sandwich buatanmu~," gumam Sakura.
"Iya, iya. Aku buatkan sekarang." Sai beranjak dari duduknya dan keluar kamar. Setelah Sai benar-benar menutup pintu kamar, Sakura baru membuka penuh matanya dan mengambil sesuatu dari bawah bantalnya—selembar foto. Sakura memandangi foto tersebut hingga air mata sedikit menetes dari emerald-nya. Sebelum Sai datang Sakura menghapus air matanya dan kembali meletakkan foto itu di bawah bantalnya.
.
.WTTSTT.
.
"Loh? Tousan mana?" tanya Sakura yang sudah memakai seragamnya, kini berjalan menuju ruang makan dimana Sai sedang membuatkan beberapa sandwich.
"Baru saja berangkat, beliau memintaku untuk membuatkanmu bekal, ada meeting mendadak katanya," jawab Sai sambil memasukkan beberapa sandwich ke tempat bekal Sakura.
"Wah, Sai … di masa depan kamu bisa menjadi suami yang hebat loh," puji Sakura sembari mengambil satu potong sandwich dan melahapnya.
"Dan kau bisa menjadi istri yang merepotkan suamimu karena suka bangun siang," ejek Sai.
"Jahat, tidak masalah kalau suamiku nanti kamu," kata Sakura asal.
"Hmm? Kalau aku dan kau menikah, entah kenapa aku merasa kita itu jadi incest, Sakura," jawab Sai sambil berpikir.
"Hahaha, benar juga, yah? Aneh rasanya."
Tawa seperti inilah yang Sai suka dari Sakura. Keceriaannya di pagi hari yang terpancar dari sahabat tersayangnya ini membuat pagi menjadi lebih bersemangat.
"Ayo kita berangkat," ajak Sai setelah selesai menyiapkan bekal.
Mereka berdua berjalan menuju sekolah, dengan obrolan yang aneh-aneh perjalanan semakin tidak terasa, sampai akhirnya….
"AAAHHHH!"
"Ada apa, Sakura?"
"A-aku melupakan PR-ku! Aku meletakannya di ruang tamu, aku harus mengambilnya! Duh, mana Kurenai-sensei sangat galak lagi! Kau duluan saja, yah, Sai?" Sakura bergegas berlari meninggalkan Sai yang belum merespons apa-apa.
"Ah, heii!" panggilan Sai tidak dijawab oleh Sakura. Untung rumahnya tidak terlalu jauh, jadi mungkin Sakura tidak akan terlambat. Yah, itu pikir Sai.
Begitu sampai di sekolah, Sai langsung melangkahkan kaki ke kelasnya. Begitu pintu dibuka, dia pun menemukan Ino yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa teman perempuannya.
"Ohayou, Ino," sapa Sai menghampiri kursinya sendiri.
"Ah, pagi Sai, loh? Tumben kau tidak bersama Sakura? Ke mana dia?" Janggal memang tidak melihat Sai bersama Sakura. Jangankan Ino, siswi yang lain pun ingin melontarkan pertanyaan yang sama. Namun, Ino sudah cukup untuk mewakili mereka.
"Buku PR-nya tertinggal, jadi dia balik lagi. Kau sendiri? Tidak bersama Uchiha?" tanya Sai balik.
"Tadi saat aku ke rumahnya, dia masih tidur dan dia menyuruhku duluan. Sepertinya dia tidak akan masuk jam pertama," jawab Ino.
"Begitu."
"Ah, Sai! Kebetulan! Bisa tolong ajari aku yang ini?" Ino merogoh tasnya dan mengeluarkan bukunya yang berjudul fisika, "Aku tidak mengerti arti rumus ini."
Dengan senang hati Sai mengajari gadis yang membuatnya tertarik itu. Jangan salahkan Sai kalau dia akan berharap lebih pada gadis cantik berambut pirang itu karena dari diri Ino sendiri tidak menunjukkan penolakan ketika Sai mencoba sedikit memberi perhatian padanya.
.
.WTTSTT.
.
"Gawat, gawat, gawat! Aku bisa telaaaaat~"
Sakura berlari sekencang mungkin ke arah gerbang sekolah yang jaraknya sekitar 50 meter lagi. Dengan usaha dan larinya yang bisa dibilang payah itu, Sakura hampir menyerah. Kakinya sudah tidak kuat untuk melewati gerbang tersebut, sampai akhirnya lututnya terasa lemas dan hampir rubuh, tiba-tiba….
Grep!
"Hyaaa!"
"Sedikit lagi sampai, bertahanlah," ucap seseorang yang menopang tubuh Sakura dan membawanya lari melewati gerbang sekolah.
Dengan pendaratan yang indah, sampailah lompatan seorang Uchiha Sasuke yang sedang menopang tubuh Sakura masuk ke dalam gedung sekolah. Tak lama, langsung diturunkannya perlahan tubuh yang Sasuke rasa ringan itu.
"U-Uchiha? T-terima kasih." Dengan rona merah di pipi, Sakura menundukkan tubuhnya dan berbalik menuju loker sepatu.
"Kau…."
"Hem? Apa?" Sakura menoleh karena merasa Sasuke mengatakan sesuatu, tapi Sasuke tidak melanjutkan kata-katanya. Dia hanya menatap Sakura dengan datar.
"Hn, tidak apa." Sasuke berjalan menuju loker sepatunya mengabaikan Sakura. Sebenarnya, ingin sekali laki-laki dingin itu menanyakan, kenapa Sakura tidak datang bersama laki-laki yang Sasuke curigai sebagai kekasihnya. Tapi karena harga dirinya terlalu tinggi untuk ingin tahu urusan orang lain, maka dia memutuskan untuk diam.
"Kau tidak bersama Ino?"
Nice! Sakura menanyakan hal yang merefleksikan pertanyaan yang ingin ia lontarkan kepada si pinky itu.
"Dia sudah duluan."
Sakura ber-oh-ria, kemudian mereka jalan bersama menuju kelas. Tentu saja hal ini membuat beberapa anak cewek kurang suka melihatnya. Sesampainya di depan kelas, Sasuke membuka pintu geser dan mempersilakan Sakura masuk duluan. Semua mata menatap pada kedua insan yang berdiri di depan pintu itu—ada tatapan curiga, tidak suka, dan bingung menjadi satu.
"Ohayou, Sakura," sapa Ino sambil melambaikan tangannya.
"Ohayou, Ino! Kalian sedang apa?" tanya Sakura menghampiri Ino yang sedang duduk berhadapan dengan Sai.
"Aku sedang menanyakan beberapa soal ini pada Sai," jawab Ino menunjukkan bukunya pada Sakura.
"Ah, yang ini salah, seharusnya pakai rumus yang ini," jelas Sakura ketika melihat cara Sai salah.
"Sudah kuduga, kau memang lebih ahli dalam pelajaran, Sakura," ucap Sai sambil tersenyum, "gomen na, Ino? Caraku ternyata salah."
"Ah, tidak apa! Justru aku berterima kasih, aku jadi sedikit mengerti soal fisika," tutur Ino sambil menopang dagunya, "hei, Sasuke! Sini gabung!"
Namun, orang yang diajak bergabung itu tidak merespons. Dia malah menyandarkan tubuhnya di kursi dan mulai mendengarkan iPod-nya.
Ino mendengus sebentar sebelum ia kembali berbincang-bincang dengan Sakura, seperti memuji rambut Sakura yang panjang dan berkilau itu. Begitu pula Sakura yang mengagumi kecantikan Ino. Di sisi lain, Sai sedikit melirik ke arah onyx yang lain, yang dia tahu ternyata mata onyx satu itu selalu diam-diam menatap sahabat yang sangat disayanginya. Kembali, onyx bertemu dengan onyx, tidak ada yang mau mengalah satu sama lain untuk melepas tatapannya tersebut, sampai bel berbunyi dan guru memasuki kelas. Saat itulah, Ino langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Anak-anak, Asuma-sensei yang bertugas mengajar Bahasa Inggris akan cuti sementara. Dan karena kami belum menemukan penggantinya, untuk sementara kalian belajar sendiri. Bisa, 'kan?" ucap guru yang bernama Iruka.
Teriakan gembira dari satu kelas itu tercipta.
Memang sudah hal yang lumrah terjadi di mana pun—kalau guru tidak ada, para siswa dan siswi pasti merasa bahagia.
"Sai, saat aku pulang tadi, aku membawakan handuk khusus untuk latihanmu nanti," ucap Sakura sambil mengambil sesuatu dari tasnya dan mengeluarkan sebuah handuk kecil berwarna putih.
"Terima kasih, yah, Sakura." Sai mengambil handuk itu, mengecup handuk tersebut sekilas dan tersenyum pada Sakura. Sakura pun balas melemparkan sebuah cengiran ke arah Sai.
"Wah, mereka mesra sekali, yah? Hei, Sasuke! Mereka itu pacaran atau tidak, sih?" tanya Ino yang menoleh ke arah Sasuke di belakangnya.
"Bukan urusanku dan jangan tanya padaku," jawab Sasuke ketus.
"Tsk! Kau ini, kenapa, sih, tidak pernah mau bergabung dengan mereka?"
"Aku tidak suka dengan Shimura!"
"Hah? Sai? Kenapa?"
"Sai? Ternyata kau sudah sangat dekat dengannya, yah, sampai-sampai menyebut nama kecilnya?"
Ada perasaan senang dalam hati Ino, apakah Sasuke cemburu? Itulah yang diharapkan oleh gadis pirang ini.
"Dia sudah punya pacar, tapi masih tebar pesona padamu!"
"Sasuke, kau salah paham, dia tidak pernah tebar pesona denganku. Lagipula kita tidak tahu mereka pacaran atau tidak. Iya, 'kan?"
Tidak salah. Itu yang dipikirkan oleh Sasuke. Mereka memang tidak tahu Sai dan Sakura adalah sepasang kekasih atau bukan, tapi melihat Sai yang sepertinya memonopoli Sakura itu membuat Sasuke jengkel. Sebenarnya, entah mengapa, Sasuke ingin sekali bisa dekat dengan gadis pink itu, menanyakan beberapa hal padanya, bisa tertawa bersama selayaknya Ino pada Sakura. Tapi … Sai selalu menghalanginya.
Dan sekali lagi, Sasuke tanpa sadar memandangi sosok Sakura yang sedang tertawa bersama Sai. Bedanya, kali ini Ino berhasil memergokinya. Saat itu, tatapan Sasuke … begitu lembut.
"Sasuke, kau…." Ino bergumam pelan, nyaris tidak terdengar oleh lawan bicaranya yang sedang asik dengan dunianya. Dan, tidak. Ino memang tidak berharap Sasuke akan mendengarnya saat itu.
.
.WTTSTT.
.
Bel istirahat pun tiba. Sakura mengajak Ino untuk pergi ke kantin bersama.
"Kau mau beli apa?" tanya Ino.
"Hmm, sepertinya aku mau beli jus saja, tadi Sai sudah membuatkan bekal untukku," jawab Sakura.
.
.
.
"HAAAHHH?! Kau dan Sai tinggal satu rumah?!" teriak Ino kaget.
"Hahaha, tidaaak! Bukaan! Tadi pagi-pagi, dia datang untuk menjemputku, lalu aku memintanya untuk membuatkan sandwich. Buatannya enak, loh, mau coba?"
"Heee? Mesranya kaliaaan~" ledek Ino.
"Hahaha, dia memang sangat perhatian padaku, malah kadang kelewat over protective," jawab Sakura yang kini malah membuat Ino yakin bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Mungkin, Ino tidak perlu bertanya lagi pada Sakura tentang statusnya dengan Sai.
Selesainya Sakura membeli jus bersama Ino, mereka bertemu Sai di tengah koridor.
"Ah, Sakura ini bekalmu. Kita makan siang di taman belakang saja, mau?" ajak Sai.
"Oh, kalau begitu aku…."
"Ino ikut saja," usul Sai, "lebih ramai lebih asik."
"Iya, Ino ikut, yah? Aku masih ingin ngobrol denganmu," sambung Sakura.
"Uhm, oke. Boleh kuajak Sasuke?"
"Tentu saja," jawab Sakura. Namun, kedua gadis itu tidak ada yang menyadari bahwa ekspresi Sai kini menjadi dingin.
Tanpa banyak bicara, Ino pun mengirim pesan pada Sasuke agar pergi ke taman belakang sekolah. Ternyata di sana tidak ramai, malah bisa dibilang tidak ada siswa-siswi yang makan siang di situ. Padahal, tempatnya lumayan enak dan nyaman.
"Hhhhh, Sasuke tidak mau katanya. Dia lagi di atap, malas turun katanya," ujar Ino menutup handphone flip-nya.
Akhirnya mereka menyantap sandwich buatan Sai itu bersama tanpa Sasuke, sambil berbincang-bincang tentang masa kecil Sakura dan Sai. Semua cerita mereka membuat Ino makin yakin kalau Sakura dan Sai adalah sepasang kekasih. Bagaimana tidak, Sakura bahkan tidak keberatan dirangkul oleh Sai.
Bel masuk pun berbunyi, mereka bertiga kembali ke kelas bersama. Sakura yang kini sudah lebih akrab dengan Ino berjalan sambil bergandengan tangan, tapi … walaupun kelihatannya mereka begitu dekat, Sai bisa merasakan kalau Sakura masih sedikit menjaga jarak dengan Ino. Mungkin Sakura masih trauma atas kejadian dulu yang menimpanya.
Begitu mereka membuka pintu kelas, seluruh mata tertuju pada salah satu di antara mereka bertiga. Tatapannya membuat Sai bertanya-tanya, kemudian laki-laki itu mengambil langkah lebih dulu, begitu ada yang merasa janggal di papan tulis, Sai menoleh dan matanya terbelalak.
Yamanaka Ino telah mengaborsi anak dari Uchiha Sasuke saat mereka masih duduk dikelas 3 SMP, karena dia wanita murahan, sekarang dia mencoba untuk merayu Shimura Sai.
"A-Apa-apaan tulisan ini?" teriak Sai yang langsung menghapusnya. Tapi terlambat, Sakura dan Ino sudah terlanjur membacanya.
"Fitnah!" geram Ino. "Siapa yang menulis hal-hal seperti ini!"
"Aku tidak menyangka ternyata Yamanaka orangnya seperti itu."
"Aku pikir dia anak baik-baik."
"Apalagi dia juga mengincar Sai."
"Ka-kalian…." Mata aquamarine Ino pun seolah menyala karena marah. Ia bahkan tidak menyadari bahwa di belakangnya, Sasuke tengah memandangnya heran.
Merasa bahwa saat ini Ino tidak dapat diajak bicara, Sasuke pun bertanya pada Sakura yang tampak bingung dengan tangan yang menutupi mulutnya.
"Hei, ada apa ini?"
Sakura menoleh. Sesaat ia terbelalak. Enggan melihat Sasuke, Sakura mengalihkan pandangannya ke lantai, "Tidak … itu…."
Sasuke semakin mengernyitkan alisnya, "Apa?"
Sakura menelan ludah sebelum ia mengucapkan ulang apa yang baru saja tertulis di papan tulis. Seketika itu, onyx Sasuke membesar. Tanpa pikir panjang, pemuda itu pun langsung menendang meja yang ada di dekatnya.
BRAAK!
Semua mata pun menoleh ke arah sang Uchiha bungsu tersebut.
Hening, hingga Sasuke kemudian bisa berujar.
Tajam—dan menantang.
"Siapa saja yang berani melakukan lelucon ini, atau berbicara yang bukan-bukan tentang Ino, laki-laki atau perempuan, tidak akan aku ampuni!" ancam Sasuke yang menarik lengan Ino untuk duduk di bangku mereka.
Ada perasaan sakit di dada Sakura melihat perlakuan Sasuke yang mengistimewakan Ino. Tapi, bukankah itu sangat wajar?
Sasuke adalah pacar Ino.
Itulah yang ada di pikiran Haruno Sakura.
Sai yang sudah selesai menghapus tulisan itu, kini menuntun Sakura ke bangku mereka.
Di luar, ada beberapa orang yang kini diam mematung.
"Kau lihat itu, Karin?"
Yang dipanggil Karin tidak menyahut, gantinya suara lain yang menanggapi.
"I-iya, sepertinya berurusan dengan Yamanaka akan membawa masalah bagi kita. Lebih baik, kita urungkan niat kita untuk mengerjainya. Uchiha itu … menyeramkan!"
"Tsk. Kau benar, Shion," jawab Tayuya sembari menoleh ke arah rekannya yang lain, "bagaimana, Karin?"
"Jangan khawatir," ujar Karin dengan wajah yang terlihat lebih tenang dibanding kedua rekannya, "'dia' sudah memperkirakan hal ini. Dan kalian tahu?"
"Apa?"
"Pada dasarnya, mengerjai Yamanaka bukan target utama kita, 'kan?"
Tayuya mengernyitkan alis. "Yah, itu memang benar. Si 'kucing garong'—"
"Tepat!" ujar Karin puas. "Untuk yang satu itu, rencana sudah dipersiapkan oleh 'dia' setelah aku menceritakan lebih detail situasi saat ini."
"Benarkah? Lalu? Apa rencananya?"
"Nanti juga kalian akan tahu. Yang jelas, hari-hari kita pasti tidak akan membosankan." Karin membetulkan posisi kacamatanya. "Selain itu, kita juga bisa membuat si 'kucing garong' itu jera. Sekali mendayung, dua tiga pula terlampaui."
.
.WTTSTT.
.
Pulang dari sekolah, seperti biasanya, Ino bertandang ke rumah Sasuke. Tidak, ia tidak mengharapkan apa-apa dari Sasuke. Hanya datang dan Sasuke biasa meninggalkannya. Ino tidak keberatan, sungguh. Ia justru terkadang menikmati kesendiriannya di rumah 'sahabat' yang sangat disayanginya tersebut.
Berbeda dari biasanya dimana Ino memilih menonton televisi atau membaca majalah, kali itu, Ino hanya terdiam. Tampaknya, dia masih sangat shock melihat fitnah yang disebarkan di kelas tadi. Ino sungguh penasaran. Siapa yang berani-beraninya menyebar fitnah seperti itu?
Di sisi lain, Ino senang, karena Sasuke membelanya tadi, juga melindunginya. Mengingat hal itu, Ino menjadi tertawa-tawa sendiri sekarang.
"Apa, sih, Ino? Tertawa sendiri?" sapa seseorang berambut hitam panjang yang baru saja datang dari arah dapur sambil membawa dua buah gelas berisi teh.
"Hehehehe. Ada kejadian yang menyebalkan juga menyenangkan, Itachi-nii."
"Apa itu? Cerita padaku, biasanya kau selalu cerita padaku." Dia, laki-laki yang dipanggil Itachi itu memiliki mata yang sama dengan Sasuke, kakak kandung Sasuke yang begitu perhatian pada Sasuke dan Ino.
"Tadi ada yang menyebar fitnah padaku. Dan saat aku sedang terdiam saking shock-nya, Sasuke, adikmu, datang membelaku."
"Hoooo, jadi karena itu? Pantas kau senang sekali."
"Hehehe."
"Lalu? Kapan kau akan menyatakan perasaanmu padanya?"
"Tidak akan, kurasa. Aku tidak mau persahabatan kami jadi canggung nantinya."
"Kalau begitu jadian saja denganku," ucap Itachi sambil tersenyum usil pada Ino.
"Hahaha, Itachi-nii selalu bicara begitu. Lebih baik Itachi-nii carilah pacar agar tidak kesepiaan," ledek Ino sambil beranjak dari duduknya.
Gadis itu pun meninggalkan Itachi yang hanya menggeleng sambil menyunggingkan sebuah senyum yang sulit diartikan.
.
.WTTSTT.
.
Sasuke kini itu tengah berbaring di kamarnya, berusaha mengingat kejadian tadi saat Sai menggandeng Sakura di kericuhan.
"Ck!" Sasuke membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
"Sasuke, kau tidak makan?" tanya Ino yang langsung membuka pintu kamar Sasuke begitu saja.
"Hn. Nanti saja. Aku mau tidur dulu," jawab Sasuke malas sambil berbalik ke arah yang memunggungi Ino.
"Dasar, kerjaanmu tidur melulu, eh?" jawab Ino sambil mendekat ke arah Sasuke. Dengan santai, gadis itu kemudian duduk di kasur Sasuke. Dengan punggungnya yang sedikit bersandar pada punggung Sasuke, Ino kemudian menatap langit-langit. Tangannya ia letakkan di bawah lututnya yang tertekuk. "Ne, Sasuke…."
"Hn?"
"Arigatou."
"Untuk?"
"Semuanya," jawab Ino asal.
Sasuke mendengus. "Aku tidak mengerti."
"Oh, tidak mengerti pun tak apa," sahut Ino lagi yang diselingi dengan tawa renyahnya. Akhirnya Sasuke memilih tidak merespons dan sampai di situ, Ino berhenti tertawa. Ia pun bangun kembali dari posisi duduknya. Diulurkannya sebelah tangan untuk kemudian menepuk-nepuk kepala Sasuke. "Cepat bangun dan makan agar aku bisa segera mencuci piringmu! Aku mau pulang."
"Kau pulang sendiri?"
"Kecuali kau mau mengantarku."
Setelah mendengus pelan, Sasuke pun melompat turun dan mengikuti langkah Ino menuju ruang makan.
.
.WTTSTT.
.
Keesokan harinya, lagi-lagi Ino pergi duluan tanpa Sasuke. Begitu sampai di kelas, suasananya sudah tidak seperti kemarin. Walaupun masih ada beberapa anak yang menatap Ino dengan sinis, tapi Ino tidak ambil pusing. Diabaikan tatapan itu dan Ino mulai membuka bukunya, walau pelajaran belum dimulai.
.
.WTTSTT.
.
Kali ini, Sakura-lah yang berangkat duluan, Sai harus menyelesaikan urusan dengan ayahnya yang memegang salah satu perusahaan di Konoha. Saat berjalan pelan, Sakura melihat ke atas langit, cuaca yang cerah mengingatkannya pada dua orang yang dulu pernah menjadi salah satu orang terpenting didalam hidupnya.
Saat sedang bengong di depan gerbang, datanglah Uchiha Sasuke dengan santainya menepuk pundak gadis itu sehingga Sakura sedikit tersentak.
"Sa-Sasuke?"
"Kalau tidak cepat-cepat masuk bisa terlambat," ujar Sasuke datar.
Sakura mengangguk dan mengambil langkah yang sejajar, begitu memasuki gerbang, angin berembus dengan lumayan kencan sehingga membuat rambut Sakura berkibar dengan indah. Tidak bisa dipungkiri kalau Sasuke sedikit terpesona pada rambut indah Sakura. Pemandangan ini terlihat oleh Ino yang sedang duduk di sisi jendela, dengan miris Ino menatap Sasuke yang kini sedang menatap Sakura. Saat Sakura akan melangkahkan kakinya….
"Akh!"
Langkahnya terhenti.
Begitu juga dengan Sasuke.
"R-Rambutku…."
Rambut Sakura kini tersangkut di kancing Sasuke.
"Maaf, aku akan potong dengan gunting." Sakura membuka tasnya dan mencari gunting yang selalu dia bawa.
"Jangan! Bodoh! Kalau begini saja bisa diatasi, jangan sampai menggunting rambutmu!" ujar Sasuke yang mengutak-atik rambut pink itu.
Keduanya terdiam. Ingin sekali mereka meminta agar Tuhan menghentikan waktu sejenak. Jujur, Sakura merasa berdebar-debar saat merasakan napas Sasuke berada di pucuk kepalanya. Begitu pula dengan Sasuke yang sedang membelai rambut Sakura yang menyangkut.
"Sudah lepas," ucap Sasuke.
"Terima kasih."
Sasuke melihat, Sakura selalu mengenakan gelang yang melingkari ketat pergelangan tangannya. Gelang tersebut berwarna hitam—tampak seperti gelang rajutan. Lantas, dia berpikir dari siapa kira-kira gelang itu Sakura dapatkan?
Tapi, sesaat, hanya belaian angin yang mampu menjawab.
.
.WTTSTT.
.
"Bagaimana? Dapat tidak gambarnya?"
"Dapat, dong! Kita tinggal tunggu tanggal mainnya saja."
"Untung kelas kita berada pada posisi yang pas, ya? Dan idemu…. Kau pintar, Karin!"
"Jangan memujiku, Tayuya, berterimakasihlah pada Tuhan yang membuat mereka datang bersama ke sekolah, hihihihi."
Sambil ber-high-five dengan kedua rekannya, Karin menambahkan, "Juga pada 'otak' kita yang sebenarnya."
.
.To Be Continued.
.
Akhirnya bisa update lagi fanfic ini setelah sekian lama~ XD
Udah pada lupa kali, ya ama fanfic ini? Tapi moga-moga nggak ya? :""D
Ngomong-ngomong, kami mau ucapin terima kasih yang sebesar-besarnya buat yang udah baca n nge-review fanfic ini di chapter2 sebelumnya. Maaf ya nggak balesin review kalian satu-satu. Tapi review kalian kami baca koook~ dan kami seneng banget. Hehehe.
Still, kami harapkan review-nya yaaa~
Arigatou,
Devil Foxie.
