Katanya, rasa benci dan cinta itu tipis. Bagaimana dengan rasa saling membunuh dan cinta?

Namikaze Naruto

LOVE THE ENEMY

By Icha Ren

NARUTO BY MASASHI KISHIMOTO-SENPAI

Warning: Typo(s), Aneh, Gajeness, Kacau Balau, Gore, Dan Lain-Lain

Rate: T+

Genre: Romance, Crime, Drama

Pair: Naruto-Hinata dalam selimut kebencian

Summary:

Siapa bilang kalau orang yang kau cintai adalah orang yang kau sukai. Naruto dan Hinata, dua latar berbeda yang mempunyai tujuan kelam. Naruto sang pemburu yang merasa buruannya selesai dikejutkan dengan buruannya, Hinata, yang berhasil lolos dari misi Genosidanya. Saling mencari tahu dan saling mengincar nyawa, keduanya berada dalam permainan cinta yang mempertaruhkan nyawa!

.

.

.

Enjoy it!

Chapter 3: Garam, Petir, dan Tidur

Naruto melemparkan tas sekolahnya sembarangan di atas kursinya dengan bunyi berdebum yang cukup keras. Hinata yang sedang menelungkupkan kepalanya di atas meja langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Naruto dengan wajah kesal.

"Berisik!" kata Hinata dengan pandangan tajam. Naruto yang duduk di kursinya hanya melirik sekilas ke arah Hinata dan kembali menatap lurus ke depan. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan mengulum lollipop rasa jeruknya dengan santai.

Hinata kembali menelungkupkan kepalanya. Naruto kembali melirik ke arah Hinata dan menghela napasnya perlahan-lahan. Namikaze muda itu kemudian menatap datar ke arah luar jendela kelas dan menatap penuh minat atas kemegahan Kota Konoha. Tower Namikaze corp. tetap menjadi ikon yang fenomenal dengan tinggi yang menjulang hingga ke langit. Naruto terus berpikir, bagaimana jika kesalahan yang dia buat pertama kali dalam misi C-9nya akan meruntuhkan tower super tinggi itu hingga terbenam ke dalam tanah. Naruto mengerutkan keningnya. Dia tidak ingin hal tersebut benar-benar terjadi.

"YO SEMUANYA! SALAM RAPPER BRO!" teriak Bee dengan langkah lincah sambil merangkul sang ketua kelas, Rock Lee dengan wajah bahagia. Lee tiba-tiba melompat di atas meja Naruto dan menunjuk wajah putra Namikaze Minato itu dengan mata berapi-api.

"HEI CALON HAREM SIALAN! MANA INO-CHAN?! BIASANYA DIA KE KELAS BERSAMAMU HAH?!"

Naruto memandag bosan ke arah Lee.

"Oh," satu kata Naruto membuat tubuh Lee terjungkal. Remaja dengan model bob style itu bangkit dengan lelehan air mata di pipinya. Lee berlari keluar kelas sambil meneriakkan bahwa Naruto adalah orang yang tidak menghargai semangat masa muda pagi. Bee pun berlari mengikuti Lee sambil meneriakkan kalau Rapper adalah semangat masa muda yang sebenarnya. Suigetsu yang baru muncul langsung ditarik Bee keluar kelas. Trio perangkat kelas pembuat onar itu langsung meninggalkan kelas dengan segudang tanda tanya di kepala siswa-siswi lainnya.

"Pagi Minna," kata Ino yang baru masuk kelas dengan langkah riang dan senyuman yang menawan. Para cowok langsung bangkit dari kursinya dan membuat opera konser dadakan sambil menjawab selamat pagi Ino.

"SELA~MAT PA~GI~, INO~CHAAAAAN!"

Ino tersenyum kikuk. Dia langsung berjalan ke arah Naruto dan tersenyum ke remaja bersurai kuning tersebut. Naruto melirik sekilas ke arah Ino dan mengangkat alisnya perlahan-lahan.

"Pagi Naruto. Maaf aku terlambat untuk hari ini."

"Hn," Naruto menganggukkan kepalanya perlahan. Ino langsung duduk dan menopang dagunya dengan gaya anggun. Dia menoleh ke arah Naruto dan memiringkan kepalanya perlahan-lahan.

"Ada apa? Kau tampak tidak semangat hari ini?"

Naruto menghela napasnya perlahan-lahan. "Memang aku seperti ini kan?"

"Tidak. Aku tahu sikapmu yang seperti ini. Tapi untuk kali ini, kau tampak berbeda.."

Naruto melirik sekilas ke arah Hinata "Hm, aku memang tidak bisa membohongi penasihat pribadiku," Naruto melepaskan lollipopnya dan kini hanya menyisakan batangnya saja. Saat tangannya ingin membuang lollipop itu ke luar jendela, tiba-tiba lonceng masuk kelas langsung berbunyi. Naruto memandang ke atas sebentar dan dia langsung melemparkan batang lollipop itu ke kepala Hinata. Sebuah senyuman puas terpatri di bibir menawan sang Namikaze.

Hinata langsung bangun dan menoleh ke arah Naruto dengan wajah kesal. Naruto yang sedang bersandar di kursi sambil menaruh kedua tangannya di belakang kepala hanya bersiul-siul santai.

"K-kenapa kau-"

"Bisakah kau berbicara tanpa awalan yang gagap-"

"Bisakah kau tidak menggangguku?"

Naruto menaikkan alisnya "Oh,"

"Oh?! Dasar hentai playboy tak tahu diri!"

Naruto memejamkan matanya perlahan-lahan. "Oh," hanya itu respon yang keluar dari mulut putra Minato tersebut.

"Be-berarti kau menerima julukan hentai playboy itu!"

"Oh,"

"Baiklah. Aku akan memanggilmu hentai playboy menyebalkan!"

"Oh,"

"Hentai~"

"Oh,"

"Playboy~"

"Oh,"

"Menyebalkan~"

"Oh,"

Hinata menggembungkan pipinya. Rasanya dia ingin mengambil sebuah pisau dan menggorok leher laki-laki bersurai kuning di samping kanannya ini. Naruto menoleh ke arah Hinata dengan tatapan datar.

"Dasar dada be-"

Tap! Naruto menahan tangan Hinata yang berusaha menampar pipinya menggunakan tangan kanannya. Naruto tersenyum miring.

"Coba kau bisa lebih cepat dari ini. Dengan gerakan ini, membunuhku adalah sesuatu yang mustahil untukmu!"

"Oh,"

"Aku tersanjung kau mau menggunakan kata-kataku.." Naruto memandang tajam ke arah Hinata "..Dan jangan lupakan soal ceritamu beberapa hari yang lalu,"

"Hm!" Hinata melepaskan tangannya dari tangan Naruto dan kembali duduk dengan tenang. Naruto memandang datar ke arah Hinata. Hinata yang sedang menggembungkan pipinya melirik ke arah Naruto dan wajah sang Hyuuga semakin kesal. Naruto menatapnya seolah-olah Namikaze muda itu siap menerkamnya kapan saja. Naruto terkekeh pelan. Hinata memiringkan kepalanya dengan wajah polos kebingungan.

"A-ada apa?"

Naruto mengibaskan tangan kanannya perlahan. Dia menggelengkan kepalanya dan menoleh ke arah Ino. Ino yang dari tadi memperhatikan interaksi keduanya (NaruHina) hanya menaikkan alisnya perlahan-lahan.

"Apa?" tanya Ino dengan nada kebingungan. Naruto tersenyum ke arah Ino dengan pandangan mata yang tertuju kepada Anko-sensei yang baru masuk ke kelas. Naruto mendengus perlahan-lahan.

"Tidak Ino. Tapi aku punya rencana untuk mengetahui jati diri gadis itu melalui proses interaksi," kata Naruto dengan suara yang dipelankan. Ino menaikkan alisnya.

Tampaknya Naruto mempunyai sebuah rancangan rencana dalam mencari kebenaran di secuil misinya..


"Baiklah, sensei akan membagikan kelompok untuk tugas Biologi dan Matematika yang harus dikumpulkan besok. Satu kelompok ada dua orang,"

"UWOOOOOH! SEMOGA AKU MENDAPATKAN CINTA YAWARAKAI-SAAAAAN!" teriak Lee dengan mata berapi-api. Killer Bee ikutan bangkit sambil membentuk tanda metal di jari tangannya.

"OU YEAAAH! AKU BERHARAP INO-CHAN BERADA DI PELUKANKU YO!"

Suigetsu terkekeh pelan dengan wajah mengejek "Pfft, mimpi saja sana..para jomblo-jomblo mengenaskan,"

Lee dan Bee menoleh ke arah Sui dengan mata berapi-api "MEMANGNYA KAU SUDAH ADA PASANGAN!? KITA AKAN LIHAT SIAPA YANG MENDAPATKAN WANITA SEBAGAI PASANGANNYA DAN SIAPA YANG BERPASANGAN SESAMA PRIA! JIKA SESAMA PRIA MAKA DIA ADALAH MAHOOO!"

Napas Lee dan Bee ngos-ngosan seperti badak. Sui menganggukkan kepalanya, masih dengan cengiran yang menunjukkan gigi-gigi tajamnya.

"Heheh, kita akan lihat. Siapa yang beruntung mendapatkan para wanita.."

"Kami~!" kata Lee dan Bee dengan tatapan horror.

Kemudian..

"Rock Lee dan Killer Bee!" kata Anko dengan nada datar.

"TEDHAAAAAAAAAAAAAAK!" Lee dan Bee memegang kepalanya dan saling bertatapan aneh. Mereka meneguk ludah perlahan-lahan dan saling menunjuk dengan jari bergetar.

"K-kau maho.." kata keduanya bersamaan.

"Hozuki Suigetsu dan Yamanaka Ino!"

"TEDHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!" kali ini teriakan Lee dan Bee makin panjang. Suigesu menyengir sambil mengacungkan jempolnya. Kedua temannya langsung menghantamkan kepala mereka ke dinding kelas. Siswa-siswi lainnya hanya memasang wajah kasihan kepada duo pembuat onar kelas tersebut.

"Yawarakai Hinata dan.."

Hinata menelan ludahnya. Siapakah yang akan menjadi teman satu kelompoknya?

"..Namikaze Naruto!"

"TIDAK BISA!" Hinata langsung berdiri dan menunjuk tepat di depan hidung Naruto. Naruto hanya mengerling sekilas ke arah Hinata.

"Ada apa Yawarakai-san?" tanya Anko sambil tersenyum. Anko melirik sekilas ke arah Naruto. Naruto hanya memandang datar ke arah Anko, namun sebuah tatapan tersirat tercetak jelas di iris safir berbahaya tersebut.

"KE-KENAPA AKU BERPASANGAN DENGAN LAKI-LAKI HENTAI PLAYBOY MENYEBALKAN INI?!"

Semua siswa-siswi kelas 2-A shock mendengar panggilan Naruto yang begitu bertolak belakang dengan sikap Naruto selama ini. Naruto menghela napasnya dan menoleh ke arah Hinata dengan tatapan tajam.

"Tahukah kau gadis bodoh, hanya tinggal kita berdua yang belum dapat pasangan.."

"PA-PASANGAN?!" wajah Hinata sedikit memerah "KAU KIRA AKU MAU MENJADI PASANGANMU?! DAN INI NAMANYA BUKAN PASANGAN TAPI KERJA KELOMPOK!"

"Dua orang itu bukannya berpasangan?" tanya Naruto dengan nada santai. Semuanya menatap Rock Lee dan Killer Bee lalu manggut-manggut setuju.

"TEDHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!" teriakan Lee dan Bee semakin panjang saja.

"Ma-masa bodoh! Pokoknya aku tidak mau berpasangan denganmu! Aku mau kerja sendiri saja!" Hinata memandang ke arah Anko "Sensei! Aku mau-"

"Tidak bisa Yawarakai-san. Jika kau mengerjakan tugas ini sendiri maka nilai tugasmu akan dapat nol, atau kata lain..kau tidak mempunyai nilai tugas,"

Hinata memegang kepalanya. Dia langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi dengan aura suram.

"Kenapa bisa begini.." kata gadis bersurai indigo itu. Naruto mengerling ke arah Hinata dan menyeringai. Mempunyai guru yang ternyata adalah anjing-anjing ayahnya memang sangat menyenangkan. Hinata mengangkat kepalanya perlahan-lahan dan menatap Naruto penuh tatapan kekesalan. Naruto yang menoleh ke arah Ino hanya mengedipkan matanya ke arah gadis bermata Aquamarine tersebut. Ino memiringkan kepalanya kebingungan. Naruto mendekatkan wajahnya ke arah Ino dan berbisik dengan suara yang pelan namun penuh nada kepuasan.

"Interaksi akan dimulai, Ino.." kata putra Minato itu dengan seringaiannya yang menawan. Tentu saja wajah Ino menampilkan ekspresi terkejut. Naruto benar-benar punya rencana. Yang dia khawatirkan adalah apakah rencana Naruto berhasil atau malah akan menjad bumerang untuknya.


Naruto bersandar dengan tenang di pagar atap sekolah sambil kepalanya menengadah ke langit biru. Tangan kanannya memegang sebuah lollipop rasa jeruk yang nampak baru dibuka. Naruto perlahan-lahan membuka mulutnya dan ingin memasukkan lollipop tersebut ke dalam mulutnya. Saat permen batangan itu 10 centi lagi dari bibirnya, pintu atap sekolah terbuka dengan suara yang begitu sangat amat keras.

BRAAAKH! Hinata sudah berdiri di sana dengan wajah penuh amarah. Gerakan Naruto terhenti seketika.

"Kenapa kau ke sini?" Naruto menurunkan perlahan-lahan permennya dan memiringkan kepalanya dengan tatapan tak bersalah.

"A-aku tidak terima satu kelompok berdua denganmu?!" kata Hinata langsung to the point dan berjalan mendekati Naruto dengan langkah kaki yang begitu cepat. Hinata berdiri di depan Naruto dengan lavender yang memancarkan kekesalan.

"Kau malu?" tanya Naruto dengan nada mengejek. Wajah Hinata perlahan-lahan mengeras.

"Ti-tidak sedikitpun Hentai!"

"Bisakah kau memanggilku dengan nama yang benar?!"

"Namikaze Hentai-san!"

Naruto memutar bola matanya "Namaku Namikaze Naruto, Yawarakai Dada Besar.."

"K-KAU-"

"Bisakah kau mengatakan sesuatu dengan awalan yang benar?" Naruto membuat wajah mengejek. Hinata menggelemetukkan giginya dengan napas memburu.

"Bukan urusanmu!"

"Oh, jadi protesmu tentang kenapa kita bisa berduaan juga bukan urusanku.."

"JANGAN BILANG KALAU KITA 'BERDUAAN'! KITA HANYA KERJA KELOMPOK!" Hinata berdiri dengan gaya marah yang lucu. Kedua tangan di samping tubuhnya menegang ke bawah dan kedua tangan tersebut terkepal erat. Naruto terkekeh pelan. Dia langsung mengulum lollipopnya dengan santai.

"Lebih baik kau ke kelas saja nona pemarah berdada be-"

GYUUUT! Hinata menarik batang lollipop Naruto dengan tangan kanannya sehingga Naruto ikutan tertarik dan tersungkur ke lantai atap KHS. Mata Hinata sedikit melebar. Naruto tetap diam dalam posisi tertelungkup tersebut. Hinata berdiri dengan panik dan kepalanya menoleh ke kanan-kiri berusaha meminta pertolongan.

"Go-gomen Namikaze-san. Bu-bukan maksud membuatmu seperti itu. A-aku hanya terbawa emosi dan-"

"Aku tak akan memaafkanmu.."

GLEK. Suara Naruto terdengar menyeramkan. Hinata menggigit bibirnya perlahan. Entah kenapa dia merasakan suatu aura yang mengerikan menguar dari tubuh remaja bersurai kuning tersebut.

"A-aku, aku tidak bermaksud melakukan hal-"

"Baiklah," Naruto memotong perkataan gagap Hinata dan berdiri dengan gerakan tenang. Namikaze muda itu membalikkan badannya dan menepuk-nepuk pelan jas hitam sekolahnya yang sedikit kotor akibat insiden jatuhnya tadi. Naruto terdiam sebentar lalu memandang Hinata penuh arti.

"Aku akan memaafkanmu jika kau mau satu kelompok denganku," kata Naruto dengan nada datar. Hinata menahan napasnya. Semua jenis pertanyaan merasuki otak Hinata dan berputar cepat di kepalanya.

Kenapa? Kenapa Naruto sangat ingin satu kelompok dengan dirinya? Bukannya Hinata percaya diri karena Naruto memang ingin dekat dengan dirinya atau apapun. Yang Hinata khawatirkan adalah apa maksud tersembunyi dari remaja bermata safir tersebut. Apa dia ingin mencari tahu jati dirinya? Bisa jadi. Dan yang lebih berbahaya jika dia memang mencurigai dirinya sebagai Hyuuga dan melalui muslihat ini-kerja kelompok-, remaja bersurai kuning itu akan semakin memantapkan kalau dia adalah si Hyuuga yang lolos dan akhirnya Naruto, jika dia si pembunuh, maka nyawa Hinata berada dalam bahaya. Hinata menautkan alisnya perlahan-lahan. Ada berbagai macam argumen dan kemungkinan yang terus berperang di otaknya. Hinata menatap mata Naruto dan mendapatkan iris biru itu tampak tenang dan tidak menunjukkan emosi apapun.

"Jadi?" Naruto membuang batang lollipopnya yang tadi habis ditarik Hinata ke arah bawah. Hinata melirik sekilas ke batang lollipop itu yang melayang sepersekian detik di udara dan jatuh ke halaman sekolah yang berpasir. Hinata kembali menatap wajah tan yang menawan tersebut.

"Kuharap kau menerimanya. Telapak tanganku sedikit lecet akibat kelakuanmu tadi.." kata Naruto dengan nada menyindir sambil menunjukkan telapak tangan kanannya yang agak memerah. Hinata yang merasa tidak nyaman-walau dia membenci laki-laki ini-akhirnya menghela napas perlahan-lahan dan membuat keputusan. Bagaimanapun dia masih punya sesuatu yang harus dia geserkan jika ini adalah rencana Naruto, walaupun Hinata tidak tahu kenapa Anko-sensei secara kebetulan memasangkan dirinya dengan laki-laki menyebalkan ini.

"Ba-baiklah. Jangan senang karena aku menerimanya. I-ini hanya permintaan maafku karena telah membuat tanganmu terluka.." kata Hinata dengan wajah cemberut. Naruto tersenyum puas. Satu langkah kaki telah menapak di strategi mencari tahunya.

"Jadi," Naruto kembali membuka sebatang lollipop rasa jeruk di tangan kanannya. Hinata tidak tahu sudah berapa permen batang rasa jeruk yang dikulum Naruto. Naruto memandang lollipopnya dengan tatapan senang lalu mengulumnya dengan gerakan puas. Safirnya menatap Hinata sedikit lebih tajam.

"Beritahukan alamat rumahmu dan kita akan belajar di sana,"

GOTCHA! Hinata sekarang mengerti bagaimana 'permainan' Naruto. Naruto memang benar-benar 'menyerangnya' untuk menguak jati dirinya. Naruto benar-benar ingin mencari tahu siapa Hinata yang sebenarnya. Hinata pun menggelengkan kepalanya perlahan dan balas menatap tajam Naruto. Tidak mau kalah.

"Tidak. Aku ingin kita belajar di rumahmu saja,"

"Kenapa?" Naruto membalikkan badannya dan menaruh kedua lengannya di atas pagar besi atap sekolah. Hinata langsung menyandarkan punggungnya di samping Naruto. Rambut keduanya berkibar cepat saat sebuah hembusan angin kencang menerpa tubuh mereka. Hinata berusaha memikirkan alasan yang tepat.

"Karena..karena," Hinata pun memikirkan tentang nama keluarga Naruto. Yaitu Namikaze..

Ya, tower Namikaze corp. dan segala kemegahannya. Hinata menghela napasnya perlahan-lahan.

"Karena rumahku hanyalah sebuah rumah kontrakan. Tidak etis jika anak kaya sepertimu belajar di-"

"Bodoh!" Naruto memandang tajam tower Namikaze corp.

"Aku tidak peduli kita belajar di mana, yang penting kita bisa belajar bersama.."

Blup..blup..blup.. 'BO-BODOH! APA YANG SI HENTAI ITU KATAKAN?! KATA-KATANYA SEOLAH –OLAH DIA..' Hinata meneguk ludahnya. Wajahnya terasa panas. Kepalanya bergeleng dengan cepat. Hinata mnghela napasnya dan berusaha menormalkan jantungnya yang entah kenapa sedikit berdetak lebih cepat. Dia kemudian menundukkan kepalanya berusaha menepis segala rasa aneh di dadanya ini. Hinata harus waspada. Ya, Hinata harus waspada.

"K-kau yang bodoh!" kata Hinata dengan nada kikuk yang lucu. Naruto yang mendengar perubahan suara Hinata hanya melirik sekilas ke arah pemilik mata sewarna bulan tersebut.

"Hm, jadi..sepakat belajar di rumahmu sore ini?"

"TIDAK MAU!"

Naruto kini benar-benar menoleh ke arah Hinata. Alisnya terangkat perlahan-lahan. Hinata yang bersandar di punggung pagar besi atap sekolah kini berdiri dengan napas terengah-engah. Naruto menopang dagunya menggunakan tangan kirinya. Wajahnya tetap datar seperti biasa.

"Kenapa? Jangan gunakan alasan bodoh seperti tadi,"

"Kenapa kau bersikeras mau belajar di rumahku?!"

Kini Naruto yang terdiam. Benar. Cukup mencurigakan juga dia memaksa Hinata untuk belajar di rumahnya. Naruto tersenyum simpul dan menggunakan alasan yang sudah dia katakan tempo dulu.

"Karena aku ingin mengenalmu lebih dekat," kata Naruto dengan nada penuh penekanan. Lavender Hinata melebar dan dia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Entah kenapa rasanya Hinata tidak mau memandang laki-laki bersurai kuning tersebut. Hinata berdiri tegak (tidak menyandarkan tubuhnya lagi di pagar besi atap sekolah) dan akhirnya berjalan menuju ke pintu atap sekolah. Naruto membalikkan badannya dan memiringkan kepalanya dengan wajah kebingungan.

"Hei? Jadi setuju kan-"

"AKU.."

Hembusan angin makin kencang.

"..TIDAK MAU!"

'Keras kepala. Susah juga untuk menghasutnya..' mata Naruto menajam. Tampak pancaran safir itu sangat menakutkan. Naruto berjalan ke arah Hinata yang kini berhenti sejenak di depan pintu atap sekolah. Naruto berdiri di belakang Hinata dengan aura seorang pembunuh.

"Kau..keras kepala juga ya?"

"Kau yang keras kepala. Alasan bodoh seperti itu tidak akan membuatku percaya," Hinata menoleh ke arah Naruto dengan tatapan lavender yang menyala.

"Memang aku bersalah karena telah membuat telapak tanganmu terluka, tetapi jika itu yang kau jadikan alasan untuk mengintimidasiku agar kau bisa ke rumahku maka.." wajah Hinata nampak penuh keyakinan "..Kau bukanlah seorang pria yang memiliki akal sehat!"

Naruto terkesima. Sangat terkesima. Hinata seperti menohok perutnya dengan sangat keras. Tegukan ludah perlahan-lahan terasa kering di kerongkongan Naruto. Namikaze muda itu tidak percaya kalau Hinata akan mengatakan kata-kata yang penuh 'serangan' kejutan ke hatinya. Naruto menolehkan kepalanya ke kiri dan berpikir keras.

Soal perasaan, masa bodoh dengan akal sehat atau apa, yang penting dia bisa mendapatkan informasi gadis ini secara langsung. Tetapi..entah kenapa di dalam hatinya ada rasa bersalah kepada si mata perak nan indah tersebut. Naruto berusaha memikirkan, apakah jika masih memaksa maka Hinata-jika dia benar-benar Hyuuga-, maka dia tahu bahwa Naruto adalah si pembunuh. Atau jika Hinata seorang Hyuuga yang selamat dan melihatnya secara langsung membunuh seluruh keluarganya, maka kerumitan akan semakin menimpa Naruto.

'Baiklah,' Naruto memandang punggung gadis yang bertubuh sedikit lebih kecil dari tubuhnya tersebut. Hinata melangkahkan kaki kanannya namun tangan Naruto langsung menahan lengan kanan Hinata. Terdiam. Keduanya saling berpikir dan saling menaruh aura menjauh.

"Kalau begitu, datanglah ke rumahku. Aku akan memberikan alamatnya sepulang sekolah dan kita akan belajar di sana.."

Dua pilihan untuk Hinata. Menerimanya atau tidak.

Dan jika Hinata menerimanya, apakah dia memang belajar kelompok di sana atau dibunuh!


Hinata memandang lekat-lekat rumah modern dengan gaya moderat kaku yang mewah. Memang cocok dengan status sebagai seorang keluarga Namikaze. Namun yang membingungkan Hinata adalah kenapa dominan warna rumah ini berwarna ungu. Hinata, meskipun hanya menebak, yakin kalau warna kesukaan Namikaze adalah kuning ataupun orange. Hinata menatap kembali secarik kertas yang sudah tertulis alamat rumah tersebut dan ternyata cocok.

Rumah dengan dominan warna ungu ini memang rumah yang tertera di alamat pemberian Naruto. Hinata mengangkat bahunya dan berjalan menuju pagar besinya yang juga berwarna ungu dengan hiasan bunga-bunga Cyshantrium. Dia memandang sebentar ke bawah. Sedikit memastikan penampilannya. Hinata kini memakai dress selutut berwarna putih dengan tali pengikat pinggang dari bahan kain yang berwarna sama. Sebuah bunga hiasan lavender tertempel manis di bahu kanannya. Hinata juga mempermanis penampilannya dengan sebuah jam tangan berwarna perak pemberian ayahnya dulu, plus sebuah bando putih keunguan yang begitu pas di surai-surai indigo Hinata. Tas cantik berwarna ungu terpanggul manis di bahu kanannya. Hinata tersenyum puas. Entah kenapa rasanya senang setelah mengetahui penampilan sederhananya tanpa make up yang berlebihan terlihat alami dan bagus. Hinata menganggukkan kepalanya perlahan dan sudah siap bertandang di rumah keluarga Namikaze yang terkenal sebagai salah satu keluarga terkaya di Jepang bahkan dunia.

Eh? Kenapa dia begitu senang karena penampilannya kini terlihat terbaik? Bukankah dia cuma mau mengerjakan tugas kelompok dengan si rambut kuning menyebalkan itu!? Hinata menggelengkan kepalanya dan berusaha memasukkan asumsi ke otaknya kalau dia puas karena telah berhasil memperhias dirinya dengan sangat baik. Hinata pun menekan tombol bel di pagar rumah dan terdengar suara bel rumah yang begitu nyaring dan panjang. Hinata sedikit terkejut mendengarnya.

"Masuk nona pemarah berdada besar!" terdengar suara Naruto di speaker yang berada di atas pagar rumah ungu tersebut. Gerbang raksasa bernuansa ungu itu terbuka perlahan-lahan dengan suara gesekan besi yang berat. Hinata menahan napasnya dengan detakan jantung yang berdetak cukup cepat. Dia seperti memasuki kandang pembunuh yang sudah siap menyambutnya dengan pisau-pisau berbahaya. Aura itu memang terasa, tapi Hinata terus menepis perasaan was-was tersebut dan terus meyakinkan dirinya kalau dia akan baik-baik saja.

Hinata melangkahkan kakinya melewati jalanan setapak batu yang berbentuk gelombang. Taman di sekitarnya begitu indah dan megah dengan air pancuran yang jatuh dari sebuah guci yang dipegang patung seorang anak bayi bersayap malaikat. Puluhan patung lainnya berjejer rapi di sekitar taman tersebut. Ada puluhan karya seni bonsai yang begitu menawan. Ratusan bunga yang Hinata yakini, sangat langka dan begitu mahal ikut menghiasi taman yang mengelilingi rumah moderen kaku berwarna dominan ungu tersebut.

Hinata menatap jam tangannya ketika sudah sampai di depan pintu rumah Naruto. Dia ingin mengetuk perlahan pintu berdaun dua berwarna ungu-putih tersebut, namun pintu itu tiba-tiba terbuka dan tampaklah sesosok remaja tampan bersurai kuning cerah dengan cengiran yang khas namun begitu menawan. Dia memakai kemeja orange yang tidak dikancing sehingga kaos hitamnya terlihat. Tampak sebuah kalung berbentuk bulat lonjong tergantung di lehernya. Dia memakai celana jeans berwarna biru dan sebuah jam tangan berwarna kecoklatan bertengger pas di tangannya. Mata Hinata melebar. Si menyebalkan ini benar-benar, err..tampan mempesona?

"Wah wah wah..saat aku melihatmu melalui CCTV, kau tidak secantik ini.." Naruto menggaruk belakang kepalanya dan cengiran itu semakin lebar "..Menatapmu langsung seperti ini membuatku seperti menatap seorang Tuan Putri,"

BLUSH..Hinata menundukkan kepalanya. Ada apa?! Kenapa dia harus merasa malu ketika Naruto memujinya. Hinata terus memikirkan tentang si menyebalkan itu adalah kandidat utama sebagai orang yang bertanggung jawab atas kematian seluruh keluarganya. Hinata menggigit bibirnya dan mengangkat kepalanya perlahan-lahan.

"Hm? Kenapa kau berdiri di depan pintu.." Naruto ternyata sudah berjalan membelakanginya dan kini sedang menoleh ke belakang "Ayo masuk Tuan Putri, heheheh..untuk saat ini kau kupanggil Tuan Putri Yawarakai-san, karena penampilanmu memang menawan seperti Tuan Putri,"

Hinata merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Dia berjanji akan mencekik laki-laki itu jika terus-menerus memujinya atau bahkan menggodanya.


Naruto sangat kagum dengan daya ingat Hinata. Semua nama spesies yang ditugaskan dalam pelajaran Biologi begitu dia ingat. Naruto pun menjadi sedikit khawatir. Jika Hinata benar-benar Hyuuga dan hipotesis pertamanya benar maka gadis bermata lavender itu pasti benar-benar mengingat semua yang dia lakukan. Naruto hanya berharap Hinata tidak punya bukti kuat, dan bahaya jika dia mau datang ke sini karena ingin mengumpulkan bukti dari dirinya.

Hampir sama seperti pikiran Naruto, Hinata yang sedang memberikan nama terakhir di tugas Biologi mereka terus sesekali melirik sekitar ruangan tamu Naruto untuk mencari sesuatu yang bisa dia jadikan bukti. Hinata terutama mencari lambang spiral yang mungkin ada tercetak jelas di ruangan ini. Namun hasilnya nihil, ruangan besar dengan lampu mewah dan bercat ungu lembut ini hanya dihiasi hiasan dinding berupa vas-vas bunga, bungan replika dan lukisan yang penuh akan bunga. Bunga, bunga, dan bunga..

Apa Namikaze Naruto itu banci? Err, membayangkannya membuat Hinata sedikit geli.

"Oh ya, apa kau tinggal sendiri, Namikaze-san?" tanya Hinata yang sudah menyelesaikan tugasnya. Dia merenggangkan tangannya dengan gaya yang lucu. Naruto tersenyum melihat tingkah Hinata yang begitu menggemaskan.

"Seperti itulah. Ini adalah rumah pribadiku.."

BFUUU! Tentu saja Hinata terkejut. Rumah sebesar dan semewah ini adalah rumah pribadi Naruto?! Ya tentu saja..dia adalah seorang Namikaze.

"Haha," Naruto tertawa pelan sambil menggaruk belakang kepalanya "..Aku memang lebih suka tinggal sendiri. Aku adalah tipe yang tidak suka diatur oleh orang tuaku.."

Mata Hinata melebar. Dia menoleh ke arah Naruto dan mimiknya berubah sedikit marah.

"Jangan seperti itu!" Hinata teringat rasa rindu akan keluarganya "Jika orang tuamu meninggal maka kau tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang, Namikaze-san,"

Naruto menopang dagunya perlahan-lahan di meja belajar yang rendah tersebut "Hm, tentu saja.." Naruto tersenyum tipis sambil memejamkan matanya "Tapi aku yang belum tahu rasanya bagaimana ditinggal mati oleh orang tuaku sih..yah, tidak apa-apa,"

Hinata menahan napasnya. Orang ini benar-benar seperti tanpa perasaan. Apa dia tidak tahu bagamana sakitnya hidup sendirian tanpa keluarga?! Entah kenapa mengingat keluarga membuat mata Hinata mulai sembab. Hinata memalingkan wajahnya dan menutup matanya perlahan-lahan. Dalam situasi ini dia harus tenang.

"Hei Tuan Putri-"

"J-JANGAN PANGGIL AKU SEPERTI ITU!" Hinata masih menolehkan wajahnya dari Naruto "Aku punya nama!"

"Yawarakai-Hime, aku-"

SETT! Hinata menoleh dengan wajah kesal. Naruto begitu terkejut ketika melihat mata lentik Hinata memerah. Hinata menatap tajam Naruto dan menggembungkan pipinya perlahan. Naruto memiringkan kepalanya perlahan-lahan.

"Kau menangis?"

"T-tidak!"

Naruto menghela napasnya "Matamu memerah.."

"Ini kena debu! Kau jangan panggil aku dengan-"

"Rumah ini benar-benar bersih tanpa debu,"

"Terserah! Yang penting mataku kena debu dan aku tidak menangis! Jangan panggil aku dengan sebutan Hime itu atau..hiks..hiks..atau.."

Naruto rasanya mau terjungkal ke bawah. Ada apa dengan gadis ini? Dia tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas. Naruto menghela napasnya dan mengambil sekotak tisu di bawah meja. Naruto mengambil satu dan mengelapnya di pipi Hinata. Naruto menyengir penuh dengan aura menawan yang dia dapatkan dari ayahnya.

"Tuan Putri tidak boleh menangis.." kata Naruto dengan nada lembut.

Wajah Hinata memerah dan isakannya berhenti. 'Orang ini..' batin Hinata gusar.

"KAU MENYEBALKAAAAAN!"

PLAK! Seorang Namikaze Naruto kini benar-benar terjungkal ke belakang dengan pipi kanan yang memerah berbentuk telapak tangan.


Sebenarnya Hinata menangis karena dia mengingat tentang masa-masa keluarganya saat Naruto menyinggung tentang masalah orang tua. Gadis manis bersurai indigo itu hanya mengalihkan perhatian dengan mengatakan kalau dia terkena debu, atau sedikit lebih dalam, membuat Naruto mengasumsikan dirinya kalau dia menangis karena dia tidak mau dipanggil dengan sebutan Tuan Putri.

Naruto menatap semua soal Matematika yang diberi Anko dan menyeringai. Naruto lebih senang menghitung daripada mengingat. Itu mungkin karena ayahnya yang merupakan seorang Ekonom yang handal. Kini gilirannya untuk menunjukkan kemampuannya dalam mengerjalan soal-soal rumit tersebut.

Hinata menghela napasnya dan memandang sendu ke arah soal-soal Matematika. Hinata hanya menopang dagunya dengan malas.

"Hei, kau..emm, kau tidak mau membantuku?" tanya Naruto sambil membuat corat-coret di atas sebuah kertas kosong.

"Aku tidak suka Matematika,"

"Hem..begitu ya," Naruto menaruh pensilnya di bawah bibirnya. Dia kembali mencorat-coret di kertas tersebut "Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Daya ingatmu begitu membuatku takjub,"

"Terima kasih atas pujiannya," Hinata menatap malas ke arah coretan hasil karya Naruto "Kau juga seorang penghitung yang handal,"

"Heh," Naruto mendapatkan jawabannya dan menuliskan jawaban tersebut di buku tugas mereka "Ini memang tugas masa depanku, Yawarakai-san. Bagiku, menghitung sama dengan segala sesuatu yang harus kita dapatkan secara metodis. Maksudku begini.." Naruto mengetuk-ngetuk pensilnya di dahinya. Dia nampak berpikir.

"Jika sistem kerja orang pengingat itu adalah bersifat otodidak dan menyimpan segala yang dilihatnya lalu kembali dibuka, tanpa mencari jalan..maka sistem kerja orang penghitung adalah mencari jalan, tanpa perlu membuka kembali mana jalan yang benar, ya karena dia mencari bukan menghapal jalan sebelumnya.." Naruto tersenyum lalu menuliskan sesuatu di kertas coretan tersebut.

"Kau tahu, rasanya kita bisa saling melengkapi.." gumam Naruto dengan nada lembut. Mata Hinata sedikit melebar. Dia kemudian mengerlingkan mata lentiknya ke arah lain.

Ya, mereka berdua memang bisa saling melengkapi. Tetapi..

Naruto melirik sekilas ke arah Hinata dan tatapannya begitu tajam.

Pikiran dua remaja itu sama..

'Kau adalah calon musuhku!' batin keduanya.

Beberapa saat suasana canggung kembali mengisi keduanya. Naruto yang sibuk dengan soal Matematikanya dan Hinata yang hanya menopang dagunya dengan wajah bosan menambah suasana hening tidak mengenakkan tersebut. Hinata memiringkan kepalanya dan langsung berdiri. Naruto mengangkat kepalanya dengan cepat dan menatap Hinata dengan safir yang tajam.

"Kau mau ke mana?"

"Aku.." Hinata menghela napasnya perlahan-lahan "..Aku mau membuatkan teh untuk kita. Apa kau mengizinkanku?"

Naruto menganggukkan kepalanya perlahan. Dia tersenyum tipis ke arah Hinata "Tentu saja. Dapurnya ada di sana," kata Naruto sambil menunjuk ruangan yang dimaksud dengan pensil di tangan kanannya. Hinata menganggukkan kepalanya perlahan dan berjalan dengan anggun menuju ruangan yang ditunjuk Naruto sebagai dapur. Namikaze muda itu kembali melanjutkan pekerjaannya.

'Jadi ini dapurnya,' Hinata menatap sekeliling dapur bersih tersebut dengan tatapan kagum. Bagi Hinata, meskipun dia keluarga kaya, keluarganya masih memegang teguh model perumahan Jepang. Meskipun rumah Hinata begitu besar dan mengagumkan, ayahnya tetap bersikeras kalau budaya Jepang tidak bisa diubah sembarangan dan budaya asing harus diseleksi dengan ketat. Mengingat ayahnya membuat wajah Hinata kembali bersedih. Dia segera berjalan ke arah lemari dan mencari apa yang dinamakan Teh.

Hinata bingung, kenapa laki-laki menyebalkan itu mau tinggal sendiri. Apa tipe Namikaze memang begitu? Hinata menuangkan air panas di atas serbuk teh hijau Jepang yang begitu menggoda dan memasukkan beberapa sendok gula. Yang menjadi pertanyaan Hinata selanjutnya adalah kenapa Naruto tidak takut kalau meninggalkan Hinata sendirian. Bisa saja Hinata mencari sesuatu petunjuk di dapurnya dan menemukan suatu bukti kuat kalau Naruto adalah si pembunuh itu. Hinata sesekali melirik ke arah Naruto dan tampak laki-laki bersurai kuning itu masih tenang mengerjakan tugas mereka. Hinata berkeliling dapur dan berusaha untuk menemukan sesuatu. Tidak ada apa-apa. Yang hanya ada sebuah simbol bunga dan beberapa bunga replika hias lainnya. Hinata menghela napasnya dan menaruh dua gelas berisi teh panas di atas sebuah nampan lalu berjalan hati-hati ke arah Naruto.

"Ini," kata Hinata sambil meletakkan nampan tersebut di atas meja. Naruto menganggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan tugasnya dengan tenang. Hinata kembali merenggangkan badannya baru kemudian menyesap teh buatannya sendiri. Naruto berhenti sejenak dan ikut-ikutan juga menyesap teh buatan si gadis indigo.

Hening..

Naruto kembali melanjutkan pekerjaannya dan sesekali mengetuk-ngetuk pensilnya di atas meja.

"KENAPA KAU TIDAK PROTES?!" teriak Hinata dengan nada kesal. Naruto mengerling sekilas dan menatap datar ke arah Hinata.

"Protes apa?" tanya sang Namikaze dengan nada pelan sambil matanya tetap terpaku ke soal-soal Matematika.

"Tehnya, ano.." Hinata menggebrak meja hingga membuat Naruto menoleh ke arah Hinata dengan alis bertautan kebingungan.

"..MAAFKAN AKU! A-AKU SALAH MEMASUKKAN GULA! YANG KUMASUKKAN ADALAH GARAM DAN TEH ITU MENJADI ASIN!" Hinata langsung membungkukkan badannya dengan wajah memerah malu. Naruto menghela napasnya dan wajahnya tersenyum geli.

"Oh, aku tidak meminumnya. Teh buatanmu sudah beraroma aneh dan aku sudah tahu kalau rasanya pasti aneh," Naruto terkekeh geli "Daun teh Jepang mempunyai aroma yang kuat jika dia tidak bercampur dengan gula, jadi tenang saja..aku tidak merasakan teh asin itu kok,"

Hinata memiringkan kepalanya dan mengedip-ngedipkan matanya dengan wajah polos yang imut. Sedetik kemudian dia baru sadar dan wajahnya langsung memerah.

PLAK! Tanpa alasan yang jelas Hinata kembali menampar wajah Naruto. Naruto tepar di lantai dengan pipi kirinya yang ikutan memerah. Hinata menutup wajah cantiknya dengan kedua tangannya dan terus bergumam.

"Aku malu..aku malu.."

Naruto menghela napasnya perlahan 'Hanya garam. Kukira dia memasukkan sejenis racun untuk membunuhku. Mungkin aku terlalu negative thingking dengan gadis bodoh seperti dirinya,' batin Naruto sambil tersenyum tipis.


Buruk.

Hinata merasakan nasibnya benar-benar buruk.

Dia berdiri di depan jendela Naruto dengan mata yang seperti mau menangis. Yah, tampaknya hari ini akan menjadi hari tersial Hinata. Dia berduaan dengan seorang laki-laki menyebalkan, yang dicurigai sebagai seorang pembunuh, dan cuaca sekarang begitu sangat buruk. Hinata menjedutkan kepalanya ke dinding rumah Naruto dan mengais-ngaiskan tangannya di dinding tersebut plus aura-aura suram. Naruto yang memandang hujan badai di luar rumahnya hanya melirik sekilas ke arah Hinata dan menghela napasnya perlahan-lahan.

"Ayolah, ini hanya hujan.."

Hinata menoleh dengan wajah kesal "Ya, hujan! Hujan ini membuat aku terjebak bersama orang sepertimu!"

Naruto berdiri dan berjalan ke arah Hinata. Dia berdiri di samping Hinata sambil menaruh kedua tangannya di kantong celana jeansnya. Naruto menghela napasnya kembali.

"Aroma hujan begitu menenangkan ya," Naruto terdiam sejenak "Rasanya semua debu yang mengelilingi kita terangkat dan bumi ini dibersihkan secara menyeluruh,"

Hinata yang hanya menatap kesal ke arah Naruto kini menatap kembali ke luar rumah. Benar, hujan tidak terlalu buruk kok. Lagipula tidak ada petir yang menakutkan Hinata dan semuanya akan baik-baik sa-

BLAAAARHHH! Sebuah petir menyambar secara mengejutkan dan Hinata yang memang takut dengan kejadian alam itu langsung berteriak kencang sambil menutup kedua telinganya erat-erat.

"KYAAAAAAA!"

BLAAAAARHHH! Dua petir secara critical menyambar tanpa belas kasihan. Hinata merasakan jantungnya berdetak lebih kencang.

BLAAAAAAAAARHHH! Apa Kami-sama sedang memberikan Hinata sebuah cobaan?!

"KYAAAAA-Ehh?!" Hinata merasakan tubuhnya dipeluk dengan hangat. Hinata mengangkat kepalanya perlahan-lahan dan melihat Naruto memeluknya dengan wajah tenang.

Tentu saja wajah sang Hyuuga langsung memerah. Jantung Hinata terasa berdebum seperti genderang perang.

"Jangan berpikiran yang macam-macam, aku hanya benci orang yang selalu berteriak dan membuat keributan," kata Naruto dengan nada datar. Wajah Hinata langsung mengkerut kesal.

"S-siapa juga yang mau dipeluk olehmu! Jangan percaya diri Hentai-ah ya! K-kau pasti mau memelukku karena ada niat buruk dari hatimu! Lepaskan..lepaskan!" Hinata langsung mendorong pelan dada bidang tersebut, lalu..

BLAAAAARHHH!

"KYAAAAAAAA!"

Naruto memutar bola matanya. Hinata bahkan memeluk tubuhnya secara langsung dan gadis Hyuuga itu kini menutup matanya rapat-rapat.

"J-jangan berpikiran yang macam-macam Hentai! A-aku hanya memelukmu karena ada kejadian ini, aku…aku tidak bermaksud apapun,"

Naruto tersenyum pelan. Dia memakluminya. Naruto menatap datar ke arah luar dan langit benar-benar sangat gelap. Naruto kemudian memandang wajah manis itu dan entah kenapa jantung Naruti berdetak lebih kencang.

'Dia cukup cantik juga ketika dirinya berada dalam ketakutan,' Naruto menelan ludahnya perlahan 'Jangan berpikiran yang aneh-aneh! Gadis ini bisa saja Hyuuga dan merupakan buruanku yang lepas!' wajah Naruto sedikit memerah dan dia melirik kembali ke arah luar rumahnya.

'Tetapi..'


Lama. Sangat lama menunggu. Hinata menguap berkali-kali untuk menghilangkan kebosanannya pada cuaca yang tidak bersahabat saat ini. Hinata menaruh wajahnya di atas meja dan menggulingkan pensilnya tanpa arti.

"Mau permen lolli?" tanya Naruto sambil melemparkan sebuah permen lollipop rasa jeruk. Hinata menggelengkan kepalanya perlahan. Dia menelungkupkan wajahnya di atas meja Naruto dan menyalahkan dirinya kenapa terlalu lama menunggu Naruto menyelesaikan tugas Matematika mereka. Dia bisa saja langsung pulang ke rumah karena bagiannya-tugas Biologi-sudah selesai.

Naruto mengulum lollipop rasa jeruk kesukaannya dan memandang hujan yang semakin deras dari tadi sore. Oh ya, sekarang waktu menunjukkan pukul sepuluh malam dan mereka berduaan selama kurang lebih tujuh jam. Suasana yang mereka isi lebih dominan mengheningkan cipta daripada melakukan suatu obrolan. Naruto dan Hinata, meskipun kejadian-kejadian yang agak mendekatkan mereka sudah terjadi tadi, namun keduanya masih saling menjaga jarak karena rasa curiga yang begitu besar antara keduanya. Naruto mengambil smartphonenya dan mengutak-atik benda itu dengan cepat. Yah, Naruto bisa saja membunuh Hinata saat ini, tetapi Hinata bukan 100 persen positif seorang Hyuuga dan..

Entah kenapa rasanya sayang menghilangkan nyawa mahluk semanis dia..

'Eh?! Apa yang kupikirkan,' Naruto menaruh smartphonenya dan mengacak pelan rambutnya. Mungkin setan sedang memasukkan pikiran-pikiran aneh ke dalam otaknya. Naruto menghela napasnya perlahan dan merasakan sesuatu yang berat menimpa bahu kirinya. Naruto melirik ke samping kiri dan mendapatkan Hinata sudah tertidur di bahunya tersebut. Naruto kemudian memandang lama wajah Hinata.

Bahkan saat tertidur wajah itu benar-benar menawan. Bibir tipis yang nampak lembut dan hidung kecil yang imut. Ditambah pipi manis yang sedikit kemerah-merahan. Safir Naruto entah kenapa autofokus ke arah bibir Hinata dan tegukan ludahnya menjadi sedikit lebih kencang.

'BODOH! APA YANG KUPIKIRKAN! DAN KENAPA GADIS INI TERTIDUR DI BAHUKU!' Naruto mengangkat kepala Hinata perlahan dan dengan terpaksa, putra Namikaze Minato itu mengangkat Hinata di antara dua lengannya. Naruto langsung membawa Hinata ke kamar bernuansa ungu dan meletakkan ranjang berukuran King Size di sana. Naruto menatap sekeliling kamar tersebut dan menyembunyikan boneka-boneka yang akan membuat Hinata curiga jika dia tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Setelah selesai, Naruto menelepon seseorang dari Smartphonenya. Terdengar suara gadis di seberang sana.

"Gomen Ino. Aku bahkan sampai menggunakan kamar tidurmu,"

.

.

.

"ARGGGHHH`-"

"LARILAH HINATA! LARI!"

"HINATA! HINATA!"

"PEMBUNUH ITU ADA DIDEKATMU!"

DEG! Mata Hinata terbuka lebar. Matanya kini menangkap suasana yang begitu aneh di sekitarnya. Hinata langsung mengangkat tubuhnya dan memandang penuh tajam sekelilingnya.

Dia berada di kamar seseorang. Dan kamar bernuansa ungu ini adalah kamar..

Namikaze Naruto?!

'Aku tertidur di kamar seorang remaja laki-laki?!' Hinata langsung bangkit dan setengah berlari menuju pintu kamar. Dia langsung membuka pintu tersebut dan berjalan cepat ke ruangan di mana dia dan Naruto tadi belajar. Naruto kini sudah duduk di kursi sofa besar berwarna merah dengan seragam sekolah yang lengkap. Namikaze muda itu menoleh ke arah Hinata dan tersenyum tipis penuh arti. Wajah Hinata yang sudah kesal setengah mati perlahan-lahan memerah.

'A-apa maksud senyumannya itu! Matte, ja-jangan-jangan..saat a-aku tidur, dia..dia..' Hinata meneguk ludahnya. Tiba-tiba da berteriak kencang sehingga Naruto yang sedang mengemasi buku-bukunya langsung kembali menoleh ke arah Hinata.

"HENTAAAAIII!"

"Hn? Apa?"

"Hentai Hentai Hentai Hentai! Kenapa aku bisa tidur di kamarmu! Kenapa kau tidak membangunkanku saat aku terlelap! Kau pasti macam-macam denganku! Kau pasti-"

"Kaulah yang Hentai," kata Naruto dengan nada tenang "Aku tidak melakukan apa-apa. Siapa yang berpikiran mesum sekarang?"

BLUSH..wajah Hinata sudah benar-benar memerah. Dia langsung berjalan dengan cepat menuju pintu keluar rumah. Hinata melirik jam tangannya dan masih ada sekitar 45 menit sebelum KHS membunyikan bel masuk. Hinata membuka pintu rumah bernuansa ungu itu dengan kasar dan menghentakkan kakinya di depan teras rumah tersebut.

"Oi oi oi, tugas kelompok kita bagaimana Hime?!" teriak Naruto dengan nada yang masih tetap datar.

"KAU YANG MEMBAWANYA KE SEKOLAH HENTAI! DAN JANGAN PANGGIL AKU DENGAN PANGGILAN MENJIJIKKAN SEPERTI ITU!"

"Oh, emm-"

"AKU PERGI!"

"Tasmu ketinggalan Yawarakai-san!"

".."

Hinata langsung berbalik kembali memasuki rumah besar itu dan berjalan cepat-cepat ke arah ruangan di mana Naruto masih duduk dengan tenang. Hinata berdiri dengan gaya marah yang lucu dan wajahnya cemberut dengan pipi yang sedikit kemerah-merahan.

"BE-BERIKAN!"

Naruto memberikan tas Hinata dengan alis bertautan. Hinata langsung menyambar tas tersebut dan berbalik dengan cepat.

"Terima kasih!"

"Ya, bisakah kau berbicara pelan, karena suaramu yang merdu terdengar indah jika-"

"AKU TIDAK PEDULI!"

BLAAAM! Hinata menutup pintu itu dengan kasar. Hening. Naruto yang sedang mengemas semua bukunya hanya menatap datar pintu rumah yang baru ditutup Hinata. Dia kemudian menatap buku tugas Biologi yang dikerjakan Hinata dengan sangat baik. Naruto tersenyum tipis.

'Walaupun kau calon buruanku, heh..kau menarik juga,'

"Bagaimana?"

Naruto berdiri dan menoleh ke arah Ino yang bersandar di ruang dapur dengan seragam sekolah lengkap. Naruto mengedipkan matanya.

"Tidak ada. Interaksiku gagal, ah..maaf karena memakai rumahmu dan mengklaimnya sebagai rumahku. Kau tahu kan jika dia menemukan petunjuk di rumah asliku misalnya lambang keluarga Kaa-san maka,"

Wajah Ino berubah sedikit tajam "Rencanamu malah akan menjadi bumerang untukmu, Naruto.."

Naruto memasukkan buku Biologi tersebut dan menutup zipper tasnya dengan gerakan cermat. Naruto berdiri sambil menghela napasnya perlahan-lahan. Dia menoleh ke arah Ino dan membuat gerakan isyarat dengan kepalanya.

"Kita pergi,"


Anko menatap tugas belajar kelompok antara Suigetsu dan Ino sambil tersenyum tipis. Semua tulisannya adalah tulisan Ino. Anko mengangkat kepalanya dan menatap tajam Suigetsu.

"Suigetsu! Apa kau ada membantu Ino dalam mengerjakan tugas kelompok ini?!"

Sui menyengir memamerkan gigi-gigi runcingnya. Alis Anko sedikit berkedut kesal.

"Ino-chan melarangku untuk menulis sensei. Lagipula aku bingung mau menulis apa di soal-soalmu yang sulit itu,"

"Oh, pengakuan yang bagus. Nilaimu nol gigi hiu," kata Anko dengan nada kejam. Suigetsu langsung jatuh terjungkal ke belakang.

Anko kembali menatap tugas yang diberikan kepada Killer Bee dan Rock Lee. Wajahnya langsung mengeras.

"KALIAN BERDUA! KENAPA BUKU KALIAN KOSONG HAH?! BUKANNYA KALIAN ADALAH PEJABAT KELAS YANG HARUS MEMBERIKAN CONTOH YANG BAIK?!"

"AKU TAKUT SENSEIIII! DIA MAHOOOOO!" teriak Lee dan Bee bersamaan sambil menunjuk masing-masing lawannya. Anko menepuk keningnya dan tersenyum mengerikan.

"Kalian, AKU RESMIKAN SEBAGAI PASANGAN MAHO!" teriak Anko murka. Bee dan Lee saling berpandangan dengan tegukan ludah penuh rasa shock.

"TEDHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!" dan itu menjadi teriakan terpanjang mereka berdua.

Anko mendengus pelan. Sementara anak-anak lainnya tertawa terbahak-bahak. Guru kelas 2-A itu kemudian menatap dua buku tugas terakhir. Nama yang tercetak di sana adalah..

Namikaze Naruto Hentai Playboy Menyebalkan Super Duper Bodoh

Yawarakai Hinata Dada Besar Pemarah Yang Salah Memasukkan Gula Dengan Garam Dan Takut Sama Petir

'Na-nama macam apa ini?' batin Anko dengan alis turun naik dan langsung sweatdrop. Dia langsung menatap keduanya dan tersenyum kikuk.

Naruto dan Hinata saling bertatapan tajam. Ada seperti percikan-percikan api, tanah, air, dan udara di antara kedua matanya. Ino yang berada di samping keduanya hanya meneguk ludah perlahan-lahan karena aura suram yang begitu mengerikan dari tubuh keduanya. Anko menatap kedua buku tugas tersebut dan dia menjadi kagum. Buku Biologi yang ditulis dengan tulisan Hinata nampak sempurna dengan jawaban yang tepat. Begitu pula dengan buku tugas Matematika. Anko tersenyum tipis.

'Jika Naruto-sama adalah lelaki yang pintar, gadis itu benar-benar cocok untuknya..tetapi,' Anko mengangkat kepalanya dan terdengarlah adu mulut yang membuat kelas 2-A semakin ribut.

"APA YANG KAU TULIS DI BUKU TUGAS ITU GADIS BODOH!"

"K-KAU MENULIS APA JUGA, HENTAI! RASANYA NAMAKU TIDAK SEPANJANG ITU!"

"KAU YANG DULUAN!"

"ITU AKIBAT PERBUATANMU KEMARIN! DASAR HENTAI!"

'Eh? Kemarin?!' batin para cowok kelas 2-A dengan pikiran melanglang buana tidak jelas.

"AKU TIDAK MELAKUKAN APA-"

"HENTAI TETAP HENTAI!"

"NARUTOOOOO! CUKUP SUDAH KEHENTAIANMUUUU!" teriak para cowok yang dikomandani Maho Lee dan Bee. Sementara Ino hanya menepuk keningnya dengan wajah sedih. Jika saja mereka semua bukan teman sekelas Naruto, pasti putra Minato itu sudah melakukan C-7 pada semua siswa-siswi di kelas 2-A ini.

Yah, perlahan-lahan namun pasti..pemainan cinta berbahaya itu segera bergulir ke tengah cerita

TBC

Author Note:

Yawahahahaha! Selamat Independence Day To My Love Indonesia! Merdeka! Merdeka! Kyaaaaa-_-, ngos-ngosan habis upacara dan akhirnya selesai. Sebenarnya fic ini sudah selesai kemarin dan Icha tinggal mengetik Author Note ini dan membalas review dari para Readers-san. Emm, baiklah..Icha akan langsung balas yang non-akun dan yang mempunyai akun akan Icha balas lewat PM^_^

Akina: Haha, sip lah. Arigatou atas reviewnya. Dan untuk Teme, Akatsukers, dan sejenisnya akan menunggu alur cerita. Soal Orochi-sensei yah, kita akan lihat apa dia akan menjadi banci di fic ini juga *diCurse Mark #plak*

Hqhqhq: Sip, tetap Nh kok. Kan di pair sudah ada. Kalau misalnya ada yang lain, itu Cuma slight dan bumbu-bumbu cerita. Arigatou ya..

Soputan: Haha, ya..mereka diam-diam saling curiga^_^ sip, kita akan lihat apa Hina-chan mampu melawan Naru yang merupakan keluarga besar Namikaze. Arigatou..

Guest: Yap, arigatou atas sarannya Guest-san. Tapi Icha susah untuk lari dari Genre Humor. Mungkin akan Icha coba lebih serius dan humor yang berimbang. Arigatou..

MORPH: Yap, karena Naruto baru merasakan apa yang disebut kegagalan Morph-san, jadi dia sedikit kesal dan terkesan marah. Dia juga mengatakan kalau jika Hinata benar-benar Hyuuga, maka itu kesalahan terbesarnya dalam ribuan misi yang sudah dia lakukan. Jadi dia marah karena dirinya belum menerima kalau Hinata (jika da Hyuuga) berhasil lolols dari misi membunuhnya^_^ arigatou atas sarannya.

GunbaiNoMadara: Arigatou atas sarannya^_^ ini Icha sudah coba menanmbahkan wordsnya. Sip..

tsumehaza arief: Gomen ne kalau humor Icha gagal di fic ini. Icha sangaaaaaat susah untuk lari dari genre Humor. Soal sarannya, T_T Icha masih gak negrti Arief-san, ano..maksudnya itu misalnya 'ciri fisik dulu baru nama' yang dideskripsikan kan? Mohon bantuannya *bungkuk-bungkuk minta maaf* arigatou ne..

Yap, yang akun nanti Icha akan balas lewat PM dan terima kasih atas semua semangat yang kalian berikan. Mohon secara terbuka mereview, memberi saran, dan mengkritik fic ini. Icha masih harus belajar dalam dunia tulis-menulis di dunia maya.

So, please review and Thank you^_^

Tertanda. Icha Ren