Disclaimer: Mereka milik Tuhan dan diri mereka sendiri.

Warnings: Shounen-Ai, OOC, Typo

.


"My Uncool Boy"

Chapter 3


.

Siwon termundur beberapa langkah ke belakang, tanpa sadar punggungnya menabrak pohon dan ia jatuh merosot ke tanah. Ia masih menyandarkan tubuhnya, merasa tidak memiliki tenaga untuk berdiri.

Dalam diam ia tertunduk, menatap tanah yang ditapakinya dengan pandangan hampa. Ia tidak tahu, kenapa tiba-tiba ada rasa sesak di dadanya begitu ia melihat kedua mata itu. Mata biru kehitaman, mata milik ibunya yang telah meninggal sepuluh tahun lalu.

.

"Tidak salah lagi, kau memang anak kecil yang buta itu." Leeteuk mendudukan Kibum dengan lembut, ia berjongkok di hadapannya lalu memandangi wajah yang penuh dengan kekagetan itu.

"Kau-bagaimana?" Kibum mencoba bersuara, suaranya terdengar parau dan setitik air muncul di ujung matanya.

"Seharusnya kau tidak melupakan Si Anak Lumpuh, Kibum." Leeteuk tersenyum samar, tangannya terulur untuk mengelus rambut Kibum penuh sayang. Ia terlihat seperti sedang menahan berbagai emosi.

"Tidak mungkin. Kau, Jungsu Hyong?" Kibum kembali menunjukan ekspresi terkejutnya. Ia hanya memandangi Leeteuk yang memperlebar senyuman. "Hyong?"

"Ya, ini aku, Park Jungsu." Leeteuk kembali mengelus rambut hitam Kibum yang sempat ia rusak. Tapi Leeteuk bersyukur atas tindakannya itu.

"Hyong? Ba-bagaimana bisa?"

"Oi! Tunggu!" Heechul menyela, merasa bahwa kedua orang itu sedang di dalam dunianya sendiri. "Kalian saling kenal?" Tanyanya dengan mata memicing, ia cukup curiga karena sejak awal Leeteuk terlihat tidak benar-benar ingin menyiksa Kibum. Dan yang mereka lakukan sejak awal bukanlah menyiksanya, tapi merombaknya.

"Bisa kau jelaskan, Hyong?" Kangin angkat bicara, merasa pertanyaan Heechul sungguh tidak bermutu.

"Baiklah, aku akan menceritakannya," Leeteuk berdiri, menyingkap celana bagian kanannya sedikit, menampakan sebuah luka jahitan yang cukup besar. "Aku dulu pernah mengalami kecelakaan dan kaki kananku lumpuh. Dokter menyatakan bahwa aku akan dapat menggunakan kaki kananku kembali setelah beberapa kali pengobatan. Dan selama masa pengobatan, aku terus menghabiskan waktuku di rumah sakit. Dan aku jadi mengetahui banyak rahasia kehidupan.

"Suatu hari aku menemukan seorang anak laki-laki, setiap hari anak itu selalu mengunjungi ibunya yang sakit parah. Meski tahu hidup ibunya tidak lama lagi, tetapi anak itu tetap mencoba mengabaikan kenyataan itu.

"Beberapa suster tanpa sengaja menceritakan padaku, ibu anak itu sudah menyerahkan hidupnya. Ia akan mendonorkan organnya yang masih berfungsi dengan baik. Karena penasaran, aku mencoba untuk mengunjunginya.

"Awalnya sangat canggung, tapi ternyata ia adalah orang yang sangat baik. Ia selalu tersenyum, tawa dan suaranya begitu ramah, dan yang tidak bisa aku lupakan adalah matanya," Leeteuk berhenti lalu menghela napas. Ia memandang ke dalam mata Kibum yang masih menunggu kelanjutan ceritanya. "Matanya biru kehitaman, sangat cantik seperti batu safir yang langka.

"Seminggu kemudian ia meningal, menyisakan anak laki-lakinya yang terus terpuruk memaksa untuk tetap disisi mayat ibunya. Dan akhirnya sesuai dengan pesan, semua organnya yang masih berfungsi di donorkan. Dan mata indahnya ada disini."

Leeteuk menyentuh sebelah mata Kibum, membuat Kibum menutup kedua matanya. Kibum meresapi semua ucapan Leeteuk, sejenak ia mengingat semuanya. Sentuhan lembut yang sempat ia rasakan sehari sebelum ia melakukan operasi mata. Sentuhan dan suara lembut yang menyebut namanya dengan penuh kasih sayang. Ia ingat, wanita itulah yang telah mengubah hidupnya.

"Lalu, apa inti semua ini?" Heechul bertanya lagi, ia menaikan alis sebelah.

Leeteuk tersenyum, tangannya beralih memeluk tubuh Kibum yang ringkih. "Aku sudah bilang, 'kan? Aku akan membuat dia menyesal." Katanya sembari menarik kepala Kibum untuk bersandar di bahunya.

"Apa yang kau lakukan padanya, Barbar?" Heechul menatap Kangin dengan pandnagan curiga. Kangin sendiri hampir tersentak karena ia tiba-tiba saja di sangkut pautkan.

"Apa? Aku tidak mengerti." Kangin mengangkat bahu, mengacuhkan panggilan kasar Heechul.

"Bukan dia, tapi Siwon." Sela Leeteuk, sedikit mendesah pelan entah karena apa.

"Sekarang, apa lagi hubungannya dengan anak manja itu?" Heechul kembali bertanya. Ia sungguh bingung dengan pemikiran Leeteuk yang terus berputar-putar tanpa arah.

"Tentu saja ada. Ibunyalah yang mendonorkan mata untuk Kibum."

"..."

"..."

.

Matahari tepat di tengah langit. Begitu terik hingga membuat kulit serasa melepuh begitu terkena setitik saja cahayanya. Sinar menyilaukan itu masih setia menyinari dunia dengan nyalang, tidak terlupa pula sebuah ruangan gelap di sudut sekolah yang hampir terlupakan.

Leeteuk sibuk merapikan penampilan Kibum, ia merasa bahwa Kibum perlu melakukan perubahan pada dirinya yang sangat terlihat aneh.

"Tidak ada salahnya berpenampilan baik, Kibum." Kata Leeteuk sembari membetulkan bentuk dasi Kibum yang sudah tidak karuan akibat ulahnya.

"Apa penampilanku sebelumnya tidak baik?" Kibum membuka suara, mendongakan kepala untuk memberikan Leeteuk ruang saat membetulkan dasinya.

"Sangat tidak baik! Kau persis keledai, bodoh. Dan seharusnya kau menggunakan gel rambut, bukan air biasa." Leeteuk menepuk kedua pipi Kibum, membuat Kibum mengerjapkan matanya berkali-kali.

"Tapi aku nyaman dengan penampilan begitu. Lagipula..." Kibum menyisir kembali poninya yang di atur Leeteuk agar menyentuh sedikit matanya. "Aku tidak pantas berpakaian seperti ini."

"Kenapa tidak pantas? Kau lebih tampan kalau begini," Leeteuk menjatuhkan poni Kibum kembali. Ia melirik ke arah kacamata tebal Kibum yang tergeletak di lantai. "Kangin, buang kacamata jelek itu." Perintah Leeteuk pada Kangin yang sejak tadi duduk tenang disebuah kotak kayu.

Kangin akhirnya beranjak setelah mempertemukan matanya dengan mata Leeteuk sebelum akhirnya Kibum menengahi.

"Jangan!" Serunya, ia nyaris mendorong Leeteuk yang sedang memandangnya kaget. "Tolong jangan dibuang." Kibum melepaskan dirinya dari Leeteuk, berjongkok untuk merai kacamata tebalnya. Ia terdiam sejenak, menggenggam kecamata tebal itu dengan pandangan sedih. Setelah itu ia berlalu, meninggalkan Leeteuk, Kangin dan Heechul yang hanya meliriknya sinis.

.

Angin bertiup dengan lembut. Matahari masih seterik sebelumnya dan sanggup membuat matanya menyipit. Sejak mengalami syok tadi, ia langsung berlari ke atap sekolah setelah merasa jiwanya benar-benar sudah tenang. Dan sekarang ia tidak yakin bahwa ia sudah benar-benar tenang.

Tanpa sadar ia masih menggeram. Mengepalkan tangannya erat mencoba meredam emosi yang sudah sampai di ubun-ubun. Ia tidak tahu mengapa ia marah, ia yakin bahwa ia sudah melupakan kejadian itu sejak bertahun-tahun yang lalu. Ia yakin bahwa ia sudah tidak akan perduli tentang hal itu.

Ia tidak perduli pada siapapun yang telah menerima organ ibunya. Ia sudah rela, ia bukan lagi anak kecil yang terus meraung dan meneriaki semua orang yang menerima donoran ibunya. Itu sudah lama berlalu dan jujur ia sangat menyesali hal kekanak-kanakan itu.

Ia ingat, dulu ia sering bertindak brutal. Menghina, mencaci maki orang yang menerima organ ibunya. Tapi itu dulu, sekarang ia sudah lebih dewasa dan berusaha menerima semuanya dengan lapang dada.

Lalu kenapa ia tiba-tiba saja merasakan sesak di dadanya?

Semua sesak itu muncul saat ia melihat mata itu lagi. Bukan, bukan matanya tapi siapa yang ia lihat. Ia ingat, sosok anak laki-laki yang dengan tubuh bergetar menangis di hadapannya. Dan ia menangis akibat kalimat seorang Choi Siwon yang ke kanak-kanakan. Anak kecil yang telah menerima kedua mata ibu Siwon itu menangis, dan Siwon ikut menangis karena ia masih berduka saat itu.

Tapi Siwon tidak tahu bahwa ia sudah menorehkan luka dalam di hati anak itu.

.

Kibum berjalan dengan langkah tergesa, mengacuhkan tatapan-tatapan yang tertuju padanya. Jujur saja, penampilan Kibum sangatlah aneh. Semua bisa tahu bahwa ia adalah Kibum berkat kacamata tebalnya, namun pakaiannya sudah berubah, semuanya kelihatan berbeda dan tidak cocok dengan kacamata yang dipakainya.

Tetap dengan langkah kilat ia mencoba mencapai toliet yang hanya tinggal beberapa langkah lagi. Dan begitu ia masuk ia langsung mengembalikan penampilannya. Ia mendesah pelan, hari ini benar benar hari yang kacau. Bertemu dengan pangeran sekolah yang menyebalkan, pingsan akibat si pejudo sekolah, di perlakukan sedikit kasar oleh Sonbae, dan jangan lupakan bahwa ia sudah membolos beberapa jam pelajaran. Sekarang adalah jam kosong dan Kibum berharap ia tidak akan mendapatkan masalah lagi.

Ia mendesah lagi, menatap wajahnya yang sedang mengenakan kacamata tebal. Ia tidak akan pernah melepas kacamata ini lagi. Ia akan terus memakainya agar tidak ada yang dapat melihat matanya.

Bukan, bukannya ia tidak suka dengan matanya. Mata biru kehitaman ini adalah anugrah baginya. Lalu kenapa ia perlu menyembunyikannya?

"Kau tidak pantas memiliki mata itu! Sia-sia ibuku menyerahkannya padamu!"

DEG.

Kibum tersentak begitu ia tanpa sengaja mengingat kalimat itu. kalimat yang ia dapatkan tepat setelah ia barusaja menikmati indahnya dunia.

Ia ingat, saat itu ia benar-benar tidak tahu apa-apa dan berakhir menangis dengan segenap tenaganya. Ia merasa begitu terpukul begitu kalimat itu tepat menancap di hati kecilnya. Tapi yang ia bingungkan, kenapa anak itu juga menangis di saat yang sama. ia dapat melihat raut kesedihan yang mendalam di wajah anak itu.

Kibum menghapus air matanya yang hampir jatuh. Tidak, ia sudah bertekad untuk melupakan kejadian sepuluh tahun lalu. Ia sudah bertekad untuk tidak mengungkit semua itu lagi. Yang jelas sekarang, kacamata ini harus selalu bersamanya.

Tapi tunggu dulu, kenapa sepertinya ada yang ganjil?

"Tentu saja ada. Ibunyalah yang mendonorkan mata untuk Kibum."

Tunggu, apa kata Leeteuk tadi? Ibunya, ibunya siapa?

Kibum menumpukan kedua sikunya di atas wastafel, memandangi wajahnya dengan seksama sembari terus mencoba mengingat-ingat kalimat Leeteuk yang ambigu baginya.

"Bukan dia, tapi Siwon."

"Si... Won?" Kibum tersentak, ia sungguh tidak dapat mempercayai pemikirannya sendiri. Ia tahu bahwa ia adalah murid yang pintar, tapi terkadang murid pintar pun pernah salah, 'kan? Ini pasti salah, begitu pikirnya.

Tidak mungkin anak laki-laki itu adalah Siwon, Choi Siwon yang telah meneriakinya dengan kalimat kasar hingga membuatnya trauma dan menutup diri. Tidak, Kibum tidak mau menemuinya. Ia sudah cukup menghindar selama tinggal bertahun-tahun di L.A dan semuanya aman terkendali.

Ia jadi menyesali keputusannya yang dengan mudah menyetujui perkataan adiknya. Kalau tahu begini, ia tidak akan kemari. Ia harus menghindar, ia harus menjauh karena Siwon sendirilah yang tidak ingin melihat wajahnya lagi. Siwonlah yang berkata bahwa ia tidak pantas mendapatkan mata itu. Dan Siwon jugalah yang membuat semua di diri Kibum berubah.

"Kau tadi menyebut nama Siwon?"

Kibum tersentak, dengan cepat ia membalik badan dan menemukan seorang namja berparas manis tengah memandangnya.

"A-Eh, tidak..." Kibum melirik lambang yang ada di bahu namja itu. "Sonbae."

Namja itu memandangi Kibum, sepertinya ia tengah berpikir keras. "Apa dia menyakitimu?" Tanyanya lagi, kali ini dengan pandangan serius. Kibum tersentak sedikit lalu kembali terdiam. Merasa dirinya kurang sopan, namja yang setahun di atasnya itu segera meralat ucapannya. "Ah, maaf, aku Lee Sungmin. Maaf karena aku tiba-tiba bertanya seperti itu padamu." Setelah itu Sungmin hanya tersenyum manis, seolah dapat membaca suasana hati Kibum.

"Tidak apa-apa, Sonbae."

.

"Sampai kapan kau mau terus di tempat ini, Siwon?"

Siwon mengabaikan Hangeng, ia tetap memejamkan mata sembari duduk menyandar di tepi pagar besi. Rasanya, angin yang berhembus dapat membuat perasaannya semakin membaik. Tapi Hangeng melihat semua itu hanya sebagai kamuflase belaka. Semua tidak mudah seperti yang terlihat dan Hangeng tahu, Siwon terlalu kekanak-kanakan untuk menghadapinya.

"Dengarkan Sonbae-mu bicara, Anak Manja." Hangeng berjalan mendekati Siwon dengan perlahan. Setelah itu ia ikut duduk di sebelah namja yang sedang gelisah itu.

"Aku mendengarnya."

Hangeng mendengus, ia sudah terbiasa dengan sikap Siwon yang jauh dari kata ramah. Baiklah, awalnya ia akan kelihatan ramah, tapi jika sudah kenal lama kau akan tahu seberapa jelek sifat yang dimiliki olehnya.

"Kau kalah, Siwon," Siwon membuka mata dan segera menoleh pada Hangeng. Hangeng hanya tersenyum simpul karena ia telah berhasil mengalihkan Siwon. "Kau kalah pada Kim Kibum." Lanjut Hangeng lagi yang sadar bahwa ia telah menyulut api.

"Tarik kembali kata-katamu." Kata Siwon dengan mata tajam, tidak terima bahwa ia di kalahkan oleh siapun apalagi seorang Kim Kibum.

"Tapi itu kenyataan. Sekarang apa yang akan kau perbuat? Membuatnya buta? Ups.." Ucap Hangeng dengan nada dibuat-buat. Sejak awal ia tahu semuanya, ibu Siwon yang mengidap kanker rahim, Kibum yang buta, pendonoran kedua mata ibu Siwon, dan semua tindakan Siwon. Ia tahu semuanya.

Siwon menaikan alis, ia memang sudah meremehkan namja cina satu ini dan ia cukup menyesal. "Aku tidak mau membuat usaha ibuku sia-sia."

"Lalu apa yang akan kau lakukan, Choi Siwon?" Hangeng kembali melantunkan kalimatnya, membuat siapapun yang sedang tidak dalam kondisi yang buruk akan tertawa geli. Tapi tentu saja tidak ada pengaruhnya dengan Siwon.

Siwon hanya diam, mendongak untuk melihat langit biru diatasnya. Membiarkan matanya mengikuti arah awan yang berarak kesana kemari. Putih, lembut dan cantik.

"Sama sepertinya..."

"Ha?" Hangeng menatap Siwon dengan pandangan penuh tanya. Dan ia lebih terkejut lagi begitu melihat senyuman manis Siwon yang sesungguhnya.

Dunia pasti akan segera runtuh.

.


TBC


.

A/N:

Yey! Ternyata ada yang tahu kalo sebentar lagi SasuNaru day! ^^

Maaf Mime lambat mengupdatenya karena alasan SN Day, dan entah kenapa Mime kurang puas dengan fic ini.

Apa fic ini mengecewakan?

Kalau iya Mime minta maaf karena jujur Mime sangat merasa ganjil.

Dan Sibum momentnya belum ada karena ya memang belum saatnya. Mungkin chapter depan akan ada dan Mime akan mencoba untuk lebih cepat mengupdatenya..

Berniat mereview? ^_^

Oh ya kalau ada yg berniat membaca karyaku di fandom Naruto, SasuNaru silahkan cari author ZukaBaka, itulah aku.. tapi tunggu tanggal 10 yaa ^^