Disclaimer : Masashi Kishimoto

Masih abal, banyak kekurangan, tolong kritik dan sarannya. thanks udah read, salam kenal ghwen :)

NB : DISINI NARUTO DAN SASUKE BERTUKAR TUBUH YA...

Sudah beberapa hari Sasuke dan Naruto bertukar tempat, walau sifat mereka terlihat aneh tetapi tidak ada yang curiga. Bahkan Naruto yang terkenal bodoh, sekarang menjadi idola karena tiba – tiba menjadi pandai walau sedikit cuek. Sementara Sasuke yang di kenal sebagai pangeran es sekarang menjadi lebih terkenal dan sering di kelilingi wanita cantik karena senyum mempesonanya. (Sasuke tersenyum ? OMG).

Hujan turun membasahi Konoha dan sekitarnya,

Di kelas Hinata 1A,

"Terimakasih Sasuke-nii, sudah membantuku piket" Kata Hinata membereskan alat bersih - bersih.

"Hehe… tidak perlu sungkan Hinata!" Sahut Naruto dengan cengiran khasnya, Hinata hanya tersenyum kikuk melihat Sasuke yang tersenyum lebar dan malah terlihat aneh di mata Hinata.

"Sasuke-nii, kau pulang dulu saja. Aku masih ada ekstra memasak setelah ini" kata Hinata menyodorkan payung berwarna biru dongker. Naruto hanya menatap payung itu ragu, menimang apa yang sebaiknya dia lakuhkan. Menunggu Hinata seperti perintah Sasuke atau pulang duluan.

"Lalu kau sendiri bagaimana?" Tanya Naruto bimbang.

"Tidak apa, mungkin setelah ekstra memasak selesai hujan akan reda" Sahut Hinata berusaha meyakinkan.

"Benar juga, dari pada aku sendirian di sini lebih baik pulang duluan. Lagi pula Hinata sendiri kan yang menyuruhku pulang, jadi tidak ada alasan untuk si Teme marah padaku. Aku juga yakin, hujan pasti segera reda" Pikir Naruto memantapkan hatinya.

"Hehehe… baiklah kalau begitu, aku duluan ya Hinata?!" Kata Naruto berjalan pergi sambil melambai meninggalkan Hinata di dalam kelas sendirian setelah menerima payung dari Hinata. (karena siswa – siswi yang lain sudah bubar dan pulang dari tadi).

Hinata tersenyum miris menatap kepergian Sasuke,

"Aku tidak mengira kau benar – benar pergi, biasanya kaukan tetap bersikeras akan menungguku" Pikir Hinata kecewa.

Saat ekstra tambahan memasak, Hinata sengaja membuat kue kering rasa tomat untuk Sasuke.

Jam sudah menujukkan pukul 4 sore, hujan telah berhenti. Kelas memasak pun di bubarkan.

"Tunggu, siapa tau Sasuke-nii masih menungguku, atau menjemputku. Dia kan seperti itu, selalu mengkhawatirkanku. Biasanya dia juga sering sok tidak perduli tapi ternyata tetap tidak membiarkanku sendirian. Huh sok jaim, menyebalkan!" Pikir Hinata bersemangat, sebuah senyuman pun terukir indah di bibir mungilnya.

Hinata berlari ke tempat Sasuke biasa menunggunya, di depan perpus, kantin, dan depan kelasnya. Tapi nyatanya tidak ada tanda – tanda Sasuke di sana.

"Depan gerbang, iya! Siapa tau Sasuke-nii di sana" Batin Hinata berlari pergi tetap tidak menyerah, walau nafasnya sudah hampir habis karena lelah berlari.

Sampai di depan gerbang Hinata semakin mempercepat langkahnya dan berbelok ke samping gerbang, tempat di mana biasanya Sasuke bersandar menunggunya.

"Kya…" Hinata tidak sengaja menyandung sesuatu hingga oleng, untung ada seseorang yang meraihnya dari belakang dengan sigap. Menahan tubuh Hinata yang akan terjatuh.

"Sasuke-nii" Pikir Hinata berbunga, berharap Sasukelah yang telah melindunginya.

"Naruto ?!" pekik Hinata heran mengetahui Narutolah yang tadi menjaganya, terbesit sedikit kekecewaan di hati Hinata.

"Hn, kau tidak apa?" Tanya Sasuke dengan cuek.

Hinata melepas tangan Naruto yang masih menggenggam erat bahu Hinata dengan posesif, seakan takut kehilangannya.

"Tidak apa, terimakasih" Jawab Hinata kikuk.

"Kau sedang apa di sini?" Sahut Hinata sambil celingukan.

"Menunggumu" jawab Sasuke datar.

"Menungguku?" Tanya Hinata tidak percaya, sambil menatap Sasuke penuh tanya.

"Owh itu-"

"Menunggu hujan reda maksudku" Celetuk Sasuke sambil berjalan pergi, berjalan ke arah sepeda yang tidak jauh dari posisi mereka. Hinata menatap punggung Naruto yang berjalan mendahuluinya dengan bimbang.

"Kau masih mau di situ?" Celetuk Sasuke tanpa melihat ke arah Hinata.

"Naruto, apa kau melihat Sasuke-nii?" Tanya Hinata sukses membuat Sasuke menghentikan langkahnya.

"Jadi, kau mencari Sasuke hem?" Tanya Sasuke cuek menahan perasaan senang yang menjalar ke hatinya.

"I-iya" jawab Hinata ragu.

"Dia sudah pergi, ayo pulang" Sahut Sasuke mendekati Hinata sambil mengulurkan tangannya.

"Ehh? Arah rumah kita kan berbeda, Naruto?" Tanya Hinata menatap Naruto bimbang.

"Hari ini aku bawa sepeda" Jawab Sasuke sambil menaiki sepedanya di depan Hinata.

"Ayo, naik depan atau belakang?" Sahut Sasuke, Hinata menatap sepeda Naruto bimbang.

"Jika belakang, itu berarti berdiri. Jika depan? itu terlalu dekat dengan Naruto, aku tidak mau" Pikir Hinata horor.

"Nggg... aku jalan kaki saja" Tolak Hinata halus.

"Itu berarti depan" Kata Sasuke menarik sigap tubuh Hinata, membuat Hinata yang tidak siap itu terjatuh pasrah dan terduduk di sepeda bagian depan Sasuke.

"Naruto, apa yang kau lakuhkan!?" Protes Hinata panik, Sasuke mengacuhkan Hinata dan mengunci tubuh Hinata dengan kedua tangannya yang berpegangan erat pada kemudi.

"Jangan bergerak! kau ingin terjatuh eh?" Desis Sasuke di telinga Hinata. Membuat Hinata diam membeku, pasrah.

Sepeda pun berjalan pelan, desiran aneh merasuki hati Hinata.

Hembusan angin sejuk dan tetesan air yang terjatuh dari dedaunan, aroma air yang masih ketara, cicitan burung yang mulai keluar dari sarangnya mewarnai perjalanan mereka.

"Emm… segarnya, setelah hujan udara jadi sejuk" Celetuk Hinata merentangkan tangannya, seoalah dia sedang terbang di antara pepohonan.

"Hai Hinata, pegangan. Kita bisa jatuh tau!" Protes Sasuke yang bersusah payah menjaga sepeda tetap seimbang.

"Hehe.. tidak akan, kau kan selalu menjagaku- Sasuke-nii" Cicit Hinata menoleh kebelakang, seketika senyumnya yang sempat mengembang pun pudar.

"Semenit tadi, aku merasa seperti masih bersama Sasuke-nii. Tapi lagi - lagi kenyataan membuatku kecewa. Ini Naruto, bukan Sasuke …" Pikir Hinata kecewa.

"Hn, kau bilang apa?" Tanya Sasuke tidak yakin.

"Akh tidak, mungkin hanya perasaan Naruto saja" Desis Hinata menundukan wajahnya, menutupi rasa kecewanya.

Dalam diam Hinata merasakan hembusan nafas Sasuke menggelitik lehernya, Sasuke yang terus menggayuh menahan berat badannya. Sesekali Hinata melirik Sasuke dengan ekor matanya.

"Jangan terus memandangiku" Celetuk Sasuke angkuh.

"A-apa? T-tidak…" Sangkal Hinata salah tingkah, menyembunyikan semburat merah di pipinya manahan malu atas tindakannya.

"Mau berbohong Hime?" Desis Sasuke sambil menyeringai.

"Aku tidak berbohong Naruto!" Protes Hinata kesal sambil berbalik sempurna menatap Sasuke.

Karena gerakan tiba – tiba Hinata, Sasukepun mengerem mendadak menahan berat yang tidak imbang.

Sasuke merasa tubuhnya memanas melihat Hinata begitu dekat dengannya, wajah Hinata pun memerah sempurna. Hinata menahan tubuh Naruto yang begitu dekat dengannya menggunakan kedua tangannya, aroma mint dari tubuh Naruto merasuki pikiran Hinata.

"Aroma ini, aroma yang selalu mengingatkanku pada Sasuke-nii" Pikir Hinata memejamkan matanya, menikmati aroma yang selalu ia rindukan.

"Kau lihat kan? kita berdua bisa jatuh tadi!" Desis Sasuke lembut, perlahan namun pasti Hinata memejamkan kedua matanya merasakan hembusan nafas Sasuke yang menggelitik wajahnya menikmati sensasi aneh yang merasuki hatinya.

Melihat reaksi Hinata, terbesit pikiran Sasuke untuk mengecup bibir mungil Hinata yang terlihat menggoda.

Sasuke semakin mendekatkan wajahnya pada Hinata, jantungnya berdetak semakin cepat. Hingga dia sadar, sekarang ini bukan tubuhnya yang asli yang bersama Hinata melainkan tubuh Naruto, tubuh orang yang di gilai oleh gadis yang dia suka.

Sasuke tersenyum miris, hatinya terasa terluka. Dia menjauhkan tubuhnya dari Hinata dan kemudian mengacak pelan puncak rambut Hinata yang masih menutup rapat kedua matanya.

"Kau tidak apa – apa kan? Kau tidak terluka?" Tanya Sasuke posesif.

Mendengar kata – kata dan tindakan Sasuke yang tidak asing baginya, Hinata membuka paksa kedua kelopak matanya dengan kasar.

"Sasuke-nii…" Batin Hinata penuh keyakinan.

Tetapi yang terlihat di depan matanya hanyalah Naruto yang tersenyum tipis, sangat tipis. Menyadarkannya pada kenyataan, bahwa sekarang Sasuke semakin terasa jauh darinya walau masih sering bersamanya. Walau di dekat Sasuke sekalipun, Hinata merasa merindukan Sasukenya. Sasuke yang selalu ada untuknya, Sasuke yang posesif dan selalu mengekangnya.

Dan semua terasa terlambat ketika Hinata mulai menyadari perasaannya, entah kenapa dia sekarang sangat berharap Sasukelah yang ada di depannya bukan Naruto yang selalu ia idolakan.

...

Maaf bila alur kecepetan, semoga cerita tidak terlalu membingungkan. tunggu kelanjutannya ya... thanks sudah berkenan membaca :)

owh iya jangan lupa DISINI NARUTO DAN SASUKE BERTUKAR TUBUH YA ! semoga tidak bingung, hehehe...