Lovely Complex

By BaekToYou

Genre : romance, ga humor sama sekali, school-life

Rated : T

(BTY : Ya ampun udah chapter 3 masa ;-; cepet ya.. hehe. Kira kira mau end sampe chap berapa Be belum tau, yang jelas ga sampe dianggurin kayak mlb kok )) )

( Kris : .. *senyum*)

( BTY : Kris! apa apaan sih, ga usah bikin fic ini jadi rated M deh)

( Kris : hah? Nggak, aku nggak ngapa-ngapain kok.)

( BTY : Ngeliat mukanya kamu aja aku udah mikir yang enggak-enggak Kris. )

( Kris : ...itu mah kamunya yang err..)

(Sehun , Kai : -_- abaikan aja. mending kalian langsung baca aja deh =_=' oke, enjoy!)

Ps : yang italic itu flashback juga.


Baekhyun teringat ketika ia dan Chanyeol tertawa melihat anjing paman Chen—tetangga mereka— buang air besar di dekat pohon nangka.

Plung. Plung. Plung.

Flashback

"Hik..hik—Kirsten—hik hik.." raung Chanyeol saat matanya mendapati jasad Ferret kesayangannya tergeletak bersimbah darah di depan rumahnya. Ferretnya menjadi korban kecelakaan tabrak lari.

Ia berjongkok dengan masih menangis tersedu-sedu. "Hiks..hiks..kenapa kamu lari waktu kumandikan.." tangisnya. Namun matanya tiba-tiba sudah tertutup oleh tangan kecil yang hangat. Hangat sekali.

"Jangan dilihat. Jangan dilihat. Hitung ada berapa kotoran anjing paman Chen kemarin."

Chanyeol yang masih terisak, mulai berhitung. "..Ada 10 bulatan.. hiks.. itu gara gara aku dan Baekhyun—yang memberinya makanan basi.. hehe.."

End of flashback

"...ada..10 bulatan. Itu—gara gara kita memberinya makanan basi."

Chanyeol tersenyum. Mereka masih dalam posisi seperti itu sampai Jonghyun dan wanita yang di cumbuinya pergi. Sampai perasaan aneh yang meletup-letup di hati Baekhyun terasa menyesakkan, ia menepis tangan Chanyeol kasar.

Lalu mendorongnya, dan berteriak, "Menjauh dariku, dasar idiot! Mencari kesempatan, hah!"

Itu artinya, Baekhyun sudah kembali seperti semula. Suka berteriak dan berlaku anarkis padanya. "Apa! Tidak! Ya—sudah, pulang ya tinggal pulang!"

Aduh, bodohnya dirimu Park Chanyeol.

Baekhyun mengerjapkan matanya sekali lalu pergi dengan langkah tergesa-gesa. Di hapusnya air mata yang mengalir kasar itu dengan punggung tangannya. Perasaannya kacau sekali malam ini. Padahal ia sudah membangga-banggakan Jonghyun di depan Chanyeol, tapi kenapa yang terjadi seperti ini.

"Bodoh sekali aku sampai berpikir kalau dia bakal mengantarku." Gerutunya. Bohong kalau Baekhyun tidak merasa sakit hati, langkahnya yang semula tergesa dan panjang kini mulai melemah dan lama kelamaan ia berhenti di persimpangan jalan yang sepi.

Berjongkok di dekat tanda parkir dan menutupi wajah dengan dua tangannya.

Kenyataan bahwa Chanyeol tak kunjung datang mengejarnya terasa begitu menyesakkan.

.

.

Flashback

Gerimis turun perlahan mengguyur sebuah lahan di perumahan kota Seoul. Aspal yang basah dan bunyi rintik yang jatuh menimpa genting. Seharusnya, Baekhyun menuruti apa kata ibunya untuk membawa payung hari itu.

"Baekh, lebih baik kita berteduh dulu di pinggir toko itu." Chanyeol mengeratkan hoodie-nya agar menutupi seluruh badannya. Namun lelaki yang berjalan pelan di depannya tak kunjung merespon.

Mengetahui bahwa ada mobil yang akan melintas, ia buru-buru berlari dan berhenti di samping baekhyun.

ZRAASHH.

O ow.

"Sial." Ia menatap bercak-bercak lumpur di seragamnya. Kemudian beralih menatap Baekhyun, "Kamu kenapa sih! Daritadi di sekolah diam! Kutanya, diam! Ku ajak main, malah pergi!"

Baekhyun memicingkan matanya lalu balas menatap Chanyeol tak kalah sadis. "Apa! Peduli?! Main saja dengan Kai dan Sehun!"

"Hah, kamu ngomong apa sih! Aku peduli sama kamu! Kamunya yang terus-terusan nempel sama Kyungsoo! Kemana-mana sama kyungsoo, ke kantin sama kyungsoo, takut kalo kyungsoo marah, memangnya Kyungsoo yang kasih kamu makan?!"

"AKU NGGAK KAYAK GITU KALO KAMU NGGAK DULUAN!"

"YA UDAH NGGAK USAH PAKE TERIAK TERIAK JUGA! AAARGH!"

Teriakan dua anak itu beradu dengan gerimis yang makin deras. Baekhyun hampir menangis, sebelumnya ia dan Chanyeol tak pernah bertengkar sehebat ini.

"AKU NGGAK SUKA KAMU DEKET DEKET SAMA KAI, SEHUN, SAMPE NGELUPAIN AKU! MAKANYA AKU MAIN SAMA KYUNGSOO! DASAR IDIOT! PABBO!"

"KAMU PIKIR AKU SUKA LIAT KAMU SAMA KYUNGSOO?! UDAH, MULAI BESOK KAMU DUDUK SAMA AKU! MAIN SAMA AKU, KE KANTIN SAMA AKU, SETERUSNYA SAMA AKU! TITIK!" Chanyeol menganggap teriakannya yang terakhir sebagai final. Sudah sakit tenggorokan, badannya juga menggigil.

Ia melepas hoodie-nya dan memakaikannya pada Baekhyun lalu mengangkat kupluknya agar menutupi kepala Baekhyun dan tak lupa menarik risletingnya sampai batas leher. Kemudian menggenggam pergelangan tangan Baekhyun yang sedang terisak mengajaknya untuk segera pulang.

(aduh..co cwit..)

"Ayo pulang."

"Um."

.

.

Saat itu rasanya lebih baik, bukan?

.

.

"Oh. Jadi begitu?"

"Baekhyun?"

Baekhyun mendecih. Ia melipat tangannya lalu berjalan pelan menghampiri Chanyeol yang tengah berdiri di koridor kelas. "Teman yang menusuk dari belakang, eh?"

.

"Jangan memfitnahku, Baekh!"

.

"Aku tidak sudi berteman denganmu lagi!"

.

Dan entah bagaimana semua terjadi.

.

End of flashback

.

Beberapa hari kemudian, kelas mereka kehadiran anak baru pindahan dari Cina. Namanya Wu Yi Fan. Wajahnya yang sempurna tanpa cacat, bentuk tubuhnya yang ideal memikat hampir seluruh penghuni sekolah mereka. Tapi, janggal rasanya ketika anak itu mengacuhkan mereka semua hanya untuk melihat seseorang yang duduk di bangku sebelahnya.

Barulah ia menyadari bahwa lelaki itu tertarik pada Baekhyun.

"Pendek, kau berkencan dengan tiang itu?" tanya Chanyeol suatu hari.

"Heh, sedang mendeskripsikan diri sendiri?" balas baekhyun ketus. Kini ia bisa berbangga diri karena Yi Fan jauh lebih tinggi daripada Chanyeol.

"Ya ampun, kamu kelihatan seperti adiknya yang baru lulus SD!" kemudian chanyeol tertawa terbahak-bahak. Tapi Baekhyun, menutup buku matematikanya dan beranjak menyusul Kyungsoo keluar kelas.

Baekhyun tak membalas ejekannya membuatnya merasa hampa. Jujur ia lebih suka Baekhyun mengatainya apapun, seperti idiot, bodoh, Park idiot chanyeol, pohon pinus, tiang jemuran, tiang PLN, dan tiang tiang yang lain. Itu lebih baik daripada Baekhyun yang diam.

Perasaannya semakin kalut ketika Chanyeol tak sengaja melihat Yi Fan datang dan memeluk tubuh Baekhyun di halaman rumahnya kemarin malam ketika ia membuang sampah.

Atau ketika Baekhyun dan Yi Fan berduaan di dalam kelas.

Atau ketika Yi Fan mengecup pipi Baekhyun yang bersemu merah.

Atau...ataukah mereka sudah berciuman? Bercumbu sampai...Hah. Tidak. Itu tidak mungkin.

(Tapi mungkin aja loh, kris kan cakep. Tatapan matanya juga... rawr(?) )

Tidak.

(Nggak ada yang gak mungkin looooooh... )

Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak.

(Makanya buruan baikan! =_=)

.

.

Baekhyun seperti hewan mamalia yang rewel. Sebentar-sebentar, ia akan mengomeli anak-anak kelas lain yang menceburkan diri hingga airnya terciprat ke tubuhnya. Benar, hari ini kelasnya, kelas sebelahnya, dan kelas sebelahnya ada kegiatan tambahan—renang. Dan renang adalah salah satu jenis olah raga.

Baekhyun lupa meninggalkan baju renang di rumahnya—jadi dia tidak punya alasan untuk tidak ikut renang.

Tapi ia sedikit lega karena Chanyeol, tidak suka renang. Katanya, "Aku tidak mau memamerkan tubuh atletisku pada orang lain!" satu tahun yang lalu.

Jadi dia hanya menjadi obat nyamuk bagi dua mudi-mudi yang sedang kasmaran di depannya ini. Siapa lagi kalau bukan itu dan itu. hah.

Tau kan?

Lalu pandangannya tertuju pada pemuda yang berjalan dengan hanya mengenakan singlet abu-abu. Lengannya besar dan berliuk-liuk. (itu otot Baek.) sedangkan di dadanya, ada semacam garis lurus dan—oh oh oh sedikit berkeringat. (astaga, itu artinya dadanya bidang Baek!)

Oh oh oh.

Baekhyun tak melepas pandangannya. Sampai Luhan menginterupsi, "Baek?"

"Y-ya?"

"Chanyeol seksi ya?"

Baekhyun mencondongkan wajahnya dengan ekspresi ingin muntah. "Idiot itu? tiang listrik itu?!"

"Untuk informasi, kamu hampir saja menjatuhkan air liurmu tadi." dan baekhyun langsung gelagapan mengusap ujung bibirnya membuat Luhan, Kyungsoo, Sehun dan Kai terkikik. Ia mendecih.

"Kris!" panggilnya. Dan mereka berempat yang gantian mendecih tak suka. Mereka lupa bahwa kembaran si pinang itu ikut renang juga. Ssstt, ini rahasia oke? Luhan , Sehun, Kyungsoo dan Kai—yang muak—muak sekali—ingin sesuatu terjadi hari ini—maka dari itu kai dan Sehun sudah bersusah payah membujuk Chanyeol untuk ikut.

"Oh, Baekhyun! kenapa tidak berenang?"

Baekhyun menggeleng. Chanyeol melihat mereka. "Airnya dingin Kris..hehe aku—"

"Ayolah.. kali ini saja, hm?"

Baekhyun tetap menggeleng dan Chanyeol di seberang sana mendesah lega. Kris memasang wajah kecewa lalu berbalik ketika seseorang meninju pundaknya pelan. "Yo Kris, kau ikut renang juga?" itu kai. Sementara luhan dan kyungsoo berkomat-kamit, 'Chanyeol bodoh, cepat kesini!'

"Hei Kai, tentu. Kalian datang bersama? Woah, hebat—ouch!" sebuah bola pantai mengenai kepalanya dan ketika ia berbalik untuk berteriak,tangannya tidak sengaja menepis pundak baekhyun di belakangnya.

Byur!

"Baekhyun! Itu Baekhyun! Baekhyun tenggelam!" Luhan menjadi orang pertama yang berteriak panik ketika yang lain masih shock.

Kris menoleh ke kiri dan ke kanan. Hatinya di liputi rasa bersalah tapi laki-laki itu tak juga berbuat sesuatu yang berguna. Sementara itu, chanyeol langsung melepas singletnya dan terjun ke dalam kolam. Menggapai –gapai tangan Baekhyun yang melayang di dalam kolam.

Perlahan, tangannya berhasil menggenggam pergelangan milik Baekhyun.

.

.

Flashback

SRAK.

Baekhyun menyaksikan bagaimana bolanya tersangkut di dahan pohon depan rumahnya. Ia berjinjit, melompat-lompat, dan menusuk-nusuk dahan terdekat dengan ranting yang ada agar bolanya jatuh.

"Ayo bola jatuh lah!" pekiknya frustasi. Kakinya sakit dan lelah kalau harus meloncat-loncat setiap bermain bola berakhir dengan hal seperti ini. Karena Baekhyun benci olah raga—dan bermain bola itu umum di lakukan oleh laki-laki. Jadi itu bukan olahraga.

Namun seketika ada bayangan besar dan sebuah tangan terjulur ke atas hingga akhirnya bola-sialan-itu jatuh.

PUK.

Baekhyun membiarkan bola itu menggelinding hanya untuk berbalik dan menemukan cengiran lebar dan dua kuping caplang.

"Te-terima kasih."

"Sama-sama."

Baekhyun mengedarkan pandangannya. "Ngomong-ngomong aku belum pernah melihatmu sebelumnya?" hanya untuk mengurangi rasa gugupnya.

"Hoho, salam kenal! Aku tetangga barumu! Namaku Park Chanyeol—ingat itu baik-baik, ok? Dan namamu?"

"Baekhyun—Byun Baekhyun." tersenyum manis ketika sinar sore matahari menerpa wajahnya.

"Kamu suka bermain bola?"

"Iya, bermain—bola tersangkut dan aku melompat-lompat—menyenangkan sekali kan?"

"Haha, tapi kalau kamu lebih tinggi dariku, aku tidak akan membantumu dan kita tidak bisa berkenalan."

"Hei, apa maksudmu?...kau bilang aku pendek, begitu?!"

End of flashback

.

.

Wajah Chanyeol memerah karena menahan nafas dan baekhyun—anak itu pucat pasi. Anak-anak mulai berkerumun dan seseorang berteriak, "Nafas buatan! Nafas buatan!"

Deg. Deg. Deg. Deg.

Hah.

Apa?

(cepet kasih nafas buatan!)

(Ya Tuhan Ya Robbi, cepet keburu Baekhyun mati! Ntar jadinya sad ending!)

Dan karena desakan anak-anak lain dan tentu saja tamu tak di undang—authornya sendiri yang teriak paling keras—Chanyeol mendekatkan wajahnya dengan tangannya yang membuka mulut baekhyun.

Sedikit lagi.

Sedikiiiiiiiit lagi.

"Mi-minggir! Punya hak apa kamu memberinya nafas buatan?" kris yang menyela dan menarik pundak chanyeol untuk beringsut dari tempatnya.

"Dia pacarku. Awas kamu berani menyentuh Baekhyun." ucapnya lagi dan mulai mendekatkan wajahnya pada Baekhyun.

Chanyeol yang telah berdiri hanya menatap hampa. Oh benar—punya hak apa dia terhadap Baekhyun? bukan teman, apalagi pacar. Hal itu cukup dijadikan alasannya untuk pergi daripada melihat sesuatu yang sama sekali tak ingin dilihatnya sepanjang hidup.

Ia menyeret kakinya pergi dengan gontai. "Mugia anjeun teh tiasa bingah sareng anjeuna."

Hah?

Kemudian lagu 'es lilin' terdengar.

.

.

TBC

Tebecenya rada ooc ya =_=

Oke, ada yang bilang tema ff kayak gini pasaran? Iya. Iya banget. Klasik gitu ya love-hate relationship yang ujungnya pasti happy ending. Trus aku harus gimana dooong? Aku ngetiknya semangat banget ini, mengalir gitu aja ;-; maaf ya.. aku ngasih kalian ff pasaran kayak gini T-T *nangis di pundak Kris*

Kris : ...udah sayang, cup cup cup. Kalian liat kan? Norak banget kelakuannya kalo lagi lebay gini. Daripada besok-besok tambah lebay, mending kalian review deh, ok? Plis... *bbuing bbuing*

Sehun : ...Ge, udah ge jangan aegyo, kasian Kai.*mijit tengkuk Kai yang muntah-muntah*

Kai : *muntah spanduk, reklame, kipas angin, ban mobil*

Hiks—iya deh, kasian Kai muntah gitu. Ya udah, makasih yang udah review di chap chap sebelumnya, tunggu chapter depan ya ;-; *kemudian pergi jualan es lilin*