Disclaimer:

Naruto © Kishimoto Masashi

Marriage Simulation © Haruno Aoi

Rated: T – M

Setting: AU

Warning: mungkin sangat OOC, mungkin masih ada TYPO atau MISSTYPO

Kurs yang saya gunakan: ¥ 1 = Rp. 100

Langsung saja…

Silahkan membaca…

.

.

.

*[ Marriage Simulation ]*

.

.

.

Hinata masih mengerjap-ngerjapkan matanya saat cahaya matahari memaksa masuk melalui celah tirai yang sedikit terbuka. Saat matanya sudah terbuka sepenuhnya, ia sadar kalau tidak sedang berada di kamar asramanya. Kamar yang dilihatnya sekarang lebih luas dan kasurnya lebih empuk, bahkan dari kamar tidur di rumahnya sendiri. Hinata duduk dari posisi berbaringnya, menyingkapkan selimut yang masih menyelimuti setengah tubuhnya. Ia mulai menepi dan duduk di tepi ranjang. Sekarang ia baru sadar akan peristiwa yang bisa membuatnya terbangun di tempat itu.

Hinata menoleh ke kanan. Melihat jam beker di meja tepi ranjangnya. Mata yang semula masih merem-melek, menjadi membulat saat melihat jarum pendek yang menunjuk angka delapan. Rasa kantuknya pun hilang seketika. Hinata berdiri dari duduknya, berlari mendekati jendela dan cepat membuka tirainya. Sinar matahari yang menyilaukan menusuk matanya, membuatnya harus menyipitkan matanya dan mengalihkan pandangan. Sekarang ia juga sadar akan kewajiban yang harus dijalankannya di tempat itu.

Hinata dengan cepat menuju kamar mandi, mencuci muka dan sikat gigi. Setelahnya, ia berlari keluar dari kamarnya, tanpa memedulikan piyama ungu yang sekarang masih dipakainya. Hinata mengarahkan pandangannya ke segala arah, sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan, selain dirinya sendiri. Hinata memutuskan untuk ke dapur, berniat memasak. Tapi belum sempat melangkah, ia mendengar suara pintu yang dibuka.

"Kau belum meyiapkan sarapan?"

Suara datar itu sempat membuat Hinata sedikit tersentak. Setelahnya, Hinata dapat mendengar suara pintu yang sedang ditutup.

"Ma..maaf, aku… kesiangan…"

"Aku sudah tahu dari apa yang kau kenakan," kata Sasuke. "Saat aku keluar kamar, seharusnya sarapan sudah siap di meja makan," lanjutnya.

"A..akan kuingat," kata Hinata sedikit gugup.

"Gaji pertamamu sudah aku transfer."

"Makasih," balas Hinata. "Nanti, aku akan keluar menemui temanku," lanjut Hinata.

"Aku tidak peduli. Yang jelas, kau harus selesaikan kewajibanmu," ucap Sasuke dingin.

.

.

.

Hinata masuk ke sebuah kafetaria yang tidak jauh dari asrama yang dulu ditinggalinya. Ia semakin mempercepat langkahnya saat melihat empat temannya duduk mengelilingi sebuah meja. Seorang perempuan berambut coklat menyadari kedatangannya, sehingga melambaikan tangan kanannya kepada Hinata dengan senyum mengembang. Seorang laki-laki berambut hitam yang duduknya membelakangi Hinata, ikut menolehkan kepalanya ke arah Hinata. Senyumnya pudar saat melihat kedatangan Hinata.

"Kenapa kalian tidak bilang, kalau dia akan datang?" tanya Sai dengan dingin, tanpa senyum yang biasanya selalu melekat di bibirnya.

"Sai-kun…" panggil Hinata yang tidak digubris pemilik nama. Tak tahu mengapa Hinata merasakan sesak saat Sai tidak memedulikannya.

Sai beranjak dari duduknya dan pergi menjauh dari mereka berempat.

"Dia kenapa, sih? Aneh," kata Kiba dengan nada heran.

"Biarkan saja dulu," kata Tenten.

"Hinata, duduk sini. Kau harus memberi penjelasan pada kami," kata seorang perempuan berambut pirang sambil menepukkan tangannya di kursi yang ada di samping kirinya. "Kenapa kau bisa menikah?" tanyanya saat Hinata sudah duduk di kursi yang ditawarkannya.

"I..itu…" tenggorokan Hinata seakan tercekat.

"Bukankah suamimu mahasiswa ekonomi Universitas Waseda? Bagaimana kau mengenalnya?" lanjut Temari.

"Sudahlah, Temari, mungkin Hinata punya alasan yang kuat untuk menikah dengannya. Kita hanya harus percaya padanya," kata perempuan berambut coklat yang bicaranya terdengar lebih dewasa di antara mereka berempat. Temari hanya mengangguk mendapat penuturan dari Tenten.

"Tenten-nee, terima kasih karena tidak mengatakannya pada Niisan," kata Hinata yang mencoba untuk tersenyum. "Terima kasih juga Temari-nee, Kiba-kun…" lanjutnya.

Mereka berempat hanya tersenyum bersama setelahnya. Senyum kecil yang kemudian berganti dengan canda tawa.

Tapi, ada yang mengganjal di hati Hinata. Perubahan sikap Sai membuatnya tidak tenang. Ada apa dengan Sai-kun?

Hinata sedih memikirkan Sai yang bersikap acuh tak acuh padanya. Ia sedih karena Sai biasanya hanya menampakkan senyum padanya. Sai yang selalu siap dengan pundaknya saat Hinata membutuhkan sandaran. Saat ayah Hinata kecelakaan dan membuatnya koma, Sai yang terus menemani Hinata di rumah sakit. Sai terus memeluk Hinata dalam diam, membiarkannya menangis di dadanya. Terus memeluknya hingga tangisnya reda.

.

.

.

Sasuke datang ke kampusnya hari ini untuk mengurusi registrasi semester barunya. Semester genap.

"Go kekkon omedetou!" suara yang membahana datang dari belakang Sasuke. Si pemilik suara yang menjadi teman satu fakultasnya itu, langsung merangkul Sasuke dari belakang.

"Berisik! Aku bosan mendengarnya dari mulutmu," ucap Sasuke seraya menjauhkan tangan yang melingkari pundaknya.

Naruto malah menunjukkan cengiran khasnya. "Kenapa nikah diam-diam, sih? Penggemarmu pada nggak percaya tuh…"

"Aku nggak peduli," balas Sasuke datar.

"Jangan-jangan kau MBA, ya?"

"MBA apaan?" Sasuke memasang tampang innocent.

"Kau ini! MBA saja nggak tahu! Married by Accident, Bodoh!"

"Jangan sembarangan!"

"Tapi istrimu cantik juga, walaupun aku cuma lihat di foto," kata Naruto sambil senyum-senyum tak jelas.

"Kalau tunanganmu mendengar yang barusan, kau bisa…" Sasuke memeragakan tangan kanannya yang seolah menggorok lehernya, tetap dengan wajah datarnya.

Naruto hanya tertawa melihat Sasuke yang biasanya sedikit bicara, kini menunjukkan lebih banyak ekspresi di depannya.

"Sepertinya menikah membuatmu sedikit berubah," kata Naruto yang mengganti tawanya dengan cengiran.

Sasuke hanya menaikkan satu alisnya, pertanda tak mengerti.

"Nanti, kau harus mengajaknya ke pesta ulang tahunku. Itu karena kau tidak mengundangku ke pernikahanmu."

"Hn," jawab Sasuke singkat.

.

.

.

Sama seperti Sasuke, Hinata juga datang ke kampusnya untuk registrasi semester genap. Semester enam. Satu tahun di bawah Sasuke.

Sejak pernikahannya dengan Sasuke, hubungan Hinata dan Sai sedikit canggung. Sai sudah mau mengajaknya bicara, hanya saja tidak bisa lepas seperti sebelum Hinata menikah. Sai bahkan memutuskan meninggalkan asrama, untuk kembali ke rumah utamanya. Kini mereka sedang berada di dalam mobil Sai yang ada di tempat parkir Fakultas Seni Todai.

"Hinata," Sai memecah keheningan yang semula menyelimutinya dan Hinata. Sekarang, Sai terlihat serius karena tidak lagi memperlihatkan senyumnya. Pandangannya lurus ke depan saat ini, sama halnya seperti Hinata.

"Ya?" jawab Hinata yang sedikit takut untuk mengeluarkan suaranya.

"Aku tidak yakin kau telah mengenalnya sebelumnya. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau…" Sai sepertinya tidak sanggup untuk meneruskan kalimatnya. "Kau tahu kan siapa yang kubicarakan?"

"Maksudmu, Sasuke-kun?"

"Sasuke-kun? Cih!" Sai terlihat kesal.

Hinata menjadi merasa serba salah. Ada apa dengan Sai-kun?

"Aku jadi ingin tahu apa alasan kalian menikah. Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur. Tapi, semua ini terlalu janggal," lanjut Sai yang kini mulai bersuara tenang.

Hinata tidak tahu harus berkata apa. Kalau di depan Sai, ia takut dengan tidak sengaja membocorkan rahasianya. Selama ini, Hinata tidak bisa berbohong kepada Sai.

"Aku pulang dulu, Sai-kun." Tanpa menunggu balasan Sai, Hinata sudah turun dari mobil Sai dan melangkahkan kakinya cepat. Sai hanya bisa menatap sosok Hinata yang semakin menjauh.

.

.

.

Ulang tahun Naruto jatuh pada hari libur nasional. Itu keuntungan untuknya karena semua temannya bisa datang, sehingga membuat pestanya semakin meriah. Mungkin juga bisa menjadi kerugian karena konsumsi lebih banyak. Yang jelas, Naruto selalu merasa senang di hari ulang tahunnya.

"Wow! Ternyata kau lebih cantik dari fotomu…"

Hinata tidak bisa menghentikan rona merah di wajahnya saat Naruto mengatakannya. Ia hanya bisa membalas cengiran Naruto dengan senyum tulusnya. Kali ini Hinata menggunakan gaun putih selutut, dengan bahu terbuka. Sebenarnya ia tidak menyukai modelnya. Tapi Sasuke yang memaksa untuk memakainya. Sasuke sendiri memakai setelan berwarna putih.

"Hei, Baka, diam kau!" Sasuke kelihatan kurang senang dengan reaksi Hinata, tapi melampiaskannya pada Naruto yang menyebabkan semu merah di pipi Hinata.

"Kau jealous, ya?" goda Naruto.

Sepertinya kali ini, Sasuke tidak bisa membalas Naruto.

"Kyaaa… Sasuke-kun…" Seorang perempuan berambut pirang menghambur memeluk Sasuke yang tidak melakukan pertahanan sebelumnya. Tentu saja di depan Hinata yang sekarang berstatus sebagai istrinya. Tapi, sepertinya tidak berefek apapun kepada Hinata.

Lain Hinata, lain juga Sasuke. Sasuke merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu di tempat umum. Semua yang hadir adalah teman-teman Naruto sekaligus temannya. Semua temannya sudah tahu tentang pernikahannya. Ia bahkan sedikit kesal mengapa Hinata tidak menunjukkan sikap tidak suka. Setidaknya ia berharap Hinata akan memainkan sedikit sandiwara di hadapan teman-temannya.

Cuma pura-pura jealous, bisa, kan? Sasuke membatin sambil melirik pada Hinata yang hanya diam. Dengan cepat ia melepas pelukan gadis pirang yang masih nyaman mendaratkan kepala di dada bidangnya.

"Oi, Shion, kau tidak lihat ada istrinya?" Naruto kelihatan tidak senang kali ini.

"Salah sendiri menikah tapi tidak mengundangku. Mana kutahu kalau ada istrinya…" jawab gadis pirang yang ternyata bernama Shion itu, dengan menampakkan wajah tak senang pada Hinata.

Sasuke sepertinya tidak berminat untuk berdebat kali ini.

"Kenapa diam, Sasuke-kun?" tanya Shion.

"Males," jawab Sasuke sekenanya.

"Jahatnya…" rengek Shion.

"Kau bilang dresscode untuk pestamu gaun dan setelan putih, kenapa yang lain pakai kimono dan hakama?" tanya Sasuke sambil mengarahkan pandangan ke sekeliling. Tamu perempuan mengenakan kimono, sedangkan yang laki-laki mengenakan hakama, kecuali dirinya dan Hinata. Itu membuat Sasuke dan Hinata menjadi pusat perhatian para tamu.

"Kau mengerjaiku, ya?" lanjut Sasuke dengan nada kesal.

"Itu karena kau tidak mengadakan pesta pernikahan," jawab Naruto. "Ini semua ideku," ujar Naruto bangga diikuti tawanya.

"Nggak lucu," balas Sasuke singkat dan dingin. "Aku pulang saja," lanjut Sasuke sambil meraih pergelangan tangan Hinata dan menggenggamnya. Hinata sedikit tersentak mendapat perlakuan tersebut dari Sasuke. Hinata merasa tubuhnya sedikit gemetaran dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Kau bukan pengecut, kan…" ejek Naruto. "Kalian seharusnya senang karena menjadi tamu kehormatanku," lagi-lagi Naruto tertawa usai mengatakannya.

Sasuke akhirnya mengalah pada Naruto. Mengikuti skenario yang diciptakan Naruto untuknya dan Hinata. Dari salah kostum sampai berdansa di hadapan tamu-tamunya. Sepertinya pemandangan ini membuat para fangirls Sasuke patah hati. Banyak dari mereka yang belum percaya dengan pernikahan Sasuke. Tapi, sekarang bisa dilihat bahwa berita itu memang benar adanya.

.

.

.

"Kau mau gajimu kupotong, ya?" Sasuke mencoba memecah kecanggungan yang ada di antara dirinya dan Hinata sejak keluar dari rumah Naruto. Sekarang Sasuke sedang mengemudikan BMW hitamnya, dengan Hinata yang ada di sampingnya.

"Me..memangnya kenapa?" Hinata balik bertanya dengan memasang tampang tak berdosa. Tapi, sebenarnya ia memang tak mengerti dengan apa yang dikatakan Sasuke.

"Kau sama sekali nggak peka." Sasuke tidak mengalihkan pandangan dari jalanan yang dilaluinya.

"Apanya?"

"Seharusnya kau bisa mengira-ngira bagaimana sikap seorang istri jika suaminya diperlakukan seperti tadi…"

"Gimana?"

"Lupakan." Sasuke lama-lama jengkel sendiri kalau mengajak Hinata berbicara. Ternyata selain tidak peka, ia juga 'lola'. Loading lama. Atau mungkin 'telmi'? Telat mikir. Wah, jahat sekali Sasuke kalau berpikiran seperti itu.

.

.

.

Hidup bersama orang lain dalam satu atap memang tidak mudah. Hinata harus mengakui itu. Apa lagi satu rumah dengan seseorang yang sebelumnya tidak dikenal dengan baik. Ralat, sama sekali belum dikenalnya. Hinata harus pandai menyesuaikan diri.

Kini, sudah hampir satu bulan Hinata tinggal bersama Sasuke. Ia merasa lebih mirip sebagai seorang pembantu daripada seorang istri. Tapi, bukankah memang tak ada cinta yang mendasari pernikahan mereka? Sebaiknya tidak berharap terlalu banyak pada pernikahan tanpa cinta.

Walaupun begitu, Hinata sudah mulai santai menghadapi Sasuke. Mungkin tinggal satu rumah bisa membuat dua orang yang tadinya sama sekali tidak mengenal, menjadi cepat akrab. Bisa dibilang, mereka kelihatan berteman untuk saat ini. Mungkin ada yang melihatnya lebih dari itu.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, sekarang pun Hinata sedang menyiapkan sarapan untuk Sasuke. Akhir-akhir ini, Sasuke jarang keluar rumah, membuat Hinata lebih sering memasakkannya kalau memang tidak sedang kuliah. Sasuke keluar dari kamarnya, dan menempati kursinya di meja makan.

"Aku lihat persediaan makanan bulan ini sudah menipis. Kau nggak lupa untuk belanja, kan?" tanya Sasuke di sela-sela kegiatan makannya.

"Tentu saja nggak. Nanti, aku akan belanja," jawab Hinata.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan dalam keadaan hujan deras, tapi Hinata masih berada di luar rumah. Ia sedang berdiri di depan sebuah toko swalayan dengan memeluk kantung berwarna coklat yang terisi penuh. Hinata mencoba memeluk kantungnya hanya dengan tangan kiri, karena tangan kanannya sedang merogoh saku roknya. Setelah menemukan apa yang dicari, ia memencet beberapa tombol di ponsel putihnya dan kemudian menempelkannya di telinga.

"Sasuke-kun, bisa menjemputku?"

"Kau di mana?" tanya balik Sasuke dari seberang.

"Aku di depan toko swalayan 24 jam dekat rumah sakit Todai," jawab Hinata.

"Jauh amat sih belanjanya…" Nada suara Sasuke terdengar sedikit kesal. Tapi, jika Hinata mau mendengarnya dengan jelas, ada kekhawatiran di sana. "Kau sedang di luar toko swalayan?" tanyanya lagi.

"Ya, aku di luar," jawab Hinata tenang. Tapi sebenarnya Hinata sudah mulai kedinginan karena tidak memakai jaket di cuaca seperti ini. Ia hanya memakai rok biru tua yang panjangnya di bawah lutut, dan kemeja biru muda berlengan sesiku.

"Tunggu aku."

Sambungan diputus oleh Sasuke dari seberang. Hinata meletakkan kembali ponselnya di saku roknya.

Sudah seperempat jam Hinata menunggu dan berdiri di tempat yang sama. Tubuhnya menggigil dan bibirnya mulai biru. Tak lama kemudian mobil yang sangat dikenalinya berhenti di depannya. Sasuke keluar dari mobil dengan payung sebagai pelindungnya dari hujan. Setelah berdiri tepat di depan Hinata, Sasuke meraih kantung coklat di tangan Hinata dan menggantikan Hinata untuk membawanya.

"Ayo," ajak Sasuke singkat. Kantung coklat di tangan kiri Sasuke, sedangkan tangan kanan memegang payung yang kali ini digunakan berdua dengan Hinata.

Setelah memastikan Hinata sudah duduk di dalam mobil, Sasuke meletakkan kantung belanja di pangkuan Hinata. Setelah itu, ia kembali ke kursi kemudi.

"Bodoh! Kenapa di luar, sih?" Sasuke melepas jaket hitamnya. "Pakai," perintah Sasuke seraya menyodorkan jaketnya ke Hinata.

"Makasih," ucap Hinata yang tidak mau menolak niat baik Sasuke, karena bagaimanapun ia tidak mau sakit karena kedinginan.

Sasuke mulai menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya menerobos derasnya hujan.

.

.

.

Sasuke yang kelihatan lelah, berjalan menyusuri koridor berlapis karpet merah menuju apartemennya. Pandangannya lurus ke depan. Dari kejauhan, ia dapat melihat sosok tinggi yang sedang menyandarkan punggungnya di tembok samping pintu apartemennya. Semakin mendekati pintu, Sasuke menarik sudut bibirnya saat menyadari siapa yang datang.

"Tumben sekali kau mau menemuiku," kalimat sambutan dari Sasuke saat melihat tamu tak diundangnya.

"Kenapa kau menikahinya?" tanya tamu Sasuke yang memiliki warna mata senada dengannya.

"Kau orang luar. Tetaplah menjadi orang luar," jawab Sasuke dingin, yang tidak ada keinginan sedikitpun untuk mempersilahkan tamunya masuk. Mereka tetap berdiri di depan pintu apartemen nomor 27.

"Kau membenciku karena kakakmu lebih dekat denganku daripada denganmu?" Kali ini tamu Sasuke tersenyum mengejek.

"Lebih. Dari. Itu," balas Sasuke dengan dingin, dengan penekanan di setiap kata yang diucapkannya. "Aku benci melihatmu berpura-pura bodoh selama ini. Karena itu, aku merebut gadismu, Sai…" Sasuke menunjukkan senyum angkuhnya.

Sai terlihat tidak bisa menyembunyikan amarahnya. Tangannya bergerak mencengkeram kerah kemeja Sasuke. Sasuke terlihat tidak melakukan perlawanan. Senyumnya semakin mengembang di saat Sai semakin mengeratkan cengkeramannya.

"Ternyata seorang Sai bisa memohon hanya karena seorang gadis. Karena itu, aku langsung mengerti arti gadis itu untukmu," ucap Sasuke masih dengan nada tenangnya, membuat Sai melotot ke arah Sasuke dan mengepalkan tangan kanannya.

Sai siap untuk memukul Sasuke. Tapi, terlihat sekali kalau Sai tidak ingin bertindak gegabah. Ia menahan dirinya untuk tidak kehilangan kendalinya.

"Kau merebut milikku, aku juga bisa merebut milikmu," lanjut Sasuke tanpa menghilangkan wajah tersenyumnya.

"Jadi itu alasanmu menikahinya?" tanya Sai dengan nada geram.

"Itu hanya salah satunya," ucap Sasuke tidak mengurangi nada tenangnya. "Kau tidak tahu kan saat dia berontak di bawah tubuhku? Aku suka melihatnya. Sangat. Suka," lanjut Sasuke dengan senyum angkuhnya.

"Brengsek!"

Sai tidak bisa lagi menahan amarahnya yang sudah memuncak. Kalimat terakhir Sasuke bagaikan bahan bakar yang semakin mengobarkan api amarah Sai. Sasuke dapat merasakan nyeri pada sudut bibir kirinya karena tonjokan Sai.

"Kau memang brengsek, Uchiha Sasuke. Kau boleh membenciku, tapi jangan libatkan Hinata." Sai melepaskan cengkeramannya, membuat tubuh Sasuke sedikit oleng karena efek pukulannya. Sai melangkahkan kakinya menjauh dari Sasuke yang masih melihatnya dengan sorot mata benci.

.

.

.

Hinata baru pulang dari kuliah malamnya. Ia memasuki apartemen Sasuke dengan malas, gelap. Hinata mencari sakelar, dan menyalakan lampunya. Hinata tidak melihat Sasuke dimanapun.

Apa dia sudah tidur? Hinata melihat jam tangannya. Ternyata sudah lewat waktunya makan malam. Ia sadar kalau belum memasakkan makan malam untuk Sasuke. Hinata mendekati pintu kamar Sasuke dan mengetuknya. Tidak ada jawaban dari dalam.

"Sasuke-kun…" panggil Hinata.

Hinata yang penasaran mencoba memutar kenop pintu kamar Sasuke, tidak dikunci. Hinata mendorong pintunya pelan untuk sedikit membukanya, gelap juga. Cahaya dari ruang tengah masuk ke kamar Sasuke melalui celah pintu yang dibuka Hinata. Ia tidak melihat Sasuke di atas tempat tidurnya. Kemana dia?

Hinata menutup kembali pintu kamar Sasuke. Ia memutuskan untuk masuk ke kamarnya sendiri. Tak lama kemudian, Hinata keluar dari kamarnya dengan gaun tidur warna putih selutut. Hinata menduduki sofa dan kemudian menyalakan televisi. Hinata belum merasa mengantuk. Ia memutuskan menonton drama yang ditayangkan di jam tidur. Mungkin sekaligus menunggu Sasuke pulang. Sebenarnya Hinata tidak begitu peduli dengan Sasuke, hanya kebetulan saja ia memang belum bisa tidur. Karena besok juga tidak ada kuliah, jadinya Hinata tenang-tenang saja jika harus begadang karena insomnia.

Hinata lama-lama bosan juga karena drama yang tadi ditontonnya sudah habis. Tapi, ia sama sekali belum merasa mengantuk. Padahal sudah hampir tengah malam. Hinata menolehkan kepalanya ke belakang saat mendengar pintu apartemen dibuka. Ia melihat Sasuke yang masuk dengan langkah gontai. Kancing blazer hitamnya terbuka semua. Kemeja putihnya kelihatan berantakan. Sasuke bahkan tidak melepas sepatunya. Hinata langsung mengerti dengan apa yang terjadi, Sasuke mabuk.

Hinata segera mendekati Sasuke saat melihatnya hampir tersungkur. Ia memapah Sasuke ke kamarnya. Hinata dapat mencium bau alkohol yang menguar dari mulut Sasuke. Apa yang membuatnya jadi begini? Hinata bertanya pada dirinya sendiri. Entah mengapa Hinata merasa khawatir melihat kondisi Sasuke yang seperti ini.

Hinata menekan sakelar kamar Sasuke yang ada di dekat pintu untuk membuat kamarnya terang. Ia menidurkan tubuh Sasuke di ranjangnya. Kemudian, melepaskan sepatu Sasuke. Hinata dapat melihat mata Sasuke yang menutup rapat saat ini. Ia juga dapat melihat sudut bibir Sasuke yang sedikit lebam dan berdarah. Hinata menatapnya iba.

Apa yang terjadi padamu? Perlahan Hinata mengarahkan tangannya untuk menyentuh bekas luka di sudut bibir Sasuke. Hinata mengusapnya pelan, terkesan seperti membelainya. Tiba-tiba ia tersentak saat tangan Sasuke meraih pergelangan tangannya dan kelopak matanya perlahan terbuka.

"Sakit…" rintih Sasuke pelan.

"Sasuke-kun…" gumam Hinata karena tidak tega mendengarnya.

Hinata merasa jantungnya berdegup lebih kencang, ketika mata hitam Sasuke memandangnya. Mata hitam kelam yang kali ini kehilangan kilaunya. Di mata Hinata, saat ini Sasuke terlihat sangat rapuh. Sasuke benar-benar berbeda dari biasanya. Tidak ada wajah tenang atau datarnya yang biasanya. Yang ada hanya tatapan sayunya yang seolah memohon.

"Jangan pergi…" pinta Sasuke. "Jangan pergi, Hinata…"

Sasuke menarik pergelangan tangan Hinata hingga membuat tubuh Hinata jatuh di dadanya. Hinata tidak sempat melakukan perlawanan karena kejadiannya terasa begitu cepat. Sasuke memutar tubuhnya hingga Hinata jatuh di samping tubuhnya dan kemudian menindih tubuh Hinata. Sasuke menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Hinata. Tanpa sadar, Hinata membelalakkan matanya.

"A..apa yang kau lakukan?"

Pertanyaan Hinata dijawab dengan ciuman Sasuke di bibirnya. Hinata merasa terkunci dengan posisinya yang sekarang. Ia sama sekali tidak bisa melawan. Yang bisa dilakukannya sekarang hanya mencoba mendorong dada Sasuke dengan kedua tangannya. Tapi percuma, tenaganya tidak lebih kuat dari Sasuke.

Kali ini Hinata merasa sesak karena jantungnya yang berdetak semakin kencang hingga membuatnya sakit, juga karena paru-parunya yang kekurangan oksigen. Hinata tahu, saat ini ciuman Sasuke berbeda dengan ciuman di hari pernikahannya. Yang sekarang, Sasuke lebih menuntut. Tangan kanan Sasuke mulai merayap dari lengan kiri Hinata hingga ke pundaknya dan kemudian bergerak semakin menurun. Hinata tahu kemana Sasuke akan melabuhkan tangannya.

Aku tidak mau yang seperti ini! Hentikan! Hanya batin Hinata yang dapat memberontak. Hentikan. Hentikan, Sasuke-kun…

.

.

.

*[ To Be Continued ]*

.

.

.

Go kekkon omedetou! = Selamat menikah! *pasti banyak yang sudah tahu…*

Sebenernya masih UTS, tugas juga masih banyak…

Tapi malah update fanfic… (=_=)a

Special thanks to:

Amuchan. Hinamori, SoraHinase, Zephyphanda, Masahiro 'Night' Seiran, Norikonori-chan, cherrysakusasu, Hikari, Sanada, Ciaxx, Aidou Yuukihara, sambalpedasindofood, acchan lawliet, Illyasviel, Michle, Upe Jun, KatouChii, teichi, Youichi Hikari (amat sangat boleh sekali), Lyner Croix Rosenkrantz (makasih ya…), Chai Mol, yuryujav aka yuuaja, kuraishi cha22dhen, zhezhiey love itachi, Uzumaki uchiha, lily poli, Merai Alixya Kudo, Namikaze-Tania-Chan, lollytha-chan, arum, Chevalier de la Lune, Ichaa Hatake Youichi, demikooo, D'purple Shoseki, Reita, ika chan, ShimEunha CassiopeiaPhantomhive, namikazeallem, phiend aka phiendha, faraway, harunaru chan muach, dream6, hyuuchiha prinka (Marriage Simulation © Haruno Aoi), Ind (makasih banget… makasih juga doanya… \(^_^)/ sudah nggak frustasi, hohoho…), Hatake Liana (sama-sama, aku juga makasih juga…), Saqee-chan (makasih ya…), hanata chan, Sasuhina loverz (bukannya Sasuke memang cuek?), Kurosaki Kuchiki (salam kenal juga…), Uzumaki Panda (pernikahannya sebenarnya sudah sah kok… M ya? haha… sebenarnya nggak bisa v(^_^)v mungkin Semi-M… sarannya bagus, tapi sebenarnya emang selalu sambil ndengerin musik kok…)

Miss Japanese, Wonder Girls (Master Min Mie, Namikaze Allem, Far Far Away, Phiendha, termasuk Haruno Aoi) *hohoho…* Miss English (gimana? Sasuke masih kurang arogan?)

Doumo Arigatou minna-san…

Terima kasih juga untuk para silent readers…

Maaf tidak bisa membalas satu-satu…

Agak pendek…

Apa alurnya terlalu cepat?

Tolong kritik dan sarannya…

Review please…

.

.

.

*[ Arigatou Gozaimashita ]*

.

.

.

R

E

V

I

E

W