Sleep With the Devil (KookV version)

Original story by Santhy Agatha

Rated : M

Cast :

Kim Taehyung as Lana

Jeon Jungkook as Mikail Reveno

Kim Namjoon as Norman

Warning : YAOI, M-preg, typo(s).

...

a/n : Seperti yang tertera di atas, semua isi cerita ini adalah milik kak Santhy Agatha. Saya hanya meremake cerita ini dengan tambahan/pengurangan beberapa kata agar lebih cocok dengan tema yaoi-nya. Mohon maaf kalau ada beberapa kata yang tidak teredit. Intinya, saya cuma mau memuaskan para KookV shipper yang barangkali ingin membaca remake novel ini versi KookV-nya.

...

BAB 3

"Sakit!"

Taehyung menjerit, berusaha mendorong tubuh Jungkook. Tubuhnya berteriak antara kesakitan dan keinginan untuk dipenuhi gairahnya. Sebutir air mata menetes dari sudut matanya, sisa-sisa dari kesadarannya yang tertinggal.

Jungkook mendesakkan dirinya sedalam mungkin, akhirnya berhasil menembus penghalang itu, mengabaikan jeritan kesakitan Taehyung.

Ketika akhirnya jeritan Taehyung mereda. Jungkook mengangkat kepalanya, dan mengecup lembut bibir Taehyung yang terbuka dan terengah-engah.

"Setelah ini... Aku akan mengajarkanmu bagaimana cara memuaskanku," ucapan itu menggema di dalam ruangan, bagaikan janji dari sang kegelapan.

Dan Taehyung, sudah benar-benar kehilangan kesadarannya, tubuhnya menggeliat merasakan kenikmatan yang menggelenyar ketika rasa sakit itu akhirnya menghilang. Berganti dengan kenikmatan panas yang membagikan gelenyar menyiksa ke seluruh tubuhnya.

Jungkook merasakan gerakan pinggul Taehyung, merasakan denyutannya yang menggenggam panas tubuhnya, yang tertanam jauh di dalam tubuh Taehyung. Mendesak dengan berani, menarik Jungkook lebih dan lebih dekat lagi.

Jungkook menggertakkan gigi, menahan diri, membiarkan Taehyung menggerakkan pinggulnya, mencari kenikmatannya sendiri dengan sesuka hati. Dan tidak butuh waktu lama ketika akhirnya lelaki itu mencapai pemenuhan kepuasannya.

"Oh... oh... astaga..." Taehyung memejamkan mata ketika kenikmatan itu meledak dan membanjiri tubuhnya dengan rasa panas yang tak tertahankan.

Dan walaupun Jungkook bisa memperpanjang kenikmatannya sendiri, pemandangan akan orgasme Taehyung dan denyutan Taehyung yang meremas dirinya, jauh di dalam sana, membuatnya tidak bisa menahan diri lagi. Detik itu pula, Jungkook meledakkan gairahnya, bergabung dengan Taehyung dalam gairah yang melemahkan.

.

Entah apa yang membuat Taehyung terbangun dari tidurnya yang lelap, rasa sakit yang aneh di badannya, ataukah cahaya terang yang mendadak muncul entah dari mana. Taehyung membuka matanya. Sekilas pandangannya terasa kabur, dan ia mencoba untuk memfokuskan dirinya.

Kamar itu, dengan nuansa putih yang menyejukkan...

Kilasan-kilasan ingatan berkelebat di benaknya, ia masih disekap disini, di dalam kamar di rumah Jungkook yang jahat.

Dengan panik Taehyung terduduk dari ranjangnya, dan selimutnya melorot hampir jatuh menutupi pingganggnya, melorot? Taehyung menundukkan kepalanya, dan menyadari kalau ia telanjang bulat di balik selimutnya, apa yang...

"Selamat pagi."

Suara maskulin itu terdengar dekat sekali dan Taehyung menolehkan kepalanya kaget.

Pemandangan di hadapannya membuat jantungnya bergejolak. Jungkook ada disana, di ranjangnya, mereka ada dalam selimut yang sama, dan menilik kepada selimut Jungkook yang hampir saja melorot di pinggulnya, mereka sama-sama telanjang!

Taehyung masih terperangah menatap pemandangan didepannya. Jungkook berbaring dengan angkuhnya, jelas-jelas telanjang bulat di balik selimutnya, dan menatapnya dengan tatapan berhasrat yang memiliki sorot tajam.

Dengan panik Taehyung menarik selimutnya agar menutupi seluruh badannya, tetapi gerakannya itu malah membuat selimut yang menutupi tubuh Jungkook melorot dan hampir memperlihatkan kejantanannya. Dengan malu, Taehyung memalingkan kepalanya dan disambut dengan senyuman jahat Jungkook.

Keberanian dan kemarahan Taehyung langsung muncul ketika menyadari rasa pedih di antara belahan pantatnya. Lelaki ini memperkosanya! Entah apa yang terjadi semalam, Taehyung tidak ingat sama sekali. Tapi yang pasti, ia sudah dinodai oleh iblis berhati kejam ini.

"Kau sungguh iblis yang tidak bermoral, mengambil keuntungan dari orang yang sangat membencimu!" desis Tahyung menahan marah, masih tidak mau menatap Jungkook.

Jungkook terkekeh mendengar suara geram Taehyung, "membenciku?" dengan santai lelaki itu berdiri, tak malu dengan tubuh telanjangnya yang berotot, "lihat aku, Taehyung! Kau meninggalkan tanda-tanda di tubuhku, kau sangat bergairah semalam, seperti kucing betina yang mencakar di sana sini untuk dipuaskan... Dan atas gairahmu semalam, aku tidak yakin kalau kau membenciku."

Taehyung melirik sekilas ke tubuh telanjang Jungkook yang berdiri disamping ranjang, mukanya merah padam karena malu. Bekas-bekas itu ada, tanda-tanda merah di dada, di pinggul Jungkook, di dekat kejantanannya... apakah ia yang melakukannya?

"Ya. Kau yang melakukannya," ada senyum di suara Jungkook, "dengan sangat bergairah dan lapar. Aku cuma berbaring disana dan kau menyantapku bulat-bulat, sepanjang malam."

Kelebatan ingatan akan percintaan yang panas muncul di ingatan Taehyung, samar-samar dan tidak jelas. Tapi ia tidak mampu mengingat semuanya, kenapa ia tidak mampu mengingat semuanya?

Taehyung teringat minuman yang di berikan Namjoon semalam, dan rasa muaknya memuncak ketika menyadari ada sesuatu yang dicampurkan di situ. Dengan mata menyala-nyala, dikuasai oleh kemarahan yang campur aduk menjadi satu, Taehyung menantang tatapan Jungkook, mencoba tidak mempedulikan tubuh telanjang Jungkook didepannya.

"Aku selalu mendengar kau jahat dan licik, tapi aku sungguh tak menyangka kau serendah itu, menggunakan obat untuk memaksa orang yang jijik kepadamu supaya mau melayanimu!"

Sepertinya kata-kata Taehyung mengena di hati Jungkook, karena rahang lelaki itu tampak mengeras, marah.

Dengan kasar, Jungkook menyambar jubah sutra hitamnya dan mengenakannya. Lalu dengan gerakan tiba-tiba, naik ke atas ranjang dan mencengkeram rahang Taehyung dengan sebelah tangannya.

Cengkeraman itu terasa keras dan menyakitkan sehingga Taehyung mengernyit. Tetapi Taehyung menahan diri untuk tidak mengaduh, ia tidak mau memberikan kepuasan kepada lelaki itu.

"Apapun yang kau katakan, satu hal yang pasti, kau sudah menjadi milikku. Dan seperti yang kubilang, segala sesuatu yang menjadi milik Jeon Jungkook tidak akan pernah bisa lepas, kecuali aku melepaskanmu... atau aku membunuhmu!"

Dengan kasar Jungkook melepaskan cengkeramannya dari rahang Taehyung, membuat tubuh Taehyung terdorong lagi ke ranjang. Lalu dengan langkah tegas, Jungkook melangkah keluar kamar sambil membanting pintu di belakangnya.

.

Taehyung masih termangu di ranjang, lalu kilasan rasa sakit di antara selangkangannya mengembalikan Taehyung ke dunia nyata.

Noda darah itu tampak mencolok di seprai putih itu, tampak menertawakannya.

Sungguh ironis, harga dirinya terenggut oleh bajingan berhati iblis yang ingin dibunuhnya. Tubuh Taehyung gemetar, dipenuhi oleh rasa campur aduk yang menyesakkan ketika ia mencoba berdiri.

Noda merah di ranjang itu sangat mengganggunya, hingga dengan kasar Taehyung merenggut seprai itu dan membantingnya ke lantai. Napas Taehyung terengah-engah dan entah kenapa kemudian tubuhnya ambruk ke lantai, menangis penuh emosi.

Ingatannya melayang kepada ayah dan ibunya, kepada dendamnya yang belum terbalaskan, dan kepada nasibnya yang membuatnya terperangkap disini, dalam cengkeraman musuh besarnya.

Kini ia terpuruk disini, dalam cengkeraman Jungkook, dan yang sangat menyakitkan, ia tidak berdaya menghadapi lelaki itu.

Taehyung mengusap air matanya tiba-tiba. Tidak! Ia sudah cukup menangis, ia harus melawan, dengan segala cara!

Dengan pelan Taehyung melangkah ke kamar mandi, ia harus mandi dan menghapus semua jejak dan noda yang ditinggalkan Jungkook di tubuhnya.

Jungkook boleh saja menodainya, tetapi bukan berarti lelaki itu memilikinya. Taehyung adalah lelaki bebas, lelaki bebas yang bertekad untuk menghancurkan Jungkook. Tunggu saja, ia hanya belum punya kesempatan.

Taehyung hanya duduk di kursi putih itu putus asa sebab setelah sekian lama berkeliling ruangan, memeriksa setiap sudut di kamar mandi dan jendela, tetap benar-benar tidak ada celah yang bisa digunakan sebagai jalannya untuk melarikan diri.

Putus asa, Taehyung duduk sambil memeluk lututnya, kalau begini, bagaimana caranya ia bisa keluar dari rumah ini? Sedangkan keluar dari kamar ini saja ia tidak mampu. Matanya melirik ke pintu kamar. Pintu yang terkunci itu satu-satunya jalan.

Tetapi yang bisa keluar masuk dari pintu itu hanya Jungkook, dan juga seorang lelaki bertampang dingin bernama Kim Namjoon, yang selalu ada di sebelah Jungkook setiap ada kesempatan. Lelaki bertampang dingin itu sepertinya ditugaskan untuk mengantarkan makanannya.

.

Pikiran Taehyung berputar... memang rasanya tidak mungkin, jika tidak dicoba ia tidak akan tahu...

Seperti sudah diatur, pintu kamar itu terbuka, dan Taehyung langsung terduduk tegak waspada, menanti siapapun yang akan masuk.

Namjoon muncul dari sana membawa nampan makanan, wajahnya datar tanpa ekspresi seperti biasa. Dan Taehyung langsung sengaja memasang wajah kesakitan.

"Aku minta tolong..." rintihnya sesakit mungkin.

Namjoon mengernyit dan mendekat, "ada apa, Tuan?"

"Aku... aku mau muntah... tolong aku," Taehyung meremas perutnya, berusaha semeyakinkan mungkin.

Dan sepertinya Namjoon tidak curiga, lelaki itu mendekat, dan menatap Taehyung.

"Anda mau dibantu ke kamar mandi?"

Taehyung mengangguk lemah.

Dengan tangan kuatnya, Namjoon membantu Taehyung berdiri dan memapah tubuh Taehyung yang lunglai ke kamar mandi.

Ketika Namjoon membuka pintu kamar mandi, Taehyung berakting seolah-olah muntahnya akan keluar, hingga Namjoon langsung bergegas membawanya ke kamar mandi.

Di wastafel, Taehyung menundukkan kepalanya seolah-olah akan muntah hebat, "handuk... tolong..." gumam Taehyung lemah, melirik ke arah lemari handuk yang ada di ujung ruangan kamar mandi.

Masih tanpa curiga, Namjoon melangkah ke arah lemari handuk. Saat itulah dengan secepat kilat Taehyung melompat dan berlari ke arah pintu keluar kamar mandi.

Namjoon menyadari kalau ia ditipu ketika melihat kelebatan langkah cepat Taehyung. Ia berusaha mengejar tetapi terlambat, Taehyung yang melompat gesit sudah keluar dari kamar mandi dan membanting pintunya dari luar, lalu menguncinya rapat-rapat.

Dengan napas terengah karena pacuan adrenalin, Taehyung menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar mandi, memejamkan mata, tak peduli akan gedoran-gedoran marah Namjoon dari dalam.

"Kau tidak akan bisa melarikan diri," ancam Namjoon, berteriak dari dalam, "Tuan Jungkook pasti akan menemukanmu, dan aku bersumpah, kalau kau sampai membuat Tuan Jungkook marah, kau akan menyesalinya."

Teriakan-teriakan Namjoon makin keras dibarengi dengan gedoran-gedorannya di pintu.

Kata-kata Namjoon sempat membuat keberanian Taehyung ciut, tapi ia menggelengkan kepalanya, Jungkook memang lelaki kejam, tetapi Taehyung tidak boleh takut. Ia harus berani menantang Jungkook, ia harus bisa menunjukkan pada lelaki itu kalau ia bukanlah lawan yang bisa ditundukkan dengan begitu mudahnya.

Dengan langkah hati-hati, Taehyung membuka pintu putih yang tak terkunci itu, matanya mengintip sedikit keluar, khawatir kalau-kalau ada penjaga yang berjaga di luar kamar.

Tetapi rupanya Jungkook beranggapan Taehyung terlalu lemah sehingga tidak perlu menempatkan penjaga di luar kamar.

Lorong itu kosong. Dengan hati-hati Taehyung melangkah keluar. Suara gedoran-gedoran pintu kamar mandi dan teriakan Namjoon masih terdengar ketika Taehyung keluar, tetapi ketika Taehyung menutup pintu putih besar itu, suara itu lenyap dan menjadi senyap. Rupanya ruangan putih tempatnya dikurung itu kedap suara.

Taehyung melangkah lagi melewati lorong. Tidak ada pintu lain di lorong itu, arahnya langsung ke tangga spiral besar menuju ke pintu depan. Dengan hati-hati, Taehyung mengintip dari ujung tangga ke arah bawah. Kosong. Kemanakah para penjaga yang ia lihat kemarin?

Pelan dan waspada, Taehyung melangkah menuruni tangga. Ia sudah berhasil menyeberangi ruangan dan memegang handle pintu besar itu, ketika suara dingin yang mulai dikenalnya terdengar tepat di belakangnya.

"Kau pikir kau mau kemana?"

.

Terlonjak kaget, Taehyung membalikkan badan dan hampir terbentur dada bidang Jungkook.

Lelaki itu berdiri dekat sekali di belakangnya, dan menekannya ke pintu, tatapannya menyala penuh kemarahan, seperti iblis yang siap membakar musuh-musuhnya.

"Berani sekali kau mempermalukan Namjoon seperti itu, dan berani sekali kau mencoba melarikan diri dari rumahku," tangan besar Jungkook mencengkeram lengan Taehyung dengan kasar lalu menyeret Taehyung yang tidak bersedia.

Taehyung meronta-ronta, mencoba bertahan, tetapi Jungkook tidak peduli, lelaki itu tetap menyeret Taehyung dengan kekuatan besarnya. Hingga Taehyung mau tidak mau harus terseret-seret mengikuti tarikan Jungkook, daripada tangannya putus.

Jungkook menyeret Taehyung menaiki tangga dan kembali menuju kamar putih tempat Taehyung tadi dikurung.

Disana beberapa pengawal Jungkook berkumpul, dan Namjoon berdiri di sana. Rupanya ia berhasil menghubungi Jungkook dan dibebaskan dari kamar mandi.

Taehyung mengernyit dalam hati, seharusnya tadi ia lebih cepat, atau mungkin ia pukul saja kepala Namjoon dengan sesuatu sehingga lelaki itu pingsan dan tidak bisa menghubungi teman-temannya dengan segera.

Jungkook melepaskan cengkeramannya lalu mendorong Taehyung ke depan dengan kasar.

"Kau lihat, Namjoon? Pria kecil seperti ini, dan kau, pengawalku yang sudah bertahun-tahun bekerja denganku bisa-bisanya dibodohi seperti ini."

Namjoon hanya terdiam, menatap Jungkook dengan muka datar, sepenuhnya mengabaikan keberadaan Taehyung. Hingga Taehyung mengernyit, apakah lelaki ini memang tidak punya ekspresi?

"Dan kau, Taehyung," Jungkook melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya, "ini adalah peringatan untukmu. Kalau kau membodohi salah satu pegawaiku lagi untuk melarikan diri, kau akan membuang satu nyawa, karena aku akan langsung membunuh pegawaiku."

Tanpa peringatan, Jungkook menghantam Namjoon dengan satu pukulan telak hingga kepala Namjoon mundur ke belakang, darah menetes dari sudut bibirnya.

Taehyung terkesiap mundur dan makin terkesiap ketika Jungkook menghajar Namjoon, lagi dan lagi tanpa perlawanan hingga lelaki itu jatuh berlutut dengan memar dan bibir berdarah yang darahnya menetes mengotori kemejanya.

Jungkook mundur satu langkah ketika Namjoon terjatuh, ia menoleh dan menatap Taehyung.

"Kalu lihat itu, Taehyung? Setiap kau mencoba melarikan diri, aku bersumpah akan ada nyawa yang berkorban untukmu. Mereka yang lengah hingga memberi kesempatan padamu untuk lari, akan kubunuh!"

Dengan kejam Jungkook mengarahkan pukulannya sekali lagi ke arah Namjoon.

Taehyung berteriak, spontan mencengkram lengan Jungkook yang terayun, mencegah Jungkook menghabisi Namjoon.

"Jangan! Jangan! Aku yang salah, aku yang salah! Jangan bunuh dia! Aku yang salah!" teriaknya panik.

Jungkook terdiam dan mematung, ketika akhirnya ia menatap Taehyung, matanya sedingin es. Lelaki itu tampak amat sangat marah kepada Taehyung.

"Jadi kau mengaku salah..."

Jungkook mundur lagi dan Taehyung merasa lega luar biasa karena lelaki itu tidak jadi melampiaskan kemarahannya kepada Namjoon yang sudah berlutut tak berdaya di atas lantai.

"Aku hanya ingin keluar dari tempat ini!" teriak Taehyung marah, frustrasi karena Jungkook menggunakan ancaman licik untuk mencegahnya melarikan diri.

"Kau milikku, dan tidak ada milikku yang bisa keluar dari sini tanpa seizinku."

"Atas dasar apa?!" Taehyung berteriak marah, "aku bukan milik siapa-siapa, apalagi lelaki jahat sepertimu. Aku hanya ingin keluar dari sini, aku muak terhadapmu, muak atas semua yang ada di sini... aku hanya ingin bebas!"

"Kau ingin keluar, hah?" Jungkook mencengkeram lengan Taehyung lagi, di tempat yang sama hingga Taehyung merasa lengannya sudah terluka karena cengkraman itu, "mari kita keluar!"

.

Tak ada yang berani menolong ketika Taehyung berteriak-teriak dalam seretan Jungkook. Sepertinya kemarahan Jungkook adalah hal biasa di rumah ini dan tidak ada satupun yang berani melawan laki-laki itu.

Jungkook membawa Taehyung ke ujung lorong, ke jendela kaca di lantai dua yang mengarah langsung ke balkon.

Dengan kasar Jungkook mendorong Taehyung keluar lalu mendesaknya ke ujung balkon, hingga kepala Taehyung mengarah ke bawah dan menatap ngeri ke arah kolam renang yang sangat luas di bawahnya.

Kolam itu tampak sangat bening dan dalam. Taehyung bergidik. Ia tidak bisa berenang, apakah Jungkook akan mendorongnya ke bawah?

Jungkook benar-benar mendesak tubuh Taehyung sampai ke ujung balkon, membuat kepalanya terbungkuk ke bawah, sementara tangannya dikekang oleh Jungkook di belakangnya.

"Kau lihat itu? Salah sedikit aku melemparmu ke bawah, kepalamu bisa pecah terkena ubin pinggiran kolam," napas Jungkook sedikit terengah oleh kemarahan, "kau lelaki tak tahu diuntung! seharusnya kau bersyukur atas kebaikan hatiku padamu dan keluargamu, hingga kau masih bisa hidup sampai sekarang... tahukah kau kalau aku bisa dengan mudah mencabut nyawamu kapanpun aku mau."

"Tuhan yang berhak mencabut nyawaku, bukan iblis sepertimu!" Taehyung berteriak berusaha menantang meski jantungnya makin berpacu kencang diliputi ketakutan luar biasa.

"Dasar tidak tahu terima kasih," Jungkook mendorong Taehyung lagi sampai ke ujung, "ada kata-kata terakhir?"

Taehyung memalingkan kepalanya sehingga tatapan matanya yang penuh kebencian bertemu dengan mata dingin Jungkook.

"Terima kasih karena sudah membebaskanku."

Lalu tubuh Taehyung terlempar, melayang di udara kemudian meluncur ke bawah, ke kolam renang yang dalam itu.

Setidaknya kalau aku mati, aku sudah mencoba membalaskan dendam kita, Ayah...

Sedetik kemudian, tubuh Taehyung terbanting menembus permukaan kolam lalu tenggelam. Taehyung tidak berusaha menyelamatkan diri, ia malah membiarkan tubuhnya semakin tenggelam dalam kolam yang menelannya.

Matanya menggelap dan memejam, entah berapa banyak air kolam yang tertelan olehnya. Napasnya terasa sesak dan paru-parunya terasa mau pecah.

Oh Tuhan... aku akan mati...

.

Ketika Taehyung sudah sampai pada titik akan kehilangan kesadarannya, terdengar ceburan lain yang tak kalah kerasnya di dalam kolam.

Tak lama kemudian, sebuah lengan yang kuat merengkuhnya dan mengangkat tubuhnya, lalu membawanya ke permukaan air. Tubuh lemas Taehyung dibaringkan di atas lantai di pinggiran kolam, lalu ia merasakan perutnya ditekan dengan ahli hingga aliran air yang tertelan langsung keluar melalui mulutnya.

Taehyung memuntahkan banyak air dan terbatuk-batuk kesakitan. Paru-parunya masih terasa begitu sakit dan nyeri.

Siapakah penolongnya? Apakah ia memang belum diizinkan mati?

Tangan kuat itu terus menekan hingga seluruh cairan terpompa keluar dari perut Taehyung. Mata Taehyung mulai buram, kesadarannya semakin hilang, ketika suara itu terdengar tenang di atasnya.

"Panggil Dokter."

Itu suara Jungkook. Apakah Jungkook yang menyelamatkannya? Lagipula... kenapa lelaki itu menyelamatkannya?

*TBC*

Mind to review?

.

Sebenarnya masih bingung dengan bagian 'noda darah' itu, tapi anggap aja itu akibat Jungkook terlalu semangat sampai melukai Taehyung.

Dan bagi para pembaca yang bingung kenapa fanfic ini sangat mirip dengan fanfic yang pernah kalian baca dengan cast yang lain, dan (mungkin) menganggap saya memplagiat karya orang, saya mau menegaskan lagi bahwa fanfic ini memang bukan karya saya. Dari awal sudah disebutkan bahwa seluruh isi cerita adalah karya Santhy Agatha dan saya hanya meremake dengan mengganti nama tokoh dan sedikit menambah/mengurangi kata agar pas dengan tema YAOI yang saya ambil dalam fanfic ini. Memang mirip plagiat (bahkan mungkin memang plagiat?), tapi disini saya tidak pernah mengakui bahwa ini adalah karya saya. So, sudah mengerti kan?

Maksih buat yang udah nyempetin waktu buat baca, ngereview, ngefav, ngefollow ff ini, saya sangat berterimakasih, karena kalian ff ini masih lanjut, jangan bosen baca sama ngereview lagi yaa!