Chapter 2 : Ambition
Satu semester pun berlalu, dan aku sudah mulai terbiasa dengan apa yang disuguhkan di sekolah ini. Menjadi anak SMA, harus bisa lebih dewasa dan membuka pikiran lebih luas. Mungkin dulu aku tidak begitu pintar bergaul. Sekarang, di sekolah yang hampir separuhnya berisi keturunan orang-orang penting di Jepang, aku harus bisa bergaul dengan baik tanpa pilih-pilih.
Namun satu hal yang agak berubah dalam kehidupanku setelah masuk sekolah ini. Seperti kejadian sebelumnya, aku sedikit banyak menghadapi kendala untuk bisa lebih exist di sekolah ini. Meski aku bisa diterima di kalangan teman-teman sekelas, ada saja sekelompok orang yang tidak senang denganku. Terutama mereka yang berada di kelas 2 atau 3, dan beberapa anggota OSIS. Setiap kali berpapasan di mana saja di sekolah ini, aku selalu mendapat pandangan tajam atau tidak suka dari mereka. Aku berusaha bersikap seakan tidak ada apa-apa. Tetapi mengapa begini jadinya? Aku bahkan tidak pernah mencoba memancing emosi mereka. Tapi…ya, seperti yang aku jelaskan tadi.
"Atobe-kun, kau dicari Oshitari-kun."
"Dia mencariku, Masaki?"
"Itu dia, menunggumu di luar kelas."
Dan satu hal lagi, Oshitari justru mendapat perlakuan sebaliknya dariku. Dia dikelilingi banyak orang yang memuja ketenarannya. Orang mulai banyak memberikan tanggapan positif tentang kehadirannya di sekolah ini. Dia bersikap seakan semuanya baik-baik saja. Tetapi kenapa aku tidak bisa bersikap sama seperti dia? Apa karena ambisiku waktu masih di SMP tetap membekas dalam diriku?
"Kau sudah menentukan akan ikut ekskul apa, Keigo?"
"Ya, sudah kok. Aku sudah mengirim lembar aplikasinya ke ketua OSIS."
"Kau langsung mengirim padanya?"
"Ya, karena dia yang minta begitu. Lagipula, kenapa harus menunggu satu semester baru boleh ikut ekskul?"
"Sekolah ini menginginkan di tahap pertama belajar, para siswa kelas satu harus sudah bisa beradaptasi dengan segala hal. Kurikulum, guru-guru, dan beberapa kegiatan lainnya."
"Ah ya, kau benar. Kau khan memang harus tahu segala hal yang berhubungan dengan sekolah ini."
"Apa maksudmu, Keigo?"
"Menjawab pertanyaanmu tadi, aku akan ikut klub tenis, OSIS, dan musik. Bagaimana menurutmu?"
"…"
"Hey, aku tanya padamu!"
"Kau yakin akan masuk OSIS?"
"Kenapa? Aku ini mantan ketua OSIS di SMP."
"Bisakah kau pertimbangkan kembali untuk masuk OSIS, Keigo? Klub tenis dan musik, sepertinya ide bagus. Tapi untuk yang ini…"
"Kau berani menghalangiku, Yuushi? Sejak kapan kau berani membatasi ruang gerakku?"
"Bukan begitu, Keigo."
"Aku yang memutuskan akan ikut kegiatan apa di sekolah ini, bukan kau. Jadi, tugasmu adalah memberiku dukungan sepenuhnya atas apa yang aku pilih. Mengerti?"
"…Ya…"
"Bagus. Ore-sama harus kembali ke kelas sekarang."
"Tunggu, Keigo."
Belum sempat berbalik meninggalkannya, Oshitari langsung menarik tanganku lagi. Tetapi kemudian dia sepertinya berubah pikiran dan langsung melepasku lagi.
0o0o0o0o0
Di jam istirahat, aku diajak oleh Masaki dan satu temanku perempuan bernama Kanata Aira, makan siang di kantin. Namun saat perjalanan ke sana, kami berhenti di sebuah papan pengumuman yang sudah dikerumuni banyak siswa. Kami pun tidak mau ketinggalan berita. Bersusah payah kami menerobos kerumunan itu untuk melihat apa yang tercantum di papan pengumuman.
Ternyata isinya adalah nama para siswa yang terdaftar dalam kegiatan ekstrakurikuler pilihan mereka. Langsung saja aku mencari namaku.
"Ah, aku masuk di klub tenis!"
Senang sekali rasanya melihat namaku tercantum paling pertama di klub tenis. Kemudian sekali lagi aku menemukan namaku tercantum di klub musik. Dan yang terakhir aku mencari namaku di daftar nama siswa yang ingin menjadi anggota OSIS. Aku sampai mengulurkan jariku supaya bisa teliti melihatnya karena banyak sekali yang ikut.
"Kenapa namaku tidak ada?"
Benar, namaku tidak tercantum dalam daftar itu. Aku sampai mundur beberapa langkah untuk membiarkan para siswa lain melihat pengumuman itu. Kemudian menyusul Masaki dan Aira menghampiriku di luar kerumunan itu.
"Atobe-kun, kau bilang akan masuk anggota OSIS. Aku sudah melihat namamu, tapi tidak tercantum di sana."
"Apa kau belum menyerahkan formulir itu pada ketua OSIS?"
"Aku sudah menyerahkannya. Tapi…ini tidak mungkin."
"Eh, Atobe-kun. Lihat di sana, ada beberapa anggota OSIS yang akan berjalan kemari."
Aku menanggapi kata-kata Aira, dan menoleh ke sebelah kananku. Aku melihat sosok ketua OSIS, yaitu Nasakone Yuuji bersama 3 orang staff-nya berjalan menuju papan pengumuman ini. Melihat mereka datang, beberapa siswa langsung minggir dan memberi jalan serta memberi hormat pada mereka. Sang ketua yang angkuh itu pun berhenti. Rupanya dia ingin memberi pengumuman.
"Bagi yang namanya sudah tercantum di daftar calon anggota OSIS, sepulang sekolah kita berkumpul di kelasku, 3-A."
Setelah mengatakan itu, dia langsung pergi meninggalkan keramaian di sini. Tetapi aku tidak bisa tinggal diam. Aku langsung mengejarnya dan dengan nekad mencegatnya berjalan. Dia pun berhenti setelah aku menghadangnya. Pandangan tidak suka mulai dilemparkan padaku.
"Kau ada pada jalanku, Atobe Keigo. Minggir."
"Mengapa kau tidak mencantumkanku pada organisasimu?"
"Kau bisa apa di OSIS?"
"Jangan meremehkan aku, Nakasone-senpai! Aku ini menjabat ketua OSIS dua periode di sekolahku dulu. Aku rasa tidak ada salahnya jika aku bergabung lagi dengan OSIS di sini."
"Apakah dengan kau masuk, kau akan berkuasa lagi seperti dulu, Atobe Keigo?"
"Hentikan caramu memanggil namaku!"
"Tidak sopan bicara denganku seperti itu!"
Nakasone akan melayangkan pukulan keras ke wajahku. Aku sudah bersiap menghindar, tetapi kemudian sesuatu menahannya. Entah bagaimana ceritanya, aku melihat Oshitari sudah berdiri di depanku. Dia memegang tangan Nakasone yang sudah akan memukulku.
"Ada masalah, Nakasone-kaichou?"
"…"
"Kau ingin memukulnya?"
"Dia berbicara tidak sopan padaku!"
"Aku minta maaf atas ketidaksopanan temanku. Kalau begitu, bisa kami pergi sekarang?"
Nakasone dan 3 orang anggota OSIS lainnya malah tidak memberikan perlawanan pada Oshitari. Mereka langsung pergi meninggalkan kami. Oshitari mengajakku berdiri bersandar pada jendela koridor.
"Kau terluka, Keigo?"
"…"
"Keigo, kau tidak apa-apa?"
"Jangan sentuh!"
"…"
"Aku sudah menyampaikan lembar aplikasi untuk masuk OSIS pada ketua OSIS sialan itu. Dan sekarang namaku tidak dicantumkan di sana. Apa sih maunya?"
"Benarkah? Itu tidak mungkin…"
"Aku benci dia. Demi Tuhan, aku sangat membencinya! Camkan kata-kataku! Dan kau, harus membantuku menyelesaikan perkara ini, Yuushi!"
"Kau tetap akan masuk OSIS, Keigo?"
"…"
"Kau tetap berambisi untuk menjadi nomer satu di sekolah ini?"
"Kau ada masalah dengan itu, Yuushi?"
"…Tidak…"
"Aku tidak mau ada penghalang dari pihak mana pun. Termasuk kau."
Aku menunjuk Oshitari sampai meletakkan ujung jari telunjukku ke dadanya. Aku mendengar dia menghela nafas dan menaikkan kacamatanya. Dia memegang tanganku yang masih tertuju ke dadanya, kemudian menciumnya.
"Aku tidak akan menghalangimu, Keigo."
"…"
"Aku janji. Aku akan mengikuti langkahmu selalu."
"Sebaiknya kau pegang kata-katamu, Yuushi. Karena Ore-sama tidak segan-segan akan menghukummu jika kau berani mengkhianatiku."
Aku percaya sepenuhnya pada orang ini. Hubungan kami sudah sangat dekat sejak SMP. Dia berjanji tidak akan meninggalkanku, dia bersumpah demi nama besar keluargaku tidak akan pernah mengkhianatiku. Aku mengakui kesetiaannya, dan dia tidak pernah menodai kesetiaannya itu sampai sekarang. Aku bangga padanya? Tentu saja. Tetapi sekarang aku dihadapkan dengan situasi yang sulit. Aku bisa terima niat baiknya yang selalu ingin melindungiku. Hanya saja aku khawatir akan satu hal.
Mungkinkah dia punya maksud tertentu dengan tetap melindungiku seperti ini?
To be continue~
