Hiberdating
Third page-Beruntung ataukah Petaka
.
.
57 missed calls
203 new unread message
Baekhyun menghembuskan napasnya lelah saat melihat pop up notifikasi di ponselnya setelah ia men-charge benda itu. Dengan malas ia buka satu persatu, pesan itu berasal dari pacar-pacarnya dan Sehun, satu-satunya pesan yang ia setting muncul teratas di aplikasi pesan miliknya.
Pacar-pacarnya. Benar. Baekhyun memang memiliki beberapa pacar. Seperti harapan awalnya, ia bebas memilih dengan siapa ia berhubungan, yang akhirnya dia nantinya akan terikat dengan Sehun. Tapi sekali lagi, harapan hanyalah tinggal harapan. Semua jauh di luar ekspektasi.
Memiliki banyak lelaki yang menyayangimu memanglah tidak buruk juga. Baekhyun tidak perlu memikirkan biaya kuliahnya yang harganya selangit karena pacar pengusahanya yang dengan baik hati rela memberinya uang untuk kuliah. Baekhyun tidak perlu khawatir tidak bisa pulang saat tengah malam karena ia punya pacar lain yang rela menembus hujan saat Baekhyun bilang minta dijemput karena tidak ada bus lagi yang beroperasi. Atau yang lain, dia tidak perlu malu saat berkencan beberapa pacarnya bertampang luar biasa tampan.
Itu semua Baekhyun lakukan untuk bersenang-senang. Karena Baekhyun yakin di pelukan Sehun-lah ia akan berakhir.
Baekhyun, kau dimana? Kenapa panggilanku tidak kau terima?
Itu adalah pesan terakhir di antara pesan Sehun yang memenuhi beranda chat-nya.
Baekhyun melirik ke arah samping dan menemukan Jongdae sudah tertidur pulas di ranjangnya. Setelah menemaninya mengambil barang yang tertinggal di bar semalam, lelaki itu langsung tumbang ke tempat tidur setelah selesai mandi. Baekhyun sangat beruntung karena pegawai di bar itu bersedia menyimpankan barang miliknya, tas yang berisi dompet dan ponsel. Juga, sepasang sepatu favoritnya yang beruntungnya tidak dibuang oleh petugas kebersihan bar itu. Walaupun baekhyun masih bertanya-tanya kenapa sepatu itu bisa lepas dari kakinya.
Jongdae juga berbaik hati menawarkan tumpangan untuk tidur di tempatnya karena Baekhyun belum menemukan penginapan. Sekali lagi Baekhyun merasa sangat beruntung bertemu dengan orang sebaik Jongdae di tengah usahanya untuk kabur dari masalah pribadinya.
Ponsel Baekhyun bergetar dan berkedip, panggilan masuk dari Sehun. Baekhyun menimbang-nimbang, apakah ia harus mengangkat panggilan itu atau tidak. Satu menit berlalu dan ponselnya tidak berhenti bergetar, Baekhyun mengenal Sehun, lelaki itu pasti akan terus menelponnya bahkan sampai ponsel itu kehabisan baterai.
"Hallo?"
"Yak Byun Baekhyun!"
"Apa?"
"Di mana kau sekarang?"
"Di atas sofa?"
"Aku setengah mati khawatir padamu karena kau sama sekali tidak bisa kutemui ataupun kuhubungi, dan kau sedang bersantai di sofa? Bersama siapa?"
"Aku sedang berlibur."
"Dengan siapa?"
Hening sebentar, Baekhyun sebenarnya tengah menekan dalam-dalam perasaan senangnya karena Sehun terdengar begitu khawatir padanya, tapi ketika mengingat bahwa Sehun akan menikah dengan orang lain, remasan pada jantungnya kembali terasa. Perasaan miliknya ini hanyalah seperti sampah yang tidak berarti. "Pacarku."
"Pacar yang mana? Jangan bilang dengan Kris yang sangat mesum itu?!"
"Bukan dengannya. Dia itu mesum hanya denganku, Sehun."
"Cih, sekali mesum tetap saja mesum," gerutu Sehun. Tiba-tiba Baekhyun mengingat saat Sehun memergokinya dengan Kris sedang berciuman panas di mobil Kris. Sehun yang melihat itu langsung saja memukul-mukul kaca mobil Kris dan menarik Baekhyun untuk keluar dari sana, mengabaikan protesan dari Baekhyun dan teriakan marah dari Kris. Ceramah panjang lebar diberikan oleh Sehun dan dengan kecupan sayang yang Baekhyun berikan, lelaki itu akan diam. "Jangan bilang kau bersama lelaki beristri itu lagi, Baek? Siapa namanya? Seunghyun? Seungwoon? Kau tidak kapok ya dipukuli oleh istri orang?"
Baekhyun tertawa kecil, namun ada genangan kecil di sudut matanya. Ia merindukan Sehun. Ia merindukan bagaimana suara omelan Sehun terdengar di telinganya. Merindukan pelukan Sehun yang selalu menghangatkannya, rindu bagaimana lelaki itu bertingkah seperti seolah melindunginya. Tapi ia sadar, Sehun bukanlah untuknya. Perlakuan Sehun padanya sudah jelas disalahartikan hingga ia salah paham. Perasaan Baekhyun pada Sehun tidak dibalas dengan sama.
"Kau pikir aku rela dipukuli dua kali? Aku sudah putus dengan Seunghyun."
"Baguslah. Kali ini kau pergi dengan pacar yang mana? Jangan sampai kau pulang dengan keadaan berbadan dua, ya?!"
Baekhyun kembali tertawa, ia memeluk bantal yang diberikan Jongdae padanya dan memejamkan mata.
"Memangnya kenapa? Apa itu menjadi urusanmu?"
"Ada apa denganmu Byun Baekhyun? Tentu saja itu urusanku. Aku tidak ingin adikku punya anak sebelum punya suami."
Jawaban Sehun benar-benar menampar Baekhyun secara telak. Benar, Sehun hanya menganggapnya sebagai seorang adik, tidak lebih. Yang mengharapkan hubungan mereka lebih dari itu, adalah dirinya sendiri. Ia hanya bertumpu pada harapan kosong dan ia pantas untuk menerima semua sakit hati ini.
"Baek, Baekhyun!"
"Ya?"
"Sebenarnya kau sedang apa? Kenapa mengabaikan panggilanku?"
"Kupikir kau sibuk dengan calon istrimu?"
"Ya memang. Tapi kalau itu kau aku tidak akan mengabaikannya. Tidak ada kau di sini aku merasa ada yang kurang. Tunggu, kenapa kau terdengar tidak suka jika aku sibuk dengan Joohyun?"
"Memang aku tidak suka."
Hening kemudian.
"Apa kau bilang?"
Baekhyun terdiam kembali, menimbang apakah ia perlu mengatatakan semua ini kepada Sehun.
"Kubilang, aku tidak suka kau dengan Joohyun. Aku marah, begitu kesal sampai rasanya ingin menarikmu dari jangkauannya. Aku tidak tahu mengapa aku begini. Aku tidak ingin, Sehun."
Hening kembali.
"Baek?"
"Aku tahu kau pasti kaget. Sudahlah, lupakan apa yang baru saja kukatakan, mungkin aku sudah mabuk. Aku tutup."
Baekhyun meletakkan ponselnya ke meja setelah menutup panggilan dari Sehun. Ia menghapus jejak air mata di pipinya dan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja, semua ini pasti akan segera berlalu. Ia akan melupakan sakit hati yang ada di hatinya seperti biasa, seperti saat anjing kesayangannya mati, atau saat ia mengingat betapa kejam ayah tirinya memperlakukan dia selama ini, atau saat mengetahui bahwa bukan hanya dirinyalah yang berselingkuh, tapi pacarnya juga melakukan hal yang sama.
Tapi ini berbeda. Sehun adalah orang yang ia sayangi sedari kecil, seseorang yang diyakininya akan selalu berada di sisi Baekhyun sampai mati. Mereka memang pernah berjanji akan bersama selamanya, boleh berkencan dengan siapapun asalkan mereka berakhir bersama, tapi mungkin janji itu hanya dianggap bualan anak kecil oleh Sehun.
Baekhyun memejamkan matanya, berusaha untuk tidur. Berharap bahwa esok, sakit di hatinya perlahan akan menghilang.
.
.
.
Baekhyun dan Jongdae berjalan beriringan menuju kedai milik Chanyeol. Baekhyun banyak bertanya tentang kehidupan Jongdae di pinggiran kota seperti ini dan dengan senang hati Jongdae menceritakannya.
"Aku tinggal bersama ibu dan nenekku sampai lulus SMA, setelah itu aku bekerja di kedai Chanyeol hyung dan meninggalkan rumah," jelas Jongdae. Ia terlihat berseri-seri saat menceritakan keluarganya, betapa ia merindukan masakan ibunya dan omelan cerewet dari neneknya.
"Kau sendiri? Berapa umurmu?" tanya Jongdae, Baekhyun menoleh dan mendapati tatapan penasaran dari Jongdae.
"Aku baru saja menyelesaikan S1-ku dan aku 23 tahun sekarang," jelas Baekhyun.
"Wow, kau pasti seorang pengangguran."
"Apa yang membuatmu berkata seperti itu?"
"Kau yang berada di sini dan tidak menjawab saat ditanya tujuanmu datang ke sini menjelaskan itu, Baekhyun. Bukankah begitu?" Jongdae tertawa, tapi lama-kelamaan tawanya berhenti saat mendapati ekspresi muram di wajah Baekhyun. "Kenapa?"
"Kau beruntung masih memiliki orang lain yang menunggumu pulang, Jongdae." Setelah berujar seperti itu dengan suara yang lirih, Baekhyun berjalan mendahului Jongdae menuju kedai yang kemarin ia datangi.
Baekhyun tidak terbiasa menceritakan betapa menyedihkan kehidupannya kepada orang lain. Ia tidak ingin orang-orang melihat bahwa sebenarnya dia hanyalah seseorang yang takut kehilangan bahkan sebelum ia memiliki sesuatu. Semua hal membuat Baekhyun takut tapi ia memendam segalanya itu sendiri.
Jongdae yang melihat kesedihan di wajah Baekhyun pun jadi merasa bersalah. Sepertinya ia telah menyinggung topik yang menurut Baekhyun sensitif. Akhirnya Jongdae pun menyusul Baekhyun dan menyetarakan langkah mereka dalam diam.
"Mengapa dia kemari lagi?" tanya Chanyeol setelah melihat Baekhyun yang masuk ke tokonya di belakang Jongdae. Lelaki tinggi itu terlihat baru saja bangun dari tidurnya, Chanyeol masih mengenakan kaos dan celana santai dan melakukan beberapa peregangan. Baekhyun yang melihat hal itu pun mendengus, memangnya keberadaannya di sini adalah sebuah larangan?
"Maksud bos, Baekhyun?" Jongdae merasa tidak enak hati saat mendengar bosnya yang terdengar seperti mengusir Baekhyun secara tidak langsung. Setelah bersama Baekhyun satu hari penuh, setidaknya Jongdae sedikit mengenal Baekhyun. Walaupun Baekhyun sering sekali memperlihatkan rasa kepercayaandiriannya yang berlebihan, sebenarnya ia adalah orang yang baik. Apalagi mengingat obrolan yang baru saja terjadi beberapa saat lalu masih membuat Jongdae merasa bersalah pada Baekhyun. "Anu..."
"Aku ingin beli roti." Baekhyun dengan senang hati menjawab sindiran Chanyeol. Raut wajahnya sudah berubah menjadi Baekhyun yang angkuh seperti biasa. Ia melangkah lebih dalam ke toko dan meletakkan paper bag di atas etalase. "Sekalian mengembalikan sepatumu. Terima kasih, itu sangat membantu."
Secara refleks Chanyeol melirik ke arah kaki Baekhyun, kaki itu kini sudah terbalut sepatu sport berwarna merah menyala, bagus dan trendy. Berbeda dengaan sepatu jaman dulu yang Chanyeol pinjamkan kemarin. Mata Chanyeol beralih ke atas dan menemukan Baekhyun mengenakan jeans yang sangat pas di kakinya, juga sweater hangat berwarna putih. Tipikal penampilan anak kota.
"Tokoku masih belum buka." Mendengar ujaran lelaki itu dan wajah tanpa ekspresinya, Baekhyun sangat ingin melempar wajah Chanyeol dengan tepung.
"Aku akan menunggu sampai tokonya buka," ucap Baekhyun sembari memasang senyum palsu, senyum lebar yang dipaksakan.
"Masih setengah jam lagi."
"Kalau begitu aku akan membantu Jongdae melakukan pekerjaannya."
"Selain pegawai tidak boleh masuk ke dapurku."
"Kenapa kau terlihat sangat tidak menyukaiku, Tuan Bos?" Senyuman palsu Baekhyun kian melebar, ditambah kelopak matanya yang melebar.
"Karena kau terlihat seperti pengganggu."
Chanyeol berlalu setelah mengatakan itu, meninggalkan Baekhyun yang menggerutu di sebelah Jongdae.
"Apa dia benar-benar manusia? Kenapa begitu menyebalkan?"
"Dia memang seperti itu, itulah mengapa orang-orang yang ingin mendekatinya mundur teratur."
Baru pernah Baekhyun bertemu dengan orang dengan hidup yang datar seperti itu. Sekalipun Baekhyun menemukannya saat di Seoul sana, sebisa mungkin Baekhyun akan menghindari untuk terlibat dengan orang-orang seperti itu. Benar-benar membosankan.
Tapi ini adalah kasus yang berbeda, secara tidak langsung orang berwatak dingin itu telah menolongnya.
"Kurasa dia butuh belaian, Jongdae," gurau Baekhyun. Jongdae tertawa karena perubahan mood Baekhyun yang begitu cepat.
"Sudah cukup. Aku belum membuat adonan."
"Aku ikut."
"Kau tidak dengar larangan bosku tadi?"
"Aku tidak akan melakukan apa-apa. Hanya melihatmu saja, janji."
Jongdae terlihat berpikir, kalau hanya diam tanpa melakukan apa-apa seharusnya tidak menjadi masalah, kan?
"Janji hanya melihat?"
Baekhyun mengangguk dengan semangat sambil tersenyum riang.
.
.
.
"Sepertinya adonan itu harus diberi air sedikit lagi, Dae." Baekhyun sudah duduk dengan anteng di atas pantri dapur, di sebelahnya, Jongdae sedang sibuk membuat adonan roti.
"Benarkah?" Jongdae mengaduk adonan itu lagi dan berpikir bahwa yang dikatakan Baekhyun benar juga. Maka dia menambahkan sedikit air lagi ke adonannya.
"Apa kau sudah menambahkan pengembang ke dalam adonan itu?"
"Ya Tuhan! Hampir saja terlambat!"
Jongdae menyalakan kembali mixer yang baru saja ia matikan dan menambahkan pengembang itu.
"Yah, jangan terlalu banyak!" teriak Baekhyun secara refleks. Jongdae mengiyakan dan segera memindahkan adonan itu ke loyang dan memasukkannya ke dalam oven.
"Tunggu, bukankah kau baru saja menyuruhku melakukan ini dan itu?" Baekhyun mengendikkan bahunya acuh lalu meniup-niup kukunya, mengabaikan tatapan penasaran dari Jongdae. "Kau tidak menyuruhku tanpa pengetahuan kan? Apa kau bisa membuat kue?"
"Anggap saja begitu."
"Jangan-jangan kau kesini untuk mencuri resep rahasia dari toko ini?"
Baekhyun memukul dahi Jongdae dengan main-main. Apa tampangku cocok untuk melakukan hal aneh seperti itu? Apa resep roti di sini semacam crabby patty?
Karena lama kelamaan kau terlihat aneh, Baek. Sebenarnya apa tujuanmu datang ke kota ini? Kau tidak terlihat sedang melakukan suatu pekerjaan atau apapun.
Pertanyaan Jongdae membuat Baekhyun terdiam. Ia menatap lelaki itu dan nampak menimbang-nimbang apakah ia harus berbagi masalahnya dengan orang asing yang baru ia temui kemarin. Cukup lama mereka bertahan dengan keheningan itu sampai Jongdae mengalihkan perhatiannya dari adonan kuenya dan mendapati Baekhyun yang menatapnya dengan wajah pias.
Tidak apa-apa jika kau tidak mau membahasnya. Lupakan saja pertanyaanku.
Maaf, gumam Baekhyun penuh rasa bersalah, Jongdae membalasnya dengan senyuman menenangkan.
Baekhyun hanya tidak ingin orang lain mengasihaninya dan merendahkannya. Ia hanya tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain, karena ia harus terlihat tegar agar tidak ada orang yang bisa menindasnya.
"Aw!"
Baekhyun terkesiap saat mendengar teriakan Jongdae. Tanpa sadar ia melamun. Kini ia telah berdiri dan berlari menuju ke arah Jongdae yang sedang terduduk di lantai sembari memegang lengannya.
"Tanganmu kenapa, Jongdae?" Dengan perlahan Baekhyun meraih tangan Jongdae dan mendapati tangan itu memerah. Ia menatap ke wajah Jongdae yang terlihat menahan sakit.
"Aku sedang mengambil kue di oven tapi benda itu jatuh dari atas oven." Jongdae menunjuk benda yang dia maksud dengan tatapannya. Itu adalah benda berat yang kelihatannya terbuat dari besi, Baekhyun tidak tahu apa namanya.
Orang lain mulai datang karena keributan yang terjadi dan menanyakan keadaan Jongdae, Chanyeol pun berada di sana. Lelaki itu segera mendekat ke arah Jongdae dan melihat luka di lengan Jongdae.
"Sepertinya retak. Kau harus pergi ke rumah sakit," ujar Chanyeol setelah melihat keadaan lengan Jongdae.
"Tapi siapa yang menggantikan pekerjaanku? Hani Noona juga sedang cuti melahirkan. Kita akan kekurangan pegawai." Ucapan Jongdae membuat Chanyeol terdiam, benar juga, tidak mudah mencari pengganti Jongdae dalam waktu dekat sedangkan toko tengah menerima pesanan orderan dalam jumlah yang banyak.
"Biar aku saja!"
Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun dan tersenyum meremehkan, sangat menyebalkan di mata Baekhyun. "Yang benar saja! Kau?"
"Baekhyun bisa, bos! Aku melihatnya sendiri membuat adonan," sela Jongdae, walaupun tidak sepenuhnya ia melihat Baekhyun membuat adonan, setidaknya Baekhyun tahu dasar-dasarnya. Jongdae berdo'a dalam hati semoga ia tidak mengambil keputusan yang salah. "Aku yang jamin."
Chanyeol melihat ke arah Jongdae dan menemukan pegawainya itu terlihat serius dengan ucapannya, lalu beralih ke wajah Baekhyun yang terlihat serius juga. Chanyeol menghembuskan napasnya kasar, setidaknya jika ia belum sepenuhnya mempercayai orang asing yang baru ditemuinya kemarin itu, ia masih bisa mempercayai pegawai yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Baiklah kau diterima. Tapi awas saja jika dia membuat kekacauan, kalian yang bertanggung jawab," ujar Chanyeol final.
Baekhyun mengangguk mantap. Ia melirik ke arah Jongdae dan melihat wajahnya yang benar-benar menahan sakit. Setidaknya, walaupun ia begitu tidak menyukai sikap Chanyeol, anggap saja ia tengah membalas budi pada Jongdae karena telah banyak membantunya selama di sini.
Baekhyun hanya tidak tahu, sebuah awal lembaran baru, baru saja ia tulis dalam sejarah kehidupannya.
Bersambung ...
Hamdalah bisa update lagi bareng rekan triplek, eh salah triplet maksudnya, Nyai presiousca sama Mbah Brida Wu.
Terima kasih sekali buat yang sudah menyempatkan baca dan review. Aku senang kalau kalian senang. Jangan eneg liat cerita ini update terus ya..
Big Love
