CHAPTER 3

"All day long with the CEO"

.

.

.

Cast: Byun Baekhyun (18) GS

Park Chanyeol (27)

Jung Jessica (44)

Oh Sehun (17)

Bae Irene (27)

Seo Ju Hyun & Lee Donghae (44)

Xi Luhan (20) GS

Kim Dasom (22)

.

.

.

"Baekhyun, perkenalkan dirimu." Bisik Seohyun.

"Annyeong haseyo, Byun Baekhyun imnida."

Saat Baekhyun menghadap seseorang disebrang kursinya,

Tidak mungkin.

Jadi, apakah ini takdir?

Park….

Chanyeol?

.

.

.

Baekhyun mendapati Chanyeol yang mendongak dan tersenyum ke arahnya.

Apa-apaan maksud senyumannya itu?! Seolah-olah ia tidak terkejut dengan kejadian ini, dan… tunggu. Apa jangan-jangan dia memang sudah mengetahui ini dan mengincarku sejak lama—AH! DIA BISA SAJA MENJUAL RAHASIAKU KE PAPARAZZI! ATAU LEBIH BURUKNYA DIA ADALAH PAPARAZZI.

Baekhyun. Dia bahkan seorang CEO sebuah agency ternama di Korea Selatan dan mengapa ia masih menjual rahasia kepada paparazzi sementara memiliki mansion mewah dan mengoleksi mobil antik. Dan dia bukan paparazzi. Dia CEO mu.

Drrt… Drrt…

POOP ZI

Ini kesempatan yang bagus. Setelah melihat nama pada layar handphonenya, ia meminta izin ke toilet dan mengangkat video call dari Zitao.

"Zita—"

"YAK! KENAPA KAU TIBA DI KOREA DAN MEMBIARKAN SEHUN SEBAGAI ORANG PERTAMA YANG MENEMUIMU SEMENTARA AKU BARU MENGETAHUI KEBERADAANMU DARI FOTO-FOTO BETHANY BEA YANG TERSEBAR DI INTERNET TENGAH BERSAMA SEORANG PRIA YANG DIPELUK OLEH MANAGERNYA?!"

Baekhyun tidak mendnegar semuanya karena menjauhkan handphone dari mukanya. Tapi ia yakin itu semua teriakan sumpah-serapah Zitao yang meaningless.

"Aku bersumpah Baekhyun, ketika kita bertemu, tidak ada pelukan, tidak boleh main ke rumahku, tidak boleh memeluk gulingku, tidak boleh bertemu Catty."

"Tidak masalah tidak mendapat pelukan darimu, asal jangan Catty!"

"Catty punyaku. Jika aku tidak membiarkannya bertemu denganmu, maka tidak bisa." Tao mulai berlagak seperti seorang ibu yang menolak mentah-mentah pacar anak perempuannya.

"Arrasseo! Akan kuceritakan nanti, okay? Sekarang aku sedang tidak dalam mood baik."

"Kenapa? Sehun memakai bramu sebagai kacamata?"

"Ya, dan itu yang renda-renda." Zitao terbahak di sebrang sana. Oh ayolah, Baekhyun tidak akan membiarkan Sehun menyentuhnya, ia akan langsung mematahkan kelaminnya kalau sampai itu terjadi.

"Jadi ada apa?" Baekhyun terdiam. Ia sebenarnya tidak ingin menceritakannya karena itu sama saja dengan mengingat kembali kejadian selama beberapa jam kebelakang. Dimulai dari tragedy ice cream strawberry, kopi, agency, dan perjodohan. Dan semua kesialan itu yang mempertemukannya dengan orang yang Baekhyun duga mempunyai kepribadian ganda.

"Coba bayangkan. Aku baru beberapa jam di Seoul dan sudah mendapat beribu-ribu kesialan datang menghampiriku."

"Kesialan selalu mendatangimu, Baek."

"Ya, kau benar. Ingatkan aku untuk tidak menemuimu."

"Hahaha, astaga bercanda Baek."

"Hey, Catty baru saja melahirkan 7 anaknya tadi pagi. Kau harus melihatnya!" tiba-tiba Tao mengubah topik.

"Aaaaw! Aku tidak sabar membawa pulang 1 diantara mereka."

"Tidak akan Baek. Catty tidak mau anaknya diadopsikan ke manusia tukang kentut sepertimu."

"Catty suka baunya! Dan pasti anaknya juga."

"Astaga Catty tidak pernah menyukai wangi kentutmu! Dia hanya berpura-pura menyukainya."

"Bagaimana bisa?!"

"Aku kira kau buang air kecil disini."

Baekhyun terperanjat mendengar suara husky yang menyapu pendengarannya secara tiba-tiba. Dan ia mendapati pria yang akhir-akhir ini masuk ke daftar orang yang paling sering ditemuinya tanpa sengaja. Ya, Park Chanyeol yang tengah menatap pemandangan malam dari balkon dengan tangannya yang bertumpu pada pembatas dan sedikit anak rambutnya yang menjuntai ke bawah karena terpaan angin. Baekhyun dengan reflex memutuskan sambungan dengan Zitao dan menatap Chanyeol sekilas. Ingatkan Baekhyun untuk mengenakan pelindung besi saat bertemu Zitao.

Tidak ada yang memulai pembicaraan. Baekhyun masih sibuk berpikir mengenai Chanyeol yang sangat tidak mudah ditebak, waktu itu ia bilang menghidupi keluarga? Itu berarti dia sudah beristri, tapi.. kenapa dia datang ke perjodohan ini? Dan siapa yang bersamanya waktu di taman bermain?

"Kita benar-benar sering bertemu ya akhir-akhir ini." Chanyeol membuka pembicaraan.

"Kenapa kau datang?"

"Aku sudah punya kekasih." Jawab Chanyeol dengan masih menatap lurus kedepan. Baekhyun menoleh ke arahnya.

"Cih, siapa juga yang mau menerima perjodohan ini." Sangat ketus.

"Aku datang kesini untuk menghormati orangtuamu dan orangtuaku. Kau sudah punya kekasih, itu artinya bagus. Kau dan aku sama-sama bisa menolak perjodohan ini."

Chanyeol terkekeh mendengar jawaban Baekhyun. Chanyeol pikir, Baekhyun adalah sosok yang sangat jujur dan to the point. Atau bahkan terlalu ketus.

"Ya, dan sayangnya orangtuaku tidak merestuiku dan kekasihku." Baekhyun menatap Chanyeol yang kini mengarahkan pandangannya ke bintang-bintang.

"Latar belakang ekonomi, kau tau."

Ah ya, di Korea Selatan masih berlaku hal-hal seperti itu.

"Kalau begitu, kenapa di lanjutkan? Hubungan kalian akan berakhir juga ujung-ujungnya."

"Kita tidak akan pernah tau rencana tuhan."

Astaga, dasar orang jatuh cinta.

"Jika orangtuaku dan orangtuamu memaksa perjodohan ini, kau akan bagaimana?" Chanyeol balik bertanya kepada Baekhyun.

Baekhyun tampak berpikir, sejujurnya ia bisa saja langsung menolak perjodohan ini, tapi ia menghormati orangtuanya dan orangtua Chanyeol. Jadi, "Aku akan menjalaninya, aku tidak akan merusak hubunganmu dengan pacarmu, okay? Maksudku, kita bisa menjadi dekat sebagai teman, atau rekan kerja atau yah… yang lain, terserahlah. Dan sementara itu kau punya waktu bisa membuktikan pada orangtuamu kalau kekasihmu itu tidak seperti yang mereka pikirkan."

Chanyeol hanya tersenyum mendengar penuturan Baekhyun, ternyata anak ini adalah anak yang berbakti pada orangtua, ya? Kemudian keduanya terdiam lagi. Rambut Baekhyun yang tergerai tersibak oleh angin dan memperlihatkan bahu mulusnya yang tidak tertutupi kain. Baekhyun mengenakan Sabrina dress broken white dengan platformnya yang berwarna senada. Chanyeol bersumpah, Baekhyun terlihat lebih kalem dari yang ia lihat sebelum-sebelumnya, yang selalu berpenampilan ala ala hipster dan bertingkah sangat anarkis. Dan itu membuat Chanyeol betah memandang Baekhyun berlama-lama. Tapi Chanyeol bisa menyadari bulu kuduk Baekhyun yang berdiri.

"Kau kedinginan. Ayo masuk."

Chanyeol dan Baekhyun kembali ke meja makan. Mereka semua menatap keduanya dengan tatapan heran, apakah mereka baru saja kembali bersama? Apakah mereka melakukan percakapan kecil barusan? Ataukah terjadi adegan-adegan seperti di ff rated m? semua pemikiran muncul begitu saja.

"Chanyeol, Baekhyun dan aku sudah saling mengenal." Semua terkejut mendengar penuturan Jessica.

"Aku terkejut saat tau bahwa Chanyeol ternyata adalah putramu, Yuri-ah. Dia tidak terlihat begitu tampan saat kecil." Maksud Jessica yang sebenarnya adalah : Tentu saja aku tidak mengenali putramu yang sekarang terlihat sangat tampan itu. Dia bahkan kukira bocah idiot saat pertama kali bertemu^^

Oh Sehun masih menatap tajam keduanya yang kembali menyantap makan malam mereka. Baekhyun yang memilih menundukkan kepalanya, sedangkan Chanyeol yang tersenyum kecil mendengar penuturan Jessica.

.

.

.

"BABY, YOU KNOW HOW TO DRIVE IN RAIN. AND YOU DECIDED NOT TO MAKE A CHAN—"

"Yeol."

"Aish! Jangan merusak lagu idolaku dengan nama idiot itu."

"Chanyeol datang agak telat pagi ini, dia bilang bisa melihat berkas-berkasnya di sekretarisnya."

"Habis bercinta dengan pacarnya." Tebak Baekhyun asal-asalan.

"Dan kau cemburu."

"Terserah kau saja."

Sudah beberapa hari dari acara makan malam bersama keluarga Chanyeol, selama itu pula Baekhyun jadi sering bertemu Chanyeol karena Chanyeol memanggilnya ke kantor untuk mendiskusikan kontrak, pekerjaan, kadang-kadang hanya bercerita, bertukar pengalaman dan menurut Chanyeol, Baekhyun adalah pribadi yang menarik. Chanyeol masih berpacaran dengan Irene, dan Baekhyun masih belum jatuh cinta pada Chanyeol. Sampai berapa lama situasi ini akan bertahan?

Jessica dan Baekhyun berdiri di depan lift yang ramai oleh para pegawai. Mereka sesekali berbisik sambil terus memperhatikan Baekhyun, ada juga yang diam-diam memotretnya, ada juga yang mencoba menarik perhatian Baekhyun, namun sayang perhatiannya hanya terpaku pada layar handphonenya. Apalagi kalau bukan membaca komentar para fansnya di akun instagram.

Bunyi high heels menggema di seluruh lobby gedung StarShine. Namun suara langkah kaki itu terhenti.

Sial. Kenapa orang-orang tidak memperhatikanku?!

Wanita dengan coat bulu-bulunya yang tebal itu berjalan ke arah lift dan mendapati sosok yang tak asing lagi di matanya. Ia menyipitkan matanya untuk memastikan bahwa ia tak salah lihat. Tapi sepertinya memang ia tak salah lihat.

Saat pintu lift terbuka, Baekhyun dan Jessica masuk ke dalam lift, wanita tersebut langsung menyerobot masuk ke dalam lift dan berdiri berdampingan dengan Baekhyun yang masih terfokus pada handphonenya.

"Jaman sekarang manusia bersikap apatis. Dengan mengabaikan lingkungan sekitarnya dan peduli pada urusannya masing-masing. Padahal kodrat manusia sebagai manusia sosial 'kan?"

Baekhyun menoleh ke arah wanita disampingnya. Sedikit lebih tinggi darinya, rambutnya dipotong pendek sebahu, dengan polesan lipstick merah gelap yang sangat norak menurut Baekhyun.

"Oh? Annyeong haseyo. Kau Bethany Bea 'kan?" Baekhyun masih menatapnya dengan pandangan tidak suka.

"Aku Kim Dasom. Kau pasti sering mendengar namaku, kau anak baru disini 'kan? semoga kau nyaman ya berada disini. Jangan sungkan-sungkan bertanya padaku jika membutuhkan saran atau motivasi."

Cih, motivasi ketekmu.

Ting.

Pintu lift terbuka, Kim Dasom melangkahkan kakinya keluar dari lift.

"Ya, aku membutuhkan saran." Kim Dasom berbalik dan dan tersenyum angkuh.

"Tolong enyah dari pandanganku sebelum wajahmu yang berbahan plastik dan mahal itu rusak."

Dasom menggertakan giginya, "Ya! Kau pikir kau siapa, eoh? Kau Cuma anak baru disini!"

"Dan kau tidak ada bedanya dengan Barbie plastik yang murah—YAAAAK!"

Aksi jambak-menjambak rambutpun terjadi di tengah lift, seluruh orang di dalam maupun luar lift menyaksikan kejadian tersebut, Jessica mencoba melerai Baekhyun dan malah tercakar oleh Dasom. Jessica membabi buta melerai keduanya, apalagi Baekhyun dan Dasom yang saling jambak,cakar,pukul. Kurasa Dasom memang doyan berkelahi akhir-akhir ini. Ingatkan Dasom bahwa kasusnya dengan Kim Yura belum selesai.

Seorang karyawan berhasil menarik Dasom keluar dari lift, sementara Baekhyun dan Jessica kembali melanjutkan perjalanannya menuju lantai teratas.

.

.

.

Baekhyun merebahkan dirinya di sofa panjang nan empuk milik Chanyeol sembari mengunyah chicken wing yang baru saja dipesannya. Sementara Jessica membaca seluruh berkas-berkas yang akan dibahasnya bersama Chanyeol. Oh, by the way, hasil karya Kim Dasom pada wajahnya masih belum diplester olehnya dan ia akan mengadukan ini ketika Chanyeol datang.

"Aku saja tidak mengenal dia! kenapa dia bersikap menyebalkan?!"

"FOR GOD'S SAKE I WILL REPORT THIS TO CHANYEOL AND BEAT HER UP—uhuk uhuk." Jangan pernah memaki musuhmu dengan mulut yang penuh dengan chicken wing.

Jessica hanya menghela nafas, membahas Kim Dasom membuatnya muak dan memilih diam sambil lanjut membaca sementara Baekhyun yang masih mencela-cela Kim Dasom dengan bersemangat sampai ia harus berdiri diatas meja sambil mengepalkan tangannya.

"SIAPA NAMANYA TADI? KIM DA… DA? DALSOM! GOD, MUKANYA TERLIHAT SEPERTI WANITA PENJUAL MAKANAN CEPAT SAJI DI PINGGIR JALAN DAN—" Baekhyun oleng, dan untungnya sesuatu menahan pinggangnya agar tidak mendarat di lantai.

"Wow, wow. You have to pronounce it correctly, Mrs. Bea." Itu. Chanyeol. Suaranya sangat dekat dengan telinga Baekhyun.

"YAAAAAK! KAU MENYENTUH BOKONGKU!" Baekhyun langsung berlari menjauh dari Chanyeol sambil memegangi bokongnya—pinggang—yang baru saja tersentuh oleh Chanyeol.

"Apa yang membuatmu berpikir pria akan menyentuh bokongmu? Bokongmu bahkan tidak se-sexy Kim Dasom." Chanyeol menggoda Baekhyun yang sedaritadi menyumpah-serapahi Kim Dasom. Chanyeol sudah dengar kabar mengenai perkelahian kecil yang terjadi di lift. Chanyeol tidak menduga hal ini terjadi lebih cepat dari perkiraannya. Ya, Chanyeol tentu saja akan menduga hal ini, mengingat Kim Dasom yang merasa paling hebat dan tidak mau terkalahkan, dan Baekhyun si perempuan super ketus dan blak-blakan.

Baekhyun manyun, ia merengek pada Jessica meminta pulang dan Chanyeol tertawa mendengar rengekan Baekhyun karena terdengar sangat lucu, dan wajahnya yang seperti ingin menangis menambah kesan seperti anak TK yang mengadu pada ibunya.

"Astaga, Baekhyun, aku hanya bercanda, okay?" Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun yang memeluk Jessica yang masih sibuk membaca berkas-berkas.

"Shiroooooooooo." Baekhyun memebenamkan wajahnya pada baju Jessica yang sedaritadi ditarik-tarik olehnya. Dan kurasa sudah melar.

"Aku belikan chicken wing, bagaimana?" Baekhyun mendongak menatap Chanyeol. Ia sedikit tergoda, kemudian melihat wajah Chanyeol yang terlihat seperti ingin tertawa, Baekhyun kembali membenamkan wajahnya di baju Jessica.

"Shiro!"

"Chanyeol-ah, bukannya Kim Dasom sudah menjadi brand ambassador Etude House?"

"Ya, tapi Etude House memberhentikan kontraknya dengan Kim Dasom, karena ia sedang terkait kasus perkelahian dengan lawan mainnya dalam serial drama. Jadi ia mengalihkan kontraknya pada Baekhyun." Jessica dan Baekhyun mengernyit mendengarnya. Kepribadian Dasom ternyata sangat buruk dan bahkan tidak bisa bersikap professional.

"Literally trashy." Baekhyun memutar bola matanya dan berpindah tempat duduk.

.

.

.

Kebanyakan siswi di lorong loker mengarahkan pandangannya kepada seorang pemuda tampan yang berjalan santai menuju kantin. Dengan headphone yang melingkar manis di lehernya, dan kedua pergelangan tangannya yang tersimpan di saku celana. Ia mengacuhkan pandangan orang-orang yang menatapnya kagum. Oh Sehun, si pangeran sekolah.

"Oh? Sunbaenim?"

"Ah, annyeong haseyo Sehun-ah." Sapa gadis mungil yang berdiri di depan ruang kepala sekolah.

"Apa yang kau lakukan disini? kau tidak kuliah?"

"Aku kuliah malam, aku ingin mengambil sertifikat-sertifikatku di ruang kepala sekolah." Sehun mengangguk tanda mengerti.

"Kau pasti mau ke kantin?"

"Ya, kau sudah makan?" ia menjawabnya dengan gelengan.

"Ayo makan dulu. Choi ssaem sedang ada tamu, kau bisa kebosanan menunggu disini."

Kemudian mereka berdua berjalan ke arah kantin dengan seluruh pasang mata yang menatap mereka dengan tatapan yang beragam.

"Kau masih kurus, ya sama seperti dulu." Luhan hanya tersenyum mendengar pujian sang adik kelas.

"Ya, aku ikut club cheers lagi di kampus dan menjadi flyer lagi. Jadi aku harus menjaga pola makanku."

Sehun manggut-manggut mendengarnya. Xi Luhan adalah kakak kelas Sehun yang 2 tahun lebih tua darinya. Xi Luhan dulunya adalah ketua OSIS di sekolahnya, wajahnya yang cantik dan pribadinya yang tegas membuat semua orang jatuh cinta kepadanya. Sehun pernah menyukai Luhan, tetapi perasaan itu hilang ketika Luhan tak lagi mengedar di pandangannya. Mungkin hanya rasa kagum, pikirnya. Sehun juga lumayan dekat dengan Luhan, berhubung Luhan sering tampil pada pertandingan basket sebagai tim cheerleader.

"Kau ingin mendaftar ke universitas mana, Sehun-ah?"

"Hmm.. aku belom kepikiran, hehe. Tapi yang pasti aku akan masuk jurusan cinematography."

"Wow, aku tidak tau kau suka dengan hal-hal seperti itu?"

"Yah, sebenarnya aku juga baru tertarik dengan hal-hal seperti ini dan sedang mendalaminya."

Mereka masih mengobrol sementara ada beberapa gadis yang menyapa Sehun, teman-teman Sehun yang datang bergerombol lalu menggodanya dengan Luhan, ada juga mantan pacar Luhan yang menghampiri meja mereka dan bergabung sebentar untuk mengobrol.

"Ohya, kudengar-dengar di Seoul National University banyak gadis-gadis cantik, ya?" Air muka Luhan berubah seketika ketika mendengar pertanyaan Sehun yang membuat jantungnya berdegup.

"A-ah… iya." Sehun jelas saja menyadari perubahaan ekspresi wajah Luhan.

"Bagaimana dengamu? Apa kau sudah ada yang baru lagi?" Sehun bertanya dengan nada menggoda dan mendekatkan wajahnya pada Luhan sambil menaikkan alisnya.

"Ap-apa? Tidak. Aku tidak memikirkan tentang itu sekarang. Saat aku kuliah, aku kehilangan selera dekat dengan laki-laki." Karena aku masih menyukaimu dasar mahluk idiot.

"Apa?! Jadi kau memutuskan untuk jadi lesbian?!"

PLETAK!

"BUKAN SEPERTI ITU MAKSUDKU!" Sehun meringis mendapat pukulan keras dari Luhan dan kemudian terkekeh.

Aku ingin seperti saja. Jika memilikimu adalah sebuah kesalahan, aku hanya ingin tetap mendengar tawamu dan melihat matamu menatap aku.

.

.

.

Sudah 1 jam yang lalu Baekhyun dan Chanyeol ditinggal oleh Jessica. Ia pergi untuk mengurus beberapa urusan mengenai pekerjaan—katanya. Waktu menunjukkan pukul 1 siang, Baekhyun sudah lapar daritadi sedangkan Chanyeol masih membahas beberapa tawaran iklan dan serial drama.

"Chanyeol-ssi."

"Hm?"

"Ayo makan." Chanyeol mendongak, matanya mengerjap-ngerjap. Ia mendapati Baekhyun dengan mata lesu dan tatapan kelaparan.

"Kau menghabiskan 2 box chicken wing kalau aku tidak salah." Baekhyun menjatuhkan kepalanya ke meja sambil memegangi perutnya.

"Aku lapaaar. Aku tidak bisa berkonsentrasi kalau sedang lapar."

"Baek, masih banyak tawaran yang menunggu, Baek. Dan kita belum selesai menyusun jadwalmu sampai bulan depan."

"Aaaaaah. Lapaaaaar" Baekhyun merengek. Lagi.

"Sedikit lagi, okay?"

Baekhyun tak bergeming dan menatap Chanyeol dengan pandangan tersiksa. Mereka melanjutkan meeting mereka dengan Baekhyun yang enggan-enggan menjawab.

"C-Chanyeol.."

"Sebentar lagi, Baek. 4 tawaran lagi."

"Perutku sakit…" Suaranya terdengar seperti merintih, Chanyeol mendongakkan kepalanya dan masih mendapati kepala Baekhyun yang tergeletak di meja tamu.

"Baek?"

Tidak ada jawaban.

"Ya, Baekhyun-ah?" Chanyeol bangkit dan menghampiri Baekhyun yang duduk di sebrangnya. Ketika ia membalikkan tubuh Baekhyun, ia panik! Baekhyun menangis sambil memegangi perutnya.

"Baek, astaga! Kau—"

"Sa…kit." Tanpa pikir panjang, Chanyeol langsung menggendong tubuh Baekhyun ala bridal dan berlari menuju lift. Astaga, lift masih berada di lantai paling bawah dan Chanyeol pikir akan memakan waktu lama. Ia memutuskan untuk menggunakan tangga darurat dan berlari menuju lobby. Sesampainya di lobby, semua pasang mata terarah kepadanya, ia tidak peduli. Yang ada dipikirannya sekarang adalah menyelamatkan artis baru ini atau jika tidak, tamatlah berteriak-teriak menyuruh security untuk mengambil mobilnya. Dengan sigap, ia membaringkan Baekhyun di jok belakang dan mengemudi dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit.

Ia tidak menyangka Baekhyun akan bereaksi seperti itu dan ia sangat khawatir jika terjadi sesuatu kepada artis barunya ini.

.

.

.

Baekhyun membuka matanya perlahan, mengerjap-ngerjap sebentar dan menyelaraskan matanya dengan cahaya lampu yang menyilaukan.

Aku sedang berada di..?

Tidak mungkin. Rumah sakit? Aku… kenapa?

Dimana—

Ia mendapati Chanyeol yang tengah duduk dipinggir ranjang, matanya terfokus ke handphonenya.

Ketika Baekhyun melakukan pergerakan, Chanyeol menoleh ke arahnya. Masih tersisa raut khawatir di wajahnya.

"Kau sudah baikan?" Baekhyun mengangguk dan mengambil handphone di saku dress longgarnya.

"Jika imonie tau soal ini, dia tidak akan pernah membiarkan aku ditinggal berdua denganmu lagi."

"Arrasseo. Aku minta maaf okay? Aku tidak tau kau punya maag akut. Kenapa kau tidak—"

"Aku sudah bilang aku lapar."

"Tapi kau tidak bilang kalau punya maag akut." Baekhyun masih cemberut, "Sudahlah, ayo makan. Aku yang traktir." Mendengarnya, Baekhyun langsung tersenyum selebar mansion appanya. Kemudian mereka berdua meninggalkan rumah sakit.

"Aku mau ramen instan."

"Tidak boleh, Baek. Kau harus mengisi perutmu dengan nasi dan makanan yang bergizi dulu, baru boleh makan ramen instan."

"Ah, shiro! Aku mau ramen instaaaaan."

"Kita akan membelinya setelah kau makan nasi."

"Shi—"

"Baekhyun." Ia menghela nafas dan memutar bola matanya. "Arrasseo, arrasseo."

Drrt.. Drrt..

Baekhyun mengarahkan pandangannya ke handphone Chanyeol yang menggantung di sebelah stir. Chanyeol menekan tombol speaker karena tidak membawa Bluetooth earphonenya.

"Ne."

"Chanyeol-ah! aku ada dikantormu membawa makan siang. Turun ke bawah dan ambil makanannya, ya!"

"Aku makan diluar bersama clientku. Aku akan mengambilnya di apartemenmu saat aku pulang kerja."

"Hm… arasseo! Sampai jumpa!"

"Ne."

"Saranghaeyo~"

"Saranghaeyo."

PIP.

Baekhyun langsung menyalakan radio.

I'M SO SICK OF THAT SAME OLD LOVE, THAT SHIT, IT TEARS ME UP. I'M SO SICK OF THAT SAME OLD LOVE, MY BODY'S HAD ENOUGH. (Selena Gomez – Same Old Love)

"OOOOOOOOOH THAT SAME OLD LOVE." Telinga Chanyeol berdenging membuatnya mengernyit. Suara sang diva memang benar-benar fantastis.

"The Flawless Diva, Bethany Bea!" Chanyeol mengatakannya seolah-olah dia adalah pembawa acara dalam sebuah acara musik. Kemudian Baekhyun bertepuk tangan sambil meneriakkan namanya sendiri.

"Bethany Bea-ssi. Bagaimana perasaanmu saat menyanyikan lagu ini?"

"Aku merasa sangat lapar sampai ingin mati. Beberapa menit lalu aku terbaring di rumah sakit akibat ulah sang CEO yang tak kunjung memperbolehkanku makan." Yang kemudian disambut tawa oleh Chanyeol.

"Aku rasa sang CEO ingin berlama-lama bersamamu, Bethany."

"Hm. Aku rasa juga begitu. Siapa yang bisa menolak pesona seorang Bethany Bea?"

"Wow. You are so dangerous."

"SOMETHING 'BOUT YOU. MAKES ME FEEL LIKE A DANGEROUS WOMAAAAN." (Ariana Grande - Dangerous Woman)

Begitulah kira-kira mini talk show dalam mobil dengan pembawa acaranya Park Chanyeol dan bintang tamu, sang diva internasional, Bethany Bea.

Sangat kekanak-kanakan.

Mereka sampai di restaurant china favorit Chanyeol. Biasanya Chanyeol datang bersama Irene, tapi ia tidak percaya kali ini datang bersama Baekhyun. Gadis 18 tahun yang bahkan baru ditemuinya 2 minggu lalu dalam kejadian tidak mengenakkan dan kini mereka terbilang lumayan akrab karena sering bertemu dan orangtua Chanyeol maupun Baekhyun yang menyatukan mereka dalam perjodohan—yang tidak akan pernah terjadi menurut Baekhyun.

"You are insane."

"They called me that."

Chanyeol benar-benar tidak habis pikir dengan perempuan ini. Baekhyun menghabiskan 2 box chicken wing tadi pagi, sekarang meneguk habis 1 mangkuk sapo tahu dan 2 piring fuyunghai. Anak ini benar-benar cacingan, badannya saja kecil mungil, dan Chanyeol juga tidak yakin Baekhyun adalah tipe yang rajin olahraga. Jadi ia menyimpulkan bahwa Baekhyun cacingan. Tapi itu bagus, ia tidak perlu lagi menyuruh Baekhyun untuk diet.

Mereka kembali ke mobil. Suasana di mobil hening. Chanyeol maupun Baekhyun kekenyangan dan otak mereka seperti terhenti.

"Aku tidak mau kembali ke kantor. Aku kekenyangan."

"Aku juga tidak berpikir akan kembali ke kantor."

"Aku mau pulang."

"Baiklah aku antar."

Kemudian Baekhyun tertidur dan berharap ketika membuka mata ia sudah berada di rumahnya.

Semoga di rumahnya.

.

.

.

Tanpa Baekhyun ketahui, sebetulnya Jessica pergi ke Korean Fashion Week sendirian. Jessica ingin meninggalkan Baekhyun berdua dengan Chanyeol supaya mereka berdua cepat akrab. Terdengar jahat sekaligus cerdas. Jessica juga ingin bertemu teman-teman universitasnya yang sekarang juga menjadi perancang busana terkenal, dan mungkin bisa menjalin kerjasama dengan perancang busana yang lainnya.

Seusai acara, Jessica menyempatkan mampir ke backstage untuk memberi selamat kepada temannya yang juga perancang busana karena pakaiannya terpilih untuk dipamerkan di Korean Fashion Week.

"Bora-ya!" yang dipanggil menoleh ke arah suara.

"Sooyeon-ah!" mereka berpelukan, "Astaga aku tidak percaya akan dikunjungi oleh perancang busana internasional, Jung Jessica."

"Ommo, aku juga tidak menyangka bisa bertemu dengan perancang busana Korean Fashion Week di backstage."

Merekea mengobrol-ngobrol sebentar, kemudian Bora mengajak Jessica berkeliling backstage dan mengenalkannya dengan beberapa perancang busana yang ada disana, beberapa orang sudah Jessica kenali karena pernah menjalin kerjasama sebelumnya. Bora juga memperlihatkan pakaian-pakaian yang tadi dipamerkan.

"Eonni-ya, pakaiannya ingin langsung dimasukkan ke container atau..?" seorang gadis yang terlihat lebih muda dari mereka berdua menghampiri Bora.

"Ah, Sooyeon-ah. Ini Irene, dia asistenku. Dia juga seorang perancang busana, tapi ia masih harus banyak belajar sebelum bisa memamerkan karyanya di catwalk." Irene membungkuk sopan ke arah Jessica.

"Annyeong haseyo, Bae Irene imnida."

"Jung Sooyeon."

"Irene-ah, kau pasti mengenal dia 'kan? Dia perancang busana internasional yang sering memuat pakaian untuk artis-artis Hollywood."

"Ne, aku sangat mengagumi karya-karyamu, Sooyeon-ssi. Aku salah satu penggemarmu."

"Kau harus banyak belajar padanya kalau ingin menjadi sepertinya." Jessica memperhatikan Irene. Ia bisa melihat kepribadian gadis ini, terlihat sangat mandiri, pekerja keras, dan sedikit naïve.

"Langsung masukkan container saja, nanti aku akan mengeceknya."

"Algesemnida." Kemudian Irene meninggalkan mereka berdua.

"Rencananya aku akan menitipkan Irene denganmu. Aku melihat dia punya potensi dan kemauan yang besar untuk belajar. Berhubung sebentar lagi aku juga akan merintis karir di Paris, jadi kurasa itu ide yang bagus. Jika kau tidak keberatan."

"Omona, baru sampai di Korea tugasku sudah banyak sekali, ya? Hahaha"

"Baiklah, aku juga berpikiran untuk menjadikannya pegawaiku untuk sementara waktu ini karena aku juga sedang sibuk mengurusi Bethany yang baru merintis karirnya di Korea."

"Astaga Bethany! Aku ingin melihat dia! dia sangat cantik dan imut ketika berada di tv, aku ingin melihatnya secara live dan mencubitinya habis-habisan."

"Yuri juga melakukan itu pada Bethany."

"Yuri sudah bertemu dengannya?!"

"Ne, Seohyun, aku dan Yuri makan malam bersama dengan keluarga kami masing-masing."

"Ehm, kau tidak berkeluarga, Sooyeon-ah."

"Ya! peduli kentang. Tinggal dengan Bethany sudah cukup, tidak perlu lagi ada laki-laki, okay?" Bora tertawa mendengar penuturan Jessica. Jessica memang wanita yang cuek dan terkesan acuh kalau sudah menyangkut urusan pria.

Jessica kemudian pamit dan pergi menuju gedung StarShine untuk menjemput Baekhyun. Namun, sesampainya di lobby,

"Park sajangnim dan Bethany-ssi pergi daritadi siang dan belum kembali. Park sajangnim menggendong Bethany-ssi yang saat itu dalam keadaan tidak sadarkan diri."

"APA?! KENAPA TIDAK ADA YANG MEMBERITAHUKU?!" Jessica buru-buru mengambil handphonenya dan menelfon Chanyeol, lucunya Chanyeol mengangkat pada dering pertama.

"YAK! KAU APAKAN BAEKHYUN?!"

"Imonim, aku minta maaf karena tidak memberitahumu—"

"Tidak usah banyak bicara bodoh! Katakan Baekhyun dimana sekarang! Aku akan menjemputnya."

"Aku dalam perjalanan menuju rumah Baekhyun. Kami baru saja pergi dari rumah sakit dan memutuskan untuk mengantarnya pulang, tapi sepertinya aku salah masuk tol."

"Apa?! Kenapa bisa?" suara Jessica kini sedikit melunak.

"Penjaga tol tadi salah memberiku informasi dimana aku harus keluar tol."

"Astaga."

"Ya, astaga."

"Maag Baekhyun tadi kambuh sampai hampir tidak sadarkan diri."

"Ugh yaampun."

"Aku minta maaf, ini semua salahku karena menunda-nunda makan siangnya, dan aku juga tdiak tau kalau dia punya maag kronik."

Jessica menghela nafas, harusnya ia memberikan riwayat kesehatan Baekhyun pada CEO ini.

"Baiklah, yang penting sekarang dia sudah tidak apa-apa 'kan?"

"Ne."

"Aku menyerahkannya padamu, Chanyeol-ah. Selama dia bersamamu, kau harus menjaganya dengan baik. Sekedar informasi, jangan pernah menghancurkan mood baiknya karena ia bisa bertindak diluar dugaanmu."

"Seperti membakar mobilku?"

"Lebih buruk lagi. Tidak usah dibayangkan, aku hanya memperingatkanmu."

"Arasseo, terimakasih imonim."

"Ne, hati-hati."

Dalam hati Jessica menjerit kegirangan karena Baekhyun tengah berduaan dengan sang CEO. Meskipun ia sempat khawatir ketika mendengar Baekhyun yang nyaris tak sadarkan diri, tetapi perasaannya lega ketika Chanyeol dengan sigap membawanya ke rumah sakit dan mengantarnya pulang.

.

.

.

Chanyeol menghela nafas lelah. Ia rasa malam ini tidak akan bisa pulang, ia salah masuk tol dan kondisi jalan tol sangat padat. Kemudian ia teringat Irene, ia berjanji akan mengambil makan siangnya di apartemen gadis itu.

"Irene-ah."

"Chanyeol-ah! Aku minta maaf sepertinya kau tidak bisa megambil makan siangmu dirumahku malam ini. Aku belum selesai dengan pekerjaanku, jadi aku menginap di kantor." Kebetulan sekali.

"Ah, gwaenchana. Aku juga baru saja ingin memberitahumu kalau aku tidak bisa mengambil makananku dirumahmu karena ada meeting mendadak dengan pihak sponsorship."

"Ah, arasseo. Selamat bekerja, ne!"

"Ya, kau juga, jangan terlalu memaksakan dirimu jika sudah terlalu lelah, nanti kau akan jatuh sakit dan tidak bisa pergi di akhir pekan bersamaku."

Irene terkekeh mendengar kekasihnya begitu perhatian padanya. "Ne, saranghaeyo."

"Saranghaeyo."

Hening.

Hening.

Hening.

Chanyeol kebosanan menunggu kemacetan ini. Ia melihat ke luar jendela. Tiba-tiba teringat ibunya.

Chanyeol termasuk anak yang tidak pernah kehilangan kasih sayang orangtua sedari kecil. Ia sangat dekat dengan ayah, ibu, dan kakak perempuannya. Ia dan ibunya selalu melihat bintang-bintang malam yang bersinar menghiasi langit malam sembari menunggu kedatangan ayahnya untuk makan malam bersama. Chanyeol bercerita apa saja kepada ibunya, dan ibunya akan menanggapinya dengan sabar.

"Chanyeol-ah. menurutmu bintang mana diantara bintang-bintang ini yang paling bersinar?"

"Hmmm…" Chanyeol berpikir sambil memperhatikan bintang mana yang terlihat paling bersinar.

"Tidak ada eomma. Semua bintang terlihat sama saja. Kalau menurut eomma yang mana?"

Sang ibu menunjuk salah satu bintang yang kecil. Cahayanya hampir redup dan bahkan Chanyeol harus menyipitkan matanya untuk dapat melihat bintang tersebut.

"Ya, eomma! Bintang itu justru sangat kecil, cahayanya hampir redup."

"Chanyeol-ah. Apa kau mencarinya dengan cara melihatnya?" Chanyeol kecil mengangguk lucu. Wajah anak laki-laki berusia 12 yang polos dan terlihat kebingungan. Memangnya harus cari dengan cara apa lagi?

"Carilah dengan hatimu, sayang." Chanyeol mengerjap.

"Ketika kau besar nanti, kau akan tau alasannya. Kau juga akan bertemu dengan banyak orang, dengan banyak wanita. Kau harus menemukan yang paling bersinar diantara mereka dengan hatimu. Yang mampu membuat hatimu terasa tenang, dirimu sangat nyaman bersamanya. Bahkan jika kau tidak bertemu dengannya, kau merasa kehilangan cahaya dihidupmu."

Chanyeol masih menunggu Yuri melanjutkan pembicaraannya.

"Aku percaya takdir. Aku percaya bahwa setiap orang-orang yang kutemui di dunia ini memiliki makna tersendiri. Seperti aku dan ayahmu. Aku hanya merasakan ada benang takdir diantara kami. Dan ternyata benar."

"Aku ingin kau bisa menemukan cahayamu sendiri. Dengan hatimu suatu hari nanti."

"Chanyeol-ssi?" Chanyeol kemudian tersadar dari lamunannya ketika Baekhyun—yang ternyata sudah bangun—memanggil namanya, entah mungkin sudah yang ke-10 kalinya.

"Ya?"

"Aku memanggilmu daritadi."

"Maaf, aku hanya teringat sesuatu tadi." Baekhyun memperhatikan Chanyeol. Sepertinya Chanyeol kelelahan, ia jadi tidak tega karena sudah menyusahkan Chanyeol. Tapi ini tetap salahnya! Kalau saja Chanyeol membiarkannya langsung makan saat ia memintanya, pasti maagnya tidak akan kambuh, dan juga…

"Kenapa kita belum sampai rumah?"

"Aku salah masuk tol. Harusnya aku keluar di gerbang tol sebelumnya, tapi si penjaga tol memberi informasi yang salah."

"Ah, yang benar saja?! Astaga ini sudah pukul 8, Chanyeol! Dan demi tuhan kita menghabiskan perjalanan selama 4 jam dan belum sampai rumah?!"

"Keep calm, okay? Pintu keluar tol 2 km lagi."

"Ya, dan aku yakin antrian ini sangat panjang dan—ah sudahlah."

Mereka terdiam lagi.

"Aku khawatir kau maag lagi. Kau belum makan malam."

"Ah iya. Yasudahlah ini semua salahmu. Kalau aku mati kelaparan, kau akan diselimuti rasa bersalah seumur hidupmu dan aku akan menggentayangimu setiap waktu. HA HA HA!" Baekhyun membuat pose seolah-olah akan mencekik Chanyeol. Melihat Chanyeol yang tidak bereaksi apapun, Baekhyun kembali menyandarkan punggungnya pada jok mobil.

"Ish, tidak asik sekali, sih."

"Apanya?"

"Aku bosaaan~"

"Kau pikir daritadi aku apa?"

"Ayo main tebak-tebakan!" suara Baekhyun terdengar sangat excited, jadi tidak ada salahnya Chanyeol menyetujuinya. Lagipula, daripada mati kebosanan.

"Kau duluan!" Chanyeol tampak berpikir.

"Kau harus memasang otakmu jika menjawab teka-tekiku." Baekhyun berdecih.

"Suatu hari, ada seorang wanita sedang memainkan handphonenya di depan jendela kamarnya. Ia tinggal sendirian di apartemen tersebut. Kemudian saat sedang seru-serunya main, ia merasa ada yang memperhatikannya dari luar jendela. Ia kemudian dengan terburu-buru menelpon polisi dan memberitau alamat rumahnya. Tidak lama kemudian, polisi datang dan mengecek jejak kaki atau sidik jari di balkon kamar sang wanita. Tetapi tidak ditemukan tanda-tanda jejak kaki diluar sana. Tapi kemudian polisi menemukan bekas jejak kaki dibelakang sofa tempat si wanita tadi duduk. Apa yang terjadi?"

"….aku takut."

"Yak! jawab pertanyaanku."

"Shiro! Aku takut!"

"Baek, ini hanya riddle, kau hanya perlu menjawabnya."

"Ngg… bisa saja itu jejak kaki si wanita tadi?"

"Salah."

"Jawabannya adalah, si pembunuh tadi sebenarnya ada di belakang si wanita tadi, yang di jendela itu adalah pantulan bayangan si pembunuh."

"YAAAAAAAAAAK AKU TAKUTT." Baekhyun menghambur ke pelukan Chanyeol. Untung saja mobil dalam keadaan berhenti. Chanyeol terlonjak saat Baekhyun menghambur memeluknya. Untung saja Baekhyun tidak melompat ke pangkuannya.

"Hahaha dasar payah."

"SHUT. UP."

Malam itu mereka habiskan dengan bermain tebak-tebakan. Canda dan tawa menghiasi sepanjang jalan perjalanan menuju kediaman Baekhyun. Entah sudah jam berapa saat Baekhyun tiba di rumah. Seohyun menawarkan Chanyeol untuk bermalam di rumahnya, tapi Chanyeol menolak dengan alasan masih aada pekerjaan yang harus diselesaikannya. Chanyeol pulang dalam keadaan tersenyum dan perasaan yang bercampur aduk.

Is it our new beginning?

.

.

.

TBC

.

.

.

Yeay Alhamdulillah chapter 3 release! Ciee banyak moment chanbaeknya uhuuuy. So, gimana menurut kalian? Aku emang belom kasih clue untuk konflik utamanya sih, jadi tunggu saja okay! Ohya, disini banyak lagu-lagu gitu ya? Haha aku emang sengaja buat karakter Baekhyun yang doyan nyanyi, jadi banyak scene nyanyi-nyanyi gajenya, lagian kan doi diva Hollywood juga. Lagu yang pertama Baekhyun nyanyiin itu honeymoon avenue – ariana grande. Aku dulu suka bangett sm lagu inii (skrg juga masih sih). Thanks juga sama respon positive kalian dan yang udah antusias nungguin kelanjutan cerita dari ff ini! Terimakasih atas kritik dan saran kalian. Aku samyang kamuuu3

Review replies:

yuicho : Haii. Kalo jodoh mah ga kemana hahaha. Adadehh, tapi aku menambahkan Luhan disini sebagai kakak kelas Sehun yang nanti juga ada hubungannya sama Baekhyun.

baelight : Haai. Samaa! Aku juga suka nama Bethany Bea makanya aku jadiin Baekhyun disini nama baratnya Bethany Bea hehe. Thankyou supportnya!

leeminoznurhayati : Haii. Sudah terjawab yaa di chapter ini, Jessica ga begitu ngenalin Chanyeol, karena pubertynya Chanyeol hahaha. Dia jadi ganteng banget sekarang, kalo dulu masih bocah gitu dan gaada tanda-tanda gantengnya wkwk.

Chanbaekhunlove : Haai. Hidup chanbaek! :D

Park Beichan : Haai. Thankyouu :)

Baeks06 : Haai. Maaf ya kemarin aku lupa nambahin keterangan umur pada characternya. Sekarang aku udah tambahin di awal. Thankyou atas koreksinya

Yousee : Haai. ini udah next yaa

Onlyguest : Haai. Iyaa Seohyun perannya baik disini. ini udah next yaa.

Thanks to:

yuicho, baelight , leeminoznurhayati, Chanbaekhunlove, Park Beichan, Baeks06 , Yousee, Onlyguest

Mind to review?

Have a great day!

02.04.2016