MARIONETTE "BRIDE DOLL"
Main Cast :
Marionette Minnezko
Cha Hakyeon (GS)
Jung Taekwoon / Leo
Hyorin *Sistar*
Support cast :
Lee Jaehwan (GS)
Kim Wonshik
Han Sanghyuk
Lee Hongbin (GS)
Sojin *Girl's Day*
Yura *Girl's Day*
Minah *Girl's Day*
Hyeri *Girl's Day*
Jooyoung *Starship Solois*
Pengunjung Jelly Land menyepi sekitar pukul 11.29 malam. Aku membereskan barang-barang di gudang. Sepertinya sudah tak akan ada pembeli lagi, pikirku mengintip etalase. Ponsel di meja kasir berdering. Aku mendongak, lalu menjawabnya.
"Yeon-ah? Kau masih bekerja?" tanya suara di seberang.
"Yeah, aku masih bekerja, Eonni. Sedikit repot di sini, tapi aku menikmatinya. Ini Februari, banyak pasangan menyiapkan hadiah untuk Valentine pada tanggal 14," kataku sambil masih memasukkan beberapa barang ke kardus.
"Lalu, siapa pria beruntung yang menjadi pasangan Valentine-mu?"
Aku mendesah panjang sambil berkacak pinggang, sedikit letih, "Eonni, kalau kau ingin membahas siapa kekasihku, jawabannya ti-dak a-da. Hal inti yang aku ingin kau tau sekarang adalah aku sedang sibuk."
"Ingat, kau sudah menapaki usia 23. Jangan membuat hidupmu kacau."
"Hyorin Eonni, hidup tidak diukur dengan jumlah napas yang sudah kita ambil, tapi dari momen yang telah mengambil napas kita setauku. Jadi, berhentilah menghitung kematianku dengan mengaitkannya dengan pertambahan umurku."
Tak lama setelah itu pembicaraanku dan Eonni berakhir. Kulihat sekelilingku, aku bahagia bekerja di toko mainan yang besar ini selama hampir empat tahun meski belum memiliki kekasih. Aku mengulum senyum bangga sambil menebar pandangan ke sisi toko. Kulirik kalender di sisiku, 14 Februari tinggal empat hari lagi. Aku membuang napas cepat, "Oke, Cha Hakyeon. Nikmati kesendirianmu!"
Aku mengunci pintu toko dari luar. Begitu berbalik, kunci itu terlepas begitu saja dari genggamanku. Aku terkejut melihat seorang gadis mungil berpayung renda berwarna hitam sudah berada di belakangku tiba-tiba. Kuperhatikan sekitarku, tak ada siapa pun selain dirinya, "Ma-maaf, apakah kau mau membeli sesuatu?" tanyaku sambil menggaruk-garuk belakang leher.
Gadis itu menganguk perlahan. Apakah ia bisu?
"Tapi toko ini sudah tutup. Bagaimana kalau kau kembali besok pagi saja?" tawarku sambil tersenyum. Ia diam, namun kulihat raut kecewa di wajahnya yang menunduk. Aku merasa tak enak, "Baiklah, ayo masuk dan kita lihat apa yang ingin kau beli," ujarku dengan semangat.
Aku membuka pintu toko lagi dan menyalakan lampunya.
Anak itu seolah sudah tau mainan yang ia inginkan. Karena begitu melangkah masuk, ia langsung berjalan menuju rak boneka dan mengambil sebuah boneka pengantin pria yang tengah mengendarai kuda putih di ujung.
Boneka pilihan anak tadi memang stok lama, sekitar empat tahun yang lalu. Boneka pria dan kudanya ini tidak pernah beranjak dari raknya, sepertinya luput dari mata pengunjung karena tempatnya memang sedikit tersembunyi.
Aku memandang pita hitam di pergelangan tangan yeoja yang mencoba menggapai boneka di rak itu. Rambutnya melebihi pinggang, berwarna gelap dan tergerai indah. Aku menghampiri dan membantunya meraih boneka itu. "Jadi, ini yang kau inginkan? Hmmm... boneka yang beruntung," ujarku tersenyum. Kupandangi arlojiku yang menun jukkan hampr 12 malam. "Ini untukmu. Kau tak perlu membayarnya, anggap saja ini hadiah dariku karena kau sudah menjadi pengunjung terakhir hari ini."
Aku melihat ekspresi wajahnya melunak dari sebelumnya. Bola matanya yang hijau berbinar saat memandangku. Ia menyodorkan boneka pengantin pria itu kepadaku. "Ini untukku?" tanyaku tak percaya. Ia mengangguk. "Bukankah kau sangat menginginkannya? Lagi pula kau tidak kasihan melihatnya harus terpisah dari kudanya? Imbuhku. Gadis itu tetap pada posisinya, di mana tangannya masih hendak menyerahkan boneka pengantin tampan itu kepadaku. Akhirnya, aku mengambilnya dengan ragu. "Terima kasih," ucapku tersenyum sungkan.
Aku melihat gadis itu berjalan keluar pintu sambil memeluk boneka kuda tadi dari meja kasir. Ia berbalik sejenak menatap tanpa ekspresi kepadaku. "Selamat Hari Valentine, Hakyeon-shi," gumamnya pelan, lalu kembali berjalan.
"Ya, tentu," sehutku senang. Tidak lama sesudahnya aku terkesiap seketika, dengan kilat aku melirik saku pada seragam kerjaku. Aku sudah melepas badge namaku dari sana, bagaimana mungkin anak itu bisa tau namaku. Seingatku ia belum pernah kemari sebelumnya. Aku menggaruk-garuk kepala sambil berpikir keras. Apakah tadi aku sempat menyebutkan nama? Entah, aku lupa.
Setibaku di flat, pesanan bunga-bungaku dari Toko Crystal's Flower ternyata sudah datang dan diletakkan di depan pintu kamarku. Sepertinya aku akan tetap begadang seperti malam-malam sebelumnya. Bunga-bunga ini harus segera kurangkai. Aku menyiapkan kertas kardus daur ulang warna-warni serta kertas kerlap-kerlip transparan bersama pita dengan aneka ragam warna dari yang lembut hingga mencolok.
Aku mengeluarkan boneka pengantin namja tadi dan menaruhnya di sisiku. "Baiklah, mulai sekarang namamu Leo," kataku sambil nyengir. "Ngomong-ngomong, selamat datang di rumah barumu, Leo! Malam ini kau harus menemaniku begadang. Keberatan? Tidak boleh! Kau harus setia di sampingku. Oke?" Aku menghela napas sambil mengguntingi kertas-kertas tadi. Beberapa saat kemudian aku mulai tenggelam dalam kesibukan.
Pagi hampir tiba. Aku mengangkat kedua tanganku tinggi-tinggi sambil menghirup udara panjang, "Beginilah hidupku, Leo-ya. Selalu sendiri. Tanpa kekasih. Mereka sepertinya menganggapku mainan, sepertimu. Tapi aku bukan boneka hias yang indah sepertimu, melainkan boneka jerami yang bisa terbakar setiap saat. Mungkin tak jauh berbeda dengan badut. Ya, aku tau aku memang tak selangsing Park Sojin beserta gengnya di kampus. Tapi percayalah, aku lebih mengerti apa itu cinta ketimbang mereka yang selalu berganti pacar seperti berganti mobil yang mereka miliki," ujarku meratapi hidup.
Kuperhatikan boneka plastik itu betapa tampannya ia bila benar-benar menjadi manusia dengan kemeja putih, tuksedo putih serta dasi berwarna hitam belum lagi senyuman tipis serta tatapan matanya yang tajam. "Seandainya aku bisa menikah dengan pria yang tampan sepertimu, Leo-ya." Aku tersenyum sambil geleng-geleng, "Kau harus tau, aku memang konyol. Tapi setidaknya jika suatu saat nanti kau menjadi pengantinku, kau harus bersedia, Leo-ya," gumamku. Aku menggeleng tak percaya dengan apa yang ada dalam pikiranku.
-MARIONETTE-
Seoul University
Aku berlarian di sepanjang tangga kecil dengan materi kampusku dan terkilir. Kakiku terpeleset pada anak tangga terakhir hingga terkilir dan badanku terasa ngilu. Aku meringis sambil berusaha bangkit.
Suasana hening, dan ini aneh.
Kulihat semua anak memandangku, dan logika umum pada pola tingkah dasar mereka yang seharusnya terjadi, yaitu ledakan tawa dan semburan caci. Benar, sepertinya mereka sedang kesurupan. Aku merasa aneh, sangat malah.
Kalau kau pernah menonton film remaja dan menemukan sosok gadis lugu yang dicap tolol dengan penampilan konyol, itu menggambarkan eksistensiku. Aku selalu menjadi bahan tertawaan, ada yang kerap terkikik sambil menunjuk-nunjuk wajahku. Dan mencemooh. Aku "menu favorit" atau "target bedah". Mereka menghina dari caraku berpakaian, caraku berjalan, hingga caraku memandang mereka yang terlihat idiot. Padahal dengan tidak berusaha menyombong, reputasiku dalam berbagai program perkuliahan selalu mengagumkan. Dan, kau tau? Aku benar-benar berusaha untuk tidak sesak napas kalau mendengar mereka berbisik tentang aku yang seperti badut dalam pertunjukan sulap atau kuda dalam rodeo.
Ini hari teraneh, aku sangsi harus bersyukur atau tidak atas hal ini. Seperti telah terjadi kerusakan pada otak mereka masing-masing. Tuhan, aku benar-benar gemetaran dengan cara mereka melihatku.
Aku mengusap-usap pantat yang terasa nyeri sambil berjalan terlunta menuju toilet. Setibanya aku langsung menyusup ke bilik kamar mandi. Kuraba wajahku sambil melihat cermin, lalu mengecek penampilanku dari atas sampai bawah. Tidak ada yang salah sama sekali.
Rambut sebahu dan ikal masih memahkotai kepalaku, kacamata dengan frame tebal berwarna hitam membingkai mataku, kawat gigi, bentuk badanku tidak bruk yang dibalut hodie abu-abu dengan celana jeans panjang serta sepatu sneakers. Aku merasa nyaman dengan semua itu. Orang-orang menjadi aneh, pikirku berkacak pinggang.
Saat pergantian program, aku membuka bekal lalu menyantap roti bakar keju dengan saus madu yang kubuat pagi tadi. Aku melahapnya dengan cepat. Begitu hendak mengambil tisu di tas, tanganku merasakan sesuatu yang keras di dalamnya. Dan benar saja, ketika kutarik ternyata itu Leo, boneka ku yang tampan. Aku mengernyit cepat, bagaimana mungkin Leo bisa berada di tasku? Yang benar saja. Tapi, aku tak begitu mempermasalahkannya.
Sekitar pukul tiga siang, semua program selesai, aku langsung menuju Jelly Land dengan bus umum, bersiap menjaga toko lagi.
Tiga puluh meter sebelum pintu toko, kulihat Jaehwan berpamitan denganku seraya melambaikan tangannya dari jauh. Ia menunjuk-nunjuk toko tanda aku harus segera berjaga. Ia lalu bergandengan dengan Wonshik, laki-laki yang sudah menjalin hubungan cinta dengannya selama empat tahun lebih. Mereka benar-benar pasangan serasi.
Pengunjung semakin ramai hari ini, aku merasa sedikit lelah. Pada satu kesempatan aku beristirahat sebentar ketika pembeli masih melihat-lihat barang. Kuakui, selain boneka. Bunga pun laris terjual. Tentu saja, aku merangkainya semalaman.
Leo kuletakkan di sofa toko. Ia selalu tersenyum kepadaku. Entah mengapa aku merasa nyaman melihatnya. Banyak pengunjung memerhatikannya dengan tatapan takjub. Aku tidak tau apakah ekspresi seperti itu terlalu berlebihan atau tidak untuk level sebuah boneka yang berukuran tak lebih dari 30 cm.
Mataku memandang sepasang remaja di ambang pintu. Aku mengenal yang laki-laki, namanya Han Sanghyuk dan ia sering kemari membeli rangkaian bunga amaranth untuk kekasihnya. "Hai Hyuk-ah!" sapaku hangat. Ia menyambut ramah lalu mengenalkan gadis di sebelahnya, ternyata namanya Lee Hongbin. Pipinya merona seperti bibirnya yang mungil. Cantik sekali!
Sanghyuk berbisik padaku sesaat sebelum meninggalkan toko bersama kekasihnya, "Kau tau? Keajaiban milik setiap orang, termasuk dirimu. Ia beruntung mendapatkanmu, Noona," katanya. Aku hanya melongo tak mengerti di tempatku.
.
.
Aku bermalas-malasan di sofa kamar sambil mengemil pepero malam ini. Hyorin Eonni menelepon. Aku menerimanya dengan setengah mengerang. "Ada apa, Eonni?"
"Bagaimana? Sudah menemukan pasangan Valentine-mu?"
Aku memanyunkan bibir, kesal. "Ada apa denganmu? Sepertinya kau benar-benar menginginkan pernikahanku di tahun ini. Kau harus mengerti kondisiku, hal seperti pernikahan itu bukan sesuatu yang dapat dipaksakan dan dalam konsep buru-buru. Bisakah kau memaklumi sedikit saja, Hyorin Eonni?" omelku, kemudian memutuskan sambungan telepon, lalu menyeruput cokelat hangat di cangkir.
Lagi dan lagi aku berdebat dengan Hyorin Eonni, hampir setiap ia menelepon. Ia kerap menanyakan kapan aku memiliki kekasih? "Kau tau, Leo-ya? Hyorin Eonni pembicara yang aktif, aku kewalahan. Ia memintaku segera menikah, yang benar saja." Aku berjalan ke kasur menggendong Leo.
.
.
Ada apa sebenarnya? Aku lupa menghitung berapa kali sudah aku melongo akhir-akhir ini. Aku menjadi pusat perhatian, sungguh. Bahkan, di pusat keramaian seperti Gangnam! Orang-orang itu tak lepas memandangiku dengan tatapan yang sulit kudeskripsikan dengan tutur kata.
Aku merasa risih, apakah dua buah jerawat yang pagi tadi muncul di hidungku memancing mereka untuk memerhatikanku? Tapi, mengapa baru saat ini? Bukankah dari dulu aku bepergian dengan wajah seperti ini, lebih dari "dua buah jerawat"? Mengapa mereka memandangku seekstrem itu?
Kurasa kenyataan ini adalah keadaan paling brutal dalam catatan sejarah tahun ini. Aku bermasalah dengan "mata-mata" itu. Satu hal yang harus kulakukan saat ini adalah berjalan dengan cepat, melewati tempat demi tempat terkutuk itu dengan berjalan menunduk.
Jduaaak!
Aku memekik ketika menabrak etalase McDonald. Sungguh, aku memang terlahir sial sepertinya, hari ini, kemarin, kemarinnya, bahkan sedari dulu. Sungguh! Aku mengutuk menit-menit yang kualami saat ini sambil masih memegangi keningku.
Pintu McDonald terbuka lebar, aku melangkah masuk lalu celingukan di ambang pintu mencari sosok Hyorin Eonni. Kami berjanji untuk bertemu disini, Hyorin Eonni tinggal di Cheongju, sementara aku di Seoul.
Aku menemukan sosok Hyorin Eonni di sudut ruang makan yang luas dan dilukis warna merah dan kuning itu. Kulihat ia masih dengan salah satu kebiasaan buruknya; merokok. Aku seorang yang anti-asap rokok, perokok, dan rokok. Tapi, untuk nyonya yang satu itu, mungkin akan ada pengecualian. Ia akan "menceraikanku" sebagai dongsaeng satu-satunya kalau aku sampai berani mendesaknya untuk berhenti merokok dan berhenti mengonsumsi minuman keras. Hyorin Eonni menjadi sedikit "sakit" setelah Jooyoung Oppa meninggal dua tahun yang lalu.
Aku mengambil tempat di hadapannya. "Mau mencoba?" Ia menyodorkan sebatang rokok kepadaku.
Aku menepis lembut tangannya, "Tidak, terima kasih. Aku tak ingin menambah presentase pengonsumsi rokok untuk kalangan perempuan normal di dunia."
"Hey, kau punya sikap. Aku suka itu!" ujarnya lalu tertawa keras. Aku yakin sebagian besar pengunjung restoran mengamati dan bia mendengar gelak Hyorin Eonni. Aku tersenyum kecil karenanya. Hyorin Eonni belum bisa menerima kenyataan bahwa Jooyoung Oppa sudah tiada. Bahkan dia masih tinggal di kampong halaman Jooyoung Oppa, di Cheongju. Dan aku terpaksa memakluminya, kau tau? Kehilangan orang yang kita cintai memang mampu menimbulkan efek yang berbeda-beda, baik jangka pendek maupun sebalikya.
Setelah cukup lama mengobrol dengan Hyorin Eonni, kulirik jam sudah menunjukkan pukul tiga siang. Aku pun segera berpamitan karena harus kembali menjaga toko di barat gedung. Aku berdiri dari kursi. "Terima kasih suah mengunjungiku, Eonni!"
Ketika diluar restoran, "mata-mata" itu masih terus membuntutiku, seolah tak ingin melewatkan seinci gerak yang kuciptakan. Hyorin Eonni pun begitu, menatap jengah kepadaku. Aku menatap sekeliling. Tidak ada yang mencurigakan, bisik hatiku. Dan, ternyata tatapan-tatapan lain masih berlanjut dan menemani perjalananku hingga ke dalam toko.
Aku melamun cukup lama di meja kasir. Pesan masuk di kotak masuk ponselku, aku segera membacanya. Ternyata dari Hyorin Eonni.
"Jadi, itu calon adik iparku? DAEBAK!"
Aku terpekur membaca pesan itu, apa maksudnya? Dahiku mengernyit karenanya, tapi aku tak begitu menggubrisnya. Jaehwan mengamatiku lekat.
Sudah hampir empat jam berjaga, aku memutuskan untuk menghirup udara segar di luar toko. Ketika berjalan disekitar, orang-orang masih saja memandangiku. Aku tak mampu bertahan lagi, kuputuskan untuk berlari sekencangnya kembali ke toko. Tidak salah begitu sampai di toko, aku menubruk badan Jaehwan yang kontan terbelalak, "Hakyeon-ah? Ada apa?" alisnya naik sebelak sambil memegang kedua pundakku.
Aku ngos-ngosan. "Ti-tidak. Aku hanya… entahlah, aku merasa orang-orang seolah tengah mengamatiku," kataku terengah sambil memandang liar ke luar etalase.
Jaehwann membawaku duduk di sofa, untung saja sedang tidak ada pembeli. "Bernapaslah, hirup udara dalam-dalam!" perintahnya. Ia pergi sesaat lalu kembali dengan membawa segelas air. "Minumlah!" Aku meneguk air itu dengan terburu-buru hingga tersedak. "Tengangkan dirimu, Hakyeon-ah." ungkapnya sambil menepuk punggungku.
"Ake serba salah dengan 'mata-mata' mengerikan iu," keluhku.
"Kurasa itu hanya perasaanmu saja," ujarnya mencoba menenangkanku.
"Tidak! Itu tidak mungkin. Aku merasa mereka memandangiku! Percayalah, Jaehwan-ah!" bantahku mencoba menyakinkan. "Pa-pasti da yang salah dengan penampilanku," gumamku lirih sambil menunduk.
"Ya Tuhan. Ti-dak- a-da yang salah dengan penampilanmu! Kau cantik, dan kurasa kau tidak menyadarinya. Kacamatamu yang tebal, kawat gigi, rambut ikalmu…itu hanya penghambat penilaian dan persepsi orang lain terhadap dirimu."
Dadaku bergemuruh, seperti ada sesuatu yang menabuh genderang di dalamnya. "Maaf, tapi apa yang kau maksud dengan 'kacamatamu yang tebal, kawat gigi, rambut ikalmu'? Menurutmu aku terlihat begitu buruk? Munurutmu aku harus memermak diriku agar dapat terlihat menakjubkan seperti Park Sojin dan fans clubnya di kampus/ lalu, bisa menyakiti hati orang lain yang mencintaiku? Atau, aku harus berusaha untuk tampil sempurna seperti porsi fisikmu untuk mendapatkan laki-laki sehebat Wonshik?!" kataku sedikit lantang. Aku tersinggung, sungguh, entahlah aku merasa sensitive.
Jaehwan terbelalak salah tingkah, "Bukan begitu maksudku! Kau salah mengartikan kalimatku! Aku tak bermaksud menyakiti perasaanmu, maafkan aku."
"Tapi kau dan kalimat hebatmu itu menjelaskan kenyataanku yang pahit, Lee Jaehwan." Aku menepis tangannya yang hendak meminta maaf, lalu meninggalkan toko mainan itu. Aku berjalan terlunta sambil memegangi kaca-kaca etalase pertokoan di sana. Hatiku pedih, bahkan bahwa Jaehwann sahabatku secara tak langsung mengakui keburukanku.
Aku ambruk di depan sebuah toko kue bercat kuning dan hijau. Aku menangis sejadinya di tempat itu, tak peduli dengan tatapan-tatapan itu. Sepintas dari etalase kulihat ada sesosok bayangan hitam tengah berdiri tegap dibelakangku. Tapi aku tak berani mendongak. Dua menit kemudian, aku mendengar gelak mengejek. Kutengadahkan wajah, tampak Park Sojin, Kim Yura, Bang Minah dan Lee Hyeri sudah berdiri di depanku. Mereka membawa banyak sekali belanjaan.
"Lihat siapa yang tengah berjongkok di bawah sana," Park Sojin memandangku dengan alis naik sebelah, sombong. Ia menyilangkan kedua tangan di dadanya, "Aku sudah memprediksikan, ternyata umurmu bekerja di toko manikin konyol itu hanya sampai pada kata 'dipecat'."
Aku menunduk resah, kupaksakan kaki untuk bangkit dan pergi meninggalkan tempat itu diiringi tawa angkuh dan tatapan sadis Park Sojin dan teman-temannya.
Aku masih menangis di bus umum yang penuh itu. Seperti ada yang menusuk jarum berkali-kali pada hatiku, dan rasanya begitu menyakitkan.
Aku tiba di flat dan segera berlari di sepanjang ruangan berkarpet mozaik itu. "Hakyeon-ah?" seseorang memanggilku. Aku menengok, tampak , salah seorang penghuni flat. Aku menghentikan langkah dan menyeka cepat air mataku. "Ada apa denganmu?" Ia mengelus pipiku lembut. Aku mengeleng. "Baiklah, aku mengerti kalau berdiam lebih menenangkan hatimu. Aku hanya ingin memastikan sesuatu." Ia menarik napas panjang, "Beberapa penghuni flat seikit mengeluhkanmu. Mereka melihat kau pernah membawa tamu pria asing kemari. Dan, aku tidak memercayainya karena aku sangat mengenalmu. Jadi, katakan padaku kalau hal itu tidak benar?"
"Aku-apa?!" pekikku sambil membungkam mulut. "Demi Tuhan! Aku tidak pernah menyelundupkan tamu pria, SUNGGUH!" seruku parau lalu kembali terisak. Apartemenku memang memiliki peraturan yang serupa dengan asrama wanita. Aku sangat ketakutan saat ini.
membelaiku, "Tentu saja itu tak benar. Maafkan aku, Hakyeon-ah. Dan, aku ingin kau tau bahwa aku menyayangimu seperti anakku sendiri, yah meskipun aku belum sempat memiliki anak, tapi tetap saja aku sangat menyayangimu. Sekarang beristirahatlah, kau pasti letih." Ia tersenyum arif sambil menepuk-nepuk punggungku.
Saat di kamar, tangisanku pecah. "Apa yang telah kulakukan?" rengekku. Mata-mata menakutkan itu, kata-kata Jaehwan, belum lagi tuduhan bahwa aku membawa tamu pria untuk tinggal di sini. Ada apa dengan hidupku? Aku membawa tasku ke kasur dan mengeluarkan Leo di dalamnya. "Mereka menudingku, Leo-ya. Aku sangat kecewa, siapa yang tega berbuat seperti ini?" Hanya boneka ini yang paling mengerti atas diriku, ia satu-satunya yang setia mendengar keluh kesahku. Aku mendekap boneka itu begitu erat dan mencium wajahnya, tak lama aku pun tertidur di malam menjelang hari kasih sayang.
Pagi Hari
14 Februari 2016
Sesuatu yang lembut menyentuh pipiku, aku membuka mata dengan teratur. Kulihat ada seseorang disisiku. Ia menempelkan jari telunjuknya di bibir, "Sshhhs… jangan berisik, aku tak ingin yang lain terbangun," pesannya
Aku terperangah, lalu beranjak dengan cepat sehingga terjatuh dari tempat tidur. Aku melotot menyaksikan pemandangan yang ada di kasurrku. Ada seorang pria tengah berbaring santai dengan siku menumpu badannya. Aku menunjuk sosok itu dengan telunjuk turun-naik, gemetaran.
Ia bangkit dan berjalan mendekat, lalu berjongkok di sampingku. "Aku Jung Taekwoon a.k.a Leo, bonekamu," ujarnya tersenyum hangat. "Sejak kau menginginkanku menjadi pengantinmu, aku mulai hidup. Namun masih dalam di dunia semu di mana orang-orang mampu melihatku, sementara kau hanya merasakanku sebagai bayangan. Tapi ciumanmu semalam mengakhiri segalanya, kau telah membebaskanku dari kutukan. Termakasih, Yeon-ah," ceritanya.
Aku melongo, lalu menggigit lidah, apa ini mimpi?
"Kau tidak sedang bermimpi. Aku pangeran dari sebuah kerajaan di dalam mimpi. Kau tidak akan tau di mana letaknya. Seperti fantasi, tempatku hanya rekaan dalam pikiran manusia. Tapi, aku pun hidup dalam kenyataan di dunia itu. Sama sepertimu yang hidup di bumi ini. Appa ku dulu memerintahkanku untuk menikahi seorang putri pilihannya. Namun karena tak mencintai gadis itu, aku pun menolak. Appa ku murka, lalu membuangku ke dunia nyata dengan mengutukku menjadi sebuah boneka plastik. Dan seperti janjinya, aku bisa kembali berwujud manusia dangan satu syarat, yaitu aku harus mendapatkan ciuman tulus dari gadis yang kucintai," tuturnya. Tanganku sibuk mencari-cari letak kaca mataku.
"Ta-tapi… aku baru memilikimu dari empat hari yang lalu-" sanggahku pelan.
"Dan, aku sudah mengenalmu dari empat tahun yang lalu…," timpalnya cepat.
Aku terdiam cukup lama. Setelah kuingat-ingat, Leo memang sudah empat tahun berada di tokoku. Hanya saja keberadaannya tidak begitu kuperhatikan.
"Aku selalu memerhatikanmu dari rak, Hakyeon-ah. Mendengar semua keluhanmu, gumamanmu, menikmati setiap senyumanmu… semuanya…," sambungnya.
Kepalaku sedikit pening. Ini tidak mungkin, bagaimana mungkin Leo-ku bisa berbicara dan… dia seperti manusia!
Mataku berkunang-kunang. Kulirik Leo mengeluarkan sesuatu dari saku tuksedo putihnya, sebuah kotak perhiasan mungil keemasan dan bertakhtakan alexandrite dan amethyst, yang ternyata berisi cincin platina dengan kilauan kristal emerald hijau.
Kristal-kristal itu mengingatkanku akan sepasang mata cantik milik gadis berbusana hitam yang engunjungi tokoku empat malam yang lalu, "Maukah kau menjadi pendampingku untuk selamanya, Cha Hakyeon?"
-THE END-
Yeah, aku tau aku nggak kreatif, nama sekolahnya Seoul High School. Nama univ nya pun Seoul University~ hahahahaha
Di chapter sebelumnya aku lupa belum keedit lagi, jadi kurang rapi. Semoga di chapter ini sudah lebih baik.
ff ini juga pernah aku publish ditempat lain dengan cast Krisyeol, sama seperti MARIONETTE "ALONE"
Semoga LeoN/Neo shipper suka neeee~~
Dan makasiii banget buat Sky Onix yang sudah review ^^
Soal nenek itu kalo nggak salah di bukunya, si nenek ini yang nyeritain tentang Marionette, dia pendongengnya gitu.. entahlah, aku udah lama nggak baca bukunya yang full jadi agak-agak lupa hehehe. itu si jaehwan kebetulan aja pas lagi jalan sambil cemberut, ngerasa namanya dipanggil kan otomatis dia noleh sambil masih cemberut~ ternyata ada arwah hakyeon, dan pasti jaehwan gabisa liat arwah dong, makanya hakyeon ngira dia masih marah~
Thank you for reading~~ ^^
