Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

.

.

WARNING! : Out Of Character, Many mistakes here, Mainstream, Boring, Story from me, Vampirefic

Genre : Romance and drama

Rate : M for lime

Pairing : Naruto x Sakura / slight Naruto x Naori & Sasuke x Sakura

.

.

.

.

Until The Last Breath |Chapter 3

.

.

.

.

Wanita berambut panjang ikal bergelombang itu mendesah gemas, terkadang pula ia menggigit keras bibir bawahnya kala merasakan empat taring tajam milik Naruto menggesek iseng kulit lehernya. Kembali geraman lolos dari bibir tipis Naori, serta jemari lentiknya tak pernah lepas dari menjambaki surai sutra Naruto, hanya untuk melampiaskan getaran aneh yang menyerang seluruh tubuhnya.

"Inikah yang kau inginkan dariku, Naori !?" Pemuda itu berkata dengan suara paraunya yang terdengar seksi di telinga Naori, hingga membuatnya semakin lebih jauh lagi menginginkan raga tersebut.

"L–lebih dari in— aakhh...!" Jawabnya dan sesudah itu ia mendesah geram, merasakan area sekitar dadanya disapu menggunakan lidah panas Naruto.

"Ah baiklah." Dan setelahnya, segera Naruto menukar posisi rebah mereka, dengan kini bergantian dirinya yang berada diatas mengungkung tubuh mungil Naori. Tangan kokoh Naruto menggerayangi paha mulus Naori, terus berjalan keatas hingga tak lama berhenti sepenuhnya ketika sudah tiba di dekat selangkangannya.

"Sebelumnya, biar kujelaskan sedikit tentang seperti apa tipe wanita yang aku sukai...!" Jari tengah panjang milik Naruto masuk ke dalam celana dalam ungu muda yang di kenakan Naori. Ia menyeringai tipis, lantas langsung menarik kasar bra yang melekat di sekitar dada Naori menggunakan satu tangannya yang menganggur.

Wajah cantik Naori telah di selimuti penuh oleh semu. Ia hanya bisa menggigit bibir saat tanpa aba-aba Naruto langsung menyerang putingnya yang telah mengeras sempurna.

"Aarghh shit !" Wanita itu mengumpat kasar, tangannya menjambak gemas rambut pirang Naruto di bagian belakang yang jabrik mencuat ke bawah. "T–terus seperti itu, Naruto...!" Ia memintanya lagi, terus menginginkan lidah basah Naruto memanjakan payudaranya yang berukuran cukup besar, selayaknya ukuran dada milik wanita dewasa yang sudah— matang.

Naruto menatap wajah merah Naori dari bawah, melirik paras cantik disana menggunakan kedua blue safir pucat miliknya melalui celah guguran poni blondenya yang tumbuh panjang hingga menyentuh dua sisi alis mata. "Aku sangat menyukai ukuran dada wanita seperti milikmu." Ucapnya, tak bisa di tanggapi dengan kata-kata lain ol Naori selain desahan menggila yang terus lepas dari bibir merahnya.

Naruto berjerngit ketika merasakan kuku panjang Naori menggores bagian leher belakangnya, pastinya esok akan meninggalkan luka gores memanjang di kulit lehernya. Mengabaikannya begitu saja, kemudian dengan tergesa Naruto membuka celana dalam milik Naori setelah terlebih dulu ia meninggalkan dada wanita itu untuk beralih ke tempat yang sangat tertutup.

"Basah...!" Ia menggoda dengan sebuah seringai, dan untuk kali ini memperlihatkan wajah tampannya yang terpasang mesum. "Kau sudah tak sabar lagi rupanya, ya..." Sambungnya, membuat Naori hanya bisa blushing serta dadanya memompa hebat, seperti manusia yang kehabisan pasokan oksigen.

"J–jangan menggodaku Narutooo..." Wanita itu memekik manja, tak ingin jari panjang Naruto hanya berkutat pada permukaan tubuh bawahnya. Pemuda itu menggeram dalam diam, menatap tubuh indah Naori yang tertampil jelas di depan matanya.

Lama akibat terus menatap seluruh tubuh hingga wajah Naori, mendadak sosok mungil di depan matanya berubah wujud menjadi sosok seorang gadis dengan surai merah muda yang berantakan dan bibir peach mungil yang telah membekak karena lama ia lumat.

"Damn !" Umpatan geram Naruto lolos bersamaan dengan jari tengahnya yang membobol cepat tubuh bawah sang wanita, membuat empunya memekik lalu tersentak dengan nafas terengah. "Kau milikku..." Naruto mendekati wajah gadis merah muda itu, kemudian meraub lagi bibir ranum tersebut. "Hanya milikku !" Tekannya tajam, lantas melumat rakus bibir sosok ilusi di bawah tindihannya tersebut.

'Sakura.'

.

.

.

.

"Selamat malam, Nona manis…!"

Jantung Sakura berdegup kencang, hingga menimbulkan bunyi detak nyaring yang bahkan dapat di dengar oleh lelaki bermata merah tajam di hadapannya. Ia mundur kebelakang, menatap was-was pria berambut hitam tersebut.

"B–berhenti disana !" Lelaki itu tertawa remeh, memandang tak berharga Sakura yang tampak ketakutan karenanya. "Aku bilang berhenti !" Bukannya merasa takut, melainkan lelaki itu malah tertawa semakin bertambah keras.

"Hahaha..." Sakura bergidik mendengar suara tawa disana, yang menurutnya terdengar seram dan penuh ancaman. "Nona manis, kau galak sekali pada 'tamu' pentingmu ini." Ujarnya sesudah tak tertawa lagi, seraya maju satu langkah untuk mendekati Sakura.

"Aku tak mengenalmu Tuan, untuk itu tolong biarkan aku pulang..." Pinta gadis itu, suaranya terdengar sedikit bergetar.

Lagi-lagi pria di hadapan Sakura tertawa, namun kali ini bukan tawa keras melainkan tawa remeh. "Gadis kecil yang bodoh !" Mendengar kata bodoh, membuat Sakura tampak marah, terlihat jelas dari raut yang ia pancarkan.

"DIAM KA—"

"Kekasih Naruto Namikaze..." Kalimat Sakura tersela cepat ketika tanpa ragu orang berkulit wajah pucat itu langsung menyebut nama lelaki yang sangat di rindukan kehadirannya oleh Sakura. "Benar bukan, Nona manis !?" Timpalnya lantas, membuat amarah Sakura lenyap seketika.

"Kau..." Kali ini pria itu menyeringai lebar, hingga memperlihatkan giginya yang terdapat keempat taring tajam yang ada di dalam mulutnya. "Ada hubungan apa kau dan Naruto ?" Gadis itu menuding, melupakan begitu saja rasa takut yang tadi sempat menghantuinya. Terdengar dengusan dari pria di hadapan Sakura, namun ia hanya diam di tempatnya berpijak seraya menanti jawaban dari pria tersebut.

"Kami terlahir dari bangsa yang sama..." Sakura terdiam, berusaha untuk mencerna setiap kalimat penjelasan yang di lontarkan oleh lelaki berjubah selebor disana. "Dia terlahir dari bangsa Namikaze, sedangkan sebagian dari kami terlahir dari bangsa Uchiha." Lanjutnya lagi, kali ini tak ada ekpresi semacam apapun yang di tampilkan olehnya. "Masing-masing dari bangsa kami memiliki pemimpin."

"Jadi, Sasuke juga satu bangsa denganmu ?" Sakura menimpali dengan sebuah pertanyaan yang menyangkut tentang Sasuke.

"Yah, kau benar. Dan kau tak tahu bukan mahluk apakah kekasih Namikaze-mu itu..." Gelengan kecil menjadi ganti jawaban dari ajuan pertanyaan tersebut, membuat lelaki disana merasa senang untuk membongkar siapa kedok Naruto Namikaze yang sesungguhnya.

"Yang kau tahu Naruto hanya manusia biasa sepertimu, benar bukan !?"

"Apa maksudmu !?"

"Kasihan sekali kau Nona..." Sakura masih terdiam di tempatnya berdiri, sembari tangan kanannya masuk ke dalam tas dan tengah menggenggam sesuatu di dalam sana. "Naruto bukanlah orang seperti yang kau fikirkan, dan dia adalah mahluk pengincar darah manusia maupun hewan." Perkataan dari pria itu berhasil membuat mata Sakura membulat lebar, menatap orang disana dengan ekpresi terkejut bukan main.

"..."

"..."

"Jaga ucapanmu !" Terkesiap untuk sesaat, hingga tak lama kemudian pria itu mendengus remeh. "Jangan pernah kau mengatai Naruto yang tidak tidak..." Gadis itu membentak marah, tak senang mendengar lelaki yang sangat ia cintai di cibir dengan hal tak masuk akal oleh orang.

"Tenanglah Nona manis...!" Pria tersebut bergeming dari tempatnya berpijak, berjalan dua langkah menghampiri Sakura yang tampak was-was akan kedatangan dirinya. "Jangan berfikir yang bukan bukan dulu, semua yang aku katakan padamu bukanlah bualan." Ucapnya di jarak beberapa langkah dari tempat Sakura yang tadinya sempat berjalan mundur melihat kedatangan dirinya.

"Bagaimana aku bisa percaya pada orang asing !?" Jawaban dari Sakura sukses meledakan tawa pria itu, membuat gadis itu mengerutkan dahi, pertanda ia tak mengerti.

Cukup lama tertawa, hingga pria itu menghentikannya lalu menatap Sakura dengan kedua pasang iris merahnya. "Nona, selama ini kau sudah tertipu oleh Naruto !" Pria itu menukas singkat sembari menatap Sakura yang tampak terkejut dengan seringai iblisnya. "Kau tahu...!?" Sakura masih terus diam, serta satu tangan kirinya masih merogoh tas.

"NARUTO NAMIKAZE ADALAH SEORANG VAMPIRE !"

"CUKUP !" Sakura berteriak lantang sembari mengerahkan pistol tepat di depan wajah pucat lelaki disana. "Jika kau masih berani bicara, maka aku tidak akan segan untuk melepaskan peluru di dalam senjata ini..." Tekannya mengingatkan, namun malah membuat pria itu terkekeh.

"Kau pikir aku takut, hah !?" Sakura melangkah mundur ketika orang itu mendekati dirinya lagi. "Aku dan Naruto adalah mahluk yang sama..." Ia menyeringai lebar, kemudian hilang dan tanpa sepengetahuan Sakura sosoknya telah berdiri di hadapan gadis itu seraya mencengkram erat lengan kecil sang korban.

"Kami mahluk penghisap darah yang memiliki hidup kekal, jadi tak mudah untukmu membunuhku..." Pria itu semakin kuat mencengkram lengan Sakura, hingga membuat empunya meringis sakit dan menjatuhkan keaspal pistol dari genggaman tangannya. "Dan sekarang sudah tiba waktuku untuk menghabisimu, Nona. Orang yang telah mengganggu Nona Naori untuk mendapatkan Namikaze bungsu."

Sakura tersentak ketika mendengar ucapan dari lelaki bermata merah tajam itu. "S–siapa Naori? Kenapa dia sangat menginginkan Naruto, sampai kau ingin membunuhku ?" Bertubi-tubi pertanyaan di lontarkan oleh Sakura, menghiraukan rasa ngilu pada lengannya akibat ulah pria pucat itu.

"Pertanyaanmu akan segera terjawab saat nanti kau sudah tiba di Neraka..." Tubuh Sakura menegang, dengan kedua pupil kecilnya yang bergetar. "Enyahlah kau, manusia pengganggu !" Sakura tak bisa berbuat apapun selain pasrah menerima ajalnya, hanya satu yang bisa ia ucapkan di dalam hati pada saat-saat terakhirnya mendekati kematian.

'Naruto...'

Sepasang blue safir tajam milik Naruto terbuka lebar, lalu bergetar menyorotkan keterkejutan yang sangat ketika tadi bayangan Sakura sempat melintasi pikirannya, walau hanya sekilas. Tak merasakan apapun lagi, segera Naori membuka kedua mata, lalu menatap pemuda diatasnya yang masih terjebak dalam keterpakuan.

"Naru—" Hembusan angin kilat menghentikan kalimat Naori, yang menandakan bahwa sosok Naruto telah hilang dari atasnya. Wanita itu bangun dengan tergesa, menghiraukan dirinya yang tampil aca-acakan.

"Naruto, kau mau pergi kemana ?"

"..."

Empunya nama tak menyahut apapun, bahkan deheman khas darinyapun tak terlontar dan ia hanya di sibukan dengan mengenakan baju teratasnya yang tadi di buka lalu di buang ke sembarang tempat oleh Naori.

"Naruto...!" Bersamaan dalam Naori mengulangi lagi memanggil Naruto, sosok pemuda itu telah hilang dalam sekedip mata dan meninggalkan sang wanita dalam sunyinya malam hari. Tangan pucat Naori mencengkeram erat kain sprai yang telah lusuh. Ia diam dengan perasaan hancur, dan sekuat yang di bisa ia menahan diri agar tak menghancurkan seisi kamar.

Sekuat dan seberusaha apapun Naori menahan diri, namun tetap saja tak mampu, malahan membuat emosinya semakin meningkat tinggi hingga membuatnya tak bisa lagi menahan amarah yang menyelimuti dirinya.

"AARRGGH... DASAR MANUSIA BRENGSEK !"

Langkah Madara terhenti tepat disamping kamar tidur Naori saat tanpa sengaja ia mendengar suara teriakan membahana dari dalam ruangan tersebut. Tak menyia-nyiakan waktu, lelaki berambut panjang dengan warna hitam itu membuka pinta kemudian langsung masuk ke dalam.

"Naori, ada apa denganmu !?" Ia bertanya seraya menghampiri Naori yang hendak bertindak membalik ranjang. Wanita itu menghentikan tindakan gilanya, lantas menegakan tubuh lalu membalas tatapan dari sang Paman.

"Naruto..." Suara Naori terdengar bergetar, serta mata hitam kelamnya tampak berkaca yang menandakan bahwa ia sedang berusaha menahan tangis. "Dia pergi, dan pastinya pergi untuk menemui kekasihnya itu." Ia mengadu pada Madara.

Tertawa pelan, kemudian sang pemimpin Uchiha tersebut menyentuh bahu kecil Naori seraya membalas tatapan memelas dari dua pasang manik Onyx di hadapannya. "Tenang saja, aku sudah memerintahkan Shisui dan beberapa anak buahnya untuk membunuh gadis itu." Ucapnya yang sukses melenyapkan wajah putus asa Naori.

"B–benarkah itu !?" Ia bertanya meyakinkan.

"Hn" Deheman dingin itu sudah cukup memuaskan hati Naori. Ia tersenyum tipis, dan melupakan perihal tentang dirinya yang gagal menghabiskan malam bersama Naruto. Toh, yang paling terpenting rivalnya dalam mendapatkan Naruto sudah tidak ada lagi. Itu berarti hanya dirinya seorang yang memiliki sosok Naruto seutuhnya, tak ada lagi pengganggu yang menghalanginya.

Naori kembali memasang raut tenangnya. Ia duduk di pinggiran ranjang, lalu menyeka sebelah pipi karena tadi ia sempat menitikan air mata, walau hanya setetesan kecil. "Dengan begini, maka Naruto hanya akan menjadi milikku, tidak milik siapapun..." Tukasnya penuh keyakinan besar, dan hanya di tanggapi dengan senyuman datar oleh Madara.

"Yah. Naruto hanya milikmu seorang, Naori..."

.

.

.

.

Tepat ketika Shisui hampir menyentuh kulit leher Sakura dengan taring tajamnya, seseorang menariknya dari arah belakang hingga berhasil menggagalkan niat jahatnya. Si pelaku penarikan tersebut langsung melempar tubuh Shisui hingga terpental jauh dari Sakura yang tampak syok.

"Ugh—" Shisui meringis akibat punggungnya yang terbentur tiang besi listrik hingga meninggalkan bekas penyok disana. "BEDEBAH !" Ia berteriak murka, seraya melempar tatapan bengis pada wanita berambut biru pendek yang berdiri di dekat Sakura.

Gadis merah muda itu tersadar dari syoknya, lalu ia menatap tak percaya siapa orang yang menolongnya dari mahluk keparat tadi. "K–konan-Neesan !" Panggilnya gagu, setelah sadar bagaimana bisa kekasih dari Yahiko itu bisa tiba secepat itu di hadapannya. Karena setahunya tadi Konan sudah lama pulang ke rumah, saat masih siang hari.

"Kau baik-baik saja, Sakura !?" Menghiraukan panggilan dari Sakura, wanita itu bertanya tanpa melihat kesamping, tempat dimana Sakura berada.

"..."

Tak kunjung mendapat jawaban, Konan menolehkan kepala hingga ia bertemu pandang dengan Sakura. "Apa dia sempat menggigitmu !?" Dengan cepat Sakura menggeleng. Ia tak bisa bersuara.

"BRENGSEK, AKU AKAN MEMBUNUHMU KONAN !" Kembali Shisui berteriak, namun kali ini ia bangkit lantas berlari cepat menyusul Konan.

"Sakura, cepat kau pergi dari sini !"

"Tidak !"

"Jangan memban—"

Kalimat Konan urung terlontar kala tubuhnya terlempar jauh dari Sakura, membuat gadis itu terbelalak lebar. Dua sosok berjubah datang, lantas keduanya berdiri disamping kiri dan kanan Shisui.

"Kau baik-baik saja !?" Salah satu teman lelaki itu bertanya, seraya menatap Konan yang kembali bangkit.

"Hn" Shisui menjawab dingin. "Kalian berdua urusi saja gadis merah muda itu, biar aku yang mengatasi Konan..." Perintahhnya, kemudian berjalan menghampiri Konan yang tampak tak bisa bergerak akibat kesakitan sehabis di lemparkan jauh oleh Shisui hingga menghancurkan tembok gang.

"Baik..." Keduanya menjawab serentak, lalu mereka mencekal kedua tangan Sakura membuat empunya segera meronta dengan pekikan kecil.

Shisui meraih lengan Konan, menuntunnya untuk bangkit berdiri. "Brengsek, Naruto pasti akan membunuhmu !" Wanita itu mendecih, menatap bengis wajah Shisui.

"Oh ya..." Cengkraman Shisui terhadap lengan Konan semakin mengerat, sukses meloloskan rintih dari empunya. "Konan, adikmu itu sama sekali tak tahu dengan hal ini." Ucapnya dengan jarak wajah mereka yang terpaut dekat.

Menghiraukan rasa ngilu pada lengannya, Konan tersenyum remeh, merehkan lelaki Uchiha tersebut. "Ada masa dimana bangsamu akan di bantai habis..." Ralatnya, berhasil membuat Shisui terliputi oleh amarah.

"Hey kalian !" Kedua lelaki yang sedang mencengkram lengan Sakura melihat ke tempat Shisui. "Cepat habisi gadis itu !" Konan tersentak mendengar perintah dari Shisui. Ia meronta, memaksakan diri agar terlepas dari cekalan Shisui untuk melindungi Sakura dari gigitan para Vampire bahawan disana.

Sakura berusaha menarik tubuhnya, namun ia tidak bisa karena kedua lelaki berjubah hitam tersebut mencengkramnya begitu erat. "Lepaskan aku !" Ia menggertak, akan tetapi tak mendapat tanggapan apapun.

"Wah wah, Nona, kau cantik sekali saat sedang marah seperti ini."

"Yah, kau be—"

Seseorang langsung mematahkan leher teman dari lelaki yang hendak mendekati leher Sakura, membuat kalimatnya gagal terlontar. Gadis itu terkejut, ia menatap syok raga yang terbaring diatas aspal tanpa kepala.

"BEDEBAH !" Kali ini pemuda yang baru tiba itu bergantian meraih leher pria di sebelah Sakura, lantas mematahkannya juga hingga tak bernyawa lagi.

"Sudah kubilang, bukan !?" Shisui menggeram, kemudian ia melepaskan cengkramannya terhadap lengan Konan dengan kasar hingga empunya jatuh terduduk.

"BRENGSEK KAU NAMIKAZE !" Ia berteriak lantang, dan setelahnya ia berlari gesit menghampiri tempat dimana Naruto menghabisi kedua anak buahnya tanpa ampun.

Shisui telah berada di hadapan Naruto, lalu ia langsung menangkap kerah Naruto dan hendak menghempasnya kuat. Namun belum sempat hal itu terjadi, Naruto bergerak lebih cepat hingga posisi mereka tertukar dengan kini Shisui berada dalam cengkraman Naruto.

"Berani sekali kau mengganggunya !" Naruto menggertak geram terhadap Shisui, lalu dengan gerakan kilat ia melemparkan tubuh Shisui hingga membentur tembok.

Sakura membekap erat mulutnya agar tak meloloskan sebuah jeritan. Ia semakin bertambah terkejut lagi ketika melihat Naruto telah berada di hadapan Shisui tanpa repot-repot melangkah, sedang Konan tidak bisa berdiri karena rasa ngilu bercampur sakit yang masih bersarang di punggung belakangnya.

Shisui mendongak keatas, menatap Naruto dengan senyum remeh. "Mari kita lihat, siapa yang akan menang..." Ucapnya kemudian bangkit dan tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Sakura hingga sukses membuat gadis itu terkejut. Sakura mundur, dan sialnya tanpa sengaja ia menginjak pistol miliknya, membuatnya tanpa bisa dicegah terjatuh.

Mengetahui niat jahat Shisui, segera Naruto melesat ketempat Sakura.

"Tidak akan pernah kubiarkan !" Pemuda Namikaze itu meralat, lantas ia langsung membawa Shisui menjauhi tempat Sakura berada.

Kedua mata biru Naruto berubah menjadi merah tajam, menandakan jikalau saat ini ia benar-benar tengah marah besar. Tentu saja marah, jelas sekali bahwa Madara Uchiha telah memerintahkan bahawahannya untuk membunuh Sakura, sumber detak jantung seorang Naruto Namikaze, walau ia tak memiliki jantung selayaknya manusia hidup.

"ARRGHH...!" Terdengar suara jerit sakit dari kejahuan Sakura. Naruto melemparkan dengan bengis tangan kanan Shisui yang telah ia tarik hingga putus. Lagi-lagi Shisui menjerit, dan kali ini Naruto menginjak kuat kaki lelaki itu hingga patah. "AARGH! BIADAB KAU NAMIKAZE !" Ia menghujat Naruto, namun sayangnya ia tak bisa bangkit berdiri.

"Ini balasan karena kau telah berani menyentuhkan tangan kotormu di kulit Sakura..." Pemuda pirang itu menampilkan wajah geram. Ia mencengkram kerah jubah Shisui, kemudian mengangkatnya tinggi keatas seraya menunjukan taring kecil miliknya.

Sepasang bola mata milik Naruto semakin ketara merahnya. Lantas ia menyentak Shisui, lalu menggigit leher lelaki itu membuat empunya berteriak panjang dengan penuh rintihan sakit. Sakura yang menyaksikan adegan tersebut hanya bisa membekap kuat mulutnya, sembari menatap Naruto dengan sorot mata yang begitu sulit di baca.

"N–naruto" Empunya nama menoleh kearah belakang. Ia melepaskan cengkramannya dari dada Shisui, menyebabkan lelaki yang lemah tak berdaya itu jatuh ambruk diatas aspal. Naruto membalik badan, menghadap kearah Sakura sepenuhnya, dan di belakang gadis itu terdapat Konan yang telah duduk.

"Sakura..." Panggilnya, kemudian berjalan dengan langkah pelan untuk menghampiri Sakura. "Maafkan aku..." Ucap lelaki pirang itu dari kejauhan. Tak berniat untuk berdiri, Sakura malah mengesot mundur ke belakang, seolah takut pada sosok di hadapannya. "Sakura...!" Lagi, Naruto kembali memanggil gadis di hadapannya. Ia tahu, ia sadar diri bahwa yang di takuti oleh Sakura adalah dirinya. Monster penghisap darah hewan— maupun manusia.

"B–berhenti disana !"

"..." Terdiam di tempat, itulah yang terjadi pada Naruto. Ia mengerjapkan mata sipitnya selama berkali-kali, sebelum kemudian ia— kembali melangkah mendekati tempat Sakura berada.

"Jangan lakukan itu !" Kali ini suara gadis itu meninggi. Ia meraba aspal di sekitarnya, lalu berhenti di saat tangannya menyentuh sesuatu yang tadi di berikan oleh Sasuke untuk dirinya. Konan ikut membelalakan lebar kedua matanya, sama seperti Naruto.

Sakura memejamkan mata seerat mungkin. Ia melihat kearah samping dengan pistol yang mengarah tepat pada wajah Naruto, dan tanpa fikir panjang, ia langsung melepaskan peluru di dalam pistol tanpa sedikitpun ada keraguan yang menyelimuti dirinya.

Dorr... Dorr

Konan tertegun, menatap dengan penuh rasa mustahil sang adik pirang yang berdiri membatu di hadapan dirinya dan Sakura.

"..."

"..."

#

To Be Continue...