Disclaimer : Masashi Kishimoto
Thanks udah read, salam kenal ghwen :)
warning : abal, gaje, typo berserakan dan masih banyak kekurangan. thanks...
Hinata menyiapkan 2 bekal yang ia bawa. Dia dan Sasuke berjanji akan bertemu di atap sekolah seperti biasa. Hari ini Sasuke tidak dapat beriringan bersamanya ke atap sekolah karena jatah piket Sasuke untuk mengumpulkan tugas para siswa ke ruang guru tidak dapat Sasuke tunda.
Sebelum Hinata beranjak dari tempatnya, Naruto, Sakura dan Ino menghampiri Hinata bersamaan.
"H-hai," Sapa Hinata kikuk.
"Hinata, kau harus menghilangkan hipnotis itu," Sahut Naruto to the point, tanpa menghiraukan sapaan Hinata.
"Benar, Sasuke hanya mendengarkanmu Hinata! Jadi, kami tidak bisa berbuat apa – apa tanpamu," Lanjut Sakura memelas.
"Ini semua gara – gara si baka dobe!" Cerca Ino kesal.
Hinata hanya terdiam melihat ke tiga temannya yang sibuk mengoceh dan saling menyalahkan. Entah kenapa Hinata merasa tidak rela. Bolehkah dia egois?
"Hinata, Kau tidak apa?" Tanya Sakura seketika, karena tidak mendapat respon dari Hinata.
"A-aa, Y-ya? Aku akan mencoba membujuk Sasuke," Kata Hinata sambil berlalu pergi.
"Terimakasih Hinata!" Terdengar teriakan 3 temannya itu dengan penuh semangat.
Hinata hanya dapat menunduk, tersenyum tipis menutupi perasaannya yang bercampur aduk.
Sikamaru hanya menguap melihat tingkah teman – temannya itu dengan malas.
...
Ketika sampai di atap sekolah, Sasuke sudah melihat Hinata yang setia menunggunya. Sejenak Sasuke tersenyum tipis kemudian berjalan menghampiri gadisnya.
"Melamunkanku eh?" Bisik Sasuke membuyarkan lamunan Hinata.
Hinata hanya tersenyum simpul dan membuka kotak bekalnya tanpa merespon pertanyaan Sasuke.
"Tomat?" Celetuk Sasuke terkejut, dia tidak menyangka Hinata tahu makanan kesukaannya.
Hinata hanya tersenyum, hari ini Hinata memang menambahkan banyak tomat pada masakannya karena ia tahu Sasuke menyukai tomat.
"Buka mulutmu!" Kata Hinata menyodorkan makanan, Sasuke hanya menurut.
"Hari ini, aku menyuapimu! Apa kau senang?" Tanya Hinata ketus.
Sasuke hanya terkekeh,
"Kau menyindirku eh?" Sahut Sasuke.
Hinata hanya terdiam, tidak merespon.
"Buka mulutmu!" Perintah Sasuke, Hinata hanya mendengus kesal.
"Aku juga ingin menyuapimu!" Sahut Sasuke, membuat Hinata tersenyum dan menurut.
"Terimakasih ya..?" Kata Hinata menerawang jauh.
Sasuke memandang Hinata bimbang. Sasuke merasakan ada sesuatu yang aneh terhadap Hinata.
"Untuk?" Tanya Sasuke datar.
"Semuanya." Sahut Hinata.
Dan Hinata tersenyum tulus.
Setelah selesai makan, Hinata menyandarkan kepalanya pada bahu Sasuke. Sasuke agak terkejut di buatnya.
"Sasuke?"
"Hn"
"Aku ingin minta sesuatu, apa boleh?"
"Hn"
"Kau janji akan mengabulkannya?"
"..."
"Sasuke?"
"Apa yang terjadi? Aku merasa kau berbeda" Sahut Sasuke mulai tidak senang.
Hinata menjauhkan dirinya dari Sasuke.
"Kabulkanlah, Untukku.." Pinta Hinata dengan raut wajah serius.
"Hn"
Hinata pun menegakkan duduknya, Mengatur emosi dan rasa sesak di dadanya. Sasuke memandang Hinata dengan serius, bersiap mendengarkan apa yang akan gadis itu katakan.
"Temui Naruto! Hilangkan hipnotisnya." Kata Hinata tegas, Sasuke terkejut mendengarnya.
"Kau mengusirku?" Solot Sasuke tidak senang.
"Maaf.."
'Maaf, seharusnya aku tahu. Ini semu, ini tidak nyata Sasuke! Kau tidak pernah mencintaiku.' Batin Hinata meyakinkan dirinya sendiri.
Sasuke menghela nafas panjang melihat Hinata tertunduk dengan rasa bersalah.
"Kau percaya pada Hipnotis bodoh itu?" Sahut Sasuke tidak percaya.
"Y-ya, karena sejak hari itu kau berbeda. Kau selalu mengganggu dan menempel padaku. Kau membuatku sesak dan tidak nyaman. Kau pemaksa... kau... kau selalu membuatku tidak tenang, kau..."
"Baiklah kalau itu maumu!" Potong Sasuke, Sasuke bangkit dari tempatnya. Dia tidak tahan lagi mendengar kalimat – kalimat Hinata yang semakin melukai hatinya.
Dia tidak menyangka setelah semua yang mereka lalui, setelah Sasuke merasa Hinata mulai menerimanya. Ternyata semua hanya kepalsuan, itu hanya perasaan Sasuke saja. karena pada kenyataannya, dia hanya pengganggu di kehidupan gadis yang di sukainya.
Dicampakan, Sasuke merasa telah di campakan dan di buang oleh orang yang dia suka.
"Hipnotis?" Desis Sasuke sinis bercampur emosi.
...
Entah kenapa Hinata merasa kecewa, di berharap Sasuke tidak mengabulkan permintaannya. Tapi harapannya sia – sia. Sasuke berjalan meninggalkan Hinata sendirian, Hinata hanya dapat menatap punggung tegap yang pernah menjaganya kini menjauh pergi.
"Sebelumnya, jawablah pertanyaanku dengan jujur." Kata Sasuke, berhenti di depan tangga tanpa menoleh ke arah Hinata. Hinata menatap Sasuke berkaca – kaca, menahan air matanya yang hampir tumpah.
"Pernahkah, kau mencintaiku?" Tanya Sasuke.
"..."
Merasa tidak memperoleh jawaban, Sasuke pun pergi menuruni tangga.
"...aku Mencinatimu, Sasuke!" Lirih Hinata meneteskan air mata, setelah kepergian Sasuke.
'Apa yang aku pikirkan? Seharusnya aku mencegah Sasuke pergi!' Batin Hinata memberontak.
'Tidak! Seharusnya aku sadar diri. Sasuke di hipnotis! Dia tidak benar – benar menyukaiku!' Pikir Hinata.
'T-tapi, seharusnya tadi aku jujur kepadanya! Setidaknya, walau sekali aku mengatakan isi hatiku! Aku tidak ingin memendam rasa suka selamanya. Aku sudah pernah merasakannya pada Naruto, aku tidak mau seperti itu lagi! Kenapa aku menjadi bodoh seperti ini.' Cerca Hinata dalam hati.
Melihat Sasuke sudah tidak ada, Hinata pun berlari dengan kalap mengejar Sasuke.
"Setidaknya walau sekali, aku ingin mengatakan perasaanku pada Sasuke..!" Tekat Hinata.
TBC
all : semoga fic ini nggak tambah aneh, haha semoga tidak begitu mengecewakan ;) tunggu lanjutannya ya...
