No Yuri!

.

.

Disclaimer :: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Pairings :: SakuHina! #plak! Katanya No Yuri? Iye-iye, XD maksudnya NaruSaku dan SasuHina

Rated :: T

Genre :: Romance

Warnings :: AU, OoC, typo/misstypo (s), gaje, abal, garing, EYD ancur, cerita pasaran, slight humor dikiiiit, dan sederet kekurangan lainnya.

Summary :: Sama seperti judulnya, ini bukanlah cerita percintaan 'antara' Haruno Sakura dan Hyuuga Hinata. Tetapi, ini adalah cerita percintaan 'tentang' Haruno Sakura dan Hyuuga Hinata. Bersahabat sejak duduk di bangku sekolah dasar dan menjomblo sampai saat ini membuat keduanya digosipkan sedang menjalin hubungan 'gelap'. What the—?

Yosh! Yonde kudasai, minna~

.

.

.

.

:: Three ::

Sakura berjalan pelan di koridor utama sekolahnya dengan wajah yang terlihat lesu. Ia memang sedang tidak bersemangat untuk bersekolah hari ini. Maklum, hari ini akan ada ulangan untuk tiga mata pelajaran di kelasnya. Yah, untungnya tiga pelajaran tersebut tidak berurutan. Tapi, tetap saja hal itu membuatnya kerepotan. Malam tadi, ia baru bisa tidur dengan nyenyak setelah belajar sampai hampir jam dua belas malam. Percayalah, mempelajari tiga mata pelajaran mengerikan seperti fisika, matematika, dan sejarah itu sungguh menguras pikiran dan tenaga. Yah, salah ia sendiri yang selalu menganut sistem 'SKS' jika ada ulangan. Selain itu, hari ini juga ada jadwal latihan rutinnya setelah jam pulang sekolah bersama Gai-sensei. Haah, sepertinya hari ini akan menjadi hari yang sangat melelahkan bagi Sakura.

"Oy, Sakura-chaan!"

Langkah Sakura terhenti ketika didengarnya suara cempreng milik Naruto yang memanggil namanya. Gadis itu menghela napas kemudian memutar bola matanya sebelum akhirnya hendak melangkah lagi. Namun, sayangnya Naruto sudah berada di hadapannya—menghadangnya.

"Ohayou, Sakura-chan," ujar Naruto seraya menampilkan cengiran lebarnya. Pemuda itu sama sekali tidak mau tahu—atau memang tidak peka-dengan wajah Sakura yang kelihatan tidak suka.

"Hm, Ohayou." Balas Sakura datar kemudian hendak pergi dari sana. Sayang, niatnya batal karena lagi-lagi Naruto yang menahannya.

"Eh, tunggu, Sakura-chan!"

Sakura menepis pelan tangan Naruto yang memegang pergelangan tangannya. "Apa sih?" Gadis karateka itu merengut kesal. Ia harus segera masuk ke kelasnya. Masih ada beberapa bahan yang harus ia pelajari ulang. Tapi, kalau pagi-pagi begini sudah ketemu si jabrik kuning ini bisa-bisa bahan-bahan yang ia pelajari malam tadi lenyap begitu saja. Menguap hanya karena meladeni seorang Uzumaki Naruto.

Naruto kembali nyengir tanpa dosa. Kelihatannya ia memang tidak peka sama-sekali pada keadaan gadis dihadapannya. "Oh ya, Sakura-chan, apa kau ada waktu hari minggu nanti?"

"Memangnya kenapa?"

"Kencan, yuk!"

Uhuk!

Sakura menatap tidak percaya kearah Naruto yang masih memasang cengiran rubahnya. Apa ia tidak salah dengar apa yang dikatakan oleh pemuda itu barusan? Naruto mengajaknya kencan?

"K-ken… can?"

Naruto mengangguk mantap.

"Kau… yakin?"

"Yah, sebenarnya, aku diundang temanku untuk menghadiri acara pertunjukan drama." Naruto mengambil sesuatu dari saku celananya kemudian menyerahkan dua tiket pertunjukan drama tersebut pada Sakura. "Dia memberiku dua tiket gratis. Aku tidak enak kalau harus menolaknya. Jadi, Sakura-chan Mau 'kan?"

"Kenapa harus aku?"

"Memangnya Sakura-chan tidak suka?"

"Bukannya begitu, tapi kenapa kau mengajakku? Kenapa tidak temanmu yang lain saja?"

"Sakura-chan 'kan pacarku."

Sakura menepuk jidatnya. Gadis itu menghela napas karena jawaban polos—atau bodoh-Naruto. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah pemuda itu. "Bagaimana kalau aku tidak mau?"

"Eh? Kenapa?" wajah Naruto berubah menjadi sedikit sedih mendengar kata-kata Sakura. "Sakura-chan tidak suka drama ya?"

"Bukan, bukan begitu. Aku suka menonton pertunjukan drama. Hanya saja—" kata-kata gadis itu terhenti ketika dilihatnya Naruto yang memasang wajah memelasnya. Mirip anak kucing. Sakura menghela napas. Sebenarnya alasannya menolak adalah karena ia tidak mau jalan dengan Naruto, lagipula kalau ia setuju, itu artinya sama saja dengan ia mengiyakan dirinya sebagai pacar Naruto 'kan?

Tapi,

Tidak ada salahnya juga jika menerima ajakan Naruto. Toh, ia memang sedang senggang minggu ini. ah ya, anggap saja ini sebagai ungkapan terima kasihnya pada pemuda itu karena sudah mengantarnya pulang beberapa hari yang lalu.

Sakura menghela napas —lagi, "Baiklah."

Wajah sendu Naruto kembali menjadi cerah seperti sediakala. Cengiran lebarnya kembali terlihat. "Yosh, nanti jam 11 aku akan menjemputmu. Sakura-chan siap-siap saja di rumah."

"Hn, terserah."

"Ehm!"

Naruto dan Sakura menoleh ketika mendengar suara deheman yang dibuat-buat itu. keduanya kemudian mendapati seorang gadis blonde berdiri di sebelah Sakura seraya tersenyum jahil.

"Pagi-pagi sudah pacaran, ingat waktu dan tempat dong." Katanya seraya menyenggol-nyenggol lengan Sakura.

Sakura mendengus. "Siapa yang pacaran sih?"

"Lho, yang pacaran itu 'kan kita, Sakura-chan. Apa kau lupa?"

Ino tertawa geli mendengar jawaban polos nan bodoh dari Naruto. Sedangkan Sakura hanya bisa menahan-nahan emosinya sebelum bisa meledak sewaktu-waktu. Yah, lebih baik ia menjauh dari dua orang makhluk berambut pirang itu.

.

.

.

.

Hanya ada satu hal yang ada di pikiran Hinata. Tapi, sayangnya, ada banyak sekali pertanyaan yang berkaitan dengan hal itu yang berkecamuk di dalam pikirannya. Gadis berambut indigo itu bingung. Ia tidak mengerti. Apalagi tentang seorang pemuda yang bernama Uchiha Sasuke.

Hinata menghela napas ketika ia kembali teringat perihal rencana perjodohannya dengan pemuda itu. Semua ini begitu mendadak. Ia sama sekali belum siap untuk menjalin hubungan serius seperti itu. Yah, meski Sasuke bilang ia bisa saja menolak perjodohan ini. Lagipula mereka juga tidak langsung menikah setelah lulus SMA nanti. Tetap saja, ia tidak bisa. Masih banyak yang harus ia lakukan. Hinata ingin melakukan semua hal yang ingin ia lakukan. Ia ingin sekolah yang setinggi-tingginya, mencapai cita-citanya sebagai seorang guru, bekerja, hidup mandiri, kemudian mencari pendamping hidupnya sendiri. Tapi, bagaimana caranya ia mengatakannya pada sang ayah?

"Hinata!"

Hinata tersentak kaget ketika secara tiba-tiba Ino dan Sakura muncul di hadapannya seraya memanggil namanya. Sebenarnya bukan tiba-tiba, Hinata-nya saja yang tidak sadar karena gadis itu yang sedang melamun. "I-ino-chan, Sakura-chan."

"Kau melamun, eh?"

"T-tidak." Hinata berpura-pura kembali fokus dengan buku pelajaran biologi yang kini sedang berada di tangannya—yang tadi sempat ia abaikan karena keasyikan melamun. "A-aku belajar."

Mata Ino menyipit tidak percaya. "Kau bohong, Hinata. Jelas-jelas tadi kau melamun. Memangnya apa yang kau pikirkan? Kau ada masalah?"

"T-tidak, kok. Sungguh."

"Kau yakin?" Tanya gadis blonde itu lagi untuk memastikan.

"Sudahlah, Ino. Jangan memaksa," ujar Sakura menyudahi upaya Ino yang tadi seperti sedang menginterogasi Hinata.

Kelas tiba-tiba menjadi sedikit ribut ketika Sasuke masuk ke dalam kelas dan berjalan dengan santai menuju ke tempat duduknya. Pemuda raven itu terlihat tidak peduli dengan segerombolan fangirl-nya yang mulai terbentuk ketika pemuda itu mulai bersekolah disini. Sesaat, bola mata onyx milik Sasuke bertemu dengan bola mata berwarna lavender keputihan milik Hinata. Sasuke hanya menatapnya datar tapi entah kenapa Hinata malah menundukkan kepalanya. Wajahnya memerah dan ia menjadi sedikit gelisah.

"Apa tadi hanya perasaanku saja, atau memang benar Sasuke memandang kesini?" Tanya Sakura.

Ino mengangguk. "Kurasa juga begitu."

"Hei, cepat kembali ke tempat duduk kalian. Iruka-sensei sebentar lagi akan masuk." Kata Shikamaru memberi perintah pada semua teman-temannya yang masih berdiri bergerombol di mana-mana. "Kembali ke tempatmu, Ino." Ulang pemuda bergaya rambut mirip nanas itu ketika dilihatnya Ino masih diam di tempatnya.

"Iya, Tuan pemalas." Ujar Ino sedikit kesal kemudian langsung berjalan menuju tempat duduknya sendiri. Ino memang kesal, tapi adakah yang menyadari rona merah tipis di kedua pipi putihnya?

"Ck, mendokuse."

Tidak lama kemudian, seorang pria berambut coklat dengan bekas luka melintang di atas hidungnya masuk ke kelas dan memulai pelajaran pertama hari ini dengan tenang.

.

.

.

.

Klek.

Loker yang berada di deret ke dua dari sebelah kanan itu terbuka ketika Hinata membukanya dengan kunci. Putri sulung Hyuuga Hiashi itu berencana untuk mengambil barang-barang yang diperlukannya untuk dibawa pulang ke rumah. Setelah selesai mengambil semua yang ia butuhkan, gadis itu berniat untuk menutup loker miliknya, namun niatnya terhenti saat matanya terpaku pada sebuah benda kecil berbentuk lingkaran.

Sebuah cincin pemberian Sasuke.

Cincin perak berwarna putih itu diberikan oleh Sasuke padanya saat malam itu, malam dimana Sasuke dan keluarganya datang berkunjung ke rumahnya. Pemuda itu bilang, cincin itu hanya sebagai simbol yang menandakan bahwa mereka berdua sudah dijodohkan. Yah, sampai mereka berdua lulus SMA nanti, Hinata masih diperbolehkan untuk mengembalikan cincin tersebut jika nantinya ia atau Sasuke menolak perjodohan ini.

"Hinata,"

"…"

"Hinata?"

Tepukan pelan di bahu gadis itu akhirnya berhasil membuat Hinata kembali kealam nyata. Gadis itu langsung menoleh ke belakang guna mengetahui siapa gerangan yang telah menepuk bahunya tadi.

"K-Kiba-kun,"

Pemuda bermarga Inuzuka itu tersenyum. "Kau sedang apa? Belum pulang?"

Hinata buru-buru menutup lokernya, sebelum terlebih dahulu mengambil cincinnya cepat dan menyimpannya ke dalam tas slempangnya. "B-belum," kata gadis itu sedikit gugup karena takut Kiba melihat cincin tersebut.

"Apa itu?" Tanya Kiba penasaran ketika melihat Hinata seolah menyembunyikan sesuatu darinya. Sebenarnya tidak apa sih kalau Hinata menyembunyikan sesuatu, tapi, sebagai sahabat, tentunya Kiba penasaran dengan apa yang sedang Hinata sembunyikan. Tidak biasanya, Hinata menyembunyikan sesuatu darinya.

"T-tidak ada apa-apa. A-aku h-hanya mengambil barang yang k-ketinggalan."

Kiba hanya ber-'oh' ria ketika mendengar jawaban gadis di hadapannya. Sudahlah, ia tidak mau memaksa Hinata bercerita kalau bukan gadis itu sendiri yang memilih bercerita.

"K-kiba-kun sendiri, k-kenapa belum pulang?"

"Ah, aku tadi dipanggil Kurena-sensei sebentar. Oh ya, Hinata, hari minggu ini kau ada waktu tidak?"

Hinata terdiam sebentar seraya berpikir, mengingat-ingat. "Tidak ada, m-memangnya kenapa Kiba-kun?"

"Baguslah, bisa temani aku mengantarkan Akamaru ke klinik? Malam tadi ia sedikit demam dan menggigil. Aku takut ada apa-apa dengannya."

Hinata tersenyum lembut seraya mengangguk. "T-tentu saja. A-aku juga sudah cukup lama tidak melihat Akamaru."

"Benarkah? Terima kasih, Hinata." Ucap Kiba tulus seraya tersenyum senang. "Ayo, pulang."

Hinata mengangguk—lagi-sebelum akhirnya mulai berjalan bersama dengan Kiba meninggalkan tempat mereka tadi berbicara tanpa menyadari ada sosok lain yang sudah sejak tadi ada di sana.

.

.

.

.

Sakura memijit keningnya yang tiba-tiba sedikit pusing. Ini hari minggu dan ini masih jam setengah Sembilan pagi. Tapi, seseorang dengan rambut jabrik kuningnya sudah berdiri di depan rumahnya dan membuatnya mengalami mood jelek.

"Bukankah kemarin kau bilang jam 11? Ini baru jam setengah 9, Naruto."

Naruto meringis sambil menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. "Hehe, sebenarnya aku salah lihat jadwal pertunjukannya Sakura-chan. Yang jam 11 itu pertunjukan yang selanjutnya. Sedangkan pertunjukan temanku itu mulainya jam 9."

Sakura melongo.

"Tapi, tidak apa-apa, Sakura-chan. Kau tidak usah khawatir dan merasa tidak enak, aku tidak apa-apa kok menunggumu sampai selesai bersiap-siap."

Kening gadis itu berkerut sebelum akhirnya menghela napas kesal. Mencoba mengumpulkan puing-puing kesabarannya yang sudah sangat menipis. Ia jadi bingung sendiri kenapa ia bisa kenal dengan pemuda unik dan aneh di hadapannya ini. Terkadang gadis bermarga Haruno itu ingin sekali membawakan cermin agar pemuda jabrik kuning itu bisa berkaca nantinya. Hah, Yang salah siapa, sih? Kenapa jadi ia yang harus merasa tidak enak?

"Terserahlah," ucap Gadis itu sebelum akhirnya meninggalkan Naruto di depan pintu sendirian.

.

.

.

.

Sakura menghela napas. entah sudah berapa kali ia menghela napas hari ini karena ulah Naruto. Ada-ada saja ulah pemuda itu yang membuatnya 'gregetan' sendiri. Entah polos atau memang bodoh. Salah melihat jam pertunjukanlah, kehabisan bensinlah—karena Naruto pakai motor kemana-mana, bahkan tadi keduanya salah masuk ruangan karena Naruto yang sempat lupa dimana tempat pertunjukan dramanya. Dan pada akhirnya, mereka sampai di sini—di tempat pertunjukan drama ini-pada jam 10 kurang sepuluh menit. Haah, Sakura menghela napas lagi.

Sakura mencoba menikmati pertunjukan drama yang ditampilkan di tampilkan oleh remaja-remaja SMA seusianya. Ah ya, gadis itu jadi penasaran yang mana teman Naruto. Soalnya pemuda jabrik kuning itu belum sempat bilang padanya mengingat mereka berdua datang telat tadi dan sudah ketinggalan selama kurang lebih duapuluh menit. Untungnya, tempat duduk mereka terletak agak sedikit ke tengah hingga membuatnya lebih nyaman saat menontonnya. Sakura cukup menyukai pertunjukan drama/drama seperti ini. Dulu saat masih duduk di banghku Sekolah Dasar, ia juga sering memainkan beberapa drama untuk merayakan hari jadi Sekolah ataupun festival-festival yang lain. Sakura tersenyum sendiri ketika mengingat cita-citanya dulu yang sempat ingin menjadi seorang aktris.

Saat sedang asyik-asyiknya menonton, tiba-tiba saja, Sakura mendadak ingin buang air kecil. "Hei, Naruto." Panggil gadis itu dengan suara yang pelan.

Tidak ada jawaban. Sakura mengernyit. Apa suaranya tadi terlalu pelan sehingga Naruto tidak bisa mendengarnya? Mungkin memang harus sedikit lebih keras lagi.

"Hei, Naruto."

"…"

Sakura menoleh ke tempat duduk di sebelahnya, "Hei, Naru—"

Sakura sweatdrop ketika melihat pemuda itu yang ternyata sedang tertidur pulas. Jadi dari tadi Naruto diam dan tidak menjawab panggilannya karena tidur? Apa jangan-jangan pemuda itu sudah tidur sejak mereka datang ke sini? Entahlah, Sakura tidak peduli.

Sakura menghela napas—lagi.

Kenapa berjalan dengan Uzumaki Naruto begitu menyebalkan?

.

.

.

.

"B-bagaimana keadaan Akamaru, K-kiba-kun?" Tanya Hinata saat dilihatnya Kiba keluar dari ruang periksa dengan Akamaru dalam gendongannya.

Kiba tersenyum lega. "Tidak apa-apa, hanya demam biasa. Haah, aku lega sekali, Hinata." Kata pemuda itu seraya menatap Akamaru yang sedikit lemas dalam gendongannya.

Hinata mengangguk seraya tersenyum lembut. "Syukurlah, Kiba-kun."

"Ah ya, apa kau masih ada waktu setelah ini? aku ingin menraktirmu, Hinata. Anggap saja, sebagai ucapan terima kasihku." Tawar Kiba.

"A-apa tidak apa-apa?"

Kiba tertawa kecil. "Sudahlah, tidak apa-apa. Hey, kau sudah tahu, katanya ada toko es krim yang baru dibuka di dekat taman." Kiba berhenti melanjutkan kalimatnya ketika dilihatnya Hinata sedang menatap kearah lain. "Ada apa?"

"ah, t-tidak apa-apa." Kata Hinata. Dari gelagatnya yang Nampak gelisah, Kiba tahu ada sesuatu yang mengganggu gadis itu.

"Kau yakin?"

Hinata mengangguk. "Y-ya," katanya sedikit tidak yakin. Tadi, ia merasa seperti diperhatikan oleh seseorang. Tapi, mungkin itu hanya perasaannya saja.

"Kau sudah pernah ke toko es krim itu, Hinata?"

Hinata menggeleng. "Ah, B-belum." Sebenarnya Hinata tidak tahu toko mana yang dimaksud oleh pemuda berambut coklat itu karena tidak fokus mendengarkan.

"Baiklah, bagaimana kalau kita ke sana saja?"

"A-aku terserah, Kiba-kun saja."

"Yosh, ayo kita kesana!" ujar pemuda itu semangat kemudian mulai berjalan meninggalkan klinik bersama Hinata yang berjalan di sampingnya.

.

.

.

.

"Naruto-kun!"

Sebuah suara yang terdengar tegas dan lembut disaat yang bersamaan itu meneriakkan nama Naruto. Pemuda jabrik kuning itu menoleh dan mencari-cari siapa orang yang memanggil namanya. Safir-nya kemudian mendapati seorang gadis berambut pirang pucat seperti Ino—hanya saja yang ini lebih pucat lagi-melambaikan tangannya kearahnya dan Sakura yang saat itu sedang berdiri di tengah kerumunan orang yang ingin keluar dari ruang pertunjukan.

"Shion!"

Sakura menatap sesosok gadis cantik yang seingatnya tadi juga ikut bermain dalam drama yang ia saksikan tadi. gadis bernama Shion itu tampak berlari kecil kearah mereka. Wajahnya cantik. Rambutnya panjang dan ia terlihat dewasa.

"Kau datang, ternyata." Katanya setelah gadis itu sampai di hadapan Naruto dan Sakura. "Aku pikir kau tidak akan datang, Naruto-kun. Kau 'kan tidak suka menonton yang seperti ini." tambahnya.

Naruto terkekeh pelan. "Yah, tidak juga, sih. Aku hanya ingin melihatmu bermain saja. Haha.."

Shion terdiam, wajahnya tiba-tiba merona merah. "A-ahh, benarkah? T-terimakasih, Naruto-kun." Kata gadis itu dengan gugup dan salah tingkah. Naruto tampaknya masih tidak peka dengan itu, tapi Sakura tidak. melihat sebentar saja, Sakura tahu kalau Shion sepertinya menyukai Naruto.

Mungkin Shion harus periksa ke rumah sakit terdekat karena seleranya dalam memilih seorang tambatan hati yang aneh dan unik.

"Ah ya, aku lupa." Kata Naruto tiba-tiba. Pemuda jabrik kuning itu kemudian menoleh kearah Sakura. "Ne, Sakura-chan, dia Shion, sahabatku sejak kecil." Kata Naruto memperkenalkan Shion pada Sakura. "Shion, Dia Sakura-chan, dia… err, pacarku. Hehe.."

Duakk.

"Aww, Ittai..!" pekik Naruto kesakitan ketika kepalanya dipukul oleh Sakura. "Kenapa kau memukulku?" tanyanya kesal dengan bibir yang tidak mengindahkan pertanyaan Naruto, gadis itu malah—atau lebih tepatnya berpura-pura- tersenyum manis.

Sekilas, entah hanya perasaan Sakura saja atau memang iya, gadis itu sempat melihat perubahan di wajah Shion saat Naruto memperkenalkannya sebagai kekasih pemuda itu.

Sakura tersenyum lembut seraya membungkukkan sedikit badannya kearah Shion yang dibalas dengan hal yang sama oleh gadis itu.

"Oh ya, bagaimana kabar Karin?"

Sakura sedikit mengernyit bingung ketika nama teman sekelasnya yang saat ini menjadi ketua Sasuke FG keluar menjadi bahan pembicaraan. Apa hubungannya Karin, Naruto, dan Shion?

Entahlah, Sakura tidak peduli.

Ia tidak mau peduli bahkan saat Naruto asyik berbicara dengan Shion dan seolah mengabaikannya yang saat itu juga berada di sana.

.

.

.

.

"Jadi, dia?"

Tidak ada jawaban apapun keluar dari mulut Sasuke ketika seorang pemuda yang memiliki mata onyx seperti miliknya dan rambut hitam bertanya padanya. Sasuke tahu, meskipun ia tidak menjawab, pemuda bernama Sai yang saat ini tengah menemaninya sudah tahu jawabannya apa.

"Kenapa tidak menghampirinya? Apa kau tahan melihatnya duduk berduaan dengan pemuda bertato itu?"

Masih tidak ada jawaban dari si pemuda raven.

"Bagaimana kalau ternyata mereka berdua berpacaran?"

"…"

"Kau tidak cemburu?"

"Diamlah, Sai."

Sai terdiam sebelum akhirnya memasang senyum palsu andalannya. "Baiklah, tapi jangan salahkan aku kalau apa yang kukatakan itu benar."

Sasuke masih tidak mau menjawab. Pemuda itu masih fokus memperhatikan dua sosok remaja yang seumurannya—dan Sai juga-yang saat ini sedang menikmati es krim di toko seberang kafe yang menjadi tempat ia dan Sai duduk saat ini. Sasuke menghela napas. Ia ingin sekali kesana, menghampiri Hinata yang saat ini sedang duduk berduaan dengan seorang pemuda bertato di pipinya—yang entah siapa namanya-dan menariknya pulang.

Sai sudah tidak berniat bertanya lagi. Meskipun sudah satu jam lebih Ia dan Sasuke melakukan ini. Mengikuti dari gadis berambut indigo itu keluar dari kediaman Hyuuga, ke sebuah klinik, dan sampai sekarang, di toko es krim. Sedangkan ia dan Sasuke mengamati—kalau yang ini hanya Sasuke saja-gadis berambut indigo itu.

"Kau seperti seorang stalker, Sepupu."

Sasuke mendengus. Ia tidak peduli. yang ia inginkan sekarang adalah mengetahui apa hubungan Hinata dengan pemuda itu.

Hei, hei, apa sekarang seorang Uchiha juga bisa menjadi seorang stalker?

.

.

.

.

"Haaah, Asyik banget, ya. Aku mau lagi—"

"Ahh, tidak! tidak!" potong Naruto cepat. "Sudah cukup, Sakura-chan.." lanjutnya dengan suara lirih. Wajah tan-nya yang biasa berseri-seri kini Nampak pucat seperti orang mabuk perjalanan. Benar-benar pucat. Peluh dingin pun Nampak bercucuran di tubuhnya yang juga terasa lemas. Seketika ia jadi merasa mual. Perutnya bergolak tak enak. Akh, ini semua gara-gara Sakura yang memaksanya naik roller coster tiga kali berturut-turut.

"Hei, Naruto, kau baik-baik saja?" Tanya Sakura khawatir. Yah, tidak terlalu khawatir juga, sih. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia sengaja membuat Naruto seperti ini. yah, hitung-hitung balas dendam sedikit. Tapi, apa keterlaluan ya? Sampai-sampai wajah pemuda itu pucat pasi.

"Ya sudah, kau tunggu saja disini. Biar ku belikan air dulu."

Naruto tidak merespon apa-apa sampai Sakura pergi meninggalkannya untuk membeli minuman. Pemuda itu masih sibuk menahan rasa mual di perutnya yang memaksanya ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya.

Tidak sampai lima menit, Sakura kembali datang membawa sebotol air minum dalam kemasan dan bersamaan dengan—

"Hoeeek,"

—muntahnya Naruto.

.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul 04.15 ketika Naruto dan Sakura memutuskan untuk pulang setelah puas menikmati berbagai macam wahana permainan dan bermain di game center. Namun, niat itu batal ketika Sakura melihat sebuah kalung yang bermatakan kupu-kupu berwarna ungu dan pink menarik perhatiannya.

"Ah, kalungnya manis banget."

Naruto mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya lalu menatap Sakura lagi. "Yang mana sih, Sakura-chan?"

"Yang itu, Naruto." Kata gadis itu seraya menunjuk kearah yang dimaksud. Namun, senyuman gadis itu pudar ketika menyadari mesin yang digunakan untuk mengambil barang-barang yang ada di dalam wadah tertutup tersebut rusak—dari tulisan yang tertempel di sana. "Ah, tapi mesinnya lagi rusak." Ucapnya kecewa.

"Sakura-chan suka?" Tanya pemuda itu lagi.

Sakura menghela napas kecewa. "Sudahlah, lebih baik kita pulang—Hei," Sakura sedikit terkejut ketika Naruto malah memasukkan sebuah beberapa koin kedalam mesin tersebut dan mulai menggerakkan mesin tersebut yang ternyata mau digerakkan.

"Kalau rusak, kenapa mau bergerak?" Tanya pemuda itu.

"Mana ku tahu," kata Sakura seraya memperhatikan arah gerak mesin tersebut. "Naruto, lebih baik kau hentikan. Bagaimana kalau ada petugas yang melihat?"

"Tidak apa-apa, Sakura-chan. Sebentar lagi—ahh, gagal!" gumam pemuda itu ketika kotak kalung yang tadi sudah berhasil diangkatnya terjatuh saat akan dipindahkan.

"Sudahlah, Naruto, tidak apa-apa. Kalau ketahuan nanti bahaya,"

"Sekali lagi, Sakura-chan." Kata pemuda itu seraya mengeluarkan beberapa koin lagi untuk dimasukkan ke dalamnya. Dan mulai fokus lagi mengarahkan mesin tersebut untuk mengambil kotak kalung tersebut.

"Sudahlah, itu 'kan aku yang menginginkannya." Ucap sakura ketika melihat Naruto yang masih juga bersikeras untuk mengambil kalung itu. "Tidak perlu seperti itu."

"Bukan." Naruto member jeda sejenak. Safir dan tangannya masih fokus pada mesin tersebut. "Justru karena kaulah, maka aku harus mendapatkannya."

"Hah?"

"Aku 'kan ingin memberikan hadiah untuk gadis yang kusukai,"

Duk.

Kotak kalung itu terjatuh tepat didalam lubang yang menghubungkannya dengan kotak di bagian bawah mesin tersebut. Masih dalam keadaan terperangah, Sakura hanya diam melihat. Meskipun begitu, ia tidak menyadari kalau wajahnya sudah memerah sekarang. Apalagi setelah Naruto berhasil mengambil kalung tersebut dan tersenyum kearahnya.

"Lihat, berhasil 'kan?"

Sakura merasa waktu seakan berhenti saat itu juga. Ia tidak sadar kalau saat itu wajahnya yang tengah menatap Naruto itu memerah. Pemuda itu tersenyum. Dan Sakura hanya diam terpaku di tempatnya berdiri diiringi dengan debaran jantungnya yang seakan-akan mulai menjauh dari batas normal.

.

.

.

.

:: To Be Continued ::

Author's Note ::

Yeeey, minna~ Zena balik lagiiiii... maaf baru bisa apdet sekarang.. maaf.. kalo kalian nunggu sampe lumutan.. *minna::spa juga yg nungguin?/author::pundung di pojokan*

yosh, di chapter ini kayaknya scene narusaku yang mendominasi dulu. ga papa kan ya? oh ya, untuk bagian naru yang ngasih kalung ke saku itu sya ambil dari komik sweet lollipop.. trus.. trus apalagi ya?

oh ya, sya mau bales repiu buat yang Anonymous dulu ::

Shan chan :: hehe.. sbelumnya thx udah mau RnR y ^^ syukur deh kalo kmu suka ceritanya.. yosh, ni dah apdet! maaf kalo nggak kilat ya.. silakan mampir lagi~

Angin malam :: hai, alhamdulillah, baik! kmu apa kabar juga? smoga baik jga kyak sya ^^ hehe.. sbenernya sya mo bikin lagi sekuelnya, tapi sya bingung mo nulisnya gmana..*plakk* hoho.. syukur deh kalo kmu suka juga.. yosh, ni dah apdet! silakan mampir lagiii~

Mamoka :: hai, Mamoka-san ^^ thx udah mau RnR ya.. 2x lagi.. hehe.. ga papa telat repiu, yg pntig repiu *plakk* yosh, ni dah apdet, maaf kalo lama.. silakan mampir lagiii~

buat yg repiu pke login, udah sya bales lewat PM.. silakan dibuka dan dibaca surat cinta dari sya.. *minna :: kaburr!*

yosh, sekian dulu a/n kali ini.. terima kasih sudah mau membaca lagi.. oh ya, selamat merepiu dan menunggu chapter selanjutnyaaa~ *dihajar rame2*

Big Hugs,

Zena Scarlet.