cerita sebelumnya….
Hiruma melirik Mamori yang masih memandang di luar jendela. Hiruma tahu ia merasa sangat bersalah sekarang dan ternyata ego mengalahkannya. Ternyata kata 'maaf' sangat sulit diucapkan oleh laki-laki bernama Hiruma Youichi tersebut.
Warning : Gak jelas, absurd, OOC, Gak nyambung, typo stadium akhir, dan jenis kesalahan fatal lainnya
Pairing : Hiruma x Mamori
Rating : T
Genre : Romance dan sedikit hurt/comfort
Song : Haru Haru (Day by Day) eng version by Big Bang
.
YEAH
FINALLY I REALIZED
THAT I'M NOTHING WITHOUT YOU
I WAS SO WRONG
FORGIVE ME
Hampir sepanjang perjalanan tak ada satupun dari mereka berdua—Hiruma dan Mamori angkat bicara. Keduanya sibuk terhadap pikiran masing-masing. Hiruma memberhentikan mobilnya tepat di depan pagar sebuah rumah mewah bergaya Jepang Eropa yang bertuliskan ANEZAKI di depan rumah tersebut, siapa lagi kalau bukan rumah kekasih Hiruma yang kini duduk di sampingnya. Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, Mamori membuka pintu mobil jeep milik Hiruma dan keluar tanpa berpamitan dengan Hiruma yang sedang memandangnya. Hiruma bingung, akan tetapi ekspresi poker face andalannya masih ia gunakan. Hiruma hanya bisa memandang Mamori dari dalam mobilnya, memandang Mamori dengan rasa bersalah—memandang Mamori yang perlahan memasukki rumah mewahnya. Setelah Hiruma tak melihat sosok Mamori, ia menancapkan gas mobilnya untuk meninggalkan kediaman Mamori. Rasa bersalah dan menyesal ternyata masih ada dalam hati kecil Hiruma.
'Bodoh! Seharusnya aku tadi mencegahnya untuk masuk rumah sialannya itu. Dan aku seharusnya tadi memarahinya habis-habisan. Tidak..tidak..seharusnya aku yang meminta maaf kepadanya. Arrrgg shit! Dia yang seharusnya meminta maaf padaku!' Hiruma merutuki dirinya sendiri sambil memukul setir mobil sebagai pelampiasan kekesalannya.
.
Mamori masuk ke dalam rumah dan menutup pintu paling depan rumahnya. Ia bersandar di pintu tersebut—dan ia mendengar suara mobil Hiruma menjauhi Hiruma dan perlahan suara mobil Hiruma pun hilang. Mamori memasukki rumahnya dengan gontai, pikirannya sudah merancau kemana-mana. Sang ibu Mamori—Mami Anezaki mendekati putrinya yang kurang bersemangat itu.
"Mamo? Ada apa? Kenapa kau tidak terlihat ceria begitu? Bahkan Ibu tak mendengar kau pulang."
Mamori hanya diam tak menjawab pertanyaan dari ibunya tersebut bahkan ia memanggil nama ibunya dengan raut wajah sedih, "Ibu."
"Iya Mamo?" Balas Mami dengan nada lembut seperti biasanya.
"Aku akan menerima tawaran itu."
"Ta—tawaran apa?" Tanya Mami bingung.
"Tawaran beasiswa bu." Jawab Mamori dengan senyuman, "Mamo mau menerima tawaran beasiswa itu."
"Hah? Bukannya kau sebelumnya menolak sayang?"
Mamori menggelengkan kepalanya pelan, "Itu dulu Bu, Mamo sudah berubah pikiran. Setelah Mamori pikir-pikir, mendapatkan beasiswa di Inggris itu merupakan kesempatan emas. Jadi Mamo tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas itu." Kata Mamori mantap.
"Ibu senang apabila kau senang Mamo sayang. Tapi, apa kau tidak keberatan apabila kau meninggalkan te—"
"Tidak Ibu. Mamo hanya ingin mencapai cita-cita Mamo. Mamo ingin membanggakan Ayah dan Ibu." Potong Mamori dengan penuh keyakinan.
Mami hanya bisa tersenyum bahagia mendengar penuturan anak semata wayangnya tersebut, "Baiklah. Ibu akan selalu mendukungmu sayang. Jadi kapan kau akan berangkat?"
"Mungkin besok pagi Bu. Karena tadi pagi Mamori sudah mengurus semuanya—jadi Mamo hanya tinggal berangkat saja."
"Kenapa mendadak sekali Mamo? Apa kau tidak mengabari teman-temanmu dulu?"
Mamori menggeleng, "Tidak Bu. Bahkan Mamo merahasiakan ini semua. Jadi, Mamo mohon pada Ibu jangan beri tahu siapa pun ke mana Mamo pergi."
"Bahkan Sena dan Suzuna?"
"Tidak satu pun Bu. Kumohon." Mamori memegang lengan Ibunya—memohon. Mami menganggukkan kepalanya dan tersenyum setuju.
My broken heart like a wave
My shaken heart like a wind.
My heart vanished like smoke
It can't be removed like a tattoo
I sigh deeply as if a ground is going to cave in
Only dusts are piled up in my mind
(say goodbye)
Hiruma's Bedroom
Hiruma terbaring di ranjang king size miliknya sambil memandangi layar handphone-nya. Ia memandangi foto Mamori yang tersenyum lebar memamerkan kecantikannya dalam foto yang dijadikan sebagai wallpaper di handphone-nya. Hiruma sesekali mengusap foto Mamori yang terpampang jelas di layar handphone tersebut. Entah kenapa Hiruma sangat merindukan sosok berparas cantik bagaikan bidadari tersebut, padahal baru satu jam yang lalu wanita itu duduk di samping Hiruma saat berkendara. Rasa penyesalan berhasil memenuhi hatinya, tapi apa daya—sekian kalinya ego dan gengsi yang tinggi masih unggul di dalam hatinya. Ia tak ingin meminta maaf duluan, yah Hiruma takut kalau image-nya akan turun. Mana ada iblis meminta maaf pada malaikat. Tanpa disadari Hiruma memulai mengetik tombol-tombol handphone-nya.
To : My Lovely fucking manager
Oi, bersiaplah kau besok akan kuhukum. Kekekeke
Dengan seringai senang melihat hasil karyanya yang ia tulis di handphone, tanpa pikir panjang Hiruma mengirim pesan singkat tersebut ke manajer kesayangannya. Ia sangat berharap wanita cantik itu membalas pesannya—walaupun ia tahu bahwa Mamori pasti sedang kesal dengan dirinya.
.
Mamori's Bedroom
Mamori yang sedang mengemasi beberapa barang-barangnya ke dalam sebuah tas besar, tersentak saat handphone berwarna merah muda miliknya bergetar di atas meja belajar yang tak jauh dari posisinya sekarang—ia membaca pesan singkat Hiruma. Mamori sedikit bimbang untuk membalas pesan tersebut atau tidak. 'Tidak..tidak..lebih baik jangan' pikir Mamori sambil menggelengkan kepalanya dan mematikan handphone-nya tersebut.
"Maafkan aku Hiruma-kun…"
Hiruma's Bedroom
"Cih! Berani-beraninya ia tak membalas SMS-ku!" Rutuk Hiruma pada dirinya sendiri.
Sudah hampir setengah jam Hiruma menunggu balasan pesan dari Mamori—akan tetapi hasilnya nihil. Mamori sepertinya benar-benar tak membalas pesannya. Dengan sedikit kesal karena menunggu, Hiruma mulai menghubungi nomor Mamori.
"Shit! Dia juga tidak mengaktifkan nomernya? Dasar sialan!" Hiruma membanting handphone hitam yang tak bersalah tersebut ke sampingnya. Hiruma memejamkan matanya, mencoba untuk melupakan kekesalannya.
Yeah, I thought I wouldn't be able to live even one day without you
But somehow I managed to live on (longer) than I thought
You don't answer anything as I cry out "I miss you"
I hope for a vain expectation but now it's useless
.
Keesokan harinya, di pagi yang cerah—Universitas ternama Jepang yakni Saikyoudai University juga sudah dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa yang berlalu lalang di berbagai sudut kawasan Universitas yang sangat besar. Tampak seorang laki-laki berwajah tampan, dengan rambut spike berwarna pirang, anting-anting yang terpasang di kedua telinga elfnya, serta pistol AK-47 yang selalu ia bawa kemana pun—terlihat jelas laki-laki keren yang bernama Hiruma Youichi ini sedang tidak dalam mood yang baik. Ia tampak mencari-cari sesuatu yang hilang. Dengan kasar ia membuka pintu ruang klub American Football Saikyoudai University—yang sudah terdapat beberapa pemain handal di dalamnya.
"Di mana manajer sialan?"
"Sepertinya dia belum datang Hiruma-san." Jawab Ikkyu.
Hiruma berdecak kesal, gagal mencari sosok yang ingin ia temui saat ini. Nomor Mamori pun sangat sulit Hiruma hubungi. Sudah berkali-kali ia mengirimkan pesan singkat pada Mamori, tapi tak satupun ada jawaban ataupun respon. Hal inilah yang semakin membuat Hiruma naik pitam. Dengan sangat kesal, Hiruma meninggalkan ruang klub Amefuto tersebut dan membuat beberapa temannya keingungan.
"Hei Hiruma! Apa tidak ada latihan?" Teriak Juumonji pada Hiruma yang semakin menjauhi ruang klub. Ternyata teriakan Juumonji tak mendapat respon yang pati dari Hiruma.
.
Mamori's House
"Mamo sayang, apa kau yakin Ibu tak ikut mengantarmu ke bandara?" Tanya Mami Anezaki dengan khawatir.
"Tidak apa-apa Bu, lebih baik Ibu di rumah saja agar teman-temanku tidak curiga bahwa aku akan pergi. Lagipula ada Ayah yang akan mengantarkan Mamo." Jawab Mamori lembut seraya memeluk Ibunya dengan erat.
"Jaga dirimu baik-baik sayang. Kalau ada apa-apa segeralah menghubungi Ibu ya? Ibu pasti akan sangat merindukanmu." Kata Mami sambil membalas pelukan putri semata wayangnya dengan terisak.
"Sudah Ibu jangan menangis. Mamo juga tak akan tinggal selamanya di Inggris. Ibu juga jaga kesehatan Ibu, kalau ada apa-apa juga segera hubungi Mamo agar Mamo bisa pulang." Mamori mengelus lembut pundak Ibunya.
"I—iya sayangku." Mami merenggangkan pelukannya dan menghapus air matanya.
"Nah, kalau Ibu seperti ini Ibu tampak cantik." Senyuman terukir indah di wajah cantik Mamori.
Mamori melangkahkan kakinya menuju sang Ayah yang sudah duduk di kursi pengemudi mobil. Sang Ibu melambaikan tangan hingga mobil itu melaju menghilang meninggalkan rumah.
.
Hiruma memasuki mobil jeep kesayangannya—dan menjalankan menuju ke rumah Mamori. Dengan kecepatan tinggi, tak terasa Hiruma sudah berada di depan rumah mewah milik keluarga Anezaki tersebut. Diketuklah pintu rumah mewah itu, tapi tak ada jawaban. Sekali lagi Hiruma mencoba memencet tombol bel rumah itu dengan sedikit kasar. Dan tiba-tiba pintu rumah tersebut terbuka dan tampak seorang wanita paruh baya yang membukanya—tak lain adalah wanita paruh baya yang mirip sekali dengan Mamori.
"Di mana dia?" Tanya Hiruma dengan wajah tanpa ekspresinya.
"Maaf. Mamo tidak berada di rumah sekarang." Jawab Mami masih dengan senyuman yang terpampang di wajahnya.
"Di mana dia?"
"Maaf. Aku tak bisa member tahumu."
Hiruma mengangkat sebelah alisnya bingung dengan jawaban Mami Anezaki tersebut, "Kenapa?"
Mami hanya bisa menggelengkan kepalanya menolak untuk menjawab pertanyaan Hiruma. "Kumohon, katakan di mana Mamori sekarang?" Ucap Hiruma dengan nada sedikit memohon.
Sekali lagi Mami menggelengkan kepalanya, "Maaf aku tak bisa mengatakannya nak Youichi. Sebaiknya kau pulang sekarang." Kata Mami lembut. Mami sangat kecewa dan sedih tak memberitahu keberadaan Mamori kepada Hiruma, akan tetapi janji tetaplah janji. Ia sudah berjanji pada Mamori untuk tidak memberitahu kepada siapapun di mana Mamori berada. Hiruma membungkukan badannya 90 derajat pada Mami tanda Hiruma harus pergi dari tempat di mana ia berada sekarang, "Permisi."
Setelah mengucapkan kata tabu tersebut bagi Hiruma, ia segera kembali menuju ke mobilnya. Dengan cepat pula, Hiruma menancapkan gas mobilnya—sambil menyetir Hiruma memencet salah satu nomor yang tersimpan di dalam kontak handphone yang ia pegang sekarang, ia memencet sebuah nomor dengan nama cebol sialan yang terpampang dan segera menghubunginya.
"Ha—halo? Hi—hiruma-san?" Sahut seseorang di seberang sana—tak lain adalah Sena Kobayakawa.
"Di mana manajer sialan?" Tanya Hiruma to-the-point.
"A—aku tidak tahu Hiruma-san. Kupikir ia sedang kuliah sekarang."
Dan dengan cepat Hiruma mematikan sambungannya, sekali lagi ia mencoba menghubungi seseorang dengan orang berbeda tentunya. Sebuah nama Cheers sialan Hiruma memilih untuk menghubunginya.
"Halo You-nii ada apa?" Tanya Suzuna di seberang sana dengan ceria.
"Di mana manajer sialan? Kau bersamanya sekarang?"
"Mamo-nee? Tidak… aku tidak bersamanya sekarang, aku sekarang aja masih di kampus. Kurasa Mamo-nee juga kuliah pagi ini."
Hiruma berdecak kesal dan memutuskan sambungan teleponnya dengan Suzuna. 'Di mana kau sekarang Mamori?' kata Hiruma dalam hati.
What is it about that person next to you, did he make you cry?
Dear can you even see me, did you forget completely?
I am worried, I feel anxiety because I can't get close nor try to talk to you
I spend long nights by myself, erasing my thoughts a thousand times
.
20 menit lagi pesawat yang akan dinaikki Mamori segera berangkat. Akan tetapi Mamori masih tak ingin meninggalkan tempat di mana ia berdiri sekarang.
"Mamo, 20 menit lagi pesawatmu akan berangkat. Sekarang lebih cepat kau masuk ke sana, barang-barangmu juga sudah ada di pesawat kan?" Kata Ayah Mamori menyadarkan Mamori dari lamunanya.
"Tunggu sebentar lagi ya Yah?"
"Sedang menunggu seseorang, hm?"
"Ti—tidak kok, Mamo cuma ingin memandangi sebentar keadaan bandara Jepang Ayah."
Ayah Mamori hanya tersenyum mendengar penuturan putri semata wayangnya tersebut. Mamori memandangi handphone yang digenggamnya. Sejak tadi malam hingga sekarang, Mamori tak menyalakan handphone-nya. Perlahan ia menyalakan handphone-nya. Betapa kagetnya Mamori saat melihat 30 SMS masuk dan itu semua merupakan pesan singkat dari Hiruma—dan hampir seluruh isi pesan itu sama, menanyakan di mana Mamori berada.
From : Hiruma-kun
Hei, manajer sialan kau di mana sekarang?
From : Hiruma-kun
Manajer sialan kau di mana?
From : Hiruma-kun
Manajer sialan kau di mana sekarang? Aku mencemaskanmu.
Mamori semakin terkejut saat melihat ada 10 voice mail dari Hiruma. Satu persatu Mamori membukanya dan terdengar suara Hiruma dengan pertanyaan yang sama—di mana Mamori berada.
Manajer sialan, kau di mana? kau tak bisa dihubungi, kau tak membalas smsku.
Di mana kau sekarang? Cepat hubungi aku sekarang juga atau kau akan kulemparkan ke neraka!
Mamori membuka voice mail terakhir dari Hiruma. Terdengar jelas suara Hiruma yang melembut dan dengan nada kecemasan yang sangat tinggi.
Mamori, kau di mana? Tolong jawab aku di mana kau sekarang? Maafkan aku. Aku memang salah. Sungguh aku tak membencimu. Aku merindukanmu Mamori. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.
Air mata sudah jatuh membasahi pipi putih Mamori. Mamori tak kuat menahannya. Ia juga merasa apa yang dirasakan Hiruma. Tak disangka laki-laki yang dicintainya ternyata sangat mengharapkan dirinya. Nasi sudah menjadi bubur. Masih terisak, Mamori memencet tombol-tombol handphone-nya.
To : Hiruma-kun
Hiruma-kun, maafkan aku. Aku akan pergi sementara waktu. Kita akan bertemu lagi jika takdir mempertemukan kita. Sekali lagi maaf, aku tak bisa memberitahumu ke mana aku akan pergi. Memang ini sangat mendadak. Maafkan aku Hiruma-kun, aku telah membuatmu kecewa. Terima kasih sudah mencintaiku. Jaga dirimu baik-baik. Aku juga sangat mencintaimu.
Pesan Mamori sudah terkirim yang ia tujukan pada Hiruma. Mamori mengapus air matanya—dan ia mulai bergegas untuk meninggalkan tempat di mana ia berdiri tadi.
.
Don't look back and leave
Don't find me again and live (on)
Because I have no regrets from loving you, take only the good memories
I can bear it in some way
I can stand in some way
You should be happy if you are like this
I become dull day by day (eh eh eh eh)
Saikyoudai University
Hiruma kini sedang duduk di sofa kesayangannya yang berada di ruang klub Amefuto—ia istirahat sejenak saat ia merasa pikiran serta fisiknya sangat lelah karena Mamori. Dan betapa Hiruma sangat dan sangat terkejutnya saat menerima dan membaca pesan pertama yang ia dapatkan dari Mamori pagi ini. Hiruma menggeram frustasi, membaca tulisan pesan Mamori. Hiruma membanting dengan kasar handphone yang tak bersalah itu ke lantai hingga baterai dan beberapa bagian handphone terlepas dan tergeletak tak berdaya. Hiruma menjambak rambut spike-nya frustasi. Kini rasa penyesalan dan bersalah menghantui pikiran serta hatinya.
OH GIRL
I CRY CRY
YO MY ALL
SAY GOODBYE BYE
OH MY LOVE
DON'T LIE LIE
YO MY HEART
SAY GOODBYE
Yeah, Finally I realize that I am nothing without you
I was so wrong, forgive me
-TO BE CONTINUED-
minnasan..yeorobun...
maaf banget saya telat update, tidak sesuai dengan janji saya tidak jadi menamatkan cerita ini di chapter 3... maaaff T_T
terima kasih sangat kepada yang uda buat review XD review, fav, ataupun follow dari kalian sungguh sangat berharga untukku :D terima kasih banyak untuk semuanya...
special thanks for : You chan, Hiruma Hana, Y0uni D3VILL, Novrie TomatoCherry, Michelle, rikuchanruu44, Aika Licht Youichi, Hiruma Yuuzu, Mayou Fietry, Sasoyouichi, Hitsugaya Bintang Zaoldyeck, Rannada Youichi yang sudah me-review chapter 2 :D
