Timbuktu

Severus Snape, Hermione Granger, Neville Longbottom kepunyaan JK Rowling, sementara Paman Gober, Donal Bebek, Kwik, Kwek, Kwak, Lang Ling Lung, dan Mimi Hitam kepunyaan Carl Banks serta Don Rosa

Rating T. Genre Adventure dan Friendship.

Tadinya akan diikutsertakan dalam 20K of Epicness Challenge, tapi karena males nerusinnya *bletags* dan baru berniat lagi sekarang, jadilah ini dimasukkan ke Sans Romance Challenge

-o0o-

3. Atacama

Kelompok pencari Keping Pertama akan segera berangkat. Lang Ling Lung memperkenalkan Severus, Hermione, dan Neville pada Pak Pilot yang akan menerbangkan pesawat.

Mereka bersembilan jadinya. Severus, Hermione, Neville, Lang Ling Lung, Lampu, Pak Pilot, dan Kwak, Kwik, Kwek.

Sambil membereskan barang-barang yang diperlukan untuk dibawa, Hermione memperhatikan bahwa Pak Pilot juga memuat beberapa jeriken air putih, disamping kotak-kotak makanan dan barang lainnya.

"Apakah air minum barang langka di Atacama?" tanyanya penasaran.

"Atacama itu gurun, nona. Bukan barang langka lagi, tapi tidak ada air sama sekali. Sudah 10.000 tahun tidak pernah turun hujan di sana—" sahut Pak Pilot.

"WAH!" Neville ikut nimbrung. Setelah memasukkan ranselnya ke atas pesawat kecil itu, dia mendekat pada Pak Pilot, dan ikut membantu menaikkan jeriken air. "Lalu, bagaimana orang bisa hidup di sana?"

"Orang yang asli tinggal di sana, orang Indian Atacamenos, mereka memanfaatkan kabut untuk mendapatkan air. Kabut di sana tidak pernah berubah menjadi air hujan seperti kita, sehingga mereka 'menangkap'nya dengan jaring di atas atap rumah. Kabut dan embun. Mereka menyebut kabut tebal itu camanchaca—"

"Wah!" lagi-lagi Neville terkagum. "Mereka dapat banyak?"

"Bisa dapat 10 ribu liter tiap hari, lho!"

Kali ini tidak bisa 'Wah!' tapi mulut Neville sampai ternganga.

"Bisa sebanyak itu?" Hermione turut membantu menaikkan kotak makanan.

"Kalau tidak begitu, mereka tidak akan bisa bertahan hidup di sana, nona," Pak Pilot menaikkan jeriken terakhir ke atas pesawat. "Di sana juga ada observatorium terbesar, karena langitnya paling bersih. Para astronom bebas mengamati bintang sepuasnya. Tapi, karena susah air itu, makanya mereka juga harus mendatangkan banyak air di samping makanan—"

Ia berdiri memandangi semua pasokan makanan dan air yang tadi dimasukkan, merapikan sedikit, lalu kembali memandangi. Mengecek silang dengan daftar yang sudah dibuat, dan ia menghela napas dengan puas.

"Perbekalan sudah lengkap. Barang-barang kalian sudah dinaikkan juga?"

Ketiga keponakan bebek, Hermione dan Neville mengangguk. Barang-barang guru mereka, juga kepunyaan Lang Ling Lung, sudah terlebih dahulu masuk ke pesawat.

"Baik, perbekalan sudah siap, mesin sudah dicek, bahan bakar juga cukup, mari kita berangkat!"

Severus dan Lang Ling Lung, juga bersama Lampu, tak banyak bicara saat naik ke pesawat. Disusul Hermione, Neville, lalu Kwak, Kwek, Kwik. Severus, Lang Ling Lung dan Lampu duduk di depan, tepat di belakang Pak Pilot, lalu anak-anak duduk di kursi-kursi di belakangnya.

"Siap semuanya? Sudah kencangkan seat belt?"

"Sudaaaaah!" anak-anak kompak menjawab.

Pak Pilot kemudian mengeluarkan peta, membukanya sedemikian rupa sehingga Severus dan Lang Ling Lung bisa melihatnya dengan mudah.

"Profesor Snape, aku sadar kalau kastilnya hanya bisa dilihat dengan kapasitas sihir. Unplottable. Bagaimana kalau anda menunjukkan daerahnya, kira-kira, di peta ini?"

Severus mengeluarkan tongkatnya, menunjuk pada suatu titik di peta negara Chile. Komat-kamit mengucapkan mantra tertentu, dan pada peta itu mendadak muncuk ikon kastil.

"Kordinatnya sudah tertera juga di situ—" sahut Severus.

"Baik. Terima kasih. Mari kita berangk—"

Kresek-kresek.

Pak Pilot berpandangan dengan Lang Ling Lung dan Severus. Anak-anak saling berpandangan antar mereka.

Lagi.

Kresek-kresek.

Kresek-kresek.

Ada apa?

Apakah ada tikus di antara barang-barang bawaan?

"Lang Ling Lung, coba kau lihat—" Pak Pilot tak jadi memajukan pesawatnya di runway.

Lang Ling Lung membuka seat belt-nya dan berdiri, mengamati tumpukan barang-barang bawaan dengan seksama. Konsentrasi matanya kemudian terarah pada sebuah tumpukan—

—bergerak-gerak tak tentu arah—

Hap!

Dicengkeramnya tumpukan itu, ditariknya plastik pembungkusnya, dibukanya—

—Donal Bebek?

"Donal? Sedang apa—"

Seisi pesawat sudah membuka seat belt-nya dan turut mengerubungi Lang Ling Lung, melihat hasil temuannya.

"Paman Donal—"

"—lagi ngapain?"

"Eh—ak—aku—"

Kalau sudah begini, biasanya Donal Bebek sedang dalam keadaan darurat, melakukan kesalahan yang fatal, dan memerlukan satu tempat untuk melarikan diri—

"Yah," sahut Pak Pilot, mengangkat bahu, "tambahan seekor bebek tak mengapa. Paling kita jadi harus agak menghemat penggunaan air nanti—"

Dan dia memulai lagi memajukan pesawat untuk berjalan kemudian menambah kecepatan di runway, dan terbang.

-o0o-

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 13 jam, berhenti di Peru dahulu untuk mengisi bahan bakar, mereka akhirnya terbang rendah di dataran gurun Atacama. Benar-benar gurun, tak ada tanaman terlihat di permukaan.

"Benar-benar sekering ini?" Hermione takjub.

"Di sebelah sana," Pak Pilot menunjuk, "daerah camanchaca, jadi ada kaktus dan pakis. Hijau-hijau sedikit—"

Hermione dan Neville berebut melihat dari jendela, sementara Kwik-Kwek-Kwak berebut melihat dari jendela satunya lagi. Nggak kepikir mungkin ya, bahwa pesawat itu punya paling tidak 10 jendela lagi untuk mereka melihat keluar satu jendela satu orang—

Pesawat terbang semakin rendah. Kecepatan juga sudah diturunkan. "Anak-anak, pakai lagi seat belt-nya, kita akan mendarat—" Pak Pilot mengumumkan.

Tapi, keningnya berkerut. "Profesor Snape, apakah kordinatnya benar? Kok tak terlihat bangunan apapun?"

Seluas mata memandang hanya lautan pasir kering, kemerahan karena terpapar matahari yang sudah akan tenggelam.

"Tidak, benar ada di sini. Mendarat sajalah—"

Tak bertanya lagi, Pak Pilot memusatkan perhatian pada daratan. Di mana-mana hanya pasir, tak ada landasan. Untunglah pesawat sudah dilengkapi untuk mendarat di air. Jadi, Pak Pilot merasa, akan lebih baik menggunakan fasilitas itu. Daripada pesawat terbenam di pasir, dan atau nanti jika akan berangkat lagi, tak bisa mengudara?

Mendarat dengan mulus, Pak Pilot menghela napas lega. "Oke, kita sudah sampai pada kordinat yang ditentukan. Sekarang, bagaimana?"

Severus melepas seat belt-nya, dan berdiri. Menuju pintu. Pak Pilot mafhum akan ke mana perginya, dan ia menekan tombol pembuka pintu. Pintu terbuka, bersama tangga yang otomatis terpasang.

Severus turun. Mantap matanya memandang ke satu arah, seakan di situ ada sesuatu yang bisa dilihat.

Tapi ia tak membiarkan yang lain kebingungan. Diangkatnya tongkatnya, dan dibisikkan mantranya, "Discloserus—"

Sembilan pasang mata terbelalak melihat sebuah kastil besar tiba-tiba berdiri di depan mereka. Berbeda dengan sekitarnya, padang pasir terpapar matahari tanpa tedeng aling-aling, menyilaukan, kastil ini gelap warnanya. Mungkin batu yang dipakai membangunnya berwarna gelap. Dan kesannya dingin. Agak mengherankan, karena di sekelilingnya bukankah tak ada air? Sedang kastil ini, seperti yang dibangun di atas tanah normal, dengan kandungan air yang banyak. Menghisap suhu-nya dan menebarkan ke sekelilingnya—

Cukup membiarkan yang lain terkagum-kagum pada kastil itu, Severus mendekati salah satu sisi dindingnya. Mengetuknya pelan.

"Siapa?"

Suara itu jelas terdengar, seolah tepat di balik dinding itu ada seorang wanita yang sedang mendengarkan. Nyaris saja kesembilan petualang kita terlonjak selangkah ke belakang.

"Severus Snape—" sahut Severus.

"Dan kawan-kawanmu yang lain? Bukan kaki tangan Si Hidung Pesek 1) itu kan?"

Tak langsung menjawab, Severus memberi isyarat pada Hermione dan Neville agar maju. "Hermione Granger, Neville Longbottom, murid-muridku di Hogwarts," lalu ia memberi isyarat lagi pada Lang Ling Lung yang maju bersama Lampu, "Lang Ling Lung bersama Lampu, sesama ilmuwan," kemudian pada keempat bebek, "Donal Bebek dan ketiga keponakannya, Kwak, Kwik, Kwek," terakhir pada pilot, "dan Pak Pilot—"

Menunggu beberapa saat, kemudian dinding yang seakan tak berpintu itu tiba-tiba membuka. Seolah ada sebuah pintu tinggi besar yang tersembunyi di sana.

Severus memberi isyarat pada yang lain untuk masuk. Mereka menyusuri lorong yang gelap dan berkelok, naik dan turun, membelok dan menikung. Berakhir di sebuah ruangan tinggi dan besar.

Berbeda dengan lorong gelap tadi, ruangan ini agak terang. Ada beberapa obor di tiang-tiang di sisi ruangan. Dan ada kursi tinggi, megah dan mewah di kepala ruangan, berdiri megah di atas beberapa undakan.

Bertepatan dengan mereka memasuki ruangan, dari pintu di sisi lain, masuklah seorang penyihir wanita. Berbeda dengan guru-guru di Hogwarts yang sering memakai jubah dan topi tinggi berwarna hitam, penyihir ini memakai jubah dan topi tinggi putih.

"Victoria Blanc. Aku baru sadar, kalau Blanc itu artinya putih—" Hermione berbisik.

"Well, Severus. Ada apa gerangan hingga kau sudi menginjak kastilku ini lagi? Voldemort kini sudah kalah, kan; dan kau sudah bisa mengumumkan pada dunia luar, pada siapa kau bekerja sesungguhnya?"

Severus tak menjawab. Ia malah mengeluarkan sebuah kantung kertas. Barang bukti. Beberapa butir pasir yang ada di sekitar tempat di mana seharusnya Keping Pertama berada.

Sama tak bicara, Victoria menerima kantung itu, mengeluarkan isinya, dan menelitinya.

"Ya, ini memang pasir Atacama. Sama sekali tak ada kadar air di dalamnya. Dari mana pasir ini kau dapat?"

"Kami sedang mengadakan acara di Kota Bebek," Severus mulai menceritakan peristiwa kemarin secara detail.

"Mimi Hitam?" Kening Victoria berkerut mendengar nama itu disebut.

"Ya, kau mengenalnya?"

"Salah satu sepupu jauh. Dan ia bisa dibilang sering kemari. Sebentar, kaubilang, ia diduga mencuri Keping Pertama?"

Lang Ling Lung yang menjawab, "Biasanya ia memang mengincar Keping Pertama—"

"Tetapi?" Victoria semakin ingin tahu.

"Kalau memang ia mencurinya, bagaimana tongkat ini," Severus mengeluarkan sebuah tongkat sihir, "—justru terlepas dan jatuh?"

Victoria menerima tongkat itu dan mengamatinya. "Memang benar, ini tongkat Mimi. Seorang penyihir tak akan ceroboh menjatuhkan tongkatnya begitu saja, apalagi kalau ia sudah dekat dengan sasarannya. Kalau memang ia yang mencuri, nanti bagaimana ia akan membuat ramuan dengan Keping Pertama itu jika tongkatnya malahan jatuh?"

Lalu ia menatap Severus, "Bagaimana dugaanmu?"

Severus berdeham. "Kukira, mungkin sebenarnya pada awalnya Mimi memang akan mencuri Keping Pertama. Akan tetapi, ada orang lain yang bermaksud sama, dan bertindak sedikit lebih cepat dari Mimi. Mungkin bahkan terjadi perkelahian, dan tongkatnya jatuh. Mungkin juga akibat gempa. Dan saat orang itu ber-Disapparate, atau teknik lain yang serupa, Mimi terbawa—"

"Dan Mimbulus Mimbletonia-ku juga—" suara Neville lemah menambahkan.

"Sebentar. Gempa?" kening Victoria semakin bertambah kerutannya.

"Ya. Gempa di Kota Bebek kemarin, sepertinya cukup besar. 7 skala Magnitude—" Hermione ikut menambahkan.

"Apakah mungkin—" Victoria menelan kata terakhir yang akan disebutkannya.

"Mungkin apa, nona Blanc?" tanya Lang Ling Lung.

"Aku tak tahu, tapi mungkinkah itu—Sandman?"

"Manusia—"

"—pasir—"

"—itu?—"

"Mengapa kau pikir demikian?" Severus ingin tahu.

"Dia memang bukan dari Atacama, tetapi beberapa kali orang-orangku memergokinya berada di sekeliling kastil. Entah apa yang ia ingin curi, tetapi aku sudah mewaspadainya. Kemungkinan besar ia berangkat ke Kota Bebek dari Atacama, kalau begitu, dan pasir ini jatuh dari tubuhnya. Lalu—"

Ia menghela napas sejenak, "—kalau memang ia, berarti gempa kemarin itu bukan fenomena alam. Itu ia yang membuatnya—"

"Agar orang panik, sementara ia bisa mencuri dengan tenang?" tanya Hermione. "Tapi, bagaimana ia bisa membuat gempa?" susulnya.

"Jagoan sekali kalau ia bisa membuat gempa—" Lang Ling Lung terkagum-kagum.

"Sebenarnya, bukan membuat gempa. Bukan membuat gempa dari ketiadaan. Gempa hanya bisa dibuat di daerah yang memang potensial gempa. Kalian yang hidup di Kota Bebek tentu tahu bahwa Calisota 2) didirikan di atas lempeng San Andreas, rawan gempa setiap saat. Dengan kapasitas sihir yang dimilikinya, ia bisa melihat jauh ke dalam kulit bumi, melihat potensi gerakan lempeng, dan menggerakkannya—"

"Wow! Ia bisa membuat gempa sesuka hati?"

Victoria menggeleng. "Tentu saja tidak. Ia harus melihat potensi gempa suatu daerah dulu, baru bisa diciptakan gempa di sana. Lalu, menggunakan sihir untuk membuat gempa juga sangat melelahkan. Sehingga, kalau saja memang Sandman yang mencuri Keping Pertama itu—"

"Ia hanya akan pergi ke satu tempat, dan tak akan mampu untuk pergi ke mana-mana lagi, kecuali kalau ia sudah memulihkan diri. Dan ini perlu waktu yang cukup lama—" Severus menambahkan. Victoria mengangguk.

"Dan, di manakah kiranya ia bisa berada?"

Semua berpikir.

"Tempatnya harus banyak pasir—" bisik Neville, "—karena, bukankah itu habitatnya?"

Victoria mengangguk.

"Untuk apa ia mencuri Keping Pertama?" Victoria melanjutkan, "tentu ia tak akan jauh-jauh dari tempat ia memerlukannya—"

Semua terdiam. Victoria mulai berjalan bolak-balik ke sana ke mari. "Kalau ia sendiri juga belum begitu tahu, ke manakah ia harus datang untuk mengetahuinya?"

"Perpustakaan?" gumam Hermione.

"Betul. Perpustakaan. Dan pasir."

"Perpustakaan mana yang akan bisa memenuhi keinginannya, punya buku yang tidak dipunyai perpustakaan lain? Maksudku, perpustakaan yang ada buku yang menceritakan tentang kegunaan Keping Pertama?" Lang Ling Lung seperti pada Lampu

"Perpustakaan. Langka. Pasir," Severus ikut bolak-balik.

Dan—

"Timbuktu—"

"Timbuktu—"

"Timbuktu—"

"Timbuktu—"

Severus, Victoria, Lang Ling Lung, dan Lampu, bersamaan menyebut nama kota di negara Mali itu.

"Timbuktu?" tanya Donal terheran-heran.

TBC

AN:

1) Voldemort tentu saja

2) Calisota diumpamakan sebagai negara bagian California, dan memang California berada di atas patahan San Andreas, rawan gempa