Yo! Readers-Readers Sekalian! Berjumpa lagi dengan Author nista ini wakakaka. Mungkin saya akan memberi catatan di akhir chapter, biar gak kelamaan. Langsung baca aja deh!

Headset

-A Vocaloid Story-

Disclaimer :

Crypton, Yamaha, Internet, dll.

Genre:

Friendship, Romance

Rated:

T

Warning:

OOC, typo yang bertebaran, penggunaan bahasa yang

aneh, Gaje deh!

All In Lenka's POV

.

Lets Get Started

.

Chapter 3: Teamwork?


Sudah empat hari sejak taruhan berlangsung dan hebatnya, dia dapat bertahan untuk tidak berbicara denganku sampai sekarang.

Sekarang masih pagi dan seperti biasa, aku datang lebih awal dari murid yang lain.

Aku mengeluarkan kamus Bahasa Inggrisku. Hari ini memang tidak ada pelajaran Bahasa Inggris sih, lagipula sebenarnya sih aku cukup jago dalam pelajaran tersebut, tapi aku membacanya hanya untuk sekedar menambah kosakata.

Tenangnya.

Jarang-jarang aku bisa menikmati ketenangan seperti ini, biasanya kan selalu diganggu oleh makhluk bodoh bernama Mikuo. Jadi mana mungkin aku menyia-nyiakan waktu-waktu seperti ini.

Dan walaupun…

CKLAK

Eh ada yang datang, pasti 'Dia'.

"Ohayou" Ucapnya walau dia tahu tidak akan ada yang menjawabnya.

Hari ini dia berpenampilan seperti biasa, rambut yang masih acak-acakan, baju yang masih keluar-keluaran, beberapa kancing yang belum di kancingkan dan dasi yang berbentuk trapesium.

Sebenarnya dia itu niat gak sih sekolah?

Tapi kita tidak bisa menilai hanya melalui luarnya saja kan?

Tapi penampilan dan kelakuannya sangat bertolak belakang. Walau penampilannya seperti berandalan tapi dia tidak seperti itu.

Hanya saja dia orang yang sangat… hm… Apa ya? Pokoknya dia itu tidak suka diatur, atau mungkin lebih tepatnya anti dengan pengaruh disekitarnya.

Kalian ingat saat kubilang dia salah satu 'Orang Gila' dikelasku?

Karena sifatnya itu dia kuanggap salah satu 'Orang Gila' dikelas ini.

Dan sebelumnya aku pernah bilang kalau dia 'populer' kan? Kalau kalian mau tahu dia 'populer' bukan karena jago bermain rubik, juga karena dia di cap sebagai 'Sampah' sama seperti aku walau dalam kasusnya berbeda sedikit denganku.

Aku dianggap sampah karena tidak memiliki teman dan selalu menyendiri. Sedangkan Mikuo dicap demikian karena sifatnya itu, dia orang yang benar-benar benci dengan ketidak-adilan.

Kalau tidak salah dia mengingatkan seorang murid kelas kami agar tidak menyontek, tapi dia malah berakhir dengan cemoohan dan ejekan dari seisi kelas –kecuali Aku dan Rei pastinya.

Sejak saat itu Mikuo yang tadinya cukup memiliki banyak 'teman' mulai dijauhi. Akhirnya hanya Rei yang tetap menjadi teman dalam arti sebenarnya. Aku pernah dengar Rei dan Mikuo melakukan percakapan setelah insiden itu.

.

.

.

'Hoi Mikuo, Tenanglah. Mereka itu hanya manusia rendahan yang hanya bisa meledek orang, tak perlu terlalu kau pikirkan.'

Aku tertegun ketika Rei berbicara seperti itu, gak nyangka.

'Kata-katamu bisa tajam juga ternyata hahaha'

'Dan kau hanya menertawakan perkataanku barusan? Harusnya kau berterimakasih Aku masih memihakmu. Lebih tepatnya Men-supportmu sih'

'He..? Menurutku aku tidak perlu berterima kasih untukmu, kau juga seharusnya tidak memintaku untuk berterimakasih'

'Memang iya sih, sejak awal aku memang tidak menganggapmu sebagai teman kok'

Jujur, saat itu aku sedikit terkejut mendengar isi percakapan mereka, tapi…

'Aku juga, karena menurutku teman itu tidak penting'

'Kau benar, mereka memang tidak penting. Maksudku, mereka penting sih… Kalau mereka dalam 'arti yang sesungguhnya''

'Iya-iya, aku mengerti. Tapi tak kusangka seorang Rei yang 'kaya akan pergaulan' bisa berkata seperti itu. Hahaha'

.

.

Menurutku hubungan 'pertemanan' mereka memang berbeda dari orang-orang yang biasanya.

Ngomong-ngomong soal Rei. Aku belum banyak menjelaskannya ya.

Baiklah, biar sedikit kujelaskan.

Sebelumnya sudah ku bilang, Mikuo dan Rei adalah 'Cahaya dan Bayangan'. Tapi harus kalian ketahui, teori ini berbeda dari teori yang berada dalam Anime basket itu.

Ketetapan mereka tidak menentu, kadang Mikuo yang menjadi Cahaya dan Rei yang menjadi Bayangan. Tapi bisa juga sebaliknya. Dalam masalah sifat mereka, Mikuo cenderung mengarah ke Cahaya, sedangkan Rei seimbang.

Mungkin kalau aku ikut dengan 'Aliansi' mereka, aku akan cenderung kearah Bayangan nya.

Itu hanya 'Kalau'

Ehm.. Kembali ke Rei.

Dia adalah tipe anak pendiam, tapi pergaulannya luas dan memiliki banyak koneksi di sekolah ini. Bahkan Dia terkenal bukan hanya di angkatanku saja, melainkan di angkatan kelas 3 dan kelas 1.

Dia terkenal bukan hanya karena kondisi akademik dan kepandaiannya dalam bergaul. Dia juga emm…. apa itu….. kalau orang-orang sih menyebutnya Cool. Dia juga bergabung dengan berbagai kegiatan ekstrakulikuler, makanya dia terkenal.

Sayangnya dia bukan anak-anak nakal yang lain, dia baik hati dan juga pendiam. Kalau saja dia bersifat seperti berandalan sekolah, dia bisa saja dengan gampang menguasai sekolah ini.

.

.

.

Eh? Itu bukan 'Sayangnya' ya? Maaf, aku sepertinya mulai kehilangan konsentrasi.

.

.

Tak lama setelah Mikuo masuk, sekarang Rei yang memasuki kelas. Tidak seperti Mikuo, dia memasuki kelas tanpa mengucap sepatah kata pun.

Dan Rei pun disapa duluan oleh Mikuo.

"Yo Rei" Sapa Mikuo santai, santai apa malas? Nada suaranya terdengar seperti orang yang kelelahan.

"Yo" Jawab Rei singkat, sambil menuju ke arah mejanya.

Setelah menaruh tasnya, dia mengambil sesuatu di kantungnya. Sepertinya itu Flash Disk.

"Mikuo" Panggil Rei pelan "Tangkap"

Rei pun melempar FD itu ke arah Mikuo yang langsung ditangkap oleh Mikuo. Sebenarnya mereka itu ngapain sih?

"Hup!" Mikuo menangkapnya. Kemudian dia juga mengambil FD miliknya dan ganti melemparnya ke Rei.

Jujur saja, kelas masih sepi dan aku disuguhi pemandangan konyol seperti ini. Benar-benar membuatku risih.

"Mikuo. Kau tahu?" Tanya Rei setelah menangkap FDnya Mikuo. Di wajahnya ada sedikit senyum yang terlihat… ng… jahil?

Ha…?

Jangan-jangan…

"Tahu apa?" Mikuo balik bertanya

"Sepertinya ada seseorang yang heran dengan aktivitas 'tukar-menukar' kita" Jawab Rei dengan suara yang sedikit dikeraskan

Sial! Aku merasa kalau aku dilibatkan dalam percakapan dua makhluk konyol ini.

Mikuo tampak berpikir, lalu melihat ke arah ku. Tentu saja begitu aku membalas tatapannya dengan tajam, dan dia langsung membuang muka.

"Ngg….. Se-Sepertinya begitu Rei ha-hahaha" Jawab Mikuo terbata-bata, sepertinya dia masih mengingat perjanjian itu.

Kemudian Rei yang melihat ke arahku.

"Jadi begini Lenka –san. Aku dan Mikuo bertukar file berupa informasi, tugas, link-link internet yang cukup penting dan juga beberapa Anime setiap hari ini" Jelasnya cukup panjang.

Aku menatapnya dingin. "Atas dasar apa kau menganggapku ingin mengetahui kegiatan konyol kalian?"

"Apakah aku harus menjawabnya? Kalau iya, itu sudah jelas dari mimik wajahmu tadi" Jawabnya santai. Sangat santai, membuatku makin kesal.

Aku tidak mau menghabiskan waktu tenang ku hanya untuk percakapan konyol seperti ini.

"Mikuo, suruh orang ini untuk diam!" Ucapku cukup keras kepada Mikuo.

Mikuo hendak berbicara, tapi langsung kupotong. "Kau tak perlu berbicara kepadaku, perjanjian masih berlaku! Cukup lakukan perintahku!"

Dia terdiam. Pundung sepertinya.

"Rei, you hear the words" Ucap Mikuo lemas.

"Hahaha… Dia bisa galak juga ternyata" Tawa Rei datar

Bisa 'galak' katamu? Aku bisa 'lebih' malah!

Akupun mengambil headset dan langsung ku pasang di telingaku.

Sebelum aku memutar lagunya aku mendengar mereka sedikit.

"Fuuh… Hampir saja"

"Hampir saja kepalamu! Kau hampir membuatku didiamkannya selama 10 hari!"

"Iya makanya tadi kubilang 'Hampir' kan?"

"Eh iya ya?"

"Haah… Mikuo Mikuo, kapan sih kau pinternya"

"Weits… Kau menantangku?"

"Bisa tidak, bisa iya. Tergantung persepsimu saja"

"Kata-katamu aneh"

"Kau tidak ngaca"

"Maaf saja, kaca beda dengan cermin"

"Oh"

"Huh, sudah lah! Kalau berdebat denganmu tidak akan ada habisnya tau!"

"Siapa suruh mulai?"

"Arrgh! Terserah saja lah, Aku ingin belajar dulu"

"Tumben"

" *ngasih jari tengah* "

Dasar

Kelakuan mereka seperti bocah saja, benar-benar mengganggu pagi ini.

Sekarang tinggal berharap saja tidak ada sesuatu yang merepotkan siang nanti.

.

.

.

.

Sekarang sudah siang, jam pelajaran terakhir. Suasana kelas seperti biasa, cukup ramai.

Aku yang sedang tidak ada kerjaan hanya menggambar saja di kertas, aku cukup pandai menggambar lho *pamer*. Well, itu tidak penting.

Keadaan seperti ini benar-benar membuatku bosan, sebenarnya dirumah aku juga sering menghadapi suasana seperti ini.

Tapi beda, kalau dirumah biasanya aku sering surfing di internet, tapi kalau di saat-saat seperti ini aku tidak bisa. Kenapa? Karena aku tidak mengaktifkan paket data ku, hitung-hitung irit pulsa hehe. Kalau dirumah kan ada Wi-Fi.

Baru saja aku baru mulai menggambar dikertas baru, tiba-tiba pintu kelas terbuka.

CKLAK

"Selamat siang anak-anak" Ucap orang yang memasuki kelas tadi.

"Siang Yohio- sensei" Balas murid-murid.

Akhirnya kebosananku hilang juga.

Setelah menaruh barang-barangnya di meja guru, Yohio –sensei berdiri di depan kelas.

"Hmm…. Apa kabar semuanya?" Tanya Yohio –sensei pada seisi kelas.

"Baik sensei…"

"Laper sensei…"

"Mau pulang sensei…"

Seisi kelas tertawa mendengar jawaban-jawaban murid tadi, tak terkecuali Yohio –sensei sendiri.

"Ngomong-ngomong sensei juga laper, ada yang mau mentraktir sensei sepulang sekolah?" Ucap Sensei itu tersenyum.

"Huu…."

"Sensei modal dikit ngapa"

"Yang ada sensei yang 'nraktir kita"

Dasar murid-murid kurang ajar, guru sendiri di palakin.

Ngomong-ngomong, kenapa para murid itu bisa dengan enaknya (baca: kurang ajarnya) berbicara dengan Yohio –sensei seenak jidat. Itu karena beliau adalah Wali Kelas dari kelas 2-B ini, jadi hubungan antara guru dan murid diantara mereka cukup baik.

"Ehm… Sebentar, Saya ingin berbicara" Ucap Yohio –sensei dengan wajah serius, membuat murid-murid diam.

"Saya ingin membentuk kelompok untuk tugas kalian, jadi saya akan membagi sepuluh kelompok berisikan tiga orang dalam kelompoknya" Jelasnya kepada murid-murid.

"Tugasnya apa sensei?" Tanya seorang murid kepada Sensei.

"Setiap kelompok harus membuat karya ilmiah yang berhubungan dengan pelajaran saya" Jawab Yohio –sensei.

Jawaban dari Yohio –sensei mendapat 'haah?!' dari murid-murid, termasuk aku.

Membuat karya ilmiah itu bukan perkara mudah, harus detail banget! Ditambah lagi, ini tugas kelompok. Kalian kan tahu, kalau aku tidak suka terlalu suka bergaul dengan orang lain.

Ini adalah tugas terburuk yang pernah ada!

"Lho? Kenapa? Ini tidak terlalu susah kok" Ucap Yohio –sensei santai. "Baiklah saya akan mulai membagikan kelompok" Lanjutnya.

Haah…

Tak kusangka akan seperti ini, ini adalah mimpi buruk! Sekarang tidak ada jalan lain selain berharap suatu keajaiban.

Ketika aku sedang merutuki nasib, tiba-tiba…

"Kelompok berikutnya adalah… Hatsune, Kagene dan Kagamine"

Tik

Tik

Tik

What!?

Ini hanya memperburuk keadaan.

Seisi kelas langsung sunyi, hanya terdengar sedikit bisikan-bisikan kecil.

"Kelompok macam apa itu?!"

"Tak kusangka isinya mereka semua"

"Kelompok yang unik"

Begitulah kira-kira isi dari bisikan-bisikan tadi.

"Ada apa?" Sekarang Yohio –sensei yang bingung.

"Tidak apa-apa sensei" Jawab Rei, tumben kau berbicara.

"Oh.. Kalau begitu…. Hei Hatsune! Bangun! Dengarkan tuh, kau sudah dapat kelompok!" Seru Yohio –sensei kepada Mikuo.

"Ha… Maaf sensei" Ucap Mikuo yang baru bangun dengan lemas. "Jadi siapa saja?"

"Dua besar" Jawab murid disebelah Mikuo.

"Whoaa… Hebat juga hahaha" Tawa Mikuo datar.

Setelah pembagian kelompok kita disuruh berdiskusi dengan kelompok masing-masing oleh Yohio –sensei.

Dan sekarang, aku berada diantara dengan dua orang konyol ini. Kelompok kami sepertinya paling mencolok. Wajar sih, isinya orang-orang 'Terkenal' semua sih.

"Sebelum kita berdiskusi, harus ada sedikit yang dibicarakan" Ucap Rei membuka suara. "Lenka –san kau harus membatalkan perjanjianmu dengan Mikuo dulu"

Aku tidak kaget sih, aku sduah menduganya malah. Kalau dalam keadaan seperti ini kita tidak akan bisa berdiskusi dengan baik.

"Huh… Apa boleh buat" Jawabku malas.

"Yess!" Seru Mikuo girang –ralat, kegirangan.

"Mikuo, aku tidak memintamu untuk berisik disini" Ucap Rei sambil memukul kepala Mikuo dengan bukunya.

"Aduh… Maaf, aku terbawa suasana hehehe" Ringis Mikuo sambil terkekeh-kekeh.

"Jadi… tema untuk karya ilmiah kita apa?" Ucapku malas, aku ingin cepat-cepat menyelesaikan diskusi ini. Aku kecapekan.

Kita terdiam untuk beberapa saat, sepertinya mereka berpikir mengenai pertanyaanku tadi.

"Entahlah… Bukankah temanya harus sesuai dengan pelajaran ini? Sosiologi?" Jawab Mikuo.

"Iya sih… tapi kita ambil materi apa? Sosiologi kan isi materinya tentang masyarakat semua, berhubungan dengan dunia sosial. Sedangkan kalian kan anti-sosial semua" Timpal Rei.

"Maaf saja, tidak semua prilaku anti-sosial itu buruk. Pasti ada alasan dibaliknya bukan?" Ucap Mikuo tidak terima.

"Memang kau menganggap dirimu anti-sosial?" Tanya Rei.

"Entahlah… Bisa iya, bisa tidak. Tergantung persepsimu saja" Jawab Mikuo sambil menyeringai Rei.

"Cih… Lenka –san bagaimana menurutmu?" Tanya Rei padaku.

"Entahlah" Jawabku singkat, kan sudah kubilang aku sedang capek.

"Haah~ Sepertinya kita sedang dalam keadaan yang tidak baik untuk berpikir" Ucap Rei berpendapat. Benar sih.

"Benar" Timpal Mikuo.

Kemudian kami bertiga terdiam. Rei memejamkan matanya, Mikuo melanjutkan tidurnya yang terganggu tadi. Ditambah aku yang sudah sulit untuk bergerak.

Sepertinya kata-kata Rei benar, kami sedang dalam keadaan yang tidak baik untuk berpikir.

"Mikuo" Panggil Rei.

"Hnn….?" Sahut Mikuo tetap dalam posisinya yang tadi.

"Kau besok tidak ada acara kan? Kau dirumah kan?" Tanya Rei pada Mikuo.

"Pertanyaan bodoh, Kau tahu aku selalu ada dirumah" Jawab Mikuo malas.

"Bagaimana denganmu Lenka –san?" Rei berganti bertanya kepadaku

"Aku juga" Jawabku.

"Kalau begitu sudah diputuskan" Ucap Rei datar.

Mikuo mengangkat kepalanya, memasang wajah bingung. Aku juga begitu, apa maksudnya Rei sih?

"Maksudmu apa Rei!? To the point saja" Ucap Mikuo sedikit kesal.

"Besok kita berkumpul di rumah Mikuo" Jawab Rei cepat.

What?!

Ini sudah menjadi kesialan ketiga ku dalam satu hari ini. Apa ini akan bertambah buruk?!

"Kenapa harus rumah ku?!" Tanya Mikuo marah.

"Kamarmu kan luas, jadi setidaknya kita bisa sedikit santai disana. Ditambah internetmu kencang disana hahaha" Jawab Rei seenaknya.

Dari sini aku menyimpulkan. Rei sudah pernah berkunjung kerumah Mikuo.

Tapi kan tetap saja! Bagaimana denganku?!

"Lalu aku?!" Sekarang giliranku bertanya.

"Datang lah" Jawab Rei seenak jidat. Untuk apa aku datang kerumah si bodoh itu?!

Untuk mengerjakan tugas lah

Oh iya. Aku lupa

"Kenapa? Kau tidak mau?" Tanya Mikuo kepadaku.

Bukannya tak mau sih, tapi kan tidak enak juga kerumah orang. Masuk ke kamarnya. Laki-laki lagi!.

"Entahlah" Jawabku sekenanya. "Bagaimana denganmu sendiri? Kau keberatan?"

"Ee… Bukannya keberatan sih… tapi…"

"Aku tahu kau belum membersihkan kamar kotormu itu" Potong Rei

"Berisik!" Ucap Mikuo sewot. "Kau tahu hari jum'at adalah hari paling suntuk. Mana mungkin aku bisa membereskan semua kerusuhan itu dalam semalam?"

"Memangnya apa yang kau lakukan dikamarmu itu?" Tanyaku santai.

"E-Ehh… Macam-macam sih, tidak penting buatmu hehehe…" Jawabnya agak kecut.

"Ohh.."

Sudah kuduga sih dari awal. Dia pasti seorang yang seperti itu, lebih menyibukkan dirinya di dalam rumah. Tak jauh beda sih denganku, tapi kurasa pola hidup Mikuo sudah tidak teratur. Lihat saja! Kantung matanya berkantung mata coy!

Ehm… Maaf tadi aku OOC.

Mungkin aku besok memang harus ke rumahnya.

"Bagaimana Mikuo?" Tanya Rei.

"Baiklah. Tapi kau harus bawa makanan, bukan kau. Tapi kalian!" Seru Mikuo menjawab Rei.

"Tapi sebagai gantinya kamarmu harus bersih" Balasku menyeringai.

"Eh…itu…" Tuh kan, dia kehabisan kata-kata. Mengerjai orang itu enak juga ternyata.

"Sudah diputuskan! Besok jam delapan pagi kita harus sudah kumpul!" Ucap Rei.

"What!? Itu terlalu pagi! Protes ku.

"Iya! Jam segitu aku baru booting komputerku tahu!" Tambah Mikuo. Dan itu membuat kami berdua sweatdrop tentu saja. Apa hubungannya coba?

"Yehh… Dasar Kebo kalian!" Ledek Rei.

"Aku tidak Kebo! Aku ini Nokturnal" Balas Mikuo tidak terima.

"Terserah deh. Yang penting besok jam delapan sudah kumpul. Dan Lenka –san, ini alamat rumah Mikuo" Ucap Rei sambil memberikan sebuah catatan kecil kepadaku.

"Baiklah" Jawabku singkat "Sebentar lagi bel, aku mau beres-beres dulu".

"Aku juga, kalau begitu sampai jumpa besok. Dan Mikuo! Jangan lupa membersihkan tempat yang kau sebut 'istana' mu itu!" Ucap Rei sambil menuju mejanya.

"Iya iya berisik!" Jawab Mikuo malas.

Aku pun mulai membereskan barang-barangku. Tak lama setelah itu bel berbunyi.

Sepertinya besok aku memang harus benar-benar datang kerumahnya.

Yah… Kita bisa lihat besok keadaannya seperti apa.

.

.

.

.

Whew…

Author gak nyangka bisa update di saat-saat sibuk kayak gini. Tapi saya minta mohon maaf sebesar-besarnya karena saya tahu ini bener-bener lama banget updatenya, authornya soalnya sibuk sih heheh.

Sekiranya gitu aja.

Kurang lebih mohon maaf jika ada salah kata (banyak malah).

Sampai berjumpa di chapter selanjutnya!

Jaa~