-EXODUS high school-

ZEE POV

Aku menyelusuri lorong sekolah menuju ruang guru dengan membawa banyak buku. Mrs Song memerintahku dan Sulli meletakkan buku-buku ini di mejanya. "Sulli, ayo cepetan…aku udah lapar…" rengekku pada Sulli yang masih tertinggal jauh di belakang. Harusnya aku dan Sulli sudah berada di kantin untuk istirahat, tetapi kemudian kami ditugaskan oleh Mrs Song.

"iya zee..sabar, ini berat banget. Kenapa sih tugas-tugas ini tidak dikirim ke emailnya aja? Kenapa menyiksa kita bawa buku-buku ini?"

Sebelum aku menjawab pertanyaan Sulli, buku-buku yang aku bawa jatuh berserakan di lantai karena aku sudah tidak sanggup lagi membawanya.

"huwaaa bukunya jatuh semua!" rengekku. Dengan lemas aku kembali mengambil buku-buku yang berserakan di lantai, namun kemudian seseorang menghampiriku.

"butuh bantuan?" orang tersebut bertanya kepadaku. Aku hanya dapat melihat sepatunya, kemudian orang tersebut merendahkan tubuhnya hingga setara denganku dan menatapku.

"butuh bantuan, princess?" betapa terkagetnya aku melihat sosok yang ada di depanku. 'Yifan? Dia menawarkan bantuan kepadaku?'

"a-ah, ga perlu terima kasih" kataku berusaha berbicara senormal mungkin karena masih tidak percaya.

"ga perlu sungkan, princess. Sepertinya kamu kesulitan membawanya." Kata yifan sambil senyum kepadaku.

"buku ini mau kamu bawa kemana?" Tanya yifan.

"ke ruang guru, di mejanya Mrs. Song"

"okay, let's go.." Yifan mengambil setengah dari buku yang aku bawa dan aku, yifan dan Sulli yang masih terdiam dan wajahnya yang terlihat sangat terkejut menuju bersama-sama ke ruang guru.

Selesai kami meletakkan buku-buku tersebut di meja Mrs Song, kami bertiga segera meninggalkan ruang guru dan tidak lupa aku mengucapkan terimasih kepada yifan yang sudah membantuku.

"tapi itu semua tidak gratis princess"

"mak- maksudnya? aku harus bayar gitu?" tanyaku tidak percaya dia meminta imbalan kepadaku.

"yup. Tapi tidak dengan uang" katanya sambil menyeringai.

"lalu?pake apa?" dia mendekatkan dirinya dan berbisik kepadaku

"bagaimana kalo kita pulang bersama nanti?" aku sontak terkejut dengan permintaannya itu, sungguh tidak percaya kita memintaku untuk pulang bersama.

"aku tidak bisa. Aku ada latihan dance sehabis sekolah"

"ow..sayang sekali kalo gitu. its okay..maybe next time?" tanyanya lagi masih belum menyerah. Aku hanya mengangguk, dia kemudian tersenyum.

"good. Kamu masih berhutang satu padaku" bisiknya lagi di telingaku sungguh membuatku gemetar dan takut. Setelah berbisik, dia kemudian mengedipkan satu matanya padaku dan pergi meninggalkaku dan Sulli yang masih speechless.

"i-itu beneran yifan yang barusan membantu kita, zee?" Tanya sulli yang akhirnya bisa membuka suaranya.

"emangnya ada berapa wu yifan di sekolah kita? Ya sudah pasti dia.."

"tapi, tapi gimana bisa? Dari ospek sampai kemarin dia selalu menghindar kalau berhadapan yang namanya perempuan, dia selalu terganggu sama cewek-cewek di sekolah kita. Terus dengan santainya dia membantu dan merayu kamu zee? Gimana bisa?"

"aku juga heran..mungkin itulah aslinya dia. mungkin selama ini dia hanya bersikap berpura-pura didepan cewek-cewek di sekolah kita. Kamu tau kan kalau ada rumor tentang yifan yang suka meniduri cewek-cewek di luar sekolah kita? Rumor itu udah tersebar sejak kita kelas 1"

"okay kalo rumor itu benar, tapi kenapa sekarang dia tiba-tiba bersikap manis begitu?"

"mungkin dia diputusin sama ceweknya. Sudahlah, kita lupakan! Zee udah lapar, lebih baik cepat ke kantin sebelum ja istirahat berakhir" aku dan Sullipun bergegas ke kantin untuk mengisi perut kami yang sudah kelaparan.

KRIS POV

Sejak keluar dari ruang guru entah kenapa aku menjadi senyum-senyum seperti ini. Baru kali ini aku melihat cewek manis sepertinya. Dan, oh my god! Aku lupa bertanya namanya. Bodoh sekali aku ini. Tapi sungguh cewek yang aku temui barusan sangat cantik, rambut hitamnya panjang dan indah, tubuhnya tinggi dan langsing, pinggang yang ramping sangat cocok jika tanganku melingkar di pinggangnya, dan tidak lupa dada dan bokongnya yang besar. Tetapi melihat wajahnya seperti tidak asing, seperti aku sudah pernah bertemu dengannya. Tapi siapa? Ah, mungkin hanya kebetulan tapi sejak pagi kakiku menginjak sekolah ini, baru dialah yang paling menarik diantara semuanya, bahkan Jessica dan tiffany kini tidak ada apa-apanya jika dibanding dengannya.

Aku menelusuri lorong dan kini berdiri tepat didepan loker, menekan beberapa kode password yang yifan beritahu semalam dan berhasil membukanya. Aku membuka beanie yang aku pakai sejak pagi dan kini cewek-cewek yang berada di loker mulai menjerit dan heboh melihat rambutku yang blonde.

"kyaa,,yifan blonde" "waaah,yifan looks so hot with blonde hair!" "oh my god, he's a sex god" teriakan-teriakan mereka membuatku semakin percaya diri. Bahkan sangat percaya diri untuk mendekatkan diriku pada cewek yang aku temui tadi. Aku bukan tipe yang serius dalam berpacaran. Sejak SD sampai SMP aku hanya pernah berpacaran dua kali, itupun hanya dalam waktu rata-rata 3 bulan dan aku memutuskan mereka dan membuat mereka depresi. Setelah aku putuskan mereka masih sering mendekatiku dan memintaku balikan, bahkan mereka nekat untuk datang ke rumahku dan membujuk ibuku agar aku menerima mereka kembali. Karena ibuku semakin khawatir karena aku sering memainkan hati perempuan, akhirnya setelah lulus SMP aku dimasukan ke SMA khusus laki-laki. Tapi kini aku merasa seperti kembali ke Kris yang dulu dan tidak akan aku sia-siakan moment ini.

Aku kembali ke kelas dengan wajah sumringah dan wajahku menjadi sangat hangat dan rahangku sakit karena tersenyum sepanjang hari ini.

"hyung? Kau kenapa? Terlihat bahagia sekali" Tanya Chanyeol dan aku segera duduk di sampingnya.

"nggak apa. Aku lagi senang aja. Tadi bertemu gadis cantik."

"uhh hyung? Bukannya kamu..gay?" Tanya chanyeol dan membuatku frozen seketika.

"uumm..u can say that im bi..yes..bi"

"benarkah? Wah ternyata perjuangan cewek-cewek itu ga sia-sia hyung selama ini, akhirnya kau sedikit tertarik pada mereka. haha"

'syukurlah sepertinya dia tidak curiga' kataku dalam hati. Untungnya aku bisa ngeles secepat mungkin. Memang sudah bakatku.

"oh hyung! Aku baru menyadari..rambutmu terlihat berbeda! Pantas saja dari tadi cewek-cewek itu heboh dan berebutan mengambil gambarmu" aku hanya tersenyum puas.

OTHER POV

-XOXO High School-

Setelah tao melakukan hukuman di perpustakaan selama pelajaran Mrs Park, ia kembali ke kelasnya dan kembali mengikuti pelajaran berikutnya. Begitu ia masuk ke kelas, mata Yifan melotot dan tidak percaya apa yang ia lihat. Sosok laki-laki yang ia tolong tadi di perpustakaan ternyata teman sekelasnya. 'jadi dia teman sekelasku?' batin Yifan dan tidak bisa mengalihkan matanya ke sosok tersebut.

Tao yang sedang berjalan menuju tempat duduknya sambil menunduk dan tidak nyaman karena pandangan Kris yang terus-menurus menatapnya, memperhatikan setiap gerak-geriknya. 'kenapa kris ge menatapku seperti itu? Aku tidak melakukan kesalahan kan?' kata tao dalam hati.

Selama jam pelajaran hingga akhirnya bel pulang sekolah berbunyi, yifan sama sekali tidak dapat konsentrasi dalam belajar. Bagaimana tidak, matanya tidak dapat lepas dari sosok yang duduk didepannya. Pandangan matanya yang harusnya ke papan tulis, justru melekat pada tao meskipun yifan hanya melihat punggung dan rambutnya. Belum lagi aroma peach dari entah shampoo yang tao gunakan atau aroma tubuhnya yang memabukkan buat yifan.

"hyung, aku pulang duluan ya? Aku harus mengantar luhan ke toko buku."

"hm..baiklah sehun." Sehunpun meninggalkan yifan, begitupun satu persatu muris mulai mengosongkan kelas. Yifan menjadi yang terakhir keluar dari kelas, menuju lokernya. Tubuh lemasnya mulai membuka loker dan meletakkan buku-bukunya di dalam. 'baru kali ini aku tidak berkonsentrasi dalam belajar. Sebelumnya aku tidak pernah seperti ini' kata Yifan dalam hati. Tubuh lemasnya mulai keluar dari sekolah dan menuju halte tak jauh dari sekolah untuk pulang ke rumah.

Setelah Yifan mendapat bus dengan rute menuju rumahnya, ia segera masuk. Kebetulan bus yang ia tumpangi agak penuh dan terpaksa ia harus berdiri. Tak lama beberapa murid dari sekolah Exodus juga mulai masuk ke dalam bus, sebelum akhirnya berangkat seseorang yang ia kenal juga masuk ke bus tersebut dan berdiri di depannya.

'dia lagi. Dia yang buat aku susah berkonsentrasi saat pelajaran. Kenapa harus bertemu dengannya lagi?' batin yifan.

Tao yang menyadari keberadaan Yifan dan ia juga harus terpaksa berdiri didepannya karena bus yang sudah mulai penuh menjadi salah tingkah.

'aneh. Selama bersekolah aku tidak pernah melihat kris ge menaiki rute bus ini' dalam pikiran tao. Ia hanya menunduk, tak berani menatap sosok yang ia kira Kris itu.

Perjalanan menuju rumahpun terasa menjadi sangat lama bagi Yifan dan Tao. Begitu bus yang melaju tersebut mengerem tiba-tiba sontak membuat penumpang lainnya kaget dan terdorong. Begitupun dengan Tao yang hampir jatuh, tetapi dengan cekatan yifan menangkapnya. Kini mereka seperti 2 orang yang sedang berpelukan. "kau tidak apa-apa?" Tanya Yifan.

"ti-tidak apa-apa ge..maaf.." wajah Tao kembali menunduk.

"pegangan denganku.." tangan Yifan memegang tangan Tao dan meletakkannya di bahunya. Tao yang menyadari hal tersebut membuat wajahnya memerah.

"maaf ge…" kata tao lagi.

"kau suka bilang 'maaf' ya? Sudah berapa kali kamu mengatakannya hari ini? Pegangan saja dengaku supaya tidak jatuh, dan jangan tundukkan wajahmu, lihatlah kedepan" Tao kemudian mengangkat wajahnya dan melihat ke wajah yifan.

Yifan tidak tahan dengan wajah merah Tao yang ia pikir sangat cute itu, hingga akhirnya ia tersenyum lebar melihatnya. 'Kris gege tersenyum? Ia benar-benar tersenyum kepadaku?' pikir tao.

"maksudku lihat kedepan itu, ke jalan bukan menatap wajahku seperti itu" kata Yifan, sontak membuat wajah Tao semakin memerah. Yifan kemudian mengacak-ngacak rambut Tao dengan halus sambil terkekeh.

"rumahmu dimana? Kamu setiap hari naik bus rute ini? Tanya Yifan.

"i-iya ge. Rumahku tidak jauh. Satu halte lagi juga sampai" kata Tao, mencoba untuk tenang.

Begitu mendekati halte rumah tao, ia melepas tangannya yang masih berpegangan di bahu Yifan. Iapun tidak lupa mengucapkan terimakasih.

"terimakasih gege. Aku duluan"

Yifan hanya tersenyum dan kemudian terasa asing karena bahunya kini terasa kosong. Ia sangat suka bagaimana tao berpegangan dengannya dan bagaimana dekatnya tubuh mereka seperti tadi.

'sepertinya memang naik bus tidak buruk juga.' Kata Yifan dalam hatinya dan pulang dengan wajah yang sangat sumringah.

TBC

Terimakasih yang sudah review.

Maaf kalo di chapter ini kurang seru, chapter selanjutnya aku buat lebih seru lagi /

Oya disini XOXO HS : sekolah khusus laki-laki

EXODUS HS : sekolah campuran.

Supaya kalian ga bingung.