A/N:
Ohayou~!
Chapter 2 udah dateng nih..
Soalnya dari kemarin macet jalanannya (lho?). Mel minta maaf sebesar dan seluas Indonesia (lho?!) karena baru bisa Publish cerita ini sekarang. Soalnya banyak tugas menumpuk dimana-mana! Kenapa guru-guru di sekolah Mel pada berubah jadi psikopat?! (garuk-garuk tembok)
Oh iya, setelah Mel baca review dari para senpai tentang embel-embel Naruto, Mel baru inget kalo Sakura nggak manggil dia pakai suffix '-kun'. Arigato untuk Black Market dan Ren Akatsuki. Jadi mulai chapter ini, Mel perbaiki masalah 'Panggilan' itu. Karena banyak yang bilang kependekkan, Mel usahain panjang yg ini (meskipun kayaknya masih pendek aja). Ya sudah, nggak usah banyak omong lagi (Reader : Loe yang banyak omong!), silahkan di baca, Minna~!
Ehem.. Karena Mel nggak tau berapa lama dari Konoha ke Suna, anggap aja sekitar 2 hari, yaa~! Trus kalau nggak bisa bayangin OC ciptaan Mel, yah, sebenarnya Mel juga agak susah bayanginnya. Tapi anggap aja wajahnya mirip sama Kushina-san.
Summary : Naruto punya kakak perempuan?! Trus kenapa gak ada satu pun temannya yang tahu? Itu masih sebuah MIS-TE-RI... #plak! Warning! OC, Beda sama cerita asli, Newbie Authoress, Miss TYPO bertebaran
Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto
"Nee-chan?!" tanya Naruto.
Gadis itu menolah melihat kedatangan mereka, wajahnya terlihat kaget ketika melihat Naruto. Tapi kekagetan itu segera terganti dengan senyum manis.
"Wah, kau kah itu, Naruto? Sudah lama tidak bertemu ya?" sapa gadis itu pada Naruto. Yang lainnya (minus Kakashi dan Naruto tentunya) hanya bisa bingung mendengarnya.
Naruto yang mendengarnya langsung memeluk gadis itu sambil berteriak 'Nee-chan!' dengan keras.
"Kenapa Nee-chan tidak memberitahu aku kalau sudah kembali?! Aku kan ingin menyambut Nee-chan juga!" tanya Naruto kesal. Gadis itu terkekeh pelan.
"Maaf, maaf. Aku hanya ingin hal ini menjadi kejutan," kata gadis itu. Lalu gadis itu menghadap ke arah teman Naruto dan mulai memperkenalkan dirinya.
"Konnichiwa, Minna~! Perkenalkan namaku Reiya Namikaze!"
Saat ini, ada 7 orang yang sedang menyusuri hutan dengan agak terburu-buru, meski di pikiran mereka masing-masing masih menyimpan banyak pertanyaan. Beberapa bertanya tentang keadaan desa Suna (bagi Naruto, Kakashi, Temari, dan Reiya). Ada juga yang memikirkan tentang Reiya, kakak Naruto (bagi Sakura, Yamato, Sai, bahkan Temari).
Secara fisik, kakak perempuan Naruto itu memiliki ciri fisik yang sama dengan ibu mereka, Kushina, yaitu rambut panjang lurus berwarna merah terang serta matanya yang berwarna voilet. Rambutnya yang sepunggung diikat satu ke belakang. Dia mengenakan jaket lengan panjang berwarna light blue. Yang menutupi T-shirt hitamnya. Dia memakai celana berwarna dark blue selutut dengan sepatu ninja biasa yang berwarna midnight blue.
"Hei, aku baru ingat. Aku belum tahu nama kalian. Yah, kecuali Naruto dan juga Kakashi-san. Soalnya tadi kita langsung berangkat,kan?" ujar Reiya. Yang lainnya langsung memperkenalkan diri.
"Namaku Yamato, pembimbing baru dari Tim 7. Salam kenal, Namikaze-san," kata Yamato.
"Namaku Sakura Haruno. Salah satu anggota tim 7. Salam kenal,ya," tambah Sakura.
"Aku Sai. Salam kenal," lanjut Sai.
"Dan aku Temari, dari Suna. Salam kenal, Namikaze-san," tambah Temari. Reiya tersenyum kecil mendengarnya.
"Panggil saja aku Reiya, atau Rei. Terserah mau yang mana," kata Reiya.
"Kenapa Rei-nee bisa ikut misi ini?" tanya Naruto. Reiya meliriknya sebentar, lalu berbalik dan berjalan keluar desa.
"Hm? Itu karena aku dimintai oleh Hokage-sama," jawab Reiya.
Flashback
Tok! Tok! Tok! Pintu apartemen Reiya diketuk oleh seseorang. Reiya yang sedang beres-beres pun beranjak dari tempatnya.
"Sebentar!" katanya sambil berjalan menuju pintu. Pintu terbuka dan memperlihatkan sosok juonin berambut perak.
"Rei, kan?" tanya juonin tersebut. Reiya mengangguk sambil memberi juonin tersebut tatapan yang mengatakan 'sepertinya-aku-tahu-siapa-kau-tapi-aku-lupa'. Kakashi tertawa kecil menlihatnya.
"Yare-yare! Kau sudah besar rupanya. Makin mirip saja dengan Kushina-sensei," kata jonin tersebut (karena Minato itu gurunya Kakashi, kenapa nggak Kushina kita anggap guru juga? #duak!). Reiya akhirnya ingat siapa jonin yang berada di depan pintunya ini.
"Kakashi-san? Wah, lama tidak bertemu, ya!" katanya. Kakashi hanya tersenyum tipis (meski tidak kelihatan karena maskernya).
"Begitulah. Hokage-sama ingin kau menemuinya segera mungkin."
"Baiklah, Kakashi-san. Aku akan segera kesana nanti."
Reiya langsung menuju ke sana setelah menyimpan barangnya di apartemen. Sesampainya, Reiya kembali bertemu Kakashi. Tsunade lalu menjelaskan keadaan sang Kazekage dan ingin Reiya dan Kakashi untuk ikut serta dalam misi ini. Tentu saja mereka berdua menyetujiunya. Mereka berdua disuruh menunggu kedatangan anggota lainnya di depan gerbang desa.
End of Flashback
"Begitulah.." ucap Reiya. Mereka mendengarkan cerita sambil terus menyusuri hutan agar cepat sampai ke Suna.
"Rei-nee," panggil Naruto pada kakaknya.
"Hm?"
"Selama 5 tahun, apa Rei-nee baik-baik saja?" tanya Naruto.
Mendengar itu, Reiya tersentak. Memori lama yang telah ditutup rapat kini telah keluar lagi dari tempat persembunyiannya yang dalam. Sekelebat ingatan terbesit di pikirannya. Memori itu terus bertambah dan berputar-putar di kepalanya, hingga membuatnya pusing. Reiya berhenti dan menginjak di dahan yang kokoh sambil memegangi kepalanya. Yang lain ikut berhenti, kaget, bingung dan khawatir. Reiya terus begitu selama beberapa detik. Naruto jadi merasa khawatir.
"Rei-nee.." panggil Naruto lagi. Lalu, Reiya terlihat menghela napas panjang, lalu berbalik menghadap yang lainnya. Mereka melihat wajah Reiya yang tersenyum agak dipaksakan dengan wajah yang pucat.
"Itu rahasiaku, Naruto. Ayo kita lanjutkan perjalanan sebelum gelap," kata Reiya.
Meski kebingungan mereka belum hilang sepenuhnya. Mereka tetap melanjutkan perjalanan.
Malam harinya, mereka beristirahat untuk perjalanan yang akan dilanjutkan esok harinya. Tampaklah Reiya yang sedang duduk santai di atas pohon, 'Yang lainnya mungkin sudah tertidur,' pikirnya sambil melihat keadaan sekitarnya.
'Lebih baik aku segera turun untuk berjaga-jaga,' pikirnya lagi. Ia pun segera terjun kebawah.
Begitu sampai di bawah, Reiya terkejut mendapati Temari, Yamato, dan Kakashi yang masih terjaga. Sakura, Sai dan Naruto terlihat sudah tertidur.
"Kalian belum tidur? Ini sudah malam, lho," kata Reiya. Temari diam saja, sepertinya lagi melamun. Yamato dan Kakashi memandang gadis berambut merah itu.
"Kau sendiri juga belum tidur, Namikaze-san?" tanya Yamato kembali.
"Begitulah. Dan bukankah sudah aku bilang untuk panggil aku Reiya atau Rei saja, Yamato-san?" tanya Reiya. Dia lalu duduk di sebelah Temari.
Yamato terkekeh pelan, "Baiklah, Rei kalau begitu."
Reiya tersenyum kecil mendengarnya, lalu menoleh ke arah Temari yang masih melamun.
"Baik-baik saja, Temari-san?" Temari tersentak begitu mendengar namanya disebut, lalu menoleh ke arah Reiya.
"Sejak kapan kau disana, Rei?" tanya Temari. Reiya tertawa kecil mendengarnya, "Aku sudah disini dari tadi, kok. Temari-san saja yang melamun terus," Temari hanya menunduk sambil menggumamkan 'maaf'.
"Tidak apa-apa. Anda mengkhawatirkan Kazekage-sama, Temari-san? Aku dengar kau itu kakaknya," ujar Reiya. Temari mengangguk singkat.
"Gaara itu, orang yang sangat hebat. Kehebatannya bahkan sudah diakui oleh para penduduk desa. Mereka yang dulu takut dan benci padanya kini menjadi sangat menghormatinya dan menyayanginya sebagai pemimpin mereka. Entah musuh sekuat apa yang berhasil mengalahkannya. Bagaimana kalau Gaara sudah..?" Temari menghela napas panjang, tidak ingin melanjutkan perkataannya tadi. Reiya ikut menghela napas.
"Yah, aku juga selalu mengkhawatirkan Naruto. Apalagi dengan kepergianku selama 5 tahun ini," ceritanya.
"Aku pergi dari desa saat aku masih 13 tahun dan Naruto masih bocah berusia 10 tahun. Saat itu, tentu saja Naruto mencegahku pergi. Dia ngambek, menangis, bahkan sampai mogok makan hanya untuk itu," lanjutnya sambil terkekeh pelan. Yang mendengarkan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya.
"Tapi setelah berbagai bujukan, rayuan, dan nasihat akhirnya dia nurut juga. Meski sempat mengancam akan mencariku kalau aku tidak mengirimkan kabar apapun padanya," ujarnya. Lalu Reiya berdiri dari duduknya sambil meregangkan tangannya.
"Yak! Sesi certanya sudah selesai. Kalian istirahatlah! Biar aku yang menjaga daerah peristirahatan kita ini!" serunya semangat. Yang lainnya juga ikut berdiri.
"Bukankah kau baru saja kembali dari perjalanan panjangmu, Rei? Biar aku dan Yamato saja yang jaga," ujar Kakashi menawarkan diri. Reiya tadinya ingin protes, tapi akhirnya nurut juga karena dia juga lelah. Tapi sepertinya sesi cerita ini belum berakhir.
A/N :
Errr... Kayanka masih pendek-pendek aja ya... (meringkuk dipojokan sambil pasang muka muram)
Anyway! (langsung pasang muka cerah) Ini dia chapter 2-nya! Sekarang saatnya.. (Terdengar suara drum) Balas Review!
Guest : Nih Mel udah lanjutin! Ampun! (Ngacir)
Ymd (dari ch.1, Gomme ne~, baru bales sekarang) : Mel udah usahain secepatnya, nih!
Hinatsuki reiko : Sip deh..
Black Market : Huwa! Mel baru inget! Arigato sudah ngasih tau Mel! (Bows)
Foxy-chan : Arigato! Mel usahain deh. Buat ceritanya panjang!
Ren Akatsuki : Arigato atas sarannya! Masalah namanya, Mel juga baru nyadar. Arigato udah kasih tau Mel. (Bows)
Blue-senpai : Mel memang udah ngerasa pendek amat ceritanya, sih! Tapi, Mel akan lebih giat lagi buat ceritanya biar lebih panjang! (Semangat '45)
TobiAkatsukiID : Rencana Mel sih maunya tetep jadi Jinchuriki. Tapi liat aja deh nanti..
Akira no Rinnegan : Mel akan usahain chapter - chapter berikutnya lebih panjang! (Semangat tingkat dewa)
AnnisaIP : Arigato! Mel usahain update secepatnya, nih!
J : Arigato! Mel bakalan terus lanjut! (Ngacungin tinju ke atas)
Rizkiirawan3 : Yup! Ini langsung Shippuden. Soalnya, kalo nggak judulnya bukan 'Naruto Shippuden Versiku', donk! Hehehe.. Soal canon ato nggak, jujur aja Mel masih binggung cara bedainnya, ceritanya memang beda sama yang asli, tapi nggak beda-beda amat. (Binggung sendiri)
Puchan : Betul banget! Sai memang nyebelin! Mukanya aja sering buat orang kesel.. (Ngacir sebelum dibantai Sai)
Monkey De Nico : (ngangguk-ngangguk) Betul, kan? Ceritanya agak maksa? Ternyata Mel nggak bisa jadi misterius.. (Lho?!)
Nagasaki : Arigato! Mel akan panjangin ceritanya! Kalo perlu sampe 10 meter! #plak!
Nendra Nezukaze (gabungin aja yang ch.1 sama ch.2) : Arigato sudah review! Cerita Mel memang pendek soalnya buatnya aja dibarengi sama Hinatsuki Reiko dengan Ja'nua Solomon yang ngencem untuk segera publish bersama dengan aura hitam gitu (merinding disko). Kalo Nendra-san penasaran, baca terus aja! #plak!
Nitya-chan : Arigato! Terus baca ya!
KirikaNoKarin : Siap, bos! Habis Mel pusing, banyak tugas sekolah bertebaran, mana bentar ada ulangan. Hwa, Mel bisa gila! Kenapa guru-gurunya pada sadis semua?! (jedotin kepala ke dinding terdekat)
Arramsye. Rudyezavfiin: Hehehe... Di cerita ini, nama OC Mel bukan Naruko, sih. Rencananya sih mau di buat nenek Chiyo-nya nggak mati, tapi Mel nggak tau mau dibuatnya gimana! Mungkin ada saran dari para senpai yang baik hati ini? (ngarep) T_T
Ngomong-ngomong, Mel mau minta pendapat para readers, nih. Soalnya, Mel kepikiran untuk buat versi Behind The Scene-nya. Yang Humor, siapa tau Mel bisa buat fic humor. Mungkin bisa review setuju atau tidak.
Arigato untuk yang sudah review! Bersediakkan para pembaca sekalian untuk memberi sebuah review untuk saya? Mohon tunggu chapter berikutnya ya! (Bows)
