Modern Ninja

By Juubi

Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

And High School DxD belongs to Ichiei Ishibumi

Rate T (maybe)

Warning : Au, OOC, tipo dll

Enjoy it

..

.

Memandang tumpukan kertas didepan, membuat Sirzechs memijit pelipisnya. Kertas-kertas itu seperti tidak ada habisnya, ketika selesai satu kertas maka datang lagi sepuluh kertas membuat dirinya harus menahan agar tidak memusnahkan kertas itu dengan kekuatannya.

Perhatiannya teralihkan ketika pintu ruangannya terbuka menampilkan seorang perempuan berambut perak panjang, memakai baju berwarna putih yang sesuai dengan lekuk tubuhnya. Melihat siapa yang datang membuat Sirzechs bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena yang datang itu adalah istri tercintanya dan sedih kerena istri nya itu membawa sebuah map yang sudah pasti berisi tumpukan kertas. Meskipun begitu Sirzechs masih memberikan senyum manis kepada perempuan itu. "Senang bertemu dengan mu, Grayfia-chan."

"Selamat sore, Hokage-sama. " Wanita yang bernama Grayfia Gremory yang menjadi istri sekaligus sekertaris dari Sirzechs menunduk hormat. Tak ada ekspresi yang dikeluarkan wanita itu, wajahnya datar begitu juga dengan nada bicaranya.

"Mou... " Sirzechs membuat wajah cemberut mendengar perkataan Grayfia berharap wanita itu akan menunjukan ekspresi nya, tapi Sirzechs tau wanita didepannya ini tak akan menunjukan ekspresi nya saat menjalani pekerjaannya. Wanita itu menjunjung tinggi propesionalisme(?). "Aku ini adalah suami mu. Jadi kau tak perlu seformal itu."

"Aku juga adalah bawahan mu." Sudah sekian kalinya Sirzechs mengatakan itu, dan sudah sekian kali juga Grayfia menjawab seperti itu. Bahkan Sirzechs sudah hapal apa yang akan dikatakan Grayfia selanjutnya. "Jadi sudah sewajarnya saya hormat kepada anda." tuh kan. Sama persis dengan dia pikirkan.

Sirzechs berdiri dari kursinya kemudian berjalan kedepan kearah istri nya. "Jadi, ada apa kau kemari."

"Ini, ada beberapa laporan yang harus anda periksa." Grayfia menyodorkan sebuah map yang berada ditangannya kepada Sirzechs yang kemudian diterima oleh Sirzechs.

Sirzechs yang menerima map itu berjalan kedepan melewati Grayfia, tapi bukannya membaca isi map itu Sirzechs malah melemparnya kesofa dan dengan cepat memeluk pinggang ramping istrinya dari belakang. "Aku merindukan mu."

Grayfia yang dipeluk hanya melirik kebelang, wajah nya masih saja tanpa ekspresi itu menengok kesamping. "Kita baru bertemu delapan jam yang lalu."

"Tetap saja, aku merindukan mu." Pelukannya dia eratkan dan dagunya juga dia letakan dibahu wanita itu. Menghirup aroma tubuh memabukan membuat Sirzechs menarik nafas dalam. "Aku tak bisa berpisah terlalu lama dengan wanita secantikmu."

"Anda masih memiliki perkerjaan yang harus anda kerjakan." Meskipun nada bicaranya masih saja datar dan formal tapi ketika melihat wajahnya maka akan terlihat semburat merah di masing-masing pipinya. Kedua tangannya juga berusaha melepaskan pelukan Sirzechs yang semakin kuat hingga akhirnya dia menyerah karena kekuatan yang tak seimbang antara dirinya dan Sirzechs.

"Itu dapat di selesaikan nanti." Sirzechs masih tidak mau melepaskan pelukannya, bahkan dia mulai mencium leher jenjang milik Grayfia. Menghiraukan tubuh Grayfia yang menegang, pria yang menjabat sebagai Hokage itu menggerakan bibirnya keatas melewati leher, pipi, dan berhenti disamping telinga sang istri. "Sekarang yang aku inginkan hanyalah kamu." Bisiknya lembut

"Ta-tapi kita berada dikantor." Ketenangan yang dia bagun sedari tadi hilang entah kemana, itu terbukti ketika dia terbata diawal kalimat. Dia berusaha mati-matian agar tidak mendesah saat Sirzechs mencium bagian sensitif tubuhnya.

"Tak masalah." Sirzechs kembali mencium leher Grayfia, sebelah tangannya juga mulai bergerak keatas menuju dua bukit yang sangat dia sukai. Tapi secara tiba-tiba muncul kumpulan asap dibelakang mereka membuat mereka terkejut, pelukan Sirzechs yang melemah dimanfaatkan Grayfia dengan baik sehingga dia berhasil melepaskan pelukan itu.

Sirzechs yang merasa kesenangan nya terganggu tidak menyembunyikan ekspresi kesalnya, dia berbalik dan menatap tajam seorang anbu yang berlutut ditempatnya. "Ada apa? "

"A-anu... " Anbu tersebut tidak bisa menyembunyikan kegugupan nya saat ditatap sang Hokage dengan tajam ditambah dengan suara yang kesal. Tapi mau bagaimana lagi sudah tugasnya untuk menyampaikan sesuatu yang bisa dibilang penting. "Pe-pemuda itu sudah ditemukan."

Grayfia mengkerutkan keningnya walaupun itu hanya terjadi sedetik sebelum wajahnya kembali datar tanpa ekspresi, dia tidak tau siapa pemuda itu dan kenapa Sirzechs mencarinya. Menatap sang suami yang berada disampingnya, dia dapat melihat ekspresi senang.

"Dimana kalian menemukannya?" Sirzechs masih mempertahankan nada suaranya walaupun sekarang tidak terlalu dingin.

"Dia ditemukan tak sadarkan diri dihutan barat Konoha." Sang anbu menjawab dengan hormat. "Sekarang dia berada dirumah sakit."

"Apa terjadi pertarungan?"

"Tidak ada. Ditempat kami menemukannya tidak ada tanda-tanda pertarungan."

"Baiklah, kau boleh pergi." Setelah ucapan Sirzechs terakhir anbu itu pergi meninggalkan kumpulan asap kecil. Sirzechs mengalihkan tatapannya pada Grayfia, tersenyum lembut dan berjalan mendekat. "Kita lanjutkan dirumah, Aku ada urusan."

Belum sempat Grayfia menjawab, Sirzechs sudah menghilang dari tempatnya membuat dia menghembuskan nafas kecewa. Tunggu dulu kenapa dia harus merasa kecewa?

...

Disebuah kamar dirumah sakit Konoha, diranjang tempat biasa untuk seorang pasien duduk seorang pemuda dengan sebuah bantal yang dijadikan sandaran nya. Pemuda berambut pirang jabrik itu tidak mengenakan baju sehingga tubuh bagian atasnya terlihat, sedangkan dengan bagian bawah masih memakai celana nya tadi pagi. Naruto nama pemuda tersebut menundukan kepalanya menyembunyikan mata biru yang indah dan menenangkan.

Pemuda berambut pirang itu sudah sadar lima belas menit yang lalu, tubuhnya tidak mengalami luka serius bahkan luka ringan pun juga tidak ada jadi dokter yang memeriksa dirinya mengatakan bahwa dia hanya kelelahan. Sebenarnya Naruto sedikit bingung kenapa dia berada disini, terakhir kali dia ingat dia berada di dimensi lain dan sedang mencoba kekuatan dirinya. Dan yang paling membuatnya bingung sekaligus kecewa adalah kenapa dia kehilangan kesadaran disaat kekuatannya hampir mencapai puncak. 'Mungkin itu karena fisik dan mentalku belum selaras dengan kekuatan itu.'

Pemikiran Naruto terpaksa terhenti karena pintu kamar yang dia tempati terbuka dan seorang pria yang dia kenal bernama Sirzechs masuk. Pria itu tersenyum ramah pada Naruto. "Bagaimana keadaan mu?"

"Cukup baik." Naruto membalas senyuman Sirzechs dengan senyum kecil. Setelah itu dia memberikan pandang bingung pada Sirzechs. "Kenapa kau berada disini?"

Sirzechs duduk disebuah kursi yang berada disamping Naruto, mata nya memandang wajah Naruto. "Apa aku salah ingin menjengukmu."

"Tidak juga sih." Naruto tersenyum canggung dan menggaruk belakang kepalanya yang sudah pasti tidak gatal, sebuah kebiasaan yang sering pemuda itu lakukan saat gugup atau merasa bersalah. "Tapi kau tidak akan datang tanpa suatu alasan kan."

"Yah, Kau benar. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu." Naruto memandang serius kepada Sirzechs, tangannya juga sudah dia turunkan dari kepalanya. Melihat itu Sirzechs menarik nafasnya untuk kembali bicara. "Tapi... Sebelum kita membicarakan itu, aku ingin tau kemana saja kau dan kenapa kau ditemukan dalam keadaan tidak sadar?"

"I-itu ya... " Naruto cukup terkejut dengan pertanyaan Sirzechs membuat dia sedikit kesulitan untuk menjawab. Iris matanya tak berhenti bergerak menunjukan bahwa dia sedang berpikir keras tak lama kemudian dia kembali membuka mulutnya. "Aku hanya sedang mencoba sebuah jutsu tapi karena kehabisan tenaga aku pingsan. Ya begitulah ceritanya. Ha.. Ha.."

Sirzechs menyipitkan mata membuat Naruto berhenti ketawa. Semakin lama Sirzechs memandang Naruto semakin gugup Naruto, hingga akhirnya Sirzechs menghela nafas. "Jangan melakukan hal yang dapat membahayakan penduduk disini. Kau tau tugasku sebagai Hokage adalah menjaga keamanan Konoha jadi_ "

"Ya, aku mengerti. Aku tidak boleh melakukan hal yang membahayakan penduduk." Dengan cepat Naruto memotong perkataan Sirzechs, dia benar-benar bosan bila harus mendengar penjelasan Sirzechs. Menatap Sirzechs yang juga menatap nya dengan kesal. "Jadi apa yang ingin kau bicarakan."

"Baiklah." Sirzechs mengganti wajah kesalnya dengan wajah serius. "Ada sebuah peraturan di Konoha yang mewajibkan seorang anak untuk bersekolah."

"Ya, lalu?" Ekspresi bingung tergambar jelas dari wajah Naruto, tapi dia sudah mulai merasakan pirasat buruk dengan jawaban Sirzechs selanjutnya.

"Kau masih tergolong dalam anak yang diwajibkan untuk sekolah. Jadi kau ku daftarkan pada sebuah sekolah dikota ini." Ternyata pirasat Naruto memang benar, dia akan kembali merasakan apa yang namanya sekolah. Walaupun secara teknis umur Naruto sekarang lebih dari seribu tahun, tapi tetap saja tubuhnya sekarang adalah tubuh seorang remaja yang berumur 16-18 tahun.

"Ta-tapi aku sudah menjadi ninja. Jadi aku tidak perl_ "

"Zaman sudah berubah, Naruto." Sirzechs memotong perkataan Naruto, membuat Naruto terdiam seketika. "Sekarang seorang ninja tidak hanya berlajar ilmu ninja saja tapi mereka sekarang juga harus belajar pendidikan formal."

"Selain itu... " Naruto yang terdiam dan menundukan kepalanya langsung mendongak menatap Sirzechs ketika pria itu melanjutkan perkataannya. "Sekarang seorang shinobi tidak menjalankan misi lagi, tugas utama seorang shinobi adalah menjaga keamanan negara. Selain itu, bagi anak muda shinobi hanya sebagai olahraga yang menguntungkan."

"Olahraga?" Naruto tidak menyumbunyikan kebingungan nya, wajahnya sudah menunjukan itu semua. "Apa maksudmu?"

Sirzechs hanya menghela nafasnya, orang didepannya ini sungguh sangat sulit untuk mengerti dengan penjelasan yang dia berikan. "Aku akan menjelaskan dengan mudah. Untuk masuk dalam satuan militer ataupun satuan anbu seorang ninja harus berumur minimal dua puluh lima tahun, jadi untuk mengasah kemampuan ninja sampai umurnya dua puluh lima tahun maka dibuat pertandingan antar ninja muda, itu membuat ninja tak ubahnya seperti sebuah olahraga. Kau mengerti. "

Naruto hanya mengangguk antara mengerti dan bingung walaupun lebih banyak bingungnya. Kemudian Sirzechs menyodorkan beberapa kertas yang kemudian diterima oleh Naruto. "Apa ini? "

"Itu adalah identitas baru mu." Sirzechs memperhatikan Naruto yang sedang membaca tulisan yang berada dikertas tersebut. "Tidak mungkin kan, kalau kau masih memakai identitas mu yang sebenarnya, bisa gempar dunia mendengar pahlawan dalam perang shinobi ke-4 muncul. "

"Apa-apaan ini!" Tiba-tiba saja Naruto berteriak dan melempar kertas-kertas itu kedepan membuat Sirzechs tercengang. "Nama macam apa itu, aku tidak mau memakainya. "

"Apa maksudmu? Itu nama yang cukup bagus." Naruto memberikan delikan tajam pada Sirzechs membuat pria dengan rambut merah itu harus menghembuskan nafas lelah. "Baiklah, jadi kau ingin yang seperti apa?"

Naruto meletakan jari telunjuk di dagunya dan memasang wajah berpikir yang membuat Sirzechs ingin menonjoknya. "Pertama, aku ingin nama depan ku tetap Naruto_ "

"Baiklah, nama mu Naruto Kirotsuchi. bagaimana?" Dengan nada prustasi Sirzechs memotong perkataan Naruto. Dia benar-benar kesal dengan pemuda satu ini, apalagi melihat pose berpikir dari pemuda itu menambah kekesalan nya.

"Hei. Aku belum selesai bicara." Wajah Naruto mengkerucut sebal tapi itu tak bertahan lama. "Tapi. Itu nama itu cukup bagus."

"Bagus. Minggu depan kau akan kesekolah, nanti akan ada orang yang menjemputmu." Naruto mengangguk membuat Sirzechs tersenyum. Kemudian Sirzechs berdiri dan berjalan kepintu keluar. "Aku pergi dulu, temui aku dikantor besok. "

Sirzechs yang sudah berada didepan pintu keluar dan tak lupa menutup pintu meninggalkan ruangan yang sudah kosong tanpa seorangkan. Sirzechs yang berada diluar hanya tersenyum kecil sebelum kembali berjalan.

...

'Kerusakannya cukup parah.' Mata biru seindah langit tanpa awan menatap kesekitar. Tempat yang sekarang dia datangi sungguh tak mungkin ditinggali, sejauh mata memandang hanya ada tanah gersang dengan bebatuan besar yang berserakan, aliran lava panas juga banyak terdapat disana bahkan ada beberapa semburan lava dengan ketinggian mencapai lima meter. Satu-satunya yang bagus dari tempat ini hanyalah langit yang berwarna putih bersih. 'Apa ini akibat ulah ku?'

Sebuah pertanyaan yang sudah diketahui jawaban nya terlintas dalam pikiran Naruto ketika melihat dimensi tempat dia mencoba kekuatannya tadi. Dia sungguh tidak mengira akan seperti ini kerusakan akibat kekuatannya. Tapi dia tak terlalu peduli akan hal itu, toh tidak akan ada juga yang protes pada dirinya tentang kerusakan ini karena memang disini tidak ada siapa-siapa.

Dia yang sempat lupa tujuan awal dia kemari akhirnya memutuskan untuk duduk ditanah tanpa mempedulikan celananya menjadi kotor. Mengambil posisi bertapa, dia mulai mengkosentrasikan kekuatannya. Dia sadar butuh tahapan untuk menguasai kekuatan itu.

Chakra hitam mulai keluar dari tubuh Naruto tapi kali ini lebih teratur dan tenang, dia mulai menyelaraskan chakra dengan alam sekitar. Sebenarnya chakra gelap juubi mengandung energi kehidupan yang sangat tinggi dan itu terbukti ketika juubi keluar dari seorang jinchuriki juubi maka orang tersebut tak akan mati karena energi kehidupan dari juubi. Dan juubi juga memiliki energi alam yang sangat besar bahkan menyamai alam itu sendiri oleh karena itulah sangat sulit mendeteksi chakra Naruto yang sudah menyatu dengan chakra juubi. Dan dua alasan tersebut yang sekarang membuat disekitar tubuh Naruto mulai tumbuh tumbuhan kecil dan semakin lama semakin banyak, semua itu terjadi hanya karena efek dari penyatuan chakra Naruto dengan alam sekitar.

Tapi semua itu tidak segampang yang kelihatannya, di alam basar sadar Naruto, dia berusaha mati-matian menahan energi negatif yang mencoba mengambil alih tubuhnya. Semua kenangan buruk hidupnya kembali muncul bahkan lebih besar dari biasanya.

Lava dari dalam dimensi ini juga berhenti keluar seakan juga merasakan apa yang Naruto lakukan, sedangkan lava yang terus mengalir dipermukaan mulai mengering dan berubah menjadi batu. Tumbuhan yang menyerupai rumput kecil semakin menyebar kepenjuru dimensi membuat dimensi tersebut menjadi padang rumput. Naruto yang sedang memejamkan matanya menambah intensitas chakra nya secara perlahan, disekitar matanya berubah warna menjadi hitam(mirip seperti sage mode), dipunggungnya muncul simbol lingkaran dengan pola riak air dan dibawahnya berjajar sembilan tomoe.

Tiba-tiba tumbuh sebuah pohon kecil ditempat yang berada tepat dibelakang Naruto, pohon yang hanya memiliki dua daun kecil dengan cepat membesar. Semakin tinggi dan membesar kemudian tumbuh cabang demi cabang, ranting demi ranting, dan yang terakhir tumbuh daun yang banyak memenuhi semua ranting membuat pohon itu menjadi pohon yang besar dan rimbun.

Hembusan angin menerpa pohon itu sekaligus menerpa tubuh Naruto yang berada dibawah membuat helaian rambut Naruto bergoyang. Bibir Naruto perlahan membentuk sebuah senyuman seakan senang saat angin itu menerpanya, sekarang dia benar-benar menyatu dengan alam bahkan sekarang dia sedang berkomunikasi dengan alam. Perlahan mata Naruto terbuka menampilkan mata biru yang indah dan menenangkan, untuk sesaat matanya berubah menjadi mata dengan pola riak air yang berwarna kuning keemasan sebelum kembali seperti semula.

Tatapan terkejut Naruto berikan saat pertama kali dia membuka mata, sejauh mata memandang hanya ada rumput halus yang dia lihat, bahkan batu-batu besar pun tertutup oleh tumbuhan tersebut. Menatap keatas, Naruto melihat sebuah cabang pohon dengan daun yang lebat memunuhi rantingnya menghalangi penglihatannya dari langit. Membalikan tubuhnya, Naruto tidak bisa tidak terpana melihat pohon yang sangat besar berdiri kokoh dibelakangnya.'indah.'

'Apa semua ini karna kekuatan ini.' Tatapan Naruto beralih pada tubuh, dia dapat merasakan kekuatan yang mengalir dalam tubuhnya dengan tenang, berbeda dengan yang dulu dia rasakan saat mencoba menggunakan kekuatannya yang terasa dingin dan menyakitkan sekarang dia merasakan kekuatan yang hangat dan mengenakan. Dia sungguh tidak menyangka dengan metode yang biasa dia lakukan untuk masuk ke sage mode akan menghasilkan kekuatan kekuatan sebesar ini. Tapi itu hanya berlangsung selama setengah menit, setelah itu kekuatan yang dia rasakan menghilang begitu juga dengan simbol yang tercipta ditubuhnya. 'Waktu penggunaan nya sangat sebentar berbeda dengan waktu pengumpulan nya yang membutuhkan waktu cukup lama. Haahh, mungkin aku harus mencobanya lagi.'

...

...

Satu minggu kemudian.

"Jadi ini Higashi Akademi." Naruto menatap gerbang besar didepannya, kemudian beralih kesamping ketempat seorang wanita berambut hitam yang tadi pagi menjemputnya dikantor Hokage.

Wanita yang bekerja sebagai guru disekolah ini mengangguk dan memberikan senyum pada Naruto. "Selamat datang di Higashi Akademi. "

Naruto balas tersenyum dan mengangguk, dia kemudian mengangkat sebuah koper yang berada disampingnya dan berjalan mengikuti wanita tadi yang sudah berjalan duluan. Matanya bergerak kesana kemari memperhatikan keadaan sekitar, setelah melewati gerbang yang dijaga oleh dua orang security mereka berdua melewati jalan yang dipagari oleh tumbuhan setinggi badan anak kecil, dibalik pagar itu juga terdapat beberapa pohon yang cukup rindang. Tak lama mereka berdua berjalan, meraka sampai dipersimpangan jalan yang tepat ditengahnya ada sebuah air mancur yang didekor sedemikian rupa.

"Didepan adalah bangunan sekolah utama." Naruto dapat melihat sebuah bangunan yang dimaksud oleh wanita yang memandunya. "Di kanan adalah asrama purta dan di kiri asrama putri."

Sekolah ini memang menyediakan sebuah asrama bagi siswa yang jauh atau siswa yang ingin tinggal di asrama, biasanya siswa yang berstatus ninja yang akan tinggal diasrama itu karena bagi siswa berstatus ninja akan memiliki waktu yang lebih banyak dari siswa biasa tapi tak jarang siswa berstatus shinobi tetap tinggal dirumahnya.

Naruto kembali berjalan menuju asrama putra dan berhenti tepat didepan pintu masuk asrama.

"Kamar mu ada dilantai tiga dengan nomor dua puluh lima." Wanita itu menyodorkan sebuah kunci pada Naruto yang kemudian diterima dengan baik oleh pemuda itu. 'Letakan barang-barangmu dan segera ganti bajumu dengan seragram yang sudah diberikan."

"Baiklah." Naruto membungkuk hormat sebelum memasuki pintu asrama. Dia berjalan menyusuri lorong, kemudian menaiki tangga hingga dia sampai kelantai tiga. Kembali menyusuri lorong sambil melihat pintu-pintu hingga akhirnya dia berhenti didepan pintu bernomor dua puluh lima. Setelah memasukan kunci dan memutarnya, Naruto membuka pintu tersebut dan masuk kedalam kamar tersebut.

Beberapa menit kemudian Naruto keluar dari kamar tersebut dengan pakaian baru. Sekarang dia memakai baju seragram berwarna putih yang dilapisi sebuah blazer hitam yang dua buah kancing atas tidak terpasang, dan celana panjang berwarna hitam. Merasa penampilannya sudah baik Naruto mulai berjalan keluar.

...

"Jadi kau murid baru itu." Seorang pria yang memiliki rambut berbeda warna antara depan dan belakang menatap inten pemuda didepannya. Meneliti dari bawah hingga atas, dari caranya berdiri saja Azazel sudah mengetahui bahwa pemuda didepannya ini petarung yang handal. 'Jadi ini pemuda yang dimaksud Sirzechs. Sungguh menarik.'

"I-ya sensei, perkenalkan nama saya Naruto Kirotsuchi." Naruto menjawab dengan sedikit terbata, dia sedikit merasa gugup bila ditatap seperti itu. Sekarang dia berada diruangan kepala sekolah, dan pria didepannya ini adalah kepala sekolah disini.

"Namaku Azazel, kepala sekolah disini." Azazel memberikan senyuman kecil pada Naruto, dia kemudia mengambil selembar kertas yang ada dimejanya. "Kau akan ditempatkan dikelas 2C, tunggulah disini sampai wali kelasmu datang."

"Baik sensei." Naruto menuruti ucapan Azazel untuk menunggu wali kelas yang dimaksud Azazel tadi. Tak lama kemudian sebuah ketukan pintu terdengar dari luar dan dengan segera Azazel memerintahkan orang itu masuk.

"Selamat pagi Azazel-sensei." Seorang pria yang kira-kira berumur tiga puluhan masuk kedalam ruangan ini. Pria tersebut membungkuk hormat pada Azazel sebelum pandangannya beralih kearah Naruto. "Jadi ini siswa baru itu."

Azazel mengangguk menjawab pertanyaan pria tersebut. "Tolong antarkan dia kekelasnya."

"Baiklah." Tatapan pria itu masih kearah Naruto mencoba menilai kemampuan Naruto. Setelah itu pria itu tersenyum lembut pada Naruto. "Mari Naruto-san."

Naruto mengikuti pria itu yang berjalan keluar tapi sebelum itu dia membungkukan badan kepada Azazel. "Saya permisi dulu, Sensei."

...

"Baiklah, anak-anak. Sekarang kita akan mendapatkan teman baru." Seorang pria yang berdiri didepan kelas berbicara sedikit lantang kepada para murid didepannya. Banyak para murid yang berbisik-bisik pada teman sebangkunya ketika mendengar ucapan sang sensei membuat pria yang menjadi sensei itu memukul pelan papan tulis agar para murid tenang. "Baiklah, Kirotsuchi-san silahkan masuk."

Setelah sensei mengucapkan itu pintu kelas terbuka dan masuk seorang pemuda berambut pirang dengan memakai seragram sekolah. Pemuda yang bernama Naruto itu berhenti disamping pria yang menjadi sensei nya dan menghadap kearah para murid yang menatap dirinya. Naruto melihat ada beberapa siswa yang memakai pin dengan simbol shinobi Konoha yang terpasang di blezer tepat dibagian dada kirinya.

Naruto menatap sensei yang bicara kepada dirinya dan menyuruh dirinya memperkenalkan dirinya, tatapannya kembali kedepan ketempat para murid. Jujur saja dia sedikit gugup ditatap oleh banyak orang seperti itu, tapi dia memantapkan dirinya untuk bicara. "Perkenalkan namaku Naruto Kirotsuchi. Mohon bantuan nya."

Sang sensei tersenyum kearah Naruto kemudian tatapannya beralih pada para murid. "Apa ada pertanyaan untuk teman baru kita?" Seluruh murid diam pertanda tidak ada yang mau bertanya, membuat sang sensei kembali menatap Naruto. "Kirotsuchi-san silahkan duduk disana."

Melihat arah tunjuk sang sensei, Naruto tersenyum kemudian berjalan ketempat duduknya sesaat setelah dia menunduk hormat kepada sang sensei. "Terima kasih, Sensei."

...

..

TBC

.

Yo saya datang lagi, bagaimana dengan chap ini baguskah atau jelekkah. Mohon review nya. Mungkin pada chap ini banyak kekurangannya, karena saya baru membuat fic ini setelah meng update fic saya yang satunya.

Saya ucapkan terima kasih kepada kalian yang sudah mau membaca, mem fol, mem fav, dan mereview fic saya ini. Itu semua sangat membantu saya untuk melanjautkan fic ini.

Balasan review :

Esya. : kemungkinan besar klan-klan yang senpai maksud akan saya nyatakan punah, tapi tidak menutup kemungkinan akan ada orang yang masih memiliki kemampuan dari klan tersebut. Untuk saran yang anda berikan, maaf saya tidak bisa melakukan itu. Menurut saya nama jepang tidak cocok digabungkan dengan nama eropa.

: saya memang akan menceritakan kejadian apa saja saat great war tapi itu masih lama, mungkin saat Naruto berinteraksi dengan seekor naga. Dan untuk kekuatan Naruto akan saya kembangkan secara bertahap, tapi kemampuan Naruto sekarang sudah setara dengan kage.

Mungkin hanya dua pertanyaan saja yang saya jawab untuk saat ini. Untuk pertanyaan lainnya biarkan menjadi rahasia.

.

.

.

Juubi no Kitsune out