"Eren." Carla secara tiba-tiba memeluk Eren, berusaha menenangkannya.

"Ada apa, bu?" Eren bingung dan kaget melihat tindakan ibunya yang tiba-tiba memeluk.

"Kemarin saat sepulang dari pemeriksaan kondisimu, dokter Pixis memberitahu kepada kami."

"S-soal apa?"

Carla menghela nafas, jari-jari lembutnya masih menyisir rambut cokelat Eren.

"Kau di diagnosa mempunyai kelainan."

'Maafkan kami, Eren.'

"Kelainan? Kelainan apa?" Eren menuntut penjelasan.

Tiba-tiba Carla melepas pelukannya dan langsung menatap wajah anaknya dengan rasa bersalah.

"Tidak lama lagi tubuhmu akan bertransformasi menjadi perempuan."

.

.

.

.

Shingeki No Kyojin by Hajime Isayama

What's wrong with me! by Rivaille Yuki Gasai 2

.

.

Teen, AU!Transgender, Romance, Typo(s) everywhere, first FFn.

Rivaille x Female!Eren

Note: Cerita ini terinspirasi dari kisah hidup Ryan McKenna. Tapi saya tidak mengambil sepenuhnya cerita dari beliau. Separuhnya adalah dari otak saya sendiri. Kisah ini menceritakan dimana Eren seorang remaja laki-laki yang nantinya akan bertransformasi secara alami menjadi perempuan.

Terimakasih untuk: xxchancimit, DarkWings88 dan akira. ^^

++ = Disini Eren bersekolah di Maria Senior High School yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumahnya. Maria Senior High School ini membuat ciri khas untuk murid dari mulai kelas satu, dua sampai tiga. Seragam Maria Senior High School berwarna putih, tetapi setiap hari Rabu dan Kamis di wajibkan untuk memakai rangkap Blazer berwarna biru tua, celana serta rok berwarna biru tua juga. Namun yang membedakan adalah tingkatan kelas satu, dua dan tiga. Untuk kelas satu memakai dasi berwarna kuning, kelas dua memakai dasi berwarna biru muda, dan untuk kelas tiga memakai dasi berwarna merah. Gedung sekolah mereka sama seperti sekolah jepang yang sering kita lihat di Anime, tapi Maria Senior High School bertingkat 3.

Oke mungkin penjelasan mengenai Maria Senior High School sudah cukup, bukan? Dan selamat membaca kembali lanjutan dari nasib Eren Jaeger^^

.

.

.

Enjoy^^

.

.

.

Chapter 3: Interesting.

Kedua bola mata Eren sukses membulat dan mulutnya membuka-tutup seperti ikan yang kehabisan nafas. Tapi mau bagaimana lagi? Tidak bisa berkata apa-apa dan hanya reaksi seperti itu yang bisa dia tunjukkan. Carla merasa hatinya terpukul karena mengatakannya secepat ini, tapi jika tidak diberitahu segera akan lebih bahaya lagi. Jeda hening diantara keduanya berlangsung hanya satu menit, Carla menghela nafas berat, tahu bahwa putra kesayangannya belum bisa percaya dengan semua ini. Tiba-tiba saja Eren bersuara.

"P-perempuan? Ibu tidak bercanda?" Sempat merasa curiga, namun melihat raut wajah ibu nya ini sudah menunjukkan bahwa bukan candaan ataupun sebuah jebakan. "Tidak sama sekali, Eren. Sungguh, ibu minta maaf karena sudah membuatmu seperti ini."

"Kenapa ini semua bisa terjadi? Apakah dokter Pixis tidak salah? Seharusnya ibu tanyakan kembali, mungkin saja dia salah."

Carla sangat membutuhkan Grisha, karena jika dia yang memberitahu rasanya tidak tega. Ingin sekali berkata 'Ah, mungkin saja dia memang salah' sambil tertawa. Tapi tidak mungkin, sebelum Eren mengatakan seperti itu pun Carla sudah menanyakannya kepada dokter Pixis, namun dokter Pixis sudah mencoba tes nya hingga tiga kali dan hasilnya tetap sama. Dengan perlahan Carla menangkup wajah Eren dengan kedua tangannya dan berkata, "Maaf, tapi kita harus menunggu ayahmu pulang dan kita bicarakan ini bersama-sama. Sekarang kau ganti pakaian dan kembali lagi kesini untuk makan. Bukankah kau lapar? Setelah itu kau bisa meminum obat pencegah rasa sakitmu."

Mendengar itu, Eren mengangguk lemah dan berjalan lesu menuju kamarnya yang berada di lantai satu.

.

.

.

.

.

Bruk!

Si brunette langsung merebahkan dirinya diatas kasur dan melempar asal tas sekolahnya. Lelah, Eren sangat lelah untuk hari ini. Di awal bulan kelahirannya ini dia merasa banyak kejadian yang tidak terduga. Padahal bulan sebelum-sebelumnya Eren menjalankan hidup normal dan tidak ada kejadian yang aneh seperti saat ini. Terbaring di kasur yang empuk dan ruangan kamar yang sejuk membuatnya sedikit tenang, sambil menatap langit-langit kamar yang bercat warna Cream menambahkan rasa tenang yang cukup. Tanpa sadar kedua matanya menutup, namun saat ingin memasuki dunia mimpi─

Gruu~

Lambungnya meminta diisi oleh makanan yang sudah disajikan oleh ibunya. Tidak bisa menahan lapar, Eren langsung saja membuka kancing seragam sekolahnya serta celana biru tua dan bangkit dari kasur empuknya untuk mencari baju kaos yang ada di dalam lemari, tapi sebelum sampai ke lemari tiba-tiba Eren menghampiri cermin yang bertengger manis di dinding kamarnya yang tidak jauh dari lemari pakaian.

Cermin yang terbuat dari kayu mahoni berbentuk persegi panjang yang memiliki ukuran 120 x 90 cm itu menampilkan sosok remaja laki-laki yang memiliki tubuh ramping, kulit tan yang mulus, bola mata yang indah, rambut cokelat tua yang sudah gondrong, poni yang panjang sampai-sampai ingin menutupi matanya, perlahan-lahan Eren melepas seragamnya dan─

"Eh?" Matanya memandang tidak percaya apa yang dia lihat sekarang. Eren bersumpah, dia tidak pernah melakukan pembesaran payudara. Mengangkat kedua tangannya dan meraba kedua payudaranya, mencoba memastikan bahwa ini asli atau tidak.

Tetapi saat sedang meraba, Eren merasakan gejolak aneh di tubuhnya. Pipinya mulai memerah, ia merasakan sensitif sekali saat meraba-raba dan langsung saja berhenti.

"Mungkin benar apa kata ibu." Ingin sekali menangis, tapi harus bagaimana lagi? Kalau benar dia sudah bertransformasi menjadi perempuan dan meminta operasi agar kembali ke tubuh laki-laki tidak akan mungkin, bukan? Walaupun orang tuanya bisa mengabulkan permintaan Eren, tapi operasi seperti itu membutuhkan biaya yang mahal. Tidak. Eren tidak ingin membuat kedua orang tuanya sengsara hanya karena keinginan egoisnya. Mengingat bahwa yang mengurusnya dari kecil sampai sekarang ini adalah orang yang dicintai, Eren tidak akan sejahat itu memintanya.

Mengangguk mantap di depan cermin, Eren kembali berbalik ke lemari pakaian dan segera keluar kamar menuju ruang makan.

.

.

.

.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, pintu masuk rumah keluarga Jaeger berderit bunyi.

Kriet.

"Aku pulang." Terdengar suara khas bapak-bapak yang sudah menginjak umur 45 tahun. Grisha Jaeger, kepala rumah tangga yang baru saja selesai dari pekerjaannya di rumah sakit. Dia adalah dokter umum ternama dan terpercaya di kota Sina. Setelah melepas sepatu kerja dan menaruhnya di rak sepatu, sang istri tercinta menghampiri sambil berkata, "Selamat datang."

Carla mengambil tas kerja Grisha agar beban bawaannya tidak terlalu berat dan keduanya berjalan ke ruang keluarga. Grisha menuju sofa berwarna merah marun, sedangkan Carla menaruh tas kerja milik suaminya di meja kerja yang berada di sudut ruang keluarga Jaeger. Setelah itu Carla langsung memasuki dapur untuk membuatkan teh hangat.

Saat Grisha sedang menyamankan dirinya di sofa, tiba-tiba saja putranya berdiri sambil memeluk bantal.

"Ada apa, Eren?"

"Boleh aku duduk disebelah ayah?"

Grisha mengangguk sebagai jawaban. Tidak biasanya Eren bertanya dulu sebelum duduk. Biasanya dia langsung duduk disebelah Grisha dan mengobrol tentang teman-teman di sekolahnya sambil memakan biskuit susu. Grisha merasakan ada hal yang aneh, pasalnya Carla juga menampilkan wajah yang terlihat sedih. Pasti ada sesuatu yang terjadi, apalagi kalau bukan permasalahan yang muncul dari anaknya.

Tidak lama kemudian Carla datang membawa nampan yang berisi tiga cangkir dan teko berisi teh hangat. Membungkuk sedikit untuk menaruh cangkir kepada Eren dan Grisha,setelah itu sang istri menuangkan teh kedalam cangkir mereka masing-masing. Hening mengisi ruangan keluarga Jaeger yang memberikan efek canggung. Carla sudah duduk di sofa single yang tidak jauh dari Eren dan Grisha duduk. Karena dia adalah kepala rumah disini, ia berdeham dan mulai membuka suara.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi disini?"

Mau tidak mau Carla menceritakan keluhan yang terjadi pada Eren tadi sore. Selama sang istri sedang bercerita, Grisha hanya diam mendengarkan dan mengangguk sebagai jawaban. Setelah Carla selesai bercerita, sang suami langsung memperhatikan anak semata wayangnya yang sedang menunduk sambil memeluk bantal. Mungkin putranya malu dengan perubahan kecil tubuhnya. Menghela nafas, fokus Grisha pada saat ini adalah Eren.

Sebelum berbicara, dia meneguk teh hangat yang sudah disediakan karena tenggorokannya sangat kering. Meletakkan kembali cangkir tersebut, Grisha kembali membuka suara, "Jadi, kau sudah tahu ya?" Dokter umum ternama itu merasa sangat bersalah kepada anaknya.

Eren yang sedari tadi menunduk kini mendongakkan kepalanya.

"Maafkan kami, Eren. Kami tidak tahu akan terjadi seperti ini." Lagi-lagi, orang tuanya meminta maaf. Eren tidak tega mendengar permintaan maaf dari mereka. Memangnya ini salah mereka? Sumber permasalahan ini apakah orang tuanya? Eren akhirnya membuka suara.

"Ayah, sebenarnya siapa yang melakukan ini?"

"Tidak ada yang melakukan hal ini, kecuali Tuhan." Ucap Grisha. Eren tidak tahan untuk tidak bertanya lagi demi menghilangkan rasa penasarannya. "Tolong jelaskan padaku, ayah."

Sama seperti Carla, Grisha pun tidak ingin menceritakannya. Tapi apa boleh buat? Semua ini harus dilakukan agar Eren mengerti.

Grisha mengangguk dan mulai menceritakannya.

.

.

.

.

.

.

Awal bulan Maret di hari minggu pagi merupakan hari dimana kita merasakan waktu istirahat sebelum hari senin tiba. Waktu istirahat yang dibutuhkan hanyalah ketenangan tanpa suara yang bisa mengganggu pendengaran kita. Grisha Jaeger, dia adalah seorang pencari nafkah untuk istri dan anak tercinta. Pria yang sudah berumur kepala empat ini sedang merasakan Sunday Morning di halaman belakang rumahnya. Hanya duduk di kursi kayu dan menikmati secangkir teh hangat buatan istrinya sudah melebihi dari cukup. Namun tanpa diduga, pintu kaca sebagai pembatas halaman dan ruang keluarga terbuka dengan kasarnya sampai-sampai Grisha terkejut mendapati sang istri yang raut wajahnya tidak bisa diartikan.

"Grisha! Cepat ke kamar Eren!" Saat mendengar itu, Grisha langsung melesat ke dalam menuju kamar Eren.

Saat sampai di kamar Eren, bola matanya sukses membulat karena melihat keadaan putranya yang terbaring lemah sambil memegang lehernya. Awalnya dia kira Eren akan bunuh diri, tapi saat Carla menjelaskan bahwa Eren mengeluh sakit di tenggorokannya dia langsung menggendong Eren, "Kita harus membawanya ke rumah sakit."

.

.

.

Sesampainya mereka di rumah sakit yang secara khusus menangani gangguan dan kelainan pada tubuh, para suster dan pelayanan yang siaga membawa pasiennya kini langsung menghampiri keluarga Jaeger tersebut dengan membawa tempat tidur pasien yang memiliki roda. Eren dibaringkan ke atas tempat tidur tersebut dan mereka langsung mendorongnya ke ruangan Unit Gawat Darurat.

Menunggu selama 30 menit, salah satu suster keluar dan disambut oleh orang tua dari Eren Jaeger. Carla tidak sabar untuk mengetahui kondisi anaknya sekarang.

"Tuan dan Nyonya Jaeger, anak anda masih dalam keadaan pembiusan. Dokter Pixis ingin Tuan dan Nyonya Jaeger ke ruangan beliau."

.

.

.

Tok. Tok.

"Silahkan masuk."

Sepasang suami istri yang memiliki marga Jaeger itupun langsung masuk ke dalam ruangan dokter Pixis. Ruangan yang bercat warna biru tosca sebagaimananya cat yang selalu menempel di berbagai rumah sakit, maksud untuk memberikan kesan steril dan nyaman. Meskipun hanya satu petak, tetapi ukurannya lumayan besar juga, mengingat bahwa ini adalah ruangan dokter yang sudah senior. Ruangan itu terisi dengan kasur pasient, timbangan berat badan, pengukur tinggi badan, meja serta kursi yang telah disediakan, lemari berbahan dasar kayu jati yang fungsinya sebagai tempat penyimpanan dokumen penting seorang dokter sebagaimana ruangan dokter pada umumnya. Tiba-tiba sang dokter menyambut dengan suara yang sudah agak serak.

"Ah, selamat datang." Setelah pintu ruangan tertutup, mereka berdua duduk di kursi yang telah disediakan. Sapaan hangat dari dokter yang sudah senior, dia tidak memiliki rambut dibagian kepalanya, kumis tebal menghiasi di sekitar mulut dan wajahnya sudah keriput. Namun dia adalah dokter yang sangat cekatan dalam menangani pasiennya.

"Wah, wah. Lama tidak berjumpa, dokter Grisha Jaeger." Sapaan akrab dari dokter Pixis. "Kau juga, sama sekali tidak berubah."

Pria paruh baya itu mendengus dan ia tersenyum, "Akan lebih baik jika aku memanggilmu dengan Tuan, karena ada Nyonya Jaeger." Maksud agar sopan. Dokter Pixis pun langsung melanjutkan.

"Perkara anak kalian, Eren Jaeger, dia mengalami pengecilan pada jakun nya."

"Bagaimana bisa?"

Dokter Pixis berdeham dan kembali melanjutkannya, "Saat aku memeriksanya, aku pun hampir terkejut. Terlihat sangat jelas sekali kelenjar tiroid itu mengecil dan aku belum pernah menangani pasien yang seperti ini." Jelas dokter Pixis.

"Lalu bagaimana dengan dampaknya pada Eren?" Tanya Carla dengan nada cemas dan khawatir.

"Dampaknya mungkin suara yang dikeluarkan Jaeger akan tampak seperti perempuan dan setelah aku selesai memeriksa, ada sesuatu yang aneh."

"Apa maksudmu?"

Sebelum menjawab pertanyaan Grisha, dokter senior itu memberikan kertas putih yang tebal kepada Grisha. Setelah menerima, dokter Pixis menyarankan untuk membacanya terlebih dahulu.

"Kau bisa memahaminya, bukan?"

"Apa kau bercanda?"

"Aku tidak pernah berniat untuk melakukan hal seperti itu. Aku cukup kaget dan tidak percaya dengan hasil test nya, sama seperti kau."

Perdebatan yang tidak dimengerti oleh Carla berlangsung hingga dua menit lamanya dan perdebatan itu berakhir dengan Grisha yang tidak bisa menjawabnya lagi.

"Baiklah. Kapan Eren akan bertransformasi?"

"Eren Jaeger akan bertransformasi saat dia sudah berumur tujuh belas tahun."

'Tujuh belas tahun?' batin Grisha.

"Memangnya berapa umur anakmu sekarang?" tanya sang dokter.

"Enam belas tahun. Tanggal 30 Maret adalah hari penambahan umurnya. Cepat sekali, bukan?" Grisha menjawab sambil tertawa renyah.

"Tidak kusangka perubahannya secepat itu. Baiklah, aku akan memberitahukan kepada kalian. Sebagai orang tua yang baik kalian harus selalu memantau perkembangan tubuhnya setiap saat, karena perubahan seperti ini akan terjadi secara tiba-tiba. Untunglah kami mempunyai obat pencegah rasa sakitnya, bacalah resepnya terlebih dahulu." Jelas dokter Pixis yang di simak dengan serius oleh Tuan dan Nyonya Jaeger.

"Dan jangan lupa, tanggal 27 ini kalian harus membawa Jaeger kepadaku untuk diperiksa tentang perkembangan tubuhnya."

"Baiklah dokter Pixis, terima kasih atas bantuanmu. Kami sangat beruntung dokter senior sepertimu masih menetap di kota ini."

"Tidak masalah, bagiku kota ini sangat membutuhkan dokter sepertiku." Candaan yang diselingi dengan tertawa pelan. "Sekarang kalian boleh menemui Jaeger."

.

.

.

.

.

"Apa semuanya sudah jelas?"

"Ya, terima kasih atas penjelasannya ayah." Sekarang dia mengerti, ini bukan salah ayah dan ibunya, bukan juga salah dokter Pixis. Mungkin ini memang benar takdir Tuhan yang memberikan ujian hidup padanya. Namun semua itu tidak bisa di sesali, mungkin saja ini adalah anugerah dari Tuhan. Kini keduanya sama-sama meneguk teh hangat yang sudah menjadi dingin. Mungkin karena suhu Air Conditioner di ruang keluarga ini penyebabnya.

Carla yang sedari tadi menyimak akhirnya berbicara, "Eren, apa kau bisa menerima semua ini?" tanya sang ibu. Si empu yang ditanya berpikir sejenak, lalu mengambil nafas dan membuangnya secara perlahan.

"Tentu saja aku bisa. Ayah dan ibu tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja."

"Syukurlah. Jika terjadi sesuatu segeralah hubungi ibu."

"Um!" Eren mengangguk mantap. "Jangan lupa setiap habis makan kau harus meminum obatmu, hanya satu kali dalam sehari." Peringatan datang dari Grisha.

"Ya, aku tidak akan lupa." Mengacak surai rambut anaknya yang lembut itu dengan sayang, Grisha merasa bangga telah memiliki anak seperti Eren. Walaupun keras kepala, tapi dia sebenarnya adalah anak yang penurut dan baik.

Ding. Dong. Ding. Dong.

Jam besar yang berada di sudut ruangan pun berbunyi, jarum jam yang menunjukkan pukul sembilan malam. Tidak terasa waktu berlalu sangat cepat, pembicaraan yang serius ini lumayan menyita waktu yang lama.

"Baiklah karena sudah jam sembilan malam kau harus cepat tidur, Eren."

Mengangguk sebagai jawaban dari perintah ibunya. Sebelum melesat ke kamar, Eren mengucapkan selamat tidur kepada ayah dan ibunya.

.

.

.

.

.

Hari selasa di bulan Maret. Eren berangkat ke sekolah seperti biasa meskipun kemarin ada kejadian yang tidak terduga, tapi rasa sakitnya sudah tidak terasa lagi. Sesampainya di kelas, sapaan pagi dari Armin dan Mikasa selalu menyambutnya, dan jangan lupakan si muka kuda yang selalu menyambutnya dengan sapaan buruk. Bel masuknya jam pelajaran pertama sudah berbunyi, sambil menunggu guru yang sedang jalan di koridor, Eren menanyakan apakah ada PR atau tidak dan jawaban dari teman-temannya cukup membuat pikiran dan hatinya lega.

Kriet.

Pintu kelas pun terbuka, menampilkan sosok guru biologi yang sering disebut waria oleh guru fisikanya. Namanya Hanji Zoe, rambut yang dikuncir kuda itu berwarna cokelat sedikit kemerahan, kacamata selalu bertengger di pangkal hidungnya, senang ataupun susah dia selalu tersenyum, dan jangan lupakan dia adalah satu-satunya guru yang suka membawa boneka Titan─sejenis monster yang tidak memiliki kulit. Dia berjalan dengan langkah yang besar sambil bersiul.

"Selamat pagi semua!"

"Selamat pagi, Miss."

"Baiklah sekarang siapkan buku catatan kalian, karena aku akan memberikan materi yang banyak!" Teriaknya sambil kegirangan, sontak saja para murid kelas 2-A langsung mengeluh. "Jangan mengeluh secepat itu, kalian boleh mengeluh saat aku akan memberikan PR untuk kalian! Haha!"

"Dasar guru gila." Gerutu dari pemilik marga Kirstein itu sampai di telinga Eren. Apa yang dikatakan oleh Jean memang benar kenyataannya, kata 'gila' itu sangat pantas untuknya. Miss Hanji pun memulai dalam pelajarannya hingga selesai.

.

Tidak terasa bel pulang pun berbunyi, saat Eren sedang merapihkan alat tulisnya, Armin dan Mikasa menghampirinya. "Eren, apa kau ingin ikut bersama kami?" tanya Mikasa.

"Kemana?"

"Sweet Cake, mereka sedang mengadakan diskon untuk pembelian Strawberry Cakes."

"Eh? Benarkah?" Armin mengangguk. Tapi tunggu dulu, bukankah dia membuat janji dengan─

"Astaga aku hampir lupa! Maaf, mungkin lain kali saja kita kesana. Kalian tahu, aku ada janji dengan Sir Rivaille. Sampai jumpa!" Tanpa memberikan kesempatan untuk berbicara pada temannya, Eren langsung melesat keluar dari kelas. Eren tahu, mereka pasti akan protes dan mencegahnya, apalagi Mikasa yang sedari tadi mengeluarkan aura gelap.

.

.

.

.

Eren sudah sampai di rumah tepat pukul tiga sore, untunglah janji dengan Sir Rivaille sekitar pukul empat sore. Eren hanya menghabiskan 15 menit untuk bersiap-siap, biasanya ia bisa menghabiskan setengah jam. Parfum beraroma bubble gum ia semprotkan sebanyak 30 kali, bukan kah itu berlebihan? Masa bodoh, mengingat gurunya clean freak mau tak mau harus wangi dan bersih. Setelah itu Eren langsung berpamitan kepada ibunya dan berjanji tidak akan pulang sampai larut malam.

Rumah Sir Rivaille itu lumayan jauh dari rumahnya, dia harus naik bus dua kali dan turun di kota Sina bagian barat. Selesai membayar dan turun dari bus, si brunette mengeluarkan kartu identitas gurunya itu karena dia belum pernah ke daerah sini. Sepanjang jalan ia terus memperhatikan papan perumahan, targetnya adalah Rose Cluster─perumahan mewah pikir Eren.

"Rose Cluster… Rose Cluster… Rose Clus─ah! Ini dia!" Eren sangat senang telah menemukan tempat gurunya tinggal. Sekarang targetnya adalah mencari rumah Sir Rivaille, dia hanya perlu mencari blok dan nomor rumah yang sesuai dengan kartu identitasnya.

"Hmm. Ini blok A Nomor 7, sedangkan Sir Rivaille blok A Nomor 11. Yosh!" ia berlari kecil agar cepat sampai. Karena sudah melewati blok A Nomor 10 dan─

"Ya! Aku yakin ini rumahnya."

Masih berada di luar, sebagai anak yang tahu sopan santun dia harus menekan bel terlebih dahulu yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat dia berdiri. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menekan bel.

Ting. Tong.

Eren menekan sebuah bel─voice bell, namanya. Tidak lama kemudian terdengar suara baritone dari voice bell tersebut.

"Siapa."

"Eren Jaeger, Sir."

"Oh. Masuklah. Pagarnya tidak dikunci."

Perintah dari gurunya pun ia laksanakan. Membuka pagar besi yang tidak terlalu tinggi dan menutupnya kembali. Dilihat dari luar, rumah Sir Rivaille tampak sangat besar, halamannya pun lumayan luas dan bersih─tentu saja. Cat tembok yang dipilih gurunya itu berwarna putih gading sehingga memberikan kesan bersih dan megah. Pintu masuk yang memiliki dua pintu berwarna abu-abu itupun sudah terbuka dengan sendirinya, canggih sekali. Saat Eren sudah masuk, dia sedikit terkejut melihat keadaan seluruh isi rumah yang amat sangat bersih dan harum. Ketika si brunette sedang asyik memperhatikan isi rumah gurunya tiba-tiba─

BRUK!

"Tch! Bocah, perhatikan langkahmu!" Tanpa sengaja Eren menabrak Rivaille yang sedari tadi berdiri, salahkan Eren yang asyik memperhatikan rumah gurunya.

"Maafkan aku, Sir! Aku tidak sengaja!" Membungkuk dan merapalkan do'a agar selamat, Rivaille yang sedang mengusap-usap dahinya itu hanya menghela nafas dan mencibir, "Dasar ceroboh. Ikut aku."

Si bocah Jaeger membuntuti gurunya itu, Rivaille membawa Eren ke ruang tamu dan mempersilahkan si brunette duduk. Eren melihat di atas meja rendah itu sudah ada jus jeruk dan kopi hitam. Setelah menyamankan duduknya, Rivaille memberikan jus jeruk dan ia pun duduk di sebelah Eren.

"Bagaimana kau tahu aku suka jus jeruk, Sir?"

"Kau adalah bocah, tidak mungkin aku menjamu dengan kopi hitam." Tentu saja Eren tidak akan meminumnya karena dia tidak suka kopi hitam.

"Ya, kurasa kau benar." Eren meneguk jus jeruknya dengan rakus, mungkin karena lelah mencari rumah Rivaille. Karena terlalu haus, sampai-sampai air jus jeruk sukses meluncur dari sudut bibir si brunette, Rivaille yang sedari tadi memperhatikan sedikit terkejut.

'Sial. Bocah ini terlalu berbahaya.' Batinnya. Tapi si empu yang sedang minum jus jeruk tidak peka bahwa ada yang memperhatikannya. Selesai menghabiskan minuman segar itu, ia sadar bahwa di sudut bibirnya basah. Sialnya, Rivaille yang melihat itupun kembali dikejutkan. Pasalnya si bocah sial itu membersihkan sisa jus jeruk dengan lidahnya dengan seduktif, menurut batasan Rivaille.

"Enak sekali, Sir!" Rivaille hampir jantungan saat mendengar suara cempreng bocah Jaeger itu. "Hm. Kau bisa menghabiskannya." Eren yang mendengar itu mengangguk antusias dan tersenyum.

'Dasar bocah, tingkah bodohmu itu membuatku semakin tertarik saja.' Batin Rivaille sambil mendengus.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

A/N: Hahaha. Ini sampe 3k lebih loh! *kibas jari* Niatnya mau berenti di 2k tapi ternyata di bagian penjelasan Grisha itu lumayan banyak hiks. Perlu kalian tahu, gejala yang dialami Eren itu seratus persen ngarang HAHA. Soalnya saya gak terlalu mengerti tentang ilmu kesehatan dan ilmu penyakit, karena saya bukan anak IPA /ha. Pokoknya saya tulis ini sesuai logika dan ilmu kesoktoy-an saya wkwk. Maaf kalau metodenya salah, karena saya memang tidak mengerti ya tapi nekat bikin. Oke kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diterima. Dan maaf saya bukan ahli penulis dan tidak pandai merangkai kata-kata macem author senior. Ini semua saya tulis berdasarkan keinginan dan kepuasan tersendiri.

OKE TERIMAKASIH UNTUK YANG MASIH BERTAHAN MEMBACANYA DAN CIUM PELUK BUAT YANG UDAH MAU FOLLOW, FAV DAN REVIEW FIKSI INI. DUKUNGAN DARI KALIAN ADALAH PENENTU BERLANJUTNYA FIKSI INI.

Thankyou! Sampai berjumpa di chapter selanjutnya! Masih chapter 3: Interesting, ya!