"Alaude..."

...

"Maafkan aku..."

...

"Apa yang perlu aku maafkan...?"

"Kau tidak marah padaku...?"

"Kenapa aku harus marah padamu?"

"Aku akan menikah bulan depan..."

...

Title : Time Limit

Rated : T

Genre : Angst/Romance

Main Pairing : AxDx18 slight memorial CxA (C=Primo Cavallone :D)

Disclaimed :

Time Limit © Me

KHR © Amano Akira

Warning : Gaje, OOC, AU, chara death

Chapter 3, Misunderstanding

'Apakah tidak apa-apa...? Kau ingin bersamanya kan?'

~Alaude-kun~

"Bagaimana keadaannya boss?" Romario memasuki kamar Alaude. Disana Dino sedang menunggu disebelah tempat tidur Alaude.

"Dokter mengatakan kalau ia tidak apa-apa..." Dino terlihat sagat cemas melihat keadaan Alaude. "Tetapi tidak mungkin ia tidak apa-apa... Sudah dua kali aku melihatnya seperti ini..."

...

"Boss, kenapa anda begitu perhatian dengannya?"

...

"Eh?" Dino melihat kearah Romario yang menanyakan hal itu. "Maksudmu?"

"Yah, Boss memperlakukannya sejak pertama kali datang seakan-akan dia adalah Kyouya-san..." Romario hanya mengangkat bahunya bingung dengan kelakuan Dino akhir-akhir ini.

"Benarkah? Aku hanya merasa kalau ia membutuhkan seseorang saat ini..." Dino hanya menatap Alaude. "Dan entah kenapa aku juga merasa hanya aku yang bisa menghiburnya..."

...

"Kau tidak jatuh cinta padanya bukan boss?"

"Eh?"

...Cavallone HQ...

...

Mata abu-abu itu tampak membuka dan melihat sekelilingnya. Alaude hanya bisa menutup sebelah matanya dengan sebelah tangan. Mencoba untuk memperkecil cahaya lampu yang masuk kedalam mata.

"Lagi-lagi..." Alaude mengacak rambutnya sedikit dan mencoba untuk bangkit. Tetapi ia menyadari seseorang memegangi tangannya. Mencoba untuk mendapatkan kesadarannya sepenuhnya, ia melihat orang yang ada disampingnya itu. Dino yang menunggui Alaude malah tertidur disamping tempat tidur Alaude.

"..."

'Dasar bodoh... Menungguiku, kau sendiri akhirnya sakit...'

'Ahaha... Tetapi syukurlah kau sudah sehat Alaude...'

'Dasar bodoh...'

Hanya diam, ia melihat kearah tangan Dino yang memegang tangannya. Ia menatap perban yang dililitkan ditangannya, dan darah yang tampak diperban itu.

"Dia..."

"Ah, kau sudah sadar?" Suara itu mengejutkan Alaude dan membuatnya mengalihkan tatapan Dino keorang itu. Romario datang membawakan minuman disana.

"Kau..."

"Namaku adalah Romario, aku adalah tangan kanan dari Dino-sama..." Romario hanya tersenyum kearah Alaude dan menaruh minuman disebelah tempat tidur Alaude.

"Ah boss sedang tidur..." Romario hanya menghela nafas, menaruh selimut kecil dipunggung Dino. "Kalau kau ingin meminumnya, tidak apa-apa... Ini adalah minuman kesukaan Kyouya-san..."

Alaude melihat kearah minuman itu.

"Apa ini..."

"Nama minuman itu Latte..." Romario hanya memberikan gelas itu pada Alaude karena melihat sepertinya ia tertarik dengan minuman itu.

"..." Alaude meminum latte itu. "Rasa ini... Kopi?"

"Ya, Kyouya-san suka minuman manis... Tetapi Latte adalah kopi yang diberikan krim putih diatasnya, dan diberikan bubuk cokelat diatasnya..." Romario tersenyum melihat minuman itu. "Hanya kopi itu yang bisa ia minum..."

"..." Alaude melihat kearah Dino yang tertidur. "...ia... Tidak suka manis bukan?"

"Bagaimana anda bisa tahu?"

"..." Alaude menutup matanya sejenak. "Hanya... Ia benar-benar berlawanan dengan seseorang..."

'Ada apa dengan wajah bodohmu itu?'

'T-tidak hanya saja black coffee ini-'

'...bukankah kau selalu meminum ini denganku?'

'T-tetapi kalau tanpa gula...'

'...kau... Tidak suka minuman pahit kan?'

'E-eh bagaimana kau tahu?'

'Hh...'

"Alaude-san?" Romario melihat Alaude yang sedikit melamun dan tidak fokus dengan pertanyaannya. "Anda tidak apa-apa?"

"Ya..." Alaude menaruh kembali minuman itu. "Tetapi, aku tidak suka minuman manis..."

"Ah begitu ya..." Romario hanya bisa tersenyum dan menggaruk kepala belakangnya sedikit. "Kalau begitu kau ingin aku membawakan sesuatu Alaude-san?"

"Black Coffee... Tanpa gula..." Romario hanya mengangguk dan akan berjalan kearah luar. Alaude menatap kesamping tempat tidurnya, menemukan sebuah bingkai yang ia pecahkan sekarang sudah benar, walaupun ada retakan karena hanya di lem saja.

"Hei..." Alaude melihat kearah Romario yang belum sempat keluar. "Apakah dia yang..."

"Ah, foto itu... Ya, Boss yang memperbaikinya... Walaupun tangannya sedikit terluka ketika mengumpulkan pecahan itu." Romario hanya tertawa kecil mengingatnya. "Jangan difikirkan..."

...Namimori Chuu...

"Jadi, jika kita bagi hasil integral dari bilangan ini lalu kita kalikan hasil..." Dino yang sedang mengajar dikelas Alaude, Hibari, dan Ryouhei sedang menerangkan pelajarannya.

Dan benar-benar keajaiban selama 1 minggu Dino mengajar, Hibari sama sekali tidak pernah membolos dari pelajaran di kelasnya. Saat ini, ia melihat kearah depan. Bukan memperhatikan pelajaran tetapi memperhatikan sang guru yang juga tutornya itu, Dino Cavallone.

Sepertinya hari ini ada yang berbeda dari sang tutor. Ia seakan-akan menahan sakit, yang entah ia dapatkan dari mana. Dan tentu saja lukanya tampak jelas ditangan kanannya. Ia menatap tajam kearah Alaude yang duduk disebelahnya.

'Apakah luka itu disebabkan olehnya...?'

'...'

'Kenapa aku malah khawatir padanya! Tidak Hibari Kyouya, kau tidak menyukainya...'

"..maka dengan begitu kita dapatkan hasil..."

PRAK!

Tiba-tiba spidol yang dipegang Dino terjatuh begitu saja. Dino terlihat masih menahan sakit, dan tangannya bergetar. Alaude yang melihat itu tersadar dari lamunannya dan terlihat terkejut.

"Ada apa sensei?" Salah satu anak melihat kearah Dino.

"T-tidak apa-apa baiklah kita lanjutkan-" Dino tiba-tiba tersentak ketika Alaude menarik tangan Dino. "A-Alaude apa yang kau-!" Belum saja Dino mencoba menghentikan Alaude, Hibari sudah ada disebelah Alaude tanpa mengatakan apapun.

"Apa yang kau lakukan..." Alaude melihat kearah Hibari.

"Harusnya aku yang mengatakan hal itu..." Hibari mendeathglare Alaude yang ada didepannya. "Haneuma masih harus mengajar..."

"Aku tidak perduli..."

.

.

.

"Lepaskan tangannya..."

.

.

.

"Tidak akan..." Suasana disana semakin panas, bahkan anak-anak yang lainnya tidak mengalihkan pandangannya dari mereka bertiga. "Apa kau tidak melihat kalau tangannya terluka...?"

"Aku tidak apa-apa Alau-"

"Aku yang akan membawanya..." Kata-kata Hibari membuat Dino terkejut.

"Bagaimana kalau biarkan Dino-san yang memilih kalian?" Ryouhei yang melihat mereka hanya bisa memberikan masukan, sedangkan kedua skylark itu menatapnya dengan tajam.

...

Mereka melihat kearah Dino yang mulai berkeringat dingin karena itu. Dino langsung menari tangan Hibari dan Alaude keluar kelas.

"U-uhm etto..." Dino melihat kearah Alaude dan Hibari. Ia menyadari sesuatu dengan Alaude. Tatapannya yang sejenak terekjut melihat Alaude menjadi melembut. "Maaf Kyouya, sepertinya kali ini aku bersama Alaude dulu..."

"..." Hibari melepaskan tangannya dan menundukkan kepalanya. "Pergi saja sana..." Hibari hanya bisa menundukkan kepalanya dan memalingkan badannya meninggalkan Dino dan Alaude.

"Kyou-" Dino memegang tangan Hibari dan Hibari langsung menepisnya.

"Kau... Pergilah..." Hibari berjalan kembali, masuk kedalam kelas. Dino hanya bisa melihat kearah Hibari dan hanya diam.

"Baiklah, ayo kita pergi ke ruang kesehatan..." Dino mencoba untuk tersenyum dan menepuk pundak Alaude.

"Apa tidak apa-apa...?" Alaude melihat kearah Dino yang ada disampingnya.

"Hm?"

"Kau sebenarnya ingin bersama dengannya bukan?" Alaude hanya menghela nafas panjang mendengarnya.

"Tidak apa-apa..." Dino hanya tertawa pelan mendengar Alaude. "Lagipula kau itu tidak pernah jujur, jadi aku harus memperhatikanmu dengan lebih teliti..."

"Eh?"

...Infirmary...

"Shamal, aku pinjam beberapa obat dan juga perban!" Dino membuka pintu dan melihat kearah ruang kesehatan. Tetapi tidak ada siapapun disana. "Kemana dia..."

Alaude duduk diatas tempat tidur disana, setelah mengambil perban dan juga obat merah.

"Kemarikan tanganmu..."

"Eh?" Dino melihat Alaude yang duduk disana.

"Aku akan mengobatinya..." Dino hanya mengangguk dan duduk didepan Alaude. Alaude hanya diam dan membuka perban lama Dino. Beberapa luka sayatan terlihat ditangannya, sepertinya cukup dalam. Sebenarnya dia sendiri masih belum cukup sehat untuk berada disekolah. Tetapi, jika terlihat lemah bukan Alaude namanya.

"Baiklah, sudah cukup..." Alaude yang sudah selesai mengganti perban milik Dino hanya menatap kearah tangan yang sudah terbalut perban itu.

"Sekarang, bagaimana kalau kau yang diobati Alaude?"

"Apa maksudmu..."

...Corridor...

"..." Suasana disana cukup sepi karena bel baru saja berbunyi beberapa saat yang lalu. Ditambah dengan aura menusuk dari sang ketua komite disiplin. Ia berjalan kearah kelas Tsuna dan membuka pintunya.

"H-Hie, Hibari-san kenapa ada disini!" Tsuna yang sedang berbincang dengan Gokudera dan Yamamoto terkejut melihat Hibari yang menebarkan pesona horrornya.

"Sawada Tsunayoshi..." Hibari hanya diam dan berdiri disamping Tsuna masih menebarkan pesona horror yang sekarang membuat Tsuna berkeringat dingin. "Temani aku, dan jangan banyak tanya..."

"E-Eh ba-baiklah..."

...Infirmary...

"Apa maksudmu...?"Alaude masih bingung dengan kata-kata yang keluar dari mulut sang Don Cavallone itu.

"Tubuhmu masih kurang sehat..." Dino menatap Alaude dengan tatapan cemas. "Kau harus istirahat..."

"Tidak... Aku tidak sakit..."

"Kalau kau tidak beristirahat, aku yang akan memaksamu..."

"Apa hakmu untuk memaksaku?"

"Entah apa yang terjadi, kau sedang sakit parah dan aku tahu itu..."

"Walaupun aku sakit parah, aku tidak akan mau beristirahat..."

"..." Dino melihat kearah Alaude. Ia berdiri dari tempatnya dan mendorong Alaude keatas tempat tidurnya dan menahan bahunya agar ia tidak bergerak.

"Apa yang kau lakukan..." Alaude hanya bisa melihat Dino dengan wajah yang sangat memerah, tetapi tetap berusaha untuk tenang.

"Aku tidak akan bergerak sebelum kau tidur..." Dino menatap Alaude dengan tatapn serius.

"Aku bisa saja memukulmu dibagian yang terluka..."

"Coba saja... Aku yakin sekarang badanmu sangat lemah..."

"... Lepaskan aku... Atau kubunuh kau..."

"Coba saja..." Dino hanya tersenyum dan menatap Alaude dengan senyuman tipis.

...Corridor...

Saat ini, Tsuna seakan-akan sedang dibawa oleh penjaga neraka menuju kedalam gerbang neraka. Aura gelap terpancar dari orang disampingnya. Semua orang menghindari mereka berdua, bahkan para guru.

"A-ano Hibari-san..." Tsuna memberanikan diri menatap kearah orang yang ada disampingnya itu. Tetapi, yang ia dapatkan malah tatapan dingin dan tajam darinya.

"Ada apa herbivore..."

"E-Etto..." Wajah Tsuna sudah mulai memucat karena melihat tatapan itu semakin gugup karenanya. "K-kenapa Hibari-san menyuruhku menemanimu ke ruang kesehatan?"

"Jangan banyak tanya..." Hibari dan Tsuna berhenti didepan ruangan kesehatan dan akan membuka pintunya.

"... Lepaskan aku... Atau kubunuh kau..."

"Coba saja..."

"E-eh itukan suara Dino-san...?" Tsuna hanya bisa terdiam mendengar suara Dino itu. Dan ia mulai merasakan bulu kuduknya berdiri, karena aura gelap Hibari semakin terasa. 'Sepertinya akan terjadi hal yang buruk...'

"Bagaimana kalau kita urungkan niat-"

GREEK!

Hibari yang tidak mendengar kata-kata Tsuna karena memikirkan suara Dino dan Alaude didalam hanya membuka pintu geser itu.

Dan yang ia lihat adalah Dino yang berada diatas Alaude, menahan tubuh Alaude dengan tangannya, dan jarak mereka amat sangat dekat.

...

Ia hanya bisa mundur dan tidak mengatakan apapun. Mencoba untuk menahan emosinya, Hibari hanya bisa menundukkan kepalanya.

"H-Hibari-san..." Tsuna mencoba untuk melihat keadaan Hibari. Sementara Alaude menatap kearah Hibari yang ada didepan pintu.

"Bocah itu..."

"E-eh?" Dino yang tidak sadar langsung menatap kearah pintu. Menemukan Hibari yang langsung berlari sambil tetap menundukkan kepalanya.

"H-Hibari-san!"

"Kyouya!" Dino berlari dan melepaskan tangannya dari Alaude. Mencoba untuk mengejar Hibari yang ada disana.

...

Saat ini Tsuna hanya berdua dengan Alaude yang bangkit dari tempat tidur itu.

"A-ano... Alaude-san..."

"Ada apa..."

"K-kau tidak apa-apa?" Tanya Tsuna.

"Kenapa kau mengatakan hal itu?"

...Rooftop...

Hibari menundukkan kepalanya dibelakang pintu menuju keatap. Mencoba untuk menghalangi pintu itu agar tidak ada orang yang bisa masuk kesana. Mencoba untuk memeluk lututnya, ia menundukkan kepalanya.

"Kyouya! Buka pintunya...!"

"..."

"Kyouya, kau salah paham... Aku tidak melakukan apapun dengan Alaude..."

"..."

"Kyouya... Jawab aku..."

"...pergilah... Biarkan aku sendiri..."

"Tetapi Kyouya..."

"...kumohon Haneuma... Aku tidak apa-apa, dan hanya ingin sendiri..."

"..."

Tidak ada suara apapun dari luar. Hibari hanya bisa terduduk dan menunduk, mencoba untuk memikirkan semua yang ia lakukan.

'Aku benci...'

'Aku benci perasaan ini... Kenapa dadaku sakit...'

'Aku tidak suka melihatnya bersama dengan orang itu...'

'Apakah benar...'

'Apakah benar kalau aku mencintainya...?'

'Apakah benar aku cemburu pada herbivore itu...?'

Hibari hanya bisa menundukkan kepalanya, menutup matanya mencoba untuk berfikir tentang semua yang ia rasakan. Ia tidak menyadari, sesosok laki-laki yang memiliki flame berwarna orange itu tersenyum lembut dan menghampirinya.

Wujudnya tidak terlalu tampak, hanya senyumannya yang terasa familiar yang terlihat disana. Mencoba untuk memegangnya, ia menunduk dan menatap Hibari.

'Kau... Cloud Guardian Vongola Decimo...?'

Suara itu, membuat Hibari tersentak dan menatap kearah depannya. Orang itu, memiliki senyuman yang sama hangatnya, memiliki wajah yang mirip dengan orang itu, dan juga warna flame yang sama dengan orang itu.

Mencoba untuk tetap tenang dan tidak tampak terkejut meskipun sekarang ini ia benar-benar tidak bisa berfikir bagaimana orang itu bisa ada disana.

"Siapa kau..."

Orang itu tersenyum dan mengelus kepala Hibari. Kehangatannya juga sama, tidak ada yang berbeda dari orang yang ada didepannya itu.

"Namaku... Alfonso Cavallone..."

...TbC...

Cio : cut!

C : akhirnya! *Ngilangin flame dari sekitar dia*

18 : ... *cuman diem*

A : jangan berisik... *masih cemburu*

C : kenapa c: kau cemburu Ara-kun~?

A : dalam mimpimu Al... *ngelengos*

C : ternyata Kyouya lebih manis daripada Ara-kun ; w ; dia lebih bisa diajak ngomong...

18 : *frown*...

D : *deathglare* jangan coba-coba deketin dia... Kan lw dah ada bagiannya... 18-kun itu punya gw!

18 : sejak kapan aku mau denganmu...

D : k-kejam! *mojok*

C : *sweatdrop* Ara-kun cemburu karena aku mengelus kepala 18-kun?

A : terserah kau mau melakukan apa... Aku tidak perduli...

Cio : C-kun, kenapa lw tambahin adegan elus kepala? Di skenario ga ada kok...

C : o-oh i-itu...

A : *deathglare* oh begitu... *smirk* silahkan kau pergi saja dengan bocah itu! *ninggalin C*

C : A-kun, jangan marah T_T *ngelonyor nyari A*

18 : herbivore...

D : aku tidak akan melakukan hal aneh kalau jadi dia... *ngerangkul pundak 18*

18 : *ahem* kukira kau melakukan hal aneh di UKS...

D : t-tentu saja tidak, itu tuntutan skenario kok...

Cio : oh iya D-san, kenapa yang ditahan bahunya? Kan di skenario yang ditahan selimutnya habis lw selimutin A-kun...

D : e-eh itu...

18 : *deathglare* jangan deketin gw lagi... *pergi*

D : kyonyon! TToTT *ngacir juga*

Cio : :P oke, sekarang saatnya BtS!

...Behind the Scene...

Scene 1 (Flash Back CA 2)

"Alaude..."

...

"Maafkan aku..."

...

"Apa yang perlu aku maafkan...?"

"Kau tidak marah padaku...?"

"Kenapa aku harus marah padamu?"

"Aku tidak sengaja menjatuhkan kunci borgolmu di WC..."

"... Kubunuh kau..."

Cio : kalau kau mengubah naskah lagi... Aku akan menyuruhmu membersihkan toilet...

C : t-tidak terima kasih...

Scene 2 (Mandagora?)

"Kau..."

"Namaku adalah Romario, aku adalah tangan kanan dari Dino-sama..." Romario hanya tersenyum kearah Alaude dan menaruh minuman disebelah tempat tidur Alaude.

"Ah boss sedang tidur..." Romario hanya menghela nafas, menaruh selimut kecil dipunggung Dino. "Kalau kau ingin meminumnya, tidak apa-apa... Ini adalah minuman kesukaan Kyouya-san..."

"Apa ini?"

"Teh Mandagora..." Jawab Romario santai, dan diserup oleh Alaude.

"Enak... Dari tumbuhan apa?"

"Tumbuhan Mandagora... Yang tumbuh dibawah lantai Guilotine..." Jawab Romario santai, sedangkan Alaude sudah kabur muntah-muntah.

Cio : kenapa sih!

A : lw gila! Gw g mau minum minuman horror yang dah kecampur ma darah!

Cio : tapi kata lw enakkan!

A : itu karena gw g tau!

D : gw juga jadi korban... *roh keluar dari mulut*

27 : gyaaa! Sensei, D-san ambruk!

A : dan sekarang lw bilang itu gpp...

Cio : gw ubah jadi Latte aja deh...

Scene 3 (This Photo...)

"Hei..." Alaude melihat kearah Romario yang belum sempat keluar. "Apakah dia yang..."

"Ah, foto itu... Ya, Boss yang memperbaikinya... Walaupun tangannya sedikit terluka ketika mengumpulkan pecahan itu." Romario hanya tertawa kecil mengingatnya. "Jangan difikirkan..."

"Tentu aja gw pikirin..." Alaude mengeluarkan deathglare kearah Dino. "Kenapa malah foto-foto pas gw mandi! Dapet darimana coba!"

D : *glek* *pura-pura tidur*

C18A : *deathglare* Dino/Haneuma...

D : E-etto... Dapat dari sensei...

Cio : tapi lw yang minta kan?

D : t-tapi!

C : ada yang lain g? Gw minta dong... *bisik*

D : barter atuh...

C : nih! *tunjuk gambar 18 lagi pake bikini* eksklusif dari limited edition Fujoshi Magazine...!

D : oke gw ambil...

A18 : *deathglare* *siap tonfa & borgol*

C : ini saatnya plan B...

D : hah? Plan B?

C : kabur!

D : *ditarik kabur*

All : *swete*

Scene 4 (The Answer...)

"Jadi, jika kita bagi hasil integral dari bilangan ini lalu kita kalikan hasil..." Dino yang sedang mengajar dikelas Alaude, Hibari, dan Ryouhei sedang menerangkan pelajarannya.

"Woi sensei bego, ada yang salah tuh perkaliannya!" Suara yang bahkan mengalahkan suara indah Squallo.

Squallo : VOOOI!

Terdengar disalah satu meja. Dino hanya bisa sweatdrop mendengarnya.

"Kalau begitu, kau bisa menerangkannya?"

"Baiklah..." Orang itu berjalan dan maju kedepan. "Jadi, integral ini kau akarkan dengan bilangan yang ini, lalu kau integralkan lagi hasil bilangan ini dengan yang ini lalu..."

-2 jam kemudian-

"Hasil akhir dari penjumlahan ini kalian..." 2 jam berlalu, ia belum selesai mengerjakan soal itu. Semua orang cuman bisa sweatdrop.

-5 jam kemudian-

"Dan kemudian perkalian hasil ini kau harus jumlahkan dengan akar-"

Cio : woi stop-stop! Ini bukan crita cuman buat pelajaran doang! Siapa sih lw!

Mina : lw lupa sama gw!

All : Sho Minamimoto dari fandom game sebelah!

Cio : pantes aja... Math-Freak kaya lw yang ngerjain... *sweatdrop*

Mina : lw bilang apa! *pake toa*

Cio : *pake toa lebih keras* Ga usah pake toa kale!

Mina : *swete*

Cio : dah! Gola Mosca ancurin aja tuh orang! *ditendang fans Minamimoto*

Gola : Roger... *OMG sejak kapan dia bisa ngomong!*

Scene 5 (kissing 1)

"..." Dino melihat kearah Alaude. Ia berdiri dari tempatnya dan mendorong Alaude keatas tempat tidurnya dan menahan bahunya agar ia tidak bergerak.

"Apa yang kau lakukan..." Alaude hanya bisa melihat Dino dengan wajah yang sangat memerah, tetapi tetap berusaha untuk tenang.

"Aku tidak akan bergerak sebelum kau tidur..." Dino menatap Alaude dengan tatapn serius. Alaude yang melihat tatapan itu tiba-tiba langsung ngeblush karena wajah Dino yang tampan itu.

"Kalau begitu... Aku akan membuatmu memintaku melepaskannya..." Alaude melingkarkan tangannya keleher Dino dan mendorongnya hingga mulut mereka bersentuhan.

Sangat lama...

Sangat lama...

Dan hebatnya tidak ada perlawanan dari-

18 : *deathglare*

Narator : *glup* *kabur*

D : k-kyouya!

18 : kau menikmatinya D? *evil smirk*

D : i-itu...

18 : gw g bakal ganggu lagi... Terserah lw deh... *ngelengos pergi*

D : 18! TTATT *kabur ke 18*

Cio : tumben C ga marah ' 'a

Kru : dah pingsan sndiri di pojokan ' 'a

Cio : woi bawa ke RS! Dah sekarat itu!

Scene 6 (Kissing 2)

'Kau... Cloud Guardian Vongola Decimo...?'

Suara itu, membuat Hibari tersentak dan menatap kearah depannya. Orang itu, memiliki senyuman yang sama hangatnya, memiliki wajah yang mirip dengan orang itu, dan juga warna flame yang sama dengan orang itu.

Mencoba untuk tetap tenang dan tidak tampak terkejut meskipun sekarang ini ia benar-benar tidak bisa berfikir bagaimana orang itu bisa ada disana.

"Siapa kau..."

Orang itu melihat kearah Hibari yang sedang (beracting) menahan tangis. Wajahnya langsung memerah dan menunduk, memegang tangannya.

"Ayo kita kawin lari..."

"Eh!" Hibari belum sempat melawan, orang itu sudah menggendong dengan bridal style menculik Hibari.

D : *dobrak pintu* balikin dia...

C : hooo~ bukankah kau sudah menyakitinya dengan mendekati A-kun?

D : gw ga maksud bego... Lagipula 18-kun ga mau sama lw!

18 : yang bilang gw nolak dia siapa...

D : k-kyouya...!

18 : ga papa, bawa aja gw tinggalin aja tuh orang...

D : kyouya TTATT jangan marah atuh...

18 : bodo... *dibawa pergi C-kun*

D : ga marah sama C-kun? *masih nangis liat A*

A : masa bodoh... *nyerup teh ma Fong* ntar juga balik...

C : jahatnya... *niat bikin cemburu*

18 : sukses juga balas dendam... *evil smirk sukses bikin D cemburu*

...End BtS...

...Review and Answer!...

Tachikawa Yuzuki : saya malu stiap kali liat review anda :/D makasih ya~ ini update-annya~

Kurea Cavallone : soalnya di jaman primo (yang kuno jamannya) ga ada mobil, jadi bingung pas liatnya xD, gw juga kok... Pasti ga bakal bolos deh... *ngehayal*, iya nih kyonyon ngaku aja susah banget D: *ditonfa*, makasih ^w^

Nakyo Hibasawa : eh karena menurut ane alaude mirip sama Kyonyon yang biasa bukan TYL O_O"

Rui Arisawa : iya tuh, kasihan Ryouhei kena tabok dua skylark xD dan masalah Haru, itu salah tulis harusnya Kyoko =w=" *salah mulu!*

CursedCrystal : ahahaha xD saya videonya disembunyiin ma A-kun+18-chan~ xD jadi ga bisa deh *plak!*

Rst : masalah itu sabar aja *kufufufu~* pasti dijelasin~ harusnya ratednya T ya ' 'a