Phobia
Dengan perlahan Sakura memijit tombol bel milik disusul bunyi bel yang menggema di dalam unit milik Uchiha tersebut.
"hie.. lama banget bukanya.. apa belum datang ya?"
Kriek!
"siapa? KAU!"
"HEEE!KAU!"
Phobia
Chapter 3
.
.
.
Phobia by Helena Gracia
.
.
Terinspirasi dari UnTouchable
.
Warning! Typo bertebaran!
SasuSaku
Chapter 3 : Aku Pegang Ucapanmu
Sasuke membulatkan matanya sempurna. Gadis Pinky itu muncul lagi dihadapannya! Walaupun sudah tidak memakai baju berwarna pink lagi. Tetap saja! Rambutnya berwarna PINK!
"Apa yang kau lakukan disini?!" bentak Sasuke "aku tinggal disini tahu?!" Sasuke sudah siap lari menuju toko bangunan terdekat dan membeli cat tembok berwarna lain selain PINK, untuk disiram ke gadis Lolita yang ada di hadapannya.
Sakura menatap heran Sasuke yang kini membelakanginya. "aku mengantarkan paket milikmu! Dan memutuskan untuk berkenalan dengan tetangga baruku, yang ternyata adalah KAU! Sebenarnya kau kenapa? Seperti melihat hantu saja!" Sakura merasakan darahnya sudah mendidih. Bahkan meledak-ledak. Sebenarnya kenapa dia?!
Sakura menghela nafasnya perlahan, dan berusaha meredakan amarahnya. "sebenarnya.. eum, kau bisa jujur kepadaku.. yah.. karena kita bertetangga.." ujar Sakura dengan tersenyum. Ini adalah hal yang ia bisa lakukan untuk tidak memperburuk hubungan dengan tetangganya bukan?
Sasuke melirik Sakura dengan ekor matanya. Dan menetapkan, apakah ia harus bilang tentang hal ini?
"a..aku phobia dengan warna pink.." desisnya pelan, akan tetapi tetap bisa didengar jelas oleh Sakura. Sedangkan Sakura mati-matian untuk tidak tertawa. Bila Sakura tertawa bisa-bisa melukai hatinya.
"baiklah.. Uchiha Sasuke.. karena kita bertetangga.. mungkin aku bisa membantumu.." Sasuke menaikan alisnya heran "membantu?"
Sakura mengangguk mantap "membantumu menyembuhkan phobia itu!"
"aku tidak bisa disembuhkan.." lagi-lagi Sakura terpaksa menahan tawanya mendengar Sasuke berkata demikian dengan nada yang lucu. Seperti cicitan tikus yang terperangkap di jebakan tikus. "pasti bisa!"
"hn"
"eum.. Sasuke-kun, boleh aku bertanya? Sampai kapan aku memegang paket milikmu yang sangat berat ini?"
~OoOoO~
Sakura mempercepat langkahnya di lorong rumah sakit. Rumah sakit tidak begitu ramai. Mungkin karena ini adalah jam makan siang? Hanya ada beberapa pasien, dan perawat yang sedang berlalu lalang.
Langkahnya terhanti di sebuah pintu bercat putih dengan tulisan 'Yamanaka Ino'
TOK! TOK!
Ino mendongakan kepalanya ketika pintu ruang praktiknya di ketuk oleh seseorang. "masuk!"
Kepala bersurai merah muda milik sahabatnya menyembul di balik pintu. Ino tersenyum hangat dan memeluk sahabat dari kecilnya itu. "Hei! Forehead! Apa kabarmu heh?"
Sakura terkikik geli "ya ampun Ino.. dari nada bicaramu, seperti kita sudah tidak bertemu selama dua tahun! Padahal terakhir kita bertemu enam bulan yang lalu!" Ino memajukan mulutnya "tentu saja enam bulan juga lama!"
"masa seorang dokter seperti ini?" perkataan Sakura sukses membuat Ino tambah memanyunkan bibirnya. Ya.. Yamanaka Ino, sahabat Sakura yang sudah mendapat izin praktik di sebuah rumah sakit besar di Tokyo sejak enam tahun yang lalu. Membuat Ino harus pindah dari Okinawa ke Tokyo.
"hei! Pig, bagaimana jika kita makan cake sebentar? Kemarin aku menemukan kedai kopi yang menjual beberapa cake! Hanya berbeda dua blok dari rumah sakit tempatmu bekerja! Lagi pula kau sedang istirahat makan siang bukan?" Ujar Sakura dengan mata yang berbinar-binar. Ino menghela nafasnya perlahan "jidat.. jidat.. sifatmu tak berubah! Kau masih saja suka dengan yang manis-manis!"
~OoOoO~
"jadi.. apa yang mau kau bicarakan forehead?" Ino memakan strawberry miliknnya di strawberry cheese cake miliknya. "begini.. eum, aku memiliki seorang tetangga.. daann.." Sakura menggantung ucapannya dan menatap ragu Ino. "dan apa?"
"dia.. dia itu phobia dengan warna pink.."
Keheningan menyelimuti mereka.
1 detik
2 detik "ha.."
3 detik "Ha..ha.."
"HAHAHAHAHAHAHAHA!" Ino memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa. "ya ampun Sakura! Aku bersyukur, aku sedang tidak minum!" Sakura mendengus kesal memandang sahabat pirangnya tersebut. "ini tidak lucu pig!"
Ino mengusap ekor matanya, menghapus air mata yang ia keluarkan saat ia tertawa tadi. "aku meminta pertolonganmu karena kau seorang dokter.. malah jadi seperti ini.."
"Sakura.. aku bukan dokter jiwa.." ujar Ino masih sedikit tertawa. Akan tetapi melihat wajah kecewa Sakura, Ino langsung berubah menjadi serius dan berkata "baiklah Sakura.. Karena aku masih dokter umum.. aku akan berusaha mencari tahu tentang phobia pink.."
Sakura tersenyum "terima kasih pig! Eh.. memang apa hubungannya dengan kau dokter umum?"
"kau sendiri ngapain ikut campur urusan tetanggamu?" balas Ino "eh.. aku menanya kan baik-baik.. masa jawabnya begitu?!" protes Sakura "tentu saja ada hubungannya forehead! Kalau aku spesialis kandungan, ngapain aku ngurusin tentang kejiwaan?" Tanya Ino yang mendapat anggukan dari Sakura. "sudahlah.. aku mau balik bekerja.. terima kasih atas cakenya ya forehead"
Sakura mengantarkan Ino sampai kedepan café. Dan pertanyaan Ino sukses membuat Sakura berfikir tanpa sadar, sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depannya. Seorang bapak-bapak keluar dari pintu belakang mobil.
"Hei.. nak, apa kabarmu?"
~TBC~
Minat Review? Kepepet waktu! Insya Allah sesudah lebaran update!
Review ?
