a/n: Kembali bersama pen name baru! Tapi meski pen namenya baru authornyatornya tetap sama ya~! Hanya saja pen name baru membuat inspirasi baru juga! Jadi ya untuk lebih memotivasi diri pen namena pun diubah^^ Cukup untuk perkenalan baru dengan pen name Tiara Pictorial Carmine^^ Sekarang maafkan author karena updatenya sangat lama sekalii T^T, alasannya karena chapter ini saat akan di publish terhapus karena virus yang tidak tahu diri T^T. Jadi mohon maklumi ya~^^~
Untuk balas review di bagian bawah~
Selamat membaca~
Disclaimer: Vocaloid © Yamaha, Crypton
Losing my smile © Tiara Pictorial Carmine
Warning:
Misstypo! OOC! Gaje!
.
.
"Rin.. sampai sebegitukah
kau membenciku?"
.
.
.
(Flashback)
Ujung dari lorong sekolah yang sedang kutempuh ini terasa sangat jauh. Kakiku sudah lelah karena berjam-jam aku harus berjalan bolak-balik diperintah guru. Meskipun sebenarnya bukan diriku yang diperintah, namun karena suatu alasan, teman-teman di kelas yang mendapat perintah itu memerintahkanku lagi untuk mengerjakannya. Dan aku menurut saja pada mereka.
"Hahaha! Kau lihat ekspresinya pada saat ia disuruh berulang-ulang?! Itu sangat menakjubkan! HAHAHAHA!" suara ocehan murid pria dari arah kelas terdengar begitu jelas pada telingaku. Ada rasa pilu yang merasuki hati, tetapi aku tetap bersabar dan melanjutkan jalan pulang. Namun sesaat aku tepat berada di depan kelas, suara seseorang yang sangat familiar untukku angkat bicara.
"Haha benar! Saat disuruh pun dia tetap tersenyum! Dan senyuman itu sangat menjengkelkan! Hahahaha!"
Dengan sektika kakiku berhenti. Tepat di pintu yang terbuka aku berhenti. Hatiku tidak hanya sakit, tetapi seakan remuk. Tak terasa air mata pun kembali berjatuhan.
"R-Rin?" namaku terpanggil dari kelas. Ah ternyata mereka melihatku disini. Lebih tepatnya, Len melihatku dan memanggil namaku.
Was wes wos was wes wos..
Teman-teman lainnya hanya berbisik-bisik tanpa memampangkan wajah bersalah atau apapun. Mungkinkah ini hanya kejadian biasa untuk mereka? Haha, mungkin.
Karena sudah terlalu sakit mendengar ocehan mereka, aku berlari meninggalkan kelas dengan cepat. Tidak ingin mendengar apapun lagi. Seakan tidak ingin kembali ke kelas itu. Toh, diantara puluhan murid di kelasku, tidak ada seorang pun yang berpihak padaku.
"Dan kau juga tidak Len,"
.
(End of Flashback)
Aku terbangun di ruangan yang tidak familiar. Dinding bercat putih menjadi hal pertama yang kulihat dan suara isakkan di sampingku membuyarkan perhatianku.
"Rin?" aku lirik siapa yang memanggilku dan ternyata Teto kini sedang terisak sembari menggenggam tisu ditangannya. Aku terdiam. Tubuhku sedang tidak ingin bergerak. Bahkan berbicara pun malas rasanya. Tetapi aku tidak ingin membuat Teto khawatir, maka aku memaksakan diriku untuk berbicara.
"Teto, jam berapa saat ini?" tanyaku tanpa menatap wajahnya. Aku hanya memusatkan perhatianku pada atap yang putih polos sama seperti dinding ruangan ini. Lantas Teto berhenti terisak dan menjawabku.
"U-Um, sekitar jam tiga sore?" jawabnya dengan nada seperti bertanya. Lalu setelah itu aku merasakan Teto yang menggenggam tanganku untuk membuatku melihat kepadanya.
"Rin, maafkan aku soal kejadian tadi. Aku sangat menyesal sampai kau pingsan tadi," ujar Teto sembari menundukkan kepalanya. Aku mengangguk mengerti dan beranjak bangun dari tempat tidur itu. Kulihat kamar ini dengan seksama, ternyata cukup nyaman. Bila dipikir-pikir, sudah lama aku tidak mengingat kejadian itu lagi. Baru kali ini lagi aku mengingatnya dan ternyata sampai saat ini pun aku masih trauma dengan kejadian itu.
"Hahh.." helaan nafas keluar begitu saja dari mulutku. Teto mungkin melihatku dengan bingung. Tetapi kurasa Teto mengerti keadaanku saat ini.
Sekilas aku melamunkan hal yang tidak penting, aku menemukan gitar di depan tempat tidur ini. Lantas dengan segera aku mengambil gitar itu. Entahlah, aku selalu tertarik bila sudah melihat gitar.
"Rin, kebiasaanmu itu tidak berubah ya? Hihi," seru Teto sembari terkikik kecil. Aku hanya mengangguk pelan lalu mulai memainkan gitar itu dengan dipetik. Lagu akustik selalu menenangkanku. Petikan-petikan senar gitar ini sangat nyaman didengar. Bahkan Teto pun sampai terbawa suasana.
"Kyaaa~ Aku selalu menjadi fans beratmu Rin! Permainan gitarmu itu sangat sangat sangattt indah!" dengan semangat ia beranjak dari tempatnya duduk dan melompat-lompat kecil seperti anak kecil. Aku sendiri sedikit tertawa mendengar sahabatku yang berteriak kegirangan. Namun sesaat aku mulai menikmati lagu yang sedang kumainkan, pintu terbuka dan membuatku terkejut. Dan saat itu juga senar yang kupetik tiba-tiba putus dan mengenai tanganku.
"Ouch!" aku meringis kecil sembari melihat apa ada luka ditanganku. Syukurnya tidak ada. Tetapi pemandangan yang tidak indah kini berada di hadapanku. Lebih tepatnya beberapa orang dengan rambut yang berwarna-warni. Salah satu diantara mereka adalah managerku.
"Ah sudah kukira kau yang memainkan gitar itu, Rin," managerku, IA, menghampiriku dan membisikkan sesuatu padaku.
'Sebentar lagi kau ada photoshoot, seharusnya kita pergi sekarang, tetapi mereka tetap memaksa,'
Aku melihat pada mereka yang dimaksudkan oleh IA. Anggota vocaloid yang tadi mengelilingiku itu kembali melakukan hal yang sama. Aku harap mereka tidak memaksaku kembali. Karena orang itu pun ada di kamar ini.
"Rin. Kami—"
Sebelum Luka membuka pembicaraan, aku berdiri dan dengan segera membungkukkan badanku.
"Maaf soal kejadian tadi. Tapi aku sedang tidak ingin membicarakan tentang itu dan aku pun sedang diburu waktu. Aku hanya ingin mengatakan, mohon bantuannya saat pembuatan film ini berlangsung. Permisi." Dengan ucapan yang memotong itu aku berjalan keluar kamar ini diikuti oleh IA yang juga membungkuk dahulu sebelum pergi. Namun sebelum aku benar-benar pergi, aku berhenti di pintu kamar itu karena teringatkan tentang gitar yang tadi kumainkan dan berbalik.
"Satu hal lagi. Untuk yang mempunyai gitar itu, maaf senar pertamanya putus olehku." Lantas aku benar-benar pergi dari kamar itu bersama IA disampingku.
"IA, sepertinya aku harus mengganti senar yang putus itu. Aku merasa tidak enak dengan pemiliknya," ujarku sembari mengangan-angankan dimana aku harus membeli senar baru. Namun saat itu aku merasakan IA menatapku lama tanpa menjawabku sampai aku bosan merasakannya. Lalu setelah aku memberinya tatapan sinisku ia segera membisikkan sesuatu lagi padaku.
'Rin, gitar itu milik Len, loh!'
"…."
"…."
"APA?!"
.
.
.
Hari selanjutnya sudah datang. Pagi ini disambut dengan dering handphoneku yang sangat nyaring dan tidak berhenti-henti sejak beberapa menit yang lalu. Aku yang baru bangun pun dengan lesu beranjak dari tempat tidurku dan mencari sumber suara tersebut. Aku menemukan handohoneku di meja riasku dan terlihat nomor yang tidak ada namanya pada kontakku.
"Baru jam lima pagi dan tidak ada namanya?" ujarku berbicara sendiri. Awalnya diriku ini ragu-ragu mengangkat telfon itu, namun pikiranku positif bila yag menelfon adalah rekan kerjaku.
-Halo?-
-Rin, Ayah hanya ingin mengingatkan bahwa hari ini jam tujuh pagi kau sudah harus siap di lokasi, karena hari ini adeganmu cukup banyak jadi siapkan dirimu baik-baik-
-Oh? Baiklah Ayah-
-Ah! Dan satu lagi! Jangan lupa kau harus mengingat skripnya! Lalu banyak berlatihlah dengan partnermu!-
-Eh? Partner? Apa maksudmu?-
-Tentu saja Len! Kau itu dominan bermain dengannya jadi kau harus banyak berbicara dengannya untuk meningkatkan chemistry!-
-Apa?! T-Tapi bisakah aku berlatih dengan yang lain saja?! Aku mohon Ayah!-
-Tidak Rin sayang, demi kelancaran pembuatan film kau harus melakukannya! Jangan membuat Ayah kecewa!-
-Ayah!-
Tuut tuut tuut tuut….
Telfonnya pun terputus. Dengan kesal aku menutup handphoneku dan melemparnya sembarang ke arah kasur.
"Agh! Moodku hari ini sudah hancur dari awal!" sembari menggerutu aku beranjak ke ruang tamu. Saat aku memasuki ruang tamu, aku bisa mencium bau masakan dari arah dapur. Ahhh, aku rasa perutku sudah meraung meminta asupan makanan. Bila kutebak, aroma pasakan ini adalah pancake!
"Rin~! Oatmeal Cottage Cheese Pancake sudah menunggu~!"
"Bingo!" dengan cepat aku berlari ke dapur dan menyapa IA yang baru saja selesai memasak pancake.
"Pagi IA! Tumben sekali kau memasak jam segini?" tanyaku sembari duduk di meja makan. Makanan pun disajikan oleh IA dan IA pun segera duduk berhadapan denganku di meja makan.
"Hm, sebenarnya jadwalmu hari ini dimulai dari jam enam, Rin, jadi ya begitulah," ujar IA dengan santai. Aku hanya mengangguk mengiyakan dan mulai memotong pancake di hadapanku.
"…." Tapi bila dipikir-pikir..
"JAM ENAM?" hampir saja aku tersedak. Tapi belum, karena aku sendiri belum memakan pancakenya -_-. IA kembali mengangguk dan menatapku dengan tatapan biasa. Sedangkan aku terkejut dengan ucapannya.
"U-Untuk apa?! Ayah bilang jam tujuh di lokasi bukan?!" tanyaku sedikit kesal. Aku tidak kesal pada IA, tetapi aku kesal karena moodku yang kini menurun drastis, lagi!
"Umm aku harus menjelaskan sesuatu padamu. Tapi maafkan aku harus mengatakan ini lagi Rinny~! Aku tahu kau kesall~ Tapi jam enam itu kau harus berlatih dengan Len hanya berdua~"
"….."
"…"
"NOOOO!"
.
.
.
'15 orang.. 16 orang.. 17 orang..' aku menghitung setiap orang yang terlewati oleh mobil ini. Dari awal pergi sampai ke tujuan hanya 17 orang yang terlewati. Jumlah yang sangat menakjubkan.
"Rin, kita sudah sampai," ujar IA membangunkan dari lamunanku. Aku melirik IA yang sudah keluar duluan dan aku mengikutinya di belakang.
Aku melihat-lihat lokasinya dan ternyata tempat ini adalah tempat yang tidak asing bagiku. Sangat tidak asing karena lokasi ini adalah tempatku bersekolah dahulu. Bangunan yang sama, taman, lapangan, dan lain-lain membawa memori-memori yang cukup.. menyedihkan bagiku. Entahlah untuk yang lain bagaimana.
"Ah! Itu Len dan Mikuo!" seru IA membuatku terkejut mendengar nama Len. Kulihat mereka sudah berada di belakang sekolah tempat pengambilan filmnya. Aku hanya menunduk melihat mereka yang melambaikan tangan pada kami dan meneruskan jalan sampai ke tempat mereka.
"Pagi! Kalian sudah menunggu lama?" tanya IA pada mereka berdua. Kru-kru pada berkeliaran untuk persiapan nanti. Aku melihat pada Mikuo dan Len yang tersenyum kepadaku. Tapi aku membalasnya hanya dengan sapaan saja.
"Pagi," ujarku tanpa melihat mereka. Lantas IA mendorongku sampai hampir menabrak Len, untung saja reflekku masih bagus.
"A-Apa yang kau lakukan?" tanyaku sedikit menahan kesal. IA hanya memampangkan deretan gigi putihnya padaku lalu memperlihatkan jamnya padaku.
"Ayo! Waktu kalian tidak banyak! Kalian harus latihan sekarang!" seru IA bersemangat. Mikuo tersenyum jahil dan menyikut Len pelan. Lalu IA dan Mikuo pergi entah kemana meninggalkanku disini hanya berdua dengan Len.
"…."
"…."
"Um, kau mau mulai sekarang?" tanya Len ragu-ragu. Aku meliriknya dan terdiam sebentar sebelum mengangguk.
"Baiklah…"
.
.
.
[Normal POV]
"Pakaian itu sangat cocok bila dipakai olehmu, Rin," ujar Len yang sedang bersandar pada dinding di belakang sekolah. Senyuman jahil terpampang pada wajahnya dan Rin yang tak sengaja melewatinya pun berhenti.
"Itu pujian atau ejekan?" tanyanya sambil menaikkan satu alisnya. Len terkikik mendengar jawaban dari sang gadis. Lantas ia berjalan ke taman yang berada di depannya dan mengambil satu tangkai bunga tulip kuning sebelum menyodorkannya pada Rin.
"L-Lebih indah bila kau menerima—"
"CUT! CUT!"
Suara melengking membuat semua berhenti dan mengalihkan perhatiannya pada sumber suara. Leon yang merupakan sutradara sudah siap kembali untuk memaki sang artis yang tadi berakting.
"Len! Kau tidak boleh terlihat ragu-ragu pada saat memberikan bunga itu pada Rin! Sudah berapa kali aku katakan itu?!" sentak Leon pada Len yang menciut.
Sudah beberapa kali take dan scene itu belum berhasil juga. Mikuo sebagai manajernya terlihat khawatir melihat artisnya sedang dilanda kesulitan. IA yang berada di sampingnya pun sedikit khawatir karena ia tahu bahwa scene itu adalah hal yang sangat sama dengan awal pertemuan Rin dan Len saat masuk SMA.
"Kita istirahat sejenak! Len! Usahakan agar kau bisa menjiwai peranmu itu!" seru Leon kepada Len. Len melirik Rin yang kini memasang wajah dinginnya, ia berharap Rin akan berkata sesuatu, tetapi sepertinya itu tidak akan terjadi. Rin hanya pergi dan menghampiri IA tanpa sepatah kata apapun untuk menyemangati Len.
Dengan gontai Len kembali ke sisi Mikuo dan duduk di kursi dekatnya.
"Kau sudah berusaha Len. Tetapi lebih baik hilangkan dahulu semua ingatan masa lalumu itu," ujar Mikuo sembari memberikannya botol air mineral. Len mengambilnya dengan kasar dan meneguk air mineral itu.
"Bagaimana aku bisa melupakannya bila semua itu terjadi sungguhan?" tanyanya dengan sedikit meninggikan nada bicaranya. Mikuo hanya menghela nafas mendengar respon yang sudah ia duga.
Saat itu juga Rin bersama IA sedang bersama ditempat yang tidak jauh dari tempat Len dan Mikuo.
"Rinny~ Bagaimana bila kita menghampiri Len dan Mikuo?" tanya IA memelas. Rin langsung menatap tajam kedua bola matanya itu dan mengerutkan alisnya.
"Apa yang kau rencanakan sebenarnya, IA?" tanya Rin sinis. IA kembali terkekeh lalu menarik Rin mengahampiri Len dan Mikuo. Rin berusaha melepaskan diri tetapi sepertinya tenaga IA lebih kuat daripada dirinya. Dengan terpaksa ia mengikuti kemauan manajernya itu.
"Hey~ Boleh kami bergabung?!" tanya IA dengan senyum lebar. Rin mendecak pelan dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"T-Tentu saja! Benarkan Len?" tanya Mikuo. Len yang ditanya pun mengangguk kecil setuju. Kemudian mereka pun duduk berjejer dengan urutan Mikuo di ujung, lalu Len, IA, dan Rin di ujung lain. Hening melanda mereka membuat suasana sedikit kaku. IA yang melihat keadaan sekitar tiba-tiba melihat sesuatu yang menarik dan akhirnya IA mempunyai ide cemerlang. Lantas ia beranjak dari tempatnya duduk dan menunjuk gitar yang berada di antara Len dan Mikuo.
"Oh benar! Apa itu gitar yang kemarin? Bagaimana dengan senarnya?" tanya IA memulai pembicaraan. Len melihat pada gitarnya dan kembali menatap Rin dan IA.
"Aku sudah menggantinya dengan senar yang baru. Kau tidak perlu khawatir," ujar Len dengan senyum tipis. Rin yang merasa bersalah dengan senar gitarnya itu tidak banyak bicara, ia hanya diam meskipun dalam hatinya ia berusaha untuk meminta maaf pada Len langsung.
Tanpa sadar, IA dan Mikuo saling memandang dan pandangan itu mengartikan banyak hal. Seakan-akan mereka bisa berkomunikasi hanya dengan tatapan. Dan sepertinya mereka memikirkan hal yang sama setelah IA memancingnya.
IA bisa melihat bahwa Rin sedari tadi menyembunyikan suatu niat yang ingin ia lakukan karena tatapan matanya selalu mencuri-curi pandang pada Len. Sepertinya, Rin sudah sedikit membuka hatinya kembali untuk memaafkan Len, pikir IA. Tentu saja Mikuo pun mengerti apa yang dimaksudkan dengan tatapan IA tadi. Akhirnya melintaslah ide jahil dari kedua manajer artis tersebut.
"Len~ Bisakah aku mendengarmu bermain gitar? Aku tahu kau mahir bermain gitar sambil bernyanyi~!" seru IA memohon. Rin yang mulai mengerti apa yang direncanakan IA pun langsung memberi IA tatapan tajamnya, tetapi IA menghiraukan tatapan itu dan tetap memelas pada Len.
"Ya?" tanyanya sekali lagi. Awalnya Len pun ragu, tetapi sekilas terbesit ide cemerlang pada otaknya.
'Benar juga! Waktu itu Rin sangat menyukai permainan gitarku! Mungkin aku bisa membuatnya terkesima lagi dan mau mendengarkan penjelasanku?!' pikirannya itu pun mendorong semangatnya untuk bermain gitar. Tubuhnya seakan bergerak sendiri dan segera mengambil gitar yang berada di sampingnya itu.
"Baiklah."
.
[Len POV]
Aku bersemangat mengambil gitarku dan memposisikan gitarku dengan benar. Barulah setelah rileks aku mulai memetik dengan pelan. Intro lagu yang selama ini selalu terngiang pada telingaku, intro yang selalu aku mainkan saat aku berteman dengan Rin di SMA. Sangat membawa memori hangat.
.
(Flashback)
"Len! Kau bawa gitarmu?!" tanya Rin dari kejauhan. Sepulang sekolah aku sedang bersantai di taman sekolah dan Rin yang baru selesai piket kelas dengan segera menghampiriku.
"Tentu saja! Aku menunggumu untuk menyanyikan lagu itu untukku!" jawabku sembari tertawa kecil. Rin pun dengan senyuman manisnya menjawabku dan duduk di sampingku bersiap bernyanyi bersama.
"Baiklah, seperti biasa. Aku mulai duluan!" seruku dan mulai memainkan gitarku.
Petikan-petikan gitarku terdengar nyaring dan dapat dinikmati olehku maupun Rin. Sesaat intro sudah akan habis, Rin mengambil nafas panjang dan mulai bernyanyi.
Come and lay here beside me
I'd tell you how I feel
There's a secret inside me
I'm ready to reveal
To have you close embrace your heart
with my love
Over and over
These are things that I promised
My promise to you
For all of my life you are the one
I will love you faithfully forever
All of my life
You are the one
I give to you my gratest love
For all of my life
Ohh.. Yeah..
(End of Flashback)
.
Sudah kutunggu saat-saat ini, saat-saat aku bernyanyi bersama Rin. Mungkin kali ini ia tidak akan menyanyi, atau mungkin setelah aku pancing ia akan ikut bernyanyi?! Pikiranku pun ikut histeris dengan ide cemerlang itu.
Namun saat aku akan menyanyikan bait pertama lagu itu, sepertinya hal yang kupikirkan tadi tidak berjalan semestinya. Tiba-tiba saja Rin beranjak dari tempatnya dan dengan cepat menghadap padaku dengan wajah dingin. Tatapan matanya yang menusuk begitu mengisyaratkan banyak hal. Yang paling terlihat adalah raut wajahnya yang sedih dan… tatapan bencinya yang belum menghilang sama sekali kepadaku.
Sampai akhirnya ia berkata sesuatu padaku yang memecahkan segala angan-anganku tadi.
.
.
"Hey, awalnya aku sudah berniat ingin berbaikan denganmu.
Tapi sayang sekali,
moodku hari ini semakin hancur karena lagu itu.."
.
.
.
~To be continue~
~Review~
a/n: terima kasih sudah membaca chapter berikut^^ bagaimana kesannya? saran-saran? misstypo? masukan selalu diterima ya^^ Bagaimana feelnya setelah membaca chapter ini? Review selalu terbuka bagi readers sekaliaan~
Balas review:
Wu: wahh terima kasih sudah review~ maaf updatenya sangat lama T^T chapter di atas baru dapat di update jadi maafkan lama sekalii T^T
Neko-neko kawaii: terima kasih sudah review! Mungkin chapter berikut bisa diberi saran-saran tentang kesan pembaca?^^ maafkan updatenya lama sekali yaa
HaNiichan: Tidaak T^T emang sih ya merasa authornya juga *smile evil. Rinnya di bully karena author juga yang membuat Rin dibully~ jadi authornya lagi yang jahat T^T terima kasih sudah review! Maaf update lama^^
Lacie Helra-Chan: terima kasih sudah review^^ sudah di update yaa^^ tapi maaf lama sekalii~
Kanako Moe: wahh maafkan Lennya disini jadi jahat ya^^ tapi itu Len yang dulu~ Len yang sekarang kan sudah menyesal^^ terima kasih sudah review! maaf lama updatenya~
NRen: Terima kasih sudah review lagii~ wahh author jadi merasa sedih juga kalau begitu T^T Kalau tentang masa lalunya tidak akan terlalu di ceritakan panjang lebary yaa~ Maafkan maafkan^^ Tapi seiring berjalannya waktu di cerita ini akan terungkap bagaimana cerita masa lalu Rind an Lennya^^ Maaf update lama!
Tsukiyomi Ayaka: terima kasih sudah review^^ maaf baru di update ya~
Akanemori: terima kasih sudah review^^ waah sepertinya suka bila Lennya dibully oleh author ya?^^ okee author siap membully Len kapan saja XD Maaf updatenya lama yaa~
