A/N: Inspired by Korean Variety Show – Return of Superman

Please kindly support this story with reviews or even a favorite

DAD, HANG IN THERE!

Disclaim of Masashi Kishimoto

Alternate Ending. Alternate Universe.

Genre: family love

.

.

.

Bulan ini desa Kohonagakure seringkali turun hujan bahkan sampai seharian penuh. Langit selalu mendung dan kelembaban desa meningkat. Namun itu tidak menghalangi para shinobi untuk berdinas melaksanakan misi atau hanya sekedar patroli desa. Meskipun cuaca terkadang membawa dampak mood bagi sebagian orang. Alhasil mereka lebih suka menggulung dirinya dibalik selimut atau sekedar ke kedai ramen untuk menghangatkan diri.

Entah Naruto merasa senang atau sebaliknya, ia baru bisa mendapatkan libur di bulan seperti ini. Dua bulan yang lalu ia harus melaksanakan misi penting di luar desa, terkadang Hinata juga ikut serta membantu sebagai tim pelacak. Kalau sudah begitu Boruto akan menginap si kediaman kakeknya dan dirawat ala klan Hyuuga. Bukan berarti Hinata tidak melakukan demikian, hanya saja Naruto dan Hinata lebih terbuka pemikirannya dalam pengasuhan anak sehingga metode perawatannya berdasarkan buku-buku populer dan mengandalkan alat-alat baby sitting yang canggih di zaman itu.

Kemarin adalah hari libur pertamanya dan Boruto langsung ia jemput di kediaman Hyuuga. Tetapi kakek tetaplah kakek, rasa sayangnya pada cucu pertama membuat Naruto terpaksa menginap semalam untuk bisa menyenangkan hati mertuanya. Pria itu ingat akan pekerjaan sampingannya sebagai pengisi acara Dad, Hang in There! ia berinisiatif untuk menghubungi produser untuk menentukan jadwal rekaman mereka. Siapa sangka produser itu langsung memberi kabar jika besok akan melakukan syuting, belum lagi ia menuliskan di pesan singkatnya bahwa Naruto akan kedatangan tamu di rumahnya. Alis itu bertaut bertanya-tanya siapa yang akan berkunjung.

oOo

Naruto bangun pagi seperti biasanya dan langit masih sama seperti hari kemarin. Kamerayang telah terpasang semalam mengikuti Naruto kemana ia pergi. Editor sempat mengambil cuplikan Boruto yang masih tertidur pulas di kamar utama. Hal pertama yang harus Naruto lakukan saat ini adalah mengecek jemuran apakah seragam-seragamnya dan pakaian bayi Boruto sudah kering. Diantara beberapa pakaian mungkin hanya setengah yang bisa diangkat. Kegiatannya beralih ke dapur menyiapkan sarapan pagi, tak lama kemudian suara isakan terdengar pelan di gendang telinganya. Naruto melangkah ke arah kamar utama dan di dapatinya putra kecilnya itu dalam keadaan tengkurap dan sembab.

"Hei jagoan kau sudah bangun," ia gendong Boruto di lengan kirinya. Tangan sewarna madu itu menghapus jejak-jejak air mata dari pipi gembul warisan sang istri. Satu kecupan dilayangkan di pipi kanannya.

Kaki itu terus melangkah ke ruang tengah dan duduk menyilang menghadap jendela besar apartemen itu. Boruto yang berada di pangkuannya sibuk melihat rintikan hujan dan suara gemericik air dari luar.

"Lihat, hujannya turun terus ini pasti adalah berkah dari Kami-sama, ya kan Boruto?" pria itu asyik bermonolog sementara bayi yang akan menginjak usia tujuh bulan dipangkuannya hanya diam saja.

"Hngggg..." anak itu mendekut, tangan kanannya mengarah ke depan dan sesekali meremas telapaknya.

"Hm? Boruto mau melihat hujan dari dekat?"

"Eng" anak itu menjawab pertanyaan ayahnya.

"Yosh," ia kembali gendong putranya dan duduk tepat di depan jendela kaca yang ukurannya mendominasi satu sisi ruangan. Ia coba berdirikan putranya dengan mengeratkan gendongannya di ketiak. Kaki kecil itu menapak di karpet dan kedua tangannya menempel di kaca jendela. Tangan ayahnya menahan di bagian kedua pinggang putra semata wayangnya.

"Boruto suka dengan hujan?"

"Eng" lagi-lagi anak itu menjawab.

"Heee... nanti kalau kau sudah cukup besar kita akan bermain hujan-hujanan ya?"

"Ayayaya..bawawaa.. ehh... appapapapa.." anak itu berceloteh panjang seolah-olah mengatakan sesuatu.

"Oh begitu ya? Tapi kamu harus sudah bisa berdiri sendiri kalau mau hujan-hujanan".

"Eehhh... nggg... abababa.. mmm.. babababa.." kedua orang itu seperti terlibat dalam percakapan yang hanya dimengerti oleh mereka saja.

"Hahahaha iya Tou-chan juga sayang Boruto," dikecupnya salah satu pipi itu dari arah samping.

"Aniyaa.. iiaaa.. gagagaga.."

"Kamu kayaknya butuh teman mengobrol ya? Harusnya kalau ada teman sebaya bisa main bersama. Apa Tou-chan buatkan adik untukmu, hm?" bayi itu kemudian duduk di pangkuan ayahnya karena lelah berdiri. Kepalanya sibuk menggeleng ke kanan dan ke kiri merespon jawaban pria 28 tahun itu.

"Kok nggak mau adik sih? Kamu mau sebatang kara, hm? Nggak enak lho sendirian itu, dulu Tou-san belum sempat punya adik, jadi tahu rasanya sendirian itu seperti apa" suasana keduanya menjadi lebih sendu apalagi cuaca sedang mendung dan hujan rintik-rintik.

"Ah sebaiknya ganti baju dulu sebelum tamunya datang," terlintas dibenaknya akan kunjungan tamu di rumahnya sebentar lagi.

Naruto dengan telaten menyiapkan washtafel kamar mandinya menjadi bath up kecil bagi putranya. Tangannya sibuk menyabuni seluruh badan dan rambut jabrik kloningannya itu sementara si kecil mengepak-ngepakkan air dengan telapak tangannya. Ayahnya yang jahil itu menirukan apa yang ia lakukan dan keduanya berakhir tertawa.

Handuk putih seukuran orang dewasa telah membalut Boruto seutuhnya. Badannya masih lembab dan terlihat segar. Naruto menggendongnya ke ruangan khusus yang beberapa tahun ke depan akan dijadikan kamar pribadi putranya. Pakaian monyet desain dengan tudung telinga rubah merah menjadi pilihan sang ayah kali ini, benar-benar selera Naruto.

"Pfftt BUAHAHAHA" ia tidak menyangka anak ini sangat lucu memakai baju monyet pilihannya.

"Eeeeiiinggggg!" anak itu mendekut kesal, paham jika ayahnya tertawa mengejek.

"Hahaha warui warui tapi ayah merasa kau sangat lucu hahaha..."

BUK!

Pukulan ringan dari kepalan tangan bayi usia enam bulan sangat tidak ada apa-apanya. Tapi respon seperti itu, siapa yang menyangka? Naruto sedikit terkejut dan memanggil nama putranya tidak percaya.

BUK!

Anak itu kembali melayangkan tinju ala bayinya ke lengan kiri sang ayah. Pria dewasa itu merespon seolah-olah merasa kesakitan dan meminta maaf karena kecerobohannya. Entah kenapa Boruto langsung menghentikan pukulannya setelah itu. Lagi-lagi Naruto harus menahan tertawa melihat tingkah lucu putranya.

oOo

TING TONG

Bel apartemen itu berbunyi, Naruto yang sedang sibuk di dapur dan Boruto yang berada di baby walker teralihkan dengan suara nyaring dari arah pintu utama. Naruto mengecilkan api kompornya yang sedang menanak bubur. Ia melangkah ke depan pintu dan membuka kode kunci apartemen.

"Oh, ohayou gozaimasu," Naruto mengawali salam kepada tamunya. Dari balik pintu muncul seorang laki-laki berambut nanas yang sedang menggendong putranya di depan badannya. Tangan kanan dan kirinya membawa dua bingkisan sekaligus.

"Apa-apaan kau, formal sekali baka!" pernyataan sarkastik itu meluncur begitu saja dari bibir pria klan Nara.

BUAK!

Tonjokan persahabatan itu dilayangkan Naruto pada pria dihadapannya. Dia pura-pura memeluk teman masa kecilnya itu dengan sengaja.

"Cari muka sedikit dong, ini masuk kamera bodoh" bisikan itu tepat di telinganya. Seketika mimik wajahnya sedikit berubah.

"Ah, hai lama.. tidak berjumpa.. Naruto..-san?" tingkah laku pria nanas itu semakin membuat suasana menjadi lebih canggung dan kameran menyadarinya.

"HAHAHAHA PANGGILAN MACAM APA ITU SHIKAMARU!?" tawa keduanya menggelegar seisi rumah, bahkan setitik air mata muncul di salah satu mata mereka. Itu adalah lelucon yang sangat menggelikan.

"Kau bawa apa itu? Tanganmu sampai penuh," keduanya melangkah menuju ruang keluarga. Boruto menatap intens kedua pria yang baru saja datang dari pintu gerbang. Beberapa kali matanya berkedip seolah-olah bertanya-tanya.

"siapa dia ayah?"

Mungkin itu yang ada di benak anak itu sekarang. Kakinya yang mungil dan masih sedikit berjinjit menyentuh karpet ia paksa gerakkan sehingga mendekati dua pria yang masih bersenda gurau.

"Eh Boruto, kita kedatangan teman baru. namanya shikadai," ayahnya menyadari kehadiran si kecil yang mendekat.

Bayi laki-laki yang terpaut 4 bulan lebih tua dari Boruto itu menolehkan kepalanya. Wajahnya masih terlihat mengantuk akibat tidur selama perjalanan. Bola mata sewarna zamrud itu adalah warisan ibunya yang merupakan kakak kandung dari Kazekage.

Naruto mempersilakan Shikamaru untuk duduk di kursi keluarga sementara dirinya kembali ke dapur melihat bubur dan menyiapkan minuman. Pria nanas itu melepas baby holder dengan terlebih dahulu meletakkan putranya di kursi. Mantel tebalnya ia lepas juga dan ditelakkan di pinggiran sofa.

Kedua bayi itu hanya saling menatap satu sama lain. Shikadai yang sudah bisa berdiri sendiri lebih suka tengkurap dan tidur di selimut kesukaan Boruto.

"Eeeeeiiiiinggg" anak itu mendekut tidak suka. Selimut bergambar bintang yang selalu ia bawa tidur tidak boleh dipakai orang lain. Apalagi dengan orang yang tidak dikenal.

"Boleh pinjam sebentar ya Boruto, dia sedang mengantuk" pria nanas itu justru membela putranya yang baru saja menguap panjang.

"Eeeeiiii... huwwaaaa...aaaa..." tangisan itu pecah. Boruto menendang-nendang kakinya yang melayang di atas baby walker.

"Ada apa ini?" Naruto yang datang dengan membawa empat gelas air dingin langsung meletakkan di meja pendek dekat sofa. Ia mendekat ke arah Boruto yang rewel tak terkendali.

"Hei, hei ada apa jagoan, hm?" ia bertanya dengan suara yang lembut.

"Dia nangis karena Shikadai memakai selimutnya, kukira ia tidak suka jika barangnya dipinjam," ayah satu anak itu memisahkan bayinya dengan selimut kecil bermotif bintang milik Boruto. Barulah bayi enam bulan itu berhenti menangis.

"Astaga kau ini, tidak apa-apa kalau barangmu dipinjam. Kau harus belajar berbagi dengan orang lain Boruto".

"Hnnggg" lagi-lagi anak itu mendekut tidak suka.

"Ah baiklah, baiklah.." ia terima selimut yang diberikan oleh Shikamaru. Baru saat ini ia tahu jika barang itu adalah kesukaannya.

Sementara kedua bayi itu berada di atas karpet dan berusaha dekat dengan sendirinya, Naruto masih penasaran dengan kehadiran satu orang tamu lagi.

"Menurutmu siapa yang akan datang?" Naruto membuka percakapan.

"Entahlah.. Sasuke?" terkaan itu membuat Naruto sedikit menahan tawa. Mana mungkin yang datang sahabatnya, pria Uchiha itu kemarin mengirim kabar jika tidak bisa pulang bahkan sampai akhir tahun ini.

"Ah, souka, bulan depan Sakura-chan akan melahirkan".

"Apa kau akan menemaninya?".

"Tidak ada lagi selain aku yang bisa menemaninya".

"Hei, hei dia itu istri sahabatmu. Jangan terlalu dekat, kau bisa bikin semua orang salah sangka".

"Maksudku, Hinata dan Boruto juga akan ikut. Mungkin dua atau tiga hari sebelum perkiraan lahirnya kami akan menginap disana".

"Tergantung, jika Hokage-sama tidak memberikanmu misi mungkin itu akan terjadi," Shikamaru menyesap minuman yang disuguhkan di atas meja.

TOK TOK TOK

Kedua pria itu saling pandang, bukannya pintu apartemen ini memiliki bel? Kenapa ada yang mengetok?

"Oh.." suara Naruto yang cukup terkejut mengalihkan pandangan Shikamaru yang tadinya menjaga kedua bayi.

Dari balik pintu itu seorang pria yang sekilas mirip dengan sahabat Uchihanya datang sambil menggendong anak laki-laki sepantaran dengan Boruto.

"Masuklah Sai," sebagai pemilik rumah ia mempersilakan masuk.

Jadi merekalah yang dimaksud dengan produser acara dengan tamu Naruto. Mereka seperti trio ayah yang sedang mengasuh anak.

Naruto, laki-laki sanguinis yang selalu membawa keceriaan sekaligus pahlawan desa Konohagakure. Meskipun disibukkan dengan misi ia selalu ingat dan menyayangi keluarga kecilnya. Tangannya yang terampil merapalkan jurus tidak asing dengan popok bayi dan juga botol susu. Laki-laki hebat ini adalah ayahnya Uzumaki Boruto.

Shikamaru, dengan inteligensinya yang diatas superior dan bertindak penuh pertimbangan ia mampu mendidik anaknya dengan caranya sendiri. Sifat aslinya yang pemalas mulai pudar perlahan-lahan tetapi jika sudah di rumah ia lebih akan seringmenguap dan tidur dengan putranya. Ia adalah ayahnya Nara Shikadai.

Sai, masa lalunya yang misterius dan mulai mengenal arti persahabatan semenjak bergabung di tim 7 ia mulai aktif dalam kehidupan sosialnya. Sejak menikah dengan istrinya Yamanaka Ino ia saat ini memiliki sebuah marga. Pendiam dan berlidah tajam adalah ciri khas pria yang wajahnya mirip dengan Uchiha Sasuke. Selain pintar melukis ia juga pandai memasak dan memanjakan anaknya. Dialah ayah dari Yamanaka Inojin.

Ketiga bayi itu seperti membentuk segitiga, Boruto dengan posisi tengkurap memperhatikan teman baru yang sepertinya usia mereka seumuran. Inojin yang ditatap Boruto tersenyum, sementara Shikadai yang duduk ditengah-tengah melihat keduanya secara bergantian.

Naruto berinisiatif meletakkan beberapa mainan di depan mereka. Mata Inojin yang bersinar-sinar merangkak menggapai benda bulat berwarna merah dan memasukkannya ke dalam mulut. Shikadai tidak sengaja menekan mainan berbunyi, kemudian tangannya menekan tombol lain yang mengeluarkan suara berbeda. Boruto mendekati Shikadai untuk berbagi maianan yang sama. Para ayah kemudian agak menjauh ke dapur menghabiskan waktu sementara anak mereka sibuk bermain.

"Hei bagaimana kalau kita main taruhan?" tawar Naruto, di pikirannya saat ini adalah jam makan siang dan ia sangat malas menyiapkan makanan untuk para bayi. Dengan taruhan ini barangkali diantara mereka ada yang bersedia membeli makanan atau paling tidak menyiapkannya.

"Kita mau bermain apa?" Sai justru memberi tanda lampu hijau.

"Taruhan, siapa diantara kita yang paling disayang oleh istri. Jadi kita akan mengirim pesan ke mereka dengan teks yang sama, siapa yang di telpon lebih dahulu dia yang menang. Yang terakhir ditelpon harus nyiapkan makan siang, setuju?".

"Sudah pasti aku yang kalah," Shikamaru menjawab malas,"hampir nggak pernah istriku menelpon kalau bukan hal penting".

"Ayolah Shikamaru, namanya juga taruhan," lagi-lagi Sai tertarik terlibat dengan jebakan Naruto.

"Lagipula hukumannya cuma menyiapkan makan siang buat kita semua. Ayo Shikamaru!" pria nanas itu mendesah pelan.

"Hah... baiklah, kalimat apa yang harus ditulis?".

"Mudah, cukup satu kata aja," Naruto mengetik beberapa huruf di ponsel pintarnya dan menunjukkan kepada dua temannya.

"APA!?" Shikamaru benar-benar tidak habis fikir, masalahnya dia selalu memanggil istrinya dengan nama. Panggilan manja seperti itu sama dengan anak remaja yang baru jatuh cinta.

"Kenapa? Cuma satu kata ini saja kok," netra birunya menatap heran dengan reaksi Shikamaru.

"Bagaimana ia tahu kalau kita butuh ditelpon jika hanya satu kata itu saja yang akan dikirim. Hmmm.." Sai meraih ponsel Naruto dan mengetik beberapa kata lalu meletakkannya di atas meja.

Sayang, tolong hubungi aku sekarang.

Inilah yang baru saja diketik oleh Sai dan Naruto mengangguk-angguk setuju, sementara Shikamaru ah tidak usah ditanya. Ia yakin hari ini dompetnya akan sedikit menipis. Ketiganya kemudian menulis di menu pesan dengan kalimat yang sama.

"Baiklah, satu... dua... tiga... kirim!"

SENT

Pesan itu dikirim bersamaan dan ketiga pria itu mengumpulkan ponsel mereka di atas meja makan sambil menunggu milik siapa yang akan berdering atau bergetar duluan.

Naruto merasa sangat yakin dia akan memenangkan taruhan ini. Istrinya adalah wanita yang sangat mencintainya sedari dulu. Selama ini setiap ia menghubungi Hinata akan segera membalas pesannya. Sementara dua yang lainnya ia tahu betul Ino cukup sibuk menjaga toko bunga dan terkadang lupa mengecek ponselnya. Apalagi Temari, wanita itu cukup dominan di keluarga Nara dan 'mungkin' gengsi menghubungi suaminya. Khukhukhu ia tidak sabar ditraktir semangkuk ramen.

DRRRT... DRRRT...

Salah satu ponsel bergetar dan itu adalah milik Sai.

Seketika itu juga Naruto merasa sebuah batu menghantam kepalanya. Ia tidak bisa menjadi peringkat pertama dalam taruhan ini? Sungguh memalukan.

"Halo? Ada apa Sai-kun?" terdengar suara wanita dari seberang sana.

"Oh tidak apa-apa aku sekarang bersama Naruto dan Shikamaru, kami sedang taruhan siapa yang ditelpon oleh istri duluan. Untunglah kamu segera menelponku, yokatta.."

"APA? TARUHAN? Hah.. dengar Sai-kun kau tidak boleh jadikan perempuan sebagi taruhan seperti itu. Lain kali jika dua orang baka disana menyuruhmu jangan pernah diladeni, kau paham?" suara Ino terdengar meninggi karena kondisi ponsel sedang dalam menu loudspeaker.

"I...iya... baiklah maafkan aku..." Sai membatu mendengar amarah dari istrinya. Setelah ini ia pasti akan diomelin habis-habisan di rumah.

PIP

"Kupikir taruhan ini bukanlah ide yang bagus," sudah terlambat Sai. Bukankan kau sendiri yang tertarik pertama kali dengan ide Naruto?

Naruto masih tertawa terpingkal setelah mendengar Ino memarahi suaminya, Shikamaru sudah memprediksi omelan istrinya akan lebih buas lagi atau setidaknya sama buas.

Tidak apa-apa, Naruto masih punya satu kesempatan lagi untuk memenangkan taruhan ini. Ayolah Hinata, cepat telpon. Naruto sangat menunggumuu.

KRIING.. KRIING..

Salah satu ponsel itu berdering.

"Halo?" dan yang mengangkatnya adalah pria nanas dari klan Nara.

UHUK!

Rasanya ia tertohok seribu kunai kalah dari pria beristri galak. Hinata kau ada dimana? Apa kau lupa dengan suamimu?

"Shikamaru, kau kenapa?" wanita itu justru melempar tanya di awal percakapannya.

"Eh? Aku tidak apa-apa," entah kenapa pria itu bingung mau menjawab apa.

"Kau aneh sekali, tidak biasanya kau memanggilku seperti itu. Apa terjadi sesuatu?" wanita itu kembali bertanya. Seketika itu juga wajah Shikamaru memerah.

"Ah tidak... aku memang menyayangimu Temari. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan".

"Baiklah.. jika terjadi sesuatu langsung hubungi aku ya, dah".

PIP

Shikamaru menghela napas panjang,"sudah puas kau mengerjai istri orang?". Awalnya berniat memarahi Naruto justru tatapan bingung ia arahkan pada pria bersurai pirang yang tertunduk lesu di atas meja.

"Oi, kau kenapa?".

"Hiks... Hinata... kau dimana..?" rintihan buaya itu terdengar jelas di gendang telinga keduanya.

"Sudahlah Naruto, mungkin Hinata-san sedang sibuk menjalankan misi," Sai berusaha menghibur dalang dari taruhan ini.

"Tapi seharusnya aku yang menang dalam taruhan ini! Aah.. Hinata kau dimana sayang..?" lanturan Naruto sama seperti dibawah pengaruh alkohol.

DRRT... DRRT..

Sebuah nama muncul di layar ponsel Naruto, istrinya baru menghubunginya setelah lewat dari 15 menit.

"Halo? Naruto-kun?" wanita itu memanggil suaminya lembut.

"Hinata kau darimana saja sayaang? Aku dari tadi menunggumu, hiks.. hiks.." kalimat manja itu terdengar nyaring ditelinga Hinata.

"Ma-maaf tadi aku masih membantu seorang nenek yang tersesat di hutan. Maafkan aku tidak langsung menghubungimu Naruto-kun," bagaikan bidadari, wanita berdarah bangsawan itu justru meminta maaf kepada suaminya karena merasa terlambat menghubungi.

"Sebenarnya kami sedang mengadakan taruhan" suara Shikamaru menginterupsi.

"Eh? Shikamaru-kun?" ia coba menebak suara diseberang sana.

"Maaf Hinata-san tadi kami sedang taruhan, siapa yang paling terakhir dihubungi istrinya maka harus menyiapkan makan siang. jadi jangan dengarkan keluh kesah Naruto ya," Sai malah memeberikan informasi yang sebenarnya.

"Eh? Jadi kalian sedang taruhan?" Hinata justru terkikik mendengar penuturan Sai dan Shikamaru.

"Apakah Naruto-kun sedang malas menyiapkan makanan?" tebakan yang tepat Hinata.

"Kau memang istri yang pengertian Hinata, langsung tahu jika suami pemalasmu ini memang berharap ditraktir makan siang," analisa Shikamaru tidak pernah salah.

Hinata tersenyum dibalik ponselnya, sebelum mengakhiri percakapan ia berpesan pada Naruto untuk memesan makanan di luar tapi tidak boleh pesan ramen. Ia tidak lupa untuk mengingatkan Naruto menghangatkan bubur untuk Boruto dan teman-temannya. Setelah percakapan yang cukup panjang Hinata menutup telponnya. Pasti suaminya sedang bersenang-senang, sebuah senyuman kembali merekah di wajah ayunya.

Shikamaru dan Sai mengusulkan untuk memesan chinese food di pecinan dekat rumahnya Tenten. Kata orang-orang masakan di restoran itu sangat enak dan tidak menggunakan pengawet. Langsung saja Naruto menghubungi nomer yang dituju dan memesan dua porsi nasi goreng, satu porsi capcay, satu porsi koloke dan tiga porsi gyoza. Bukankan para pria makannya selalu banyak?

Menunggu selama 40 menit akhirnya makanan yang ditunggu-tunggu datang juga. Karena Naruto yang mentraktir dia yang akan mengambil pesanannya, sementara Sai menyiapkan tiga mangkuk bubur bayi. Shikamaru baru saja keluar dari kamar mandi mengganti popok Shikadai yang dipenuhi ompol.

Ketiga bayi tersebut duduk di pangkuan ayah mereka sambil memakan beberapa suapan bubur. Selagi anak-anak mereka mengunyah para ayah sesekali mengambil satu suapan nasi untuk mengganjal lapar. Suasana makan siang terasa menyenangkan karena anak-anak lahap menghabiskan makanannya.

Sekarang sudah pukul 2 siang waktu Konoha, anak-anak satu persatu mulai terlelap di gendongan ayah mereka. Boruto yang tidur pertama kali sudah dipindahkan ke kamar utama.

"Lain kali kita menghabiskan waktu lebih lama lagi ya," Naruto mengantarkan kedua tamunya ke depan pintu.

"Terimakasih atas traktirannya ya, Naruto-san," Shikamaru memberikan penekanan di panggilan nama Naruto dan dia hanya tersenyum menanggapi.

"Hati-hati di jalan ya Shikadai dan Inojin," ia belai pipi kedua bayi itu secara bergantian.

"Kami pulang dulu, jaa ne".

Apartemen itu terasa sepi seperti sedia kala. Siang ini meskipun hanya sebentar perasaannya sangat senang karena ada yang menemaninya selama menjaga Boruto. Apalagi ia punya dua teman main setidaknya ia harus belajar berbagi dengan orang lain.

Naruto akui ia sebenarnya malu saat kalah taruhan tadi, ia sendiri yang memasang jebakan ia sendiri yang termakan. Tapi tak apalah yang penting bisa menghabiskan waktu bersama-sama.

Tidak sabar menunggu Boruto, Shikadai dan Inojin tumbuh dan berkembang. Jika mereka sudah bisa berjalan dengan kakinya sendiri mungkin interaksinya akan lebih hidup. Semoga Tuhan memberikan kami kesehatan dan umur yang panjang.

TO BE CONTINUED

Terimakasih sudah membaca fiksi ini. Saya harap readers menyukai tulisan saya yang masih pemula. Untuk episode berikutnya adalah kelahiran pangeran Uchiha, jadi ditunggu chapter berikutnya. See ya~