Chapter 3
Dilihatnya bangunan besar dengan cat putih yang mulai mengelupas itu masih terpampang dengan kokoh. Lambang red cross besar di gerbangnya jelas menyatakan tujuan mulia para pekerja di sini. Rumah sakit Roscoe Theodore yang telah berdiri sejak tahun 1890 itu merupakan satu-satunya tempat teraman bagi orang-orang yang membutuhkan bantuan medis di tengah-tengah bencana ini. Taehyung baru saja berlari 2 kilometer dari tempat perhentian truk kelompoknya hingga bisa sampai ke gerbang depan rumah sakit ini.
Dengan keadaan tubuhnya yang dipenuhi tanah dan keringat, ia tidak yakin Dorothy akan mengizinkannya bertemu Jungkook segera. Meskipun begitu, pria itu tetap kukuh memasuki gedung besar ini. Setelah berpikir cukup lama, ia memutuskan untuk mencari Dorothy terlebih dahulu, meminta pakaian ganti kepada perawat ramah itu, kemudian mungkin ia akan numpang mandi di toilet rumah sakit ini. Sehabis itu, ia bisa menemui kekasihnya dan anaknya (jika ternyata ia sudah lahir) dalam keadaan bersih.
"Taehyung!" didengarnya suara tegas seorang wanita dari arah belakang.
Taehyung memutar tubuhnya, lalu menemukan perempuan baik hati yang baru saja melintasi pikirannya beberapa detik yang lalu. Perawat bergaun biru itu menenteng sebuah baskom besi berisi air berwarna kemerahan di pinggul kanannya. Kebetulan sekali, pikir Taehyung. Ia jadi tidak perlu repot-repot berlarian dan bertanya ke sana-sini untuk mencari keberadaan Dorothy.
"Ah, kita bertemu di waktu yang tepat, Dorothy."
"Ayo, cepatlah. Kau harus mandi, setelah itu, lekas temui Jungkook. Sudah hampir waktunya." Dorothy berkata seraya menggesturkan jari telunjuknya agar pria bertubuh kekar di belakangnya ikut masuk.
Untunglah, ia belum terlambat. Walaupun ia tidak dapat menemani kekasihnya itu selama beberapa hari ini, ia sangat bersyukur dapat menyaksikan kelahiran buah hati mereka. Ini bukan pertama kalinya Taehyung menyaksikan persalinan seseorang. Di kamp pengungsian tempat ia bertemu dengan Jungkook untuk pertama kalinya, banyak wanita dan carrier berada dalam kondisi hamil besar, entah dari hasil pernikahan, berhubungan badan dengan orang asing secara sukarela, atau bahkan hasil pemerkosaan.
Sekali lagi, negeri mereka bukanlah lingkungan yang cukup aman untuk dijadikan tempat tinggal. Tingkat kriminalitas dan angka kelahiran yang tinggi semakin membulatkan tekad Taehyung untuk membawa kekasihnya keluar dari hellhole ini.
"Bagaimana keadaan Jungkook?"
"Yah, cukup baik menurutku. Meskipun ia sedang kesakitan, setidaknya kepala bayi kalian sudah turun. Tapi kau tenang saja... Madam Bertram sudah turun tangan, kok."
Mendengar nama wanita tua bertubuh gempal itu, Taehyung merasa ia dapat bernafas dengan lega. Bertram Gunter sudah membantu banyak anak hadir ke dunia ini dengan selamat. Taehyung juga mengenal wanita ini dari kamp pengungsian, dua tahun yang lalu tepatnya. Tangan-tangan ajaibnya seakan bisa menyembuhkan luka-luka para pengungsi hanya dengan sekali sentuh saja. Pembawaannya yang menyenangkan pun membuat semua orang di kamp bisa menyukainya dalam waktu yang singkat.
.
.
.
"S-SAKIT!" Jungkook tak dapat menahan desisan itu dari pangkal tenggorokannya saat Madam Bertram memasukkan tangannya ke dalam lubang lahir pemuda itu.
Madam Bertram menggelengkan kepalanya dengan mata yang tetap terfokuskan pada area berwarna kemerahan di depannya.
"Nah, nak. Aku yakin kau tidak mengeluhkan itu saat kekasihmu memasukkan kemaluannya ke dalam sini. Sekarang, bernafas dengan benar. Oh, dan cobalah untuk tidak membangunkan orang-orang di sini."
Masa bodoh, Jungkook tetap mengerang keras-keras. Ia tidak peduli dengan langit gelap yang menghiasi pemandangan di luar jendela serta suara hewan-hewan nokturnal yang mulai bermunculan.
"Jadi kapan aku bisa mulai mendorong?" tanya Jungkook sambil mendindingi matanya menggunakan salah satu telapak tangannya. Ia bisa merasakkan bagian pinggulnya bertambah ngilu seiring berjalannya waktu. Mulas yang semakin menjadi-jadi juga menyiksanya.
"Huh, kita sedang menunggu ayah dari anakmu, sayang. Tentunya kau tak ingin melahirkan tanpa didampingi kekasihmu, bukan?"
Oh, sial, Madam Bertram benar. Ia sendiri yang membuat kumpulan perawat di sini berjanji untuk tidak melakukan apapun jika kekasihnya belum juga datang ke sini. Tetapi sekarang, ia bahkan tidak yakin jika kekasihnya akan kembali dengan selamat.
"Ia sedang membersihkan diri di luar." lanjut Madam Bertram, membuat kedua bola mata Jungkook membesar secara tiba-tiba. Sejenak, rasa sakit di area kemaluannya terlupakan.
"Taehyung sudah kembali?! Kapan?"
Wanita tua di hadapannya terkekeh geli.
"Ia baru saja sampai di sini, nak. Tenanglah, sebentar lagi juga selesai."
Bertepatan dengan itu, suara pintu yang dibuka dengan cepat mengalihkan atensi mereka berdua. Taehyung memasuki ruangan itu dengan rambut yang masih sedikit basah, namun harum tubuhnya menguar-nguar. Sebuah senyuman terulas di wajahnya beriringan dengan gerakan kedua kakinya menuju ranjang lusuh yang ditempati Jungkook.
"Well, speak of the devil." ujar Bertram.
Pria itu membungkukkan badannya, memberikan sebuah kecupan singkat di kening kekasihnya, lalu mengambil posisi berjongkok di bawah kepalanya. Tangan pucat Jungkook diraihnya perlahan.
"Maaf aku terlambat, dear." dikecupnya jari-jari halus itu dengan penuh kehati-hatian. Damn, tidak bertemu Jungkook selama beberapa hari membuatnya melupakan betapa rapuhnya pemuda itu.
"Aku senang kau ada di sini, Tae. Kau tahu, ini semua sangat menyakitkan! Jika sampai kau tidak ada di sampingku saat kelahiran anakmu, aku sendiri yang akan menyusul ke kamp antah berantah itu, lalu mencincang tentara kecilmu di bawah sana." Jungkook mengedarkan pandangannya ke bawah celana Taehyung.
Taehyung merinding ngeri. Oke, mungkin semua rasa sakit ini yang membuat Jungkook semakin sensitif dan emosional. Ia harus bisa memakluminya.
"Oke, bagaimana dengan posisi ini?" Dorothy tahu-tahu sudah muncul dari bilik sebelah. Wanita itu langsung mendorong tubuh Jungkook sehingga ia berbaring menyamping, persisnya menghadap wajah Taehyung, kemudian salah satu kaki milik remaja itu dikalungkan di lehernya sehingga kedua kakinya terkangkang jelas di depan wajah Madam Bertram. Tercetak ekspresi puas di antara kerutan-kerutan penuaan pada wajah wanita tua itu.
"Seperti ini bagus, Dorothy. Mungkin bisa membantu mencegah sobekan." Madam Bertram memberi tatapan penuh arti kepada Jungkook, membuatnya meringis membayangkan sakitnya sobek pada bagian sana.
"Mulailah mengejan begitu kau merasa mulas. Kalian punya bayi yang besar di sini, jadi kau akan butuh tenaga ekstra."
Tidak perlu menunggu lama hingga nyeri di perutnya datang kembali. Jungkook reflek meremas telapak tangan kekasihnya seraya mengatupkan kedua kelopak matanya begitu insting untuk mendorong muncul. Perlahan-lahan, gumpalan hitam yang tertutupi darah dan lendir itu turun, mendekati mulut lubangnya.
"Ngghhhh! Arghhhh! Hahh... hah... nghhhh!"
Sialan, Madam Bertram tidak main-main saat mengatakan bayi ini besar. Jungkook berhenti sejenak untuk menghirup oksigen banyak-banyak. Tenaganya seakan-akan sudah habis untuk menahan rasa sakit sejak awal pembukaan. Taehyung tak dapat membantu banyak. Satu-satunya hal yang dapat ia lakukan adalah berada di sini untuk Jungkook. Hanya kehadirannya yang dibutuhkan anak itu untuk saat ini.
"Dorong terus!" Bertram meletakkan kedua tangannya pada paha Jungkook, sedikit menekan bagian itu.
Jungkook mulai mengatur nafasnya lagi. Ia mulai mengejan kuat-kuat dengan wajahnya yang dibenamkan ke bantal, menyebabkan suara erangannya teredam. Taehyung sontak menggerakkan tangannya untuk mengusap bagian belakang kepala kekasihnya yang basah kuyup itu. Beberapa ciuman dari lelaki itu hinggap di kepalanya, berusaha menguatkannya.
"Jangan berhenti, Jungkook." kali ini Dorothy ikut menginstruksikan sambil meremas paha Jungkook yang berada pada pegangannya.
"Nggahhhh! Hah... hah... Ungghhhhh! ARGHHHH!"
Satu tangan bertautan erat dengan milik kekasihnya, dan satu lagi mencengkram seprai di bawahnya hingga permukaan lusuh itu menjadi semakin kusut. Ia sadar bahwa suara yang dikeluarkannya mungkin bisa membangunkan pasien lain di sini, namun Jungkook tidak bisa peduli lagi dengan itu. Ia baru tahu sesakit ini rasanya, mengejan, mengejan, dan mengejan, berusaha mengeluarkan bayi seberat 4 kilogram dari lubang kecilnya itu.
"Kerja bagus, dear. Kau melakukan yang terbaik untuk bayi kita." Taehyung membisikkan kalimat itu ke telinga Jungkook di saat sang empunya sedang sibuk meraup udara semampunya. Perlahan-lahan, lelehan air mata terjun bebas menuruni wajah mulusnya. Ngilunya bukan main.
"Hiks... sakit sekali... hiks..." tangan kirinya seakan tak mampu melepas rematan pada seprai.
Madam Bertram tahu penyebabnya. Diameter terlebar kepala bayi itu sudah mulai menyentuh bagian terluar lubang Jungkook. Penderitaan Jungkook tak lama lagi selesai jika ia tahan mengejan beberapa kali lagi.
"Hei, nak, kepala bayimu sudah mau keluar. Sekarang terasa sakit, tapi ia sudah dekat sekali. Atur nafasmu dulu, ya, seperti ini." ia mencontohkan dari bawah sana, berharap agar Jungkook bisa menguasai dirinya sendiri.
Dorothy memberikan senyuman suportif terbaiknya kepada Jungkook. Diusapnya lengan pemuda itu.
"Kalian sudah menyiapkan nama untuk bayi kalian?"
Jungkook mengangguk lemah di tengah-tengah nafasnya yang terputus-putus itu. Ia dan Taehyung belum tahu jenis kelamin anak mereka, jadi ada dua nama yang mereka siapkan.
"Kerja bagus. Kebanyakan orang tua tidak mempersiapkan nama untuk anak mereka saat due date. Akhirnya, malah memberi nama asal-asalan saja, haha." ia berusaha mencerahkan suasana hati Jungkook dengan sedikit memberi pujian kepadanya. Volume suaranya sengaja dikecilkan agar pasien lain yang baru punya bayi tidak tersinggung. Untunglah, hal itu sukses membuahkan sebuah lengkungan tipis pada bibir Jungkook.
Tiba-tiba rasa mulas itu kembali menyerang untuk yang kesekian kalinya. Langsung saja ia mengejan kuat-kuat hingga wajahnya mulai memerah. Oh, rasanya seperti dibakar dari bawah. Sesuatu yang sangat besar mendesak keluar dari dalam tubuhnya.
"Semangat, ya. Bayi kalian memang agak besar dibandingkan dengan bayi-bayi yang baru lahir pada umumnya. Bernafas, Jungkook, bernafas."
"Arghhhh! NGGHHHHH! HAH... HAH... HAH... UNGGHHHH!" cairan bening itu terus mendesak keluar dari matanya seiring dengan sensasi panas yang tak kunjung hilang dari lubangnya.
"Hah... hah... hah... Ngghhhh!"
"Benar begitu. Anak pintar. Lakukan sekali lagi dan..." gumpalan basah berwarna hitam itu berputar, perlahan-lahan menuruni liang ibunya.
"URGGHH! AH!"
Plop!
Dan dengan itu, rasa terbakar pada bagian bawahnya hilang sedikit demi sedikit, diikuti dengan keinginan untuk mengejan lagi, mendorong sisa tubuh bayinya keluar.
"Nggghhh! Angghhhh! Hah..."
Madam Bertram menarik tubuh pucat itu hingga keluar sepenuhnya. Bayi bertubuh gempal itu mengeluarkan tangisan terkeras dan termerdu yang pernah didengar Jungkook selama hidupnya. Tangisan pemuda itu pecah lagi, kali ini karena euforia-euforia yang terus menyerang hatinya. Pandangannya tak kunjung lepas dari bayi besar yang tengah diletakkan Bertram di atas dadanya selagi tangan-tangan keriput itu membersihkan tubuhnya yang dipenuhi lendir lahir, sedangkan Taehyung hanya bisa ternganga sembari menatap takjub ke arah makhluk mungil yang telah menetap di rahim kekasihnya selama sembilan bulan itu.
Ia sudah jadi ayah. Jungkook sudah jadi ibu. Mereka berdua jadi orang tua baru.
Perlahan, rasa hangat itu menjalari batinnya, memicu sebuah lengkungan lebar agar muncul di wajahnya.
"Terima kasih... terima kasih... beribu-ribu terima kasih untukmu, dear!" wajah lelah Jungkook dihujaninya dengan ciuman.
"Tae... hiks... Tae, ini anak kita..." tangisannya membuatnya kesulitan menyelesaikan kata-katanya. Lengan putih yang tadinya terkulai lemas itu reflek mendekap bayi besarnya dengan protektif. Kedua kakinya masih mengangkang lebar, pelan-pelan melemaskan otot-ototnya yang agak kencang.
Dorothy dan Madam Bertram mau tak mau ikut larut dalam suasana emosional itu. Keduanya dapat merasakan mata mereka mulai basah melihat interaksi pasangan muda di hadapan mereka. Oh, pengalaman mereka membantu orang-orang sakit selama bertahun-tahun tak mampu menghilangkan kesensitifan pada hati mereka. Selalu ada suka dan duka baru yang mengisi kehidupan sehari-hari mereka. Inilah alasan mengapa mereka sangat menikmati pekerjaan mereka di rumah sakit ini.
.
.
.
The End
