New Adventure (Rebirth)
A/N: Uoh! Akhirnya Elsword saya sudah jadi Rune Slayer! Setelah Mati-matian mengunduh Manual Patch Buat Field System terbaru (hampir ke-install =_="), akhirnya perjuangan saya untuk jadi Rune Slayer berakhir! Karena itulah, saya akan meng-update cerita saya ini sebagai perayaan! :3 (BTW, Bagi yang main Elsword, jika berminat, add saya sebagai teman. Nick saya TheoDraneD – huruf kapitalnya harus dipakai :3)
Sekarang, Ayo Kita Ke RRC (Review Replies Corner)!
Chloe Cyasesa (By Author): muhoho...Azin memang Chara dengan masa lalu buruk seperti Rufus ama Lass (2 sodara ini memang benar-benar sengsara...xixixi *ditodong Soul Arbiter dan Nodachi*) makanya ceritanya kayak gitu. Hm...apakah sifatnya bakal berubah karena kebawa suasana? Maybe...Maybe not :3. Saya suka Chara di dalam cerita sengsara ataupun memiliki sifat yang Yandere, muhahaha! *kena tendang Azin* kalau chapter ini udah eps. 1-nya, FBS itu hanya selingan yang saya buat agar (paling tidak) nyambung dengan Main Story yang Plot dan Time Line-nya buatan saya. Dan Nope, Chap ini saya khususkan untuk OC saya bersama beberapa chaser dulu, tapi tidak termasuk Jin dan Amy. Akhir kata, trim's sudah mereview dan selamat membaca :3.
Kaien-Aerknard (By Nerin): *ngelirik Shera* Waai~! Shera cemburu Theo dipeluk ama Kaien-san! (Shera: *Salting&Blushing*) haha! Oh, It Really Fun To Tease You, Shera. Back To The Topic, Trim's atas pengertiannya Kaien-san, *bisik-bisik* tapi kayaknya kamu memang harus memarahi Author deh, dia lama banget ngerencanain cerita ini (Author: aku dengar itu!) tunggu...Scene berdarah...? jangan-jangan Dain mati karena Author suka bikin cerita kayak gitu!? *Deathglare author* (Author: *Gulp*) huo! Benar juga! Rufus memang lebih cocok pake 'Hell Yeah' daripada 'Heck Yeah'! Thank's atas sarannya, Kaien-san! Ok, Maybe Just That. So, Here's The Update That You're Waiting For .
Perfect Maid Haruka (By Theo): *baru datang, ngelirik Shera* dia kenapa? (Nerin: Oh, Nothing, She's Ok *Giggle*) Oh...Ehem...Greets, Ru-san, saya sebenarnya disuruh Glomp Perform ama Author, tapi saya tidak akan melakukannya karena saya tidak mau ketularan penyakit Gaje Author, mohon dipahami *bow* (Nerin: kaku amat =_=") But, It's Really Nice To See You Again *Smile* Tepat Sekali, FBS sebelumnya adalah Azin Promotion Video (Or Something Along That Line) yang selalu ditayangkan di Trial Forest *emang film?* Author mati-matian ngulang main disitu supaya bisa mendengar dengan lebih jelas apa yang Azin katakan dalam B. Inggris, padahal nyari di Google atau Youtube lebih gampang. *Sweatdrop* Lime? Maksudnya yang bawa-bawa benda semacam palu besar itu? *ikutan bayangin Lime jatuh dari atap* That Must Be Hurt...Last, But Not Least, Thank's For Your Review, My Author Really Appreciate It. So Here's The New Chapter, Happy Reading *Smile*
Note: Bagi yang tidak mengetahui bagaimana cerita ini berawal dan siapa saja OC milik saya (Karena saya malas mendeskripsikan ciri-ciri mereka dan juga karena merasa ceritanya terkesan bertele-tele kalau saya jelaskan lagi bagaimana ciri-ciri mereka) dicerita ini, sangat saya sarankan membaca seri sebelumnya "New Member Adventure", Trim's #Promosi Mode:On
-Chapter 1: Memory : Corrupted-
Place: Unknow
Time: Unknow
Theo Dream POV
PLIK!
Kubuka mataku, melihat keadaan sekitar dan hanya mendapati diriku disebuah tempat tanpa terang cahaya. Aku mencoba merubah posisiku, tapi tetap saja hanya ada kegelapan yang mendominasi di depan mataku.
Tapi, seakan tahu bahwa aku membutuhkan cahaya, tempat itu tampak mulai menjadi terang. Perlahan aku menyadari bahwa aku berada disebuah tempat semacam lemari dan sumber cahaya yang aku dapatkan berasal dari sinar lilin yang menyusup masuk lewat celah lemari itu.
Kualihkan pandanganku untuk melihat dari celah kecil lemari itu dan mendapati sesuatu yang entah kenapa membuat hatiku sakit. Disana, di dekat lemari tempat aku berada, tergeletak tubuh seorang wanita dengan rambut merah terurai.
Indah. Itulah kata pertama yang muncul dibenakku. Lekuk wajah wanita itu. Matanya. Rambutnya. Juga cairan berwarna merah yang mengalir dari tubuh wanita itu. Tunggu…cairan merah…darah.
Segera kupertajam penglihatanku dan kemungkinan yang aku takutkan benar adanya. Wanita itu telah mati. Matanya yang indah itu telah memberikan sebuah tatapan kosong. Wajahnya yang cantik itu kini mulai memucat.
Ingin aku keluar dari dalam lemari itu, mendekatinya dan memeriksa keadaannya – meskipun aku sudah yakin bahwa ia sudah tidak ada di dunia ini. Namun, baru kulangkahkan kakiku, sesosok wanita dengan mata merah mendekat ke mayat wanita itu. Aku sering melihat wajah wanita itu dimana-mana. Sang Ratu Kegelapan, Kaze'Aze.
Matanya memandang licik mayat wanita di depannya. Sebelah kakinya mendekat ke pipi pucat wanita itu dan menyentuhnya sedikit dengan ujung kakinya. Amarah mulai bangkit di dalam diriku.
Aku merasa sesuatu di dalamku memerintahkan seluruh panca inderaku untuk keluar dari lemari itu dan menyerang wanita bermata merah itu. Namun, seluruh inderaku seakan dilumpuhkan dalam sekejap tatkala mata kami berdua bertemu.
Wanita itu tersenyum licik sekali lagi dan mendekati tempat persembunyianku. Jantungku berdegup kencang. Aku merasa tubuhku seakan mati rasa dan seluruh tubuhku bergetar bukan main.
Baru saja tangannya akan membuka pintu tempatku berada saat itu, suara tembakan menghentikannya. Dengan segera, wanita itu menarik kembali tangannya. Sebelum ia pergi, ia membisikkan sesuatu padaku.
"Kau akan menjadi milikku, nak,"
Dan dengan itu, sang Ratu Kegelapan menghilang di balik baying-bayang kamar itu tanpa menyisakan sedikitpun tanda.
Tanpa kusadari, 2 aliran air hangat mulai keluar dari kedua mataku dan bermuara di daguku. Apa ini? Rasa sesak apa yang ada di dalam dadaku ini? Apakah ini perasaan takut? Ataukah amarah terhadap diriku karena tidak bisa melakukan sesuatu? Ingin rasanya ku keluarkan suaraku, namun tenggorokkanku serasa tercekik sesuatu.
Banyak sekali yang ingin kukatakan saat itu juga, tetapi hanya satu kata yang dapat lolos dari mulutku…
"Ibu,"
Real World
Near The Territory of Dwarven Base
Normal POV
JREEEG!
Shera yang saat itu iseng memperhatikan wajah Theo dari jarak yang cukup dekat, terkejut karena tiba-tiba saja Theo terbangun dan kedua mata merahnya menatap langsung mata Shera.
Langsung saja Shera terjatuh kebelakang karena jarak wajah Theo dan wajahnya cukup dekat. Ia memikirkan berbagai macam alasan agar Theo tidak curiga namun hal itu diurungkannya saat melihat keadaan Theo saat ini.
Theo yang saat itu terbangun dari mimpinya terlihat sangat shock dan ketakutan. Ini sudah kesekian kalinya ia mendapatkan mimpi seperti ini dan ia benar-benar tidak menyukainya – mengingat ia pernah mengalami hal serupa dan benar-benar hampir mencelakakan warga Serdin saat itu.
Shera kembali berdiri dan segera mendekati Theo dengan cemas.
"Theo, ada apa? Apa mata kirimu sakit lagi?" Tanya Shera dengan nada cemas. Shera ingat, minggu pertama sejak Theo mendapatkan 'pengganti mata' kirinya itu, sang Pyro Gunner selalu terlihat kesakitan.
Shera berkali-kali menawarkan diri untuk memeriksanya, namun Theo selalu tersenyum sambil menahan sakit dan berkata 'rasanya tidak seburuk kelihatannya' dengan nada lembut. Shera tahu Theo hanya tidak ingin membuatnya khawatir, tapi saat Theo mengatakan kalimat itu, Shera tidak dapat melakukan apa-apa selain menurutinya.
"Tidak, tapi mimpi itu…lagi," gumam Theo sambil memijat perlahan kepalanya, berusaha menghilangkan tiap gambaran kejadian yang tercetak di dalam ingatannya.
Shera segera menggenggam tangan Theo, membuat laki-laki berambut merah itu mengalihkan pandangannya terhadap Shera. Dilihatnya Shera menatapnya dengan tatapan sendu.
"Theo…Aku Memang tidak mengetahui dengan jelas tentang mimpi-mu itu…tapi, aku juga pasti akan ketakutan jika seseorang seperti Kaze'Aze berdiri di depanku dan memiliki peluang besar membunuhku. Jadi…itu tidak ada salahnya kalau kau tidak dapat melakukan apa-apa karenanya…," ucap Shera, mulai mempererat genggamannya pada tangan Theo.
Untuk sesaat mereka terdiam, mata mereka saling bertemu. Shera sedikitpun tidak memiliki niat untuk melepaskan genggamannya. Ia ingin, paling tidak, disaat seperti ini, ia dapat membuat Theo merasa lebih baik. Akhirnya, Theo mengeluarkan senyum lembutnya dan menatap Shera seolah ingin mengatakkan 'semuanya baik-baik saja'.
Shera tersenyum balik. Ia mulai melepaskan genggamannya, mendekatkan dirinya pada Theo, dan memeluknya…setidaknya itulah yang ingin Shera lakukan kalau saja…
"Kami kembali membawa makan ma – apa kami mengganggu sesuatu?"
…Reina – dengan Mini-Cerberus di atas kepala – bersama Lass dan Arme yang mengikutinya dari belakang tidak muncul saat itu juga. Shera yang saat itu sudah dalam posisi akan memeluk Theo, langsung menarik kedua tangannya dan dengan wajah memerah, Shera mencoba menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Arme dan Reina yang melihat Shera panik mulai tertawa kecil melihat teman mereka salah tingkah, sementara Shera hanya kalang kabut menjelaskan dengan terbata-bata. Mini-Cerberus yang tadinya bersama Reina, dengan segera melompat ke pangkuan Theo.
"Ngomong-ngomong, sudah berapa jauh lagi kita sampai di laboraturium-mu itu?" Tanya Arme yang memulai topik pembicaraan setelah mereka berlima duduk mengitari api unggun yang mereka gunakan untuk memasak makan malam mereka.
"Bekas Laboraturium," ucap Reina mengkoreksi perkataan Arme sambil sesekali mengaduk isi panci makanan mereka.
"Setelah kita melewati tempat ini seharusnya kita sudah sampai," sambung Reina dengan terus memantau masakan mereka. Arme mengangguk mengerti kemudian menyandarkan diri di pohon yang ada di belakangnya.
"Bukankah tempat itu sudah hancur?" ucap Lass yang duduk disebuah dahan pohon sambil sesekali memperhatikan keadaan sekeliling. Reina mengambil sedikit kuah makan malam mereka kemudian menyeruputnya dan berkata pada Lass.
"Tidak, yang hancur waktu itu adalah Ruang dokumen rahasia milik kakek Dwarf ber-Tank itu. Laboraturium-ku berada di sisi lain tempat ini," ucap Reina menjelaskan sambil mengeluarkan beberapa buah piring dan membaginya pada teman seperjalanannya.
"Karena itu, bersabarlah sedikit lagi menghadapi tiap mimpi burukmu, Theo," sambung Reina saat memberikan piring pada Theo yang menerima piring itu sambil terus mengelus Mini-Cerberus. Theo mengangguk sebagai respon terhadap pernyataan Reina.
Belakangan, Reina memberitahu pada Theo bahwa yang masuk ke dalam matanya itu adalah hewan yang awalnya digunakan oleh klan Drane.D. untuk mencuci otak seseorang dengan cara menyuntikkan ingatan yang berbeda jauh dari yang sebenarnya dialami orang yang dijangkitinya – terbukti Theo sempat dikendalikan Wulfric karena benda itu.
Namun, karena Theo agak berbeda – ditambah serangan Dain untuk menghentikannya, proses pencucian otaknya mengalami pelambatan. Ibaratnya, Theo itu seperti Komputer yang terjangkiti Bug/Virus namun proses penyebarannya terhambat karena adanya Anti-Virus. Dan 'Anti-Virus' Theo adalah ingatan asli yang ia peroleh dari 'Cetak Biru' penciptaannya, Kirra Drane.D.
Karena itulah, Reina berpikir ia bisa membuat Theo tidak dikendalikan oleh 'Mata' barunya itu. Bahkan, mungkin saja Theo dapat memanfaatkan kemampuan hewan itu 'mendistorsi ingatan' dan menggunakannya untuk membuat atau membongkar ilusi saat bertarung melawan musuh. Lagian, tujuan Chaser berpisah saat ini adalah untuk mencari anggota baru dan mengasah kemampuan mereka, bukan?
Tapi, apa hubungannya dengan keberadaan Lass dan Arme disini? Simpel, mereka diminta oleh Knight Master agar mengawal mereka karena level Battle Mage dan Striker ini sudah termasuk dalam kategori level 'Expert'. Dan sepertinya, Lass ingin bertarung melawan Theo – mengingat kecepatan yang Theo miliki saat melawan Dain beberapa tahun lalu.
"Baiklah, kita lanjutkan perjalanan kita besok," ucap Reina yang entah sejak kapan sudah meringkuk di dalam sleeping bag-nya. Semuanya kemudian mencampat yang tepat untuk tidur.
'Semoga aku tidak melihat mimpi itu lagi,' batin Theo yang kemudian tertidur di sebelah Shera.
Tapi Tampaknya harapan Theo untuk tidak melihat mimpi itu lagi tidak terwujud. Terbukti dengan sebuah fakta bahwa Theo yang paling pertama terbangun di larut malam. Yah, Theo memang tipe yang bangun cepat, jadi tidak ada satupun yang menghiraukannya.
Theo mulai mencoba bangun, bermaksud mencari makanan untuk sarapan – meskipun masih lama – dan sekedar berjalan-jalan menyegarkan pikiran. Namun, saat Theo merasakan sesuatu yang berat di perutnya, ia langsung berhenti bergerak.
Perlahan, Theo melihat bahwa Shera sudah melingkarkan tangannya di pinggang Theo. Wajahnya yang tenang dengan napas yang teratur membuat Theo tahu bahwa Shera masih tertidur.
Dilihatnya Arme dan Lass, mereka juga tidak jauh berbeda dengannya saat ini. Untuk Reina…kita anggap saja bahwa Reina dan tas-nya sudah berpacaran sebulan yang lalu. Theo hanya bisa menghela napas. Belum ada yang terjaga, pasti ini masih terlalu awal.
Karena tidak bisa bangun dengan tidak membangunkan Shera, Theo hanya bisa melakukan satu-satunya pilihan yang hanya bisa diambilnya saat itu: kembali tidur dan bangun bersama dengan yang lainnya.
Sayang sekali, Theo akhirnya tidak bisa tertidur. Ia hanya bisa berbaring disana, mendengarkan suara-suara binatang malam yang saling bersahut-sahutan di dekat situ. Sesekali ia memperhatikan Shera – yang terkadang mengigau dan mengatakan sesuatu yang tidak jelas.
Setelah beberapa lama, matanya mulai terasa berat. Berkali-kali ia menguap kecil dan rasa kantuk mulai mendominasi tubuhnya. Saat matanya mulai tertutup, telinganya menangkap sebuah suara.
Asumsi pertama Theo, itu adalah suara musuh yang mendekati mereka, maka dari itu Theo berpura-pura tertidur sambil men-Summon Blade-Gun nya. Suara itu makin jelas, terdengar beberapa langkah kaki yang bergerak kearah mereka.
Saat Theo merasa bahwa musuh itu sudah ada di dekatnya, dengan cepat Theo menarik keluar Blade-Gun nya, menyebabkan Shera terbangun. Namun, ternyata Theo kurang cepat, karena saat ini dia-lah yang dalam posisi sedang di 'todong' oleh musuh.
Dihadapannya, terdapat ratusan, bahkan ribuan jarum-jarum perak yang melayang seakan berhenti diudara saat diluncurkan oleh seseorang. Mendengar kegaduhan yang disebabkan Theo, Reina dan yang lain terbangun tanpa memiliki niat untuk melakukan perlawanan – karena tampaknya sudah sia-sia, melihat begitu banyak jarum yang siap menghujam mereka.
"….Maaf, tapi siapa kalian?" Tanya sebuah suara yang berasal dari seorang laki-laki dengan kacamata ber-frame merah. Ia memakai sebuah Coat berwarna merah yang lumayan panjang. Di tangan kanannya, ia memegang semacam Jam Saku.
"Seharusnya kami yang menanyakan itu!" ujar Reina. Laki-laki itu tampak terkejut namun kemudian kembali memasang wajah biasa.
"Maafkan aku. Namaku Sean Kenneth dan aku bertugas menjaga keamanan sekitar sini. Kalau aku boleh tahu, siapa kalian?" Tanya laki-laki itu lagi – yang sudah kita ketahui bernama Sean.
Sepenting itukah nama kami? Apakah ini masalah keamanan? Atau ia menanyakan hal itu agar ia memastikan bahwa kami adalah Chaser dan akan menyerahkan kami kepada Kaze'Aze? Apa yang harus kami lakukan…apakah kami harus percaya padanya?
-To Be Continued-
A/N: Dari dulu mau bilang ini, tapi….CLIFHANGER! X3 Huo Huo Huo, setelah sekian lama duduk termenung di depan laptop tanpa sedikitpun ide yang timbul, akhirnya chapter ini selesai juga…dan oh! Terima kasih untuk Perfect Maid Haruka yang OC-nya saya pakai disini, Sean Kennetth! *bow* tolong segera beritahu bilamana saya salah mengeja namanya X3 I will fix it ASAP
Last, review please?
