Tepuk tangan kepada saya yang berhasil lanjut sampe chapter tiga :v biasanya 1-2 chapter trus hiatus tanpa alasan(?) tapi keliatan kan niat saya buat bikin plot yang sudah lama diimajinasiin jadi ke dalam bentuk tulisan? :3 matimatian nulis gini, apalagi banyak part yang aku harus tambahin, soalnya aku sama temenku dulu mikirin plot ini tuh benerbener cuma buat scene pairingnya :v tapi gapapa sih. Tanoshikatta. :3
Oiya, disini ada lagi gak yang bingung soal Itachi kelas berapa? Soalnya pas aku nemu review yang bilang demikian, aku jadi kepikiran, deskripsinya ribet ye? :v Itachi kelas tiga SMA atau kelas dua belas. There you go. :D plus lupa nambahin, mata uang ryo disini aku samain sama yen ya~ jadi kursnya cari sendiri aja. xD yaudah, kita mulai sajo~ seperti biasa, sesi bales review di akhir fic ya :D
.
.
DISCLAIMER:
All characters belongs to Masashi Kishimoto. Satusatunya milik aye cuma plot.
.
.
WARNING:
AU, typo nyelip, bisa jadi OOC.
.
.
The Diary
~Kimi to Deai~
Page 3: Invitation
© nadilicious
.
.
Pagi yang cerah, jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi, tiga puluh menit setelah sekolah dimulai dan hari itu disambut oleh pelajaran sains, dipegang oleh seorang guru berkacamata bundar, berambut abu-abu yang panjang dan diikat ke belakang dengan poninya yang menutupi kedua sisi dahinya, Yakushi Kabuto-sensei. Guru yang sangat pintar ini menjelaskan materi yang sangat sulit dengan pembawaan yang santai. Banyak sekali siswa dan siswi yang selalu mendapatkan hasil yang bagus bila diajari olehnya.
Siswi yang duduk paling dekat dengan jendela dan berada di paling belakang, Haruno Sakura, sedang fokus menyimak apa yang Kabuto sedang jelaskan, menulis apa yang Kabuto tulis di papan tulis serta menjabarkannya sesuai dari apa yang Kabuto jelaskan namun tidak ditulis di papan tulis. Dia menggunakan dua halaman buku; satu untuk sebuah mindmap, satu lagi untuk catatan biasa. Tulisannya sangat rapih. Penulisan huruf hiragana, katakana, dan kanji-nya sangat bagus dan rapih, membuat orang yang meminjam catatannya merasa nyaman untuk membaca tulisannya. Ditambah lagi penggunaan warna selain warna hitam, menunjukkan poin penting dari catatannya dan membuat lebih nyaman untuk dibaca.
"Bila senyawa ini dicampur..." Kabuto menuliskan soal campuran senyawa di papan tulis, lalu menoleh ke arah para murid, "bolehkah kuminta Haruno-san untuk menjawab?"
"Hai," jawab Sakura sigap, lalu berdiri dari kursinya dan maju ke depan kelas, mengerjakan soal yang Kabuto berikan.
Sebenarnya, Kabuto sengaja mengeluarkan sebuah soal kimia yang levelnya sangat susah, ia ingin mengecek kebenaran gosip yang beredar di ruang guru soal siswi yang bernama Haruno Sakura adalah siswi yang paling pintar, karena selain hasil rapot selama SMP yang dibilang luar biasa, hasil ujian masuk ke Konoha Private School yang menduduki peringkat teratas digelombangnya, yang dijadikan sebagai contoh bagi seluruh murid di angkatannya. Kabuto sengaja mengeluarkan soal yang menurut perkiraannya, untuk murid kelas unggulan, soal itu bisa diselesaikan dalam waktu sekitar tujuh menit. Kabuto dengan tenang melipat kedua tangannya sambil melihat keluar jendela.
"Sensei, sudah selesai."
Mata Kabuto terbelalak, rasanya belum tujuh menit sejak Sakura mengerjakan soal yang Kabuto sengaja berikan padanya. Ia menoleh ke belakang, melihat Sakura dan jawaban dari soal yang ia berikan di papan tulis. Ia melihat ke arlojinya.
'Hanya lima menit?' pikir Kabuto, terkejut dengan berapa lama waktu yang Sakura butuhkan untuk menyelesaikan soal itu.
Kabuto pun berjalan mendekat ke papan tulis supaya bisa melihat lebih jelas dan menilai jawaban Sakura. Ia menilai langkah demi langkah yang Sakura tulis untuk menjawab pertanyaannya.
"Benar," kata Kabuto, "kau boleh kembali ke tempat dudukmu," lanjutnya.
"Terima kasih," jawab Sakura sambil tersenyum, lalu kembali ke tempat duduknya dengan santai.
'Benar-benar diluar dugaan,' pikir Kabuto sambil sekali lagi melihat ke jawaban Sakura.
"Hei hei," Ino, yang duduk di depan Sakura, berbalik badan saat Sakura baru saja duduk di tempatnya, "aku lihat tadi Kabuto terlihat terkejut saat kau baru saja menyelesaikan soal yang ia berikan."
"Eh? Benarkah?" Sakura, dengan tampang polos karena memang benar-benar tidak tahu, menanggapi Ino. Walaupun Sakura pintar, ia tidak suka menyombongkan diri tentang kepintarannya, bahkan merendah saat orang lain memuji kepintarannya.
"Un, aku tidak mengerti kenapa," kata Ino, lalu membalikkan badannya lagi ke depan.
Pelajaran pun berlanjut selama satu jam lewat sepuluh menit, hingga pelajaran berganti, suasana kelas 11-A yang selalu tenang, Sakura yang tidak pernah kehilangan fokusnya untuk mendengarkan perkataan gurunya sambil mencatat apa yang di papan tulis dan menambahkan sendiri dengan menjabarkan tiap poin dari yang dituliskan di papan tulis. Jari-jarinya dengan cekatan mengganti-ganti tiap tinta warna yang akan ia gunakan dari pulpen multicolor-nya. Ia juga aktif bertanya ketika ada yang kurang ia mengerti atau ingin ia perjelas untuk menambah catatannya. Berkat Sakura, murid seperti Neji, Shikamaru, Shino, Gaara, dan Hinata bisa menambah catatannya juga. Sasuke juga merasa beruntung karena bisa menambah catatannya, namun niatnya untuk membalas dendamnya kepada siswi ini masih belum luput, namun juga nampak terpesona dengan aktifnya Sakura di kelas. Sementara Ino, Naruto, Lee, Kiba, dan Tenten kewalahan karena pertanyaan Sakura yang terbilang berat, serta Chouji yang merasa lapar, entah itu terpengaruh dari pertanyaan Sakura atau bukan.
KRIIIIIIIIIING...
"Baik, pelajaran kita akhiri disini..."
"Berdiri," Shikamaru berdiri dari bangkunya dan memberi aba-aba, yang diikuti oleh seluruh murid.
"Arigatou gozaimashita," para murid menunduk kepada guru mereka, yang dibalas oleh guru itu dengan menunduk sebentar, lalu kembali ke posisi semula, dan berjalan keluar kelas. Saat guru itu berjalan keluar, para murid pun kembali ke posisi normal.
"Akhirnya, jam makan siang~" Kiba merentangkan kedua tangannya, merasa cukup lelah dengan pelajaran yang berlangsung selama dua ratus menit tanpa jeda.
"Sakura!" Ino memanggil kepada teman sekelasnya itu, sambil membawa kursinya ke meja Tenten, yang duduk di depannya, "ayo, makan bersama kami!" ajaknya.
"Ano..." Sakura takut untuk menjelaskannya, namun, ia mengangkat furoshiki yang membungkus suatu benda yang cukup besar. Awalnya, Ino bingung, ia tau bahwa itu adalah kain yang dipakai untuk membungkus bento, tapi kenapa ukurannya begitu besar? Apakah porsi makan Sakura bertambah? Namun ia langsung mengerti bahwa itu bukan hanya untuk Sakura saja.
"Oh, aku mengerti," Ino tersenyum lembut kepada Sakura, "sana, kau hampiri dia, nanti dia marah karena telah menunggu lama."
"Un! Besok, aku akan makan siang dengan kalian," kata Sakura, lalu ia beranjak keluar kelas, berjalan menuju tangga darurat yang terdapat di setiap sudut di semua lantai gedung sekolah ini.
"Oi," Naruto menyenggol bahu Sasuke saat melihat Sakura pergi ke luar kelas. Kebetulan, keduanya sedang memakan bekalnya yang hanya berupa sandwich di dalam kelas. Naruto sempat mendengar pembicaraan diantara Sakura dan Ino, dan ia mengerti apa yang Ino maksud dengan 'dia'.
"Apa?" tanya Sasuke, penasaran dengan sahabatnya yang tiba-tiba mengganggunya saat ia sedang asyik melahap irisan tomat di dalam sandwich-nya.
"Sakura keluar kelas, kau tidak mau ikuti?" tanya Naruto, setengah berbisik kepada Sasuke.
"Hah? Untuk apa?" kata Sasuke, "aku tidak mau terlihat seperti stalker," kata Sasuke, lalu mengabaikan Naruto, melanjutkan sandwich-nya.
"Kau tidak penasaran?" kata Naruto, lalu melahap potongan terakhir sandwich-nya.
"Tidak," Sasuke menoleh ke arah lain sambil memakan sisa sandwich-nya.
"Ayolah, sesekali saja!" kata Naruto, sambil berdiri dan menarik lengan Sasuke. Sementara Sasuke, yang tidak menduga Naruto akan memaksanya, lengah, hingga dirinya terbawa oleh Naruto.
"D-dobe! Mau kemana!?" Sasuke marah, namun tidak melakukan perlawanan.
"Kau tau..." Naruto berhenti sebentar, masih menggenggam lengan Sasuke, "saat men-stalking Hinata-chan, aku tidak pernah tertangkap basah, sekalipun harus menampakkan diri, bukan karena ketahuan, tapi aku ingin mencari perhatian, dan aku pandai dalam membuat alasan."
"Jangan kau mencoba untuk mempermalukanku di depan seorang perempuan," Sasuke membuat ancaman terlebih dahulu kepada sahabatnya itu.
"Tenang saja! Serahkan semuanya kepadaku," Naruto tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya.
Sementara itu, Sakura, yang tidak menyadari bahwa dirinya akan diikuti oleh Naruto dan Sasuke, berjalan menaiki tangga darurat dengan tenang, jantungnya berdegup kencang. Dalam furoshiki-nya yang bermotif bunga sakura, seperti namanya, ia telah membuat dua kotak bento yang ia buat sendiri, merelakan dirinya bangun lebih pagi untuk memasak atas izin Madam Shijimi, mencari cara melipat furoshiki lewat internet, lalu baru bersiap-siap untuk ke sekolah. Ia sangat menginginkan masakannya dipuji.
Sakura kini berhadapan dengan sebuah pintu menuju atap sekolah. Ia mengintip jendela pintu dan menemukan seorang siswa berambut hitam bermodel jabrik, sedang berdiri di depan pagar pembatas atap yang sengaja dipasang untuk pencegahan murid yang bunuh diri dengan metode melompat dari atap sekolah. Punggung siswa itu menghadap ke pintu.
Jantung Sakura semakin berdegup kencang, namun ia mengambil nafas, menulis-nulis sesuatu di telapak tangannya dengan jari telunjuknya dan memakan tulisan itu; tips untuk menghilangkan rasa gugup, yaitu menulis sesuatu di telapak tangan sendiri dan seolah-olah memakan tulisan itu dari telapak tangan. Berkali-kali Sakura melakukan itu dengan cepat, sehingga ia kini merasa sedikit lega. Ia pun mengumpulkan keberaniannya untuk membuka pintu itu.
Sakura pun akhirnya membuka pintu, dan siswa yang berada di atap itu mungkin tidak sadar bahwa pintu atap terbuka. Sakura pun menutup pintu itu, lalu melangkah ke arah siswa itu. Dengan wajah yang gembira, Sakura memanggil siswa itu sambil terus berjalan kesana.
"Shisui-kun!"
Siswa yang merasa namanya dipanggil itu pun menoleh ke belakang, tepat ke arah sumber suara yang memanggilnya, yaitu Sakura. Uchiha Shisui, kekasih Sakura saat ini, saudara dari Sasuke dan Itachi, adalah siswa yang dibuatkan bento oleh Sakura. Ia menatap Sakura yang berjalan ke arahnya, dengan wajah gembira. Namun, Shisui hanya menatap Sakura datar, tanpa menyunggingkan senyuman sedikitpun. Sakura, yang menyadari ekspresi Shisui, langsung menghentikan langkahnya.
"Shisui-kun... apa aku mengganggumu?" Sakura bertanya kepada Shisui dengan wajah penuh khawatir.
"Tidak sama sekali," jawab Shisui. Mungkin, saat ini, Shisui mempunyai wajah sedingin Sasuke, namun sifatnya tidak sedingin Sasuke.
"Oh, begitu..." Sakura merasa sedikit tenang ketika mendengar jawaban Shisui.
"Ini, aku membuatkan bento untukmu..." Sakura pun mengangkat furoshiki-nya yang terlihat sangat besar, bahkan untuk Shisui. Shisui menatap ke furoshiki milik Sakura untuk beberapa detik, lalu ia benar-benar membalikkan badannya, menghadap Sakura.
"Aku tidak lapar," kata Shisui datar.
"Eh?" Sakura terkejut. Ia tidak menyangka Shisui akan menolak bento-nya, meskipun akhir-akhir ini, penolakan bento buatan Sakura bukanlah yang pertama kali Shisui lakukan. Sudah tiga kali Shisui menolak bento buatan Sakura, namun Sakura masih merasa terkejut setiap kali Shisui menolak apa yang telah Sakura buat dan berikan pada Shisui.
"T-Tapi, aku pikir Shisui-kun belum makan apa-apa sejak tadi pagi..." Sakura mencari sebuah alasan supaya Shisui mau memakan bento buatannya.
"Teman sekelasku sudah memberikan sebuah roti selai kepadaku," jawab Shisui datar.
"Tapi hanya roti selai saja belum cukup, kan?" kata Sakura, berusaha memancing Shisui agar ia mau memakan bento buatannya.
Sementara sepasang kekasih itu sedang berbicara, Naruto dan Sasuke sedang bersembunyi dibalik pintu atap sambil mengintip Sakura dan Shisui dari jendela pintu. Untung saja panjang dan lebar SMA Konoha Private School sangat besar, sehingga pintu atap dan tempat dimana Sakura dan Shisui berdiri sekarang sedikit jauh, jadi bayangan Naruto dan Sasuke yang sedang mengintip sama sekali tidak terlihat oleh Shisui, yang posisinya menghadap ke pintu atap.
"Kelihatannya mereka sedang tidak akur," Naruto memberikan komentar sejak ia melihat Sakura berhenti menghampiri Shisui sampai sekarang.
"Apa yang membuatmu yakin akan hal itu?" tanya Sasuke, yang benar-benar tidak bisa menilai baik atau buruknya hubungan hanya dari bahasa tubuh dua atau lebih orang saat sedang bersamaan tanpa mendengar percakapan mereka.
"Shisui hanya menoleh ke arah Sakura, aku tidak melihat bibirnya bergerak, lalu Sakura berhenti berjalan kearahnya, lalu pergerakan Shisui tidak sangat besar, hanya berbalik badan ke Sakura saja, apalagi raut wajahnya tidak berubah sama sekali," kata Naruto, memperhatikan Shisui secara detail.
"Aku tidak mau makan," sekali lagi, Shisui membuat pernyataan kepada Sakura, lalu ia berjalan ke arah pintu atap, hendak kembali ke kelasnya.
"Dobe! Ia berjalan ke arah sini!" kata Sasuke, panik melihat Shisui yang berjalan sambil menatap ke arah pintu atap.
"Sssst!" Naruto menyuruh Sasuke diam.
"Shisui-kun," Sakura memanggil Shisui, sekali lagi, dengan wajah penuh kecurigaan. Shisui pun menghentikan langkahnya yang kini berada di samping Sakura.
"Kau..." Sakura berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk jujur kepada Shisui, "akhir-akhir ini terlihat aneh."
"Oh ya?" Shisui menoleh dan menunduk ke Sakura yang lebih pendek darinya, "mungkin hanya perasaanmu saja."
Saat Shisui menyelesaikan kata-katanya dan hendak berjalan kembali ke arah pintu atap, Sakura langsung menahannya dengan cara memegang pergelangan tangannya. Merasa tidak suka dicurigai, Shisui menatap Sakura penuh dengan amarah.
"Ada apa denganmu?" Sakura ingin mengetahui apakah perasaannya benar, bahwa akhir-akhir ini, Shisui sedikit berubah dari yang biasanya. Shisui tidak membalas pertanyaan Sakura dan terus menatapnya penuh amarah.
"Ini tidak baik," Naruto mengambil sedikit langkah mundur, "kita harus menghentikan mereka."
"Bodoh! Nanti kita dikira mengintip mereka!" kata Sasuke.
"Memang kita mengintip mereka, kan?" kata Naruto sambil tersenyum. "Ikuti saja rencanaku."
"Apa itu?" tanya Sasuke, kali ini ingin mempercayai sahabatnya yang pandai dalam membuat alasan untuk tidak ketahuan sedang mengintip.
"Saat aku berjalan, kau ikut berjalan di belakangku, saat aku berhenti, kau juga berhenti, lalu abaikan apa yang aku katakan mulai dari sekarang, jangan menjawabku sampai Shisui turun nanti," kata Naruto. Sasuke mengangguk, walau ia sedikit tidak suka karena harus mengikuti rencana sahabatnya.
"Tapi..." Naruto memulai pembicaraan dari balik pintu atap, lalu ia membuka pintu itu, "udara di atap itu lebih sejuk—oh, Sakura-chan!"
Naruto membuat rencana dengan cara berpura-pura mengajak Sasuke untuk menghabiskan waktu di atap, namun Sasuke menolak, tapi ia tetap memaksa dan membawa Sasuke ke atap dan berusaha meyakinkan bahwa menghabiskan waktu di atap itu lebih enak karena udaranya terasa sejuk. Naruto sengaja memulai pembicaraan dari balik pintu agar terlihat alami bahwa Naruto benar-benar sedang membujuk Sasuke supaya ia mau menghabiskan waktu di atap dan sedikit membuka pintu agar suaranya benar-benar terdengar oleh Sakura dan Shisui, serta aktingnya terlihat alami sedang membujuk Sasuke, namun terlihat terkejut saat menemukan teman sekelasnya sedang berada di atap juga.
'Ide yang bagus,' Sasuke, yang mengerti maksud dari akting Naruto, kini merasa tenang.
"Oh, yo, Shisui!" sebagai sahabat yang sering datang ke rumah Sasuke, dan beberapa kali diundang ke acara keluarga Uchiha, Naruto tidak lupa untuk menyapa Shisui, saudara Sasuke yang sering ia temui setiap diundang ke acara keluarga Uchiha.
"Yo, Naruto," Shisui melupakan Sakura, dan tersenyum saat melihat Naruto sambil berjalan kearahnya. Ia memberikan kepalan tangannya kepada Naruto, yang disambut oleh sentuhan kepalan tangan Naruto juga. Tos ala lelaki.
"Sudah lama aku tidak bertemu denganmu," kata Shisui. Sakura, yang diabaikan oleh Shisui, hanya bisa menatap punggung Shisui penuh dengan kesedihan. Sasuke melihat wajah Sakura dan bisa membaca bahwa Sakura dibuat sedih oleh Shisui.
Sebenarnya, Sasuke ingin mengabaikan Naruto dan Shisui saat ini dan berusaha menenangkan Sakura, namun, karena tidak punya pengalaman mendekati perempuan, ia sendiri pun tidak tau bagaimana caranya menenangkan Sakura. Ditambah, ia masih punya akal sehat; ia tidak mau langsung menjadikan dirinya sebagai orang ketiga diantara hubungan Shisui dan Sakura, apalagi belum tentu bahwa Sasuke benar-benar menaruh perasaan pada Sakura.
"Yo, Sasuke," sapaan Shisui kepada Sasuke membuat Sasuke terbangun dari lamunannya pada Sakura dan membuatnya langsung menoleh kepada saudaranya itu.
"Yo, Shisui," Sasuke dan Shisui juga melakukan tos dengan kepalan tangan mereka, "aku tidak menyangka kalau kita akan berinteraksi juga di sekolah."
"Masa?" Shisui merasa konyol saat mendengar perkataan Sasuke. Biasanya, selain dari pertemuan, perjalanan selama liburan, atau pesta keluarga Uchiha, Sasuke, Shisui, beserta anak-anak muda dari keluarga Uchiha yang lainnya mengobrol via aplikasi chat messenger, sehingga sekalipun ada anggota keluarga yang berada di satu sekolah, kemungkinan mereka untuk berinteraksi di sekolah tidak besar.
"Kau juga lama sekali kalau membalas chat di Shimei," kata Shisui, menyebutkan nama aplikasi chat messenger yang tidak hanya dipakai oleh keluarga mereka, namun semua orang di negara Hi dan negara-negara lainnya.
"Maaf," kata Sasuke sambil sedikit tersenyum. Memang, Sasuke itu tipe yang malas membalas chat jika isinya tidak begitu penting dan darurat, atau bukan dari orang tua, anggota keluarga Uchiha, atau orang yang dekat dengannya, seperti Naruto.
"Yah, kalau begitu, aku duluan, ya," kata Shisui, sambil menepuk bahu Sasuke, lalu ia berjalan masuk ke dalam tangga darurat lagi dan turun untuk kembali ke kelasnya.
Naruto, yang memastikan bahwa Shisui sudah turun, langsung menatap Sakura, yang masih berdiri di tempatnya, menunduk, sambil memegang furoshiki-nya erat. Berpengalaman dengan Hinata, Naruto mengerti bahwa Sakura menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan menangis. Naruto pun segera mengambil tindakan cepat.
"Yo, Sakura-chaaaaaaaaaaan~" Naruto, dengan tingkah konyolnya, menghampiri Sakura dengan gaya yang sedikit manja. Sakura langsung menoleh ke arah Naruto, dan terkikik geli saat Naruto bergaya seperti itu.
"A-Apa yang kau lakukan?" Sakura tidak bisa menahan tawanya ketika Naruto membuat gaya manjanya berlebihan dengan memonyongkan bibirnya.
"Kau bawa apa?" saat sudah berada di depan Sakura, Naruto langsung kembali normal dan menatap ke furoshiki yang digenggam oleh Sakura.
"Ah, ini hanya bento..." jawab Sakura, ragu-ragu.
"Ooooh! Lebih baik kita duduk disitu saja!" Naruto menunjuk kepada meja yang lumayan panjang dan terdapat beberapa kursi mengitari meja itu. Tampaknya, meja dan kursi-kursi itu sengaja dibawa oleh senior-senior terdahulu mereka yang suka menghabiskan waktu di atap dan sengaja tidak dikembalikan ke tempat aslinya supaya murid-murid SMA Konoha Private School bisa menikmati waktu luang mereka di atap sekolah juga, tidak hanya di lantai satu, dua, dan tiga.
"Sasuke, ayo duduk disana!" Naruto menoleh ke arah Sasuke, yang masih berdiri di dekat pintu atap, tidak tau harus melakukan apa, beda dengan Naruto yang berpengalaman.
"Hn," Sasuke pun menuruti Naruto, lalu mereka bertiga berjalan dan duduk di kursi yang ditunjuk Naruto. Sasuke dan Naruto duduk bersebelahan, lalu Sakura duduk menghadap mereka berdua.
"Ah, sudah kubilang, kan, disini lebih enak~" untuk lebih meyakinkan Sakura bahwa Naruto dan Sasuke tidak mengintip, Naruto melanjutkan sedikit aktingnya kepada Sasuke.
"Hn," Sasuke menjawab Naruto dengan singkat, langsung mengerti bahwa Naruto bermaksud untuk membuat Sakura lebih yakin akan alaminya ajakan Naruto untuk menghabiskan waktu di atap.
"Ngomong-ngomong, kau bawa apa?" Naruto kembali menatap furoshiki milik Sakura.
"Oh..." Sakura pun membuka kain itu secara perlahan, lalu menampakkan dua kotak bento buatannya.
"Oh! Sasuke! Dua! Kebetulan kita tadi hanya makan sandwich," kata Naruto, dengan maksud menginginkan kedua bento itu untuknya dan Sasuke.
"Dobe, kau tidak kasihan dengan Sakura? Berikan satu kotak padanya juga," Sasuke masih berakal sehat, ia membela Sakura dan hanya ingin menerima satu kotak untuknya dan Naruto.
Sakura tersenyum melihat tingkah kedua sahabat itu yang sangat lucu, "aku tidak apa-apa..."
Kriuuuuuk~
Saat Sakura mengeluarkan jurus andalan para perempuan kepada setiap laki-laki, yaitu berbohong dengan berkata bahwa ia tidak apa-apa padahal sebenarnya ada sesuatu, perutnya malah mengeluarkan suara kejujuran. Sasuke dan Naruto juga mendengar bunyi perut Sakura, sehingga mereka berdua dibuat bengong.
"Hehehe..." Sakura tertawa manja saat menyadari bahwa bunyi perutnya itu kontras dengan perkataannya tadi. Ia menjulurkan ujung lidahnya, mengedipkan satu matanya, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
'L-Lucu sekali...' pikir Sasuke, saat melihat ekspresi yang Sakura buat selagi tertawa manja.
"Ya sudah, kau makan satu kotak! Lagipula, itu buatanmu sendiri," Naruto mengambil satu kotak bento, yang tidak bisa ia lihat isinya dari luar, karena tidak ada bagian dari kotaknya yang transparan. Ia pun membuka kotak bento itu.
"Uwah!" Naruto terkejut saat melihat isi makanannya; ikan salmon, telur, brokoli, tomat ceri, irisan wortel, dan nasi yang ditaburi dengan potongan rumput laut yang dipisah dari lauk oleh sekat dari kotak bento. Lauk-lauk itu tertata dengan sangat rapih.
"Sebenarnya, aku bangun lebih pagi dari biasanya demi memasak itu semua untuk Shisui-kun, apalagi aku harus memasak bento untukku sendiri juga," Sakura pun membuka tentang masalahnya kepada Naruto dan Sasuke. Kedua siswa itu menatap Sakura sambil mendengarkan ceritanya dengan serius.
"Tetapi, tadi, ia bilang kalau ia tidak lapar, ia sudah makan roti selai pemberian teman sekelasnya dan tidak mau memakan bento buatanku..." Naruto pun mengerti alasan dibalik kenapa Shisui dan Sakura tadi terlihat seperti sedang tidak akur.
"Bodoh," Sasuke memberikan komentar mengenai saudaranya itu, yang membuat Naruto, sebagai sahabat Sasuke, dan Sakura, sebagai kekasih Shisui terkejut.
"Aku tidak mengerti perasaan perempuan, tapi ia benar-benar tidak menghargai usaha dari orang yang menyayanginya, dan aku malu mempunyai saudara seperti itu," Sasuke merebut kotak bento dari genggaman Naruto dan mengambil sumpit yang masih tergeletak diatas furoshiki milik Sakura. Ia berinisiatif untuk menggantikan dirinya dari Shisui untuk menghargai usaha yang telah Sakura lakukan, walaupun itu bukan untuk dirinya. Mengetahui cerita dari Sakura, Sasuke merasa jengkel akan tingkah Shisui yang menyia-nyiakan usaha dari seseorang yang menurut Sasuke penuh dengan perhatian itu. Atau mungkin dirinya yang terlalu sensitif karena masalah perhatian dari orang tua.
"Apalagi makanan buatanmu ini sangat enak," Sasuke dengan jujur memuji rasa masakan Sakura setelah melahap sesuap ikan salmon dan nasinya, "tapi ia tidak mau memakan makananmu, sungguh bodoh," lanjutnya, lalu kembali melahap makanan yang dibuat oleh Sakura.
Sakura, yang mendengar pujian dari Sasuke dan melihat siswa itu membelanya, merasa senang. Hatinya yang terasa sesak akibat perlakuan kekasihnya kini terasa lega karena pujian dn pembelaan dari saudara kekasihnya itu. "Terimakasih..." kata Sakura sambil tersenyum.
Naruto, yang duduk di samping Sasuke dan menyaksikan sahabatnya itu memuji masakan Sakura dan melihat reaksi Sakura yang terlihat senang, merasa bangga akan perkembangan sahabatnya. Perlahan, secara Sasuke tidak sadari, mungkin Sasuke mulai tau bagaimana cara membuat seorang perempuan bahagia. Naruto tersenyum lebar.
"Hei, teme, aku juga mau!" kata Naruto, sambil berusaha merebut kotak bento dari tangan Sasuke, namun Sasuke langsung menghindar dari Naruto.
"Ini milikku," Sasuke terlihat seperti anak umur sepuluh tahun yang sedang ngambek karena tidak mau makanannya diambil oleh orang lain.
"Ayolah, aku belum sarapan~" Naruto berusaha membujuk Sasuke agar mau berbagi makanan buatan Sakura dengannya.
"Kau berani berbohong di depan perempuan?" kata Sasuke sambil menoleh ke Naruto, "kau beli tiga bungkus onigiri dan sandwich di konbini dan kau bilang kau belum sarapan?"
"Kau merusak rencanaku saja!" kata Naruto, lalu sedikit menjauhi Sasuke dan melipat kedua tangannya. Sakura cekikikan melihat tingkah mereka berdua.
'Mereka bisa membuatku lupa akan persoalan dengan Shisui-kun...' pikir Sakura sambil tersenyum seraya memandangi sepasang sahabat itu.
"Ne, ne, Sakura-chan~" Naruto menoleh ke arah Sakura dengan senyuman lebar, "bagaimana kalau nanti sore, kita mengadakan belajar kelompok? Membahas tentang materi kimia yang tadi~" ajaknya.
"Eh?" Sasuke, yang sedang asyik memakan bento buatan Sakura dan hendak memakan sebuah tomat ceri—yang kini hinggap diantara kedua bibirnya—menoleh ke arah Naruto.
"Ide bagus," Sakura menyambut masukan dari Naruto, "kalau begitu, sepulang sekolah nanti, kita belajar di ruang tatami, ya."
"Oke!" kata Naruto penuh semangat, sementara Sasuke mendesah kesal.
"Teme, teme, teme!" Naruto terus menerus mengetuk pintu kamar mandi Sasuke. Semua kamar mandi di dorm ini terletak di dalam kamar, dengan satu kamar mandi di antara ruang tamu dan ruang tatami.
"Apha?" Sasuke, yang baru saja selesai mandi, menjawab panggilan dari Naruto dengan mulut yang penuh dengan busa karena ia sedang menggosok giginya.
"Ayo, cepat, Sakura-chan bilang dia sudah menunggu di ruang tatami~" kata Naruto, sengaja membuat Sasuke terburu-buru karena ia ingin bertemu dengan Sakura, sekaligus membuat sahabatnya ini semakin dekat dengan Madonna SMA Konoha Private School.
"Hmmmph," Sasuke menjawab Naruto lagi dengan mulut yang penuh dengan busa. Beberapa detik kemudian, ia membuang busa itu dan berkumur-kumur untuk membersihkan sisa-sisa busa dari odol di mulutnya, mengelap bagian mulutnya, lalu keluar dari kamar mandi.
"Akhirnya keluar juga..." kata Naruto, lega melihat Sasuke eluar dari kamar mandi setelah melaksanakan kegiatan membersihkan seluruh badannya yang berlangsung selama 30 menit.
"Ayo," kata Sasuke, sambil mengambil buku cetak serta buku tulis kimia dan alat tulisnya.
"Yosha~!" Naruto berteriak gembira, lalu berlari keluar dari kamar Sasuke dan langsung turun ke lantai dasar dorm. Sasuke dengan tenang berjalan keluar dari kamarnya, menutup pintu kamarnya, lalu berjalan dan menuruni tiap anak tangga dengan sangat tenang, lalu berjalan lagi hingga ia sampai di depan ruang tatami.
"Yo, teme!" seru Naruto, saat melihat sahabatnya itu menggeser pintu ruang tatami itu.
"Halo, Uchiha-san," sapa Sakura yang telah menunggu kedatangan Naruto dan Sasuke untuk belajar bersama.
"Hn," Sasuke menyapa Sakura dan Naruto, lalu melepaskan uwabaki miliknya yang berwarna biru di antara uwabaki milik Naruto yang berwarna oranye dan uwabaki milik Sakura yang berwarna pink di depan ruang tatami.
"Ayo, cepatlah teme!" seru Naruto yang ingin segera memulai sesi pembelajaran.
"Hai, hai," Sasuke menggeser pintu itu kembali, lalu berjalan mendekat ke Naruto dan Sakura yang sedari tadi duduk di kotatsu sambil menghangatkan diri.
"Tidak apa-apa, Naruto-san," kata Sakura sambil tersenyum lembut.
"T-Tapi teme lama sekali, gerakannya sangat lambat!" Naruto menyerukan keluhannya terhadap Sasuke pada Sakura sambil menunjuk-nunjuk ke arah Sasuke. Yang dikeluhkan pun mendekat ke Naruto dan menjitak kepala si pemilik rambut berwarna kuning itu.
"S-Sakit!" kata Naruto sambil memegang kepalanya.
"Jangan mengatakan hal yang aneh-aneh," kata Sasuke, lalu berjalan dengan lututnya untuk berpindah ke sisi lain dari kotatsu.
"Hmph, teme!" Naruto mendesah kesal sambil melipat kedua tangannya. Melihat tingkah Naruto yang kekanak-kanakan namun lucu, Sakura pun tertawa.
"Kenapa kau tertawa padanya?" tanya Sasuke, sambil duduk dan melihat ke wajah Sakura. Saat ini, posisi duduk mereka yaitu Sakura duduk di sebelah utara kotatsu, Naruto duduk di sebelah timur kotatsu, Sasuke duduk di bagian barat kotatsu, dan tidak ada siapapun di bagian selatan kotatsu. Sakura duduk berhadapan dengan angina, sementara Sasuke dan Naruto duduk berhadapan.
"Lucu, seperti anak kecil," jawab Sakura sambil melihat ke arah Sasuke dan tersenyum.
"Oh, begitu..." entah kenapa, Sasuke ingin sekali dipuji juga oleh Sakura, namun dia orang yang pendiam dan tidak aktif, sehingga dipuji pun rasanya tidak mungkin untuk sekarang. Hati Sasuke terasa seperti mengambang di atas air, akan tenggelam namun tertahan. Raut wajahnya sedikit berubah.
'Hehehe...' Naruto, si jahil, menyadari perubahan raut wajah Sasuke dan menyeringai.
"Jadi," Sakura membuka buku cetak kimia miliknya yang disampul oleh plastik bening, mencari halaman dari bab yang dipelajari tadi di kelas, "kesulitannya dimana, Naruto-san?"
"Dari penjelasan ini..." Naruto membuka buku catatannya dan menunjukkan beberapa poin dari materi yang masih kosong, belum dijabarkan.
"Ah, itu..." Sakura pun membuka buku catatannya juga kepada Naruto dan menunjukkannya pada siswa itu, "caranya dimulai dari sini..."
Sakura dan Naruto pun asyik tenggelam dalam dunia pembahasan materi, sementara Sasuke mendengarkan penjelasan Sakura, takut jika ia membuat kesalahan dalam catatannya sambil menambahkan jika ada yang ia tau namun Sakura tidak mencatat di bukunya. Suara di ruang tatami didominasi oleh suara Sakura yang menjelaskan dan Naruto yang lebih sering mengeluh karena materinya susah, sementara Sasuke delapan puluh persen memilih untuk memperhatikan sambil mengawasi dalam diam. Rata-rata, materi yang disampaikan oleh Sakura hanya pengulangan saja dari materi yang diajarkan di kelas, sambil sesekali ia membuka ponselnya untuk menambahkan beberapa catatan sambil membandingkan materi yang ia dapat di kelas dan yang ia lihat di internet.
'Upayanya sangat besar...' Sasuke memperhatikan Sakura yang perhatiannya berpindah-pindah dari bukunya, lalu ke ponselnya, lalu ke bukunya lagi, berulang kali.
"Yah..." Sakura menutup bukunya, "hari ini, materinya sampai disitu."
"Fuah!" Naruto juga menutup bukunya dan meregangkan otot-ototnya, "ini sangat susah..."
"Tapi apa kau mengerti inti dari materi ini?" tanya Sakura kepada Naruto.
"Aku mengerti, kok! Hehe," kata Naruto sambil tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya.
"Aku ragu," kata Sasuke kepada Naruto, sambil menutup bukunya.
"Hoi! Aku tau kau pintar, tapi jangan berkata seperti itu!" lagi-lagi, Naruto menjadi panas karena diejek di depan Sakura. Sakura memperhatikan mereka sambil tertawa geli.
"Kalian sudah berteman dari dulu, ya?" tanya Sakura kepada Naruto dan Sasuke.
"Um, ya..." jawab Sasuke.
"Pantas saja, kalian terlihat leluasa saat bercanda," kata Sakura.
"Kami kenal satu sama lain sejak Taman Kanak-Kanak," kata Naruto sambil menepuk bahu Sasuke.
"Wah, asyiknya..." kata Sakura, membayangkan persahabatan diantara Naruto dan Sasuke.
"Kau juga sudah berteman lama dengan Hinata, bukan?" tanya Naruto.
"Un! Hinata-chan adalah orang yang sangat baik," kata Sakura, berkomentar tentang sahabatnya.
"Aku sering mendengar cerita tentangmu dari Hinata-chan dan juga melihatmu berjalan-jalan di koridor kelas," kata Sakura.
"Uwah! Hinata sering bercerita tentangku kepadamu?" tanya Naruto.
"Un, Hinata-chan pernah bercerita bagaimana ia merasa gugup dan tidak percaya diri dengan dirimu yang penuh dengan semangat," kata Sakura.
"Oh, begitu..." Naruto kini paham, karena selama ini terkadang Hinata terlihat agak ling-lung saat bersama Naruto. Ternyata hanya karena perbedaan sifat.
Tak mau tinggal diam, Sasuke pun melontarkan pertanyaan dengan sangat spontan.
"Sudah berapa lama kau menjadi kekasih Shisui?"
Tersontak, Sakura dan Naruto melihat ke arah Sasuke yang memasang wajah yang sangat serius ketika ia memberikan pertanyaan itu.
"Empat tahun,"
Sakura tiba-tiba menjawab pertanyaan yang dilontarkan Sasuke secara tiba-tiba. Naruto dan Sasuke pun melihat ke arah Sakura dengan wajah yang terkejut. Jadi, Shisui dan Sakura sudah mengenal satu sama lain sejak dulu dan mulai berpacaran sejak SMP. Satu hal yang Sasuke benar-benar tidak ketahui, karena ia tidak begitu peduli dengan hal-hal seperti ini, namun rasa penasarannya baru keluar sekarang akibat siswi yang menarik perhatiannya ini.
"Sejak kelas dua SMP?" tanya Naruto, ingin mendapatkan informasi yang lebih dalam mengenai hubungan Sakura dan Shisui.
"Un..." Sakura mengangguk, "ceritanya panjang."
4 tahun lalu, di sebuah sekolah menengah pertama, Sakura sedang bersembunyi dibalik loker penyimpanan sepatu, ditemani oleh Hinata, sambil memegang sebuah amplop dengan lambang hati.
"Surat cinta? Untuk siapa?" Hinata bertanya soal amplop yang dipegang Sakura. Sakura pun mengangguk.
"G-Genyuumaru-kun..." kata Sakura sambil menunduk, menyembunyikan wajahnya yang semerah tomat.
"Eh?! Genyuumaru-kun, anak kelas 2-B?" Hinata mengenali betul wajah siswa yang disukai Sakura. Sakura pun mengangguk.
"Aku menyukai Genyuumaru-kun sampai sekarang..." kata Sakura, dengan pipi yang memerah sambil mengingat kedekatannya dengan siswa bernama Genyuumaru. Siswa yang berwajah tampan, berambut jabrik yang turun karena memanjang melewati mata di bagian poni, mencapai setengah pipi di kedua sisi wajahnya, dan mencapai leher di sisi belakang kepalanya, dagunya terlihat sempurna, berbola mata ungu tua. Genyuumaru dan Sakura terkenal dekat dengan satu sama lain, sering mengobrol disaat waktu istirahat dan pulang sekolah, menjadikan siswa itu cinta pertama Sakura.
"S-semoga kau beruntung!" kata Hinata, turut berbahagia karena sahabatnya akan berjuang, memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya kepada seseorang.
Mungkin hanya sekedar doa untuk semangat belum cukup untuk Sakura, tetapi Sakura sudah tidak sabar lagi. Ia segera berlari mengelilingi gedung sekolah demi mencari dimana Genyuumaru berada saat itu. Biasanya, saat pulang sekolah, ia akan berada di sekitar lapangan sepak bola, yang merupakan tempat latihan kegiatan ekstrakurikuler yang dipilih Genyuumaru.
Sakura pun bergegas lari menuju lapangan bola sambil mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menyatakan perasaannya kepada siswa yang selama ini membuat hatinya terasa hangat dan perutnya terasa geli, seperti kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.
Mungkin agak cepat untuk seorang siswi kelas satu SMP, tetapi ia sedang di masa pertumbuhan, wajar jika ia mulai menyukai lawan jenisnya.
Ketika Sakura sampai di lapangan bola, ia tidak melihat siapa-siapa. Biasanya, walaupun tidak ada ekstrakurikuler sepak bola, Genyuumaru tetap menghabiskan waktunya untuk bermain sepak bola sebelum ia pulang dan Sakura akan menemaninya dan mengobrol dengannya sebelum mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Saat itu, masih jam setengah empat sore, dan biasanya, Genyuumaru masih ditengah permainan sepak bola secara solo, dan akan selesai sekitar jam empat. Tetapi, lapangan bola saat ini benar-benar kosong.
"Genyuumaru-kun?" Sakura memanggil namanya sambil berkeliling di sekitar lapangan bola dan menggenggam amplop kecil yang berisi surat cinta darinya. Ia berjalan sambil menoleh ke segala arah, namun hasilnya nihil; ia tidak menemukan tanda-tanda adanya Genyuumaru disitu.
Sakura mulai gelisah, namun ia berpikir, kalau ia tidak bisa memberikan surat itu pada hari itu juga, maka ia akan memberikannya besok. Ia mulai pasrah karena tidak bisa menemukan Genyuumaru di lapangan bola.
Sakura pun teringat, jika Genyuumaru sedang bermain sepak bola, maka ia akan menaruh tasnya di ruang ganti pria. Sakura sedikit takut untuk pergi kesana, secara itu adalah ruang ganti pria, ia tidak ingin melihat pemandangan yang semestinya ia tidak lihat, apalagi dicap sebagai siswi mesum jika di dalamnya ada banyak siswa yang sedang berganti pakaian. Namun, ia benar-benar ingin tau jika Genyuumaru sedang berada disitu atau tidak.
Sakura pun memberanikan diri untuk berjalan ke ruang ganti pria. Jantungnya berdegup semakin kencang karena dua hal; Genyuumaru ada disitu dan Sakura harus memberikan surat cinta itu pada saat itu juga, atau ada banyak siswa di dalam ruang ganti pria dan menangkap basah Sakura mengintip ke dalam ruang ganti dan mendapat panggilan 'siswi mesum'. Ia lebih memilih hal yang pertama untuk terjadi, karena setidaknya bebannya akan berkurang.
Hanya tinggal beberapa langkah dari ruang ganti pria, Sakura pun mendengar sebuah suara.
"Benarkah? Hebat!"
'Eh...?' Sakura terkejut. Ia mendengar suara seorang perempuan, dan ia sangat yakin bahwa suara itu datang dari dalam ruang ganti pria. Ia mulai bergidik ngeri.
"Un, tapi aku tidak sehebat yang lainnya..."
'E-eh...?' setelah itu, Sakura mendengar suara seorang laki-laki, dan lagi, ia yakin bahwa suara itu datang dari dalam ruang ganti pria. Namun, kali ini, ia merasa suara itu tidak asing di telinganya, 'G-Genyuumaru-kun?'
Perasaan Sakura menjadi bercampur aduk, ia segera berlari menuju ruang ganti pria, lalu membuka pintu itu dengan tiba-tiba. Sakura melotot ketika ia melihat ada seorang perempuan dan seorang laki-laki tengah duduk dengan jarak yang sangat dekat dan berpegangan tangan. Sakura melihat ke arah perempuan itu terlebih dahulu.
"H-Honoka-chan..."
Mata Sakura terbelalak melihat teman sekelasnya, seorang perempuan dengan rambut merah lurus dan memakai bando berwarna putih, dengan beraninya masuk dan terlihat santai saja di dalam ruang ganti pria. Namun, ada hal yang lebih penting dari itu...
"Sakura-chan?"
Suara Genyuumaru yang terkejut saat Sakura membuka pintu ruang ganti secara tiba-tiba membuat Sakura menoleh ke arah siswa itu, dan dalam seketika, pikirannya menjadi buyar.
Genyuumaru dan siswi bernama Kasumi itu tengah mengobrol asyik di dalam ruang ganti pria, menemai Genyuumaru sebelum ia pulang ke rumah, sambil duduk berdekatan—sangat dekat hingga paha satu sama lain bersentuhan—sambil berpegangan tangan. Sakura pun teringat akan hal-hal yang dilakukannya bersama Genyuumaru sampai saat ini; mengobrol asyik, makan bekal bersama, belajar bersama di perpustakaan, menemaninya selagi bermain sepak bola, dan berjalan pulang bersama-sama. Ia tidak menyangka, ada orang lain yang menemani Genyuumaru, dan kelihatannya Genyuumaru dengan perempuan lain ini terlihat lebih dekat daripada dengan Sakura.
"A-Ada apa?"
Emosinya meluap, nafasnya menjadi sesak, Sakura benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat, apalagi Genyuumaru yang memasang wajah polos kepada Sakura. Ia meremukkan amplop berisi surat cinta yang ia buat, ia lemparkan ke lantai, lalu ia berlari menjauh dari ruang ganti pria; berlari keluar sekolah.
"Sakura-chan!" Genyuumaru berdiri dan berusaha mengejar Sakura, namun hasilnya nihil. Kecepatan berlari orang yang sedang kecewa menjadi lebih cepat dari biasanya. Tidak jauh dari ruang ganti pria, Genyuumaru langsung kehilangan jejak Sakura.
Sakura pun bergegas menukar sepatu khusus di dalam sekolah dengan sepatunya yang biasa, lalu ia segera berlari keluar. Air mata membanjiri wajahnya, giginya ia gertakkan, ia tidak peduli dengan orang-orang yang terkejut melihatnya berlari dengan kencang dan air mata yang terus mengalir. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Genyuumaru juga dekat dengan perempuan lain, yang tidak lain adalah teman sekelas Sakura. Sakura pikir, hanya ia satu-satunya perempuan yang dekat dengan Genyuumaru.
Ternyata tidak.
Sakura terus berlari tanpa arah, hatinya hancur berkeping-keping, ia tidak tau harus bercerita pada siapa, ia hanya ingin berlari, tetapi ia tidak tau harus berlari kemana. Ia tidak memikirkan jika jalan yang ia pilih adalah jalan ke rumahnya atau bukan. Ia hanya ingin terus berlari dan berlari. Hingga...
GRRSSKKK.
"Eh?"
BRRRRGH.
Sakura tidak sadar bahwa ia berlari ke sebuah taman, dan karena ia tidak memerhatikan jalan, ia berlari ke arah sebuah parit dan tergelincir hingga jatuh ke bawah sana. Untung saja ada semak-semak yang menangkapnya, jika tidak, ia sudah jatuh ke dalam air. Namun, banyak luka-luka goresan akibat tergelincir hingga tersangkut di semak-semak ini.
"T-Tolong... hiks..." ia semakin tidak tau harus berlari kemana. Luka yang terdapat baik di luar karena tergelincir dan tergores ranting semak-semak maupun di dalam karena hati yang hancur berkeping-keping, orang-orang terdekatnya sedang tidak berada di sampingnya saat ini, cukup membuat Sakura frustasi. Ia terus menangis sambil meminta pertolongan, namun tidak ada satupun orang di taman ini.
Sakura pun mulai lelah menangis. Suara isakan tangisnya semakin kecil. Tubuhnya terasa sangat perih untuk keluar dari semak-semak itu. Ia yakin, jika ia memaksa keluar dari semak-semak itu, ia akan semakin tergores. Tas sekolahnya terlepas dan berada di luar semak-semak, membuatnya tidak bisa untuk mengambil telepon genggamnya dan meminta bantuan.
Hingga seseorang lewat, mendengar isak tangis Sakura, dan menemukan gadis itu terjebak di dalam semak-semak...
"Hei! Apa kau baik-baik saja?"
Sakura pun terkejut. Ia menoleh ke atas dan menemukan seorang siswa yang mengenakan seragam sekolahnya; terlihat emblem sekolahnya disitu.
"A-Aku terjebak!" Sakura berteriak kepada siswa itu. Siswa itu pun langsung turun dengan hati-hati untuk menghampiri Sakura.
"Jangan bergerak..." siswa itu berusaha membuka semak-semak, membuat ruang untuk Sakura supaya bisa keluar dari semak-semak itu. Betapa terkejutnya ketika siswa itu melihat keadaan Sakura yang mempunyai cukup banyak luka goresan dan lecet.
"Lukamu banyak sekali..." kata siswa itu.
"Tidak apa-apa..." Sakura pun berusaha bangkit dari semak-semak itu. Ia terpaksa harus berpegangan pada seragam siswa itu. Penampilannya sangat acak-acakan. Rambutnya kusut, baju seragamnya yang semula diselipkan ke dalam rok menjadi keluar, terdapat luka di wajah, tangan, dan kakinya.
"Tidak, kondisimu seperti ini," siswa itu membantah pernyataan Sakura yang mengatakan 'tidak apa-apa' pada kondisinya saat ini. Siswa itu pun membantu mengangkat tas milik Sakura lalu menuntun gadis itu ke atas lagi. Ia membawa Sakura ke bangku taman terdekat, lalu mereka berdua duduk di bangku itu.
Siswa itu langsung mengeluarkan satu pak kecil tisu, botol minumnya, antiseptik, dan satu pak plester. Pertama, ia membasahi tisunya dengan air putih dari botolnya. Ia membilas luka-luka di wajah, pergelangan tangan dan kaki Sakura, sesekali gadis itu merintih karena lukanya terasa perih. Lalu, siswa itu meneteskan antiseptik pada luka Sakura, dan mengelap sisa antiseptik yang menggumpal dengan tisu lainnya. Setelah itu, ia menutup tiap luka-luka dengan plester yang ia punya.
"Untung saja plester ini cukup," kata siswa itu, duduk di sebelah Sakura dan tersenyum.
"Terima kasih, ano..." Sakura pun semakin penasaran dengan identitas siswa ini, "apakah kau dari Konoha National Junior High?"
"Eh? Kau melihat seragamku ya?" tanya siswa itu sambil tertawa kecil.
"Un... a-aku juga murid Konoha National Junior High," kata Sakura dengan malu-malu.
"Ah, begitu... aku jarang sekali melihatmu," kata siswa itu, lalu mengulurkan tangannya kepada Sakura.
"Namaku Uchiha Shisui, siapa namamu?"
"Jadi, Shisui yang menyelamatkanmu?" tanya Naruto, yang dibalas dengan anggukan dan senyum dari Sakura.
"Sudah empat tahun lamanya, namun ia sedikit berubah sekarang..." kata Sakura, lalu terdiam.
"Ada apa ya..." kata Naruto. Sasuke hanya bisa mendengarkan mereka berdua dalam diam.
"Ah, sudah jam tujuh..." tidak mau memperburuk suasana, Sakura melihat jam dan mencari celah untuk menyudahi obrolan mereka.
"Ah, betul," kata Naruto, lalu mereka bertiga pun mulai membereskan barang-barangnya untuk kembali ke kamar masing-masing.
"Aku duluan ya, sampai bertemu besok!" kata Sakura, lalu menggeser pintu ruang tatami.
"Un! Daah, Sakura-chan!"
"Mohon perhatiannya sebentar..."
Kelas 11-A tiba-tiba menjadi heboh ketika anggota OSIS Konoha Private School masuk ke dalam kelas mereka. Akatsuki, begitulah mereka menamai angkatan OSIS mereka yang sekarang, mendapat izin dari guru yang sedang mengajar saat itu untuk meminta waktu sebentar untuk mengumumkan sesuatu. Sang ketua OSIS, Yahiko, siswa kelas 12 berambut jabrik berwarna jingga, berusaha menenangkan seisi kelas yang didominasi oleh suara para siswi.
"Yahiko-senpaaaai~"
"Hidan-senpai keren bangeeeet!"
"Sasori-senpai lucuuuuu!"
"I-Itu, kakaknya Sasuke-kun, Itachi-senpai!"
Hingga seorang siswi menyapa salah satu senpai di antara anggota Akatsuki yang memiliki rambut berwarna kuning yang panjang dan dikuncir kuda, dengan poninya yang panjang dan menutupi mata kirinya, serta bola matanya yang berwarna biru langit. Senpai yang paling ramah diantara seluruh senpai yang ramah di SMA Konoha Private School.
"Deidara-senpaaaai~"
Dan juga...
"Kouhaaaaai~"
...terkenal suka memanggil adik kelasnya dengan gelar yang keterbalikkan dengan gelar yang digunakan adik-adik kelasnya sebagai akhiran setelah namanya saat memanggilnya, ketimbang memanggil mereka dengan nama.
"Konan-senpai!" Sakura melihat ke arah satu-satunya anggota Akatsuki yang berjenis kelamin perempuan, berbola mata jingga, berambut biru yang panjangnya mencapai bahu, memakai jepit rambut berbentuk bunga mawar berwarna biru pucat di bagian kanan kepalanya. Konan, kekasih dari kakaknya Sasuke, yaitu Itachi. Konan pun melihat ke arah Sakura dan tersenyum sambil melambaikan tangannya pelan.
"Eh? Kau mengenalnya?" tanya Ino saat melihat Sakura memanggil nama Konan.
"Iya, dia adalah seniorku dan Hinata saat SD, dan kami masuk ke klub yang sama, yaitu basket," kata Sakura, menjelaskan pada Ino.
"Semuanya, mohon perhatiannya sebentar, ya..." Yahiko pun berhasil menenangkan suasana kelas 11-A. Memang, banyak anggota Akatsuki yang digilai para siswi di sekolahnya, baik dari angkatan yang sama, maupun adik-adik kelasnya.
"Kami, Akatsuki, angkatan ke-45 OSIS SMA Konoha Private School akan mengadakan acara penyambutan untuk adik-adik kelas kita di kelas 10, sebagai tradisi tahunan Konoha Private School," Yahiko menjelaskan, dengan beberapa anggota Akatsuki yang menyiapkan beberapa kartu.
"Kami juga mengundang kalian, kelas 11, untuk meramaikan acara ini, sekaligus mengisi acara. Jika berminat, kalian bisa menghubungi koordinator divisi seni dan keterampilan, yaitu Sasori," Yahiko menunjuk kepada salah satu anggota mereka yang digilai banyak siswi, berwajah sangat lucu dan awet muda, dan berambut merah.
"Kenapa bukan aku?" Cih," Deidara, yang berada di divisi yang sama dengan Sasori namun berbeda posisi jabatan, protes.
"Prestasi yang diraih Sasori dalam perlombaan mewakili sekolah kita lah yang membuat Sasori menjadi koordinator," kata Yahiko, sedikit menyeringai.
"Maka dari itu, kami memanfaatkan salah satu kostum yang wajib kalian miliki di lemari saat mulai tinggal di dorm, yaitu tuxedo untuk laki-laki dan gaun untuk perempuan," kata Yahiko, lalu memberi komando pada anggotanya untuk membagikan suatu kartu undangan.
Sebelum para siswa dan siswi SMA Konoha Private School pindah ke dorm, mereka mendapatkan kertas yang berisi daftar apa saja yang masing-masing siswa dan siswi wajib miliki di dorm. Salah satunya adalah menyimpan minimal tiga stel jas, kemeja, dasi, celana panjang dengan tiga pasang sepatu pantofel untuk para siswa, dan tiga buah gaun dengan tiga pasang sepatu berhak tinggi untuk para siswi di lemari masing-masing. Tujuannya adalah karena sekolah ini sering kedatangan tamu-tamu resmi yang memberikan kelas umum, maka dari itu, sekolah juga ingin murid-muridnya berpakaian resmi. Tidak hanya pada kelas umum, namun sekolah ini lumayan sering menggelar acara-acara yang diharapkan murid-muridnya memakai pakaian formal.
Itachi pun membagikan undangan pesta satu persatu kepada dua baris kursi sambil tersenyum. Para siswi pun meleleh melihat senyumannya. Mereka mengucapkan terima kasih setelah menerima undangan dari Itachi. Itu terus berlanjut sampai ia menghampiri Naruto dan Sasuke yang duduk dalam satu baris; Naruto duduk di depan Sasuke.
"Yo, Itachi-nii!" Naruto menyapa Itachi, menambahkan akhiran '-nii' karena sudah sering main ke rumah Itachi dan Sasuke dan bertemu dengan Itachi.
"Yo, Naruto," Itachi membalas sapaan Naruto, lalu memberikan kartu undangan kepada Naruto, "datang ya."
"Osu!" jawab Naruto penuh semangat, lalu menerima kartu undangan itu.
"Hai," Itachi menyapa Sasuke yang duduk di belakang Naruto.
"Hn," Sasuke melirik ke arahnya. Seketika, para siswi gemas melihat interaksi antara kakak beradik Uchiha yang sangat terkenal di sekolah ini.
"Aku tau kau tidak tertarik dengan pesta dan perempuan," kata Itachi pelan, tidak ingin menertawai adiknya di depan teman-teman sekelasnya sambil memberikan sebuah kartu undangan, "tapi kehadiranmu sangat berarti."
"Menyebalkan," Sasuke menerima kartu undangan dari kakak kandungnya itu.
"Acara ini diadakan di dorm khusus anggota OSIS," Yahiko menjelaskan lagi, yang disambut teriakan gembira dari seluruh murid di dalam kelas. Dorm khusus anggota OSIS memang terkenal beda dari dorm para murid lainnya, mempunyai fasilitas yang tidak ada di dorm lainnya, walaupun memiliki dua lantai seperti dorm lainnya, bagian tengah dorm terbuka, sehingga kolam renang dibangun ditengah-tengah, lalu ruang rapat beserta layar, projector, dan beberapa fasilitas canggih lainnya untuk mendukung jalannya rapat OSIS, perpustakaan kecil dengan buku-buku sumbangan dari para anggota OSIS generasi-generasi sebelumnya, ruang rekreasi yang berisi televisi LCD berukuran besar, meja biliar, dan meja catur, memiliki tuan rumah yang terkenal ketat mendidik mereka namun membebaskan mereka untuk berkarya dengan resiko yang ditanggung mereka sendiri dan saran-saran darinya. Para murid kelas 11 sekarang kemungkinan besar sudah pernah kesana disaat acara penyambutan mereka ke Konoha Private School yang diselenggarakan oleh OSIS angkatan sebelumnya.
"Dan tema untuk acara kali ini adalah..."
.
"Prom night!"
.
Whew. Berhenti disini dulu :"3 langsung ke penjelasan aja...
Furoshiki itu kain buat ngebungkus kotak bekal, bento ya... bekal :v jadi hoka hoka bento itu semestinya buat dibungkus/di take away aja biar lebih afdol kayak di Jepang sana sendiri :"D trus tatami itu lantai buat ruangan tradisional Jepang, yang lesehan gitu, trus kotatsu itu meja yang dibawahnya ada penghangat/heater trus sampingsampingnya dilapisin selimut gitu, contohnya kayak di... doraemon? Trus uwabaki itu alat kaki khusus di dalam ruangan. Itu yang manggil 'senpai' dijawab 'kouhai' itu sebenernya kejadian sama aku sendiri wkwk manggil senior "senpaaaaai" eh malah dibales "halo kouhaaaai" ya gimana ga heran Q^Q
Yosh, aku harap chapter ini memuaskan, stay tune untuk chapter berikutnya daaaaaaan review! :3
