Setiap orang memiliki pendapat berbeda.
Perasaan yang berbeda.
Kepercayaan yang berbeda.
Tapi semua setuju :
"Yang dilihat dengan mata kepala sendiri, adalah yang benar."
Tanpa mempedulikan kebohongan, majulah demi dirimu sendiri.
xxx
Kuroko No Basuke
The things which you see
Disclaimer : Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi
Warning : Totally AU, no Basket, shonen-ai, might be OOC dan typo
xxx
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Kagami Taiga menyesal tidak mengikuti saran Oha-asa, acara ramalan bintang yang ditayangkan bersama berita pagi.
"Ka, kagami-sensei? Tidak apa-apa?"
Seorang murid yang tidak sengaja menyiramnya dengan air langsung dari kerannya, meminta maaf sambil panik mencari handuk. Kagami menghela napasnya. Setelah berbagai macam kesialan yang didapatnya sejak pagi, disiram air mungkin masih mending.
Semua ini dimulai ketika dia mengajak Kuroko makan pagi bersama. Teman satu rumahnya itu mengiyakan, dan ikut makan bersama di ruang makan. Walaupun bicara dengan nada datar dan tanpa senyum, terlihat jelas kalau Kuroko menyukai makan pagi tersebut. Kagami tersenyum melihat hal itu, sambil menyalakan televisi.
Mendengar suara dari tv, Kuroko mengangkat kepalanya. Sepertinya dia cukup kaget dengan suara yang muncul tiba-tiba. Kagami meminta maaf pelan, mengecilkan volume tv.
"Tidak apa-apa. Suara ini... Berita pagi?" Kuroko kembali melanjutkan makannya.
"Hm? Begitulah." Guru berambut merah itu memangku dagunya. Dia sudah selesai makan, tinggal menunggu Kuroko saja. Untuk membereskan piring-piring kotor.
"Kalau begitu setelah ini ada acara itu, kan? Ramalan...?" Kuroko menepuk kedua tangannya, menggumamkan 'gochisousama'. Sumpitnya ditaruh di atas mangkuk nasi.
"Ramalan?" Kagami mengangkat alisnya. Mencoba mengerti perkataan Kuroko. "Ah, maksudmu Oha-asa? Ramalan bintang itu?"
Kuroko mengangguk pelan. "Ada temanku yang menyukai acara itu, dan menyuruhku untuk menonton ...mendengar untuk kasusku."
"Teman? Seorang Youkai?" Kagami mengangkat alisnya. Lewat beberapa hari setelah pertemuan pertamanya dengan youkai, Guru itu menyadari kalau Kuroko tidak pernah menyebut para youkai dengan sebutan 'youkai'. Bila tidak menyebut nama mereka langsung, dia akan menyebut youkai sebagai teman.
"Begitulah. Ah, apa sudah mulai?" Mereka berdua lalu kembali mendengarkan suara televisi. "Kagami-kun, apa zodiakmu?"
"Leo. Hmm? Untuk para Leo, hati-hati! Dirimu sedang berada dibawah bintang kesialan. Sebisa mungkin jangan bepergian keluar. Kalau memang harus, ingatlah untuk membawa Lucky Item hari ini. Boneka Jerami yang dibungkus serbet merah...?"
Kagami mendengus. Kuroko yang mendengar itu, memiringkan wajahnya ke arah Kagami.
"Kau tidak percaya?" Wajahnya tetap datar, matanya juga tersembunyi. Tapi guru berambut merah yang duduk diseberangnya yakin kalau Kuroko mengatakan hal itu sambil menahan senyum.
"Tidak pernah percaya. Bagaimana denganmu?" Kagami mulai mengumpulkan piring kotor di atas meja. Dia harus segera bersiap-siap ke sekolah.
"Aku.. tidak tahu. Pendapatku berubah-ubah tergantung keberuntunganku." Kuroko tersenyum kecil. "Kagami-kun, bisa tolong baca untuk zodiak aquarius?"
"Kamu Aquarius? ...Untuk para Aquarius yang sedang berbahagia! Dirimu telah menemukan apa yang kau cari selama ini dalam hidupmu. Sekarang, jangan lepaskan hal itu. Lucky Item-mu hari ini adalah tamagoyaki manis!"
Keadaan hening. Kagami memikirkan ulang apa yang baru saja dibacanya tentang aquarius. Kuroko telah menemukan sesuatu. Bukannya waktu itu dia berkata kalau dia telah menemukan Kagami – cahanya?
"Wah, ramalannya tepat sekali." Kuroko menatap lurus ke arah Kagami. Guru yang sekarang sedang mengangkat piring kotor itu ingin sekali menjauhkan dirinya dari pandangan cowok berambut biru tersebut. "...Oh, aku baru saja memakan Lucky Item-ku."
Dengan nada sangat datar Kuroko mengatakan kalimat terakhir. Kagami melihat ke arah piring kotor di tangannya. Makan pagi hari ini adalah tamagoyaki manis dengan sup miso. Guru itu tertawa kecil sambil menaruh piring di tempat cuci.
"Kalau begitu, kau tidak perlu khawatir lucky item-mu tertinggal di satu tempat." Kagami lalu kembali ke tempat Kuroko, mengusap kepala cowok yang masih duduk manis di tempatnya.
"Begitulah. Kagami-kun?" Kuroko mengulurkan tangannya. Kagami yang mengerti maksudnya, meraih tangan itu, perlahan menarik Kuroko untuk berdiri. "Apa kau tidak menyiapkan Lucky Item-mu? Leo sedang sial hari ini, kan?"
"Di mana aku bisa mendapatkan boneka jerami di sini? Lagipula aku tidak pernah percaya dengan ramalan. Memangnya kesialan seperti apa yang akan terjadi, hah?"
Setelah perjalanan ke sekolah yang dilewati dengan tercebur selokan , menerima serangan angin kencang, wajah dan bajunya ditutupi daun, Kagami Taiga mulai menyesal telah berkata seperti itu.
Ketika di sekolah, penghapus papan tulis masih lengkap dengan serbuk kapur jatuh di atasnya, jatuh dari tangga, terkena lemparan kamus kanji setebal 5 senti, Kodok di laboratorium IPA melompat ke arahnya, berada tepat di jalur bola yang ditendang anak-anak, dan terakhir disiram air sehingga basah kuyup, Kagami Taiga sungguh menyesal tidak mengikuti saran Kuroko untuk menyiapkan Lucky Item-nya.
Ketika dalam perjalanan pulang bersama Kiyoshi, Kagami jatuh ke dalam lubang. Melihat kesialan yang terus dialami kouhai-nya itu, Kiyoshi menawarkan untuk pulang bersama. Dia juga membawakan kotak bento untuk Kagami dan Kuroko, prihatin karena Kagami terus saja terkena berbagai kesialan di depan matanya.
Begitu sampai di depan rumah, Kagami Taiga untuk pertama kalinya percaya pada ramalan. Apalagi setelah melihat kesialan terbesarnya hari ini. Ni-go tiduran di atas sepatu olahraganya. Ada seekor anjing duduk di atas sepatu olahraga miliknya yang harusnya tersusun rapi dalam lemari. Tidak ditaruh di genkan.
Kiyoshi Teppei hanya mengedipkan matanya kebingungan melihat rekannya sesama guru, lari kedalam rumah sambil menyumpah dalam bahasa Inggris. Akhirnya dia menaruh dua kotak bento itu di genkan, mengelus kepala Ni-go, dan beranjak pergi dari situ sambil berdoa agar kouhai-nya tidak sial lagi.
xxx
"Selamat datang, Kagami-kun."
Ketika yang disebut membuka pintu geser kamar Kuroko, dia melihat cowok itu sedang duduk di futon. Disampingnya ada Takao Kazunari, youkai berambut hitam, duduk bersila. Sepertinya obrolan mereka terhenti ketika Kagami masuk.
"Woa, apa yang terjadi, Kagami? Kau terlihat... kacau." Takao mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan keadaan guru itu. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya kotor dan basah, wajahnya antara hidup susah mati tak mau. Yup, dia kacau. Youkai itu membuka mulutnya lagi untuk bertanya.
"Jangan tanya." Kagami mengangkat tangannya, dimana Takao langsung menutup mulutnya melihat isyarat itu. Sial, kenapa dia langsung masuk ke kamar Kuroko? Tanpa sadar kakinya membawanya ke tempat ini. Mungkin karena dia sudah terbiasa untuk mengecek keadaan Kuroko setiap dia pulang. Ya, pasti karena itu.
"Kagami-kun, apa maksudnya kacau? Sesuatu terjadi? Apa kau terluka?" Walaupun Kuroko sebisa mungkin menekan nada khawatir yang keluar dari perkataannya, Kagami tetap mendengar. Dia menghela napas.
"Tidak, tidak apa-apa. Sebentar, aku ganti baju dulu." Kagami beranjak keluar, menuju kamarnya. "Ah, Takao. Bento untuk Kuroko masih ada di genkan."
"Ok!" Takao mengikuti Kagami keluar dari kamar Kuroko. Beberapa hari setelah berkenalan dengannya, Kagami tahu kalau Takao adalah youkai yang selalu datang ke rumah Kuroko dan membantunya menyiapkan makanan maupun bersih-bersih. Menurut Takao sendiri, masih banyak youkai lain yang sering datang ke sini membantunya. Tapi Kagami sendiri tidak pernah melihat mereka. Para youkai itu hanya datang ketika Kagami pergi keluar.
Mereka youkai level rendah, cukup susah bagi mereka untuk berada di wilayah manusia dalam waktu lama - Kagami mengingat perkataan Takao waktu itu.
Setelah berganti baju, menaruh baju kotornya di ruang cuci, Kagami kembali ke kamar Kuroko. Di sambut dengan Bento siap santap, juga pandangan Takao dan Kuroko yang menunggu dirinya untuk bercerita.
Kagami kembali menghela napas. Dia duduk di samping Kuroko, mengambil sumpit dan bentonya, lalu mulai bercerita tentang semua kesialan yang dia lalui hari ini.
xxx
Kuroko tetap tenang, Takao tertawa, dan Kagami ingin melempar sesuatu ke arah youkai itu. Tapi karena yang ada di tangannya sekarang hanya bento yang masih dimakannya, guru itu menahan hasratnya. Akhirnya, dia hanya memberikan deathglare terbaiknya.
"Hahahaha, maaf, maaf. Tapi, Kagami." Takao berhenti tertawa, mulai berwajah serius. "Apa kau yakin itu hanya kesialan semata?"
"Maksudmu?"
"Maksud Takao-kun adalah kau terkena kutukan, Kagami-kun." Kuroko yang dari tadi diam, mulai membuka mulut. Pandangannya terarah pada Kagami. Bukan hanya mata, tapi seluruh tubuh Kagami.
"Ku, kutukan?" Guru berambut merah itu bergantian melihat antara wajah Kuroko dan Takao. Teman serumahnya masih memperhatikan dirinya, melihat sesuatu yang tak tampak oleh Kagami. Sedangkan Takao sepertinya memikirkan sesuatu. Wajah seriusnya masih terpasang.
"Kurasa Kuroko benar. Apa yang kau lihat sekarang, Kuroko?" Takao ikut melihat ke arah Kagami. Sang macan sangat ingin beranjak dari situ. Mengingat dia dipandang bak objek penelitian oleh satu manusia dan satu youkai di depannya.
"Ada sesuatu yang menempel pada Kagami-kun. Menganggu." Kagami sedikit kaget ketika mendengar nada dingin yang keluar dari mulut Kuroko. Sepertinya dia marah karena sesuatu yang menempel itu.
"Memang kutukan, ya. Bagaimana? Mau kupanggilkan Shin-chan?" Wajah seriusnya berganti dengan tawa kecil. Dia melihat ke arah Kuroko, meminta jawaban.
"Tolong." Kuroko mengangguk pelan. Takao lalu membalas dengan lambaian dan menhilang. Pergi untuk memanggil 'Shin-chan'.
"Siapa itu Shin-chan?" Setelah beberapa saat, akhirnya Kagami bertanya.
"Teman. Dia dekat dengan Takao-kun dan ahli dalam soal kutukan. Dia juga teman yang kukatakan tadi pagi." Kuroko mengulurkan tangannya. Menggapai tangan Kagami.
"Yang menyuruhmu menonton Oha-Asa?" Dan Kagami kembali menghangatkan tangan Kuroko yang selalu dingin. Kotak bento diletakkan ke samping.
"Ya. Namanya Midorima Shintarou. Dia sedikit... susah untuk datang kesini." Cowok berambut biru itu menunduk ke arah tangan yang bertautan. Merasakan tangan hangat Kagami. Juga merasakan apa yang dirasakan Kagami saat ini.
"Dia tidak terlalu suka padaku, lebih tepatnya pada manusia. Tapi kalau Takao-kun yang meminta, dia pasti mau datang. Oh, satu hal lagi. Jangan coba-coba panggil dia Shin-chan. Hanya Takao-kun yang selamat setelah memanggilnya seperti itu."
"Kenapa hanya dia..?" Pertanyaan Kagami terhenti ketika bunyi 'puf' pelan masuk ke indera pendengarannya. Takao sudah kembali, dan di sampingnya ada youkai lain yang baru pertama kali Kagami lihat.
Youkai itu lebih tinggi dari Takao, juga dari Kagami. Rambutnya berwarna hijau dan kacamata bertengger menutupi mata berwarna sama. Tangan kirinya diperban putih. Sama dengan Takao, dia juga memakai kimono berwarna hijau, dilapisi haori berwarna hitam.
"Lama tidak bertemu, Midorima-kun." Suara Kuroko yang menyapa Midorima hanya dibalas dengan anggukan. Youkai itu memandang lurus ke arah Kagami, seperti menilai cowok berambut merah.
"Jangan bilang kalau ini adalah cahaya yang kau maksud, Kuroko." Suara yang cukup berat itulah kata pertama yang keluar dari mulut Midorima.
"Kagami-kun memang cahaya-ku. Terserah kau mau berpendapat apa, Midorima-kun." Kuroko dengan suara yang sama dinginnya membalas. Kagami yang menjadi pusat pembicaraan menggaruk kepala. Apa hanya perasaannya saja tapi ada petir mengalir antara Midorima dan Kuroko? Dan barusan, apa Kuroko menekankan pengucapannya pada kata cahaya-ku?
Plok! Plok!
Takao menepuk tangannya untuk menarik perhatian.
"Ok, ok. Shin-chan~ Jangan mulai bertengkar. Kagami-kun pasien hari ini, lo?" Takao dengan entengnya menarik Midorima duduk. Sudah terbiasa dengan tingkah kedua temannya. Midorima menghela napas, mengalihkan pandangan dari Kuroko.
"Baiklah. Ada apa dengannya?" Cowok berambut hijau itu memicingkan mata. Melihat Kagami dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Takao-kun tidak memberitahumu?" Kuroko balik bertanya.
"Dia muncul di depanku tiba-tiba, menggeretku sambil berkata 'Kuroko sedang gawat!'. Aku mengira bahwa kau lah pasiennya." Midorima membetulkan letak kacamatanya. "...Tapi bukannya aku datang ke sini karena khawatir keadaanmu. Takao yang memaksaku."
Dan sekarang youkai itu memalingkan wajahnya, semburat merah mucul di pipi. Kalau saja youkai di depannya ini bukan seseorang yang bisa menghilangkan kutukannya, mungkin Kagami akan tertawa sekarang. Dilihatnya Kuroko masih tanpa ekspresi. Sedangkan Takao...
"Uggh, Shin-chan!" Youkai berambut hitam itu melompat, memeluk teman berambut hijaunya. "Kamu yang tsundere itu memang imuuuut~! Tenang saja, aku ngerti maksudmu, kok. Kamu memang cemas sama Kuroko, kaaan?"
"Terima kasih sudah cemas, Midorima-kun." Nada datar yang digunakan Kuroko sangat tidak membantu keadaan. Kagami sendiri masih terpana dengan temannya yang non-ekspresi, juga Takao yang masih nempel pada Midorima.
"Sudah kubilang aku tidak cemas! Lepaskan aku, Takao!"
Kagami tahu kalau youkai itu sendiri sebenarnya tidakterlalu berbeda dengan manusia. Hanya tidak bisa dilihat dengan mata biasa, juga bisa menghilang kapan saja. Mungkin juga ada kekuatan lain, guru berambut merah itu belum mengetahuinya. Tapi dia sendiri tidak menyangka...
"Waktu aku belum selesai bicara, Shin-chan langsung 'melompat' ke sini, kan? Itu apa artinya kalau bukan cemas~?" Masih memeluk Midorima, Takao berkata.
"...Melatih kecepatanku dalam 'melompat'."
"Ugggh, Shin-chan~! Kamu emang lucu banget~."
...Dia tidak menyangka, bahwa youkai pun ada yang tsundere.
"Selalu menyenangkan setiap kali melihat hubungan mesra kalian, tapi sudah saatnya memeriksa Kagami-kun." Kuroko dengan tenang dan datar membuat semua pandangan mengarah padanya. Takao melepaskan pelukannya, lalu mendorong Midorima – yang masih enggan – ke arah Kagami.
Begitu merah dan hijau saling berhadapan, Midorima kembali melihat Kagami. Memicingkan matanya, menghela napas. "Hanya karena kutukan kelas rendah seperti kau memanggilku? Benar-benar..."
"Tapi kau akan menyembuhkannya, kan?" Takao sambil tersenyum balas berkata. Midorima hanya mendengus mendengar perkataan temannya itu.
Youkai berambut hijau itu mulai melepas perban di tangan kirinya. Dia lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah Kagami, mulutnya membisikkan mantra. Kagami diam saja melihat proses 'penyembuhan' dirinya dari kutukan. Dan...
'Bam!'
Kagami merasakan kepalanya terkena lemparan bola baseball yang dilempar pitcher profesional, di mana kecepatan bola akan sangat menyakitkan jika terkena manusia. Tubuhnya oleng kesamping. Hal terakhir yang dilihatnya sebelum kehilangan kesadaran adalah kepalan tangan seorang youkai berambut hijau. Otak Kagami langsung memproses apa yang dilihatnya.
'Sialan, dia memukulku!'
Takao bersiul melihat Kagami yang tumbang, lalu berdiri menyiapkan futon untuk manusia berambut merah itu. Sepertinya menyembuhkan dengan memukul itu adalah hal yang biasa, karena Kuroko tidak protes sama sekali.
"Terima kasih, Midorima-kun." Kuroko memandang lurus ke arah Midorima. Dia lalu melihat ke arah Takao yang mulai menelimuti Kagami dengan futon.
"Aku tidak menyembuhkan karena kau yang minta, ingat itu." Midorima membetulkan lagi letak kacamatanya. "Lebih baik dia berhati-hati. Kalau dia benar-benar cahaya yang kau maksud, bukan hanya kutukan lemah yang akan menempel. Kesialan yang lebih besar, berasal dari youkai maupun manusia, akan datang padanya."
"Aku tahu itu. Karena itu aku membutuhkan kekuatan kalian semua. Kalian akan membantuku, kan?"
Midorima dan Takao saling pandang. Lalu secara bersamaan kembali melihat Kuroko. Menjawab dengan,
"Tentu saja, bodoh. Kita teman, kan?"
xxx
"Malam, Kagami-kun."
Suara Kuroko yang menyapanya, adalah hal pertama yang masuk ke telinga setelah terbangun. Kagami langsung mengelus kepalanya yang baru saja dipukul oleh Midorima.
"Kepalaku... Apa maksudnya dia memukulku? !"
"Untuk menyembuhkanmu." Merasakan aura Kagami yang tidak mengerti dengan perkataannya, Kuroko menjelaskan. "Kutukan bisa diibaratkan sebagai kotoran yang menempel. Bisa disebabkan karena banyak hal, tapi yang paling sering kutukan muncul karena perasaan. Mungkin kutukan yang kau dapat itu karena kau meremahkan ramalan."
"Serius?" Kagami tak mampu bereaksi selain satu kata ini.
"Mungkin. Cara terbaik untuk mengusir kotoran, tentu saja membersihkan mereka. Untuk kutukan lemah, anggap saja sama dengan debu. Tinggal mengibaskan saja." Kuroko mengibaskan tangan ke lengan kimono biru gelapnya, menekankan penjelasannya.
"Tunggu dulu. Kutukan yang menempel padaku lemah, kan? Kenapa Midorima memukulku sekeras tadi?" Sang Tiger kembali mengelus kepalanya. Pukulan youkai tsundere itu tidak bisa diremehkan.
"Karena dia ingin melakukannya." Sang bayangan menjawab dengan datar. Ketika Kagami tahu kalau Kuroko tak akan menjawab lebih dari ini, dia menghela napas. Tangannya mulai mengelus rambut biru Kuroko, secara reflek.
"Kagami-kun, apa kau tidak ingin bertanya sesuatu?" Merasakan kehangatan sang cahaya membuat bayangan itu merasa nyaman. Dia tak akan yang akan selalu bersamanya...
"Tentang aku adalah cahaya? Kalau aku bertanya, apa kau akan menjawab?"
"...Mungkin tidak."
"Kalau begitu, aku tak akan bertanya." Seakan mereka sedang tidak membicarakan hal penting, Kagami menyudahi percakapan itu. Tangannya masih mengelus kepala Kuroko. Entah kenapa berada bersama cowok berambut biru ini sangat membuatnya nyaman.
"Para youkai di daerah ini tahu tentangmu sebagai cahaya." Kagami bergumam kecil mengiyakan Kuroko. Dia sudah dengar hal itu ketika pertama kali bertemu Takao. "Itu karena aku yang memberitahu mereka."
"Boleh aku tanya, kenapa?" Kagami mengerutkan alisnya.
"...Untuk melindungimu. Hanya itu yang bisa kukatakan sekarang." Kuroko membenamkan wajahnya di dada Kagami. Menghirup aroma sang cahaya. Matahari yang bersinar, api yang menyala. Kuroko hanya bisa mendeskripsikan apa yang dia rasakan dengan kata-kata itu.
"Melindungi? Dari siapa?"
"Dari manusia yang mengincarmu."
Guru berambut merah itu tentu saja terkejut mendengar perkataan sang bayangan. Tebakan terbesar Kagami adalah akan ada youkai yang ingin menyerang dia atau Kuroko. Manusia, makhluk yang sama dengannya, adalah jawaban terakhir yang akan muncul di benaknya.
"Percaya atau tidak, Kagami-kun. Aku mengetahui tentangmu lebih dari dirimu sendiri."
Kuroko mengangkat wajahnya, memandang ke arah Kagami. Dia tidak bisa melihat Kagami, tentu saja. Yang dilihatnya hanya cahaya bersinar terang. Menerangi dunia gelapnya. Membuka mulutnya dan mengatakan dengan tegas,
"Seperti yang disarankan Oha-asa, aku tidak berniat melepaskan cahaya yang sudah kutunggu selama ini."
xxx
#Third Things : I Won't Let You Go, Ever.#
xxx
Kutukan : Noroi. Kuroko sudah menjelaskan, di cerita ini kutukan bagaikan kotoran. Memang terlihat mudah dalam penjelasan Kuroko, tapi sebenarnya proses penyembuhan yang dilakukan Midorima itu sulit. Untuk mengusir kutukan, si penyembuh harus mengatur 'kekuatan roh' miliknya agar sama dengan si korban. Setelah itu, penyembuh akan mengalirkan 'kekuatan roh' itu ke korban, tepat di bagian tubuh yang ditempeli kutukan. Mengalirkan dengan memukul pelan korban adalah cara terbaik. Dengan begitu, 'kekuatan roh' yang dialirkan akan membuat ledakan penolakan, melempar kutukan keluar dari tubuh korban.
Hal yang dilakukan Kuroko supaya Kagami bisa melihat youkai, mirip dengan ini. Akan dijelaskan lebih lanjut nanti di cerita~
Youkai (Part 2) : Seperti manusia yang peka akan kehadiran youkai, dan bisa menjadi sakit karena berdekatan dengan mereka (Ex: Tanuma di Natsume Yuujinchou), Youkai berlevel rendah di cerita ini tak bisa bertahan lama di tempat yang banyak manusianya. Takao dan Midorima adalah contoh Youkai yang berlevel cukup tinggi dan bisa tinggal lama di sekitar manusia. Tapi karena daerah desa Sei no Rin tertutup alam, rumah Kuroko yang dipenuhi kekuatan roh miliknya (dan milik Kagami ketika dia datang), Youkai berlevel rendah bisa bertahan cukup lama dari biasanya di dalam desa.
xxx
Author's Note :
Sebelum saya mengoceh stress, permintaan maaf karena telat datang duluan. Maaf, maaf, maaf, update telat banget~ #dilemparin bola basket
Karena sekarang saya sedang pulkam, saya malesss banget yang namanya ngetik di rumah. Pinginnya main terus! #PLAK ...Chapter 3 ini baru selesai karena saya sempat berhenti ngetik, Haha #Double PLAK
Karena proses pengetikan yang putus-nyambung, dikerjakan sambil mendengarkan lagu yag berbeda-beda. Semua Chara Song KuroBasu (Paling suka lagunya Kuroko dan Takao, Yey!), Lagu-lagunya Akiko Shikata (Sumpah lagu sama fanfic nggak nyambung), sampai sekarang lagi denger lagu-lagunya Kagerou Project (Yang baru di download karena penasaran, Yeah! #Plak). Salahkan pixiv yang mejeng art mereka kok-ya-keren-keren-siihhh? #PLAK lagi
Ehem, saya nggak tahu kapan bakal update lagi. Mungkin waktu semester baru udah mulai, saya balik ke kosan, bosen, dan akhirnya mulai ngetik. Kalau bisa update sebelum itu, anggaplah keajaiban terjadi. Yup, Miracle is there, Believe It!
Review Please? Semakin seru review yang ada, membuat saya pengen cepet update lo~ #injeked
