"Ara, selamat datang di Vocaluta School, Hiyama Kiyoteru-sensei. Saya sudah menunggu kedatangan Anda."
Mendengar itu, Kiyoteru buru-buru memasang senyum dan membalikkan tubuhnya, menghadap sang kepala sekolah.
Dan betapa kagetnya ia saat melihat sosok yang ada di hadapannya itu.
Ruangan kepala sekolah yang mewah ini memang membuat kaget, tapi wajah si kepala sekolah lebih membuatnya kaget.
Si kepala sekolah, yang sedang duduk bersandar di kursi besarnya dengan kedua kakinya diletakkan di atas meja, tersenyum lebar kepada Kiyoteru. Rambutnya hitam pendek berantakan, dengan beberapa helai rambutnya yang di-highlight merah di bagian kanan. Matanya berwarna merah tajam, seperti darah. Ia memakai kaus hitam yang ditutupi oleh kemeja putih dan jaket merah berbulu. Ia juga memakai celana panjang hitam dengan ikat pinggang double berwarna merah dan sepatu putih bersol merah. Ada sebuah kalung (kalung anjing?) berwarna merah tua di lehernya dan sesuatu yang tampak bersinar di telinga kirinya ― apa itu anting?
… Gayanya seperti seorang preman.
Tapi, dibandingkan semua itu, lihat wajahnya! Wajahnya! Bukan wajah milik seseorang yang berumur 20-30 tahun atau 60-70 tahun, melainkan wajah seseorang yang masih di bawah 20 tahun! Wajah seorang remaja! Remaja! Remaja, lho!
"K-kepala sekolahnya semuda iniiiii!?" Kiyoteru syok. Mulutnya terbuka lebar membentuk kotak. Tampak background petir bergemuruh di belakangnya. "Gayanya kayak preman, lagi!"
"Hm? Ada apa, Hiyama-sensei?" tanya si kepala sekolah, masih tersenyum kepadanya.
Kiyoteru masih bergeming. "T-tunggu! D-dia―Eeeh!? K-kepala sekolahnya masih muda!? Masih muda! Terlalu muda, malah! D-dia masih remaja, kan!? Apa benar, orang ini kepala sekolah!?"
"Hiyama-sensei?"
"Terlalu beda jauh dengan yang kubayangkaaaan!"
Si kepala sekolah menghampiri Kiyoteru dan mengibaskan tangannya di hadapannya. "Halooo, Hiyama-senseeei?"
Kiyoteru buru-buru menggelengkan kepalanya, kembali ke alam sadar. "H-hai!?"
Si kepala sekolah menyengir. "Hiya―"
Brak!
Kiyoteru terlonjak kaget, nyaris saja ia menjerit "Hiii!?". Dengan segera, ia menoleh ke arah pintu.
Di ambang pintu, tampak seorang pria dengan napas tersengal (sepertinya, ia habis berlari) berdiri dengan tangan kanannya masih memegang gagang pintu yang ia buka (banting) tadi, sementara tangan kirinya memegang lututnya. Ia agak menundukkan kepalanya, membuat wajahnya tidak terlalu terlihat. Dan entah kenapa, ia mengeluarkan aura yang mengerikan.
Kiyoteru melihat ke sampingnya. Tampak si kepala sekolah sedang menatap pria berjas laboratorium itu dengan sebuah cengiran lebar di wajahnya.
Kiyoteru kembali menoleh pada pria yang baru datang itu. "S-siapa dia…? Datang tiba-tiba sambil membanting pintu begitu…"
"Yo, Master!" sapa si kepala sekolah, masih menyengir.
"Eh? 'Master'?" Kiyoteru kembali menoleh pada si kepala sekolah, mengernyitkan dahinya. Rasanya, ia pernah mendengar nama itu… Oh! "T-tapi kenapa…" Seingatnya, Master itu kan kepala yayasan, pemilik, dan kepala sekolah ini ― orang yang sedang berdiri di samping saat ini.
"Inukaaaaai… Roooooook… kuuuuuuun…" Pria di ambang pintu itu berujar dengan suara mengerikan.
Kedua mata Kiyoteru terbelalak lebar tiba-tiba, menyadari sesuatu. "J-jangan-jangan…"
Inukai Rook-kun masih menyengir kepada pria yang dipanggil "Master" itu, sama sekali tidak takut dengan aura mengerikan yang dikeluarkannya.
"Orang yang ada di sebelahku ini kepala sekolah palsu!?" Kiyoteru syok. "A-aku ditipu oleh seorang murid di hari pertamaku mengajar―Tunggu, aku bahkan belum mulai mengajar di sini…"
(Dalam batinnya, sekarang, Kiyoteru sedang duduk di pojokan sambil memeluk lututnya. Sebuah lampu sorot menyinarinya.)
Dengan aura menyeramkan, wajah yang tampak gelap, dan kedua mata yang tampak bersinar merah, pria itu menghampiri si kepala sekolah palsu.
"Kaaaaauu…"
"Oho! 'Met pagi, Master!"
Master menyunggingkan sebuah senyum mengerikan. "Keluar. Dari. Ruangankuuuuu…"
"Arereee, kau kejam sekali, Master!" Rook tertawa. "Di sini kan nyaman!"
Master menjewer telinga kanan Rook, membuat pemuda itu merintih kesakitan, tapi masih tertawa.
"Ow! Hahaha! Master, jangan marah-marah, dong! Nanti cepat tua, lho!"
"Apa yang kau lakukan di ruanganku, huuuuuh?" Master menggertakkan giginya, menatap Rook dengan kesal.
"Hanya menggantikan tugas Master sebagai kepala sekolah, kok! Hahaha!"
Master menjewer telinga Rook sekali lagi. Kali ini lebih keras.
"Gyaaa! Sakiiiiit!"
Selesai menjewer telinga anak bandel itu, Master berujar dengan ketus, "Keluar."
Rook menghela napas dan menggelengkan kepalanya, pura-pura kecewa. "Haaah. Kau dingin sekali, sih, Reiki Nao―Nggh!"
Master buru-buru menutup mulut Rook sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan kalimatnya, entah kenapa. Dan, oh, apa yang Rook katakan tadi? 'Reiki Nao-'? Siapa dia?
Dengan senyum yang sangat dipaksakan dan suara pelan (agar hanya bisa didengar oleh Rook), Master bertanya, "Dari mana kau tahu nama asliku, Inukai Rook-kun? Huuuuuh?"
Rook kembali menyengir. "Dari mana, yaaa?"
Tampak sebuah urat menyilang di kepala Master. "Kau. Keluar."
"Heee, Master, kau benar-benar dingin," Rook tertawa kecil seraya berjalan menuju pintu. "Tanpa perlu disuruh pun, aku juga akan keluar, kok."
"Pergi, sana. Jangan pernah balik lagi," gerutu pria berambut coklat berantakan itu sembari memutar bola matanya.
Tepat di ambang pintu, Rook menghentikan langkah kakinya. Tanpa menoleh ke belakang, ia berkata, "Jaa naa, Reiki Naoto-san!"
Hening.
Hening.
Keheningan yang tidak nyaman.
Master terdiam.
Kiyoteru cengo. "Oh, jadi, Reiki Naoto itu nama Master?"
Urat menyilang di kepala Master bertambah. "Apa―"
Wuuush!, Rook langsung mengambil langkah seribu. Terdengar suara tawanya dari kejauhan.
"KEMBALI KAU, INUKAAAAAAAI!" Master berlari mengejar siswa itu, meninggalkan Kiyoteru sendirian di ruang kepala sekolah.
Kiyoteru sweatdropped. "Sekolah ini damai sekali, ya…"
.
.
.
Beberapa menit kemudian, Master kembali ke ruangannya. Ia menoleh kepada Kiyoteru yang sedang melihat-lihat rak buku, lalu mendehem.
Kiyoteru menoleh.
Sambil berjalan menghampiri guru muda itu dan menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal dengan canggung, sang kepala sekolah yang asli berujar, "A-ahaha, m-mohon maafkan kesalahan teknis tadi, Hiyama-sensei. Inukai Rook-kun―Anak itu memang bandel, a-ahaha."
Kiyoteru mengamati sosok kepala sekolah yang asli ini. Pria itu sama persis dengan patung emas "Master" yang Kiyoteru lihat tadi. Kiyoteru tahu, mereka sama persis karena mereka adalah orang yang sama, tapi Kiyoteru tidak menyangka bahwa mereka benar-benar amat-sangat mirip.
Kiyoteru pikir, patung "Master" itu dibuat beberapa puluh tahun lalu, sehingga tampang Master asli yang sekarang berbeda dengan patungnya. Tanpa disangka, sosok kepala sekolah ini benar-benar adalah seorang pria berumur 20-30 tahun!
"H-huh?"
Sang kepala sekolah, Master, tersenyum kecil (namun terkesan misterius). "Hmm? Ada apa, Hiyama-sensei?"
"A-aah, t-t-tidak… T-tidak ada apa-apa…"
"Ahaha, kalau begitu, tidak usah berdiri terus-menerus di depan pintu, Hiyama-sensei," Master tertawa kecil, berjalan menuju tempat duduknya. "Silakan duduk," ujarnya setelah ia mendudukkan dirinya seraya menunjuk sebuah sofa panjang berwarna putih gading.
Kiyoteru berjalan menuju sofa yang ditunjuk itu dan duduk di atasnya, masih diam, terlalu kaget untuk berkata apa-apa.
Master sepertinya benar-benar berumur antara 20 dan 30 tahun. Rambutnya coklat pendek dengan poni yang agak menutupi kedua matanya. Matanya berwarna emerald green, senyumnya lembut, menawan, dan berkharisma. Ia memakai turtleneck sweater hitam dengan jas laboratorium putih. Dan dari yang Kiyoteru lihat tadi, ia juga memakai celana panjang berwarna beige dan sepasang selop hijau.
"S-selop…?"
"Apa Anda tegang, Hiyama-sensei?" tanya Master.
Kiyoteru menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"D-daripada tegang―S-saya kaget, tahu! Kōchō-sensei, berapa umurmu yang sebenarnya!? Atau Anda adalah kepala sekolah palsu lagi!? Tidak mungkin Anda masih semuda ini, kaaan!?"
Adalah yang ingin Kiyoteru teriakkan, tapi tidak mungkin.
"Oh, atau Anda kaget melihat wajah saya?" Master menebak.
Kiyoteru masih diam, tapi ekspresi wajahnya sedikit berubah.
Master tertawa kecil lagi. "Tenang saja, tampang saya sesuai dengan umur saya, kok. Saya bukan seorang om-om berumur di atas 50 tahun."
"T-tapi kalau Anda mengatakan itu, kesannya seperti Anda benar-benar adalah seorang pria berumur di atas 50 tahun, Kōchō-sensei…"
"Hmm," Master, sepertinya tidak memerhatikan ekspresi wajah Kiyoteru yang berubah lagi, mengambil selembar kertas yang terletak di atas mejanya, lalu mengamati guru itu dari atas sampai bawah. "Laporan Len-kun benar. Hiyama-sensei memang manis," gumamnya pelan, tidak terdengar oleh lawan bicaranya.
Kiyoteru merinding, entah kenapa. "E-etto, m-maaf…? A-apa yang Anda katakan tadi?"
Master kembali menoleh pada Kiyoteru, "Tidak, bukan apa-apa, kok. Hanya berbicara sendiri."
Kiyoteru diam. "T-tapi tadi aku seperti mendengar Kōchō-sensei membawa namaku…"
"Mizuki-kun juga benar. Hiyama-sensei tipe uke," Master kembali bergumam. Kiyoteru berusaha untuk tidak menghiraukannya.
"A-ano," Kiyoteru berusaha mengalihkan perhatian Master. Master menoleh padanya dan melihatnya sedang mengambil sesuatu dari tas coklat tua yang dibawanya. "Kōchō-sensei―"
"Tolong panggil saya 'Master', Hiyama-sensei."
"―M-Master…" Kiyoteru mengucapkannya dengan ragu. Rasanya, aneh, seorang kepala sekolah minta dipanggil 'Master'. Kesannya, seperti teman laki-laki Kiyoteru yang suka mengajaknya ke maid café…
Master mengangguk senang.
Kiyoteru memberikan Master sebuah map berwarna coklat yang tadi diambilnya. "Ini, dokumen pentransferan pengajar dari kepala sekolah Ayamaha High School."
"Oh, terima kasih," Master menerimanya, lalu membukanya, mengambil kertas-kertas yang terdapat di dalamnya, dan membacanya. "… Jadi, Anda ditransfer ke sini dengan alasan bahwa letak rumah Anda cukup jauh dengan sekolah tempat Anda mengajar dulu?"
"I-iya, begitulah."
"Hmm," Master tampak berpikir. "Sebenarnya, saya tidak keberatan menerima Anda di sini," (Kiyoteru tersenyum cerah mendengarnya) "berhubung kami juga sedang membutuhkan seorang guru matematika…" Ucapannya berhenti tiba-tiba, lalu ia terdiam dan tampak berpikir sekali lagi, kali ini lebih keras.
Senyum cerah di wajah Kiyoteru memudar. "A-apa ada masalah, Ko―Master?"
Master menatap Kiyoteru dengan ragu. Sebuah senyum canggung terbentuk di bibirnya. "Guru matematika kami yang sebelumnya, yang juga adalah wali kelas Special Class, keluar karena tidak tahan dengan murid-murid yang diajarnya."
Kiyoteru menatap Master dengan heran. "Tidak tahan? Kenapa?" tanyanya, merasa agak takut.
"Yaaah, Anda tahu, Hiyama-sensei," Master tertawa canggung, "di gedung SMA Vocaluta School ini terdapat satu ruang kelas khusus bernama Special Class. Tertulis di salah satu dokumen yang diberikan kepada Anda. Anda membacanya, kan?"
Kiyoteru mengangguk.
Master lanjut menjelaskan, "Special Class adalah sebuah kelas khusus untuk anak-anak spesial."
"Spesial?"
"Ya, spesial ― dalam arti bermasalah."
"O-oh…" Kiyoteru sweatdropped.
"Mereka yang bermasalah, yang bandelnya kelewatan seperti Inukai Rook-kun, yang terlalu pendiam dan antisosial seperti Shion Kaito-kun, yang tidak bisa diatur oleh guru… Semuanya ada di dalam Special Class."
"Tapi, Master," Kiyoteru membetulkan posisi kacamatanya, "bukankah setiap kelas juga mempunyai anak-anak seperti itu? Kalau begitu, Special Class tidak ada bedanya dengan kelas-kelas lain, bukan?"
Master tertawa kecil. "Special Class tidak hanya untuk anak-anak untuk kelas 1, 2, atau 3, melainkan untuk kelas 1, 2, dan 3."
Kiyoteru terbengong. "E-eh? M-materi pelajarannya―"
"Materi pelajaran untuk Special Class adalah materi yang bisa dipelajari oleh kelas 1, 2, dan 3 sekaligus. Disiapkan secara khusus oleh pihak sekolah, tidak mengikuti materi pelajaran yang diberikan oleh pemerintah dan dewan pendidikan, tapi mengikuti kurikulum yang ada."
Kiyoteru semakin terbengong.
"Tambahan," Master kembali tersenyum misterius kepada pria berkacamata itu, mengacungkan jari telunjuknya, "anak-anak Special Class bukan anak-anak bermasalah yang biasa saja, lho. Seperti nama kelasnya, kelas ini sangatlah spesial, begitupula dengan murid-muridnya."
Kiyoteru menelan ludahnya dan menundukkan kepalanya. Wajahnya sedikit memucat. Ia mengalihkan pandangannya dari Master. Entah kenapa, nyalinya menciut setelah mendengar cerita Master. Apa murid-murid Special Class ini sebegitu mengerikannya, sampai-sampai wali kelas mereka yang sebelumnya mengundurkan diri?
Masih sambil tersenyum, Master bertanya, "Bagaimana?"
Kiyoteru bimbang.
Menjadi seorang guru adalah cita-citanya sejak kecil. Diterima menjadi seorang guru di sekolah terpencil saja bisa membuatnya senang. Menjadi seorang guru di Vocaluta School, sekolah terelit nomor satu di Jepang, tentu akan membuatnya sangat senang ― dan bangga.
Tinggal selangkah lagi, dan Kiyoteru akan menjadi guru resmi di Vocaluta School ini. Tapi… Sebagai seorang guru, apalagi di sekolah ini, tentu ia tidak mau bernasib sama dengan guru matematika yang sebelumnya. Ia takut.
"Apa Anda bimbang, Hiyama-sensei?"
Kiyoteru kembali mendongakkan kepalanya, menghadap Master. Raut wajahnya menggambarkan rasa bimbang dan cemas dengan sangat jelas.
Master, melihat Kiyoteru, tersenyum lembut, membuat pria muda berkacamata itu merasa sedikit lebih tenang. "Tidak apa-apa. Saya tidak memaksa Anda untuk memberikan jawaban sekarang."
Kiyoteru tersenyum canggung. Master benar ― ia bisa memberikan jawaban di lain hari, tidak harus di saat ini juga.
Seraya membuka laci mejanya, Master melanjutkan, "Lagipula," ia mengeluarkan sebuah buku catatan dari dalam laci tersebut, "Anda baru kandidat kesembilan yang menolak untuk mengajar di sini karena murid-murid Special Class, kok."
Kiyoteru berkedip. Memastikan ia tidak salah dengar, ia bertanya, "Huh? K-kesembilan…?"
"Iya," Master mengangguk. "Masih ada sekitar 50 orang kandidat lagi yang melamar untuk mengajar di sini. Dengan jumlah sebanyak itu, salah satu di antara mereka pasti ada yang tidak keberatan dengan murid-murid Special Class dan tetap mau menjadi wali kelas mereka, bukan?"
"Ja-jangan bercanda!" Kiyoteru berteriak dalam hatinya Ia bisa merasakan wajahnya kembali memucat. "Li-limapuluh orang!? Yang benar saja!"
"Tapi, asal Anda tahu, Hiyama-sensei, Anda adalah kandidat favorit saya, lho," sahut Master dengan suara yang terdengar kecewa.
"Mana sudi aku memberikan pekerjaan sebagai guru di Vocaluta School ini kepada orang lain!?" Kiyoteru mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Tidak akan!"
"Sayang sekali, Anda menolaknya," Master menghela napas, menggeleng pelan. Ia membuka halaman ketiga buku catatannya. "Hmm, kandidat kesepuluh―"
"Anak-anak bermasalah atau apa, aku tidak peduli!"
Brak!
Master mengedipkan kedua matanya. Di hadapannya, berdiri Kiyoteru dengan tangan kanannya yang tadi menggebrak meja. Ia menatap Master dengan tajam.
"Oh?" Master tersenyum takjub. "Ada apa, Hiyama-sensei?" tanyanya, menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya, seakan memancing amarah guru itu.
"Saya tidak menolaknya! Saya bersedia mengajar di sini―di Special Class!" seru Kiyoteru. "Karena aku ingin mengajar di sini, aku tidak takut!"
Senyum takjub Master mengembang. "Anda serius?"
"Tentu saja!"
"Bahkan setelah Anda tahu seperti apa murid-murid Special Class itu?"
"Iya!"
"Apapun risikonya, Anda tetap bersedia mengajar dan menjadi wali kelas mereka?"
"Iya!"
"Aah, tapi―"
"Saya mohon!" Kiyoteru membungkukkan tubuhnya 90 derajat. "Saya berjanji akan mengajar dan menuntun para murid Special Class menjadi murid yang baik dan benar dan bisa dibanggakan!"
Master terdiam, memperhatikan Kiyoteru yang tubuhnya benar-benar dibungkukkan 90 derajat tanpa cela. Sebuah senyum misterius tersungging di bibir tipisnya yang pucat. "… Baiklah."
Kiyoteru menegakkan kembali tubuhnya. Kedua matanya tampak membulat, berbinar penuh harap.
"Anda sangat mendedikasikan diri Anda untuk mengajar ― saya bisa melihatnya di mata Anda. Dan berhubung Anda adalah kandidat favorit saya juga…" Seraya mengucapkan itu, Master berdiri dari kursinya, berjalan menghampiri Kiyoteru.
Kedua ujung bibir Kiyoteru mulai tertarik ke atas.
Pria berjas laboratorium itu tersenyum kecil pada Kiyoteru. "Saya ucapkan selamat kepada Anda, Hiyama Kiyoteru-sensei," ucapnya, menyalami guru baru itu. "Anda saya terima untuk menjadi guru matematika dan wali kelas Special Class yang baru."
Kiyoteru tersenyum lebar. Sangat lebar, cerah, dan menyilaukan mata. Melebihi yang di chapter pertama. Kedua matanya tampak berbinar-binar. Rasa berat dan tidak nyaman di hatinya langsung menghilang seketika itu juga dan digantikan dengan perasaan berdebar-debar yang menyenangkan.
"T-T-T-TERIMA KASIH, KŌCHŌ-SENSEI! TERIMA KASIH BANYAK!"
" 'Master'…" ralat pria yang lebih tua itu. Namun, kelihatannya, Kiyoteru yang sedang berada di alam bahagia nun jauh di sana tidak mendengarnya.
Master terkekeh geli melihatnya (menurutnya, Kiyoteru yang sedang bahagia seperti itu manis sekali). Tapi ia segera kembali serius dan berdehem dengan suara cukup keras. "Ahem! Hiyama-sensei!"
Kiyoteru kembali ke alam sadar. "H-hai!? S-sumimasen deshita, Master!"
"Tidak apa-apa. Saya mengerti," Master tertawa kecil, "Oh, ya, ada satu hal yang harus Anda ingat ketika mengajar di Special Class, Hiyama-sensei."
Kiyoteru diam, hanya menatap master dengan heran.
Senyum misterius yang menyebalkan dan terkesan jahil itu tersungging lagi di bibir Master. Sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, pria aneh itu berkata, "Apapun yang terjadi kepada Anda selama Anda mengajar di Special Class adalah di luar tanggung jawab pihak sekolah."
"Eh?"
"Anda sendiri juga sudah mengatakannya, bukan? Anda tetap bersedia menjadi wali kelas Special Class, apapun risikonya. Anda tidak bisa menarik kembali ucapan Anda, lho."
"E-eh?"
Riiiiing!
Bel tanda dimulainya jam pelajaran berbunyi.
"Baiklah," Master menuntun Kiyoteru keluar ruang kepala sekolah. "Selamat mengajar, Hiyama-sensei!"
"Apa―Tunggu―"
"Sampai jumpa jam pulang sekolah nanti, Hiyama-sensei!"
"Master…!"
Blam!
Master menutup pintunya. Meninggalkan Kiyoteru sendirian di depan pintu.
Kiyoteru mematung, memandangi pintu coklat besar di hadapannya dengan tatapan kosong.
Iya, Kiyoteru memang berkata bahwa ia tetap bersedia mengajar di Special Class, apapun risikonya. Tapi kan itu karena ia terpancing oleh ucapan Master yang sebelumnya dan karena ia sedang terbawa emosi! Jadi ia tidak bisa berpikir jernih! Bukan maksud Kiyoteru juga berkata seperti itu!
"―Tunggu…" Wajah Kiyoteru memucat tiba-tiba. Baru saja, ia menyadari sesuatu. "AKU DIJEBAK MASTEEEEEEEER!?"
Teriakan dan tangisan Kiyoteru yang memilukan hati menggema ke seluruh penjuru sekolah.
Sementara itu, di balik pintu ruang kepala sekolah, tanpa diketahui oleh Kiyoteru, Master tersenyum puas sambil memandangi selembar foto.
"Fufu, akhirnya, kau masuk juga ke sini."
Foto seorang pria muda berkacamata dengan rambut pendek berwarna coklat gelap yang sedang berjalan bersama seorang temannya (yang hanya tampak setengahnya di foto itu).
"Hiyama Kiyoteru-kun."
Foto Kiyoteru.
"Selamat datang."
-つづく-
Siapa sebenarnya Master itu? Kenapa dia begitu misterius? Dan apa yang Master rencanakan?
Saksikan hanya di High School of Trouble chapter 4! *apa sih*
Untuk yang merikues karakter seperti Gender Benders dan UTAUloids, tenang saja, mereka pasti akan muncul, kok, meski tidak termasuk dalam tokoh-tokoh utama dan entah di chapter keberapa. *dor*
Tampaknya, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan iseng di chapter sebelumnya dengan benar semua, ya?
Baiklah, saya beritahu saja siapa mereka.
Kotak-kotak berwarna merah *plak*, err, maksudnya, "Putri Salju": Kaai Yuki
Samurai nyasar: Kamui Gakupo dan VY2 Yūma
Si biru sombong: Kaito
Si kembar: Kagamine Rin dan Len
Frankestein: Gumi
Tuan putri angkuh: Hatsune Miku
Si fujoshi dan temannya: VY1 Mizki dan Lily
Semuanya tidak bisa menebak Yūma, ya, ahaha. *ditendang*
Untuk para VocaUtau yang tidak mempunyai surname, saya berikan surname, seperti Mizki menjadi Kikuno Mizuki (terima kasih untuk Ryuuha Yuna), Rook (UTAUloid) menjadi Inukai Rook, dan Yūma menjadi Kazeno Yūma.
Iya, si Kazeno itu Yūma.
Karakteristik para VocaUtau juga akan saya ubah di fanfiction ini. Jadi, jangan kaget, ya, ohoho.
Lalu, penampilan fisik Yūma dan Mizki di sini memakai wujud unofficial mascot mereka, yaitu 66 (Roro) untuk Yūma dan Kobushi Kiku untuk Mizki.
Roro yang berwujud bishie bertubuh tinggi dan berambut pink dan Kiku yang berwujud gadis berambut pink dikuncir dua.
Silakan lihat di halaman wiki untuk VY1 dan VY2 untuk lebih jelasnya.
Terakhir, Master alias Reiki Naoto di sini adalah OC saya. Tenang saja, Master tidak akan menjadi tokoh utama, kok, hohoho. *dilempar*
~Seiryuu Sakurane
