(Part 2.5)
Esok harinya, untuk pertama kalinya setelah tinggal di puri, Emma menemui masyarakat setempat. Ke pasar terdekat memerlukan waktu limabelas menit dengan mobil, di situlah banyak rumah-rumah penduduk. Dia menemui rumah seorang warga perempuan yang seumuran dengannya. Dia sempat berkenalan dengannya sebelum menempati rumah. Dia yakin pertemanannya akan membuahkan hasil yang diinginkan.
"Kau tahu, kukira kau tidak jadi membeli puri itu! Rupanya kau sibuk merenovasi. Sungguh, selama beberapa minggu ini tak ada warga sini yang menyebut namamu!"
Emma hanya tertawa. Padahal setiap pagi dia melewati desa untuk ke kota dengan mobilnya.
"Tetapi ternyata kau tetap tinggal..." teman perempuan bernama Sherryl itu lalu berkata dengan wajah serius, "Kau hati-hati ya. Aku yakin kemunculanmu hari ini membuat warga yakin sepenuhnya bahwa kau gila!"
Emma menggeleng, "Tak apa. Aku sudah terbiasa."
"Kau benar-benar gila!"
Emma kembali tertawa, "Sudah konsekuensi pekerjaan."
"Hah?"
"Kalau begitu, Sherryl," Emma beranjak dan duduk lebih dekat, "Ceritakan kepadaku semuanya. Tentang legenda Puri Perawan."
(******)
"Kau ingin membantunya, tetapi kau menghancurkan rumahnya, bukankah ini membuatnya marah?" Tim, adiknya, bertanya pada keesokan harinya. Dia berkunjung dengan membawa seekor anjing yang cukup besar dan tangguh. Namanya Chocolade, dari namanya, tentunya anjing ini berwarna coklat, juga Emma adalah pemiliknya. Dia juga membawa peralatan berkebun, semuanya dibawa dengan mobil jeep-nya.
"Aku kan ingin membantu, jadi sudah sepantasnya dia memberikanku tempat tinggal yang nyaman."
Tim hanya menggeleng sekali. Kakaknya suka sekali mengatakan hal-hal yang misterius. Walaupun nadanya seperti wanita pada umumnya, tetapi makna dari perkataannya yang membuat orang bertanya-tanya sekaligus ngeri.
"Jadi, kapan kita akan mulai?"
"Tidak sekarang, kau pulang saja." jawab Emma enteng, dia menggaruk-menggaruk rambut anjingnya yang sudah lama tidak bersua.
"Pulang? Berikan aku sebuah pekerjaan, baru aku pulang."
Emma berdiri, menggendong Chocolade, "Kalau begitu pindahkan itu semua ke gudang di ujung sana."
"Ujung mana?" Tim melihat ke kejauhan, tidak dilihatnya sebuah gudang yang dia yakini sebuah bangunan kecil. Hanya lahan yang kosong. Sebelumnya, beberapa hari yang lalu, kakaknya bilang kalau dia akan bercocok tanam di sini. "Mengapa meletakkan gudang jauh sekali?" katanya saat dia akhirnya melihat bangunan itu diantara pohon dan semak belukar.
"Sepertinya aku membutuhkan transportasi kecil."
"Bagaimana kalau kau tidak usah menanam seluas ini?"
(*******)
Tim tidak bertahan di puri itu sampai waktu minum teh, yang membuat Emma bersyukur karena dia tidak harus mengusir adiknya itu.
Dia mengajak Chocolade ke kamarnya, lalu membuka kotak aksesoris.
"Kita membutuhkan ini nanti malam," dia mengeluarkan sebuah penutup telinga yang agak berbulu. Dia langsung memakainya. Dia juga mengeluarkan kapas-kapas yang besar. "Ya, kau juga memakai ini!" dia tertawa, memakaikannya ke telinga anjingnya. Chocolade hanya bisa menjulurkan lidah, berkedip bingung.
Malam akhirnya tiba, Emma menyalakan semua lampu.
"Siap, Choco?"
Tanpa berlama-lama lagi, dia berjalan ke tangga menuju lantai atas. Chocolade otomatis menyusulnya. Mereka tiba, lalu melewati ruang demi ruangan, hingga akhirnya berhenti di sebuah ruangan yang dinding luarnya agak besar. Untuk menuju ruangan itu, harus melewati pintu yang kayunya sudah lapuk dan tua, dibanding kayu di pintu -pintu ruangan lain. Tak hanya kayu, motif pintu ini juga berbeda. Emma membukanya. Tak hanya pintu, apapun yang berada di dalam ruangan ini berbeda dengan ruangan lain di bagian manapun di puri ini. Setidaknya, itu setelah pemugaran.
Emma menebar pandangannya ke ruangan tanpa cahaya itu. Dia lalu menyalakan senternya. Isi dari ruangan itu pun terlihat. Langit-langit yang tinggi dan tua, jaring laba-laba di mana-mana. Dari segala ruangan di puri ini sekarang, ruangan inilah yang terbesar.
"Aku yakin ini tempat yang tepat!" Emma berkata dengan perlahan, berusaha agar tidak terdengar nada ketakutan. Dia menatap ke atas, ke langit-langit, penuh keyakinan.
Sejak pintu dari berabad-abad yang lalu itu terbuka, ruangan itu hening. Hingga akhirnya sesuatu itu pun di mulai. Tepat seperti apa yang Emma perhitungkan.
Awalnya hanya desiran angin, perlahan membesar, meniupkan apa saja, menimbulkan suara yang hebat, lalu cahaya-cahaya muncul. Suara angin yang membesar, kemudian menimbulkan kebisingan lalu teriakan yang luar biasa kencang.
Seperti hari sebelumnya, yang dikatakan Sherryl kepadanya. Bahwa kejadian puri akan "berteriak-teriak" adalah malam ini. Malam menyambut pergantian musim. Yang merupakan salah satu dari malam-malam "spesial".
Diantara cahaya-cahaya yang putih berpendar, muncul cahaya hijau yang menyilaukan mata, berputar-putar.
Emma menyipitkan matanya, berusaha untuk terus melihat.
Dia mengharapkan sesuatu yang lain dalam penglihatannya.
Sebuah sosok akhirnya muncul. Diantara cahaya-cahaya itu, Emma dapat melihatnya. Perlahan makin jelas.
Emma tersenyum, "Akhirnya kita bertemu, Hantu.. atau bisa langsung kupanggil, Tuan Arthur Kirkland?"
