INI BONUS CHAPTER SEBAGAI PERMOHONAN MAAF DAN UCAPAN TERIMA KASIH UNTUK SUPPORT KALIAN.

DAN UNTUK CUTTING DI CHAPTER INI, SAYA SUDAH SIAP UNTUK MENERIMA DEMO KALIAN, KARENA SAYA AKAN MENG-CUT DI BAGIAN YANG AMAT SANGAT SERU. /DEVIL LAUGHS/

Dan setelah ini saya akan menunggu review sampai 269 baru saya update chapter selanjutnya, kenapa?

Bukan saya gila review, hanya saja saya suka dengan angka 69, dan berhubung chapter selanjutnya bertemakan PWP, saya mau review yang paling tidak sedikit yeah I think you know what I mean. /chuckles/

Ada yang bilang Sehun straight dan polos. Hell, saya orang pertama di sunia yang tidak percaya bahwa Sehun itu polos. hahaha

ikuti saja yaaa, dan kalian akan tahu. /wink/

SELAMAT MEMBACA.

.

.

Rasanya Luhan ingin mati saja sekarang. Bagaimana tidak, ia terjatuh dengan posisi yang terlalu intim dengan tetangga barunya yang bahkan dapat membuatnya ereksi di hari pertama mereka bertemu.

Sedangkan Sehun yang tidak siap saat Luhan jatuh menimpanya, secara refleks memeluk pinggang ramping Luhan. Belum lagi nafas hangat Sehun yang menerpa lehernya, apalagi bokongnya yang tepat berada di selangkangan Sehun. Luhan bisa merasakan bahwa benda itu cukup besar dan panjang.

Sekarang Luhan malam membayangkan satu tangan Sehun menyusup ke dalam bajunya dan memainkan nipple mungilnya, sedangkan tangannya yang lain turun memanjakan penisnya. Luhan juga membayangkan bibir Sehun menjelajahi tiap inci kulit lehernya. Dan sekali lagi semua itu membuatnya turn on.

"Ugh hyung, ternyata kau cukup berat." Ucapan Sehun membuat Luhan kembali ke alam sadar dan segera bangkit dari atas tubuh Sehun. Ia duduk dengan menekuk kakinya di dada untuk menutupi ereksinya.

Ia mengutuk Sehun yang sudah membuatnya ereksi dua kali. Sekarang ia mati-matian menahan sakit pada kejantanannya yang mengeras tapi malah tertutup rapat.

"Wah, wajahmu sampai memerah dan berkeringat begitu hyung. Benar-benar panas sekali ya?" Tanya Sehun sambil mengipasi Luhan juga dengan bukunya.

"NEEEE, panassss sekaliiii. Kenapa kau tidak pulang saja huh?" Sahut Luhan ketus.

"Tidak mau. Ah hyung, bagaimana jika kita ke balkon kamarmu saja, disana pasti sejuk. Ayo hyung, yang itu kamarmu kan?" Sehun menarik tangan Luhan lalu menyeretnya menuju pintu berwarna baby blue dan terdapat gantungan kepala rusa di depan pintunya.

Luhan hanya pasrah di tarik oleh Sehun. sebelah tangannya digunakan untuk menutupi ereksinya.

"Wah, kamarmu lucu sekali hyung, aku jadi meragukan gendermu." Sehun memperhatikan seisi kamar Luhan yang terlihat bersih dan juga wangi. Apalagi Luhan adalah pecinta rusa dan hello kitty, Sehun jadi melupakan tujuan awalnya menuju balkon.

Saat berjalan, Sehun tidak sengaja menginjak kaku boneka rusa raksasa milik Luhan yang ada di sudut kamar.

"YAAA BAMBIKU!" Teriakan Luhan membuat Sehun meloncat karena panik, dan itu membuatnya tidak seimbang sehingga menabrak Luhan yang sedang berjongkok di depan bambinya.

"Akhh appo." Luhan memegangi punggungnya yang tertabrak lutut Sehun.

"H..hyung m..mian, aku tidak sengaja." Sehun panik melihat Luhan kesakitan seperti itu, ia membantu Luhan menyandar pada bambinya.

"Hyung aku ambilkan air ne." Tawar Sehun panik. Namun Luhan lebih panik lagi karena tangan kiri Sehun yang diletakkan di atas pahanya. Belum lagi wajah Sehun yang terlalu dekat membuat Luhan kembali merona.

Luhan bisa merasakan penisnya semakin mengeras, ia hanya berharap Sehun terlalu panik hingga tidak menyadari ereksinya yang menggembung. Sehun memang terlihat sangat panik, tapi dengan tubuh setengah telanjangnya itu membuat Luhan tidak tahan untuk tidak menandai tubuh sexy Sehun.

" , hhh." Nafas Luhan mulai emberat dan wajahnya yang memerah kini mulai berkeringat. Sehun berfikir Luhan akan pingsan, ia jadi semakin panik.

"Tunggu sebentar aku ambilkan air, jangan pingsan dulu, ok?" Sehun segera berlari keluar meninggalkan Luhan yang sibuk dengan imaginasinya.

Tak lama Sehun kembali membawa segelas air yang sudah setengah dingin karena ada pemadaman listrik. Sehun membantu Luhan minum dan menyeka keringat di dahi Luhan.

"Apakah sakit hyung, maafkan aku." Di mata Luhan, sajah Sehun tampak sangat menggairahkan jika sedang panik. Tapi ia cepat-cepat menepis pikirannha itu sebelum Sehun menyadari ereksinya.

Luhan bingung, biasanya jika ia turn on, lalu ada sesuatu yang membuatnya down, ereksinya akan tidur kembali. Tapi kali ini ereksinya malah semakin membengkak. Mungin efek dari tokoh imajinasi kotornya kini ada di hadapannya.

"Gwaenchana Sehun-ah." Suara Luhan terdengar parau karena menahan nafsunya sendiri. Ia bermaksud berdiri, tapi punggungnya terasa nyeri.

"Sshh appo." Luhan kembali menyandar pada bonekanya.

"Hyung naik ke atas ranjang ne, aku akan melihat apakah punggungmu memar atau tidak?" Sehun menggendong Luhan ke atas ranjang dan merebahkannya perlahan.

Pada dasarnya Luhan memang selalu berpikiran kotor terhadap Sehun, ia malah menangkap suara Sehun menyuruhnya telungkup di atas ranjang sementara Sehun memberi kissmark pada punggungnya.

Apalagi Sehun menggendongnya ala bridal style, membuatnya berpikir Sehun akan menindihnya setelah mereka sampai di ranjang.

"Hyung berbaliklah." Ucapan Sehun bagai lagu terindah yang pernah Luhan dengar. Ia bahkan mengabaikan sakit pada penisnya yang tertindih.

Saat Sehun meningkap kaosnya, Luhan mendesis geli, tapi Sehun mengartikannya bahwa itu cukup sakit saat kaos Luhan enggesek punggungnya, jadi ia memelankan gerakannya.

Luhan merasakan tangah besar dan hangat milik Sehun menyentuh punggungnya dan sedikit mengusapnya. Luhan endesah keras membuat Sehun bingung.

"Apakah sakit hyung?" Tanya Sehun.

"Jangan berhenti Sehun-ah, lakukan lagi, nghh." Sehun yang binging pun mkembali melakukannya dan Luhan mulai mendesah lagi.

Entah mengapa Sehun merasa aliran darahnya terpompa pada satu titik di antara selangkangannya. Ia ukan namja polos yang tidak mengerti bahwa ia terangsang mendengar suara lembut Luhan.

'Pabo, kau itu bukan masokis, dia kesakitan kenapa kau malah terangsang' Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya dan berhenti mengusap punggung Luhan.

"H..hyung, a..aku kembali ke kamarku ne? Ada tugas rumah yang belum ku kerjakan, hehe." Luhan mendudukan dirinya dan bersandar pada headboard. Ia kecewa karena Sehun akan pulang, berarti ia akan sendirian.

Tapi kemudia ia tersenyum yang menurut Sehun cukup mengerikan. Ia merasa sesuatu akan terjadi padanya. Sehun tidak merasa sesuatu buruk, tapi tidak juga baik.

"Sehunnie~" Panggil Luhan manja.

"N..ne hyung?" Cicit Sehun. ia merutuk kakinya yang seperti mati rasa.

"Aku ikut ne, bbuing bbuing." Sehun ingin mengubur dirinya hiduo-hidup setelah melihat bbuing bbuing Luhan. Bagaimana bisa namja yang bahkan lebih tua darinya bisa terlihat begitu menggemaskan saat melakukan aegyo.

"Aku kesepian disini." Sehun merasa janggal dengan kata kesepian yang di maksud Luhan.

"Bagaimana jika kita bermain di apartementmu?" Dan Sekali lagi Sehun menangkap maksud lain dari kata 'bermain' yang di ucapkan Luhan.

"B..bermain?" Ulang Sehun dan Luhan mengangguk lucu, ia berdiri membuat Sehun semakin gugup.

"Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat." Luhan menunjuk ereksinya.

"Kau ereksi lagi?" Tanya Sehun heran dan Luhan kembalu mengangguk lucu.

"Kali ini apa lagi?" Tanya Sehun tapi ia sudah tidak gugup, melainkan bingung dengan hormon testosteron Luhan yang menurutnya berlebihan.

"Tentu saja karena sesuatu yang sexy dan menggoda." Ucap Luhan genit. Membutuhkan beberapa menit untuk Sehun mencerna maksud Luhan, sebelum akhirnya menyadari sesuatu.

Sehun mendekati Luhan dengan memasang wajah datarnya, ia menatap tajam pada bola mata serupa rusa milik Luhan. Luhan tidak takut Sehun menatapnya seperti itu, karena baginya Sehun sangat sexy dengan flat facenya.

Sehun berdiri tepat di depan Luhan dengan jarak yang tidak lebit hanya selebar telapak tangan saja. Luhan mendongak menatap Sehun, ia memasang wajah menantang tapi dibuat sesexy mungkin.

"Sepertinya aku mengrti dengan yang kau maksud sexy dan menggoda it." Sehun menampilkan smirknya.

Luhan terkekeh lembut sebelum meletakkan jari telunjuknya pada dada bidang Sehun dan mendorong kecil hingga Sehun mundur sekitar dua langkah.

"Kalau begitu biarkn aku menyelesaikannya dengan cepat, setelah itu aku akan menunjukkan betapa sexy dan menggodanya sesuatu itu. Kau bisa menguping jika mau." Luhan menyempatkan diri mengecuk sudut bu\ibir Sehun sebelum melesat ke kamar mandi.

Tapi belum sempat Luhan beranjang, Sehun menahan lengannya dan menghempaskannya hiangga ia memantul di atas ranjang. Sehun meletakkan lutut kanannya di samping pinggul Luhan dan kedua tangannya di sisi kepala Luhan.

"Akan lebih cepat jika sesuatu yang sexy dan menggoda itu membantumu deer." Sehun berbisik setelah menempelkan hidung mereka. Hanya hidung!

Luhan sedikit menjauhkan wajah Sehun lalu melingkarkan tangannya pada leher Sehun.

"Ouh, kau terlalu dekat sayang. Dan juga terlalu cepat. Bagaimana jika sesuatu yang sexy dan menggoda itu melihat pertunjungan dari rusa jantan. Kudengar ia sangat menggairahkan." Bisik Luhan sexy di akhir kalimatnya.

Sehun menarik diri lalu melipat tanganya di depan dada lalu berkata, "Bisa kau mulai sekarang deer?" Sehun memasang poker facenya.

"Hm, kau tau, aku sangat suka saat ia memasang wajah datarnya, ia semakin terlihat sexy dan menggoda." Luhan kembali meletakkan kedua tangannya pada bahu telanjang Sehun. Sehun tidak berkomentar apapun, namun matanya mengikuti setiap gerak-gerik Luhan.

Luhan berjalan mengitari Sehun lalu berhenti di belakangnya. ia melepas kaosnya dan menyampirkannya pada bahu kanan Sehun. Sehun hanya melirik sekilah kaos itu dan menunggu apa yang akan di lakukan oleh Luhan.

Ternyata rusa jantan itu memeluk Sehun dari belakang dan menempelkan pipinya pada punggung telanjang Sehun. Sehun bisa merasakan dua tonjolan mungil yang mengeras menempel di punggungnya. Setelahnya Luhan membuat pola abstrak di dada Sehun lalu berjinjit dan berbisik pelan, "You're a dangerous neighbors at once seductive." Luhan mengecup sensual tengkuk Sehun dan meniupnya pelan membuat Sehun merinding.

Ia melepas pelukannya dan kembali berada di depan Sehun. Sehun berusaha untuk tidak terlihat bernafsu melihat kulit telanjang Luhan.

"Bagaimana jika aku melakukan pole dance, dan kau sebagai tiangnya? Hm, kurasa sedikit striptise juga tidak masalah." Sehu tetap tidak merespon, dan Luhan juga tiadk peduli dengan hal itu.

"Aku pandai menari, jika kau ingin tau." Bisik Luhan. Ia melepaskan lipatan tangan Sehun lalu mengambil kaosnya dan melempar asal. Ia berbalik lalu menyandar pada dada Sehun dan menarik tangan Sehu untuk memeluk pingganya. Ia mengangkat tangannya menuju leher Sehun dan menariknya mendekat lalu mengecup beberapa kali jaw line Sehun sebelum melepaskan diri.

Ia kembali berjalan ke belakang dan melingkarkan tangannya menuju kancing celana Sehun. Saat akan membuka, Sehun mencegah tanganny lalu menoleh padanya. Luhan segera menepisnya dan berkata, "Bukankah tiang itu polos?" Setelahnya ia meloloskan jeans hitam milik Sehun. Luhan mengusap paha dalam Sehun dengan lembut, membuat tubuh Sehun menegang.

"Seorang stripper biasa menjilat propertinya agar terlihat semakin menggarahkan." Setelah berucap demikian, Luhan lalu menjilat leher belakang Sehun dengan gerakan sensual. Ia berjalan ke depan dan merebahkan diri di ranjang. Ia menekuk kakinya dan mengangkat pinggulnya untuk melepas boxernya.

Setelah lepas, Luhan kembali membelakangi Sehun dan dengan sengaja menempelkan bokongnya tepat pada penis Sehun yang mulai mengeras. Ia menaik-turunkan pinggulnya menghasilkan geraman sexy dari sehun. Sehun membawa tangannya pada nipple mungil Luhan dan bibirnya pada leher Luhan, tapi Luhan cepat menghindar.

"Disini aku yang bekerja sayang." Luhan kembali mengangkang lalu mengusap pelan penisnya yang sudah sangat keras.

"Ahh." Desahan pertama Luhan membuat Sehun merasa pertahanannya semakin menipis.

Luhan menarik underwearnya, tapi ia tidak melepasnya melainkan menurunkan sedikit, hingga terlihat kepala penisnya yang memerah dan mengkilay karena precum.

Ia berdiri dan meraih jari telunjuk tanga kanan Sehun untuk mencoleh cairannya. Ia menatap wajah Sehun yang memerah penuh nafsu, lalu mengulum sexy jari tengah Sehun. Ia menjilat dan mengigit kecil jari itu dan membuat erangan-erangan kecil untuk memancing libido sehun.

Sehun merasa nafasnya semakin berat dan penisnya semakin sesak dalam boxernya. Luhan melepas kulumannya lalu benar-benar melepaskan underwearnya, dan sekarang ia full naked.

Sehun sudah hampir mendorong Luhan ke atas ranjang jika tangan Luhan tidak menahan gerakannya.

"Pertunjukan belum berakhir babyhh." Luhan menurunkan boxer Sehun sampai terlepas dari kakimya lalu mengusap penis Sehun.

"Dia sudah sangat siap ternyata." Luhan menunduk lalu menggigit penis Sehun dari balik underwearnya.

"Sshh." Satu desisan lolos dari bibir Sehun membuat Luhan tersenyum menang.

"Cukup! Kau mengahabiskan kesabaranku naughty deer!" Sehun mendorong Luuhan kencang membuatnya memantul di atas ranjang, lalu menindihnya. Saat Sehun akan menciumnya, Luhan menahan dada Sehun

"WAE!" Teriak Sehun frustasi. Luhan terkekeh kecil dan berkata, "Sabar sayang, tidak semudah itu memasukiku. Kau harus membuatku klimaks terlebih dahulu..." Sehun sudah akan mengulum penis Luhan, tapi ia memandang tak percaya setelah luhan menyelesaikan kalimatnya.

"...tanpa menyentuh penisku."

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

GIMANA? KALIAN EMOSI, MARAH SAMA SAYA? LUAPKAN DI KOLOM REVIEW. HAAHAHAHA

MAAFKAN SAYA YAAAAA /HUGS YOU/

Ah ya, utk FF satunya, saya masih merancang, mohon sabar yaaa~ /kiss you/