.

.

.

.

"Anak itu akan merasakan akibatnya karena telah melukaimu dan membuatmu seperti ini Lay. Tenang saja, ibumu ini tak akan membiarkan siapapun mengurangi kencantikanmu..." Ibu Lay mengusap dahi anaknya dengan penuh kasih sayang, namun bukannya senang Lay malah cemberut.

"Ibu, kenapa sih ibu benci banget sama Tao? Tau gak sih? Tao itu gak bermaksud ngelakuin ini ke aku, aku tau kalau Ayah itu keras banget sama Tao-ie, makanya aku gak keberatan kayak gini selama Tao gak mati di tangan ayah..." Lay mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi ibunya.

Walaupun tidak sedarah, Lay sangat menyanyangiki stepsisternya itu. Lay tahu kalau ayah mereka adalah pria bertangan dingin. Dan Lay juga tahu kalau ayah mereka, sangat mengharapkan Tao untuk menang. Sebenarnya sih bukan berharap lagi, melainkan mengharuskan Tao untuk menang, kalau tidak, mungkin Tao akan bonyok di sana sini. Dan sebagai seorang 'kakak' yang baik, Lay tidak ingin hal itu terjadi pada adiknya. Ia tidak ingin itu terjadi pada Tao.

"Tapi nak, kamu gak mungkin bisa menghalangi ibu untuk membuat anak itu membayar perbuatannya padamu. Ini sudah melebihi batas. Anak ibu yang cantik ini sudah terluka... Dan lihat, bukan cuman lecet sana-sini, tulang rusukmu patah 3 biji! 3 biji Lay! Kau bisa mati kalau saja lebih dari itu yang patah..." Ibu Lay berusaha meyakinkan anaknya kalau perbuatannya itu benar.

Perbuatannya?

Ya, Ibu Lay akan melakukan segala sesuatu untuk membuat Tao muncul di gedung pengadilan dan mengakui kalau di pertandingan itu dia berbuat curang.

1. Agar Lay diakui sebagai pemenang

2. Karena Ibu Lay memang benci pada Tao, dan Ia menunggu waktu yang cukup lama untuk melampiaskan kebenciannya yang datang enah dari mana itu

Berita yang tersebar (tetu saja disebarkan oleh Ibu Lay, dan yes... it's fake) menyatakan kalau Tao-lah yang berbuat curang, dan "went overboard" saat pertandingan itu. Dan, hal itu menyebabkan Tao tidak aman lagi berada di mansionnya.

Saat berita itu tersebar, Tao langsung berpikir cepat. Dan pada waktu itu, hanya ini yang bisa Tao lakukan.

-Flashback-

Tao's POV

"Saat ini, ex-pemenang perlombaan wushu nasional, Huang Zi Tao, sedang dicari oleh beberapa instansi keamanan untuk dibawa ke pihak berwajib dan diadili atas kecurigaan pada kecurangannya selama pertandingan yang menyebabkan luka parah pada tubuh lawannya. Karena ibu dari pihak korban yang memberikan perintah merupakan orang yang cukup berpengaruh di masyarakat, maka nampaknya, pencarian ini akan tersebar ke seluruh China, karena nampaknya Huang Zi Tao telah kabur dari rumah kediaman Huang."

Fuck yeah. Aku tahu ini akan terjadi cepat atau lambat.

Aku segera memanggil Jessica-ssi ke kamarku. This has to be fast. Pikir Tao.

Flipping fast.

Ibu dan ayah serta Yixing-xie sedang di rumah sakit, dan nampaknya sebentar lagi orang-orang suruhan 'ibu'ku akan menyeretku ke pengadilan, atau tempat lainnya yang mengerikan.

Tempat yang aneh buat orang yang sebenarnya tidak bersalah bukan?

Ah~ sudahlah. Sekarang lebih baik Jessica-ssi cepat da-

Ah... itu dia

"Jessica-ssi aku dica-" sebelum aku sempat melanjutkan perkataanku maid cantik nan jangkungku itu sudah menyerocos duluan.

"Aku sudah menyiapkan tiket perjalananmu ke Korea Selatan, aku juga sudah menyiapkan seorang supir yang akan membawamu ke Guangzhou airport. Semua bajumu, dan semua yang kaubutuhkan ada di dalam sini. Sesampainya kau di Incheon airport, segera berjalan ke alamat yang kutaruh di kantong paling depan tas yang ini. Jangan lupa pakai contact lens ini, juga pakai masker ini." Jessica-ssi langsung menarik napas panjang setelah menjelaskan hal yang panjang lebar juga kepada Tao.

"Eung... Jessica-ssi... aku... jadi aku harus..." Aku menggaruk-garuk kepalaku karena masih bingung dengan perkataan Jessica-ssi yang coretsangatcoret cepat itu

"Sudah, pokoknya kau bawa barang-barang ini ke mobil yang sudah menunggu di bawah. Jangan banyak cing-cong. Kami di sini akan mengcover kepergianmu. Kami tahu kalau kau tidak curang di pertandingan waktu itu..." Jessica-ssi melontarkan senyuman angelicnya padaku. Ah~ coba saja ibuku masih di sini, aku pasti memintanya untuk menjadikan Jessica-ssi sebagai kakak angkatku. Eh... tunggu...

"Kami? memang ada siapa saja?" Aku menggaruk lagi kepalaku yang tidak gatal, karena memang kapasitas otakku tidak lebih dari milik seekor bagyi udang (?) maksudnya... aku ini lemot. Entah dapetnya dari siapa.

"Kami, semua maid, butler, dan pekerja di sini... asal kau tahu saja, kami bekerja di sini karena kami tahu kaulah yang membutuhkan kami, bukan ibumu, atau Lay, ataupun ayahmu. Kami tidak akan berkata satu katapun, meskipun itu berarti nyawa kami melayang.

We crossed our hearts...

Kami tau kau pasti bisa membuktikan kebenarannya suatu hari. Saat ini yang bisa kau lakukan hanyalah berlari, dan sembunyi. Dan... Jangan pernah melihat ke belakang..." Jessica-ssi mendorongku keluar dari kamar, dan membantuku membawa barang-barangku.

"Okay, all set and ready to go unjeonsa-nim! Kami titip Princess Panda kami ya~" Jessica sepertinya menangis -itu sih dari pengelihatanku melalui contact lens biru yang super gatal ini-

Tapi sepertinya, dia hanya berakting dan pura-pura membersit hidungnya ala artis-artis kawakan itu.. Cih... tetap saja, dia pasti kesepian tanpaku. Sekarang, sepertinya aku hanya bisa mengikuti kata ingstingku. Aku memakai maskerku dan melihat rupaku di cermin kecil.

"Lumayan juga... sepertinya dugaan bahwa aku punya sedikit darah bule itu benar... Aku cocok dengan mata biru." Aku tersenyum kecil melihat pantulan diriku di cermin itu.

"Good bye China, Good bye mom..." ungkapku dalam hati...

Tao's POVend

-Flashback End-

Author's POV

Di pesawat kelas eksekutif itu, -ya nampaknya Jessica-ssi masih peduli pada Tao, dengan membelikanya tiket kelas eksekutif- Tao duduk sendirian, dan nampakna di penerbangan itu memang hanya ada

sangat sedikit orang, yang rata-rata adalah bapak-bapak dan ibu-ibu...

Tao mulai merasa sedikit takut, karena kalau boleh jujur, walau dia super kaya, ini adalah kali pertama Tao menaiki pesawat, terutama sendirian. Selama ini ayah Tao tidak pernah membiarkan Tao pergi kemanapun, karena sebenarnya semua yang Tao butuhkan sudah ada di mansionnya, dan yang kedua,

ayahnya itu sebenarnya agak terlalu posesif, dan overprotektif pada Tao, sehingga Tao tidak pernah diinjinkan pergi sendiri, minimal 3 orang bodyguard mengikutinya.

Hal ini jugalah yang mebuatnya -hampir- tidak memiliki teman. Dia juga mencap dirinya sebagai seorang ansos.

Perjalanan dari China ke Korea bukanlah perjalanan yang singkat dan hanya memakan waktu 1 atau 2 jam. Maka itu, setelah 20 menit pertama, Tao sudah bosan setengah mampus.

Satu jam kedepan, Tao berusaha untuk tidur, namun yang ada selama Tao berusaha untuk tidur, fragmen-fragmen masa kecilnya yang ia cari waktu itu, mulai muncul sebagai mimpi di alam bawah sadarnya.

.

.

.

A/N : Oke, di sini author biarkan menggantung sedikit. Ntar di chappie selanjutnya author bakal kasih sneak peak tentang Kristao moment di masa lampau. Masa yang udah terlupakan, sepertinya tertangkap lagi sama memori Tao. Cuman Tao gak tahu siapa nama orang yang membantunya dulu...

Rate and Review please?

And thanks for your previus reviews! I really appreciate it!

*bow *bow *bow