Fluorescent: Gasoline
tryss (c) 2018
.
Starring by Park Woojin and Ahn Hyungseob as a GIRL
.
.
.
❝ Well my heart is gold, and my hands are cold. ❞
Hyungseob meraih pergelangan tangan Woojin, menarik pemuda yang masih mengunyah rotinya itu berdiri sambil menatapnya bingung. Seminggu ini tidak ada interaksi berlebihan dari keduanya, apalagi saat berada di sekolah seperti sekarang. Minggu kemarin mereka baru saja jotos-jotosan dengan anak daerah lain, jadi minggu ini mereka fokus memulihkan diri.
Kantin begitu ramai dan Hyungseob cukup tahu diri untuk tidak membuat keributan. Gadis itu buru-buru menarik Woojin ke area lapangan sekolah (diikuti dengan pandangan heran oleh warga kantin) dimana saat jam makan siang, lapangan akan sangat kosong.
Mereka duduk di kursi dekat keran minum, mengabaikan cuaca yang cukup terik.
Hyungseob menatap Woojin nyalang, gadis ini sepertinya tengah menahan tangis. Woojin sendiripun masih bingung ada apa gerangan dengan teman berkelahinya yang satu ini. Tidak biasanya Hyungseob melayangkan tatapan seperti ini. Hati Woojin seakan remuk melihat sorot mata Hyungseob yang terluka.
"Kenapa?" Hyungseob memulai dengan suara lirih,"Kita hanya berteman, kan?"
Pada akhirnya, Woojin membisu.
"Woojin-ah, bukan ini yang aku inginkan dari pertemanan kita," Woojin semakin takut membuka suara kala Hyungseob mulai menangis,"Kita hanya berteman—"
"Sejak awal aku tidak pernah menganggapmu teman, maaf sekali," Woojin menyadari Hyungseob yang beringsut mundur,"bagiku kamu tetap seorang gadis yang ingin kuajak kencan."
"Tidak bisa, Woojin. Kita tidak bisa membangun hubungan yang lebih jauh dari ini—"
"Kamu menyukaiku, iya, kan?"
Pupil Hyungseob lari kesana kemari, seolah berusaha menghindar dari tajamnya tatapan Woojin yang menyudutkan walaupun pada akhirnya Hyungseob menyerah,"Jika aku menjawab iya, semuanya akan tetap sama. Tidak boleh ada hubungan seperti itu diantara kita."
"Jika begitu, katakan padaku alasannya. Buat aku mengerti."
"Aku tidak bisa—"
"Jangan main-main dengan perasaan, Hyungseob-ah. Kita akan sama-sama terluka jika tertutup satu sama lain."
Woojin dan Hyungseob tidak akan pernah bohong dengan perasaan mereka. Memiliki satu sama lain, saling melindungi dalam perkelahian dan dulunya terbiasa sendiri, kini keduanya dapat mengisi sisi kosong masing-masing tentu menimbulkan rasa yang lain. Namun, sekalipun sadar dengan perasaan masing-masing, mereka tetap diam dan enggan mengungkapkan secara jelas.
Buruknya, manusia selalu tidak puas dengan apa yang harusnya sekarang disyukuri. Woojin mulai serakah untuk memiliki Hyungseob.
Hyungseob menghela nafasnya kasar, kelihatan sekali bahwa si gadis tengah putus asa dengan sikap Woojin yang tidak ingin mengerti. Bohong jika dia tidak jatuh cinta pada Woojin, namun dia tetap tidak bisa melanjutkan hubungan semacam ini.
"Adante Club, pukul satu malam. Kutunggu disana."
Saat sadar, Woojin hanya melihat punggung sempit Hyungseob yang keluar dari area sekolah dengan tudung jaket yang menutup kepalanya, meninggalkan sejuta pertanyaan di kepala Woojin.
[ ◆ JINSEOB ◆ ]
(ADANTE, 1:15 AM)
Begitu Woojin melangkah masuk, yang didapatinya adalah kerumunan manusia; gadis-gadis berpakaian terbuka dan laki-laki berhidung belang, tengah meliukkan tubuh bersama-sama, menggerakkan tubuh mereka instens untuk saling menggoda satu sama lain. Tak ayal, ada pula yang sudah larut dalam nafsu dan berciuman di tengah lautan manusia. Lebih buruk lagi yang berada di pojok ruangan.
Sambil melangkah ke bar di ujung ruangan, gadis-gadis akan menggodanya, bahkan sempat untuk meraba beberapa bagian tubuhnya. Karena memang pada dasarnya Woojin adalah seorang pemuda brengsek, tangan nakalnya sempat meremas salah satu bokong gadis yang menggodanya dan meninggalkan gadis itu begitu saja saat melihat Hyungseob melayangkan tatapan tajam padanya dari meja bar.
Calon gadisnya tengah cemburu rupanya.
"Senang dapat mainan?" Si gadis pucat meneguk minuman beralkoholnya dengan tenang padahal mereka belum legal untuk hal-hal seperti ini.
Penampilan Hyungseob memang tidak terlalu berbeda saat bertemu dengan Woojin; celana hitam ketat, kaos tanpa lengan yang longgar dan jaket. Lagian walaupun sesimple itu, Woojin akan tetap jatuh cinta tapi kali ini Hyungseob terlihat lebih segar dengan gaya rambut ponytail.
Cengiran Woojin tidak luntur sejak melihat Hyungseob, melupakan fakta bahwa tadi siang mereka sempat mengalami pertengkaran. Setelah duduk dan memesan minuman, mereka terdiam sejenak sambil menunggu bartender menyajikan minum untuk Woojin. Begitu segelas minuman beralkohol tersedia di hadapan Woojin, si bartender segera menyingkir ke tempat lain, menyadari bahwa satu-satunya gadis diantara mereka bertiga, mengusirnya dengan isyarat mata.
"Woojin-ah..." Panggil Hyungseob setelah meneguk alkoholnya.
"Apa?"
"Maaf untuk yang tadi siang." Hyungseob terlihat malu hanya untuk membalas tatapan elang dari Woojin dan memilih memainkan gelasnya seperti orang bodoh,"Aku tidak ingin bohong kalau aku menyukaimu, tapi akan sangat berbahaya bagi kita hidup dalam hubungan sepasang kekasih."
"Memang apa yang berbahaya?" Woojin meneguk minumnya pelan, meresapi bagaimana rasa minuman itu menusuk lidahnya sebelum mengalir masuk ke lambung.
"Keselamatan kita berdua." Hyungseob memutar tubuhnya, mengamati barisan sofa VIP di seberang ruangan yang lain. Mau tak mau, Woojin ikut memutar dan mengikuti kemana arah mata Hyungseob menatap.
Woojin sadar sejak tadi Hyungseob terus saja memeriksa jam di ponselnya. Gadis itu seperti tengah menunggu momen tertentu. Ini jelas hal yang aneh, karena selama mereka pergi berdua, Hyungseob selalu mengabaikan seberapa cepat waktu berjalan diantara keduanya. Tak ayal, Woojin mulai menaruh curiga pada Hyungseob dan orang orang yang duduk di deretan sofa seberang ruangan.
"Kita bisa tetap saling melindungi seperti sebelumnya, apa yang perlu dikhawatirkan?"
Hyungseob tertawa pelan, namun Woojin dapat mendengar intonasi takut dari tawa itu. Apakah sangat membahayakan sampai Hyungseob berusaha tutup mata akan rasa yang ada?
"Lawan kita bukan hanya berandalan kecil seperti sebelumnya. Mereka akan membawa puluhan orang bersenjata hanya untuk menghabisi kita berdua."
"Kenapa—"
"Lihat saja."
Si gadis menaruh gelasnya yang kosong bersamaan dengan tubuhnya yang menegak. Kaki rampingnya melangkah stagnan membelah kerumunan manusia di lantai dansa. Woojin mau tak mau ikut meletakkan gelasnya, bersiap dengan apa yang akan Hyungseob tunjukkan sambil menikmati atmosfir yang ada.
Sejatinya, manusia bukanlah makhluk yang bisa menebak masa depan.
Woojin melebarkan matanya, menyadari Hyungseob menarik sebuah pistol dari balik jaket kulitnya. Kejadiannya begitu cepat, Hyungseob mengarahkan moncong pistolnya ke arah seorang pria paruh baya bertubuh gempal yang segera di tutupi dengan bodyguard bertubuh kekar dengan jas hitam. Keadaan semakin tidak terkendali kala orang-orang berpakaian bebas berusaha membantu Hyungseob dengan baku tembak.
Woojin berpindah tempat ke balik meja bar, bersembunyi bersama bartender tinggi yang tadi sempat melayaninya. Ia masih terlarut dalam rasa kagetnya, tidak menyangka bahwa tangan kurus Hyungseob mampu menahan pistol hanya dengan satu tangan.
Si bartender menyenggolkan bahunya ke bahu Woojin, menampakkan senyum misterius pada Woojin,"Mau tahu?"
"Apa?"
"Calon kekasihmu itu seorang pembunuh bayaran."
Ditengah-tengah keributan itu, Woojin kehilangan akal sehatnya, mengabaikan ributnya sahutan pistol dan peluru yang menyasar, ia kembali larut dalam lamunan yang tak berdasar.
[ ◆ JINSEOB ◆ ]
Pagi pagi sekali, Woojin terbangun di sebuah kamar asing dengan gorden jendela yang terbuka, menyadari matahari bahkan belum menampakkan sinarnya. Suhu pendingin ruangan menyerang tubuhnya yang lelah tanpa ampun. Masih diserang kantuk berat, Woojin mencoba menyusun kembali memorinya sebelum datang kemari, namun ia tidak mendapatkan informasi apapun.
CKLEK
Woojin mengangkat kepalanya, menoleh ke arah salah satu dari dua pintu di kamar itu.
"Sudah bangun?"
Sebenarnya ada apa ini? Batin Woojin.
Rasanya mau mati saja saat sadar yang keluar dari balik pintu yang Woojin yakini sebagai kamar mandi adalah Hyungseob berbalut bathrobe dan rambut panjang yang basah. Kemudian selanjutnya ia menyadari bahwa tubuhnya juga hanya tertutup oleh selimut tanpa ada kain yang lain.
"H-hyungseob?"
Woojin terus mengikuti gerak gerik Hyungseob yang duduk didepan meja rias untuk mengeringkan rambut.
"Tumben memanggil namaku." Gadis itu menjawab acuh,"Mandi sana." Ujarnya kemudian.
"Sebenarnya apa yang barusaja terjadi?" Woojin terlihat panik.
Kedua orang itu seling menatap lewat pantulan cermin, yang satunya takut dan yang lainnya terlihat bingung. Namun pada akhirnya Hyungseob memutar arah duduknya, meninggalkan hairdryer yang menyala diatas meja rias.
"Kamu ini kenapa, sih?"
Woojin semakin dibuat putus asa dengan balasan Hyungseob,"Jawab saja..."
"Ya menurutmu apa yang dilakukan sepasang kekasih di sebuah kamar hotel tanpa baju," balas Hyungseob sewot sebelum kembali mengeringkan rambutnya."
Bukannya semalam kamu membunuh seseorang di club?"
"Kamu bicara apa, sih? Tidak jelas sekali." gumam Hyungseob,"Seingatku kamu menyerangku dalam keadaan sadar."
Jadi, kejadian saat Hyungseob membunuh orang itu kapan?
Lalu, kenapa mereka sudah pacaran? Sejak kapan?
"Sayang..." Panggil Hyungseob, namun Woojin masih melamun.
Sekali lagi.
"Parkwoo?"
Tambah satu lagi.
"Woojin..."
Masih melamun.
"PARK WOOJIN!"
"H-ha-ah?" Woojin terlihat linglung.
"Mandi sana."
"I-iya." Kemudian di pemuda melangkah ke kamar mandi dalam keadaan telanjang, meninggalkan Hyungseob yang tersenyum tipis diam-diam.
Mission clear!
.
.
.
◆ END ◆
Well, ini bonus kecil untuk kalian yang sudah menunggu.
