Note : halo-halo, maafkan saya yang baru update cerita ini ya. untuk yuichi jin, T . T, serta Arashi teme, terima kasih reviewnya.

yuichi bertanya ada chara death tidak, yap oke, chara death ada dong. pastinya. tapi tunggu saja siapa yang akan saya death kan di fik ini.

oke, untuk chap ini nanti bahasanya agak sedikit kasar. jadi saya memohon maaf terlebih dahulu ya.. *sujud* dan untuk siapa si 'dia', di sini nanti sedikit dibahas, tapi tak banyak..

well, selamat membaca..

.

.

.

Mystery3. Toilet Ujung

St. Serafine High School, 4.52 PM

Di sebuah kelas yang sudah tidak digunakan lagi, nampak tiga orang wanita yang diduga senior tengah mengepung seorang gadis.

Salah seorang senior yang berbadan kecil serta bersurai pink, hanya terduduk santai sambil mengamati kedua temannya yang tengah lempar kata-kata kotor serta tindakan kasar ke gadis tak berdosa itu.

Bisa dibilang, hal bully seperti ini sudah biasa terjadi di St. Serafine High School. Baik pihak guru bahkan kepala sekolah yang mengetahuinya pun juga membiarkan saja hal ini terjadi. Itu dikarenakan Krul ikut ambil bagian dalam sistem bully ini.

Krul memang bukanlah pemilik sekolah, namun peran keluarganya amat sangat penting untuk sekolah ini. Merupakan bangsawan di kota itu, serta penyumbang dana terbesar di sekolah. Tentunya, siapa pun yang mendengar namanya pasti akan takut serta bertekuk lutut di hadapannya.

Tak ada yang berani membantah, terutaman kepala sekolah sendiri. Bisa dikatakan, apa yang diucapkan wanita ini adalah hal mutlak dan harus dituruti, entah apa pun itu.

Lalu sekarang, seorang siswi baru yang bernama Shinoa, tak akan pernah lepas dari data list sebagai murid yang harus di bully. Ini perkataan Krul, entah siapa pun itu, adik kelas, teman sekelas, atau bahkan senior, harus memberikan siksaan terhadap murid baru.

Maka semua menurut..

Shinoa sudah berkali-kali mendapatkan jika lokernya selalu kotor dengan berbagai macam sampah serta kotoran, bahkan meja belajarnya pun rusak. Ada juga sebagian murid yang sengaja melemparinya dengan sampah.

Krul pikir, gadis itu akan segera keluar dari sekolah, tapi ternyata tidak.

Sudah sekitar seminggu lebih Shinoa mendapatkan penyiksaan dan dirinya masih memberanikan diri datang ke sekolah.

Menarik, Krul entah kenapa jadi merasa tertantang..

"Agh.." Shinoa merintih ketika kedua senior terus menerus menendangi dirinya. Seragam gadis ini sudah kotor seutuhnya, bahkan robek di beberapa bagian.

"Heh, makanya jadi adik kelas enggak usah belagu, bitch!" maki salah satu senior bersurai ungu gelap.

"Ma- maaf, memang apa salah saya ke kalian..?"

"Malah tanya lagi!?"

Loh? Memang benar kan?

Shinoa selama ini tak memiliki masalah dengan semua murid, apalagi kakak kelas. Lalu apa tujuan dari aksi bully ini?

"Chess, Horn, cukup!" Tiba-tiba saja Krul berbicara.

Maka dua wanita yang dipanggil Chess serta Horn itu menghentikan aktifitas mereka.

Krul tersenyum sembari mendekati Shinoa, tangan terjulur kemudian dengan serampangannya menjambak surai berwarna ungu muda itu.

"Pintar bicara ya kau rupanya!?" tanyanya kasar.

Shinoa memejamkan matanya kuat, merasakan jika sebagian rambutnya seperti tercabuti. Setitik air mengalir dai matanya. Sampai kapan ini akan terus berlanjut?

"HEH, JAWAB JIKA DITANYA!" Krul menghantamkan kepala di tangannya ke arah dinding.

Shinoa terisak, namun berusaha untuk meirik seniornya itu, "Me- memang, Anda mau jawaban yang seperti apa?"

"Fuck you!"

Krul kembali menghantamkan kepala itu, kali ini lebih keras. Wanita itu bangkit berdiri dan menendang-nendang wajah Shinoa.

"Aw, aw, jangan sekali-kali deh bikin Krul ini mengamuk.." ucap Horn santai sembari menutupi mulutnya.

Chess hanya menganggukkan kepalanya singkat, "Yap, tapi aku salut banget sama adik kelas kurang ajar ini, masalahnya hanya dia loh yang berani ngebalas segala omongan Krul.." terang wanita bersurai ungu itu. "Jadi mirip kayak seseorang.." lanjutnya.

"Ah iya, si Mahiru itu kan? Apa mereka saudara?"

"Persetan dengan saudara atau bukan!" Krul menyela, "Yang jelas, aku muak melihat tampang mereka!"

"Hahaha, Krul mah begitu.. Oh iya, jika tidak salah, kemarin aku lihat bocah ini bersama dengan adik kelas kesayanganmu itu deh.. Ung.., kapan ya?" Chess mengedarkan pandangannya, nampak tengah mengingat-ingat.

Krul melirik ke arah temannya itu, "Adik kelas kesayangan?"

"Halah, pura-pura tidak tahu.. Itu tuh, yang campuran Rusia itu, siapa namanya? Mikaela?"

"Ah, jangan-jangan anak ini ingin mengambil hati your lovely junior, Krul.." Horn menambahi sambil terkekeh geli.

Krul memejamkan matanya singkat, "Seriously?" Ia mendengus, "Lama-lama aku jadi capek sendiri.."

"Istirahat saja, biar kita yang lanjutkan.." usul Chess singkat.

"Itu yang terbaik.." Wanita bersurai pink itu merogoh saku roknya, kemudian mengeluarkan sebuah gunting. "Nih!"

Horn yang menerima gunting itu sedikit terkejut, "Waow.. Mau apa dengan ini?"

"Hancurkan dia! Potong rambutnya, robek bajunya, atau bahkan bagian bawahnya, terserah! Aku tak peduli!" perintah Krul tegas.

Shinoa membelalakan mata mendengar perintah kakak kelasnya yang melebihi batas manusia normal.

"Wah.., kasar sekali. Tapi sepertinya seru.."

"Sudah itu saja! Aku mau ke toilet.." ucap wanita bertubuh kecil itu santai, hendak melangkah keluar ruangan.

"Anda tahu kisah 'Toilet Ujung'?" tanya Chess tiba-tiba sebelum Krul sukses melangkah keluar.

"Hah!" Wanita yang di ajak bicara itu terkekeh pelan, "Memang kau pikir aku percaya? Sudahlah, kalian urus saja bedebah itu.." ucapnya kemudian keluar dari ruangan itu.

Chess menatap Horn sembari menaikkan kedua bahunya, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum.

'Toilet ujung'? Memang ada yang seperti itu? Jaman modern seperti ini mengapa harus percaya dengan takhayul seperti itu? Ada-ada saja!

Krul memasuki ruangan toilet itu dengan santainya. Maniknya sekilas melirik sekitar. Sepi, tak ada siapa pun. Sudah jelas sih, jam-jam seperti ini tentunya para siswa-siswi yang rajin sedang pada mengikuti pelajaran. Tidak seperti dirinya yang mencari kesempatan untuk membolos.

Wanita itu tersenyum tipis, kemudian membawa dirinya menghadap wastafel di sudut ruangan. Mengamati pantulan dirinya dari cermin besar yang menempel tembok.

Entah kenapa Krul terkekeh sendiri jika dirinya berada dalam toilet sepi ini. Mungkin kejadiannya sekitar beberapa bulan yang lalu. Tempatnya sama, lebih tepatnya sih lokasinya berada di bilik toilet ujung.

Waktu itu, korban yang menjadi kekerasan Krul adalah teman sekelasnya sendiri. Satu-satunya dari sekian banyaknya penduduk sekolah yang berani menantang bahkan melawan seorang Krul.

Dia adalah Mahiru, siswi yang paling Krul benci.

Namun semua itu tak berlangsung lama, karena beberapa saat kemudian, Mahiru dikabarkan telah menghilang. Krul sendiri sih tak ambil pusing perihal menghilangnya Mahiru. Mungkin saja orang itu sudah mati.

Wanita itu mendengus. Kenapa malah memikirkan makhluk tak jelas itu? Bukannya ketidak adaan Mahiru merupakan suatu keberuntungan untuknya.

Krul segera membuang jauh-jauh ingatan masa lalu. Lebih baik sekarang memperbaiki penampilan diri sendiri. Ya, tahu sendirilah, akibat membully manusia kembaran orang yang dibencinya itu. Penampilannya jadi sedikit acak-adul.

Dikeluarkannya kotak bedak serta lipgloss dari saku rok. Ia mendencih ketika dirasa kuku-kuku di tangannya sedikit berantakan, apa akibat tindak kekerasannya tadi? Mungkin setelah sekolah usai, dirinya harus pergi ke salon.

"Aah..!" Tak sengaja, Krul malah menjatuhkan lipgloss-nya.

Benda kecil itu mengelinding cepat, hilang entah ke mana.

"Itu kan baru beli.." Keluh si wanita mungil.

Ia segera menjatuhkan tubuhnya ke lantai, merangkak-rangkak mencari ada di mana lipgloss barunya itu.

Manik sewarna merah itu berbinar ketika menemukan apa yang ia cari berada di ujung ruangan itu. Kepala bersurai pink mendongak, menatap ke arah pintu bilik yang tengah tertutup.

"Apa ada orang di dalam?" gumam Krul singkat.

Wanita itu kembali mengintip dari bawah sela pintu, mendapat sepasang kaki berada di depan kloset, dan tentunya lipgloss di samping kaki itu.

"Perasaan tadi tak ada siapa-siapa.."

Krul mau tak mau terpaksa berlutut di samping pintu bilik, menggunakan tangan mungilnya itu mengetok.

Tok.. Tok..

"Hei, seseorang di dalam! Bisa ambilkan benda di samping kakimu..?" ucapnya sedikit berteriak.

Hening tak ada jawaban..

Apa tidak kedengaran? Perasaan suara Krul sudah cukup keras.

Tak mendapat balasan, Krul tentunya merasa jengkel sendiri.

"Eh, jangan main-main ya!"

Jangan bilang jika Krul harus mengambilnya sendiri? Tapi jika itu memang diharuskan, maka apa boleh buat kan?

Krul mendengus. Ia kembali mengintip dari bawah, namun maniknya melebar ngeri ketika tak menemukan adanya sepasang kaki di sana. Bukannya tadi ada?

Wanita itu segera bangkit berdiri, hendak melangkah keluar. Bodo amat sama lipgloss barunya itu. Perasaannya sudah berkata buruk, sebaiknya segera tinggalkan ruangan ini.

Dan baru saja Krul hendak melangkah, tangan pucat terjulur dari bawah sela pintu, menggenggam kaki wanita mungil itu. Sukses membuat Krul tersungkur kembali di lantai.

"Kyaaa..!"

Tangan itu menarik, memaksa Krul untuk masuk ke dalam bilik toilet melalui sela bawah pintu. Krul berusaha membuat perlawanan, jari-jarinya mencakar lantai hingga kukunya patah.

"Tidak! Lepaskan!"

Krul menendang-nendang tangan itu, berharap dilepaskan namun malah mendapat cakaran di kaki. Darah sedikit mengalir dari luka di kakinya. Ujung mata Krul entah kenapa menitikkan air.

"Ahahaa.. Krul.."

Suara seorang wanita terdengar. Krul membelalakkan matanya. Suara itu kan?

"Ti- tidak mungkin.." gumam Krul pelan.

Setengah kaki Krul sudah masuk ke dalam bilik. Tangan panjang dan pucat wanita di dalam bilik sudah menyentuh paha wanita mungil itu, sedikit mencakar bahkan merobek kaos kakinya.

Krul juga merasakan jika kakinya sudah mati rasa.

Klek.. Pintu bilik itu sedikit terbuka.

Krul menggelengkan kepala, tak mau melihat apa yang ada di dalam toilet itu.

"Tidak.."

Pintu perlahan terbuka, menunjukkan setengah wajah wanita tersenyum lebar di celah kecil bilik itu. Manik wanita yang sewarna merah tembaga itu berlendir bahkan mengaliri darah. Ia menatap korban di hadapannya dengan tatapan sadis.

"Krul.. A.. yo.. ma.. in.."

"TIDAK!" Krul berteriak kencang, membrutal, menendang-nendang pintu dengan kaki sebelah.

Tarikan di kaki wanita bersurai pink itu semakin kencang, memaksa tubuh mungil itu untuk masuk ke dalam toilet.

"Tidak! Hentikan, Mahiru! Kumohon.."

Tak didengar.

"Seseorang, tolong aku!"

Tak jauh dari toilet khusus perempuan, nampak dua orang siswa tengah bercanda tawa. Mereka menghentikan perbincangan mereka setelah mendengar suara teriakan barusan.

"Kau dengar sesuatu, Rene?" tanya siswa bersurai ungu.

"Itu suara Senior Krul, Lacus.."

Mendadak keduanya siswa itu panik ketika teriakan berikutnya terdengar kembali. Mereka langsung saja berlari ke arah sumber suara, namun sialnya pintu ruangan toilet perempuan malah terkunci.

"Senior..!" Brak! Brak! Lacus mengebrak-ngebrak daun pintu.

"Dobrak ajalah!" Rene mendorong Lacus dari depan pintu, kemudian remaja ini ancang-ancang dan menggunakan pundaknya untuk mendobrak pintu.

Setelahnya, kedua siswa ini langsung masuk ke dalam ruangan toilet, mendapati senior mereka tengah terduduk meringkuk di pojok ruangan. Penampilan wanita itu sudah tak karuan lagi, seragamnya lusuh, rambut panjangnya terlihat lepek karena keringat, terdapat pula bercak-bercak darah di sekitar kakinya.

"Senior..!" Lacus berlutut di samping Krul. "Apa yang terjadi?"

Krul mengintip ngeri dari sela tangannya, ia kemudian langsung saja memeluk remaja di hadapannya. Menangis sejadi-jadinya karena takut.

"Sebaiknya kita segera keluar dari sini.." usul Rene yang langsung diikuti oleh sobatnya itu.

Lacus bangkit berdiri, membopong tubuh mungil seniornya secara hati-hati.

.

.

.

Krul menatap kosong ke arah kakinya yang kini tengah di perban oleh adik kelasnya. Tak hanya tatapannya, pikirannya pun juga ikut kosong.

"Aduh-aduh, sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Horn merasa khawatir dengan keadaan temannya itu.

"Kalian! Apa yang kalian lakukan terhadap Krul!?" Chess bertanya garang.

"Wets.." Lacus yang sudah selesai memberi perban, segera mengangkatkan kedua tangannya ke udara. "Kami tak tahu apa-apa, orang pas kejadian kami saja baru datang.." terangnya cepat.

"Itu benar, senior.." Rene menganggukkan kepala tanda setuju.

"Baiklah-baiklah.. Jadi, Krul, kau tak ada rencana bercerita?"

Krul sedikit menegakkan tubuhnya ketika mendengar pertanyaan dari Chess.

Apakah jika dirinya bercerita teman-temannya akan percaya?

"Itu.. Mahiru.." ucap Krul pelan.

Empat pasang mata yang berada di lokasi langsung membelalak tak percaya.

"A- apa? Aku tak salah dengarkan?" Horn bertanya duluan.

"Tunggu! Mahiru itu maksudnya perempuan yang..." Lacus ikutan bertanya.

"Aku serius! Apa aku terlihat seperti bercanda!?" bentak Krul menatap tak suka.

Keadaan seketika menghening. Kelima orang ini tampaknya tak menyadari, bahwa ada seseorang yang tengah mendengar pembicaraan mereka dari luar ruang kesehatan.

.

.

.

END

.

.

.

Note : seram tidak? maaf ya untuk aksi kekerasan di dalam chap yang ini..

oke, kesan pesan saya tunggu..

Next, Mystery4. Patung di Ruang Biology

See yaa~