xXx_xXx
Blackish Cherry Blossom
Chapter 3
By: Shu AliCieL
Tsubasa Reservoir Chronicle © CLAMP
xXx_xXx
"Strenghten your heart, or the devil will sneak out and find your weakness and use it to take those whose dear to you away…"
.
"Kamu tak akan pernah bisa lepas dariku!"
Gadis itu tak dapat melihat apapun di depannya. Yang ia tahu hanyalah kegelapan yang mengelilinginya… Dan suara tanpa rupa yang berasal dari atas, sedang berbicara padanya.
"Karena kau lemah. Kau tak akan pernah bisa lari."
"Tidak… Kau salah! Aku tak pernah berniat untuk lari dari apapun…"
"Pembohong!"
Zamrudnya spontan terpejam ketika suara tersebut berubah menjadi teriakan yang serasa berada tepat di telinganya.
"Kau lari ke tempat ini karena kau harap dapat menemukan orang-orang yang dapat membantumu. Yang dapat "membunuhku". Kau ingin lari dariku, kan? Dari takdirmu sendiri?"
"Bukan itu alasannya…aku…" masih memejamkan matanya, ia pun menggeleng lemah.
"Satu hal yang harus kau tahu. Kemana pun kau pergi dan apapun yang kau lakukan…"
Sekarang ia dapat melihat sosok seorang gadis, muncul dari balik kegelapan dan semakin mendekat. Postur tubuh dan wajah yang tak ada bedanya. Yang berbeda hanyalah warna gaun yang mereka pakai, putih dan hitam…
Dan red crimson yang menghiasi irisnya.
Sang pemilik mata merah menyala itu menatapnya tajam, berucap dingin…
"Keberadaanku tak akan pernah hilang di hidupmu…"
Begitu terbangun, yang dilihatnya adalah langit-langit kamarnya. Meski matanya belum dapat terbiasa dengan sinar matahari yang masuk melalui jendela, Sakura sangat lega dapat terbangun.
Mimpi buruk kah? Ia tahu betul bahwa yang tadi dialaminya bukan mimpi. Itu satu-satunya cara untuk dapat berkomunikasi dengan "dia"…
Sakura pun beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju jendela yang sudah terbuka dan menatap kosong pada pemandangan kota Sylvannia.
Dia meremat rambutnya pelan dengan kedua tangan.
"Tidak… Jangan "dia" lagi…"
XXX
Waktu makan siang di Sylvannia High School. Sepasang mata mengamati sosok gadis berambut coklat tak jauh darinya. Dengan wajah dingin yang tak sesuai dengan image ceria yang sudah melekat padanya, setiap gerakan objek yang diamatinya tak akan luput darinya.
Bahkan jika itu hanya gerakan biasa, akan tetap terlihat mencurigakan di matanya. Bagaimana mau tidak curiga? Karena ia tahu betul bagaimana gadis itu ketika dulu. Dan dia tak akan mudah melupakan masa lalu.
"Hei, Ryuuoh," ya, saking seriusnya ia bahkan tidak menyadari bahwa seseorang sudah duduk di sebelahnya, menemaninya.
"Hah... Primera? Sejak kapan kau…"
Bukannya menjawab, gadis itu hanya melihat wajah Ryuuoh dengan tatapan menyelidik. Membuat Ryuuoh jadi salah tingkah sendiri.
"Hei, jangan menatapku seperti itu! Aneh, tahu!"
"Hmm…?"
"Apa?"
"Bukannya tadi kau juga melakukannya? Memperhatikan orang dengan tatapan aneh?" Primera menunjuk ke arah Sakura —objek yang sedari tadi diamati Ryuuoh.
"Sepertinya kau mulai tertarik dengannya."
"A…apa?" kata Ryuuoh dengan agak blo'on.
"Memperhatikannya sampai kau tidak sadar aku sudah duduk di sebelahmu. Hmm…? Kau sebut itu apa?"
"Tidak! Aku… Errr…hanya…" maunya berkelit, tapi Ryuuoh tidak bisa menyusun kata-kata yang baik.
"Aku sih tidak keberatan, tapi kau harus bersaing dengan temanmu, lho…"
'Tidak keberatan'ya… Meskipun mengucap dengan gaya santai, tapi…itu bohong!
"Temanku? Temanku 'kan ada banyak. Yang mana?"
"Syaoran, tentunya. Ah! Ngomong-ngomong, dia tidak ada di sini?"
Primera pun celingukan mencari sosok berambut coklat itu, tapi tidak menemukannya di mana pun. Memang, biasanya kalau Ryuuoh ada, seharusnya Syaoran juga di sana.
"Dia di tempat Fay-san…" jelas Ryuuoh.
"Oh… Sebentar lagi memang ada lomba sains, ya… Mereka pasti sedang mempersiapkan diri untuk itu. Hei, coba tiru temanmu yang satu itu. Lihat dia! Ikut lomba kesana-kemari, mendapat banyak piala. Sedangkan kau, kau hanya…"
Primera berhenti berucap saat melihat Ryuuoh bengong lagi. Seketika itu, ia sadar bahwa ada sesuatu yang salah.
"Ryuuoh, kau kenapa? Kok tidak menjawab ucapanku?" sedikit kekhawatiran terselip di kalimatnya ketika Primera mengucapkan itu.
"Hah…? Kenapa…?"
"Kau benar-benar tidak memperhatikanku, ya? Sepertinya ada sesuatu. Mau cerita?"
Ryuuoh berpikir sebentar. Tidak ada salahnya curhat pada seseorang. Dia menengok sebentar ke arah orang yang tadi diperhatikannya. Hei, targetnya sudah tidak ada di sana!
"Terlalu ramai. Jangan di sini…"
"Kalau begitu, sambil jalan saja," usul Primera.
Akhirnya mereka mengobrol sambil keliling halaman depan sekolah dan berhenti di depan deretan pohon maple—karena di sana lumayan sepi. Mereka bersandar di pada salah satu batang pohon.
"Jadi…apa yang mengganggumu?" ucap Primera, membuka topik.
"Kau masih ingat…dengan House of Lily?"
Primera diam sejenak. Sorot matanya berubah sendu. Mendengar nama itu hanya akan membawa kenangan buruk tentang musnahnya tempat itu.
"Ya… Aku ingat. Dan juga semua hal yang pernah terjadi di sana."
"Dan…hal tentang Sakura?"
"Itukah yang mau kau bicarakan?"
"Kau masih ingat, kan?" ulang Ryuuoh.
"Tentang 'itu' ya…"
"Seperti yang kau bilang tadi, Syaoran makin dekat dengannya. Bahkan mungkin ia menyukai gadis itu."
"Lalu…?"
"Syaoran tidak tahu bagaimana Sakura yang dulu, kan? Tidakkah menurutmu itu akan jadi masalah?"
"Tidak. Ryuuoh, tidak baik berkata seperti itu," Primera pun menggeleng pelan.
"Coba kau pikirkan ini. Bagaimana kalau Sakura tidak berubah hingga saat ini? Kau tahu apa yang akan terjadi, kan?"
"Hei, jangan membicarakan orang seperti itu. Berprasangka buruk, seperti bukan kau saja…" Primera mengelus pelan pipi Ryuuoh.
Dari sorot mata dan nada suaranya, bisa ditebak kalau Ryuuoh sedang tidak tenang. Hatinya tidak tenang.
"Aku hanya khawatir hal-hal buruk akan terjadi pada sahabatku. Itu saja…"
"Ya… Aku mengerti…"
"Benarkah?"
"Maksud Ryuuoh baik kok. Yang tidak baik adalah, kau berpikir akan hal-hal yang tidak baik. 'Kan belum tentu akan terjadi. Tidak ada gunanya takut pada masa depan. Lebih baik berpikir positif saja."
Ryuuoh pun mencerna baik-baik kata-kata itu. Jarang sekali Primera bicara bijak seperti yang barusan ini.
"Semua hal di dunia ini akan berubah. Terlepas dari kejadian yang sudah-sudah, yakini saja perubahan itu mengarah ke hal-hal baik. Ya, kan?
"Ada benarnya, sih…"
"Toh, bagaimanapun juga, kita tidak bisa memaksa seseorang menjauh dari orang lain. Syaoran punya kemauannya sendiri dan kita tak bisa memaksanya. Bahkan jika hal-hal yang kau takutkan itu terjadi, mungkin saja Syaoran tetap akan berhubungan dengan anak itu."
Ryuuoh akhirnya diam. Sepertinya dia harus menuruti apa kata Primera. Karena yang dikatakannya itu benar sepenuhnya.
"Intinya, berpikiran positif saja lah! Hehe…"
"Kau tahu, Primera? Kau bijak. Tidak kusangka kau bisa mengatakan hal-hal seperti tadi."
"Itu satu hal yang tidak kau ketahui dariku. Tapi sekarang sudah tahu, kan?"
"Ya. Dan aku harus berterima-kasih karena sisi seperti itu ada juga dalam dirimu."
"Makanya, sekali-sekali bicara serius denganku. Ryuuoh bisanya hanya bercanda saja, sih."
"Kau yakin? Selain bercanda, aku juga bisa mentraktirmu, lho…"
Primera menoleh ke arah Ryuuoh. Sepertinya ia mendengar sesuatu yang sangat menyenangkan.
"Jadi, itu ajakan kencan?"
"Hari Minggu nanti. Bagaimana? Aku yang bayar semuanya."
"Mau! Kita ke Cat's Eye! Mereka bilang ada menu baru di sana," ucap Primera yang keceriaannya sudah kembali.
"Baiklah. Mau kujemput?" Primera pun mengangguk-angguk senang, seperti boneka hiasan di dashboard mobil. Dan menurut Ryuuoh, itu manis.
Mereka pun berjalan kembali ke kelas karena waktu istirahat telah usai. Tapi di tengah jalan, Ryuuoh menoleh ke belakang. Ia merasa ada yang memperhatikannya. Tapi lalu ia mengabaikannya karena Primera terus menarik lengannya.
Memang benar. Dari balik salah satu pohon maple, sepasang mata scarlet terus mengamati mereka.
"Masih ingat, ya? Manisnya. Tapi ada banyak hal yang mulai terlupakan…dan tidak kalian ketahui. Hal-hal yang terjadi ketika kalian telah meninggalkan tempat itu. Tapi tenang saja. Dengan senang hati, akan kuberi-tahukan semua. Ya, SEMUANYA…tidak lama lagi…"
Kata-kata gadis itu sama misteriusnya dengan senyuman yang tertoreh di bibirnyanya kala itu.
XXX
Masih di hari yang sama, di sore harinya. Primera masih berada di kelasnya. Sebagai sekertaris kelas, ada yang menahannya hingga baru bisa pulang setelah matahari mulai menghilang.
"Selesai! Aah, aku lelah!" ucapnya sambil melakukan sedikit stretching.
"Masih harus dibereskan…"
Primera pun merapikan kertas-kertas yang berserakan di atas mejanya sambil ngedumel.
"Ryuuoh pasti sudah meninggalkanku. Memang bagus, sih kalau dia masih memikirkan tugas sekolah yang katanya menumpuk itu. Tapi setidaknya peduli sedikit lah… meninggalkan pacarnya sendirian di saat sekolah sudah sepi itu keterlaluan!"
Setelah memasukkan kertas-kertas tadi ke dalam amplop coklat, ia segera meraih tasnya dan keluar dari kelas. Ia masih harus ke ruang guru untuk menyerahkan berkas tadi ke ruang guru, baru ia bisa pulang.
Begitu sampai di ruang guru, ia terkejut bahwa ruangan itu…
"Kosong?" Primera cengo sesaat. Tidak ada siapapun di sana!
"Aah! 'Cepat selesaikan. Bapak tunggu di ruang guru', katanya! Wali kelas macam apa tidak menepati janji pada muridnya?"
Akhirnya Primera meletakkan amplop itu di atas meja wali kelasnya dan berjalan pulang sambil menggerutu.
"Ya ampun… Begitu aku sampai rumah, pasti sudah gelap! Kalau di jalan aku diapa-apakan oleh seseorang bagaimana? Guruku itu harus bertanggung jawab…"
"Primera."
Primera agak merinding ketika seseorang memanggilnya dari arah belakang. Saking takutnya, langkahnya pun terhenti. Dengan cepat ia menoleh ke asal suara untuk melihat siapa di sana.
Betapa leganya ketika ia melihat seseorang yang dikenalnya dan tak mungkin melukainya. Meskipun ia tak bisa melihat wajah Sakura dengan jelas karena gadis itu menundukkan kepalanya.
"Sakura, bikin kaget saja… Kau masih di sini?" tentu kaget. Primera bahkan sama sekali tak mendengar langkah kaki Sakura.
Primera bingung karena Sakura tak menjawabnya.
"Sakura…" dan ia kaget karena tiba-tiba Sakura memegang lehernya—mencengkramnya. Perlahan Sakura mendongak, memperlihatkan bola matanya yang berwarna…
Merah.
"Akh… Kau…uhuk! Sakura!" teriak Primera dengan susah payah karena Sakura mencekiknya semakin erat.
Tapi iris scarlet itu…Primera tahu Sakura memiliki warna mata hijau Emerald. Sakura juga tidak mungkin mencekiknya. Lalu yang ada di hadapannya sekarang ini siapa?
Memandang langsung ke mata Sakura, Primera seperti tersedot dalam dimensi di dalam warna merah itu. Keadaan sekelilingnya pun berubah, hanya hitam yang mengelilinginya. Sakura yang ada di depannya menghilang entah ke mana, namun rasanya seperti masih tercekik.
"Apa…ini…?"
Dari arah belakangnya terdengar suara dua orang anak yang sedang tertawa. Primera menoleh dan ternyata…
"Yumi… Misaki…"
Dua orang gadis kecil yang pernah menjadi sahabatnya.
Air matanya pun keluar tanpa peringatan. Menggenang di pelupuk matanya dan mengalir hingga jatuh ke tempatnya berpijak. Bagaimana tidak? Mereka orang-orang yang sangat disayanginya…dan yang paling dirindukannya.
"Kau merindukan mereka?"
Di belakang dua orang itu pun muncul seorang lagi. Seseorang bergaun hitam dan berparas cantik. Memiliki rambut coklat dan bola mata scarlet yang menyala.
"Tidakkah kau ingin bertemu lagi dengan mereka?" senyuman jahat gadis itu tersungging di bibir tipisnya.
"Mereka…mereka sudah…" ucap Primera terbata.
Gadis bergaun hitam itu pun menyentuhkan kedua tangannya di pundak masing-masing dua anak kecil itu—Yumi dan Misaki. Setelah itu, ia mengayunkan tangannya ke atas dan dua anak itu berubah menjadi kobaran api.
"Mereka terbakar tanpa sisa…" si pemilik iris merah menatap Primera.
"Tidak!" Primera berteriak dan jatuh terduduk. Kakinya terasa lemas dan kini ia makin terisak.
"Akan sangat membahagiakan jika mereka ada di sisimu saat ini, kan? Bayangkanlah… kalian berjalan-jalan, bercanda dan tertawa… Kalian semua akan menjadi teman baik…"
Primera mencengkram helaian rambutnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Berharap kalau semua ini hanya mimpi buruk yang akan berakhir jika ia menjambak rambutnya dengan keras. Nyatanya, ia belum kembali ke dunianya.
"Mereka tidak bisa kembali padamu…" gadis itu mendekati Primera.
"Tapi…kau masih bisa menemui mereka…" ia memegang kedua belah pipi Primera yang telah basah dengan air mata dan memaksanya mendongak.
"Kau ingin menemui mereka?" memaksa Primera menatap kedua bola matanya.
"Aku…ingin…"
Bulu sayap hitam berjatuhan dari langit, seperti salju hitam yang jatuh perlahan di sekelilingnya dan lambat laun akan menguburnya.
"Kalau begitu…susul mereka!"
Bulu-bulu sayap itu terbakar, berubah menjadi bola api yang jatuh menghujam tubuhnya. Primera terbelalak, sementara gadis di depannya menyeringai. Ia sudah mendapat apa yang diinginkannya.
Dari kedua belah telapak tangan gadis itu keluar kobaran api yang lebih menyilaukan, dan ia meniupkannya pada Primera yang terbelalak dan sangat tak berdaya.
"Aaaaaahhhhhh!"
TENG!
Suara lonceng gereja yang tiba-tiba menyadarkan Primera. Ia sudah 'kembali'. Di koridor sekolah yang menampakkan siluet tiang-tiang di sampingnya. Sunyi dan sendirian… tak ada siapapun di sana.
Keringat dingin mengalir di pelipisnya, entah kenapa. Tapi ia lega ia sudah kembali ke dunia nyata. Primera pun berlari pulang. Ia takut. Ia tak ingin memikirkan apa-apa lagi. Tujuannya saat ini hanya pulang ke rumah dan menenangkan diri.
Ia bahkan tidak mempedulikan jantungnya yang memberontak ingin melompat keluar dari dadanya, ataupun rasa sakit yang dirasakan di lehernya. Dan di sana, ada bekas seperti habis dicekik dengan kuat.
~TBC~
A/N:
After a quite long hiatus, here I am! Apa kabar minna~? ^w^
Sekarang author's note serta sesi bales-balesan review-nya dipindah di bawah sini aja, oke? :)
White Azalea: makasih ^^ lanjut baca ya :D
VZONE: bingung ya? Sengaja sih, supaya lebih menarik….haha! makasih udah review meski gak login :)
Hoshi no Nimarmine: merinding? Padahal bukan genre horor loh..hehe :D makasih reviewnya dan udah di fave :)
Sebenarnya saia ragu banyak yang ngereview, apalagi setelah hiatus lama. . . .jadi makasih kalau ada yang bersedia baca, atau review ^^
See you in the next Chap!
