Flower, Harmony, and Nunbucheo

Chapter 3

KIM MINGYU X JEON WONWOO (MEANIE)

SEVENTEEN PLEDIS

WARNING! Genderswitch!Uke

Happy Reading ^^

Disebuah mansion besar milik keluarga Kim terdengar perdebatan sengit antara sang ayah dengan anak bungsunya. Mingyu, sang anak berdiri dengan muka memerah menahan amarahnya menghadapi appa nya yang duduk di kursi kerjanya.

"Appa gila?! Aku masih muda! Bagaimana bisa kau menjodohkanku dengan rekan bodohmu itu hah?!" teriaknya.

"Aku tidak peduli, aku tidak ingin ada yeoja-yeoja tidak bermutu mendekatimu dan mengincar hartamu Mingyu. Lagipula kau tidak pernah memiliki kekasih, apa salahnya appa mencarikan yeoja untukmu eoh?"

"Kau bercanda? ! Aku menolak perjodohan konyolmu, direktur." Desis Mingyu penuh penekanan.

"Malam ini kau akan bertemu de-"

"AKU MEMILIKI KEKASIH!" potong Mingyu dengan keras. Ia benar-benar tidak ingin mengikuti kemauan appa nya yang menurutnya benar-benar konyol.

Ia spontan berteriak bahwa ia memiliki seorang kekasih untuk menghindari perintah appanya yang menginginkan dirinya bertemu dengan yeoja rekan appanya. Sang appa yang mendengar perkataan anak nya mengangkat sebelah alisnya,

"Benarkah? Kalau begitu, malam ini kau harus membawanya untuk membuktikan bahwa kau benar-benar memiliki seorang kekasih." Ujar appa nya final. Mingyu membelalakkan matanya terkejut, badannya menegang mendengar penuturan appanya.

Hey ayolah, itu hanya bualannya saja untuk menghindari perjodohannya. Ia tidak menyangka bahwa appanya akan memintanya membawa kekasihnya.

"Wae? Kau tidak bisa membawanya?" tantang appanya melihat respon Mingyu.

"Tidak! Aku akan membawanya malam ini, dan aku harap kau membatalkan perjodohan ini, 'appa'." Mingyu menekankan kata 'appa' pada penuturannya, kakinya langsung beranjak dari ruang kerja sang appa dan membanting pintu ruangan itu.

Namja paruh baya yang melihat aksi anak kandungnya hanya menghela nafas berat. 'Kapan kau akan berubah, Mingyu-ya.' batinnya miris.

Mingyu berada didalam mobil sport miliknya, ia mengacak keras rambutnya dan memukul setir kemudinya dengan kepalan tangannya. Kepalanya dipenuhi dengan pemikiran tentang perkataan appanya tadi, ia harus membawa kekasihnya kerumah malam ini.

"Shit! apa yang harus kulakukan? Kekasih saja tidak punya." Desahnya frustasi, ia membuka laci mobilnya dan mengambil sebuah botol berisi pil obat. Mingyu membukanya dan mengambil beberapa pil tersebut lalu meminumnya. Ia menghela nafasnya kasar lalu memutar otaknya mencari solusi.

"Mungkin Soonyoung punya solusi." Gumamnya lalu menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan mobilnya menuju tempat sepupu sekaligus sahabatnya.

Di perjalanan, Mingyu menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba ia merasakan sakit pada kepalanya dan pandangannya mengabur selama beberapa saat, ia menundukkan kepalanya mecoba untuk mengurangi rasa sakit.

Saat dikiranya pandangannya membaik, Mingyu lalu mengangkat kepalanya dan kakinya langsung reflek menginjak rem dengan kuat saat melihat seorang yeoja berada tepat didepan mobilnya sedang berteriak melindungi diri. Kepalanya terbentur setir mobil hingga terasa sakit, dipikirannya terlintas sekelebat bayangan.

"Akkh!"

"Eomma! Kenapa kau melukai tanganmu, hiks-lenganmu.. berdarah hiks."

"Mingyu?! Kenapa kau ada disini? Kembali ke kamarmu sekarang!"

"Aku tidak mau eomma! Eomma bertahanlah! Eomma-hiks."

"KIM MINGYU! KEMBALI KE KAMARMU SEKARANG!"

"SHIRHEO! Eomma kkajimma! Eomma jangan pergi tinggalkan aku! EOMMA!"

Mingyu mengerang kesakitan dan memegang kepalanya. Perlahan kesadaran Mingyu terkikis juga erangannya terdengar makin melemah. Suara klakson mobil menjadi penghantar hilangnya kesadaran Mingyu saat itu.

-Flower, Harmony, and Nunbucheo-

Mingyu membuka matanya dan mencoba menyesuaikan matanya dengan silau cahaya diruangan itu. Ia merasakan kepalanya berputar lalu melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa ia berada di sebuah ruangan dalam rumah sakit.

Mingyu mencoba menggerakkan badannya yang sedikit terasa kaku lalu melihat kearah lengannya terpasang selang infus. Mingyu mengerang kecil menutupi lengannya yang mengeluarkan tetesan darah setelah ia mencabut jarum infus dari lengannya.

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan menampakkan pemuda berambut blonde.

"Oh? Mingyu? Kau sudah sadar?" Tanya Soonyoung menghampiri ranjang yang ditiduri Mingyu.

"Ne, apa yang terjadi Soonyoung-ah?"

"Ya, kau hampir menabrak seorang yeoja lalu pingsan di dalam mobilmu dan membuatku lari keluar kelas saat mengetahui kau masuk rumah sakit. Bahkan aku tidak meminta izin pada dosenku dan langsung berlari tergesa-gesa kau tahu? Huh aku yakin setelah ini aku akan masuk dalam blacklist nya." jelas Soonyoung dengan nada menyindir.

"Jinjja? Aigoo, mianhae Soonyoung-ah."

"Ya, ya kau harus mentraktirku nanti dan akan kumaafkan." Soonyoung melipat tangannya didepan dadanya, matanya menelisik kearah Mingyu membelalak saat melihat darah di lengan Mingyu.

"Yak! Kim Mingyu paboya! Mengapa kau lepas infusnya hah?!" histeris Soonyoung, Mingyu hanya meringis kecil.

"Aku tidak butuh infus Kwon. Dan perutku lapar, belikan aku makanan Soonyoung-ah." Pinta Mingyu.

"Haish, aku bukan pembantumu Kim!"

"Tidak boleh menolak permintaan orang sakit Kwon." Mingyu menyeringai.

"Arrasseo! Dasar merepotkan, tunggu disini dan jangan kemana-mana." Soonyoung beranjak menuju keluar, namun ia berbalik dan menatap Mingyu.

"Mana uangnya babo? Aku tidak sudi membayarkan makanan mu." Gerutu Soonyoung.

Mingyu memutar bola matanya malas dan merogoh saku coat nya lalu mengeluarkan dompet miliknya. Ia mengeluarkan beberapa lembar won lalu memberikannya pada Soonyoung dan Soonyoung memekik senang segera melangkah keluar kamar rawat Mingyu.

Mingyu menggelengkan kepalanya melihat tingkah abstrak sepupunya. Ia berniat merapikan uangnya yang sedikit tidak tertata didalam dompetnya hingga matanya menangkap suatu lipatan kertas kecil. Tangannya mengeluarkan kertas itu lalu membukanya, kertas itu berisi nomor yeoja bernama Wonwoo yang dibantunya tempo hari.

Mingyu hanya mendengus dan berniat membuangnya. Namun tiba-tiba sebuah ide terlintas dipikirannya, ia memasukkan kertas itu kembali lalu mengambil coatnya. Badannya beranjak turun dari ranjang dan pergi keluar kamar dengan langkah terburu menyisakan pintu kamar rawatnya yang terbuka.

Setelah beberapa menit kemudian, Soonyoung datang dengan dua buah plastik di kedua tangannya. Ia sedikit bingung melihat pintu kamar rawat Mingyu terbuka, namun ia memutuskan untuk tetap melangkah masuk.

Matanya membelalak saat melihat kamar Mingyu yang kosong, bahkan smartphone dan coat milik namja tiang itu juga menghilang. Soonyoung pun mencoba menghubungi Mingyu namun yang ia terima hanyalah jawaban dari operator.

'Sialan kau Kim Mingyu!' umpat Soonyoung.

Sementara itu di mobil Mingyu, terlihat pemiliknya sedang mencoba untuk menghubungi seseorang. Ditangannya terdapat kertas putih kecil berisi nomor, ia sedang mencoba menghubungi Wonwoo. Yeoja menyebalkan yang hampir ditabrak Soonyoung beberapa waktu lalu.

"Yobo-"

"Ya! Kau Jeon Wonwoo kan? Yeoja yang hampir ditabrak Soonyoung kemarin?" cecar Mingyu memotong perkataan orang diseberang teleponnya.

"M-mwo? Ini siapa?"

"Sudah jawab saja!"

"Ne, majayo aku Wonwoo.. tapi ada perlu apa denganku?"

"Aku Mingyu, kau kemarin bilang ingin membalas bantuanku kan?"

"N-ne."

"Bagus, kuharap itu masih berlaku, temui aku di Star Restaurant sekarang. Aku memerlukan bantuanmu."

"Ne?! T-tapi aku ti-"

"Aku tidak menerima penolakan atau aku akan menerormu juga eommamu." Ancam Mingyu lalu memutuskan telepon secara sepihak.

Mingyu mulai menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas menjalankan mobilnya dengan kecepatan pelan, ia tidak ingin kejadian hampir menabrak orang tadi terulang lagi dan membuatnya bisa masuk ke dalam penjara.

-Flower, Harmony, and Nunbucheo-

Siang itu, Wonwoo memutuskan untuk bersiap-siap pergi ke toko bunga tempatnya bekerja. Terlihat kantung matanya yang agak menghitam dan juga wajahnya yang pucat. Sepanjang malam ia tidak bisa memejamkan matanya tidur karena bingung bagaimana cara mencari uang untuk membayar hutangnya.

"Eomma, aku pergi bekerja dulu ne? Eomma jangan bekerja dulu dan harus beristirahat, arracchi?" Pinta Wonwoo pada eommanya.

"Arrasseo Wonie-ya. Kau jangan terlalu memaksakan diri bekerja Wonwoo, soal uang eomma akan mengusahakannya."

"Aniya eomma, aku juga harus membantu eomma. Eomma tenang saja, aku akan mencari uang secepat mungkin." Tegas Wonwoo membuat eommanya terdiam memandang sendu padanya.

"Maafkan eomma membuat hidupmu susah, Wonwoo." Ujar sang eomma memeluk anak semata wayangnya.

"Tidak eomma, hidupku tidak susah asalkan eomma selalu disisiku." Balas Wonwoo.

"Eomma sayang padamu, Wonie-ya."

"Nado eomma. Ja, aku harus pergi bekerja, eomma hati-hati dirumah, jika ada sesuatu hubungi aku." Pesan Wonwoo yang dibalas anggukan eommanya.

Wonwoo pun melangkahkan kakinya dengan pelan menyusuri jalanan kota Seoul menuju ke tempat kerjanya. Pikirannya kosong dan ia terlihat lesu dan lelah, ia terlalu pusing memikirkan masalah biaya hutang nya dan cara membayar hutang-hutangnya.

Sesekali kaki jenjangnya menendang kerikil kecil yang berada di jalan. Tiba-tiba telepon dalam sakunya bergetar menandakan sebuah panggilan, Wonwoo merogoh sakunya dan melihat ke layar teleponnya.

'Nomor asing?' batin Wonwoo.

Wonwoo ragu untuk menjawab panggilan tersebut, bisa saja panggilan itu dari orang jail yang iseng menghubungi orang lain. Dengan pelan akhirnya Wonwoo menjawab panggilan asing tersebut, ia mendekatkan telepon miliknya pada telinganya.

"Yobo-" belum selesai Wonwoo berbicara sebuah suara memotong perkataannya.

"Ya! Kau Jeon Wonwoo kan? Yeoja yang hampir ditabrak Soonyoung kemarin?"

"M-mwo? Ini siapa?" tanya Wonwoo kebingungan pada orang yang mencecarnya dengan pertanyaan itu.

"Sudah jawab saja!"

"Ne, majayo aku Wonwoo.. tapi ada perlu apa denganku?" cicit Wonwoo pelan.

"Aku Mingyu, kau kemarin bilang ingin membalas bantuanku kan?"

"N-ne."

"Bagus, kuharap itu masih berlaku, temui aku di Star Restaurant sekarang. Aku memerlukan bantuanmu."

"Ne?! T-tapi aku ti-"

"Aku tidak menerima penolakan atau aku akan menerormu juga eommamu."

Sebelum Wonwoo menjawab perkataan namja diseberang telepon, namja itu sudah memutuskan sambungan teleponnya dengan Wonwoo. Wonwoo hanya menatap tidak percaya dengan apa yang dialaminya barusan, seorang namja aneh bernama Mingyu yang menelpon dirinya dan seenaknya menyuruh Wonwoo pergi ke suatu tempat.

'Tunggu, siapa? Mingyu? Kim Mingyu?!' histeris Wownoo dalam pikirannya.

"Mwoya! Tidak bisakah dia berbicara baik-baik? Aku bahkan hanya menjawab beberapa kata. Walaupun dia membantuku kemarin, tapi tidak seharusnya dia bersikap begitu padaku!" gerutu Wonwoo kesal.

"Dan apa? Pergi ke Star Restaurant dan membolos kerja? Hell no! aku tidak akan pergi."

Wonwoo melanjutkan jalannya yang sempat terhenti karena telepon dari Mingyu, tapi pikirannya berkecamuk sepanjang jalan.

'Tapi aku sudah berjanji akan membantunya.'

'Tapi seharusnya dia tidak seenaknya menyuruhku.'

'Tapi tetap saja aku sudah berjanji, aigoo kepalaku'

Setelah beberapa pemikiran yang berputar dalam pikiran yeoja manis itu, akhirnya ia memutuskan untuk pergi menuju ke Star Restaurant tempat dimana Mingyu meminta Wonwoo untuk menemuinya tanpa tau bahwa hidupnya akan berubah seratus delapan puluh derajat.

-TBC-

Guys maafkan aku baru update, dan hasilnya giniii ngecewain

Aku minta support dan pengertian dari kalian ne? Aku lagi sakit dan lagi dalam masa penyembuhan jadi agak susah update ff. tapi aku janji kok chapter depan lebih panjang dari ini.

BUAT READERS DEUL DAN FOLLOWERS DAN FAVOURITERS DAN REVIEWERS JEONGMAL GOMAWO! AKU SAYANG KALIAN *bow and hug*