Dan entah mendapat dorongan darimana, Kyungsoo melakukan sesuatu yang bisa dibilang nekat.
Ya, dia merebahkan kepalanya di paha Park Chanyeol yang tertidur.
Hei-salahkan paha Park Chanyeol yang terlihat empuk dan nyaman ditiduri itu. Lagipula kepala Kyungsoo sedikit pusing gara-gara remedial sejarah tadi sore. Kyungsoo menguap pelan.
.
.
.
Just A Neighbor
- Chapter 3 -
Drrt drrt drrt drrt drrt.
Ponsel yang diletakkan di saku jaket itu terus bergetar, menandakan ada yang menelepon. Sang empunya ponsel sedikit terusik dari getaran yang berasal dari sakunya tersebut.
Drrttttttt. Drrrrttt.
Dengan mata masih terpejam, Chanyeol merogoh saku jaketnya dan menempelkan ponselnya ke telinga. "H-haaaloooo ?" kuapnya.
"YAK ! PARK CHANYEOL DIMANA KAU ?!"
Teriakan seseorang dari seberang telepon membuat Chanyeol membuka mata sepenuhnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan bus yang membawanya ke rumah itu. Lalu Chanyeol menyadari sesuatu.
KYUNGSOO TERTIDUR DI PAHANYA !
Chanyeol menatap kepala Kyungsoo yang tampak nyaman di pahanya. Rambut hitam lebat wangi sampo kelapa itu membuat Chanyeol tak tahan untuk tak mengacak-acaknya. Senyuman tersungging di wajah tampannya. Sejak kapan Kyungsoo tidur di pahanya ? Kenapa dia bisa-
"-yeollll ? Park Chanyeol ? Kau masih disana kan ?"
Chanyeol lupa ia sedang ditelepon seseorang. "Iya, hyung. Aku sedang dalam perjalanan pulang. Sebentar lagi juga sampai. Kau tunggu saja depan rumah."
"Huh. Kalau bukan karena ibumu yang cerewet itu mana mau aku ke rumahmu ! Awas saja kalau aku tidak diberi jatah makan malam !"
"Aku sendiri belum makan dari siang, hyung."
Chanyeol malah memulai sesi curhatnya bersama seseorang yang dipanggilnya 'hyung' di telepon. Setelah beberapa menit mengobrol, Chanyeol meminta izin untuk menutup telepon karena halte tempatnya dan Kyungsoo turun sudah dekat.
"Oke. Jangan buat aku menunggu terlalu lama."
Telepon pun ditutup. Chanyeol membangunkan Kyungsoo dengan menepuk-nepuk pipi tembam pria itu, "Kyungsoo-ya, bangun."
Tidak ada respon dari Kyungsoo. Dengkurannya malah makin keras dari sebelumnya.
Chanyeol kembali menepuk pipi Kyungsoo dengan lebih keras, "Kyung bangun !"
Hanya dengkuran halus yang terdengar. Kyungsoo tampak tak terganggu sedikitpun dengan suara keras Chanyeol. Tapi bukan Park Chanyeol namanya kalau kehabisan akal untuk membangunkan Kyungsoo.
Kali ini namja tampan itu menggelitiki leher Kyungsoo-karena dia tahu tetangganya itu paling tidak tahan kalau digelitiki.
Aneh. Ini aneh.
Kyungsoo tidak bangun ! Dia hanya mengiyem sebentar.
Chanyeol kembali menggeletiki Kyungsoo dan tidak terjadi apa-apa. Pria itu masih tertidur lelap dengan dengkuran halusnya.
"KYUNGSOO-YA BANGUNNNNN !" teriak Chanyeol tepat ke telinga Kyungsoo. Kyungsoo tetap tidak bangun, membuat Chanyeol menghela napas keras.
Tiba-tiba saat melihat wajah Kyungsoo yang begitu tenang dalam tidurnya, Chanyeol mempunyai sebuah ide di otaknya. Ide yang cukup gila sih. Namun kalau ia tak melakukannya Kyungsoo mungkin tak akan bangun-bangun. Sekitar lima menit lagi mereka sampai di halte.
Akhirnya, Chanyeol mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Kyungsoo. Perlahan ia memainkan jari telunjuknya ke dahi, alis, dan hidung Kyungsoo. Setelah itu ia meniup pelan telinga Kyungsoo.
"Kyungsoo-ya, bangun," bisiknya dengan nada selembut mungkin. Yah, suara beratnya tidak bisa diajak kompromi. Ia kembali meniup telinga Kyungsoo dan berbisik, "Bangunlahhh. Bangunnnn-" suaranya menirukan sosok-sosok hantu di film yang Kyungsoo takuti.
Kyungsoo mulai sedikit mengerang.
"Bangunnnnlahh. Bangunnnn, atau aku akan menganggumuuu nanti malammmm," bisiknya lagi-menahan tawa. Ia pun kembali meniup belakang leher Kyungsoo. Kyungsoo mulai terengah-engah dengan mata masih terpejam.
"Bangunn, atau kuambil nyawamu-"
Akhirnya Kyungsoo terbangun. Kedua matanya melotot ketakutan dan ia buru-buru bangun dari paha Chanyeol. "Apa itu tadi ?" tanyanya. Suaranya serak.
Chanyeol menggeleng, pura-pura tidak tahu.
"Kita sudah sampai ?" Kyungsoo sedikit mengernyitkan alis melihat pemandangan jalan yang familier di luar jendela bis. "Berapa la-"
"Kenapa kau bisa tidur di pahaku ?" sela Chanyeol penasaran. Kedua alisnya terangkat sambil menatap Kyungsoo lekat-lekat.
"Ha ? Aku tid-"
Oh, shit.
"Aku hanya mengantuk," jawab Kyungsoo cuek. Ia tidak tahu kenapa pipinya tiba-tiba memanas. Ketahuan tertidur di paha Chanyeol adalah hal terakhir yang memalukan yang terjadi padanya hari ini.
"Benarkah ?"
"Memangnya apa lagi alasanku ?" tukas Kyungsoo. "Hei, aku masih marah padamu ! Beraninya kau mengajakku bicara setelah membuatku tidak jadi ke perpustakaan !"
"Mian, mian. Aku juga tidak jadi beli mi instan. Kris-hyung sudah menunggu di rumah."
.
.
.
Kris alias Wu Yi Fan menatap jam tangan abu-abu yang melingkar di tangan kirinya dengan tak sabar. Jam enam lewat sebelas menit.
Pria berusia dua puluh delapan tahun yang berpenampilan rapi dengan kemeja putih dan celana panjang hitam itu menghela napas tak sabar. Ia memilih untuk kembali duduk di depan pagar rumah bernomor 061 itu.
Park Chanyeol lama sekali. Anak itu kemana dulu sih ?! Katanya sebentar lagi sampai, pikirnya kesal. Kris yang adalah-sebut saja saudara jauh-dari Park Chanyeol diminta oleh ibunya Chanyeol untuk menjaga anaknya di rumah karena beliau ke luar kota selama lima hari (atau mungkin lebih). Ayah dan ibu Chanyeol sudah bercerai tiga tahun lalu dan Chanyeol tinggal bersama ibunya karena ayahnya menikah lagi. Ibu Chanyeol yang notabene adalah seorang sekretaris di kantor ternama harus sering meninggalkan Chanyeol di rumah sendiri karena pekerjaannya yang padat. Karena itu, Chanyeol lebih sering menghabiskan waktu di rumah Kyungsoo karena merasa kesepian di rumah. Orangtua Kyungsoo sendiri tidak pernah keberatan dengan kehadiran Chanyeol di rumahnya.
"Kris-hyung !"
Panggilan yang ditujukan padanya itu membuat Kris menoleh. Park Chanyeol melambai-lambaikan tangan padanya sambil berlari, meninggalkan temannya-yang sudah Kris kenal saking seringnya dia kemari-Do Kyungsoo di belakang.
Dalam sekejap Chanyeol sudah ada di depannya. Terengah-engah tapi tetap tersenyum lebar, "hyung rapi sekali sih ?"
"Aku baru saja pulang kerja, bodoh ! Kau lama sekali !"
"Oh, tentu saja lama karena dia latihan basket dulu," sahut Kyungsoo dengan nada mengejek.
Chanyeol mengabaikannya dan memilih untuk membuka kunci pagar rumahnya. "Hyung ayo kita bertaruh. Chelsea akan menang 2-0 malam ini."
"Aku tidak punya uang, Yeol," keluh Kris. Ia menggaruk rambutnya yang sedikit gatal. "Jangan suruh aku untuk mentraktirmu pizza sekarang ini. Kumohon."
"Tidak punya uang ? Omong kosong," tukas Chanyeol sambil pura-pura manyun. "Aku tahu hyung baru liburan ke Praha minggu lalu."
"Siapa yang liburan ? Aku ke pernikahan temanku. Semuanya-dari mulai tiket pesawat sampai hotel di sana dia yang bayar. Bahkan aku tidak mengeluarkan uang sepeser pun di sana."
"Jadi hyung tidak beli oleh-oleh untukku ?"
"Mana sempat beli oleh-oleh. Aku hanya dua hari di sana. Aku kan harus kerja lagi."
"Kyungsoo-ya, tutup jendela," titah Chanyeol begitu memasuki rumahnya pada Kyungsoo. Ayah dan ibu Kyungsoo juga tidak di rumah. Mereka sedang menginap di rumah bibi Kyungsoo di desa karena sepupu Kyungsoo yang baru berusia 8 bulan sakit. Kyungsoo juga tidak mengerti mengapa ayah dan ibunya tampaknya sangat sayang pada sepupu barunya itu, tapi yang paling menyebalkan-setiap mereka pergi-mereka selalu 'menitipkan' Kyungsoo pada Chanyeol.
Jadilah, Kyungsoo terpaksa akan berada di rumah Chanyeol sampai makan malam dan sekitar jam sepuluh malam Kyungsoo baru akan pulang ke rumahnya sendiri untuk tidur.
Sambil sedikit menggerutu, Kyungsoo berjalan ke arah jendela besar di ruang tamu yang terbuka. Ia meraih slot di bagian bawah jendela dan menguncinya. Ia lebih mirip pembantu di rumah Chanyeol daripada 'teman yang ikut menginap'. Chanyeol benar-benar tidak bisa diandalkan. Si tiang listrik itu bahkan tidak bisa masak nasi ataupun mencuci piring. Yang ada piring-piring kotor malah banyak yang pecah. Dia tidak bisa mengepel, menyapu, pokoknya dia sangat payah. Parahnya lagi ibunya jarang berada di rumah dan sering meminta Kyungsoo untuk membantu Chanyeol bersih-bersih rumah. Cih, apanya yang membantu ?! Si raja hutan itu malah menyuruh-nyuruh seenaknya sementara dia sendiri tidak melakukan apa-apa.
Kris berdecak ketika mendapati ruang depan rumah Park Chanyeol yang mirip kapal pecah. Di meja berserakan bungkus makanan dan kopi kaleng. Karpetnya kotor oleh remah-remah kue. Di sofa baju-baju Chanyeol bertebaran (?). Bahkan celana pendek garis-garis milik pria jangkung itu ada di sana. "Apa yang kau lakukan sih semalam ? Dasar gila. Mana ada orang yang ganti baju di ruang depan ?"
"Tadi pagi aku kesiangan. Jadi aku buru-buru mengganti bajuku sambil membereskan buku pelajaran," ujar Chanyeol. Dengan santainya, ia duduk di sofa-menduduki kaos oblong kuning miliknya sendiri. "Haus sekali. Kyung, ambilkan jus jeruk dulu, chagiya."
Kyungsoo melotot mendengarnya. "CHAGIYA ?"
Ia melempar tasnya sendiri ke arah Chanyeol-yang langsung ditangkap oleh namja itu sambil terkekeh geli.
"Hei, aku serius. Ambilkan aku jus jeruk. Kris-hyung juga haus," kata Chanyeol lagi ketika Kyungsoo mulai mengambil sampah-sampah di meja. "Nanti saja bereskan sampahnya-"
"Nanti ?! Baik, kau bereskan sendiri semuanya nanti. Aku tidak akan membantumu !" Kyungsoo melempar bungkus keripik kentang kosong ke arah Chanyeol. Chanyeol membiarkan sampah itu jatuh ke pahanya, "tentu saja kau harus membantuku."
"Kenapa aku harus membantumu ?" tanya Kyungsoo kesal. Ia mendudukkan dirinya di bagian sofa yang jauh dari Chanyeol. "Kau yang acak-acak, harusnya kau yang bereskan !"
Kris sendiri memilih pergi ke lantai atas daripada mendengarkan perdebatan tidak penting itu. Dia mau istirahat dengan tenang di kamar Chanyeol.
Chanyeol beringsut mendekati Kyungsoo. Dia sudah mengubah posisi duduknya menjadi tengkurap. Kini ia sudah berada tepat di sebelah Kyungsoo yang manyun sambil melipat kedua tangannya kesal. "Kau boleh pulang kalau begitu," kata Chanyeol pelan. Kyungsoo sedikit mengangkat alisnya. "Pulanglah, Kyungsoo. Ada yang sudah menunggumu di rumah," Chanyeol menyeringai.
".. Ada yang sudah menunggumu di rumah. Di kamarmu, tepatnya."
Kyungsoo meneguk ludah berat.
".. Sesosok wanita berkulit pucat dengan rambut hitam panjang yang menutupi sebagian wajahnya."
Napas Kyungsoo tercekat.
".. Gaun putihnya berlumuran darah. Dia melayang-layang di atas kamarmu-"
"HENTIKAN PARK CHANYEOL !" teriak Kyungsoo dengan wajah pucat pasi. Sementara Chanyeol tertawa terbahak-bahak melihat wajah ketakutan tetangganya itu. "KAU JANGAN MAIN-MAIN !" Dengan kesal bercampur takut, Kyungsoo memukul-mukul punggung Chanyeol bertubi-tubi sampai menimbulkan bunyi 'dukk' keras.
Chanyeol tampaknya tak berniat membalas pukulan itu sama sekali. Tawanya berubah menjadi senyum tipis. Ia meraih pergelangan tangan Kyungsoo yang hendak memukul punggungnya kembali. Kyungsoo berusaha menarik tangannya, tapi tangan Chanyeol terlalu kuat.
"Lepas-"
Chanyeol menggenggam tangan Kyungsoo lembut. "Jangan pulang. Aku hanya bercanda."
"Tapi kau keterlaluan !" Kyungsoo merengut. Ia menyerah, membiarkan tangannya digenggam Chanyeol. Lagipula tangan Chanyeol terasa sangat hangat.
"Hei, aku lapar," kata Chanyeol sembari bangkit dan duduk di sebelah Kyungsoo. "Buatkan aku sesuatu."
"Kau mau makan apa ?" tanya Kyungsoo. Ia menatap Chanyeol yang mengetuk-ngetuk dagunya, berpikir. "Mmm .. omelet ?"
Kyungsoo menggeleng. "Jangan mie, Chan. Terlalu banyak mie minggu ini."
"Ayolah, Kyungg, aku mau omelet."
"Tidak."
"Pleaseeeeeee," Chanyeol memohon. Dia menarik-narik lengan Kyungsoo sambil mendekatkan wajahnya pada pemuda itu, membuat Kyungsoo memundurkan kepalanya sampai menyandar pada sofa.
"Honey."
Chanyeol semakin mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo. Kyungsoo bahkan bisa merasakan deru napas Chanyeol di wajahnya. Hangat, wajahnya menghangat-melihat Chanyeol yang begitu tampan di depannya.
Hidung mereka bersentuhan. Tepatnya Chanyeol yang berusaha menggesekkan hidungnya pada hidung Kyungsoo. Matanya tertuju pada iris mata Kyungsoo yang menunduk karena malu.
"Aku mau omelet," bisik Chanyeol lagi. Suaranya rendah sekali, tidak seperti biasanya. Kyungsoo sedikit takut, juga geli mendengarnya. Tapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Chanyeol menatap bibir Kyungsoo. Kyungsoo sudah tahu apa yang ada di pikiran Park Chanyeol.
Jantungnya berdegup kencang. Tangannya mulai berkeringat. Kyungsoo memang sudah berdebar-debar sejak saat Park Chanyeol mendekatkan wajahnya, tapi ia memilih mengabaikannya.
Chanyeol mendekatkan bibirnya pada bibir Kyungsoo.
"PARK CHANYEOL DIMANA HAN-"
O-ow. Kris turun di saat yang tidak tepat.
"Dukmu," lanjut Kris pelan.
Chanyeol menjauhkan dirinya dari Kyungsoo-membuat namja itu menghela napas lega, "biar kuambilkan." Laki-laki itu pun menyeret Kris ke lantai dua, meninggalkan Kyungsoo sendiri di sofa.
Pusing, Kyungsoo merebahkan dirinya di sofa Chanyeol sambil menatap langit-langit rumah itu.
'Apa-apaan itu tadi ?'
'Honey ? Dia memanggilku honey ?'
.
.
.
Setelah makan malam bersama Kris-hyung juga, Chanyeol mengantar Kyungsoo ke rumahnya. Rumahnya tentu saja ada di sebelah rumah Chanyeol.
Setelah membuka kunci, Kyungsoo menyalakan semua lampu di setiap ruangan rumahnya. Chanyeol menunggunya selesai mandi dan memakai baju tidurnya. Baru setelah ia keluar dari kamar, Chanyeol pamit pulang.
"Kalau kau mimpi buruk, telepon saja aku. Oke ?" tanya Chanyeol sambil mencubit pipi Kyungsoo gemas.
Kyungsoo sedikit cemberut, "Sejak kapan kita pacaran ?" tukasnya. "Kenapa aku harus meneleponmu ?"
"Memangnya harus pacaran hanya untuk menelepon saja ?" giliran Chanyeol yang memberengut. "Kau sendiri yang tidak mau jadi pacarku."
"Kau bahkan tidak menyukaiku. Jangan bercanda, Park Chanyeol."
Chanyeol terdiam lama. Namun sesaat kemudian ia tersenyum lagi, "tidurlah. Sudah malam."
"Kau juga," Kyungsoo mendorong punggung Chanyeol menuju pintu keluar. "Sampai jumpa besok pagi, Chan."
"Mimpi indah, Kyung."
.
.
.
Pagi itu, Byun Baekhyun datang lebih siang dari biasanya. Biasanya ia datang pukul tujuh kurang lima belas menit ke kelasnya. Tapi hari ini ia datang pukul tujuh kurang lima menit.
Ketika sampai ke kelasnya, hal pertama yang ia lihat adalah Park Chanyeol yang sedang mengobrol dengan sahabatnya, Do Kyungsoo. Dengan senyum cerah di wajahnya, Baekhyun mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
.
.
.
TBC
