Oke. Ktemu lagi dgn saya Avy. Saya si author gila repiu.
Pokoknya REVIEW dulu, baru BACA. kalo blom reviu gak boleh BACA...!!
*dirajam si pantat ayam* emang bsa reviu klo gak baca??
PERHATIAN: tidak ada pem-bashingan di fic ini.
Sekali lagi oke. Masih ingat motto saia?!
H: Hidup
U: Untuk
R: Review
A: Anda !!
Mau diubah jadi hura-hura gak apa kok. Jadinya: Hidup Untuk Review Anda – Hidup Untuk Review Anda…-disambit sendal-
Saya akan mncoba memakai lagu yg berbeda kali ini. apa ya? Opera sabun?
WARNING: OOC, AU, gajeness sperti biasa, typo, A/N yg suka muncul seenaknya. Harap dimaklumi.
~0~
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Genre: Tragedy and Family
Rate: T
Warning: Gaje, AU, OOC. Bnyk AN.
My Dream, with My Sibling
By: Avykuro Sabaku
Diharap anda memutar winamp ato media player utk menjiwai emosi lagu. Ingat, Masih dalam mode flashback.
kali disponsori dgn Peterpan – Tak Ada yang Abadi karna bnyk yg protes.
~0~
Last chapter
"Osh! Kita mulai kerja besok. Untuk sementara kalian berdua tinggal dirumahku dan Gaara saja. Memang tidak bisa dibilang rumah, sih. Tapi nyaman…"
.
.
.
"Di sini rumah kami." Naruto menunjuk sebuah perumahan kumuh yang terletak di sepanjang sungai. Rumah-rumah yang sungguh tidak layak ditinggali, kebanyakan terbuat dari triplek dan bambu. Berjejer secara berantakan membentuk alur yang sangat tidak enak dipandang. Didirikan di atas tanah milik negara, membuat pemiliknya dibayangi horor penggusuran.
Naruto menarik lengan Sasuke dan Itachi yang masih tertegun melihat pemandangan tidak indah tersebut. Gaara, masih dengan tenang mengikuti dari belakang. Sesekali si cowok serba merah ini menyapa penduduk yang berpapasan dengan mereka.
"Kyaaa... Gaara!" teriak sekumpulan anak cewek yang berbalut busana kumuh. Sekali lagi, penggemar Gaara. biar hidup tukang cuci, tapi tampang tetap lumayan dong.
Naruto yang juga bersemangat menyapa penduduk dan para penggemarnya ----maaf, kalau ini pengecualian--- akhirnya mengerem mendadak di sebuah rumah panggung mini berukuran 4 meter persegi. Rumah yang aneh, terbuat dari bahan tripek dan kardus. Bukan, bukan itu yang aneh. Yang aneh, warna rumah itu terbagi menjadi dua. Sisi kiri bercatkan orange menyala, sedangkan sisi kanan berwana merah marun. Membedakan pribadi kedua orang yang memilikinya.
"Ayo masuk!" teriak naruto membuyarkan kekaguman duo Uchiha yang masih terbengong-bengong.
.
.
"Ini rumah kalian?" tanya Sasuke tidak percaya. Ia memandang kedua pemilik rumah itu.
"Apa yang bisa kau harapkan dari tukang cuci bis seperti kami?" balas Gaara tetap dengan tampang tenang. "Tidak ada pilihan yang lain di sini." Lanjutnya.
Itachi menarik lengan Sasuke dan membekap mulutnya. "Tidak, maksud kami teh kami sudah berterima kasih dipinjami tempat tinggal. Ya 'kan Sasuke?" tanyanya pada adik yang masih dibekapnya. Sasuke mengagguk.
"Tak apa, kami tidak akan marah hanya karena dibilang begitu. Lebih baik kalian masuk saja." Ujar Gaara sembari nyelonong masuk rumah, meninggalkan tiga yang lain di luar.
"Aku akan buatkan teh!" Naruto pun melesat masuk menyusul Gaara. dengan semangat empatlima ia memanaskan air di atas tungku kayu.
Sasuke dan Itachi yang terakhir masuk, kembali memandangi rumah mini itu. Rumah itu memang terbagi dua bagian, namun tidak bersekat. Hanya dipisahkan oleh sebuah daun pintu masuk yang mereka lalui tadi. Ruangan berwarna oranye, tempat yang sangat menjiwai untuk dapur. Di sudutnya terdapat tungku kayu yang jika dinyalakan minta ampun bau asapnya. Namun bagi Naruto yang biasa bergelut di dapur, itu bukanlah masalah. Disamping tungku itu bertebaran alat-alat masak dan makan. dan di sudut lainnya, tempat penyimpanan kayu bakar.
Itachi menuju ke ruang merah marun dan menghampiri Gaara, meninggalkan Sasuke yang masih menemani Naruto. ruangan itu lebih berbeda dan lebih rapi, sudah jelas empunya bukan Naruto. ruangan itu berisi tikar lebar yang digelar untuk tempat tidur, dan sebuah lemari tua yang diletakkan di sudut. Mungkin, ruangan ini berfungsi sebagai kamar dan tempat berkumpul. Mata Itachi tertuju ke sebuah benda bersenar enam yang sedang dimainkan oleh Gaara.
"Kau bisa bermain gitar?" tanya Itachi penasaran. Ia merapatkan duduknya ke sebelah Gaara, di atas tikar tua itu.
"Ya. Memang kenapa?" Gaara balas bertanya.
"Kenapa tak kerja jadi pengamen saja?"
"Hn. Aku lebih suka menemani Naruto jadi tukang cuci bis."
"Kalau begitu kau ajak Naruto ngamen bersama saja."
"Masalahnya Naruto tak bisa main gitar. Kalaupun dia menyanyi, suaranya rombeng sekali."
"Semuanyaaa Minuum...!" teriak sebuah suara toa dari ruang sebelah. Kedua ruangan yang bergabung dan tak bersekat itu jelas tak bisa meredam sebuah suara keras yang baru saja dilontarkan. Datanglah seorang anak berambut pantat ayam dan seorang anak berambut blonde yang membawa sebuah nampan dengan menggebu. Mereka menghampiri Gaara dan Itachi lalu duduk bersama.
"Teh ala Naru!" teriak Naruto sekali lagi sembari mengedarkan empat cangkir teh yang masih mengepul. Mereka berempat duduk melingkar dan memandangi pemandangan sekitar lewat sebuah jendela terbuka, yang menempel di dinding ruangan.
"Satu-satunya keahlian Naruto hanyalah membuat teh dan memasak ramen." Gumam Gaara pelan, diikuti tawa kecil Itachi. Naruto dan Sasuke yang tidak mengerti hanya berpandangan cengok dan melanjutkan acara minum tehnya.
"Apa maksudmu, Gaara?" tanya Naruto penasaran karena dirinya dibawa-bawa.
"Lupakan."
"Kau selalu begitu, menyebalkan."
Naruto memasang wajah cemberut dan memajukan bibirnya. Gaara hanya tersenyum simpul dan mengacak-acak rambut Naruto, yang membuat wajah si blonde bertambah masam.
Sasuke memandangi kedua orang itu. Seorang anak cowok berambut pirang, memiliki kulit berwarna sawo matang namun bersih. Satunya lagi, seorang anak cowok berambut merah yang berkulit putih pucat, dan lumayan tampan. Benar-benar dua orang anak yang tidak pantas menjadi gembel. Sama seperti dia dan kakaknya.
"Sejak kapan kalian jadi gembel?" tanya Sasuke ke kedua orang yang sedari tadi dipandanginya. "Dilihat dari penampilan kalian, sepertinya bukan berasal dari keluarga gelandangan." Ujarnya sambil menoel-noel pundak Naruto.
"Siapa dulu?" tanya Gaara seraya mengerling Naruto.
"Aku!" jawab Naruto mantap. Dia berdeham sedikit, dan mulai bercerita. "Sebenarnya dulu aku orang berkecukupan. Ayahku adalah seorang dokter dan ibuku desainer." Naruto langsung memasang tampang sok dramatis. Duo Uchiha dengan seksama mendengar ceritanya.
"Semua berawal ketika ayahku menyangka ibuku selingkuh dengan sahabatnya, Hioshi Sabaku. Padahal ibu menganggapnya hanya sebagai teman biasa. Rumahku yang dulunya damai sekarang penuh dengan perselisihan. Aku yang tidak tahan pun kabur dari rumah." Naruto mengakhiri ceritanya dengan singkat. Ia menolehkan wajahnya pada Gaara.
"Dan Hioshi Sabaku itu ayahku." Lanjut Gaara. kali ini dia yang dapat bagian meneruskan cerita. "Ayahku itu sahabat ibu Naruto, seorang pengusaha dari sebuah perusahaan bernama Sabaku Corp. tapi ia sangat membenciku. Ia menganggap aku anak haram hasil selingkuhan ibuku, Karura. Walau mati-matian ibuku membelaku dan memberitahu ayahku bahwa aku bukan anak hasil selingkuhan, ayahku tetap saja membenciku." Cerita Gaara panjang lebar. Terbitlah simpati dari kedua Uchiha.
"Lantas apakah benar ibumu selingkuh?" tanya Itachi penasaran. Ia menajamkan pendengarannya supaya lebih jelas.
"Tidak. Setahuku, ibuku orang yang benar-benar baik dan setia. Masalahnya, ibuku divonis tidak bisa memiliki anak lagi oleh dokter, setelah melahirkan kedua kakakku. Namun ternyata setelah itu aku lahir." Jawab Gaara panjang-lebar.
"Lho, bukannya kalau begitu tidak mungkin juga kalau ibumu hamil dari orang lain?" sangkal Itachi tidak terima, seakan-akan ia yang mengalami seluruh kejadiannya.
"Memang begitu seharusnya. Tapi ayahku yang-tak-tahu harus bagaimana lagi menganggap ibuku selingkuh." Terang Gaara sekali lagi. Ia menggenggam jemari tangannya dengan kuat, meluapkan seluruh amarahnya.
"Karena aku sering disiksa oleh ayahku, ibu dan kakak-kakakku menyuruhku kabur sementara. Mereka bilang akan mengadakan tes DNA dan membuktikan aku benar-benar anak kandungnya. Sialnya, aku malah tersesat jauh dan tidak tahu jalan pulang." lanjut Gaara yang kini menundukkan kepalanya, sedih. "Aku rindu keluargaku..."
Sasuke dan Itachi kembali tertegun melihat Gaara, seorang pangeran es yang ternyata bisa juga menunjukkan kesedihannya sampai seperti itu. Naruto yang mengerti langsung menyelamatkan suasana.
"Dan saat itulah kami bertemu." Lanjut cowok pirang itu. "Kami berdua sama-sama tersesat dan bertemu di daerah sini."
"Dan Naruto yang menghiburku." Gumam Gaara pelan.
"Tidak, kita saling menghibur." Protes Naruto tidak terima. Sejenak Hening meliputi mereka berempat.
"Kalau kalian berdua?" tanya Naruto memecah kesunyian. Sekarang pandangan tertuju pada duo Uchiha yang masih terbengong-bengong.
"Orangtua kami meninggal karena kecelakaan dan kami digusur dari rumah untuk membayar hutang. Klise 'kan, seperti sinetron saja." Jawab Itachi mantap dengan sedikit nada penyesalan. Sekarang giliran Naruto dan Gaara yang menatap iba pada kakak-beradik itu.
"Paling tidak orangtua kami tidak meninggal seperti kalian." Lanjut Naruto simpati.
"Ya, kisah kalian seperti sinetron. Tapi kisah kami seperti termehek-mehek." Tanggap Gaara asal. Tawa kecil menghiasi wajah mereka berempat, para anak muda yang memiliki masa lalu kelam. Namun, dengan bersama-sama, mereka yakin dapat meraih cita-cita masing-masing. Pahit-manisnya persahabatan.
Takkan selamanya
Tanganku mendekapmu
Takkan selamanya
Raga ini menjagamu
.
Seperti
alunan detak jantungku
Tak
bertahan melawan waktu
Dan
semua keindahan yang memudar
Atau cinta yang telah hilang
.
Tak
ada yang abadi…
Tak
ada yang abadi…
Tak
ada yang abadi…
Tak
ada yang abadi…
.
.
"Kalian bertiga..." desah Gaara. "Aku ingin bertemu keluargaku lagi."
"Aku juga sama..." sahut Naruto semangat.
"......"
"Kami ingin mengadu nasib di Lollywood." Lanjut Itachi dan Sasuke bersamaan.
"Jadi artis?" tanya Gaara dan Naruto juga bersamaan.
"Ya, kami ingin jadi artis terkenal di sana. Ingin mengubah hidup.."
"Paling-paling jadi figuran." Jawab Naruto setengah menghina.
"Hei!" teriak Sasuke tidak terima. "Wajahku sudah setampan orlando bloom." Jawabnya konyol seperti anak kecil.
"Ya sudah. Tapi kalau kalian sudah jadi orang tenar nanti, jangan lupakan kami." Lanjut Gaara pelan.
"Ya." Sahut duo Uchiha bersamaan.
"Mari kita capai keinginan kita bersama!" teriak Naruto semangat sembari mengibas-ngibaskan pompom di tangannya. –jiah—
"Ayo!" teriak tiga yang lain mengiyakan.
.
.
.
-------------
TBC
-------------
Gaje? Ajur? Sok dramatis? Makin kayak sinetron? Repiu OK!
Un, saia nyalin nama ayahnya Gaara si Sabaku Hioshi itu kalo gak salah di fic "i'm Hatake Gaara", pemilik alias –senpainya kagak kberatan, kan? Brhubung saia lemah dalam penamaan. Kita kolaborasi aja deh...:D
Gimana? Dah lumayan dramatis blom? *sentuh-sentuh pembaca* sayangnya, disini cuman friendship doang. Lemonnya persahabatan. Gak ada kasmaran-kasmaranan, peluk-pelukan baik straight maupun khas yaoi. Perlukah dipindah ke rate K?
Akhir-akhir ini kualitas pic saia agak menurun lantaran sang author sedang broken heart. –ceileh- broken heart karna celengan saia kagak penuh-penuh. –swt- soalnya, hape saia barusaja DICOPET! Orangtua saia kagak mau beliin yang bru. Jadilah, saia pun nabung. Wahai pencopet yg ngambil HP saia di angkotan rakyat! Saia tidak bakalan mengikhlaskan kalian...! Tapi brhubung ini bulan puasa, saia akan brusaha melupakan kekasih hati saia trsebut. HP tersayang.... *Peluk nyium poster ponsel*
Jiah... cukup curhatnya. Jika anda-anda skalian ingin memberi kritik atau saran, harap klik tombol Ripiu. Repiu chap Kali ini akan saia balas dalam chap selanjutnya, soalnye saia malas balesin satu-satu.
–digampar— Tapi lumayan kan buat promosi sesama author???
Satu yang ingin saia tanyakan. Bedanya AU dan canon itu apaan?! harap dimaklumi, saia msih pemula.
Thanks to:
Shinomori Aomi
Uchiha no Vi-chan
Mbak Dani
Light-Sapphire-Chan
Erune
Kurohana Sakurai
Maaf! Maafkan saia cuman nampang nama duang! Saya kagak sempet bales ripiu-nya, dah kegatelan! –tendang- tpi lumayan kn 'promosi sesama author?' chap brikutnya bkal aye blez, deh…!
Oke. See uu next Chappe!
~Saia update, andapun Reviu~
