BLEACH © TITE KUBO

LUCKY © NAMIKAZE-NARUNI

.

.

.

Warning: BL, OOC, AU, Typo, dan lain-lain, dan lain-lain

Pairing: Grimmjow X Ichigo

Rated: T

.

.

.

Chapter 3: The Injury

Seorang wanita cantik baru saja keluar dari mobil Mercy mewahnya. Ia melangkah dengan langkah cepat memasuki sebuah gedung yang cukup ramai dengan orang berseragam resmi di sana. Kaki jenjangnya seolah tak akan berhenti melangkah sampai tempat yang ditujunya di dalam gedung itu sampai. Raut wajah cantiknya menyiratkan emosi yang bercampur dengan kekhawatiran.

"Dasar adik bodoh," decak wanita cantik itu dengan kesal.

Akhirnya, ruangan yang ditujunya sampai. Ruangan intograsi polisi. Sebelum, mengetuk pintu. Wanita cantik itu menghela nafas untuk menenangkan emosinya. Setelah cukup, ia pun mengetuk pelan pintu bercat perak itu.

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Menampakkan sosok polisi bertampang sangar dengan tubuh besar dan berambut coklat.

"Selamat malam, Inspektur Komamura. Saya Nelliel. Kakak perempuan dari Grimmjow Jeagerjaques." Ujar wamita cantik itu yang ternyata Nelliel.

Polisi di hadapan Nelliel yang bernama Inspektur Komamura itu terdiam sebentar. Lalu berkata, "Anda tidak perlu memperkenalkan diri anda, nona. Toh, saya dan anda sudah saling mengenal dan ini bukan kali pertama bocah itu berbuat seperti ini. Dia di dalam. Silahkan anda masuk." Ujarnya datar. Lalu, mempersilahkan Nelliel untuk masuk ruangan itu. Sedangkan dia sendiri berjaga di luar. Setidaknya, Komamura tahu, ini bukan kali pertama pemuda dari keluarga Jeagerjaques itu terlibat masalah seperti ini. Cuma ia tidak menduga bahwa hal ini akan terjadi lagi setelah 2 tahun lamanya.

Nelliel memasuki ruangan yang tampak remang-remang itu. Dan melihat sosok yang tengah berdiri di pojok ruangan yang tengah bersandar pada dinding lengkap dengan lengannya yang dilipat di depan dada. Walau ruangan ini remang. Tapi, itu cukup bagi Nelliel untuk mengetahui siapa sosok yang tengah bersandar itu. Wanita berambut hijau bergelombang itu lalu menghampiri sosok Grimmjow yang tak mengeluarkan sepatah kata pun mengenai kedatangannya.

Nelliel memicingkan matanya melihat wajah Grimmjow. Ada memar di sudut bibir. Ada pula memar di kening kirinya. Tidak parah sih. Malah sekarang, Nelliel mengkhawatirkan nasib korban dari keganasan Grimmjow. Bukan adiknya ini yang sekarang bertampang biasa seolah tidak terjadi apa-apa.

Nelliel menghela nafas mendapati respon cuek dari Grimmjow itu. Tidak mempedulikan sama sekali perbuatannya yang sudah menghajar habis-habisan 15 orang pemuda berandalan dan parahnya 3 diantara mereka koma di IGD rumah sakit Karakura sekarang. Setidaknya itulah kabar yang Nelliel dengar dari Komamura yang menelponnya tadi.

Nelliel melipat tangannya di depan dada, "Tak bisakah kau bersikap layaknya pemuda seumuranmu, Grimmjow?" tanya Nelliel datar.

Hening. Pertanyaan Nelliel itu sama sekali tidak hiraukan pemuda berambut biru itu. Grimmjow malah memalingkan wajahnya cuek.

"Kakak heran padamu. Sebenarnya, karena alasan apa kau membuat mereka babak belur seperti itu. Apa lagi kau hampir membunuh 3 orang diantara mereka? Aku memang tidak heran mendengar kau sering berkelahi. Tapi kau tidak akan pernah melawan musuhmu yang sudah tidak berdaya. Lalu kenapa sekarang kau.."

Grimmjow bungkam. Masih tidak menghiraukan sang kakak.

Nelliel menggeratukkan rahangnya kesal.

Bet!

"JAWAB PERTANYAANKU! GRIMMJOW JEAGERJAQUES!" seru Nelliel sambil menarik kerah baju Grimmjow. "Apa kau tidak sadar dengan perbuatanmu ini, hah? Jawab aku, Grimmjow!" seru Nelliel. Runtuhlah sudah semua emosi yang dipendam oleh Nelliel sejak tadi.

"Aku hanya membalas perbuatan mereka padaku," akhirnya, pemuda bermata biru langit itu bersuara juga. Membuat Nelliel yang mendengar itu perlahan emosinya mereda. Walau cengkraman pada kerah baju Grimmjow sama sekali tidak dilepaskannya.

"Lalu apa maksudmu menghajar mereka habis-habisan seperti itu?" desis Nelliel.

Grimmjow berkata dengan datar, "Sudah kubilangkan. Aku hanya membalas perbuatan mereka padaku. Bahkan, pembalasanku kepada mereka belumlah sepadan dengan apa yang mereka lakukan padaku," jawab Grimmjow. mata birunya berkilat di tengah ruangan yang remang itu. Mendapat respon Nelliel yang hanya terdiam dengan keheranan yang terlukis di wajah cantiknya. Grimmjow langsung menepis lengan putih Nelliel.

"Aku pulang. Sudah 7 jam aku di berada tempat sial ini," ujar Grimmjow sambil pergi dari tempat itu. Grimmjow tentunya tidak khawatir dirinya akan dipenjara akibat perbuatannya. Karena, ia tahu. Kalau kakak perempuan satu-satunya itu sudah menyelesaikan masalah ini.

"Jangan harap kakak akan membantumu lagi, Grimmjow!" ancam Nelliel.

Grimmjow menoleh sedikit sebelum meraih knop pintu, "Eh. Mungkin lain kali, kalau mereka menganggu apa yang menjadi milikku. Aku tak akan segan-segan menghabisi mereka semua! Walau itu artinya aku harus masuk tempat sial ini! aku tidak peduli. Kau dengar itu, kakak?" setelah berkata seperti itu, Grimmjow langsung keluar dari ruangan itu.

Meninggalkan Nelliel yang terdiam dengan sikap adiknya itu yang berubah menjadi macan yang haus akan pertarungan. Seperti dulu. Sebelum Grimmjow mengenal pemuda berambut orange itu. Ichigo Kurosaki. Lalu, kenapa sekarang sifatnya kembali berubah seperti dulu? Tunggu! Grimmjow bilang, ia menghajar mereka karena sudah menganggu miliknya. Apa yang dimaksud miliknya yang telah diganggu itu adalah Ichigo?

"Apa ini ada hubungannya dengan Ichigo?" gumam Nelliel pelan.

Setelah keluar dari ruangan itu. Grimmjow lalu menampakkan seringainya pada Komamura yang memang ada di depan ruangan itu.

"Terimakasih waktunya, sir!" ujar Grimmjow polos pada Komamura. Lalu melenggang santai keluar gedung. Meninggalkan Komamura yang hanya membisu menatap pemuda berambut biru itu. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Menampakkan sosok Nelliel yang baru keluar dari ruangan itu.

"Seharusnya anda membiarkan dia masuk bui agar menyadari perbuatannya itu, Nelliel-sama," ucap Komamura.

"Aku tahu, Komamura-san. Grimmjow bukanlah orang yang mudah ditundukkan seperti itu. Terkadang ia masih tidak mau mendengar perkataanku. Serahkan ia padaku. Akan kutangani dia dengan keras kali ini." Balas Nelliel dingin.

"Ya, saya mengerti, komandan."

OOOOOoooooOOOOO

ooooooooo

"MULAI SEKARANG JANGAN PERNAH MENEMUIKU, KUROSAKI! !"

"Kita putus, Ichigo Kurosaki!"

oooooooo

"Kenapa...?"

ooooooooo

"Karena aku sudah bosan denganmu! Kau tahu sifatku yang mudah bosan terhadap sesuatu, bukan? Dan sekarang aku merasakan kebosanan itu, Kurosaki!"

oooooooo

"Kenapa..?"

oooooooo

"Ya. Ini kulakukan pertama dan untuk terakhir kalinya. Sekarang semua sudah berakhir, Kurosaki. Selamat tinggal!"

oooooooo

"KENAPAA? !"

Brak!

Ichigo meninju dinding kamar apartement-nya dengan keras. Ingatan saat Grimmjow memutuskannnya masih terbayang jelas dipikirannya. Ingatan itu, seolah mempermainkannya dengan memutar ulang suara Grimmjow saat itu. Tak menyangka. Ia sungguh tak menyangka. Hubungannya dengan Grimmjow yang hampir 2 tahun itu harus berakhir dengan menyedihkan seperti ini.

Ichigo jatuh terduduk di lantai. Ia pun segera menyandarkan punggungnya pada dinding kamar apartementnya. Sebelah kakinya ditekuk dan pandangan matanya menatap nanar pada langit-langit kamarnya yang remang karena hanya diterangi oleh lampu meja di samping ranjang. Perlahan, pemuda berambut orange itu memejamkan mata musim gugurnya, merasakan hembusan angin dingin dari AC yang sengaja ia nyalakan dengan volume sedingin mungkin. Ichigo sempat mendengus. Mungkin kalau ia tetap diruangan yang sedingin ini, ia pasti akan ditemukan dalam keadaan sekarat besok karena terserang Hypotermia *. konyol.

Tapi, hal itu sama sekali tidak dipedulikannya. Ichigo menggigit bibir bawahnya sendiri. Menahan agar air matanya tidak keluar. Dia tidak mau dicap cengeng karena masalah sepele seperti ini. Sepele? Tidak. Ini bukan masalah sepele. Dimana kau diputuskan secara sepihak oleh orang yang kau sayangi. Sakitkah? Padahal selama ini, Ichigo berusaha agar ia bisa terlihat sempurna dihadapan Grimmjow. Tapi, ternyata itu sia-sia saja.

Ting Tong!

Ichigo mendongak. Suara bel?

Ting Tong! Ting tong!

Dengan susah payah, pemuda berambut orange itu berdiri. Walau pun sebenarnya ia tidak ingin menerima tamu dalam keadaan seperti ini. Tapi, setidaknya ia harus bersikap sopan pada orang yang bertamu di apartementnya.

Ting Tong! Ting tong!

"Iya, sebentar," seru Ichigo enggan. Lalu perlahan membuka kunci apartemennya dan meraih knop pintu untuk membuka pintu itu. Setelah terbuka, nampaklah sosok Renji berdiri sambil menggigil kedinginan karena angin malam yang memang sangat dingin. Terbukti. Renji kini memakai jaket tebal bewarna hitam dengan scraft merah melingkari lehernya. Ichigo mengernyit heran melihat kedatangan salah satu sahabatnya itu.

Renji nyengir ketika pintu sudah dibuka, "Yo!"

"Renji? Ngapain kau datang malam-malam begini?" tanya Ichigo heran. Wajarlah, mana ada orang bertamu jam 11 malam begini?

"Akan kuceritakan nanti. Boleh aku masuk? Dingin nih!" ujar Renji.

"Um, yeah. Masuk saja." Kata Ichigo.

Dengan cepat. Renji memasuki apartemen Ichigo lalu menggosokkan kedua tangannya agar hangat. "Gila! Cuaca malam ini dingin banget! Huuu~," komen Renji.

Ichigo menyela, "Sudah tahu dingin. Malah keluar rumah,"

"Habis bosan sendirian di rumah," kata Renji.

"Lho? Lalu keluargamu kemana?" tanya Ichigo yang mulai berjalan menuju sofa, Renji mengikuti Ichigo, "Ya, ayah dan ibuku sedang pegi ke Akita. Kalau Jinta dia menginap di rumah temannya," jelas Renji, "Ya, sudah. Dari pada bosan di rumah, aku ke apartemenmu, ada masalah?"

Ichigo menggeleng, "Tidak. Sama sekali tidak masalah. Berarti kau mau menginap disini?"

"Yaa.. bisa dibilang begitu," cengir Renji.

"Ya, sudah. Biar aku siapkan futon di kamar," dengan itu, Ichigo hendak kembali ke kamarnya. Ichigo sudah biasa dengan pemuda berambut merah itu yang cukup sering menginap di apartemennya.

"Tunggu! Biar aku saja yang siapkan! Aku sudah cukup sering menginap disini, jadi biar aku saja yang bereskan." Kata Renji, menyusul Ichigo yang sudah di depan kamar. Ichigo menoleh ke belakang, "Tidak usah, biar aku saja," balas Ichigo,

"Kau ini. sudah serahkan saja padaku," Renji meraih knop pintu dan membuka kamar Ichigo itu.

Wuuush..

"Gila! Kau pasang temperatur AC berapa, Ichigo? Kau mau buat kamarmu ini jadi freezer ya?" seru Renji, sukses terkena terpaan angin dari AC yang belum dimatikan oleh Ichigo tadi. Mendengar Renji berkata seperti itu. Ichigo Cuma terenyum paksa. Lalu beralih masuk, menyambar remote AC dan mematikan AC-nya.

"Gomen, tadi aku kepanasan," kilah Ichigo, sambil menyalakan lampu kamarnya.

Renji mengernyitkan alisnya heran, "Kau ini 'buta suhu' ya? Jelas-jelas udara di luar dingin, malah pasang AC dengan temperatur sedingin ini,"

"Iya, aku mengerti. Akan kuhidupkan penghangat," Ichigo segera menghidupkan penghangat dan membuat ruangan yang tadi bertemperatur rendah, mulai menghangat. Renji menghela nafas lega.

"Mungkin beda lagi kalau Hitsugaya ada disini. kau pasang AC dengan temperatur maksimal pun, ia pasti nyaman-nyaman saja," kata Renji yang mulai mengambil futon dari dalam lemari Ichigo.

Ichigo bersandar pada dinding kamarnya, "Yah, kau benar," balas Ichigo.

Nun cukup jauh disana..

"Huacim..!" Hitsugaya mengusap hidungnya yang terasa gatal.

"Aneh. Apa aku terkena flu ya?" gumamnya sambil merapihkan tugasnya untuk besok di sekolah. Setelah selesai, pemuda mungil itu naik ke ranjang, menarik selimut, berdoa sebelum tidur, menyamankan diri di kasur, memejamkan mata, dan tidur.

-Back to Ichigo dan Renji-

"Huwaah! Hangatnyaaa..." seru Renji, yang langsung berbaring di atas futon yang baru digelarnya di samping kanan ranjang Ichigo.

"Kau mau langsung tidur?" tanya Ichigo heran.

"Mungkin. Aku sudah agak ngantuk,"

Ichigo menghela nafas lalu berjalan menuju ranjangnya, "Ya, sudah. Aku juga sudah agak ngantuk." Ichigo membaringkan tubuhnya dan menarik selimut sebatas dada. "Oyasu-,"

"Apa benar kau putus dengan Grimmjow?" potong Renji. Seketika, pemuda berambut orange itu menegang dengan pertanyaan sahabatnya itu.

"Dari mana kau tahu?" tanya Ichigo pelan, tapi masih bisa didengar Renji.

Renji melipat tangannya menjadi bantal dan menatap langit-langit kamar Ichigo, "Aku tak sengaja melihatmu dan Grimmjow tadi siang di atap,"

Ichigo tidak menjawab, ia merubah posisi tubuhnya menjadi menyamping membelakangi pemuda bertato itu.

Renji menghela nafas, dia tahu kalau Ichigo tidak akan membagi masalah dengan orang lain. Sekalipun itu keluarga atau sahabatnya. Yaa.. begitulah sifat pemuda orange itu yang sebenarnya.

"Hahh.. aku Cuma bisa bilang, percayalah pada hatimu, Ichigo. Oyasumi," dan dengan itu, Renji memilih agar tidak terlalu mencampuri urusan Ichigo dengan pemuda berambut biru itu. Yang pasti, kalau Grimmjow benar-benar membuat Ichigo kecewa. Dia dan teman-teman Ichigo yang lain tidak akan tinggal diam. Lalu, kenapa sekarang Renji tidak marah mendengar Ichigo disakiti oleh Grimmjow? mudah saja, Renji hanya sekilas melihat kebohongan di wajah Grimmjow saat ia memutuska Ichigo di atap tadi. Dan ia pun makin yakin kalau pemuda bermata biru itu tidak sungguh-sungguh mengakhiri hubungannya dengan Ichigo. Karena, ia melihat Grimmjow dari bawah anak tangga (setelah Renji cepat-cepat turun dan bersembunyi di bawah anak tangga) mengumpat sambil meninju dinding sekolah lengkap dengan wajah kesal dan sedih dari mata birunya. Dan Renji mengira bahwa, ada yang disembunyikan Grimmjow.

Ichigo memilih diam. Percaya pada hatiku? Tanyanya pada dirinya sendiri. Pemuda berambut orange itu lalu menyentuh dadanya, dan tersenyum. Setidaknya, perkataan Renji ada benarnya. Ia harus percaya pada hatinya. Kalau ia dan Grimmjow pasti bisa kembali seperti dulu.

"Renji?" panggil Ichigo.

"Hm?"

"Arigatou," dan Ichigo pun memejamkan matanya. Terlelap.

Renji tersenyum kecil, "Ya, tentu. Sobat." Pemuda berambut merah itu pun ikut memejamkan matanya. Ikut terlelap.

OOOOOooooOOOOO

Di suatu bangunan tua di pinggir kota Karakura. Tampak, beberapa orang berkumpul ditengah ruangan dalam bangunan tua itu yang terlihat remang.

Bagh!

Salah satu dari mereka menaikkan kedua kakinya ke atas meja, "Cepat katakan apa maumu, tuan?" seru seorang pria berambut hitam sebahu bergelombang pada 3 laki-laki didepannya.

Pria berambut coklat tersenyum, "Anda pasti sudah tahu dengan seorang pemuda bernama Grimmjow Jeagerjaques." Tanyanya tenang.

Pria berambut hitam bernama Starrk itu menaikkan alisnya tinggi-tinggi mendengar nama yang sudah tidak asing lagi baginya, lalu ia pun tersenyum santai, "Oh, lalu apa yang ingin kau lakukan pada bedebah cilik itu, hmm Aizen-sama?" tanyanya.

Pria berambut coklat bernama Aizen itu tersenyum tipis, "Kurasa kau tahu maksudku. Bukankah orang-orangmu banyak dibereskan olehnya. Aku disini hanya ingin menawarkan penawaran bagus padamu,"

"Hmm.. aku dengar pula, kegiatan 'hitam' milikmu itu pernah juga digagalkan oleh bedebah cilik itu, bukan? Dan hasilnya, kau rugi banyak uang dan anak buahmu banyak yang tertangkap oleh kakak perempuannya yang seorang komandan polisi," kata Starrk.

Aizen kembali tersenyum khasnya, "Yah, anggap saja ini sebuah pembalasan yang 'manis' untuknya."

Sebuah senyum kembali menghiasi wajah Starrk, "Menarik. Aku ikut denganmu, Aizen-sama,"

"Itulah kata yang ingin kudegar darimu," balas Aizen kembali tersenyum.

Dan malam itu pula, sebuah kesepakatan yang mengerikan terjalin diantara 2 pemimpin geng yang berbeda itu.

OOOOOooooOOOOO

-TBC-

OOOOOooooOOOOO

(*) Hypotermia

Adalah penurunan suhu tubuh (kedinginan) dari suhu normal apabila tidak segera ditangani akan berakibat fatal atau gangguan medis yang terjadi dalam tubuh dimana terjadi penurunan temperatur tubuh secara tidak wajar disebabkan tubuh tidak mampu lagi memproduksi panas untuk mengimbangi dan menggantikan panas tubuh yang hilang dengan cepat karena pengaruh suhu rendah dari lingkungan sekitar. Situasi tersebut menjadikan temperatur tubuh turun dengan cepat dari 37° Celcius (temperatur normal) seecara keseluruhan turun hingga dibawah 35° C. Dan selanjutnya kematian bisa terjadi bila temperatur tubuh terus semakin turun drastis hingga dibawah 30° C. (from: Smallcrab (dot) com)

A/N: Gomenasaaaaaaaaaiiiiiiiiiii...! ! ! #sembah sujud

Maaf Naru telat update.. T^T.. kesibukan sekolah semakin menumpuk, terlebih MOPDB (Masa Orientasi Peserta Didik Baru) sudah dekat dan kebetulan Naru menjadi Pendamping di dalam kelas. Itu artinya, selama liburan Naru tetap harus masuk.. #curcol

Ok! Itu sama sekali bukan alasan yang tepat. #dihajar massa# Maaf kalau masih ada typo yang bergentayangan, alurnya kecepetan bin aneh. Mungkin 2 chapter lagi fic ini akan tamat. Naru menerima semua bentuk kritik dan saran yang membangun. Makasih yang udah mau baca fic ini.. ^^ #bows

Akhir kata..

See You Agaaiiiinnnnnnnn...! ! ! #mabur

_Review?_