Kise POV
Dingin, seperti yang akhir-akhir ini selalu kurasakan. Perlahan aku membuka mataku, hanya terlihat pemandangan salju yang turun dari langit. Aku merasakan tubuhku sedikit hangat, ada seseorang disini tengah melindungiku dari dinginnya udara ini. Aku melihat surai pirang kakakku walaupun samar.
Namun mataku terbelalak saat merasakan sensasi panas dan perih pada leherku. Lalu aku merasakan cairan merah kental dan hangat mengalir dari sana. "Nash, apa yang- Hmph!" kenapa kau menutup mulutku? Kenapa kau juga menahan tanganku? Aku tidak akan berteriak, sungguh! Adakah sesuatu yang kau rahasiakan dariku? Kenapa leherku seperti terbakar? Kumohon, lepaskan aku!
Aku tidak merasakan kehangatan lagi seperti sebelumnya, rasanya tubuhku membeku ditengah musim dingin ini. Aku merasa lemas dan perlahan kegelapan menyelimutiku kembali...
The Cold One
Disclaimer:
Kuroko no Basuke-Tadatoshi Fujimaki
Warning:
AU, OOC, typo, gaje, sho-ai, alur ngebut, dll *sebaiknya chapter ini dibaca saat tidak puasa/siang*ada adegan kissu :v
Pada musin panas, seharusnya tempat itu adalah padang rumput yang luas dan indah. Namun kini hanya diselimuti oleh salju musim dingin. Seorang pemuda pirang disana melirik arlojinya. Ah, beberapa menit lagi tepat tengah malam. Ia menatap pemuda pirang lain yang tampak lebih muda darinya. Ia bergumam, hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. "Gomenasai, Ryouta. Sudah cukup aku merahasiakan semuanya darimu. Sekarang, waktu yang tepat untukmu kembali..." mata pemuda itu berubah menjadi merah darah, taringnya memanjang perlahan lalu menggigit leher pemuda yang dipanggil 'Ryouta'.
Ryouta terbangun lalu matanya membulat terkejut. "Nash, apa yang- Hmph!" pemuda itu tak ingin adiknya akan takut dan menjauhi dirinya, Nash membekap mulut adiknya. Ia terus menghisap darah Ryouta, sampai adiknya kembali lemas dan hilang kesadaran.
.
.
.
Sosok pemuda berambut biru gelap tengah berlari menembus dinginnya udara malam dan salju yang turun perlahan ke bumi. 'Tetsu tidak terlihat, aku takut dia adalah vampire darah murni yang akan bangkit itu, lalu dimana Nash-senpai dan Kise?' pikirnya khawatir. Kise Ryouta, pemuda pirang yang selalu ceria dengan senyuman hangat, ialah yang membuat pemuda bernama Aomine Daiki ini sangat khawatir.
Namun tampaknya Aomine tidak menyadari sosok yang mengikutinya dari belakang. Sosok dengan surai baby blue dengan hawa kehadiran yang tipis, manik azure miliknya bersinar terang ditengah kegelapan malam yang hanya disinari oleh bulan berwarna merah darah.
.
.
.
Nash mengelus surai pirang adiknya. "Sifatmu benar-benar mirip otou-sama yang keras kepala, dan wajahmu sangat mirip okaa-sama yang manis..." wajah Ryouta disinari cahaya bulan merah. Nash menggigit pergelangan tangannya, dengan taring yang tajam dengan mudah ia berhasil membuat cairan merah pekat mengalir dari sana. "Jika sudah saatnya, buatlah Ryouta-kun kembali bangkit dengan darahmu. Bawa ia ke tempat yang sudah kami siapkan dan biarkan seseorang yang mencintainya dengan tulus untuk memberikannya darah dengan menciumnya agar ia benar-benar bangkit. Okaa-sama dan otou-sama menyanyangi kalian. Tolong jaga Ryouta-kun untuk kami..."
'Ryouta sudah pernah menerima ciuman dari seseorang, okaa-sama. Dan aku yakin, orang itu tengah mencarinya sekarang dan akan membuatnya kembali...' adiknya itu tidak sadarkan diri, lalu bagaimana caranya agar ia meminum darah kakaknya? 'Haruskah aku mencium adikku sendiri? Itu tidak mungkin!' pikiran Nash menjadi kacau. 'Tapi sudah lima ratus tahun aku menunggu gerhana bulan merah sempurna ini, dan ini adalah saatnya Ryouta kembali.' mengabaikan keraguan yang menghampiri, Nash mempertemukan bibirnya dengan bibir Ryouta. Ia tidak benar-benar berniat untuk menciumya, namun hanya itu satu-satunya cara.
Dari sela-sela bibir mereka, tetesan cairan merah pekat turun perlahan tertarik oleh gravitasi. Keseluruhan darah dalam mulutnya sudah masuk dalam tubuh adiknya, Nash segera melepas ciuman mereka dan membawa Ryouta pergi menuju sebuah kuil yang tak jauh dari sana.
Pintu kuil terbuka dengan sendirinya, menampilkan ruangan yang luas didalamnya. Di tengah kuil itu terdapat sebuah altar yang dilapisi kain berwarna putih dan kelopak mawar putih yang bertaburan dengan empat bunga mawar putih yang terletak disetiap sudutnya. Nash membaringkan tubuh Ryouta disana, diatas altar itu tidak ada langit-langit kuil. Ryouta benar-benar disinari oleh cahaya bulan merah dari langit.
.
.
.
Aomine POV
'Kise... Dimana kau sekarang?' pertanyaan itu terus berputar dikepalaku. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya, karena aku menyayanginya sejak kami pertama kali bertemu. Dan aku mulai menyadari perasaan aneh ini berkembang sejak aku berada di SMA Teiko dengannya, perasaan ingin selalu melindunginya, perasaan tidak ingin kehilangannya, perasaan cemburu ketika ia datang dan memeluk Tetsu didepanku. Perasaan ini bahkan sudah melebihi kata 'sayang', apa mungkin ini cinta?
Pertama kali aku dan dia bertemu itu saat aku kehilangan kedua orang tuaku. Perlahan mataku memanas, pandanganku memburam. Sial, kenapa aku jadi lemah begini? Walaupun aku benar-benar tak bisa berbohong pada diriku sendiri. Ini pertama kalinya aku menangis setelah tou-san dan kaa-san dibunuh vampire, dan kali ini aku menangis karena Kise.
Aku takut sesuatu yang buruk menimpanya sekarang, aku tidak mau kehilangan seseorang yang berharga untuk kedua kalinya. Senyumannya, suaranya, aku tidak bisa membayangkan jika ia pergi dari sisiku. 'Kami-sama, tolong lindungi Kise dimanapun ia berada...'
Aomine POV end
.
.
.
.
.
.
Kise POV
Aku terbangun disebuah tempat yang asing, kulihat aku hanya memakai pakaian putih polos berlengan pendek dan celana putih polos selutut. Disini hanya diterangi oleh cahaya bulan, aku dikelilingi pohon-pohon. Tak membutuhkan waktu lama untukku menyadari tempat ini. Hutan.
Aku mendekati sebuah pohon besar yang dililit oleh tanaman mawar putih. Tanganku terulur untuk menyentuh bunga mawar putih disana. Namun duri tanaman itu mengenai jariku karena kurang berhati-hati. Setetes darahku mengenai bunga mawar lain yang ada dibawah. Mataku terbelalak melihat bunga mawar putih itu berubah menjadi mawar merah, begitu juga bunga yang lain. Kabut tebal datang tiba-tiba dan seluruh pohon disini menggugurkan daunnya, sedangkan kayu pohon dan tanah menjadi sangat kering.
Kabut ini menghilang tiba-tiba, aku segera berlari tak tentu arah untuk mencari jalan keluar. Aku harus pergi dari sini, aku terus berlari tanpa peduli bahwa aku tidak menggunakan alas kaki sekarang. 'Bagaimana aku bisa lupa-ssu?' ingatan sebelum aku berada disini kembali berputar. Bulan merah, salju yang turun, dan-
Segera saja aku meraba leherku sendiri. 'Tidak apa-apa...' pikiranku kosong, aku berhenti berlari ketika menyadari bahwa aku sudah ada diluar hutan. Namun kini didepanku terdapat bangunan-bangunan bergaya eropa kuno.
Aku tertarik pada sebuah menara disana, namun kulihat ada seseorang berbaju hitam dengan mata merah menatapku sambil berdiri di pagar atas menara dengan keseimbangan yang hebat. Ia tidak terlihat takut walaupun menara itu tinggi, mungkin sekitar 25 meter. Sinar bulan kembali menerangi setelah tertutup awan untuk beberapa saat., menyinari surai pirang orang itu yang wajahnya mirip denganku. "Nash?"
Dia pergi dari sana dengan kecepatan luar biasa, bahkan aku hanya melihat bayangannya saja. Aku berlari, hendak mengejar walau tak mungkin. Namun aku melihat seseorang didepanku, surai biru tua miliknya tertiup angin perlahan. "Aominecchi..." dia tidak menjawabku. Hampir saja aku menyentuh pundaknya jika dari dalam tanah yang kupijak ini tumbuh sebuah tanaman mawar yang melilitku serta tanganku yang terulur, ingin menggapai pemuda itu. Tapi entah kenapa ia terasa begitu jauh..."AOMINECCHI!"
Kise POV end
.
.
.
.
.
.
Mayuzumi POV
Aku, Imayoshi Shouichi, dan Kasamatsu Yukio tengah menunggu didepan sebuah rumah mewah. Dulu, para vampire dibantai oleh para hunter liar di daerah sini. Sekarang kami jauh dengan asrama. Kami diam, tidak saling berbicara. Sampai akhirnya, "Kekuatan ini, emperor eye?" aku juga merasakannya. Apa yang dikatakan temanku yang sipit itu.
Kedua temanku sibuk membicarakan kekuatan aneh emperor eye yang kami rasakan. Aku melihat salju yang turun perlahan dari langit. Putih bersih, aku jadi teringat tentang kuil putih yang berada di daerah ini. Katanya ada sebuah altar dengan mawar putih yang tak pernah layu, namun aku tidak tahu pasti. Aku tak begitu percaya legenda vampire, sampai akhirnya aku benar-benar diubah menjadi seorang vampire oleh Akashi Seijuurou.
Tanpa sadar, aku memikirkan masa lalu sampai aku bisa mencium bau darah manusia dari jarak jauh. Namun mataku dan kedua temanku terbelalak ketika mencium bau darah yang lain. "Darah ini... Mungkinkah..."
Mayuzumi POV end
.
.
.
.
.
.
Aomine melihat cahaya bulan merah itu seperti tertarik pada suatu tempat. Hatinya bilang agar dirinya mengikuti cahaya itu. Masih tidak menyadari sosok dengan mata biru muda bersinar yang mengikutinya.
Aomine POV
Cahaya bulan itu, seperti tertarik pada suatu tempat. Dan entah kenapa aku juga tertarik untuk menuju tempat itu. Aku sudah menggeggam sebuah tongkat perak yang berukuran sepuluh centi. Aku melirik arloji yang kupakai, tiga menit lagi tepat tengah malam.
Mau tak mau, aku berlari ketempat cahaya bulan merah itu tertarik. Sampai langkahku berhenti didepan sebuah kuil putih. Mitos yang pernah kudengar adalah altar tengah kuil itu yang dilapisi kain putih dan kelopak bunga mawar putih bertaburan serta terdapat empat bunga mawar putih yang tidak pernah layu. Katanya, suatu saat nanti akan ada seseorang di altar itu untuk menunggu orang yang mencintainya dengan tulus membangunkan seseorang itu dengan darah lewat sebuah ciuman.
"Yaampun, kenapa kau basah kuyup begitu, Kise-kun?"
"Diluar hujan, aku hanya ingin mengantarkan masakan bibi untukmu."
"Dasar kau ini, bukannya bisa pakai payung atau jas hujan?"
"Aomine-kun pelupa! Sabtu kan TK libur, tapi SD sekolah. Jadi jas hujanku dipinjam Nash!"
"Bibimu sendiri?"
"Belanja."
"Hah... Ayo ke kamarku. Kau harus cepat mandi dan gunakan bajuku dulu."
Aku tersenyum mengingatnya, itu terjadi saat pagi hari setelah malam pembunuhan orang tuaku. Tanpa membuang waktu aku melangkah menaiki tiga anak tangga. Perasaankku berkata jika aku masuk kedalam, aku akan menemukan apa yang kucari.
"Kenapa kau mau repot-repot mengantar makanan untukku? Kita bahkan baru kenal tadi malam..."
"Entahlah, mungkin karena aku sayang padamu? Aku khawatir, memangnya kau bisa masak?"
"Tidak bisa sih... Arigatou, Kise-kun. Aku juga sayang padamu."
"Aku pernah dengar kalau dua orang saling menyayangi, itu artinya cinta. Dan biasanya orang yang saling cinta itu ciuman di bibir mereka. Kau maku menciumku, Aomine-kun?"
"Tentu saja!"
"Hore! Aku mencintaimu Aominecchi!"
"Aomine... cchi?!"
Haha, pikiranku dan Kise masih polos saat itu. Wajar saja jika tidak menyadari arti 'cinta' dan 'ciuman'. Aku mematung saat melihat ada seseorang terbaring di altar. Aku menghampiri sosok itu, sosok yang menjadi cinta pertama dan terakhirku. Surai pirang cerah, bulu mata yang lentik, namun kulitnya pucat. Walau begitu, ia tampak manis disinari cahaya bulan merah.
Aku menggigit bibirku sendiri, lalu mencium sosok manis yang terbaring didepanku. Ia sangat dingin. "Mmmh..." Kise terbangun dan menjilat bibirku. Aku melepaskan ciuman kami, namun kulihat sepasang mata emperor berwarna biru yang bersinar didepan sana, sekitar dua meter dariku dan Kise.
"Aominecchi?" tidak menjawap panggilan Kise, aku segera mendekati pemilik emperor eye itu lalu membenturkan ujung tongkat perak itu ke lantai. Tongkat perak miliku diselimuti oleh cahaya biru, lalu berubah menjadi sebuah senjata keturunan hunter biru, sabit perak. Aku menodongkan sabitku pada sosok bersurai baby blue didepanku. Aku tidak takut Kise akan terluka karena kini posisiku berada didepan altar. "Sebagai keturunan hunter biru, aku bisa merasakan dua vampire disini. Tetsu! Kau mengubah Kise-"
"Aominecchi, hentikan!" kenapa? Kenapa kau malah melindunginya, Kise? "Kurokocchi benar-benar manusia-ssu! Sebenarnya vampire darah murni itu adalah... adalah... Aku dan Nash onii-sama."
Tidak! Tidak! Tidak! Kau adalah orang baik, tidak mungkin ia vampire itu... "Maafkan aku, Aominecchi..."
Aomine POV end
SYUT... BRUK! Sesosok pemuda melesat dengan kecepatan tinggi, menggendong Kise Ryouta ke lantai dua kuil. "Nash-senpai... Jadi kalian..." KLANG! Manik navy blue Aomine terbelalak, ia menjatuhkan sabit perak miliknya. "Ryouta adalah putra kedua dari keturunan vampire darah murni keluarga Kise. Bahkan walau ia vampire yang kau benci sekalipun, kau tetap sudah terikat dan membuatnya bangkit kembali."
Aomine sangat membenci vampire, mereka membuatnya kehilangan kedua orang tuanya dan ratusan tahun lalu mereka membunuh banyak manusia. Tetapi pemuda eksotis itu tidak tahu apakah ia sanggup membenci orang yang ia cintai. Nash pergi dari sana, membawa sosok Kise Ryouta yang dicintai Aomine Daiki. "Aomine-kun, ayo kita kembali." Kuroko mendekati Aomine. "Tetsu, jika kau ada pada posisiku... Apa kau sanggup membenci Kagami? Atau jika kau ada diposisi Kise, apa kau sanggup dibenci Kagami?"
.
.
.
.
.
.
"Sial, bagaimana bisa dugaanku salah?!" Takao bergumam sendiri, matanya yang berwarna merah darah kini menatap keluar jendela kamarnya. "Tenangkan dirimu, Takao." Midorima mengingatkan. "Sekarang, ceritakan padaku tentang apa yang terjadi." Takao memandang pemuda bersurai hijau yang mencadi coretsemenyacoret teman sekamarnya. "Shin-chan, selama ini bukan ada dua vampire darah murni yang mengelilingi kita. Tapi ada lima..."
Mata hijau Midorima membulat, apakah sebanyak itu? "Jangan bercanda, Takao!" pemuda asal SMP Shuutoku itu meremas selimutnya dengan perasaan campur aduk. Kesal, sedih marah, terkejut, takut, semua menjadi satu. "Aku tidak bercanda, Midorima!" kali ini, manik hijaunya kembali terbelalak. Kemana panggilan 'Shin-chan' yang menurutnya menyebalkan? Kali ini Takao benar-benar serius.
Karena melihat pemuda raven didepannya begitu tegang, Midorima mengambil cutter dari laci meja belajar dan melukai telapak tangan kanannya. "Ini, minum dulu agar kau bisa tenang sedikit. Ta-tapi bukan berarti aku peduli padamu-nanodayo." Dasar tsundere.
.
.
.
.
.
.
Nash berjalan membawa adiknya ke suatu tempat. "Sudah lebih dari lima ratus tahun, tempat ini tidak berubah juga..." gumamnya. "Ryouta, apa kau tahu aku kesal terjebak menjadi anak berumur tujuh tahun selama lima ratus tahun?" ia tahu pertanyaan itu tak akan dijawab oleh adiknya.
Salju terus turun dari langit malam, tempat itu adalah padang rumput yang luas dan indah pada musim panas. Namun tempat itu adalah sebuah kota yang hancur pada lima ratus tahun lalu. Kota itu hanya menyisakan empat buah bangunan, yaitu kuil putih, rumah mewah tempat dimana ketiga vampire kelas XII menunggu, sebuah menara, dan SMA Teiko.
Kota itu tidak seperti kota-kota lain di Jepang karena bangunan yang bergaya Eropa. Namun, kota ini adalah tempat para vampire tinggal. Setelah ada sebuah kejadian, tempat itu hancur. Kuil putih, menara, dan rumah mewah itu terbengkalai, hanya SMA Teiko yang masih terus diingat dan perlahan asrama Teiko dibangun. Sebuah sekolah ditengah kota yang hancur. Nash benar-benar merindukan kehidupannya yang dulu. Ia merindukan kota ini, teman-temannya, keluarganya, namun semuanya sudah lenyap. Hanya Kise Ryouta-adiknya-yang tersisa.
Flashback
"JANGAN REBUT MAINANKU!" teriak seorang anak kecil berambut pirang. "INI MAINANKU, SHOTA!" balas anak lain yang sama-sama berambut pirang. "HIDOI!" kedua anak itu, Kise Ryouta dan Kise Nash. Mereka memang seperti ini, sering bertengkar hanya karena hal sepele. "Nash-kun, mengalah sedikit untuk adikmu tidak masalah 'kan?" kata seorang wanita berambut pirang melerai mereka. Putra sulung keluarga itu cemberut, berbeda dengan si bungsu yang tertawa puas. "Dan jangan kau pikir bahwa kau benar, vampire kecil. Jika kau ingin meminjamnya tidak salah untuk bilang pada kakakmu dulu dulu 'kan, Ryouta-kun?" kini gantian si sulung tertawa dan si bungsu cemberut.
"Nah, dengar apa kata okaa-sama. Kalian ini saudara tapi kenapa tidak akur, hmm?" tanya sosok pria berambut pirang menghampiri mereka. "Dia yang mulai, otou-sama!" kedua kakak beradik itu berkata bersamaan dan saling menunjuk satu sama lain. Sedangkan sang ayah gemas dengan kelakuan kedua putranya hanya mengacak surai pirang mereka yang sama sepertinya. "Kalian adalah keturunan darah murni, ingat? Vampire golongan satu, bersama empat keluarga darah murni yang lain. Jangan bersikap begitu." kedua bocah pirang itu terdiam. "Vampire darah murni itu apa-ssu? Kenapa dengan itu kita dihormati vampire lain?" Ryouta bingung dengan perkataan ayahnya. "Suatu saat kau akan mengerti."
TOK... TOK... TOK... Ketukan pintu terdengar, satu-satunya perempuan disana membuka pintu. Namun ia merasakan sesuatu yang buruk. "Shiori-san?" katanya, tidak biasanya ia menampilkan wajah... khawatir? "Syukurlah, kalian masih disini. Sebaiknya kalian cepat amankan anak-anak!" wanita dari keluarga Akashi itu berkata dengan wajah khawatir. "Aku sudah memaksa Masaomi-kun untuk membawa Sei-kun pergi jauh dari sini." Nash melihat kepanikan Shiori ikut bingung. "Ba-san, kenapa panik begitu?" pertanyaan terlontar begitu saja. "Iya, memangnya ada apa-ssu?" adiknya menyetujui. "Sebenarnya kita tengah... umm... Petak umpet! Ya, kami tengah bermain petak umpet dengan hunter. Karena sekarang mereka yang jaga, jangan sampai kau ditemukan oleh mereka, Ryouta-kun." Shiori tersenyum palsu.
Kise Ryouta yang sangat polos saat itu langsung berlari ke ruang keluarga untuk mencari tempat sembunyi. Berbeda dengan orang tua dan kakanya yang mengerti maksud Akashi Shiori. "Sial, mereka tinggal tiga ratus meter lagi dari sini!" wanita bersurai merah berseru panik. "Jaga adikmu." Nash mengerti dan langsung menyeret Ryouta dari ruang keluarga menuju kamar orang tuanya. "Baka, kalau tiduran di sofa akan mudah ditemukan!" pintu kamar ditutup. Kamar itu terhubung dengan sebuah ruangan kosong. Sementara diluar rumah, ketiga vampire darah murni dewasa tengah berhadapan dengan belasan hunter. "Mereka hunter liar, tiba-tiba saja menyerang." Shiori berbisik. "Perjanjian vampire dan hunter itu tak ada hubungannya dengan kami."
Tiga tahun lalu, vampire membantai manusia dengan alasan 'makanan'. Namun kemudian banyak vampire yang dibunuh oleh enam keturunan hunter yang dilambangkan oleh warna, cahaya, dan bayangan. Setelahnya diadakan perundingan, perwakilan dari kaum vampire adalah keluarga Akashi, sedangkan dari kaum manusia adalah keluarga Aomine. Keduanya membuat sebuah kesepakatan, hunter tidak akan membunuh vampire jika vampire tidak melukai manusia dengan sengaja.
"Aku kagum kalian bisa membuat kami terpojok. Apa yang kalian inginkan?" tanya pria keturunan keluarga Kise pada mereka. "Hanya bermain-main. Hmm... Aku merasakan dua vampire darah murni lagi. Mereka saudara, apa aku benar?" kata salah satu diantara mereka. "Belial eye, aku merasakannya. Emperor eye yang hampir mirip dengan bocah Akashi itu ya? Mungkin akan seru jika sedikit 'bermain' dengan pemilik mata itu. Sayang, si merah menghilang dari sini." ketiga vampire mematung. 'Kekuatan Nash-kun dan Seijuurou-kun, bagaimana hunter liar bisa mengetahui sejauh ini?' batin pria dan wanita pirang itu bersamaan. Untuk hunter liar, mereka bahkan terlalu hebat. "Dan satu lagi mempunyai potensi yang hebat, bagaimana jika kita 'mengambil' yang satunya? HAHAHA!" ibu dari kedua anak yang dimaksud tentu saja geram. "Sialan..." katanya. "JANGAN HARAP KALIAN BISA MENYENTUH PUTRAKU!" lalu pertarungan tak dapat dihindari lagi.
Sedangkan didalam rumah, lebih tepatnya dalam kamar kedua orangtuanya, Ryouta ditengah kamar itu dan memeluk lututnya sendiri. Tubuhnya bergetar hebat, menandakan bahwa saat ini ia ketakutan. "Bau darah ini terlalu menyengat, apakah mereka benar-benar bermain petak umpet?" ia memandang kakaknya. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum, walaupun mereka sering betengkar tapi mereka saling menyayangi sebagai saudara. "Tenanglah, suatu saat kau akan mengerti dengan situasi sekarang. Kita harus tetap disini menunggu 'permainan' selesai, oke? Aku akan disini bersamamu untuk menunggu juga, jadi kau tidak perlu takut kita akan mudah ditemukan." Nash mengelus surai pirang Ryouta.
"Nash-kun, Ryouta-kun, apa kalian ada didalam?" suara lembut seorang wanita menyapa keduanya. "Onii-sama, itu suara okaa-sama!" si sulung meraih kunci kamar dan membuka pintu, tampak ibunya yang memandang mereka. Wanita itu berlutut menyamakan tingginya dengan kedua putranya. "Otou-sama dimana?" tanya si bungsu, namun tidak digubris sama sekali. "Tunggulah dekat pintu ruangan kosong itu, Ryouta-kun."
Mata wanita itu berkaca-kaca menatap putra pertamanya. "Okaa-sama dan otou-sama tahu, kau adalah kakak yang baik. Kami yakin kau bisa melindungi adikmu dari hunter liar yang mengincar kalian. Maaf kami tidak bisa menghentikan mereka. Jadi okaa-sama akan melakukan 'itu' dan membiarkanmu dalam umur tujuh tahun sampai Ryouta bangun dari tidurnya, maaf karena okaa-sama dan otou-sama adalah orang tua terburuk yang pernah ada karena membiarkan anaknya dalam bahaya." Nash tidak sadar jika ia menangis. "Tadi otou-sama berpesan agar kau dan adikmu bisa menjaga satu sama lain. Tumbuhlah menjadi seorang laki-laki yang tangguh, jadi jangan menangis ya?" ucapnya sambil menghapus jejak air mata putranya. "Okaa-sama..." Ryouta tidak mengerti, namun ia merasakan hal yang buruk. "Pesan dari okaa-sama seperti otou-sama. Setelah okaa-sama melakukan 'itu', jangan berurusan dengan hunter dan tolong bawa Ryouta-kun pergi dari sini..." pinta sang ibu.
"Jika sudah saatnya, buatlah Ryouta-kun kembali bangkit dengan darahmu. Bawa ia ke tempat yang sudah kami siapkan dan biarkan seseorang yang mencintainya dengan tulus untuk memberikannya darah dengan menciumnya agar ia benar-benar bangkit. Okaa-sama dan otou-sama menyanyangi kalian. Tolong jaga Ryouta-kun untuk kami..." sebuah kecupan singkat mendarat dipipi tembem Nash yang masih berkaca-kaca "Aku akan melindungi Ryouta, semampu yang aku bisa. Arigatou, okaa-sama."
Tersenyum, wanita itu berdiri lalu menarik tangan mungil putra keduanya. "Ryouta-kun, ayo ikut okaa-sama." Ryouta memandang ibunya bingung. "Ta-tapi..." ia melihat kakaknya yang keluar dari kamar, sedangkan dirinya ditarik oleh sang ibu untuk masuk kedalam ruangan kosong dan gelap itu. "Onii-sama! Onii-sama! Tunggu aku!" pintu ruangan kosong itu akhirnya menutup.
"Okaa-sama, apa yang terjadi? Kenapa aku mencium bau darah yang menyengat?" tanya bocah pirang itu. "Maaf, okaa-sama tidak bisa menjelaskan padamu sekarang karena waktu yang sedikit ini. Namun suatu saat kau akan mengerti. Dan maafkan okaa-sama, karena melakukan ini..." Ryouta menatap ibunya dengan pandangan heran. "Okaa-sama?" "Mereka mengetahuimu dan kakakmu, tapi okaa-sama sengaja hanya melakukan ini padamu agar kakakmu bisa melindungimu..." wanita itu berdiri dibelakang Ryouta, dan menutup kedua mata anaknya dengan kedua telapak tangan. "Okaa-sama hanya membiarkanmu mengingat namamu dan Nash-kun. Karena sebentar lagi kau akan tertidur dalam jangka waktu yang lama. Tapi saat kau terbangun suatu saat nanti, kau sudah berubah menjadi seorang manusia biasa tanpa ada yang bisa merasakan aura vampire yang kau miliki. Dan saat kau terbangun nanti, kau tidak akan mengingat okaa-sama, otou-sama, dan segalanya tentang kehidupan kita saat ini..."
Flashback end
.
.
.
"Arigatou, okaa-sama, otou-sama. Kalian adalah orang tua terbaik yang pernah ada, karena kalian tidak menyerah untuk melindungi kami, anak kalian..."
.
.
.
TBC/Disc
A/N: SAYA BENERAN GAK BERMAKSUD BIKIN DUO PIRANG ITU KISSU, SERIUS! #gampared
Setelah nyari info tentang 'cara manusia berubah jadi vampire' itu rata-rata caranya ya begitu...
Chapter depan akan membahas tentang masa lalu Mayuzumi dan Aomine. Mungkin Akashi juga dijelasin kenapa dia gak tau kalau Kise vampire, tapi Nash tau tentang dia *kalau sempat ngetiknya #dilempargunting
Saya masih sayang nyawa, saya gak mau dibacok sama author Juuzou-kun -sohib saya- karena tugas yang belum selesai *curcol
oke, sekian bacotan saya... tunggu chap berikunya yaa^_^ jangan lupa review :D
