.
CRUSHER
['FOOLISH CRUSH'—SEQUEL]
.
Chapter 3 : Someone who caught your heart
.
Dua bulan kemudian, enam sekawan itu akhirnya diterima sebagai salah satu mahasiswa di Kyunghee University. Luhan menangis keras ketika melihat namanya berada di nomor urut dua puluh dari bawah dari 400 murid yang diterima di jurusan tari modern. Sementara Jongin berada di angka seratusan dan Sehun sendiri berada di urutan angka tunggal. Angka delapan yang menakjubkan. Diam-diam Sehun adalah back stabber, Luhan mencibir dalam hati.
Atensinya berganti pada si nomor satu. Tangannya merebut lipatan kertas di genggaman pemuda itu dan membukanya tergesa-gesa. Kyungsoo menggeser tempat duduknya demi melihat isi kertas tersebut.
"Chanyeol, kau menakjubkan! Tidak, tidak, kau gila!" Luhan berteriak, nyaris menjerit ketika melihat angka 2 di kertas penerimaan murid baru –ia tidak bisa melihat di papan pengumuman karena mereka beda gedung. "Sinting. Bagaimana caramu menempati angka 2 dari 400 murid, huh?" Ia berujar nyaring. Mulutnya menganga selebar kuda nil. Jongin merasa ingin menyumpalnya dengan sepatu detik itu juga. "Siapa nomor satunya?" bertanya setelah rasa excited-nya berkurang, Luhan menoleh kepada teman-temannya.
"Jung Jinyoung. Dia yang telah memproduseri sebuah lagu di acara Produce 101, ngomong-ngomong, jadi aku tidak heran bagaimana ia mendapatkan nomor satu." Jongdae menyeruput jus alpukatnya hingga tak tersisa dan yang lainnya sibuk dengan makan siang mereka. Mereka sedang berada di kantin Kyunghee ngomong-ngomong.
Chanyeol sibuk dengan dunianya. Pacar barunya, siapa lagi kalau bukan… ponsel. Ia bahkan tak menggubris ucapan Luhan tadi. Bahkan terlalu acuh untuk merebut kembali kertas di tangan teman hiperaktifnya itu.
"Kita kemana setelah ini?" Kyungsoo menimpali. "Aku mendapat pesan jika kita akan mengadakan pesta perpisahan satu angkatan besok malam, apakah kalian menerimanya juga?" Luhan tampak mengecek chatnya dan mengangguk memberi jawaban, lalu disusul teman-temannya yang lain. "Kau ikut?"
"Kau gila? Tentu saja aku harus ikut." Si mata rusa berseru dengan semangat empat-lima.
"Aku juga!" Jongin tak ingin kalah.
"Kita akan bersenang-senang! Persiapkan diri kalian karena kita akan menghabiskan banyak bir besok malam!" Jongdae langsung menari random dan diikuti oleh Jongin dan Luhan. Tiga orang konyol yang sinting. Tak mempedulikan pandangan mahasiswa-mahasiswa lain terhadap kegilaan calon-calon mahasiswa itu. "Kita akan mabuk semalaman! Yay!"
"OKEEE!"
"WOOOO!"
"Mereka bukan temanku." keluh Kyungsoo dengan wajah memerah yang tertunduk dan kedua tangan yang menjambak rambutnya frustasi. Chanyeol terkekeh melihatnya sementara Sehun hanya menatap teman-temannya tanpa minat. Belum apa-apa mereka sudah terkenal akan kekonyolannya.
—e)(o—
Sekitar pukul tujuh malam, Chanyeol tiba di rumahnya. Setelah melepaskan sepatunya dan meletakkannya di rak dengan rapi, ia menghampiri ibunya yang sibuk mempersiapkan makan malam mereka. Ucapan 'aku pulang' dan ibu Chanyeol menyambutnya dengan pelukan hangat. Selalu seperti itu sejak dulu, tak pernah ada yang berubah meskipun umurnya bertambah. Bahkan dulu, ketika Baekhyun sering ke rumahnya, ibunya akan memeluk little puppy itu lebih dari lima menit saking gemasnya. Ah, ia jadi teringat crush-nya.
"Ayah dan noona belum pulang?"
"Ayahmu akan datang terlambat karena ada lembur sampai jam sembilan, sedangkan Yoora sedang dalam perjalanan pulang." Pemuda itu mengangguk paham sebelum menyambar jus yang telah disiapkan dan meraih tasnya menuju kamarnya di bagian bangunan yang lain. Berpamitan untuk mandi dan mengganti baju terlebih dahulu.
Langkah kakinya memasuki pekarangan belakang rumah utama, menuju salah satu bangunan yang diperuntukkan sebagai kamarnya. Ia perlu melewati taman belakang rumahnya untuk sampai ruang pribadinya yang telah dihuninya selama beberapa tahun. Rumah Chanyeol cukup sederhana, namun unik. Bangunan utama terdiri dari ruangan-ruangan penting seperti ruang tamu, ruang makan, dapur, juga tiga kamar milik ayah-ibunya, kakak perempuannya, dan kamar tamu yang dikosongkan, beserta ruang-ruang kecil lainnya. Tembok besar mengelilingi keseluruhan bangunan, menyembunyikan taman mungil di belakang rumahnya beserta bunga-bunga koleksi ibunya dan kolam ikan. Jalan setapak yang tidak tertutup rumput dibuat dari batu sungai dan pualam yang indah. Beberapa bonsai pun menghiasi. Orang tuanya cukup terobsesi dengan taman ala Jepang yang katanya bisa membuat hati tentram ketika melihatnya.
Dan benar saja.
Ia selalu merasa nyaman ketika duduk-duduk di gazebo rumahnya sembari melihat ikan-ikan hias yang saling bercengkerama. Biasanya, Baekhyun duduk bersila disana dan menyandungkan lagu favoritnya. Terkadang juga, kaki telanjangnya ia celupkan ke dalam kolam dan menjerit ketika rasa dinginnya menusuk tiba-tiba. Sial, itu membuatnya semakin merindu pada sosok itu. Jujur saja, anak itu benar-benar telah menginvasi seluruh kehidupannya selama bertahun-tahun.
Ia menuju satu-satunya bangunan disana. Bangunan yang terbuat dari tiga puluh persen batu bata dan tujuh puluh persen kayu.
Kamarnya berada di bangunan tunggal, tepat di ujung taman tersebut. Ruang yang dulunya gudang, disulap menjadi kamarnya pada saat ia berumur dua belas. Ada beranda mungil dan pagar kayu setinggi empat puluh senti yang mengelilinginya. Ia seperti memiliki rumah sendiri, surganya sendiri. Pintunya terbuat dari kaca dan hanya perlu menggesernya untuk membuka akses memasuki ruang pribadinya. Lantainya terbuat dari kayu, namun tidak berdecit ketika dipijak dan terdapat empat jendela kaca yang tertutup gorden putih seperti pintunya. Tempat yang benar-benar nyaman.
"Aku suka kamarmu—"
"Kenapa?"
"Disini nyaman dan aku bisa menghirup baumu dimana-mana."
"Konyol."
Ia selalu ingat bagaimana Baekhyun sangat menyukai kamar pribadinya. Pemuda mungil itu selalu bergelung dibalik selimut putihnya dan membuat seisi kamarnya berantakan oleh tingkahnya yang aktif. Terkadang Baekhyun akan membawa rillakuma sebagai bayaran atas ijin Chanyeol untuknya. Tahu jika sangat terobsesi pada boneka lucu tersebut. Terkadang, pemuda mungil itu akan memaksanya untuk bermain gitar dan membuat lagu bersama. Yang anehnya membuat inspirasi bermunculan ketika Baekhyun berada disampingnya. Ketika anak itu menatap kagum dirinya dan memberikan tepukan kekanakan, musik berlomba-lomba memasuki otaknya.
Ah, ia jadi teringat masa lalu.
—e)(o—
Seoul hari ini tampak lebih cerah daripada beberapa hari belakangan. Hanya rintik hujan selama satu jam di pagi hari dan sisanya matahari menyinari dengan kokohnya. Tidak terlalu panas, hanya hangat terasa. Karena seluruh kegiatan pendaftaran telah selesai, Chanyeol menghabiskan sisa hari itu dengan menonton film anime di kamarnya. Acara yang dilangsungkan di SMA-nya memang akan diadakan hari ini, namun masih banyak waktu tersisa untuknya bermalas-malasan. Ia hanya akan keluar kamar untuk mengambil air minum dan camilan, kemudian kembali menggeluti tontonannya. Sang ibu hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuannya.
Sementara matanya sibuk melihat layar televisi, tawa keras barulang kali keluar dari bibir kissable-nya.
Drtt.
Tawanya perlahan terhenti, bibirnya terbuka dengan tidak elitnya ketika mendapati nama 'Baekhyun' di layar ponselnya. Ia membersihkan jemarinya yang kotor oleh camilan sebelum akhirnya mengalihkan seluruh fokusnya pada layar ponselnya.
'Chanyeora, maaf, tidak bisa menemanimu mengobrol hari ini, aku harus ke suatu tempat. Sampai jumpa.'
Bibirnya melengkung kecewa. Sekitar tiga jam yang lalu ia ingin memulai obrolan namun Baekhyun baru membalasnya sekarang dengan balasan yang tidak menyenangkan juga. Setelah mengetikkan kalimat 'tidak apa-apa, sampai jumpa besok, bee.' Ia kemudian mematikan layar ponselnya. Kembali mengalihkan pandangannya pada layar televisi dengan ekspresi datar. Kemudian, menyadari jika komedi yang ia lihat tidak lagi menarik.
"Membosankan." keluhnya sebelum mematikan layar televisinya. Seolah lupa jika beberapa menit yang lalu ia terbahak oleh komedi yang sama.
—e)(o—
Jam sembilan malam, sekawanan itu telah berkumpul bersama. Tersembunyi diantara beberapa murid seangkatan mereka yang ratusan jumlahnya. Acara itu diadakan oleh para anggota kesiswaan terdahulu yang bekerja sama dengan anggota yang baru. Taman dan halaman depan sekolah tampak dihias begitu meriah dengan balon bertali pita softpink dan juga lampu-lampu tumblr berwarna warm light yang menghiasi. Beberapa band, solo dan dance ditampilkan, bahkan beberapa siswa lain diperbolehkan menampilkan sesuatu dengan durasi maksimal lima menit. Chanyeol dan Kyungsoo secara suka rela setuju untuk mengisi salah satu acara malam itu dengan melakukan duet lagu Bruno Mars.
Selagi menunggu gilirannya sembari menikmati penampilan seniornya, Chanyeol memilih untuk mengecek kembali chat di ponselnya.
"Hhh…" Mendesah kecewa ketika tidak menemukan nama 'Baekhyun' pada deret chat yang ia terima. Sepertinya pemuda mungil itu benar-benar sibuk. Hal-hal negatif sedikitnya mulai mempengaruhi. Mungkinkah Baekhyun memiliki kencan dengan pria bule atau gadis cantik? Mungkinkah Baekhyun sekarang sedang menonton movie sembari menikmati popcorn lalu setelahnya berjalan-jalan di area taman kota bersama kekasih barunya?
Hah, membayangkannya saja ia tak sanggup. Mengerikan.
"Penampilan selanjutnya… dari kelas tiga yang baru lulus, Park Chanyeol dan Do Kyungsoo!" riuh tepuk tangan menyambut. Menjadi si nomor satu dengan begitu banyak talenta membuatnya lebih terkenal dari sebelumnya. Ditambah penampilan barunya yang tentu saja membuat kagum siswa-siswi disana. Siapapun pasti berdecak kagum dengan paras yang dimilikinya. Tentu bukan hal sulit baginya untuk menemukan pengganti Baekhyun. Tapi, yah, apa boleh buat. Kapalnya sudah berlabuh pada pelabuhan yang sama sejak beberapa tahun yang lalu.
Pelabuhan yang bahkan tidak menyadari kalau ia berada disana.
Lagu yang ia bawakan hanya membutuhkan sekitar empat menit dan setelah mendapat teriakan penuh kekaguman, ia pun mengakhirinya dengan ucapan terima kasih dan bungkukan dalam.
"Park Chanyeol! Park Chanyeol! Park Chanyeol!"
Namanya dielu-elukan. Namun, tetap saja ia tidak tertarik. Hanya senyuman singkat sebagai bentuk penghargaan pada orang-orang yang menyukainya.
Prok.
Prok.
Prok.
"Kerja bagus, Park Chanyeol dan Do Kyungsoo. Kalian luar biasa!" Kyungsoo membungkuk penuh rasa terima kasih sementara Chanyeol memberikan senyuman singkat pada ketua osis lama yang sekaligus berperan sebagai MC malam itu.
Setelah memberikan penampilan memukau, Chanyeol dan Kyungsoo turun dari panggung dan berjalan kearah teman-temannya. Namun langkah Chanyeol terhenti ketika matanya menangkap sebuah pemandangan yang berhasil membuat jantungnya meluncur ke tanah detik itu juga. Matanya membulat dan debaran di dalam dadanya semakin lama semakin berat. Seluruh temannya tengah mengerubungi seseorang yang menjadi atensinya saat itu. Pelukan demi pelukan didapatkan seseorang itu. Luhan bahkan menangis sesegukan karenanya. Ia masih blank dalam beberapa detik sebelum jeritan Kyungsoo menyadarkannya.
"BAEKHYUN-AHHH!"
Baekhyun…
Apa ini mimpi?
—e)(o—
Pesawat yang membawa penumpang dari salah satu belahan dunia tiba tepat waktu di Seoul. Seluruh penumpang segera keluar dari kabin mengikuti instruksi yang telah diberikan. Bising suara-suara mesin pesawat bersama dengan kalimat-kalimat dari loudspeaker khas bandara memenuhi telinga Baekhyun. Dalam langkah kecilnya ia tersenyum. Merasa nyaman setelah menghembuskan udara di negara ibunya. Ia merindukan segalanya dari negara kelahirannya ini. Rasanya begitu menyenangkan ketika bahasa korea keluar masuk gendang telinganya.
"Korea… aku rindu." Senyuman kecil terbentuk dari bibirnya.
Musim di Seoul telah memasuki awal musim dingin. Meskipun salju belum turun, namun rasa dingin oleh hembusan angin cukup membuat bulunya bergidik. Sebelumnya, ia telah menyesuaikan pakaian yang ia kenakan ketika sampai di negara asalnya, sehingga ia tak perlu terlalu panik ketika dingin mulai mencengkeram permukaan kulitnya yang sensitif. Kepala bersurai pinkish miliknya menoleh kesana kemari dan akhirnya menemukan seorang paruh baya yang tampak mengangkat papan putih bertuliskan namanya. Belum menyadari kehadirannya. Dengan langkah mantab, ia menghampiri orang tersebut dengan senyuman lebih lebar dari sebelumnya.
"Paman Kim!"
"Baekhyun?! Akhirnya…" Paruh baya itu mendesah lega dan balas tersenyum. "Keluarga Jung menunggu kita—"
"Oppa!" Lagi ia menoleh kearah lain dan menemukan sepupunya berada tak jauh darinya. Ia membentangkan kedua lengannya dan gadis itu secara otomatis berlari kemudian memeluknya dengan erat. "Oppa, aku rindu." Nadanya merengek, membuat tawa kecil terdengar dari belah bibir Baekhyun. Sepupu tomboy-nya telah banyak berubah. Ia terlihat lebih 'gadis' sekarang. Baru enam bulan yang lalu sepupunya datang menjenguknya dengan pakaian seperti seorang remaja laki-laki, namun lihatlah sekarang…
"Kau memakai rok pendek, Krystal? Dan coba kita lihat—" Ia menatap sepupunya dengan pandangan geli. "Kau juga menggerai rambut panjangmu sekarang." kekehnya dan dibalas delikan kesal.
"Jangan meledekku!" jeritnya. Ia mendengus tanda tidak suka. "Aku hanya ingin terlihat lebih cantik." Pelukan mereka melonggar saat mata gadis itu menyelusuri wajahnya. Sedetik kemudian, pelukan itu benar-benar terlepas dan ekspresi melongo Krystal membuat Baekhyun terheran. "Heol. Ada apa dengan warna pink ini? Kau mau terlihat lebih cantik dariku, huh?!"
Ia meringis, merasa bersalah.
"Maaf, ini ulah pegawai salon di Vancouver sana. Mereka bilang aku cocok dengan warna ini." Gadis cantik itu cemberut. Telihat jelas bahwa Krystal tak ingin percaya satu pun perkataannya. "Ayolah, aku lelaki tentu saja aku tampan, bukan cantik. Kaulah yang paling cantik, Krys." Bibir tipisnya kemudian tertarik keatas, menyimpulkan senyuman. Ia memeluk erat lengan Baekhyun, membawanya lebih dekat tanpa jarak. Keduanya melangkah bersamaan, disusul oleh supir pribadi Keluarga Jung tadi. "Ayo, ayah dan ibu menunggu di sebelah sana. Oh ya, kami akan berangkat ke Jepang hari ini juga, jadi oppa harus tinggal di hotel dulu karena ruangan oppa masih belum dibersihkan. Tidak apa-apa kan? Kami sudah menyewakannya untuk dua hari ke depan."
"Tak masalah. Salahku juga memberitahu secara mendadak."
"Iya, itu memang salahmu!"
"Hei!"
"Hahahaaa—"
Ketika dua saudara ini bertemu, selalu saja ada hal yang dapat dijadikan obrolan. Bahkan orang lewat pun bisa menjadi objek pembicaraan mereka. Krystal Jung, dia adalah satu diantara hal di Korea yang sangat ia rindukan. Dia adalah sosok yang ceria, cerewet, cengeng, manja, namun memiliki rasa kepedulian yang sangat besar. Ia selalu bersedia menjadi sandaran Baekhyun ketika ia merasa lelah. Salah satu orang yang sangat tahu benar, betapa besar perasaannya pada 'seseorang' disini.
"Apa kau akan langsung menemui Chanyeol-mu?"
Baekhyun tersenyum penuh makna.
—e)(o—
Baekhyun…
Menatap kearah mereka dengan senyuman lebar nan hangat. Surai pinkish-nya tertiup semilir angin malam, sementara sweater yang berwarna putih lembut dipadu dengan kemeja merah jambu dibaliknya dan skinny jeans berwarna hitam seolah memancarkan cahaya di mata perinya. Manik bulan sabitnya begitu menghipnotis meskipun mata itu hanya menatapnya selama tiga detik saja. Baekhyun benar-benar tampak mempesona dan sangat…. indah.
Apa ini mimpi?
"BAEKHYUN!" Kyungsoo berlari kearah sosok itu. Merebutnya dari pelukan Luhan dan memberikan perhatian yang sama hangatnya. Si doe tidak pernah menangis, namun melihat teman dekatnya berada dalam pelukannya membuatnya sesegukan pada akhirnya. Memarahi yang lebih tinggi dengan rancauan-rancauan tak jelas, sementara Baekhyun mengucapkan beribu maaf dengan suara yang begitu halus terdengar.
Indah… begitu cantik tak tercela.
Jangan tanyakan bagaimana keadaan jantungnya sekarang. Chanyeol tidak yakin kalau benda itu masih berada dalam tubuhnya sekarang. Karena demi apapun lututnya melemas tiba-tiba. Rasa rindu menumpuk di dadanya sekarang. Rasa ingin memeluk begitu besar. Kerinduan yang mencekik. Perasaan posesif yang tiba-tiba muncul dalam dirinya. Mengikrarkan bahwa Baekhyun adalah satu-satunya dunianya malam ini. Menariknya sekuat magnet yang tak bisa terlepas.
"Chanyeora…" Suaranya yang halus dan semerdu kutilang merangsak masuk ke dalam gendang telinganya, menimbulkan getaran lebih keras daripada sebelumnya. Ia hanya harus memastikan bahwa ia bukanlah mimpi. Baekhyun memang berada di depannya. Nyata dan terjamah. "Chan—" Sebuah pelukan erat didaratkan. Begitu erat dan terasa ingin meremukkan begitu saja. Berusaha mengontrol perasaannya, ia mencoba melonggarkan sedikit tanpa melepasnya. Rasa rindunya sudah tidak bisa ia kontrol lagi. Rasanya ingin menangis keras-keras, namun gengsi menekannya kuat-kuat. Setidaknya ia tidak akan menangis di depan teman-temannya. "Chanyeol." Suara jernih lagi memanggilnya. Sebening suara angel dalam mimpinya. Lega rasanya karena itu bukan sekedar mimpi lagi.
'Pemilikmu telah kembali…'
Konyol karena ia masih membawa serta payung biru itu di dalam mobil Sehun.
—e)(o—
Chanyeol menunduk malu, sementara tangan kirinya mengusap tengkuknya canggung. Pelukan tadi tentu saja membuat teman-teman seangkatannya kaget dan memberikan sorakan menggoda padanya. Bagaimana pun dia dulu terkenal alergi pada Baekhyun dan malam ini ia memeluknya dengan begitu posesif. Bahkan terdiam dalam posisi berpelukan selama sepuluh menit lamanya. Hidup dalam dunianya sendiri dan itu sungguh memalukan. Sikapnya benar-benar kekanakan dan ia merasa ciut ketika Baekhyun terkekeh karena tingkahnya.
"Apa aku menyakitimu?" tanyanya ketika keduanya duduk bersebelahan di salah satu sudut taman sekolah.
"Kau seperti ingin meremukkanku tadi."
"Maaf." Baekhyun tertawa lagi. Tawa yang memenuhi relung hatinya dengan kehangatan. Ia bahkan tak berkedip ketika mata bulan sabit itu tambah menyipit ketika tertawa. Nyaring suaranya dan bagaimana lucu ekspresinya, ia tak ingin melewatkannya satu detik pun. Ia suka bagaimana mata perinya menangkap kesempurnaan Baekhyun saat ini. Entah apa karena ia memang telah terjatuh, ia menemukan dirinya begitu menyukai pemilik surai pinkish itu di setiap incinya.
Crush-nya seolah mampu menjadi peremuk hatinya detik itu juga.
Mungkin ia memang sedang jatuh cinta.
Matanya seolah-olah melihat pohon sakura diatas mereka tiba-tiba memekarkan bunganya di musim dingin dan kelopaknya terjatuh diatas kulitnya. Membuatnya merasa hangat yang tak tergambarkan.
"Kau cantik." Kalimat itu meluncur begitu saja.
Baekhyun sedikit tersentak, namun kemudian ia tersenyum dengan rona kemerahan yang tersembunyi diantara gelapnya malam. Temaram cahaya benar-benar membantunya menyembunyikan ekspresi menggemaskan itu. Melihat reaksi yang lebih mungil, wajah Chanyeol ikut memerah hingga ke daun telingannya. Kali ini Baekhyun bisa melihatnya dengan jelas dan mereka sama-sama menunduk malu.
Bertingkah seperti pasangan baru jadian, benar-benar membuat Chanyeol meruntuk dalam hati. Entah bagaimana Baekhyun berpikir tentangnya saat ini.
"Ash-grey juga cocok untukmu." Si surai pinkish menjawab dengan tulus dan Chanyeol menemukan dirinya kembali memalu. Mata itu kemudian melirik lengan kanannya. "Kau bahkan membuat tatto di lenganmu. Membuatku iri saja." Bibirnya lagi terkikik lucu. Baekhyun manis sekali seperti madu. "Ya! Berhentilah menjadi canggung. Aku tetap Baekhyun yang dulu."
"Tidak." Ia berseru. "Mungkin iya, tapi tidak." Ia mengusap lengannya perlahan. Merasa ciut tiba-tiba. Penyesalan akan masa lalu mulai terputar dalam otaknya. Bagaimana ia menyakiti sosok mungil itu dengan mudahnya… bagaimana ia berbicara kasar padanya… benar-benar memalukan jika Baekhyun bersikap biasa saja padanya. Seharusnya pemuda mungil itu membencinya, sebanyak Chanyeol mencintainya kini. Ia tak apa. "Baek, maafkan aku." Lagipula ia memang pantas mendapatkannya.
"Untuk?" Kepalanya dimiringkan. Tidak, itu terlalu menggemaskan. Chanyeol menggigit bibir bawahnya, menahan rasa gugupnya bertambah berkali-kali lipat tiap kali bersitatap dengan sosok tersebut.
"Untuk segalanya. Masa lalu kita… kurasa bukan hal manis yang bisa diingat."
"Chanyeol, kau tahu aku baik-baik saja dengan itu semua."
"Tapi, aku—"
"Aku memaafkanmu."
"Aku—"
"Ya?"
"Baekhyun-ah… aku mencintaimu…" Ia menelan ludah gugup. "Uhhuk—" Hingga akhirnya tersedak karena kalimat itu terus berputar dalam benaknya. Bibirnya terasa gatal untuk mengucapkan kalimat itu pada si pemilik payung biru yang selama ini dinantinya. Namun keberaniannya turun mencapai mata kaki. Nyalinya menguap seketika. Baekhyun menatapnya khawatir bersamaan dengan usapan lembut di punggungnya berkali-kali. Ia ingin mengucapkan kalimat 'baik-baik saja', namun hanya suara batuk yang keluar. Demi apapun, tenggorokannya terasa kering dan sakit saat ini. "Uhhuk… uhhuk."
"Kau ini kenapa sih sampai tersedak begitu? Dasar." Baekhyun bergegas ke salah satu meja untuk mengambilkannya air putih dan disambut suka rela olehnya. Setelah menenggak air itu dengan cukup brutal dan memalukan, akhirnya ia bisa mengontrol dirinya dari rasa gugup sialannya itu.
"Terima kasih, Baek." ucapnya lirih.
"Bukan masalah." Lagi, pemuda mungil itu tersenyum manis. Sesuatu yang berada dalam dadanya berdentum menyenangkan.
—e)(o—
Lorong kelas mulai terlihat sepi selepas jam istirahat, namun mata peri Chanyeol tak bisa menemukan keberadaan bocah pembawa masalah itu di mejanya. Ia menghela nafas, kemudian memutar badannya dan memutuskan untuk mencari si menyebalkan itu. Bukannya ia khawatir atau peduli, tapi kasihan juga jika nilai anak itu terus berada di urutan terbawah hanya gara-gara bolos pelajaran. Ini seperti bukan Baekhyun yang biasanya. Kadang, ia berpikir lebih baik melihat Baekhyun mengekor padanya. Setidaknya ia bisa mengawasinya selama delapan jam di sekolah.
Sekitar sepuluh menit lamanya, ia tak menemukan sosok itu sehingga ia memutuskan untuk berbelok ke arah toilet sekolah untuk membasuh wajahnya yang berkeringat. Ia menyalakan kran air dan mulai membasuh wajahnya sebanyak tiga kali sebelum akhirnya menatap kaca di depannya. Dahinya mengernyit ketika mendengar suara isakan kecil dari salah satu bilik di belakangnya. Rasa takut sekaligus penasaran muncul tiba-tiba. Apa hantu juga eksis di siang hari?
"Hei, Yeol!" Ia tersentak, sedikit mengumpat ketika panggilan Jongin dari arah pintu mengejutkannya. Berhasil mengalihkannya dari suara barusan. Mungkin ia hanya berhalusinasi karena suara itu tak terdengar lagi. "Kau terlihat sibuk beberapa hari ini. Sok sekali." Lengannya disenggol dan teman dekatnya itu mencibir.
"Kau tahu sendiri kekasihku tidak suka ditinggal." Ia membalas dengan nada malas. "Aku bosan dengan hubunganku." akunya. Tiba-tiba teringat akan kekasihnya yang lebih banyak mengabaikannya selama beberapa hari ini. Jujur, itu membuatnya bosan. Mereka tidak banyak memiliki waktu bersama karena kekasihnya sering mengikuti les. Mereka hanya kencan sekali akhir pekan kemarin dan jarang menyapa di sekolah. Bahkan terlalu acuh pada kedekatannya dan Baekhyun. Tidak seperti mantan kekasihnya yang lain. "Dia bahkan tidak pernah cemburu ketika si Byun itu menggangguku. Bukankah membosankan?"
"Kau ini!" Jongin memukul kepalanya dengan cukup keras. "Kenapa tidak kencan saja dengan si Byun Baekhyun itu." Rasa gugup tiba-tiba saja melandanya tanpa ia pahami. Mendengar nama Baekhyun dari mulut orang lain berefek aneh padanya. Namun detik berikutnya, ketika kesadarannya telah kembali, bibir kissablenya menyandungkan tawa remeh demi menutupi gelanyar membingungkan dalam hatinya. Beruntung Jongin tidak mencurigainya.
"Jangan bercanda. Si konyol itu?" Ia menjawab dengan ekspresi yang dibuat setidak-tertarik-mungkin.
"Kenapa? Dia cukup manis menurutku?"
"Lebih baik aku jomblo seumur hidup daripada kencan dengannya." Ia berseru panik.
"Karma masih berlaku, man!" Jongin lagi menepuk pundaknya. "Tapi kulihat kau tak pernah menolak kehadirannya." Dan tersenyum menggoda kearahnya. Ia tahu sahabatnya itu mulai menyadari keanehan dalam nada suaranya. Apalagi ia tak mampu menutupi wajah paniknya kali ini.
"Dia terlihat menyedihkan. Aku kasihan padanya." Refleks kalimat itu keluar dari belah bibirnya. Kalimat sangkalan yang berhasil membungkam Jongin detik itu juga. Tetapi bukan hanya sahabatnya yang terkejut, melainkan dirinya juga. Hatinya berseru tidak terima sementara otaknya terus kebingungan. Tak paham akan rasa bersalah yang berlomba-lomba tercipta dalam benaknya. Kalimat itu terdengar begitu kasar. Mungkin jika Baekhyun mendengarnya, pemuda itu akan membencinya detik itu juga. Jujur saja, ia tak mau itu terjadi. Entah mengapa. Ia tak tahu alasannya.
"Hati-hati dengan ucapanmu, Yeol."
Ia termenung. Lidahnya begitu kelu untuk membalas ucapan Jongin. Pemuda berkulit tan itu membilas tangannya sekali lagi sebelum akhirnya meninggalkannya sendiri di dalam toilet tersebut. Terdiam dengan kalimat-kalimat umpatan tak bersuara. Jantungnya terasa ngilu oleh perasaan yang menekan.
Hening.
Hingga sepuluh menit terbuang sia-sia hanya untuk melamun.
"Hhks."
Suara itu terdengar lagi dan ia tersentak dalam kediamannya. Mencoba setenang mungkin, ia tahu ada orang lain disana. Yang mungkin mendengarkan obrolannya dengan Jongin. Tarikan nafas kasar terdengar dari salah satu bilik, membuat rasa penasarannya memuncak. Suara isakan itu seolah ditahan-tahan oleh pemiliknya. Siapapun itu, ia tidak boleh memberitahukan ucapan kasarnya tadi pada Baekhyun. Ia harus memastikan sosok ini tutup mulut.
Hanya ada dua bilik yang tertutup. Ini mudah.
Ia mendekat dan membuka pintu satu dengan perlahan. Tidak terkunci dan bisa dipastikan kalau tidak ada orang di dalamnya. Akhirnya, dengan perasaan tak tenang, ia mengetuk pintu kedua. Helaan nafas yang terdengar berat tadi terhenti. Hening selama kurang lebih lima menit dan ia kembali mengetuk tanpa bertanya.
"S-Siapa?"
Baekhyun?
Ini suara Baekhyun. Benar-benar suara Baekhyun dan mata perinya membola seketika. Jantungnya berdebar ngilu sementara perasaan bersalah yang tadi hinggap dalam hatinya menjadi berkali-kali lipat rasanya. Sadar betul kalau seseorang yang sedang ia bicarakan, objek yang ia hina, sedang berada di dalam sana. Dadanya terasa lebih berat seolah batu berton-ton tengah menindihnya. Ia menggeram kemudian mengetuk pintu sialan itu dengan tangan terkepal erat. Ia harus melihat Baekhyun sekarang juga.
"Buka." Ia membalas dengan suara berat.
Hening.
Tak ada pergerakan apapun yang terdengar. Bahkan suara nafas pun tak ada. Mungkin Baekhyun akan berpura-pura tidak ada walau itu terlihat sia-sia karena ia telah bersuara beberapa menit yang lalu. Mungkin Baekhyun mengira ia telah pergi dan bisa menangis sendirian disini. Oh, apa anak itu pikir Chanyeol akan membiarkannya begitu saja? Baekhyun jelas-jelas salah besar.
"Baekhyun, buka!"
Hening.
"Buka pintu sialan ini sekarang atau aku akan mendobraknya!" Ia bersuara lebih keras. Menuntut karena rasa amarah dalam hatinya. Ia menggedor lebih brutal hingga pemuda di dalam memekik kaget. "Buka, Byun Baekhyun! Brengsek!" Tak tahu mengapa kepalanya terasa pening dan ingin pecah rasanya. Isakan di dalam makin terdengar. Baekhyun tidak bisa menutupinya lagi, sedangkan ia semakin tenggelam oleh rasa bersalah. Kakinya terasa lemas seketika. "Bukalah pintumu, aku mohon." Ia mencoba lebih lembut, nyaris ambruk sebelum suara kunci ditekan dari dalam dan memberinya celah untuk masuk ke dalam bilik tersebut.
Dia disana.
Benar-benar Byun Baekhyun. Tengah memalingkan muka darinya, menghindari tatapan matanya. Seluruh wajah manisnya berantakan oleh air mata dan ingus. Hidungnya memerah sementara mata bulan sabitnya yang membengkak tersembunyi di balik poninya yang panjang. Chanyeol tersenyum kecut. Berapa puluh kali ia menyakiti sosok ini?
"Aku tidak mendengar apapun, Chanyeol. Aku kelilipan, jadi—"
Grep.
Lengannya melingkari bahu Baekhyun dengan sempurna. Membalut tubuh mungilnya ke dalam pelukan hangat. Menghentikan ucapan tak berguna Baekhyun sekaligus isakannya tadi. Salah satu tangannya membenamkan kepala bersurai dark-brown tersebut ke dalam ceruk lehernya. Baekhyun bilang dia suka menghirup aromanya dan ia harap hal tersebut akan membuat si mungil lebih tenang dan nyaman.
"Lupakan semua ucapanku."
"Kau ini kenapa? Aku ini sudah kebal tahu! Hahaa—"
"Diamlah dan jangan tertawa!" Ia berbisik dengan nada menuntut. Berhasil membuat Baekhyun menghentikan tawa paksanya tadi. Pelukannya mengerat dan pikirannya mengelana kemana-mana. Seharusnya ia meminta maaf namun rasa gengsi masih saja ada. Yang bisa ia lakukan untuk memperbaikinya hanya dengan membawa Baekhyun ke dalam kehangatan. Berharap semua akan terlupakan begitu saja. Tanpa sadar, keduanya terlarut dan menghabiskan sisa jam pelajaran hanya untuk berpelukan di dalam bilik toilet.
.
"To Be Continued—"
.
OGP :
Hello. Maafkan ke-alay-an bahasanya dan kritik-saran diperlukan.
Salam Tsadesst!
