Sunbae-nim …
.
.
Lee Seokmin
Kwon Soonyoung
Jeon Wonwoo
And The Others Seventeen Members
.
.
Boys Love/School Live/Dormatory/Romance/T+
.
I'm sorry about any typos
Please enjoy it!
.
.
Hari ini adalah sabtu sore, seharusnya seperti hari-hari sabtu sebelumnya Soonyoung sudah pulang kerumah dan meninggalkan Wonwoo sendiri diasrama. Namun, untuk sabtu ini Soonyounglah yang ditinggalkan oleh Wonwoo dikamar mereka. Soonyoung tidak bisa pulang kerumah karena sang ayah dan sang ibu pergi keluar kota karena relasi dari ayahnya sedang mengadakan pesta pernikahan sementara sang kakak sudah jelas akan memilih menginap dirumah temannya daripada harus menjaga rumah dan Soonyoung tentu saja.
Wonwoo sendiri biasa nya tidak pernah pulang kerumah karena dirumahnya tidak ada siapapun keculai maid dan security yang menjaga rumahnya. Namun sial untuk sabtu ini ayah dan ibu Wonwoo sedang cuti dan memutuskan pulang dari Singapura dan tentu saja Wonwoo akan menyambut kedatangan mereka.
Sore ini hujan turun dengan lebat dan Soonyoung sedang bergelung di atas ranjangnya dengan selimut tebal kesayangannya. Puncak kepala nya menyembul dari balik selimut menatap takut-takut pada jendala yang menampakkan cuaca mendung dan juga rintik-rintik hujan yang membuat kaca besar jendela kamarnya mengembun. Dan tentu saja pemandangan seperti itu terlihat sangat menakutkan untuk bocah manja seperti Soonyoung. Anak itu kembali menyembulkan kepalanya dari balik selimut kemudian menutupnya lagi.
Merasa tidak nyaman dengan situasi dan suasana mencekam yang ia rasakan. Tentu saja hanya Soonyoung yang merasakan. Soonyoung memilih untuk bangun dan dengan membawa boneka ayam besarnya berlari keluar kamar. Sesampainya diuar kamar Soonyoung menghela nafas lega melihat beberapa orang disekitar lorong asrama. Soonyoung Nampak menimbang-nimbang apakah ia akan masuk lagi kekamar atau memilih mengungsi dikamar lain seperti kamar Jihoon misalnya tapi wajah Soonyoung langsung murung saat mengingat kamar Jihoon. Jelas sekali Soonyoung tidak akan mau menginap dikamar Jihoon yang satu kamar bersama pacarnya. Iya, pacar Jihoon sejak sebulan yang lalu yang merupakan seorang seniornya.
Soonyoung hampir saja kembali kekamarnya yang menurutnya sangat menyeramkan sebelum dua buah nama berkelebat di kepala cantiknya. Kim Mingyu dan Lee Seokmin. Soonyoung tentu tidak akan memilih Mingyu karena anak itu pasti akan mengejeknya habis-habisan. Tapi, Seokmin juga bukanlah pilihan yang bagus untuk Soonyoung karena senior berwajah dingin itu sangat kejam pada Soonyoung dan dilihat dari seringnya pemuda itu menghukumnya Soonyoung jelas tahu kalau Seokmin pasti membencinya. Mimik wajah Soonyoung langsung berubah menjadi sedih setiap kali mengingat Seokmin tidak suka dengannya yang pembuat ulah.
Dengan lesu Soonyoung berjalan maju menuju kamar Kim Mingyu tapi sebelum benar-benar mengetuknya Soonyoung kembali membalikkan badan dan menjauh dari sana. Ia tidak akan menurunkan harga dirinya didepan Kim Mingyu sampai kapanpun itu jadi Soonyoung memilih berjalan lurus kea rah kanan Lorong asrama nya kemudian berhenti didepan pintu paling ujung. Itu pintu kamar Lee Seokmin.
Lee Seokmin sedang mengerjakan latihan soal ujian akhir saat seseorang mengetuk pintu kamarnya pelan. Seakan tahu siapa yang mengganggu konsentrasinya Seokmin menghela nafas lelah kemudian beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu. Dan wajahnya berubah lebih dingin dari biasa nya saat melihat Soonyoung berdiri didepan pintu kamarnya dengan senyuman lebar nya yang menunjukan gigi-giginya yang tampak manis, serta jangan lupakan boneka berbentuk ayam besar didalam dekapan pemuda itu. Dan rencana Seokmin untuk memarahi Soonyoung yang mengganggunya gagal total.
"Mmm Sunbae-nim" Suara Soonyoung mengalun lirih. Anak itu menatap Seokmin dengan binaran mata bening nya yang mengingatkan Seokmin pada peliharaan kakak perempuannya dirumah.
Seokmin menatap anak itu dan menunggu ia melanjutkan kalimatnya yang sebenarnya Seokmin sudah bisa menebak dengan mudah.
"Ja-jadi begini Sunbae-nim .." jujur saja Seokmin ingin tertawa mendengar nada gugup Soonyoung.
"Wonu sedang pulang kerumah nya dan .. mm daan aku sendirian di kamarku. Mmm … jadi begini … aduh" Soonyoung memukul kecil kepalanya sendiri karena terlalu merasa malu dan pemandangan itu tidak bisa membuat Seokmin tidak tersenyum, tapi hanya senyuman tipis yang tersamarkan dengan tatapan mata dinginnya.
"Jadi kau ingin menginap dikamar ku?" Tanya Seokmin santai.
"YA! YA! Ah maksudku ya kalau sunbae mengijinkan" anak itu tersenyum lebar.
"Baiklah, tapi maaf Soonyoung-ah aku tidak mengijinkan"
"Mwo? Ya tapi Sunbae- .."
"Tidak"
Soonyoung merengut lucu. Menghentakkan kaki nya kesal, merajuk didepan Seokmin.
"Seokmin sunbaeee ~ tolonglah"
"Tidak!"
Dan dengan jawaban mutlak itu Seokmin segera menutup kamarnya, membiarkan Soonyoung berdiri diluar kamarnya dengan wajah sedihnya. Anak itu hampir menangis karena merasa bingung akan kembali kekamar atau mengungsi ke kamar Mingyu dan berakhr menjadi bahan olok-olokan.
Dibalik pintu kamar Seokmin masih berdiri disana dengan tangan masih menggenggam gagang pintu. Ia merasa tidak tega juga dengan bocah manja itu. Bagaimanapun ia masih punya perasaan manusiawi jadi Seokmin menghela nafas lelah kemudian membuka pintu dengan perlahan. Dan tampillah Kwon Soonyoung yang sedang menunduk sedih dengan salah satu tangan yang mencubit-cubit boneka ayamnya. Seokmin hanya menggeleng maklum.
"Soonyoung-ah" panggil Seokmin pelan. Anak itu masih tetap menunduk dan hanya menyahut dengan gumaman pelan. Merajuk heh?.
"Baiklah, kau boleh menginap disini-"
"Benarkah?" lihat bocah itu benar-benar tidak sopan, seenaknya memotong perkataan.
"Ya, tapi dengan syarat jangan membuat keributan. Aku sedang sibuk, paham?"
Soonyoung mengangguk dengan semangat dan jangan lupa binary mata ceria nya yang hampir saja membuat Seokmin tersenyum. Seokmin menggeser badannya dari pintu member akses Soonyoung untuk masuk kekamarnya.
Soonyoung masuk kamar Seokmin dengan bahagia tentu saja. Dan ia memperhatikan segala detail kamar seorang pengurus asrama. Lumayan, meski tidak sangat besar tapi kamar pengurus terlihat sangat nyaman. Ada satu tempat tidur berukuran Queen size, satu lemari besar, satu meja rias yang tidak terlalu besar, satu set meja belajar dan sebuah sofa dan juga jangan lupakan satu tv layar datar 21 inc. lumayan membuat Soonyoung iri karena di kamarnya dan Wonwoo tidak ada tv dan sofa.
"Soonyoung-ah kau tidur disofa" suara Seokmin mengagetkan Soonyoung dari lamunannya.
"sofa? Kenapa aku harus tidur disofa ranjang sunbae kan besaaar"
Soonyoung merengek lagi. Dan Seokmin hanya menatap datar anak itu. Merepotkan. Pikirnya.
"Tidur disofa atau kembali kekamarmu?
"Ah, ya baiklah hyung sofa pun tidak masalah" nada ceria nya yang dibuat-buat benar-benar lucu.
Soonyoung mendudukan dirinya disofa milik Seokmin dan kembali melanjutkan kegiatannya meneliti kamar Seokmin ini. Sementara Seokmin sendiri lebih memilih memfokuskan diri pada soal-soal latihannya.
.
.
Waktu berjalan cukup cepat, 2 jam lebih Seokmin habiskan untuk berkutat dengan soal-soal rumit yang harus dia pecahkan. Dan Seokmin harus bersyukur Soonyoung tidak menganggunya, karena sepertinya anak itu tertidur.
Soonyoung tidur dengan posisi duduh dan kaki tertekuk didepan dadanya. Kepala nya menyender pada boneka ayam besar nya yang tergeletak dengan rapi disampingnya. Seokmin berdiri didepannya memperhatikan wajah damai Soonyoung. Seokmin merubah posisi nya berjongkok didepan Soonyoung, mengguncang pelan pundak pria dengan tubuh berisi tersebut.
"Soonyoung-ah …" suara Seokmin mengalun pelan dan lembut ditelinga Soonyoung, membuat anak tersebut membuka mata nya perlahan dan menatap Seokmin dengan pandangan blank nya.
Seokmin sendiri menatap Soonyoung sedikit takjub karena meskipun baru saja bangun tidur anak itu masih saja terlihat menggemaskan. Pandangan sayu dan mengantuk nya dan bibir yang sedikit bengkak karena bangun tidur benar-benar membuat Seokmin hampir kehilangan akal. Sial Kwon Soonyoung dan bibi kissablenya, rutuk Seokmin dalam hati.
"Tidurlah ditempat tidur ku" perkataan Seokmin membuat anak 16 tahun tersebut menatap Seokmin denga pandangan tidak percaya.
"Sunbae, tidak keberatan?" mata nya berbinar membuat Seokmin semakin kesal karena anak itu benar-benar menggemaskan. Sial.
"Ya, cepat sebelum aku berubah pikiran" Seokmin berdiri dan segera melenggang kekamar mandi.
.
.
Soonyoung sedang berguling-guling di ranjang Seokmin dengan Kkokko, boneka ayam kesayangannya saat Seokmin keluar dari kamar mandi dengan piyama putih polos membungkus tubuh tinggi nya. Soonyoung berhenti berguling-guling dan menatap Seokmin yang berjalan kearahnya dengan tangan yang sibuk mengotak-atik ponselnya.
Dan entah bagaimana Soonyoung merasakan gugup luar biasa. Sungguh Soonyoung bahkan bisa mendengar dengan jelas detak jantungnya sendiri saking gugupnya. Seokmin sudah tiba di sampingnya dan duduk menyandar dikepala ranjang membuat Soonyoung berpikir yang tidak-tidak bahwa mereka seperti sepasang suami istri dimalam hari.
Tanpa disadari pipi Soonyoung memerah dan anak itu tidak henti-hentinya menjilat dan menggigit bibirnya sendiri. Seokmin sendiri berusaha tidak perduli dengan makhluk mungil yang sangat menggeaskan yang saat ini sedang tidur disampingnya sambil sesekali menenggelamkan wajahnya di boneka besarnya. Seokmin sebenarnya juga merasa kurang nyaman dengan keadaannya. Bayangkan saja ia adalah laki-laki 18 tahun dengan hormone meledak-ledak dan sekarang ia harus satu kamar dengan seorang bocah menggemaskan sekaligus menggairahkan yang bisa saja membuatnya hilang kendali dan bertindak diluar nalar.
Seokmin memilih mematikan ponselnya dan berbaring memunggungi Soonyoung yang tidur menghadap padanya. Posisi Soonyoung benar-benar meyulitkan dirinya. Seokmin masih berusaha memejamkan matanya saat bocah disampingnya itu menggerak-gerakkan badannya mengganggu. Seokmin sedikit kesal karena ia harus tidur cepat atau ia tidak akan bisa tidur semalaman. Jadi dengan gerakan cepat Seokmin membalikkan badannya berniat memarahi Soonyoung agar anak itu diam.
Bukannya memarahi Seokmin malah terpaku pada wajah Soonyoung yang berjarak kurang lebih dua jari saja. Satu gerakan halus dan hidung mereka akan bersentuhan. Soonyoung menatap kaget Seokmin yang berbalik dengan tiba-tiba dan sekarang entah perasaannya saja Seokmin menatapnya seperti ia adalah seekor mangsa buruan. Soonyoung sudah akan membuka mulutnya bertanya saat tiba-tiba bibir Seokmin dengan cepat sudah menempel pada bibirnya. Ia membelalakan matanya kaget, tangannya meremat Kkokko dengan kencang saat Seokmin dengan berani malah melumat bibirnya.
Sang senior menggerakan bibirnya perlahan dan mulai mengisap bibir atas dan bawah juniornya bergantian. Tangannya mulai merambat pada tengkuk yang lebih muda dan menekannya untuk memperdalam ciumannya. Sementara yang lebih muda masih bertahan dengan keterkejutannya. Ini adalah pengalaman pertamanya dan ia tidak mengerti harus bereaksi apa jadi ia hanya diam dengan mata terbuka dan berusaha mencerna apa yang akan dilanjutkan pria yang lebih tua selanjutnya.
Entah bagaimana bisa Seokmin sudah berada diatas Soonyoung dan menindih anak itu, bibirnya masih sibuk dengan bibir Soonyoung. Sementara Soonyoung sudah mulai ketakuan dan siap untuk menangis. Sebodoh-bodohnya Soonyoung ia tetap tahu kalau saat ini ia sedang dalam bahaya dan jika dalam hitungan detik ia tidak melawan Seokmin pasti akan benar-benar memperkosanya. Soonyoung mulai menggerakkan tangannya mendorong-dorong dada bidang Seokmin tapi laki-laki diatasnya itu bukannya sadar dan menyingkir malah menggenggam pergelangan tangannya dan meletakkannya diatas kepalanya. Dan Seokmi benar-benar membuat Soonyoung menangis karena perbuatannya.
Kurang lebih dua menit Seokmin mengerjai bibirnya dan sekarang Soonyoung benar-benar sesak nafas. Ia tidak bisa mengambil nafas secara bebas dan di tambah dengan menahan isakan tangis membuat Soonyoung hampir pingsan. Jadi dengan inisiatif nya ia menggigit keras bibir Seokmin membuat sang empunya memekik tertahan.
Seokmin memegang bibirnya yang sepertinya berdarah. Pria itu bangkit dari atas tubuh Soonyoung dengan sedikit amarah tapi amarahnya langsung menguap saat melihat Soonyoung menatapnya dengan ekspresi takut. Anak itu menangis karena ulahnya. Sial, Seokmin ingin menghajar dirinya sendiri. Soonyoung berusaha duduk dari posisi berbaringnya namun gagal karena seluruh bagian tubuhnya bergetar hebat.
Seokmin segera membantu anak itu untuk bangun dan kemudian memeluk Soonyoung dengan lembut. Mengusap punggungnya agar Soonyoung merasa aman dan tenang. Seokmin juga terus berucap maaf pada Soonyoung karena ia sudah lepas kendali dan melakukan hal-hal tidak senonoh pada hobae manisnya itu.
"Maafkan aku Soonyoung-ah"
Seokmin terus berbisik maaf sampai Soonyoung mengehentikan tangisannya dan tubuhnya tidak gemetar lagi. Seokmin melepaskan pelukkannya dan menatap anak yang lebih muda dari nya dengan perasaan bersalah. Diusapnya air mata Soonyoung dengan jari-jarinya. Kemudian memeluk Soonyoung lagi. Sungguh Seokmin sangat merasa bersalah, bagaimana mungkin ia yang biasanya pandai mengontrol diri bisa hilang kendali dengan muda hanya dengan menatap bibir Soonyoung. Dan sumpah serapah dalam hatinya benar-benar tidak bisa berhenti mengalun.
"Jangan menangis kumohon, maafkan aku"
Seokmin masih terus meminta maaf sambil memeluk Soonyoung dengan erat. Sementara yang dipeluknya hanya bisa diam tidak tahu harus berbuat apa. Soonyoung tidak marah sebenarnya ia hanya sedikit takut. Jadi dengan sedikit canggung Soonyoung membalas pelukan Seokmin dan segera menyembunyikan wajah manisnya diceruk leher Seokmin karena merasa malu akan tindakannya.
Seokmin merasa kaget tentu saja dengan tindakan Soonyoung memeluk balik pinggangnya namun ia juga merasa senang setidaknya anak manis ini sudah memaafkannya. Ia dapat merasakan nafas hangan Soonyoung dilehernya membuat ia tersenyum senang dan kemabali mengusap-usap lembut punggung Soonyoung.
Kemudian mereka sudah dalam posisi berbaring dan saling memeluk dan berusaha menyelami mimpi masing-masing. Seokmin sudah akan tidur saat Soonyoung malah bangun dan berkata ia tidak bis tidur tanpa Kkokko dipelukannya. Jadi malam itu mereka tidur dengan saling memeluk tapi dengan Kkokko yang berada diantara mereka.
.
.
.
TBC
Aaaa maaf ya reader-nim mungkin part ini agak berantakan dan gak nyambung karena ini saya cicil sedikit-sedikit karena bener-bener gaada waktu buat ngetik.
Saya tahu fanfic saya kualitasnya mungkin emang gak bagus tapi saya harap Reader-nim masih rela memberikan reviewnya untuk fanfic nggak jelas saya ini.
Tolong Review~ review bener-bener menentukan apakah FF ini layak dilanjutkan atau enggak ;(
